Simple Of Love

 (Aku tidak membutuhkan yang lain, hanya kau)

When you ask again, it’s only you

(Ketika kau bartanya lagi, itu hanya kau)

Even if you already have another love

(Sekalipun kau sudah memiliki cinta yang lain)

I can’t forget you, I can’t turn back around

(Aku tak bisa melupakanmu, Aku tak dapat kembali)

[Hwang Min Hyo POV]

Aku memandang sosokmu yang menjulang tinggi di hadapanku. Wajahmu yang rupawan, suaramu yang indah serta senyumanmu yang begitu di gilai oleh kaum hawa membuat seluruh system tubuhku bekerja keras. Kulitmu putih seperti pahatan porselin, rambut pendekmu terjuntai indah menutupi pelipis matamu. Kedua matamu yang terukir bak bulan sabit menambah ketampanan yang di ciptakan Tuhan dengan sempurna.

Tubuhmu berdiri tegap, memandang ke seluruh penjuru dengan sebuah senyuman hangat yang jarang sekali di lontarkan olehmu. Aku memejamkan mata. Menikmati setiap melodi indah yang di lantunkan. Mengalun, mengalir, dan menyerap seperti air hangat yang menghiasi musim dingin. Namun aku hanya bisa memandang dirimu dari kejauhan. Aku tak mampu menjangkau dirimu yang begitu bersinar.

Kau menarik di tengah sorotan lampu panggung yang mengarah kearahmu. Menjadi pusat perhatian dengan sejuta keindahan yang terpahat pada dirimu. Tak ada yang tak menggilaimu, tak ada yang mampu di cela dari kehidupanmu. Kau… terlalu sempurna untuk sekedar di acuhkan.

Aku tak membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup di dunia ini. Alasanku… alasan aku mampu bernafas di dunia ini hanyalah dirimu. Aku tersenyum, aku tertawa bahkan aku menangis hanya karena dirimu. Pada nyatanya aku hanyalah gadis bodoh yang menginginkamu. Ketika orang lain bertanya mengapa aku begitu mencintai dirimu, aku hanya bisa menjawab karena kau adalah kau dan aku adalah aku yang mencintai dirimu.

Aku tak membutuhkan alasan manis hanya untuk mencintai dirimu. Sekalipun kau tak lagi tampan, sekalipun nanti kau tak lagi mengagumkan aku akan terus mencintai dirimu. Dan sekalipun nanti kau memiliki cinta yang lain, aku tak kan mungkin mampu melupakanmu. Sosokmu, senyummu yang khas dan suaramu yang indah membuatku tak bisa kembali ke awal. Ke suatu masa, ketika aku tak mengenal dirimu.

Pada akhirnya aku hanya mampu menatapmu. Tersenyum dalam diam, menutup mata ketika kau bernyanyi, karena begitulah caraku – cara mencintai dirimu. Aku tak pernah berteriak, tak pernah berseru seperti gadis yang lain. Karena sejujurnya aku menginginkan dirimu melihatku, bukan suaraku. Aku ingin kau menatapku berbeda, memandangku dengan senyuman lembutmu. Namun apakah itu mungkin? Kau… selalu bersinar di tengah cahaya redup sedangkan aku di sini, menanti dirimu menghampiriku. Ah tidak, menghampiri kami — penggemarmu.

Aku terlalu mencintaimu. Bahkan untuk berpura-pura kau tak ada, rasanya begitu sulit.

***

The moment my eyes began to burn

(Saat mataku mulai membara)

The moment my heart was captured by you

(Saat hatiku terpaut olehmu)

I have no regret, I chose you

(Aku tak pernah menyesal, aku memilihmu)

That’s right, it’s you

(Itu benar, itu kau)

            Mataku selalu mampu menangkap sosok dirimu yang begitu tampan. Tak pernah sedikitpun di otakku terlintas untuk mencoba mencintai pria lain. Seorang pria yang mungkin saja mampu mencintai diriku, seorang pria yang mungkin saja merelakan semua apa yang dia miliki hanya untukku. Namun aku tak bisa, tak mampu mengenyahkan pikiranku tentang semua hal indah yang kau miliki. Kau, terlalu jauh mengambil setiap inti sari kehidupanku.

