You Really Love Me ? [Part 2]

Tittle: You Really Love Me? [Part 2]

Genre: Romance, School, AU

Rating: PG15

Lenght: Chapter(Part)

Main Casts: Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun

Other Casts: Nyonya Choi(eomma-nya Sooyoung), Nyonya Cho(Ibunya Kyuhyun)

Author: SintaRahayu

Disclaimmer: fanfic ini cuma milik saya!!! Sooyoung dan Kyuhyun milik tuhan. ini sekedar fanfic ya!!!

Summary: Inti ceritanya Kyuhyun itu teman kecilnya Sooyoung, tapi Sooyoung lupa sama kyuhyun padahal Kyuhyun suka sama Sooyoung

Peringatan: SILENT READERS DILARANG MASUK!!

Annyeong!!! saya kembali lagi dengan lanjutan cerita KyuYoung Couple ini!! Tetep komen ya!! Ini masih Sooyoung POV ya!!!!

***

“Seharusnya kita juga membawa gembok tadi.” Kata Kyuhyun.

“Maksudmu?” tanyaku kaget.

“Ya, harusnya kita membeli gembok dan memasangkannya disini.”

“hahah, untuk apa oppa?” Aku mulai agak bingung.

“Untuk kita berdua.”

“Mwo???”

“Saranghae Soo!!”

“Mwo??”

Aku tak mengerti dengan apa yang ia katakan, dia bilang dia mencintaiku. Apa dia sedang bercanda? Atau hanya terbawa suasana karena banyak gembok disini*apa hubungannya* mungkin gembok-gembok disinilah masalahnya. Continue reading

Our Love Story [Part 1]

Hallo hallo…FF baru saya nih….semoga pada suka yy

jangan lupa comment selalu..^^

Tittle : Our Love Story

Starring: Yang Yoseob – B2ST

Kim So Eun – aktris

Eun Hyuk – Super Junior

Lee Jinki – SHINEe

Im Yoona – SNSD

Kim Yoojin/UEE – After School

Yoseob dan So Eun berbaring di atas trampolin, benda usang itu bergoncang-goncang mengikuti gerakan mereka. Mereka berdua sedang menatap bintang yang mulai terlihat jelas setelah matahari tenggelam. Deru mobil dari kejauhan sesekali terdengar, lalu hening, digantikan oleh bunyi serangga malam.

Itu adalah kebiasaan mereka, duduk menunggu matahari terbenam sambil mengobrol tentang segalanya. Mereka akan melakukannya setiap malam hingga kegiatan itu menjadi rutinitas harian yang tidak pernah terlewatkan.

Tiba-tiba So Eun mendesah penuh harapan, lalu bertanya, lebih kepada dirinya sendiri.

“jatuh cinta itu…, gimana rasanya, ya?”

Yoseob sedikit kelimpungan menanggapi pertanyaan So Eun yang tidak biasa itu.

“memangnya kenapa?” dia bertanya dengan hati-hati.

So Eun tersenyum lebar dan memutar tubuh untuk menghadap Yoseob.

“kayaknya, menyenangkan banget, bisa pergi berdua kemana-mana, tukeran hadiah, ngerayain hari-hari penting sama-sama, seperti Dojoon oppa dan Jihyun onnie.” So Eun menyebutkan nama kakak laki-laki Yoseob, yang akhir-akhir ini sedang dilamun cinta dengan pacarnya.

“huh.” Yoseob mendengus dan menekan kepalanya dibawah lengannya.

“itu kan, kelihatan dari luarnya saja. Kalau lagi berantem, hyung kerjaannya marah-marah terus. Cemberut sepanjang hari, atau mohon-mohon sama Jihyun noona supaya dimaafin. Hyung bilang, selalu pihak cowok yang harus mengalah, belum lagi harus inget tanggal-tanggal penting. Misalnya, tanggal jadian, terus mesti pusing mikirin harus beli kado apa. Bikin kesalahan sedikit, ceweknya bisa ngambek berhari-hari. Jatuh cinta itu ngerepotin tau.”

So Eun tertawa, sudah terbiasa dengan gerutu khas Yoseob yang sangat sinis. “itu kan, karena kamu belum pernah jatuh cinta.”

Yoseon meleletkan lidah tidak peduli. “kamu sendiri juga belum, kan?”

“udah.” So Eun mengerling jenaka. “sama Dojoon hyung!”

“yeee…” dengan gemas, Yoseob menepuk kening sahabatnya, ringan.

“itu sih cuma cinta monyet!”

So Eun cengengesan, lalu kembali serius. “makanya, aku kepingin tahu, cinta yang sesungguhnya itu gimana rasanya…”

Mereka berdua terdiam, larut dengan pikiran masing-masing.

“diantara kita berdua, siapa ya kira-kira yang bakal jatuh cinta duluan? Kamu atau aku?”

Yoseob secara otomatis menjawab pertanyaan itu. “kamu.”

So Eun tergelak. “mungkin. Tapi, kamu atau aku, kita harus saling cerita ya? Janji?”

Yoseob hanya tersenyum dan mengangkat bahu, tidak ingin berjanji apa-apa. So Eun yang tidak puas dengan jawaban tersebut mengulurkan tangan untuk menggelitik pinggang Yoseob. Dua remaja itu bergulat di atas trampolin, tetawa keras-keras sambil berusaha saling mendahului, hingga akhirnya Yoseob setuju untuk mengaitkan kelingkingnya dengan jari So Eun. Janji dua orang sahabat untuk selamanya bersama.

—(^^)—

Yoseob memang tidak ingat kapan tepatnya So Eun berubah, tapi dia ingat jelas kapan pertama kalinya dia menyadarinya. Hari pertama saat mereka masuk ke high school. Pagi itu, So Eun muncul sambil merengut. Ia tampil dengan penampilan yang luar biasa. Rok yang mulai memendek, tungkai kaki yang mulai memanjang, diikuti lekuk pinggang yang sempurna. Kulitnya terasa lembut saat Yoseob menyentuh bahu. Padahal dari dulu So Eun kan pendek, kecil pakai kawat gigi. Pokoknya boyish abis. Rambutnya juga biasa dibiarkan pendek dan menjuntai hingga leher, lebih banyak terkena matahari sehingga ujung-ujungnya pecah.

Tapi sekarang, matanya bulat, bibirnya kemerahan, lehernya jenjang. So Eun…cantik. Adjektif terakhir itu terdengar aneh dimulut Yoseob. Karena dia tidak pernah menganggap sahabatnya ini sebagai perempuan sungguhan.

“ya! Kau melamun lagi?” So Eun menepuk bahu sahabat terbaiknya ini. Beberapa kali ini ia melihat Yoseob tengah melamun sendiri. Membuat So Eun penasaran dengan apa yang dilamunkan sahabatnya.

“oh..eh…tadi sampai mana?” sekarang gantian Yoseob yang bingung sendiri. Ia memandang buku-buku yang terbuka dengan gelisah.

“kau sedang ada masalah?” tanya So Eun merebut buku yang dipegang Yoseob.

“aniyo..hanya saja..aku sedang banyak pikiran,” jawab Yoseob sekenanya. Mana mungkin ia bilang ia melamunkan penampilan So Eun yang mulai berubah ini.

So Eun memandang Yoseob simpati. “marhaebwa…kalau itu bisa membuatmu tidak melamun lagi. Aku akan jadi pendengar terbaik sekaligus tim konsultasi yang tepat. Kalau kau ada masalah katakan saja padaku.”

