[FF Competition] A Hurtful One-Sided Love

Title :

A Hurtful One-Sided Love

Author : Choi Jinyeong.

Genre :

Hurt/Comfort | Romance.

 

Rating :

Teenagers.

Main Characters :

+ Choi Minho (SHINEE).

+ Jung Soojung [Krystal] (F(X)).

Cameo(s) :

- Kim Myungsoo [L] (INFINITE).

- Kwon Yuri (GIRLS’ GENERATION).

- SHINee’s Member.

- Kim Jongin [Kai] (EXO-K)

- Nam Woohyun (INFINITE).

 

***

Love is blind and difficult.

Ya, pernyataan di atas benar一setidaknya bagiku sendiri.

Cinta itu rumit dan buta. Parahnya, saat ini aku terjebak dalam jangkauannya.

Rumit adalah ketika kau hampir merasa putus asa melihat sulitnya menapaki jalan mendekat pada seorang yang kau cintai. Buta adalah ketika kau menyayangi seseorang yang tidak seharusnya kau cintai, seorang yang berada jauh di luar pikiranmu yang bahkan kau tak menyangka bagaimana bisa kau mencintainya.

Aku Choi Minho. Aku rapper boygroup SHINee, dengan kata lain aku adalah artis.

Tahu apa itu fanservice? Hm, intinya adalah untuk menyenangkan fans dengan suatu pelayanan tertentu. Fanservice sudah jadi rahasia umum artis di bawah naungan agensi kami一SM Entertainment. Jadi, wajar jika aku pernah一bahkan tergolong sering一melakukan fanservice dengan artis wanita sesama agensi. Tapi yang tidak wajar adalah… aku…

Aku mencintai gadis yang merangkap sebagai rekan fanservice-ku.

Aku tidak tahu bagaimana awal tumbuhnya perasaan cinta ini. Yang aku sadar adalah aku tertarik dengan segala ke-misterius-annya, hingga akhirnya aku jatuh semakin dalam dan terjebak kini. Saat itulah aku baru mengenali apa itu yang dinamakan cinta sepihak.

Cinta sepihak yang menyakitkan hati.

 

***

“Kenyangnya…” Si Taemin look-like mengelus-elus perutnya yang membuncit karena makanan. “Hyung terima kasih, ya? Seru juga ternyata keluar denganmu.”

Aku tersenyum sekilas, “Lain kali kau yang harus mentraktirku, Kai.”

Kai mengayunkan kaki jangkungnya lebih cepat, menyamakan langkahnya denganku. “Aku akan mentraktir hyung pasca debut.”

Aku terkekeh, anak ini sangat tak sabar menanti debutnya rupanya. “Aku pegang janjimu.”

“Eh, hyung!” Aku menatapnya datar. Kai tampak kebingungan, ia meraba-raba kantung celana dan jaketnya bergantian dengan panik. “Sepertinya aku melupakan ponselku. Tunggu sebentar, ya?”

Aku menghembuskan nafas berat saat bocah itu pergi dari hadapanku. Well, aku benci menunggu sebenarnya dan sekarang aku malah dengan terpaksa menunggu Kai yang berlari kembali ke restoran fast food yang tadi kami datangi.

Kusandarkan punggungku pada dinding mall yang bercat krem. Kedua tangan kusilangkan di depan dada dan pandangan ku arahkan ke lantai. Cih, Kai lama sekali, sih?

Iseng-iseng aku melirik restoran Jepang yang tepat berada di depanku. Sayang sekali aku sudah kenyang dengan junk food, sehingga aroma lezat sashimi yang benar-benar menusuk hidungku saat ini tidak membangkitkan nafsu makan sama sekali.

Tiba-tiba sepasang kekasih dengan mantel berwarna hitam dan topi yang senada memasuki restoran tersebut disertai senda gurau. Gesekan high heels si wanita dengan permukaan lantai sangat berisik dan entah mengapa mengingatkanku pada seseorang yang sering melakukan hal serupa. Long wavy hair-nya juga mirip dengan seseorang… tapi, mana mungkin? Kemungkinannya hanya 1 : 100.