“Sampai kapan kau akan menatapnya seperti itu Min Hyo-ssi[1]?” aku tersentak. Membalikkan tubuhku untuk melihat seorang gadis cantik yang menatapku dengan senyum khas miliknya.

“Ah, tidak. Aku… hanya mengaguminya onnie[2].” Jawabku kaku dan menghindar dari dirinya. Mencoba untuk menyibukkan diriku sendiri dengan segala sesuatu yang memang sudah menjadi tugasku sebagai asisten pribadi artis seperti dia.

“Benarkah? Kenapa aku merasa kau berbohong ya?” tanyanya lagi, kini tersenyum mengejek ke arahku. Dia Shin Mirrelle, penyanyi solo di bawah naungan SM—tempat di mana seseorang yang kucintai itu berada.

Aku hanya berbeda satu tahun dengan Mirrelle onnie, dia mengenal keluargaku dengan baik dan dia yang merekomendasikan diriku untuk menjadi asisten dirinya. Tentu saja aku bahagia, karena sejujurnya aku ingin sekali menjadi seorang aktris hebat dengan kemampuan aktingku. Tapi, sepertinya nasib belum berpihak padaku. Karena di sinilah aku, menjadi asisten seorang penyanyi terkenal dengan sejuta mimpi dan cintanya yang tak terbalas.

“Tak mencoba untuk mendekatinya? Cinta itu harus di perjuangkan nona Hwang.” Tambahnya lagi dan semburat merah mencuat di pipiku.

“Aku tidak  mencintainya. Aku… hanya fans.” Kataku pelan. Nyaris berbisik. Aku melangkahkan kakiku ke arah tas Mirrelle onnie. Tempat pakaian pentasnya berada. Aku sebenarnya sudah merapikannya tadi, tapi entah mengapa aku butuh sesuatu untuk mengalihkan pembicaraan ini. Pembicaraan yang sebenarnya tak sama sekali aku inginkan.

“Fans yang sering mengamatinya diam-diam? Tersenyum saat dia tersenyum, menangis saat dia menangis dan… fans yang terkadang membantu idolanya ketika kesulitan mencari sesuatu.” Aku terdiam. Merasakan mataku memerah dan memanas. Apa yang di katakan dirinya benar. Aku sering sekali membantunya ketika asisten pribadinya terlalu sibuk dengan hal lain. Bahkan pernah suatu kali di konser SM Town, aku mengacuhkan keperluan Mirrelle onnie dan lebih sibuk mengamati dirinya. Sibuk dengan sebuah angan bahwa aku suatu saat nanti bisa memiliki dirinya.

“Hwang Min Hyo…” panggil Mirrelle onnie, ku rasakan tangannya menyentuh pundakku pelan. Mencoba membalikkan tubuhku agar menghadap ke dirinya. Aku menunduk, tak berani menatap dirinya yang lebih tinggi beberapa senti dariku.

“Aku pernah mencintainya. Mengagumi sosoknya. Sekalipun aku gagal, sekalipun aku tak pernah ada di hatinya, aku tak pernah menyesal bisa mencintainya. Karena pada hakikatnya, cinta itu untuk keindahan. Di berikan oleh Tuhan agar kita bisa bahagia.”

Reflex aku mendongak. Menatap gadis cantik yang berdiri di hadapanku ini. Dia….

“Kau pernah mencintai Cho Kyuhyun?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutku. Aku tahu itu tidak sopan, tapi kalimat yang barusan di ucapkannya tadi cukup membuatku terkejut. Karena pada kenyataannya saat ini dia sudah memiliki Shim Changmin sebagai kekasihnya.

“Yep. Dulu, sebelum aku debut. Sama seperti mu. Aku mencintai sosoknya lebih dari idola. Mengejarnya hingga aku sejajar dengan dirinya.” Jawabnya sinis. Tapi sorot matanya seperti mengulang kembali masa-masa yang pernah ia rasakan.

“Tapi aku tak pernah berusaha untuk mengungkapkannya. Suatu hal yang paling ku sesali dalam hidupku.”

“Tapi, bukankah wajar jika seorang gadis tidak mengatakan perasaannya lebih dulu?” aku berasumsi. Merasa keberatan jika seorang gadis bertindak agresif.