“ckck, kau kira setelah mengatakannya padamu, aku akan baik-baik saja?”

“tentu! Aku bisa jamin!”

Yoseob hanya tersenyum, memang hanya So Eun yang bisa membuat suasana hatinya berubah.

–suatu hari….

“siapa tuh?” Yoseob menggampit lengan So Eun, menariknya ke kantin untuk membeli sebotol minuman dingin.

“model yang terkenal saat ini, aku bangga deh bisa satu kampus dengannya!” jawab So Eun sambil meneguk air putih dinginnya cepat-cepat. “tadi dia sempet digangguin sama cewek-cewek jadi aku bantuin dia kabur githu.”

“terus, ngapain dia ada disana?”

“katanya sih, mau ngajak kenalan.”

Hah? Yoseob hampir memuncratkan minuman di mulutnya. “terus gimana?”

“gimana apanya?” So Eun bertanya balik dengan cuek. “namanya Choi Minho. Dia minta nomor ponselku.”

“terus dikasih?”

“enggak.”

“bagus deh.”

Mendengar respon pasif itu So Eun memonyongkan bibir.

“gimana sih? Masa begitu bagus?ini kan pertama kalinya ada cowok ngajak aku kenalan.”

“kamu bangga karena ini pertama kalinya, begitu?” Yoseob menghabiskan isi botolnya dalam sekali teguk lalu melanjutkan. “gak semua cowok di dunia ini baik So Eun. Kamu harus hati-hati apalagi sama model cowok yang sembarangan ngajak cewek kenalan kayak tadi.”

“negative banget sih pikirannya,” So Eun merengut. “kamu sih ga percaya sama cinta pada pandangan pertama.”

Sudah ratusan kali So Eun mengangkat topic itu, yang bagi Yoseob lebih terdengar seperti dongeng yang tidak akan pernah terjadi. Dongeng yang membodohi orang!

“aku kasih tau ya…,” Yoseob memulai nasihatnya. “di dunia ini nggak ada yang namanya cinta pada pandangan pertama. Yang ada juga nafsu atau suka pada pandangan pertama, yang lalu disalahartikan sebagai cinta.”

“kamu ngomong begitu karena belum pernah ngalamin,” tuduh So Eun.

“memang kamu pernah?” tantang balik Yoseob.

“belum. Tapi, nggak ada salahnya percaya kan?”

Yoseob menghela nafas. “terserah aja deh. Yang jelas aku tidak percaya ada cinta yang seperti itu.”

“ga romantis ah,” cibir So Eun yang langsung meninggalkan Yoseob seorang diri di kantin. Setelah cukup lama ditinggalkan, Yoseob baru sadar bahwa dia tidak bermaksud untuk bicara ketus seperti tadi ke So Eun. Padahal dia mau bertanya apa So Eun bisa menemaninya pergi membeli kamera baru untuknya.

Ahh…Yoseob selalu saja lupa, kalau So Eun sangat perasa. Pasti akan berdampak buruk.

—(^^)—

Yoseob berhenti di depan trampolin, lalu menjatuhkan diri ke permukaannya, membuat So Eun yang sedang duduk bersila di atasnya ikut terguncang-guncang. So Eun yang sore ini mengenakan celana pendek warna pink dan jaket hoodie putih dengan topinya menutupi kepala, sedikit merengut melihat Yoseob ada disana. Dia masih sedikit kesal akibat obrolan tadi siang di kantin.

Yoseob membetulkan posisi duduknya diatas trampolin, memainkan nada pada gitarnya dan bersenandung ringan. Trampolin yang dipasang di kebun belakang rumahnya adalah tempat favoritnya dan So Eun. Waktu kecil, dia merengek supaya dibelikan sebuah trampolin besar. Setiap hari mereka berdua melompat-lompat diatasnya sampai capek, kemudian berbaring terlentang di atas sambil menengadah memandang langit yang membentang luas. Kini mereka berdua sudah terlalu besar untuk berbagi ruang di trampolin itu, tapi tetap saja mereka suka melakukannya.

“berisik.” So Eun menggunakan kedua tangan untuk menutupi telinganya, aksi memboikot yang membuat Yoseob tersenyum.

“udah dong ngambeknya.” Disenggolnya So Eun sedikit, tapi yang disikut bergeming. “So Eun-ah, aku serius nih. Aku punya sesuatu buatmu.”

“apa?” dengan cepat So Eun mengulurkan tangannya, bersiap menerima sesuatu.

Yoseob tersenyum lagi. Ulah gadis ini selalu membuatnya kewalahan, tapi So Eun tidak pernah berhenti membuatnya tertawa. “ini bukan hadiah semacam itu.”

“bisa dimakan?”

“ga bisa!’ dengan gemas, Yoseob menjitak kepala So Eun ringan. “Cuma lagu kok.”

“lagu?”

“ne.”

So Eun memeluk lutut, memandang Yoseob yang sudah siap dengan gitarnya. “bukannya kamu paling males ya kalau disuruh nyanyi apalagi di tempat umum.”

Yoseob menggeleng. “ini kan bukan tempat yang umum banget. Cuma ada kau dan aku. Sekarang ini aku pengen nyanyiin lagu buat sahabatku So Eun.”

“naega?!” So Eun mengerjap mata, berubah semangat.

“iya, karena selama ini kau sudah menemani, mendukung dan segala hal yang banyak kamu lakukan untukku. Mau dengerin ga?” Yoseob berdehem sedikit. Lalu mulai memetik gitarnya, memainkan versi akustik dari salah satu lagu favorit So Eun

Can u smile-infinite

aju orae jeon neoreul boatdeon geu neukkimeul gieokhe nan

neoreul alatdeon nareul alatdeon geu shijeoli saenggakna

neoreul dalmgo shipdeon eouligo shipdeon ganjeolhaesdeon shiganeul

nan dashi saenggakhae da jinagan hannat chueok bboningeo

*And, Can you smile? niga weonhajana niga barajanha

nae mam maneuroneun neol jabeul suga obtneungabwa

And, Can you smile? nega galajanha nan gwenchanhdajeonha

majimak neoege nan igeot bakken mot junabwa

Yoseob terus memainkan sambil bersenandung, dengan So Eun yang mendengarkan tanpa berkedip. Seulas senyum hadir di wajah keduanya, tenang yang sangat nyaman.

=====================================================================================

The other story will begin….

The other story will begin….

Yoona berdiri mematung di balik semak-semak. Tubuhnya ia sandarkan pada pohon tua di belakangnya. Mata indahnya sibuk mengawasi keadaan jalan. Dua lelaki muda yang ia kenal betul tengah beraksi di jalanan malam. Menunjukkan kekuasaan mereka seperti yang orang-orang tahu selama ini. Tapi toh hanya itu yang orang-orang tahu. Sementara gadis ini, tahu segalanya tentang kedua pembuat onar tersebut. Hanya ia lah yang memegang kartu as mereka selama ini. Dan tak sekalipun ia berniat membuka kartu itu.

Bodoh. Begitu pikir Yoona setiap kali melihat tingkah mereka seperti saat ini. Terlebih pada lelaki dengan tudung yang menutupi sebagian wajahnya. Yoona menatap miris pada lelaki yang sedarah dengannya tersebut.