Entah sejak kapan kedua mataku selalu mengawasi gadis itu. Gadis yang sepertinya telah memiliki kekasih一aku tebak lelaki di sebelah kanannya itu pacarnya. Tanpa kusangka perempuan bertubuh semampai itu menolehkan kepalanya ke suatu arah dimana aku bisa melihat wajahnya dengan jelas一namun aku yakin dia tidak bisa melihatku.

Aku menahan nafasku. Tidak mungkin!

Itu Krystal. Aku sangat kenal wajahnya pasca bertahun-tahun ‘dianggap’ menjadi pasangannya oleh netizen!

Mendadak rasa tidak nyaman menyelimuti dadaku, membuatnya terasa sesak. Kuasai dirimu, Choi Minho!

Sosok Krystal yang mungkin hanya berada 200 meter di depanku mengguncang lengan kiri pemuda di sebelahnya. Ia merangkul lengan pemuda bertopi hitam tersebut kemudian menunjuk sesuatu. Gadis itu tertawa dan terlihat merayu si pemuda dengan bbuing bbuing aegyo-nya.

Aku benci!

Kupalingkan wajahku dari pemandangan memuakkan di hadapanku. Brengsek! Kenapa aku sebegini bodoh untuk menunggu dan menyembunyikan perasaanku padanya sedangkan dia bersenang-senang, berkencan, dan bermesraan dengan pacarnya?

Kurang ajar.

Sebuah telapak tangan menyentuh pundakku. Pasti Kai. “Hyung!” Dia tersenyum idiot dengan tangan kanan memamerkan ponselnya yang telah berhasil ia temukan.

“Ayo pulang!” Perintahku dengan suara rendah namun tegas. Aku berjalan mendahului Kai. Masa bodoh dia mau mengikutiku atau tidak.

“Hyung bukannya kita mau ke game center dulu?” Tanya Kai.

Perintahku tidak butuh penolakan. Kau seharusnya tahu itu, Kai.

Karena malas menanggapi, aku mengabaikan pertanyaan Kai. Aku masih terlukai oleh kenyataan. Dan sialnya, aku tak tahu siapa kekasih Krystal.

Brengsek! Rasanya aku ingin sekali mencaci-maki siapapun hari ini. Bukan sepenuhnya salah Krystal, tapi semuanya salahku. Andai aku lebih berani menyampaikan perasaanku… andai pemuda bajingan itu tak mencuri start lebih dulu. Andai… ah, omong kosong!

Grr… ini pertama kalinya aku merasa patah hati seberantakan ini.

“Hyung, kau menggeram.”

“Bisakah kau diam saja tanpa berkomentar, Kai?” Bentakku. Alhasil dia mengunci mulutnya dan lebih memilih diam.

Oke, aku mungkin memang keterlaluan.

***

“Minho.”

Aku menghentikan pikiranku yang terus mengawang di udara. Memikirkan seseorang yang tak pernah memikirkanmu, rasanya pasti sangat menyakitkan, benar? “Hm?”

Yul duduk lurus di hadapanku. Ia menyatukan kedua telapak tangannya. “Sebenarnya apa yang kau pikirkan?”

“Bukan apa-apa.”

Wanita yang lebih tua dua tahun dariku itu menggeleng. “Pasti ada sesuatu yang membuatmu sentimen hari ini. Jongin yang sangat kau sayangi seperti Taemin bahkan kau bentak. Aku tahu kau tidak pernah membentaknya sebelum ini.”

Kai rupanya. Darimana Yul aku membentak bocah itu?

Aku menyeringai. “Sok tahu.” Aku tersenyum melihat wajah kalemnya. Dia memang pantas menjadi noona kesayanganku. “Kata siapa aku tak pernah berteriak pada Kai? Aku selalu melakukannya, kok.”

Yul tertawa. Eye-smile-nya mengagumkan. “Ada-ada saja.” Syukurlah. Setidaknya aku merasa lega jika Yul tidak tahu hal apa yang menggangguku hari ini. “Minho.”

Aku meneguk white coffee-ku sedikit. “Hng?”

“Menurutmu… aku ini bagaimana?”

Cih! Hampir saja aku tersedak kopi saat mendengar pertanyaan tak bermerek dari Yul.