 “Ck, kau ini. Memangnya hanya dengan kata-kata saja bisa mengungkapkan cinta? Aigo[3]kau ternyata lebih bodoh dariku tentang cinta.” Cibirnya dan aku mendengus. Aku agak maklum dengan sifat Mirrelle onnie. Cenderung ketus namun dia gadis terhebat yang pernah ku temui. Sosoknya ku kagumi jujur saja sekalipun banyak orang di luar sana tidak menyukai sifatnya yang terlalu frontal.

“Kau…” tunjuknya ke arahku. “Hanya perlu berada di dekatnya dan melakukan hal-hal yang bisa membuatnya melihat dirimu. Hanya dirimu.”

Aku terjatuh untuk kesekian sekalinya karna dia. Tapi aku selalu bangkit kembali, melangkah dan selalu mengejarnya yang semakin menjauh.

***

Oh whatever anyone anyone says, it doesn’t matter to me

(Oh apapun yang dikatakan orang lain, itu tak masalah untukku)

Oh whoever whoever curses me, I’ll only look at you

(Oh siapapun yang mengutukku, aku hanya akan melihatmu)

Even when I’m born again, it’s still only you

(Bahkan ketika nanti aku terlahir kembali, itu tetap dirimu)

(Still Still) Even as time goes by

(Bahkan seiring berjalannya waktu)

Kata-kata yang di lontarkan oleh gadis bermata abu-abu itu seperti sihir bagiku. Memberikan suatu efek yang luar biasa ketika aku mendengarnya. Seperti suatu semangat yang selama ini tak pernah ada dalam diriku. Aku terlalu lama mendendam apa yang ku rasakan. Terlalu lama berdiam diri dan tidak menunjukkan bahwa aku—Hwang Min Hyo mencintai namja[4] bernama Cho Kyuhyun.

            Aku tak peduli jika orang lain nanti mengatakan apa yang akan ku lakukan adalah kesalahan besar. Itu semua sama sekali tak masalah bagiku. Sekalipun nanti semua fans pribadinya mencemoohku atau bahkan menerorku, aku tetap peduli. Aku hanya ingin melihatnya. Aku hanya ingin dia memandangku sebagai seorang gadis yang mencintainya dengan sepenuh hatiku.

            Dan jika mungkin nanti aku terlahir kembali, pilihanku akan tetap pada dirinya. Sepanjang waktu berlalu. Aku akan tetap mencintai dirinya.

            “Annyeong….[5]” sapaku pelan, membuka pintu waiting room Super Junior.

            Aku berada di gedung KBS sekarang. Seperti biasa ketika seorang grup idola mengeluarkan album baru, mereka akan tampil dalam acara music bank untuk beberapa minggu ke depan. Yah, aku mungkin bukan asisten pribadi dari salah satu anggota Super Junior. Tapi ku rasa Tuhan sedang berbaik hati padaku. Lee Ahjumma[6]asisten pribadi namja setan itu sedang sakit dan aku di tugaskan untuk menggantikan dirinya.

            Aku gugup? Bodoh saja jika tidak. Berdiri sedekat ini dengannya membuat jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Sekalipun ruangan ini menggunakan pendingin namun keringat dingin membasahi pelipis dan keningku. Astaga… seharusnya aku menyiapkan mental yang lebih baik untuk bertemu dengannya. Potensi setan itu membuat gadis menjadi gila jauh lebih besar daripada sekedar patah hati.

            “Kau nona Hwang?” Leeteuk oppa[7] bertanya padaku. Leader tampan itu terlihat sangat berwibawa dengan setelan jas putihnya. Ya Tuhan, dia selalu tampak seperti malaikat dimanapun dan kapanpun.

            “Mmm, ya. Aku pengganti Lee ahjumma untuk sementara.” Jawabku senormal mungkin. Aku mengontrol nada suaraku agar tak terdengar gugup. Setidaknya aku tak ingin terlihat memalukan di depan Kyuhyun.

            “Ku kira kau seumuran dengan Lee ahjumma.” Tukasnya lagi dan mengerling ke arah Kyuhyun. “Kyuhyun-ah, beruntung sekali kau mendapatkan asisten pengganti secantik dia.” Kata Leeteuk oppa dan ku rasakan pipiku memanas karena pujiannya.