Seorang lelaki seperti menyadari kehadiran Yoona. Lelaki itu melirik pada teman-temannya yang masih sibuk mencorat-coret dengan pilox biru sapphire kebanggaan mereka. Dan bukan sekali ini lelaki bermata sipit itu memergoki kehadiran Yoona di setiap aksi yang mereka lakukan. Tapi bukan berarti ia keberatan. Lelaki itu justru menyukainya. Ia melempar senyum ke arah Yoona. Menunjukkan senyuman anak kecil khasnya, berharap kali ini Yoona akan berbalik tersenyum padanya. Sayangnya Yoona tidak tertarik pada lelaki itu. Yoona menggerakkan tangannya ke leher seolah memberi isyarat bahwa ia akan memenggal leher lelaki itu. Lelaki itu tertawa pelan. Ia kemudian menyemprokan isi kalengnya ke depannya. Seolah menggambarkan sebuah nama di udara. Sesuatu yang diyakini lelaki itu sebagai kata keramat untuk membuat Yoona kembali ke rumah. Sesuatu yang sangat Yoona benci.

E.L.F”

Yoona berdecak kesal setelah mengejanya. Ia pun perlahan mundur meninggalkan keempat lelaki itu.

Yoona meneguk jusnya sambil memperhatikan kedua laki-laki yang duduk di sofa ruang televisi. Dari dapur ia bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Apalagi jika bukan tentang ‘aksi’ yang akan mereka lakukan malam berikutnya.

rencana bodoh apalagi sekarang.” gerutu Yoona pelan.

Saat Yoona berniat untuk kembali ke kamar, salah seorang lelaki itu masuk ke dapur dan menghalangi jalan Yoona.

Yoona-ya..” panggil lelaki bermata sipit itu dengan nada ceria.

Yoona sedikit mendongak, karena lelaki itu memang lebih tinggi darinya.

minggir.” Ketus Yoona.

hei..jangan kasar begitu pada oppa,” katanya lagi dengan lembut.

oppa?” Yoona memutar bola matanya “micheosseo, Lee Jinki?”

Lelaki yang dipanggil Jinki itu tertawa kecil “kau tahu Yoona, nada dinginmu itu yang membuatku rindu.”

hah? Aku tidak peduli. Minggir sekarang juga atau..”

atau apa Yoona sayang?” potong Jinki.

atau..” Yoona maju selangkah ke arah Jinki. Ia memegang kaos putih Jinki dan tersenyum manis pada lelaki itu. Membuat jantung Jinki berdetak cepat karena ia dapat melihat wajah cantik gadis yang disukai sedari dulu dengan jarak sedekat ini.

atau..” kata Yoona menggantung sekali lagi.

Bugh!

Terdengar bunyi hantaman keras dan disusul oleh teriakan melengking. Lelaki yang sedang tertidur di ruang televisi langsung terbangun dan menoleh ke arah dapur. Ia pun tertawa saat mengetahui apa yang terjadi.

aishh..!” keluh Jinki sembari memegangi perutnya yang perih akibat pukulan dari Yoona.

Yoona tersenyum puas “auh..mianhae, O-PPA.”

Gadis itu pun berjalan meninggalkan Jinki, hendak kembali ke kamarnya. Saat ia melewati ruang televisi, lelaki yang memakai hoodie merah itu memanggil namanya.

Yoona-ya kapan mereka datang?”

Yoona yang mengerti siapa yang dimaksud lelaki itu, hanya mengendikkan bahunya.

mungkin dua hari lagi. Untuk apa oppa menanyakannya?”

Lelaki itu tersenyum kecil “aniyo. Aku hanya ingin memberi ‘kejutan’ pada mereka.”

cih. Apa oppa tidak capek membuat masalah terus dengan mereka? Ani, apa oppa tidak capek selalu dimarahi appa?”

appa?” Lelaki itu membentuk ekspresi seolah tidak mengenal sosok yang disebut appa oleh Yoona.

aah..maksudmu Presdir yang terhormat?”

Yoona hanya mampu menghela nafas. Ia sudah tahu kalau akan seperti inilah tanggapan dari kakak kandungnya itu.

terserah sajalah.”

Lelaki itu bangkit dari sofa dan menepuk pelan kepala Yoona dengan lembut “kau tahu Yoona, seorang Lee Hyun Jee menyesali semua takdirnya, kecuali memiliki adik sepertimu. ”

Yoona menarik tangan kakaknya itu dari atas kepalanya “kau tahu Eunhyuk oppa, seorang Lee Yoona menyesali semua takdirnya, terutama memiliki kakak sepertimu.”

Lelaki bernama Eunhyuk itupun tertawa. Ia terbiasa dengan kata-kata ketus dari Yoona. Tapi ia tahu kalau adiknya itu menyayangi dirinya, sama sepertinya.

tidurlah. Besok jangan sampai terlambat sekolah.”

hmm..” jawab Yoona dengan malas sembari masuk ke kamarnya.

=====================================================================================

Seperti biasanya Eunhyuk menolak untuk menggunakan mobil dan lebih memilih bus umum untuk menuju kampusnya. Karena jarak kampus cukup jauh dari rumahnya, Eunhyuk memanfaatkan waktu perjalanan untuk tidur sebentar.

Setelah menarik hoodie untuk menutupi kepalanya, Eunhyuk pun memejamkan mata. Tapi baru beberapa menit, ia terbangun karena suara gaduh yang membuatnya terbangun. Beberapa langkah dari tempat duduknya, seorang gadis dengan raut kebingungan tengah merapikan susunan benda yang Eunhyuk duga adalah maket. Eunhyuk berniat membantu gadis itu tapi saat melihat wajah gadis itu dari samping, ia pun mengurungkan niatnya. Eunhyuk tersenyum sendiri, lalu kembali memejamkan matanya.

—(^^)—

Dengan langkah terburu-buru Yoojin menuju halte bus. Beberapa kali ia memeriksa arlojinya. Sepuluh menit lagi ia akan terlambat, begitu pikirnya. Di tangannya terdapat maket yang ia sangga. Maket yang merupakan tugas dari salah satu mata kuliahnya. Yang karena benda itulah sekarang dirinya terlambat karena semalam ia mengerjakannya hingga larut malam.

Dari kejauhan Yoojin melihat kedatangan bus yang melewati kampusnya. Ia mempercepat langkahnya agar tidak tertinggal bus tersebut. Sampai di bus, Yoojin mencari tempat duduk yang kosong, yaitu di sebelah lelaki yang memakai hoodie biru muda. Ketika akan duduk tiba-tiba saja bus mengerem secara mendadak. Karena Yoojin tidak berpegangan pada apapun, ia pun terjatuh. Maket yang ia kerjakan susah-susah juga ikut terjatuh. Gadis itu merutuki dirinya sendiri yang ceroboh. Dengan sembarangan, ia pun menyusun kembali maket itu. Ia berniat akan membenarkan letaknya setelah duduk.

Beberapa kali Yoojin menggerutu saat membenahi maketnya. Tanpa ia sadari, lelaki dengan hoodie biru muda yaitu Eunhyuk, memperhatikannya diam-diam sedari tadi.

aiishh..jinjja..” gerutu Yoojin sendiri.

Eunhyuk tersenyum kecil. Baru ia sadari kalau cewek yang ia tolong sangatlah cantik. Mendadak Yoojin menoleh ke arah jendela di samping Eunhyuk, Eunhyuk pun langsung menunduk lagi dan memejamkan mata.

omo! Bukankah ini daerah setelah kampus? Aah..otokhae?!”