Stay cool, Minho… stay cool.

“Bagaimana apanya?” Tanyaku balik.

Yul terlihat berpikir, sejurus kemudian ia tersenyum manis. “Berikan penilaianmu secara jujur tentangku. Fisik dan sifatku.”

“Hm…” Aku menggodanya dengan pura-pura berpikir. “Kwon Yuri, ya?”

“Ish… ayolah! Aku serius.” Ujarnya sambil menepuk lenganku.

“Kwon Yuri itu… nappeun noona.”

Apa?”

“Maaf aku bercanda!” Aku terkekeh ketika melihat kedua mata Yul mendelik tajam padaku. “Kwon Yuri itu noona yang lembut, anggun, kekanakan, terlalu serius, dan… err… sexy.”

Dia tersipu membuatnya terlihat manis. “Terima kasih.”

“Sama-sama.” Gumamku sambil menggelengkan kepala mengingat kelakuan konyolnya tadi.

“Minho.”

Kali ini apa lagi?

“Ya?” Aku mengernyit. Kupikir Yul sangat suka memanggil namaku.

“Perhatikan baik-baik, aku tidak akan mengulanginya.” Perintahnya. Sorot matanya terlihat serius, hm… setidaknya aku harus bersikap serius juga di depannya.

“Baiklah…”

Dia berbisik tanpa suara, berbekal gerak kedua lapis bibir plump-nya.

SaRangHaeYo.

Aku bisa membacanya.

“Yul… aku juga sayang padamu. Nado saranghae.” Elakku pura-pura bodoh. Aku takut Yul hanya menipuku saja. Well, Yul kan sangat suka membohongiku.

“Dasar bodoh!” Hardik Yul dan…

PLUK!

Dia memukulkan daftar menu yang sebelumnya berada di genggamanannya ke pucuk kepalaku. Appo… buku itu cukup tebal. Kejam sekali dia.

“Kau…” Yul sepertinya kehilangan kata-kata untukku. “Lihat aku sebagai wanita, jangan sebagai noona.”

Yul menggamit tangan kananku yang menganggur tanpa mengerjakan apapun. Ia memandangku lekat-lekat.

Ugh. Kenapa aku baru menyadari bahwa Yul mirip dengan Krystal? Kenapa baru sekarang?

“Baiklah… kita resmi berpacaran sekarang.” Putusku.

Berpacaran dengan Yul dengan tujuan melupakan Krystal. Aku rasa rencana yang tidak buruk.

“Aku akan belajar mencintaimu, Yul.” Sambungku yang membuat pipinya memerah secara otomatis.

Yang aku tahu… Yul baik. Bahkan lebih baik dari Krystal. Mungkin.

***

 

Oppa.”

Suara manis itu memanggilku. Krystal keluar dari balik pintu dan tersenyum menyambutku. Ia menutup pintu dressing room milik grupku, SHINee, sehingga hanya ada kami berdua di dalam ruangan ini.

Kami berdua. Hanya berdua.

“SHINee menampilkan yang terbaik tadi.” Pujinya. Aku tahu dia cuma basa-basi.

“Ada apa?” Tanyaku to the point. Aku tahu Krystal bukan tipikal orang yang mau berbasa-basi dengan orang lain, kecuali… ya… ia memiliki maksud lain.

“Aish… kau dingin sekali padaku, oppa.” Keluhnya. Ia menyeret kursi milik Taemin yang tak jauh dari kursi yang aku duduki. Aku hanya mengalihkan pandanganku ketika ia mengambil posisi duduk berhadapan denganku. “Baiklah… aku akan mengutarakan maksudku yang sebenarnya.”

Sungguh aku tidak tahan. Persetan dengan semuanya. Tapi, sungguh… aku tak bisa berhenti mencintainya jika ia sering berkelebat di sekitarku. Fakta yang buruk mengingat aku dan Krystal adalah artis satu agency, dan lagi-lagi fakta buruk itu mutlak membuatku tidak bisa melupakannya walaupun Yul berada di pihakku sebagai pelarian.

“Selamat!”

Aku memandang uluran tangan Krystal dengan penuh tanya. Ada angin apa gadis ini mengucapkan selamat padaku? “Maksudmu?”