            Mataku beralih ke arah seorang namja yang duduk di pojok ruangan. Pandangannya tak lepas dari benda yang tengah di genggamnya. Oh, yeah. Seperti biasanya dia akan mengacuhkan semua orang dan fokus pada game yang sedang ia mainkan. Aku terlalu hafal setiap kebiasaannya. Terlalu banyak hal-hal kecil yang aku tahu tentang dirinya. Hal-hal yang mungkin tidak disadarinya sebagai suatu pesona hebat untuk meluluhkan hatiku.

            “Yak! Min Hyo-ssi kenapa diam saja? Cepat siapkan keperluanku!” Namja itu berteriak tiba-tiba tanpa sedikitpun mengalihkan matanya dari PSP. Aku terlonjak kaget. Bukan, bukan karena suaranya yang menggelegar di seluruh penjuru ruangan. Tapi kalimat yang baru saja di lontarkannya. Dia—seorang Cho Kyuhyun mengetahui namaku.

            “Kau tahu namaku?” tanyaku bodoh. Aku berjalan beberapa langkah. Entah keberanian darimana aku mampu mendekatinya.

            “Bukankah kau menyebutkan namamu tadi.” Tukasnya, masih tetap terlihat fokus pada game yang ia mainkan. Tapi, dari jarak sedekat ini aku mampu menangkap nada gugup dari suaranya.

            “Sama sekali tidak.” Jawabku pendek. Segaris senyuman terukir di wajahku. Rasanya, begitu menyenangkan bahwa ia menyadari keberadaanku.

            Kyuhyun mengangkat wajahnya dan menatapku. Aku terkesima. Benar-benar tak mampu mengatakan apapun selain melongo seperti orang bodoh ketika melihatnya. Garis wajahnya yang tegas, bibir tipisnya yang penuh. Serta matanya yang indah membuatku seakan terbuai dengan semua pesona dirinya.

            “Kau tahu Kyuhyun-ssi. Ku rasa seseorang benar. Bahwa hal-hal kecil yang kita lakukan terkadang terlihat besar bagi yang merasakannya.”

            Ku lihat dahinya mengernyit. Ia menaruh PSP nya lalu bangkit berdiri di hadapanku. Aku benar-benar bersyukur Tuhan menciptakan pria hampir sempurna seperti dia.

            “Kau…” telunjuknya mengarah padaku. Aku tak bergeming, masih tetap pada posisiku. Memandangnya dengan sejuta kekaguman.

            “Kau menyadari kehadiranku kan Kyuhyun-ssi?” tanyaku langsung. Air mukanya langsung berubah. Matanya memandangku tajam. Namun aku merasa menang. Hal-hal kecil yang biasa ku lakukan untuk dirinya ternyata bukanlah hal yang sia-sia. Dia – keajaibanku, menemukan sosokku pada akhirnya.

Kenyataan terpahit dalam hidup adalah aku mencintainya namun aku tak mampu memilikinya.

***

Even if I close my eyes, I can see it

(Bahkan ketika aku menutup mata, aku bisa melihatnya)

Even if I’m far away, I know it

(Bahkan jika aku jauh, aku mengetahuinya)

Just how beautiful of a person she is

(Betapa cantiknya dari seorang dia)

 

[Cho Kyuhyun POV]

            Awalnya aku tidak mengetahui siapa dirinya, bahkan sosoknya yang mungil seperti itu tak mudah ditemukan oleh orang lain. Aku melihatnya pertama kali ketika Shin Mirrelle memperkenalkan dirinya ke manager Super Junior. Aku tak sengaja mendengar namanya. Tak sengaja melihat dirinya yang saat itu terlihat sangat cantik menggunakan gaun selutut berwarna biru muda. Dan, pada akhirnya aku menyadari bahwa ia berhasil memikat hatiku di pertama kali aku melihatnya.

            Ini mungkin terdengar menjijikkan. Cinta pada pandangan pertama bukanlah sesuatu yang begitu aku percayai. Aku tak terlalu tertarik pada sesuatu yang dinamakan cinta. Namun hal itu berubah ketika aku lebih memperhatikan sosoknya. Dia selalu membantuku, selalu menyempatkan diri untuk mengkhawatirkan diriku dibandingkan dengan Mirrelle. Sosoknya yang lugu dan cara bicaranya yang lembut membuatku tersihir akan sosoknya.