Yoojin langsung berdiri dan berhenti di halte depan. Eunhyuk memperhatikan kebingungan Yoojin sambil tertawa sendiri.

dasar…gadis ceroboh…”

You better run run run run run
Deoneun mot bwa geodeocha jullae

Eunhyuk menengok ke asal suara itu yang berada di dekat sneakersnya. Sebuah handphone dengan case orange berdering nyaring. Di layarnya tertulis adanya pesan masuk. Eunhyuk mengernyit heran. Ia menduga kalau gadis di sampingnya tadi tidak sengaja menjatuhkan handphonenya. Ia pun meraih handphone tersebut dan membuka pesan itu.

From: So Eun

Yoojin..dosennya sudah datang. Kau dimana??

Eunhyuk tertawa kecil. Kemudian memasukkan handphone tersebut ke dalam sakunya.

Yoojin..”

Dan Eunhyuk kembali memejamkan matanya.

—(^^)—

Setibanya di lapangan parkir, tiba-tiba Yoseob mendengar teriakan.

“JANGAN BELAGU!!!”

Yoseob menghentikan langkahnya, mencari-cari sumber suara. Ternyata, suara itu berasal dari belakang gedung yang letaknya tidak jauh dari tempat dia berdiri sekarang. Dia melihat segerombolan orang yang sepertinya hendak mengeroyok seseorang. Karena Yoseob adalah orang yang ringan tangan dia berniat membantu orang yang lemah itu.

“sebenarnya, apa masalah kalian?” tanya Eunhyuk tanpa rasa takut sedikit pun tersirat di wajahnya.

“jangan kau pikir karena tampangmu lumayan, kau bisa seenaknya sendiri tebar pesona kesana kemari!” bentak salah satu dari empat orang yang ada didepannya itu.

“terima kasih atas pujiannya,” jawab Eunhyuk kalem.

Mulut Yoseob menganga mendengar kata-kata namja itu. Dia itu terlalu bodoh atau terlalu berani??!

Wajah keempat orang itu langsung merah padam. Tangan mereka mengepal erat dan rahang mereka terkatup. “KAU…!!!!” salah seorang diantara mereka mulai mengeluarkan tinjunya.

Eunhyuk dengan mudahnya menghindari pukulan pertama, tetapi ternyata pukulan kedua sudah menunggunya tidak lama kemudian. Tepat saat itu, Yoseob keluar dari tempat persembunyiannya dan berhasil menagkisnya.

“siapa kau?!!!” tanya mereka. “jangan ikut campur!!”

“pengecut!” ejek Yoseob kesal. “atau, emang sudah budaya kalian selalu main keroyokan?”

“SIALLL!!!” salah satu dari gerembolan itu maju siap menerjang Yoseob dan cowok ini pun sudah bersiap hendak menghadapinya.

“TUNGGU!!!” teriak salah seorang dari gerombolan itu. Dan membisiki teman-temanya tentang hal yang paling penting. Mereka tak mungkin menghadapi dua laki-laki yang memang terkenal bonyokin orang-orang.

“hei, denger ya. Kami nggak punya masalah denganmu. Jadi jangan ikut campur.”

Yoseob mengangkat bahu.”dia teman se-fakultas. Bisa dibilang, kami punya hubungan. Kalau kalian emang mau mengeroyoknya, lakukan di tempat yang nggak bisa aku lihat atau aku dengar.”

Namja itu tersenyum sinis, lalu mengalihkan tatapannya pada Eunhyuk yang sedang bersiul riang. “kali ini kau beruntung, tapi liat saja ntar kau tidak akan seberuntung sekarang.”

“wah, aku nggak sabar menunggunya,” jawab Eunhyuk tenang.

“kurang ajar! Lihat saja nanti!”

Lalu, gerombolan tadi pergi dengan sedikit gerutuan.

Yoseob menoleh menatap Eunhyuk dengan tatapan kau-bodoh-atau-apa. “kau itu bodoh atau idiot. Cari mati, ya! Kata-katamu tadi malah bikin mereka tambah marah.”

“bukan urusanmu,” ujar Eunhyuk sambil menyampirkan tudung hoodienya di kepalanya. “itu kulakukan dengan sengaja.”

Yoseob langsung melongo. “hah? Buat apa?”

Eunhyuk mengabaikan pertanyaan Yoseob, lalu berjalan pergi.

“sopan sekali,” sindir Yoseob sambil berjalanmengikutinya.

“kau ingin aku berterima kasih? Aku nggak memintamu membantuku.”

“oh ya? Tapi, tadi kau kelihatan seperti itu.” Yoseob tersenyum mengejek.

“kalau begitu, kau perlu kacamata.”

Yoseob langsung membatu. Dia mengutuki dirinya sendiri karena telah menolong orang sialan seperti yang satu ini.

“sekarang, kau menyesal sudah menolongku?” tanya Eunhyuk seolah-olah bisa membaca pikiran Yoseob.

“hah?” Yoseob berpura-pura tak mengerti apa yang dikatakan cowok itu.

“terima kasih,” kata Eunhyuk kemudian.

“hah?” Yoseob melongo. “aku ga salah denger kan?”

“puas?” tanya Eunhyuk.

Yoseob memutar bola matanya, “iya, iya.”

“oh ya.” Eunhyuk menatap tajam. “setelah ini, jangan harap lantas hubungan kita jadi lebih dekat. Dan jangan katakana lagi kata ‘teman’”

“hah?” kali ini, Yoseob benar-benar tidak mengerti maksud ucapan namja tadi. Dia bahkan tidak menyebutkan namanya. Sombong!

Eunhyuk berbalik dan berjalan meninggalkan Yoseob yang hanya bisa terbengong-bengong melihatnya.

“MAKSUDNYA APAAAAAAAAA!!!” teriak Yoseob begitu Namja yang ia tolong hilang dari pandangannya.

—(^^)—

So Eun ingin menutup telinga juga rasanya, bagaimana tidak. Saat ini sahabatnya ini Yang Yoseob sedang bercerita dengan semangat sambil bergerutu membuat beberapa orang melihat mereka dengan tatapan aneh. So Eun merasa menyesal mengatakan bahwa ia adalah pendengar yang baik. Ia tak menyangka ucapan nya itu berdampak seperti ini, Yoseob masih saja bercerita panjang. Hah…sungguh berat rasanya! Kedua telinganya seperti kepanasan!

“YA! KIM SO EUN KAU MENDENGARKANKU?”

“ne, aku mendengarkanmu. Jangan teriak-teriak malu dengan orang-orang.”

“mian, aku hanya sedang kesal saja dengan seseorang. Kau tahu kan aku hanya ingin membantu orang itu.” Yoseob memang tengah bercerita tentang pertemuannya dengan namja sialan yang ia sengaja tolong tak lama ini.

“makanya jadi orang jangan terlalu baik deh, urusi saja urusanmu sendiri.”

Yoseob langsung menatap So Eun tak suka. “mian mian…terserah kau sajalah.” So Eun mengalah juga.

“jadi…kita kesini mau beli apa?” tanya So Eun kalem. Yoseob langsung menepuk kepalanya.

“kita harus naik lift lagi, tokonya ada di lantai 3.”

“mwo? Naik lagi. Shirheo! Kau saja yang naik sendiri. Aku akan menunggu disini.”