Kuberanikan berkontak langsung dengan matanya. Ia hanya tersenyum dengan eye-smile manisnya. “Selamat karena Oppa dan Yuri-eonni sudah jadian.”

Aku membeku. Apa-apaan ini? Harapanku hancur sudah. Aku pikir Krystal akan一setidaknya sedikit一cemburu mengetahui hubunganku dan Yul. Benar… Krystal tak pernah menganggapku apapun. Aku hanya sunbaenim-nya. Sunbaenim yang menyukainya dengan sepihak. Pengecut sekali, bukan?

“Oppa?” Krystal melayangkan telapak tangannya di hadapan kedua mataku hingga aku tersadar dari lamunan konyolku.

Aku bodoh. Bahkan Krystal terlihat senang dan baik-baik saja mendengar aku berpacaran dengan Yul, tapi aku… kenapa aku malah merasa aneh. Kenapa hanya aku?

“Oppa kau mendengarku, kan?” Ulang Krystal. Ia mengernyit. Mungkin khawatir padaku.

“Iya… tentu saja.” Lirihku. Aku selalu mendengarkanmu, Soojung. Andai kau tahu itu.

“Karena kalian sudah menjadi sepasang kekasih, kalian harus berhati-hati dengan sasaeng. Mereka bisa melakukan hal buruk padamu dan Yuri-eonni. Aku sebagai dongsaeng kalian tentu saja tak mau itu terjadi.” Gurau Krystal sambil terkekeh kecil.

Kau pikir itu lucu, Soojung?

Aku mengulum senyum hambar walau jauh di dalamnya penuh rasa pedih. Rasa sakit ketika melihat Krystal berkencan dengan lelaki asing beberapa waktu yang lalu timbul lagi, bahkan lebih perih dari yang sebelumnya.

Aku ingin menangis, tapi aku tidak bisa…

“Oppa harus menjaga Yuri-eonni. Oppa tidak boleh mempermainkannya.” Gadis belia itu kembali menambahkan dua kalimat yang seakan menampar wajahku secara langsung.

Aku sudah mempermainkannya. Aku mempermainkan Yul, walaupun aku tak pernah memiliki niat kotor seperti itu sebelumnya. Aku meringis, yang aku sadari adalah… aku berhubungan dengan Yul hanya untuk menjadikannya pelampiasan karena aku tak bisa menggapai Krystal. Bukan karena aku mencintainya…

Krystal tersenyum simpul tanpa menyadari luka dari mataku. “Aku rasa akan banyak fans yang menyukai hubungan kalian daripada fanservice kita. Jadi, lebih baik kita merubah paradigma penggemar bahwa Minho dan Krystal adalah sahabat baik.”

Aku benar-benar ingin menangis sekarang. Seperti halnya pecundang aku hanya bisa mendongakkan kepalaku, berusaha membendung air mata yang menggenangi pelupuk mata. Aku tak mau Krystal tahu sisi lemahku.

Harusnya aku tahu. Seambisius apapun aku dalam mengejarnya, aku tetap nol di matanya. Nol. Tidak ada artinya.

“Aku tahu kau juga punya kekasih.” Pernyataan bodoh itu tanpa sadar keluar dari bibirku. Bibirku mengulas senyum sedih ketika melihat Krystal tersipu. Sebuah kebenaran, ya kan Nona Jung?

“Ah, a-aku…” Dia kesulitan mengeluarkan kata-kata. Dia gugup.

“Soojung, aku lelah.” Gumamku. Aku memeluk gadis bermarga Jung itu. Aku tak tahu harus berbuat apa, namun setidaknya aku bisa menghela nafas lega ketika Krystal tidak memberontak dari pelukanku.

Waeyo?” Tanyanya lembut sambil mengelus punggungku. Seperti anak kecil, aku menenggelamkan wajahku pada long-wavy hair-nya yang tergerai bebas. Aku menyukaimu, Krystal…

Kenapa kau tak bisa melihatnya dengan jelas?

“Aku lelah menyembunyikan ini terlalu lama. Aku mencintaimu.” Gumamku pelan. Krystal berhenti mengelus punggungku. Berani bertaruh, ia pasti kaget mendengar pengakuan tak romantisku.