            Dia – gadis yang membuat kehidupanku menjadi lebih indah daripada sebelumnya. Aku tak pernah berani menyapanya, tak berani untuk mendekatinya bahkan sekedar bertanya siapa nama gadis itu secara formal. Dia cantik, menarik dan memikat hatiku. Satu tahun seperti orang bodoh dan terkadang aku menyanyikan lagu hanya untuk dirinya. Apakah dia menyadari? Entahlah, karena ia sering kali menutup mata ketika aku menyanyi solo. Mengamatiku secara diam-diam di tengah riuhnya penggemarku yang lain.

            Dan sekarang, gadis yang berhasil memikat hatiku setahun belakangan ini tengah berdiri di hadapanku sambil menyunggingkan senyum manisnya. Aku kelepasan bicara tadi ketika menyebut namanya. Rasanya terlalu menyenangkan bisa melihat dirinya sedekat ini. Terlalu gugup sekedar untuk tidak mengetahui siapa dirinya. Aku terlalu terbiasa dengan sosoknya yang ku temukan di setiap kegiatanku.

            “Kau menyadari kehadiranku kan Kyuhyun-ssi?” tanyanya langsung. Aku meremas tanganku kananku menahan gugup. Kau boleh menyebutku bodoh atau apa, namun yang jelas keinginan untuk memeluk gadis ini sangat besar.

            “Kau manusia bukan? Tentu saja aku menyadari dirimu. Lee ahjumma tadi sudah memberitahu namamu padaku.” Kataku berbohong. Harga diriku terlalu tinggi untuk ku jatuhkan di depan Hyung[8]ku yang lain.

            Min Hyo mundur selangkah, senyuman yang tadi tersungging di bibirnya tiba-tiba lenyap tak berbekas. Hatiku mencelos. Menyesali kalimat yang baru saja aku lontarkan.

            “Maaf.” Katanya pendek. Membungkuk sebentar ke arahku dan mendongak kembali. Matanya memerah. Ia berusaha untuk menahan tangis yang mungkin sebentar lagi akan pecah.

            Ada rasa sakit yang menelusup ke hatiku ketika melihatnya seperti itu. Mengoyak, nyaris membunuh.

            “Hwang Min Hyo imnida. Mohon kerjasamanya.” Katanya lagi formal. Matanya tak memandangku, seolah menghindar dari kenyataan bahwa gadis cantik ini terpikat oleh ketampananku. Dan bodohnya, aku yang mencintainya tak mampu berbuat apa-apa hanya karena dua kata yang di sebut ‘Harga Diri’. Menjijikkan.

Mencintai itu membutuhkan kekuatan,kesabaran dan rendah diri. Karena pada dasarnya cinta itu tidak mengeraskan,namun melunakkan.

***

Oh when you tell me you love me

(Oh ketika kau memberitahuku kau mencintaiku)

When you tell me thousands and millions of times

(Ketika kau memberitahuku ribuan dan jutaan kali)

Even when my heart sets on fire, my dry lips wear out

(Bahkan ketika hatiku membara, keringnya bibirku)

Even when I’m born again, it’s still only you

(Bahkan ketika aku terlahir kembali, itu hanya kau)

(Still Still) Even as time goes by

(Bahkan seiring berjalannya waktu)

            Memandangnya sedekat ini sungguh membuat nafasku menjadi tidak beraturan. Rasanya seperti ada yang menggelegak dalam dadaku. Parasnya yang cantik, lesung pipinya yang terlihat manis serta setiap gerakannya yang terlihat sangat lembut. Aku menyukai cara dirinya berjalan, menyukai segala suatu hal yang di lakukan olehnya untuk diriku. Dia jarang tersenyum sekarang, satu hal yang ku sesali karena kata-kata bodoh tempo hari yang ku lontarkan padanya.

            “Bisa cepat sedikit? Pemotretannya sebentar lagi Min Hyo-ssi.” Kataku ketus. Selalu seperti ini hanya untuk menutui kegugupanku di depannya. Hal terbodoh yang pernah ku lakukan sepanjang kehidupanku.