Yoseob tahu ini salahnya yang menyia-nyiakan So Eun padahal ia janji bakal mentraktir So Eun. Yoseob menghela nafas. “ok. Kau tunggu di café langganan kita. Aku nggak lama kok.”

So Eun mengangguk dan tersenyum lagi. Segera saja So Eun melangkah meninggalkan Yoseob dan langsung ke café tempat mereka sering makan. Karena terlalu senang So Eun tidak memperhatikan jalan di depannya. Akhirnya…

BUKK…

So Eun kaget dan menggigit bibir bawahnya. Ia menatap dua gelas kertas yang sekarang jatuh, menumpahkan soda yang didalamnya. So Eun tambah merasa bersalah setelah melihat akibat kecerobohannya itu, baju orang yang ia tabrak ikutan kena noda soda itu.

“jweisonghamnida,” So Eun segera meminta maaf. Tapi tak ada sahutan apapun dari namja yang didepannya.

“oppa! Gwencana?” seorang yeoja berpakaian merah muda itu menghampiri namja yang sekarang tengah sibuk membersihkan hoodienya.

“gwencana Yoona-ya. Mana Jinki?”

“ya!kau tidak punya mata apa?? Bisa-bisanya menabrak oppa-ku. Dasar gadis bodoh!” runtuk Yoona yang tak menjawab pertanyaan Eunhyuk. Sedangkan So Eun yang tak terima dikatai bodoh langsung balas menatap Yoona.

“aku sudah minta maaf, aku benar-benar tidak sengaja.” Jelas So Eun. Namun Yoona tak peduli apa yang dikatakan yeoja itu.

Eunhyuk sang namja itu merasa ada hawa panas yang bakal terjadi kalau dia dan Yoona tetap saja disitu. Yoona bisa saja melakukan tindakan lebih ekstrim lalu Eunhyuk menarik tangan Yoona tapi malah dibanting kasar. Yoona seakan tak mau kalah ia menumpahkan soda miliknya ke baju yeoja di depannya. So Eun membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang dilakukan gadis muda didepannya ini. Benar-benar gila, memang ia pikir siapa yang bodoh. So Eun berusaha meredakan amarahnya, ingin sekali ia berteriak tapi ia tak mau menjadi tontonan umum. Segera saja So Eun mengakhiri nya, ia menunduk dan meminta maaf lagi pada Eunhyuk yang ia tabrak dan langsung pergi meninggalkan Eunhyuk dan Yoona.

“apa aku melewatkan sesuatu yang penting?” tanya Jinki yang tiba-tiba muncul.

“babo!” ujar Yoona.

Jinki menatap Eunhyuk meminta penjelasan, tapi Eunhyuk hanya mengangkat bahu tak peduli.

—to be continue—

Because Of Past Part3

Author : Tary ~ ( Citra Lestari Sibarani )

Main cast : Choi Riran, Lee Jinki, Choi Minho

Support cast : Lee Taemin, Choi Sungyoung, Park Minji , All member SHINee.

Genre : Romance 

 

Summary : Ketika masa lalu memisahkan cinta

 

 

Di Cafe …

Author POV :

 

“Jinki oppa lama sekali” Batin Riran. Riran sudah sampai di Cafe 5 menit lalu, tapi Jinki belum sampai di cafe itu, pelayan pun datang ke arah Riran untuk menawarkan pesanan .

“Annyeong, anda ingin pesan apa???” Tanya pelayan tersebut.

“oh, mmm aku mau minum jus jeruk saja, tolong ambilkan 2 yah”

“Ne, tunggu sebentar”.

Tidak lama pelayan tersebut kembali dengan membawa 2 Jus jeruk.

“Ini 2 jus jeruk, silahkan di minum”

“ne, gamasahamnida”

Baru saja Riran ingin minum, Jinki sudah ada di depannya, membuat Riran kaget.

“Ah oppa, kau mengagetkan ku saja tau”

“Mianhe Riran, kau sudah menunggu lama??”

“Tidak juga oppa, ini jus jeruk untukmu, kau kelamaan jadi aku pesankan ini saja”

“Gomawo Riran”

“Langsung saja oppa, apa yang sebenarnya terjadi pada 5 tahun yang lalu ??”

“Baik Riran aku akan menceritakan semua, “

 

*Flashback*

5 Tahun yang lalu …

 

 

Ditaman Jinki dan Minji sedang duduk berdua, mereka baru saja mendengar kelulusan mereka selama 3 Tahun menjadi murid SMA, mereka sangat bahagia terutama Jinki karena dia mendapat nilai tertinggi di sekolahnya .

“oppa, kau akan melanjutkan kemana??, berkali kali aku bertanya ini padamu tapi kau selalu jawab tidak tahu, aku berharap kali ini jawabanmu beda” Tanya Minji.

“Aku memang tidak tahu chagy, aku bingung ingin melanjutkan kemana,”

“Tuh kan, memangnya keinginanmu itu ingin melanjutkan dimana?? Aku ingin kuliah bersamamu oppa, aku tidak mau pisah denganmu, tidak apa apa aku tidak kuliah di Seoul ,yang penting aku bersamamu oppa”

“kau ini, bukankah dari dulu kau ingin sekali masuk Seoul university ?, jangan karena aku kau korbankan impianmu chagy, aku tidak suka.  aku tahu, aku juga ingin selalu bersamamu, berjanjilah padaku jika suatu hari aku pergi, kau harus setia menungguku dan jangan pernah beralih pada namja lain???” Tanya Jinki sambil menunjukan jari kelingking nya.

“kenapa kau bicara seperti itu??, memangnya kau ingin pergi kemana oppa??”

“aku tidak pergi kemana-mana, inikan hanya misalnya”

“ohh, pasti aku janji akan selalu menunggumu sampai kau kembali, tapi kau juga harus janji jangan sampai beralih pada yeoja lain?”

“aku janji chagy” Jinki memeluk Riran erat, karena Jinki tahu ini adalah terakhir kalinya ia memeluk Minji.

 

 

Dirumah Jinki …

 

“Jinki, cepat kemaskan barang barang mu sebentar lagi kita akan berangkat ke Amerika”

“Aku tidak mau umma”

“Loh?? Kenapa kau jadi bicara seperti itu??, bukankah kemarin kau bilang kau setuju?, jangan bercanda Jinki, kita sudah harus berangkat sekarang, nanti kita ketinggalan pesawat, cepat “

“aku tidak pernah bilang setuju, umma yang selalu memaksaku untuk melanjutkan kuliah di Amerika, umma aku mohon aku ingin kuliah di Seoul, tolong jangan paksa aku umma, jebal”.

“apa apaan kau ini Jinki?, siapa yang akan meneruskan perusahaan appamu di Amerika kalau bukan kau???, appamu sudah tua Jinki, hanya kau yang bisa menggantikannya nanti, Taemin masih SMP, masih belum mengerti tentang perusahaan seperti itu, cepat!! Umma tidak mau dengar alasan apapun darimu, umma tunggu di mobil” umma Jinki langsung meninggalkan Jinki dikamar.