“Jangan mengada-ada. Yuri-eonni bisa salah paham jika oppa mengatakan ini.” Ucapnya dengan nada marah. Ia melepas pelukanku dengan kasar. Ini mimpi buruk, apalagi ketika setetes air mataku tumpah membasahi lantai.

“Aku serius. Apa kau tak lihat bahkan aku kehilangan setitik air mataku karena ini?” Aku menahan diri untuk tidak marah padanya. Sulit sekali… kenapa sulit sekali meyakinkanmu, Krystal?

“Bodoh.” Sindir Krystal sarkastik. “Aku sudah punya kekasih.”

Aku menelan ludah ketika Krystal menatapku dengan tajam. Seolah-olah ia hendak memakanku hidup-hidup. “… aku tahu.”

“Lantas?”

“Aku akan menunggumu.”

Eventough it’s impossible?”

“Ya.”

Sekilas, Krystal tampak seperti akan kehilangan kesabarannya. “Apa sebenarnya yang oppa harapkan?” Teriaknya frustasi. “Aku sudah di-cap sebagai kekasihmu di mata netizen. Kau terlalu rakus jika kau mengharapkanku secara utuh!”

“Maafkan aku, Soojung. Aku tidak bisa mengelak.” Sesalku. Aku tak berani menatap matanya, sedangkan dia seakan-akan menantangku untuk beradu death glare.

Krystal menampar pipiku. Tidak sakit, namun dadaku yang terasa sakit. Rasanya seperti tertusuk beribu pedang. Perih.

“Dasar gila!” Ia memakiku. Nafasnya naik-turun sama seperti emosinya yang kini sedang labil. “Oppa aku mohon mengertilah perasaanku. Aku mencintaimu sebagai F(X)’s Krystal, hoobae-mu. Tapi sebagai Jung Soojung, sebagai wanita, aku mencintai kekasihku.” Terangnya dengan air mata berderai di pipinya. Rasa sakit di dadaku berlipat ganda ketika melihat bulir kristal jatuh bebas dari kedua belah matanya. “Oppa mengecewakanku. Aku pikir oppa akan profesional. Tapi… Fuck!” Ia mengumpat kemudian menarik diri dari dressing room-ku.

Kedua tanganku tergegam. Haruskah aku menyesal karena sudah mengungkapkan perasaanku pada Krystal?

Bayangan seseorang yang tak ingin aku lihat saat ini terlihat dari balik pintu. Dengan emosi yang sama seperti Krystal dia membanting pintu dressing room kami.

“Kita putus.”

“Maafkan aku, Yul.”

Untuk kedua kalinya seorang gadis menamparku. Yul menamparku di pipi yang sama seperti Krystal. Kali ini benar-benar terasa sakit. Namun aku tahu, sesakit apapun tamparan di pipi ini, tidak akan bisa menandingi perihnya sakit hati di antara kami bertiga一aku, Yul, dan Krystal.

“Bagaimana bisa kau menyuruhku memaafkanmu? Kau pikir itu mudah, eh? Kau menyakiti hatiku hingga tercabik. Aku pikir kau mencintaiku. Aku pikir kau setidaknya mau belajar mencintaiku seperti apa yang kau katakan tempo hari. Cih, ternyata aku hanya sampah untuk menghalangi bayangan Krystal dari matamu. Atau kau memang sengaja memecah belah hubungan baikku dengan Krystal dan eonni-nya?” Yul benar-benar salah paham padaku. Tapi aku tak bisa melakukan apapun… aku memang salah. Aku mempermainkannya. “Brengsek!”

“Maaf, Yul.” Lirihku ketika Yul berlari meninggalkanku sendirian.

Krystal benar, aku memang egois. Dan Yul benar, tidak semudah itu memaafkan orang yang telah menggores luka di hati.

Aku berdosa. Sangat berdosa.

 

***

Aku menghancurkan segalanya. SNSD-sunbaenim, F(X)-hoobaenim, bahkan Kyuhyun dan Changmin-hyung terlampau marah padaku hingga tak pernah mengindahkanku sama sekali sejak kejadian itu. Kejadian yang menghancurkanku, Yul, dan mungkin sebagian kecil dari Krystal. Bersyukurlah aku karena memiliki hyungdeul serta Taemin yang masih percaya padaku一walau aku yakin, mereka sebenarnya kecewa padaku, terlebih Jonghyun-hyung.