            “Mianhae[9].” Jawabnya pendek. Ia masih sibuk merapikan pakaianku dan memasukkannya ke dalam tas. Tak pernah berani menatap mataku ketika berbicara.

            “Aku sudah selesai.” Katanya lagi. Kedua tangannya mengenggam kedua tasku. Perlengkapanku cukup banyak hari ini dan terlebih lagi ini adalah jadwal pribadiku. Aku menatapnya sejenak.  Rambutnya berantakan sekali dan pakaiannya agak sedikit kusut. Sejak tadi ia terus saja bergerak, tak sedikitpun rasa lelah menyergap dirinya. Sekalipun dalam keadaan seperti itu dia tetap terlihat cantik. Tetap terlihat bersinar dimataku setidaknya.

            “Duduklah dulu jika kau lelah.” Kataku pelan. Dia mendongak, setelah sekian lama ia menghindari kontak mata denganku, ia menatapku dengan pandangan heran.

            Aku melangkahkan kakiku ke arahnya. Berdiri tepat di depan tubuhnya yang hanya sebahuku. Entah setan darimana aku menyentuh kedua bahunya dengan jari jemariku.

            “Istirahatlah jika kau lelah.” Kataku penuh penekanan. Mata coklatnya terlihat mengagumkan di mataku. Menarik dan cantik.

            “Gwaenchana[10]. Kau akan terlambat nanti Kyuhyun-ssi. Lagipula ini hari terakhir aku menjadi asisten pribadimu. Ku dengar Lee ahjumma sudah sembuh.” Elaknya dan mencoba untuk melepaskan tanganku dengan mengedikkan bahunya.

            Aku mendesah pelan. Merasa lelah menahan semua perasaan aneh ini. Hal yang hampir sama ketika dulu aku alami bersama gadis frontal satu itu. Bersama seseorang yang kini telah menjadi milik sahabatku.

            “Ada yang ingin kau katakan padaku?” tanyaku padanya. Mata abu-abunya sangat cantik. Sekalipun ia kasar, namun ia memikat. Mengenalnya selama satu tahun penuh dan sama sekali tak berani mengungkapkan perasaanku padanya. Kebodohan yang luar biasa karena aku hanya bisa berdiam diri mengetahui perasaannya.

            “Tidak ada.” jawabnya pendek. Matanya tak menatapku. Menoleh kearah lain namun aku yakin ia memendam sesuatu.

            “Kau yakin?” aku bertanya kembali dan seulas senyum terukir di wajahnya.

            “Yakin, Kyuhyun-ah.” Dia berdalih. “Dan kau sendiri, apakah ada yang ingin kau katakan?” tanyanya balik padaku.

            Aku terdiam. Kali ini menghindari tatapan matanya yang lembut. Sesuatu yang tak pernah ku lihat darinya.

            “Tidak ada.” jawabku pelan. Nyaris berbisik. Ku dengar ia mendesah pelan. Suara-suara bising dari gemerlapnya kafe sama sekali tak mengubah keheningan di antara kami.

            “Aku pergi. Dua hari lagi debutku sebagai penyanyi. Kita… akan berada di tempat yang sama Kyuhyun-ah.” Katanya. Dia bangkit berdiri, mengambil tas putihnya dan menyampirkan benda itu di pundaknya.

            “Ya, kau… akan di posisi yang sama denganku.” Tukasku dan dia hanya membalas dengan senyuman. Senyuman terakhir yang ia tujukan padaku.

            “Kyuhyun-ssi, kita jadi berangkat?”

Aku tersentak. Suara Min Hyo menyadarkanku kembali dari memori masa lalu. Sebuah kebodohan ketika aku mengetahui perasaan seorang gadis yang mencintaiku dengan tulus. Shin Mirrelle. Aku tahu ia mencintaiku. Aku paham dengan baik bagaimana cara dirinya memperhatikanku. Ia berjuang, menjadikan dirinya terdampar di hiruk pikuk dunia hiburan. Namun aku tak memperjuangkannya. Tak berani mengungkapkan perasaanku, bahwa saat itu aku juga mencintainya.