 

Jinki yang tidak bisa berbuat apa apa langsung menuruti apa yang dikatakan ummanya, Jinki memang paling tidak bisa membantah ummanya, dia sangat sayang dengan ummanya, tapi dia juga mempunyai yeojachingu yang sangat ia sayangi , Jinkipun mengemaskan barang barangnya, mau tidak mau ia harus menuruti kemauan ummanya dan meninggalkan Minji. Berat bagi Jinki meninggalakn Minji, ia sengaja tidak memberitahu Minji bahwa ia akan melanjutkan kuliahnya di Amerika. Kalau Minji tahu, pasti Minji akan mengikutinya pergi ke Amerika, sementara impian Minji ingin sekali masuk di Seoul University, Jinki tidak ingin menghancurkan impiannya Minji.

 

“Maafkan aku Minji, aku janji, aku akan kembali hanya untukmu, setelah aku selesai kuliah di Amerika ,aku akan kembali dan melamarmu, semoga kau juga menepati janjimu untuk selalu menungguku dan tidak beralih pada namja lain, semoga kau mengerti  dan tidak mebenciku Minji, aku sangat menyayangimu” Batin Jinki.

Author POV end~

 

Minji POV

 

 

Seminggu setelah Jinki ke Amerika…

 

 

oppa, kau ini kemana sih??? Sudah seminggu kau tidak menghubungiku, aku merindukanmu oppa, kau dimana Jinki oppa??ughh. lebih baik aku hubungi Minho saja diakan sahabatnya.

tuut…tutt…tuut..

“Yeoboseo?”

“yeoboseo Minho”

“ne, Minji waeyo??”

“sudah seminggu Jinki oppa tidak menghubungiku, aku sudah menghubunginya tapi handphone nya tidak aktif, aku khawatir dengannya, apa kau tahu kemana Jinki oppa???”

“oh iya??, aku tidak tahu Minji, lebih baik kita kerumahnya saja, aku akan menjemputmu”

“oh baiklah, aku tunggu, cepat yah”

“oke, annyeong”.

Jinki oppa, kau dimana?, aku khawatir padamu…, jangan-jangan apa yang kau bicarakan di taman itu memang benar?? Akhh aku tidak mau kau meninggalkanku Jinki oppa,..

 

10 menit kemudian …

 

 

Tok tok tok …

itu pasti Minho.

“Minho”

“kajja kita kerumah Jinki”

“ne, kajja”

 

Jinki oppa, semoga kau baik baik saja, aku berharap kau tidak mengecewakanku oppa…

 

 

“Minji, kita sudah sampai, sepertinya rumahnya sangat sepi, atau mungkin jinki sedang pergi”

“pergi kemana?”

“Molla,  kita coba masuk saja “

 

ting tong ting tong …, jekrekk …

“annyeong “

“annyeong, Minji noona?, Minho hyung?, ada apa??”

“Taemin, mana hyung mu ??”

“hyung??, memangnya kalian tidak tahu??”

“tahu apa??, aku tidak tahu taeminnie”

“Jinki hyung pergi ke Amerika untuk melanjutkan kuliahnya”

“Mwo???, jangan bercanda Taeminnie, aku sedang serius”

“aku tidak bohong Minho hyung, memangnya Jinki hyung tidak pamit pada kalian??, sebenarnya Jinki hyung juga tidak pamit  padaku, aku hanya diberitahu umma lewat telephone, umma dan appa yang mengantarkannya ke Amerika”

“Lalu kau sendiri disini??”

“tidak hyung, aku bersama bibi ,umma sudah menitipkanku pada bibi, umma besok akan kembali”

“Jinki oppa juga akan kembali besok ???”

“ya tidaklah noona, Jinki hyung akan tinggal beberapa tahun disana, karena dia kan melanjutkan kuliahnya di sana …”

“Mwo??” apa ini mimpi?? Jinki oppa melanjutkan kuliahnya di Amerika? Dia sama sekali tidak pernah cerita itu padaku, aku tahu ini pasti hanya mimpi, ini hanya mimpi !!!, aku tidak kuat, kepalaku, kepalaku kenapa??  Aww kepalaku sakit sekali .

Minji POV end~

 

 

Author POV :

 

“Minji ! Minji bangun Minji, kau kenapa?, Minji sadarlah.., Taemin bantu aku mengangkat Minji”

“ne hyung”. Taemin dan Minho mengangkat Minji yang sedang pingsan, membawanya ke dalam rumah Jinki dan menidurinya di sofa.

“Taemin, biarkan Minji tidur disini dulu, mungkin dia shock, tidak apa apa kan?”

“ne hyung, gwenchana”

 

“memangnya dari kapan hyung mu pergi ???”

“seminggu lalu, waktu aku sedang les dance umma menelfonku,  memang mendadak sekali.  tapi umma dan appa memang sudah merencanakannya dari dulu, dan Jinki hyung juga sudah setuju”.

“Jinki setuju???,” .kenapa Jinki setuju?bukankah dia bilang padaku ingin kuliah bersama Minji?.kenapa sekarang dia malah meninggalkan Minji?? Apa sebenarnya yang kau inginkan Jinki?. Batin Minho.

“ne, umma yang menceritakan padaku, katanya jinki hyung memang sudah setuju”.

“oh begitu. Mana bibimu??”.

“bibi sedang pergi tadi, aku tidak tahu bibi pergi kemana”

“berarti kau sendiri sekarang??”

“iya . oh iya, kapan Riran akan kembali kesini hyung?? kenapa dia harus melanjutkan SMPnya di luar negri sih?? Seperti Jinki hyung saja, padahal aku dan Riran sudah 6tahun satu SD bersamanya, kenapa Riran malah melanjutkan SMP di luar negri??”

“haha kau rindu padanya yah??, tenang saja Taemin, setelah Riran tamat SMP dia akan kembali kesini dan kembali satu SMA bersamamu, Riran tidak berani ditinggal dengan umma dan appa ke luar negri, makanya umma dan appa mengajaknya dan menyekolahkan disana, mungkin setelah Riran SMA ,umma dan appa akan menyekolahkannya disini ”

“tamat SMP masih lama sekali hyung, tapi Riran baik baik saja kan hyung???”

“ne, Riran baik baik saja koq, kau tidak perlu khawatir dengannya, Riran juga sering menanyakan kabarmu padaku”

“wah ternyata dia juga rindu padaku, bilang padanya aku juga baik baik saja”.

 

Saat Minho dan Taemin sedang asik berbincang tiba tiba Minji terbangun dari pingsannya.

“Jinki oppa, Jinki oppa “

“Minji, kau sudah sadar??”

“Jinki oppa, mana Jinki oppa???”

“Minji sebaiknya aku antarkan kau pulang saja yah, kajja, Taemin kami pamit dulu”

“ne, hyung hati hati”

 

 

Minho mengantarkan Minji pulang kerumahnya, dijalan Minji masih saja menyebut-nyebut nama jinki, dia sangat kehilangan sosok yang sangat dicintainya selama ini.

______________________________________________________________________________

 

1 tahun setelah kepergian jinki ke Amerika ….

 

Minji menjadi seorang yang sangat pendiam, atau mungkin seperti mayat hidup.Bagi Minji hari harinya sangatlah menyedihkan, setiap hari ia hanya diam dan selalu menatap kosong yang ada didepannya. Makannya tidak teratur, setiap malam Minji jarang sekali tidur, hingga sekeliling matanya menjadi hitam, kerjaannya hanya menatap handphone dan laptopnya, berharap jinki menghubunginya atau mengirimkan E-mail padanya. Tapi semua itu hanya sia sia, Jinki sama sekali tidak menghubunginya dan tidak membalas E-mailnya. Setelah kelulusan SMA tahun lalu, Minji tidak mau melanjutkan kuliahnya, ia tidak jadi mendaftar di Seoul University.