Saat ini aku sedang menyusuri trotoar yang masih masuk kawasan SM Building. Rencana awal adalah untuk pergi minum soju di kedai yang tak jauh dari sana. Tapi langkahku terhenti ketika mencapai mension keluarga Jung. Mension super mewah yang dibangun tak jauh dari gedung agensi kami.

Aku mengernyit begitu sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan pagar mension. Makin penasaran ketika seorang pria berjacket hitam keluar dari dalamnya dan membukakan pintu untuk… ah! Itu Krystal.

Aku cukup yakin hanya dengan melihat perawakannya.

Rasa perih itu datang lagi. Memori ketika Krystal menamparku saat itu kembali terputar bagaikan film lama.

Siapa laki-laki itu? Aku memang tidak punya hak untuk bertanya, tapi… aku yang akan hancur jika aku terus memandangnya dari jauh.

Laki-laki itu…

Aku sepertinya tak merasa asing dengannya. Aku seperti mengenalnya, tapi aku lupa. Siapa sebenarnya laki-laki itu?

 

***

 

FLASHBACK

Aku melipat tangan di depan dada, bete dengan Key yang seenaknya menyeretku ke apartemen asing ini. Di depanku Key sedang menekan pintu apartemen yang entah milik siapa itu.

 

Aku menghela nafas panjang. “Sebenarnya kita kesini mau apa, sih?” Tanyaku gemas pada tingkahnya yang seolah menyembunyikan sesuatu dariku.

 

Key tergelak. “Nanti kau juga tahu.”

 

Bersamaan dengan itu, pintu apartment terbuka dan tebak siapa yang keluar dari balik pintu?

 

Nam Woohyun. Member Infinite yang baru-baru ini bergabung dalam geng kami, 91liners.

 

“Ini dorm kalian?” Tanyaku menginterupsi obrolan Key dan Woohyun yang baru saja bertatap muka.

 

Woohyun menarik ujung bibirnya. “Begitulah.”

 

Key menyodok lenganku sambil mencibir. “Makanya jangan kuper. Aku mengajakmu kesini agar kau tahu dorm hoobaenim kita yang satu ini.”

 

Aku tertawa getir, begitupula dengan Woohyun. Pemuda yang kira-kira setinggi Key itu mengisyaratkan agar kami berdua一selaku tamu一untuk masuk ke dalam dorm-nya.

 

Sebenarnya dorm mereka sama saja dengan dorm kami. Hanya saja tempat ini terlihat lebih asing一wajar karena ini pertama kalinya aku kemari.

 

Saat duduk di sofa aku lebih memilih diam, membiarkan kedua orang tersebut sibuk dengan obrolannya sendiri. Key dan Woohyun asyik mengobrol, mungkin kepribadian Key yang easygoing membuat Woohyun yang kenal baru saja dengannya merasa nyaman.

 

Sedangkan aku? Cis. Aku hanya menjadi rumput liar di antara rumput taman.

 

Sesaat kemudian seorang pemuda tampan tanpa ekspresi berjalan melenggang di ruang tamu. Dia berhenti tepat di depan pintu ketika Woohyun memanggil namanya.

 

“Mau kemana?” Tanya Woohyun yang membuat pemuda itu melengos kesal.

 

“Keluar.” Jawabnya sambil menautkan kedua alis.

 

“Berbalik dan ucapkan salam untuk sunbaenim kita dulu, lah.” Pinta Woohyun yang lagi-lagi membuat pemuda ber-coat hitam itu menghela nafas. Dengan langkah gontai ia berbalik dan menjulurkan tangan pada Key.

 

“L imnida.” Ucapnya tepat ketika tangannya dijabat oleh Key.

 

Key tersenyum. “Kim Kibum SHINee.” Balasnya. Pemuda yang entah berinisial atau memang namanya L itu tak berekspresi. Sepertinya dia punya attitude problem.