Lalu haruskah sekarang aku mengulangi kesalahan yang sama? Mengulang sesuatu yang sangat memalukan bagi seorang pria. Aku tahu kedengarannya ini tidak sulit. Cukup mengatakan bahwa aku mencintainya dan  kami berdua bisa bahagia. Tapi tidak semudah itu ketika melakukannya. Jantung yang berdebar-debar, keringat dingin yang mengalir deras serta kegugupan yang menguasai seluruh tubuh, membuat sulit untuk mengatakan kalimat itu.

Kau boleh mengatakan aku pengecut. Apapun itu namanya, tapi aku memang merasa bodoh dengan itu semua. Kadang aku berpikir, bisakah seorang gadis menyadari seorang pria yang mencintai dirinya tanpa kata cinta? Ah, ku rasa itu tidak mungkin. mereka selalu ingin kepastian dan sialnya aku terlalu tolol untuk sekedar mengatakan kedua kata laknat itu.

“Ada yang ingin kau katakan padaku?” tanyanya. Raut wajahnya sama persis ketika Shin Mirrelle menanyakan hal yang sama padaku setahun lalu.

Aku menelan ludah. Mengalihkan pandanganku ke arah lain. Segala macam pikiran berkecamuk di kepalaku. Apa yang harus ku katakan sekarang. Mengapa cinta sederhana seperti ini saja aku tak mampu mengungkapkannya? Terlalu bodohkah aku sebagai seorang pria.

“Jika tidak ada, ku pikir lebih baik kita berangkat sekarang.” Tukasnya lagi. Ia berjalan menyamping. Meninggalkanku yang terdiam sesaat.

“Aku mencintaimu.” Kataku kaku. Ternyata… ternyata sesederhana itu mengucapkan kalimat laknat itu.

Ku dengar langkah kakinya berhenti. Ku balikkan tubuhku menghadap dirinya yang membelakangiku.

“Aku, mencintaimu Hwang Min Hyo.” Ulangku. Kedua tas yang sedang dibawanya terjatuh begitu saja. Aku mengerti dia terkejut dengan pengakuanku. Tapi kali ini, aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama untuk seseorang yang kucintai.

Aku berjalan mendekatinya karena sama sekali tidak ada reaksi darinya. Ku sentuh bahunya yang bergetar lalu membalikkan tubuhnya.

Ia menangis. Mata bulatnya meneteskan air mata. Namun dia tersenyum, seolah merasa menang bahwa ia mampu menarik hatiku.

“Kau tahu Kyuhyun-ssi, dugaanku selama ini benar. Sekalipun kau kasar, sekalipun kau tak memandang diriku, tapi satu hal. Kau, menyadari keberadaanku.” Ucapnya di sela tangis. Aku tertawa. Dia benar. Sekalipun aku tak benar-benar memandangnya, aku bisa merasakan kehadirannya di sekitarku. Aroma tubuhnya yang khas. Suaranya yang lembut serta dirinya yang selalu berlalu lalang di sekitarku. Aku mampu merasakannya.

“Dan sialnya gadis satu ini terlalu bodoh dengan menungguku untuk mengatakan cinta.” Balasku sambil terkekeh.

“Hal-hal sederhana tentang cinta, terkadang membuat semuanya terasa sulit. Iya kan, Kyuhyun oppa? Tanyanya dan aku mengangguk lalu menyapukan sebuah ciuman hangat di bibir mungilnya.

Mencintai adalah hal yang sulit. Butuh perjuangan dan kepastian. Tapi sialnya manusia selalu terpaku pada kata itu. Kata cinta.


[1] -ssi : partikel yang di gunakan ketika memanggil seseorang [Formal]

[2] Onnie  : Kakak perempuan, di gunakan oleh perempuan.

[3] Kata yang sering di gunakan oleh orang korea untuk menunjukkan keluhan.

[4] Namja : laki-laki

[5] Annyeong : sapaan yang biasa di pakai ketika bertemu orang lain

[6] Ahjumma : Bibi

[7] Oppa : Kakak laki-laki, di gunakan oleh perempuan

[8] Hyung : kakak laki-laki di gunakan oleh pria

[9] Mianhae : Maaf

[10] Gwaenchana : Tidak apa-apa

13 thoughts on “Simple Of Love

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s