 

Minho adalah orang yang sangat setia menjaga Minji, setiap hari Minho tidak pernah lelah kerumah Minji hanya untuk menghiburnya, Minho sangat Mencintai Minji, walaupun tahu Minji tidak mencintainya melainkan mencintai Jinki sahabatnya. Sahabat, entah sekarang apa masih Minho menganggap Jinki sahabatnya. Tidak, Minho sangat membenci Jinki sekarang.

 

 

“Minji, apa kabarmu hari ini?? Aku mohon Minji bicara sedikit saja padaku, jebal. Oh iya kau tahu aku membawa apa?? Taraaa …,aku bawa boneka kelinci kesukaanmu, ini, aku mendapatkannya dengan susah payah ,kau tahu??? Karena boneka ini hanya tinggal satu di toko itu, aku harus bertengkar dulu dengan seorang namja yang juga ingin membeli boneka ini untuk yeojachingunya. Padahal aku dulu yang memegangnya, tapi ia ngotot dan bilang kalau ia sudah melihatnya duluan. Menyebalkan sekali orang itu”

“…”

“Minji, sedikit saja aku ingin mendengar suaramu, aku mohon Minji, jebal… Minji Saranghae”

Author POV end~

 

Minji POV :

 

 

Maafkan aku Minho…

Oppa, kau jahat sekali, tidak tahukah kau ,apa jadinya aku jika tidak ada kau disini???, apa kau tidak memikirkanku?? Hah??. Kenapa kau tidak menghubungiku ?kenapa kau tidak membalas e-mail dariku?

harus berapa lama aku menunggumu oppa?? sudah satu tahun lebih aku menunggumu,!!! Kau jahat oppa!! kau jahat!!! Jinki oppa, aku mohon , aku sangat merindukanmu, aku ingin sekali bertemu denganmu, apa kau sama sekali tidak rindu padaku???.oppa apa yang harus aku lakukan ??.

Aku akan menyusulmu ke Amerika oppa.yahh aku akan menyusulmu dan mencarimu disana, aku yakin kau juga merindukanku. Besok aku akan pergi meninggalkan seoul ,aku harus pergi sebelum Minho datang kerumahku .

Minji POV end~

 

 

Minho POV :

apalagi yang harus aku lakukan agar kau kembali seperti dulu lagi Minji??. Aku ingin lihat senyummu Minji, aku ingin lihat tawamu .tidak seperti ini ,..kau tahu?ini sangat menyiksaku Minji.

Jinki !!! lihat saja setelah kau kembali !!! kau yang sudah membuat Minji seperti ini !!! AKU SANGAT MEMBENCIMU JINKI !!!!

Minho POV end~

 

Keesokan harinya …

 

 

Author POV :

 

Minji sudah bersiap-siap ingin menyusul Jinki ke Amerika, dia sudah mempersiapkan semua barang bawaannya dari semalam ,dia sudah mendapatkan tiket pesawat menuju Amerika, entah darimana ia bisa dapat. Minji bergegas menuju bandara “aku harus cepat-cepat sebelum Minho datang”Batin Minji. Tetapi saat minji sampai di depan rumahnya ,begitu kagetnya ia saat melihat Minho sudah berdiri di depan rumahnya .

“Minji, kau pikir aku tidak tahu?saat kemarin aku pulang dari rumahmu, kau pergi untuk beli tiket pesawat, dan sekarang kau ingin ke bandara untuk menyusul Jinki di Amerika. Kau sudah gila Minji, Amerika itu luas, kau tidak akan semudah itu menemukan jinki disana, aku mohon Minji, jangan lakukan itu, “

“biarkan aku pergi Minho!! Aku mohon jangan larang aku, kau tidak berhak melarangku!!!, aku sudah menanyakan alamat jinki di Amerika pada Taemin, aku pasti akan menemukannya Minho. Maafkan aku ,aku harus pergi sekarang. Taxii….”. Minji lari menuju taxi yang sudah diberhentikannya.

“Minji !!! Minjiii tunggu!!! .arrrgggg”.

Author POV end~

 

Minho POV :

Kau pabo Minji . apa yang kau cintai dari orang semacam Jinki??

 

Tak tahukah kau seperih apa perasaan hati yang tak terbalas?

Menanti sesuatu yang tak kunjung datang?

Hari berganti hari, tetapi arah hatiku tak pernah berubah, selalu tertuju kepadamu …

Aku tak pernah jenuh menunggu …

Menunggu untuk kau cintai …

Namun kau hanya menganggapku lalu…

Seperti tak kasat mata aku bagimu…

Terkadang lelah menyuruhku menyerah,

memintaku berhenti melakukan perbuatan sia sia dan mulai mencari cinta baru …

Namun, bagaimana mungkin aku sanggup melakukannya, kalau semua tentangmu mengikuti seperti bayangan menempel dibawah kakiku??

Dan bagaimana pula caranya membakar habis semua cinta yang bertahun tahun mengendap dihatiku??

Aku berharap mendapatkan jawaban darimu,..

Namun, kau tetap membisu ,membuatku lebih lama menunggu … 

 

Minji lihatlah aku, aku sangat mencintaimu …

semoga kau segera menemukan Jinki .

 

Minho POV end~

 

 

Author POV :

 

Minho sedang mengganti ganti siaran TV, tidak ada satu acara TV yang menarik baginya . tangannya berhenti menekan tombol remote saat ada berita tentang kecelakaan pesawat .

Minho menatap tajam tajam TV tersebut, begitu kagetnya ia saat tahu Pesawat yang ditumpangi Minji mengalami kecelakaan dan tidak ada satupun nyawa yang selamat .ia menggeleng gelengkan kepalanya, seolah olah yang di dengarnya itu hanya mimpi,

tidak terasa air mata Minho menetes dipipinya, belum pernah sekalipun Minho menangis, Minho benar benar sangat terpukul , dia segera melempar remote yang dipegangnya ke layar TV itu. Minho menjambak rambutnya sendiri “Seharusnya aku tidak membiarkannya menyusul Jinki!!! Seharusnya aku menahannya !!! Seharusnya aku membuatnya tetap disini !!! arrrrgggggggg !!!! PEMBUNUH KAU JINKI !!!.”

 

 

Dilain tempat…

Amerika…

 

 

Seorang namja sedang berdiri dekat jendela kamarnya, memandang kosong yang ada di depannya.

Author POV end~

 

Jinki POV :

Apa kabar kau chagy??, semoga kau baik baik saja,. Aku sangat merindukanmu Minji, ingin sekali aku melihatmu walau hanya sekejap, tahukah kau? Disini seperti di neraka, bukan karena udara disini panas, tapi umma dan appa menjodohkanku dengan seorang yeoja bernama Richan seorang  putri bangsawan dari korea juga. Aku sudah menolaknya berkali kali, tapi umma sangat memaksaku, umma hanya menganggapku seperti boneka yang harus menuruti semua kemauannya. Handphoneku sengaja dirusaknya dan digantikan dengan yang baru agar aku tidak bisa menghubungimu, e-mail ku di blokir appa .lalu apa yang harus aku gunakan untuk menghubungimu Minji??. Umma dan appa memang sangat pintar.

 

 

“oppa”, akh apa apaan dia main peluk peluk saja !!

“lepaskan Richan, apa apaan sih .tidak sopan sekali kau masuk ke kamar orang sembarangan, kau pikir kau siapa?”