 

Dia mengalihkan pandangannya padaku dan menatapku tajam. Seumur-umur, aku tidak pernah ditatap setajam itu oleh orang lain一tidak sampai pemuda ini melakukannya padaku sekarang. Jauh di dalam sana, aku merasa ada artian sentimentil dari pandangannya, seakan-akan aku pernah merebut sesuatu dari genggamnya. Tapi apa? Aku tak tahu.

 

Sebelum ia menjulurkan tangan padaku, aku mendahului untuk melakukannya. Ia menyeringai kecil一terlihat dari wajah datarnya.

 

“Minho imnida.” Ucapku ketika tanganku berjabatan dengan tangan dinginnya.

 

“Myungsoo imnida.” Responnya sambil membuang muka. Selepas mengatakannya, ia segera menarik jabatan tangannya, seolah tak sudi berjabat tangan denganku. “Yah, hyung! Ijinkan aku pergi kencan sekarang.” Pamitnya yang membuat perhatian Woohyun pada pembicaraan Key kurang maksimal.

 

“Ya, pergilah.” Usir Woohyun halus. Orang itu, bahkan sebelum Woohyun mengusirnya ia telah mendahului pergi. Aku masih menatap kepergiannya dengan aneh. Kenapa di dunia ini bisa ada laki-laki tak ramah seperti Myungsoo? Ck.

 

Woohyun melirikku, sepertinya ia tahu bahwa aku sedikit tersinggung dengan perilaku Myungsoo tadi. “Maaf, dia memang sedikit tidak sopan.”

 

Key tertawa sembari menepuk-nepuk punggungku. “Tidak apa-apa, Woo. Jadi, dorm kalian lumayan juga, ya?”

 

Obrolan mereka berlanjut lagi, meninggalkanku sendirian yang tengah berpikir atas sikap sentimen Myungsoo padaku.

 

Apa sebenarnya yang salah denganku?

 

***

Pikiranku kembali dari angan-angan menuju realita saat ini. Sebuah realita yang menyakitkan ketika aku melihat gadis yang sangat aku cintai saling menautkan bibir dengan pemuda di hadapannya.

Myungsoo. Siluet itu… wajah dingin itu… dia Myungsoo. Aku sangat yakin walaupun wajah keduanya hanya tersinari temaram lampu jalanan.

Kenapa aku baru mengingatnya? Kenapa harus Myungsoo yang dicintai oleh Krystal?

Bullshit. Semuanya omong kosong!

“Jadi begitu…” Gumamku pada diriku sendiri. “Jadi itu arti pandangan sentimenmu dulu, Myungsoo? Tentang Krystal?”

Aku tertawa hambar. Bukan tawa kebahagiaan. Melainkan sebuah tawa untuk menyampul betapa rapuhnya aku dari dalam.

Langkah gamang ini berlalu pergi menjauh dari keduanya… kenapa aku?

Kenapa harus aku yang merasakan perihnya cinta sepihak? Kenapa harus aku yang tersenyum menyembunyikan hancurnya hati dan tangisku?

Oh, Lord. Seharusnya aku bisa melupakan Krystal…

Ya, aku akan mencoba meskipun kebijakan konyol itu mustahil untuk dilakukan.

*** END ***

About these ads

86 thoughts on “[FF Competition] A Hurtful One-Sided Love

  1. Deadline udah dket ya? Yaudahlah dongsaeng, selamat berjuang. Eonni dukung kamu sepenuhnya hahahah. Nanti kl menang post di wp-mu, ya chagi?

  2. mian baru baca uda bulan ke berapa ini , aduh telat -_-
    KYAAAAAAA CERITANYAAA DAEBAAAAKKKK BANGEEETTT XD *capsjebol
    author keren bgt, sumpah suer ceritanya bagus bgt. berasa lagi baca curhatannya minho. kyakya… ko krystal diem2 pacaran ma myungsoo sih.. uahh break up :( minho oppa(ku) sabar yah… *pukpuk…

  3. Minho nappeun namja yg menyedihkan =_= #plak

    Itu Krystal sama Myungsoo…..entah kenapa aku ngerasa ini couple keren. Dua dua nya cool!! Hahaha *ditabok minho*

    FF nya baguuuus ^o^)9

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s