“oppa, tak usah memarahiku, lagian aku ini kan yeojachingumu, jadi tidak apa apa kan aku memelukmu”

“Richan !!! aku sudah bilang, aku sudah mempunyai  yeojachingu, dan aku akan melamarnya setelah aku pulang dari sini”

“tapi oppa aku mencintaimu”

“maafkan aku Richan, aku tidak bisa mencintaimu. Sampai kapanpun aku tidak mau mengkhianati Minji. Lagipula kau ini kan cantik dan perhatian, kau bisa mendapatkan namja yang lebih dariku. Aku mohon Richan ,bilang pada kedua orang tuamu untuk membatalkan perjodohan ini”

“aku tidak mau”

“Richan, jebal. Apa kau mau bersama orang yang sama sekali tidak mencintaimu ??hidup dengan orang yang hanya pura pura mencintaimu??, itu menyakitkan Richan! Lebih baik kau tinggalkan aku, karena setelah 3bulan aku menyelesaikan semesterku ,aku akan kembali ke Seoul dan melamar Minji”.

“kau jahat oppa” .Richan pergi meninggalkan Jinki.

 

 

Terserah kau bilang apa Richan, aku tidak peduli. Aku hanya mencintai Minji.

Minji, bersabarlah ,setelah semesterku ini selesai aku akan kembali ke Seoul dan akan melanjutkannya disana bersamamu, kita akan bersama lagi Minji. Aku berharap kau masih setia menungguku. Aku harus menelfon umma dan membicarakan hal ini .

 

Tuut tuut tuut …

 

“yeoboseo”

“yeoboseo umma, aku ingin bicara penting padamu”

“bicara apa Jinki??, bagaimana kau dan appamu di Amerika sana?? Pasti baik baik saja kan?? Umma dan Taemin juga baik baik saja disini. Oh iya, bagaimana hubunganmu dengan Richan??”

“keadaanku buruk umma, aku seperti dineraka”

“lho? waeyo Jinki??,”

“umma, kau tidak pernah tahu tersiksanya aku harus kau jodohkan dengan wanita yang sama sekali tidak aku cintai, aku tidak mencintai Richan umma, jangan paksa aku untuk menjadi namjachingunya. Pokonya setelah 3 bulan aku menyelesaikan semesterku disini, aku akan segera kembali ke Seoul dan melanjutkannya disana. Terserah umma mengijinkanku atau tidak, selama ini aku selalu menuruti kemauan mu umma, tapi ,umma tidak pernah menuruti kemauanku.”

tuuut tuuuuuuuuuuttttt.

 

Maafkan aku umma, aku tidak bermaksud membentakmu ,aku hanya ingin kau bisa mengerti perasaan anakmu.

Jinki POV end~

 

Author POV :

 

3 bulan kemudian …

 

Jinki baru saja kembali ke Seoul. Sudah lama sekali rasanya ia tidak menginjakan kakinya di kota kelahirannya ini. Jinki sangat senang bisa menghirup kembali udara Seoul yang sangat dirindukannya, tetapi kerinduannya dengan Seoul tidak sebanding dengan rindunya pada yeojachingunya Park Minji, ia ingin cepat cepat menemui Minji dan menepati janjinya saa ditaman yang lalu. Ia membawakan oleh oleh dari Amerika untuk Minji yaitu sebuah boneka kelinci yang sangat disukai Minji. Jinki sampai dirumah, melepas rindu pada adiknya Taemin dan ummanya, walaupun ummanya tidak suka jika Jinki kembali ke Seoul karena belum waktunya. Setelah melepas rindu dengan keluarganya ,Jinki segera bergegas kerumah Minji.

 

“Aku harus kerumah Minji sekarang”batin jinki.

 

Sesampainya Jinki dirumah Minji…

 

 

“wahh, tidak ada yang berubah pada rumah Minji, aku harus buat kejutan untuknya, aku akan mengetuk pintu rumahnya, dan setelah Minji membukanya aku akan langsung memeluknya ,aku tidak tahu seperti apa ya reaksi Minji melihatku”

 

tok tok tok …

tok tok tok …

tok tok tok …

“lama sekali membukanya”

tok tok tok …

jekreeekkk…

“nuguse….o??” Minho membuka pinta dan sangat kaget bukan main, matanya kini hampir keluar setelah apa yang dilihat di depannya.

“Minho??, ke..kenapa kau bisa disini??, mana Minji??”

“Brengsek “Minho langsung menghajar Jinki ,memukul wajah dan perutnya berkali kali.

“Minho ber ..berhenti.. a…a..da a..pa   se..benarnya??”sahut Jinki ,kata katanya terputus putus akibat pukulan Minho diperutnya.

“Brengsek kau Jinki” Minho kini memukul wajahnya Jinki.

“be…berhenti, a…a..aku ti..ti..dak mengerti mak…sudmu”, Minho berhenti memukul Jinki.

“KAU PEMBUNUH JINKI, kau tahu?! pesawat yang ditumpangi Minji mengalami kecelakaan saat akan terbang ke Amerika!!! Saat Minji ingin menjemputmu ke Amerika. Dan tidak ada satupun nyawa yang selamat dari kecelakaan itu !!! Minji meninggal 3 bulan yang lalu !!!dan kau yang telah membunuhnya !!!pergi dari sini Jinki !!!aku yang harus merawat umma Minji sekarang!!, karena kau tahu sendiri ,hanya Minji satu satunya anak yang ia punya, dan sekarang ia telah ditinggalkan anaknya !! dan semua ini gara gara kau jinki, cepat pergi darisini sebelum aku membunuhmu Jinki PERGI !!!!” Minho tidak bisa membendung amarahnya pada Jinki yang selama ini ia pendam.

“ta…ta..pi “

“PERGI”

Minho menyeret Jinki keluar gerbang ,dan mengunci gerbang lalu meninggalkannya masuk .

Jinki hanya terdiam sambil meneteskan airmatanya. Jinki sama sekali tidak menyangka bakal seperti ini kejadiannya. Jinki tidak kuat dengan apa yag di dengarnya barusan , ditelinganya selalu terngiang perkataan Minho “KAU PEMBUNUH JINKI, kau tahu?! pesawat yang ditumpangi Minji mengalami kecelakaan saat akan terbang ke Amerika!!! Saat Minji ingin menjemputmu ke Amerika. Dan tidak ada satupun nyawa yang selamat dari kecelakaan itu !!! Minji meninggal 3 bulan yang lalu !!!dan kau yang telah membunuhnya !!!”

 

“KAU PEMBUNUH JINKI, kau tahu?! pesawat yang ditumpangi Minji mengalami kecelakaan saat akan terbang ke Amerika!!! Saat Minji ingin menjemputmu ke Amerika. Dan tidak ada satupun nyawa yang selamat dari kecelakaan itu !!! Minji meninggal 3 bulan yang lalu !!!dan kau yang telah membunuhnya !!!”

 

“KAU PEMBUNUH JINKI, kau tahu?! pesawat yang ditumpangi Minji mengalami kecelakaan saat akan terbang ke Amerika!!! Saat Minji ingin menjemputmu ke Amerika. Dan tidak ada satupun nyawa yang selamat dari kecelakaan itu !!! Minji meninggal 3 bulan yang lalu !!!dan kau yang telah membunuhnya !!!”

 

Flashback end~

 

TBC…