Can’t Let You Go Even If I Die (Part 2)

Note: Annyeonghaseo! ~ Saya kembali untuk memposting part kedua. Mudah-mudahan bisa tambah suka ya sama jalan ceritanya! ^^ Dan jangan lupa kasih komentarnya baik berupa saran atau kritik ya! Selamat membaca ^^

Author: Tirzsa

Main Cast: Lee Jong-hyun (CN Blue), Tiffany Hwang (SNSD), Kang Min-hyuk (CN Blue), Ok Taecyeon (2PM)

Support Cast: Kim Heechul (Super Junior), SNSD, Lee Soo-man (CEO SM Entertainment)

Genre: Romance

Waktu telah menunjukkan pukul 16.00 KST. Pesawat yang ditumpangi Jong-hyun dan Min-hyuk akhirnya mendarat dan telah sampai di Seoul. Dengan perasaan cukup aneh dan terasingkan, Jong-hyun dan Min-hyuk yang baru pertama kalinya ke Seoul berjalan menyusuri setiap jalanan di Seoul dengan berjalan kaki.

Banyak hal baru yang tidak akan mereka temui di Busan saat tengah menikmati suasana Seoul. Tentu saja, jumlah warga di Seoul lebih banyak. Suasana jadi terasa ramai dan menyenangkan. Selain itu, aksen bicara antara Seoul dan Busan juga berbeda. Sesekali, Jong-hyun sempat tertawa kecil tiap ada beberapa warga Seoul yang berpapasan dengannya. Mendengar aksen berbicara mereka, hal itu membuat Jong-hyun tergelitik.

Sambil terus berjalan menyusuri jalanan di Seoul, Jong-hyun juga sibuk membuka selebaran yang tadi. Ia membaca semua alamat-alamat yang tertera disitu. Alamat-alamat itu adalah alamat beberapa apartemen dan rumah sewa yang menyediakan layanan yang baik dengan harga yang terjangkau untuk orang-orang seperti dirinya dan Min-hyuk.

Hyung, aku rasa kita harus naik taksi untuk pergi ke alamat-alamat itu,” usul Min-hyuk.

Ani, kita lebih baik jalan kaki saja. Kita bisa bertanya pada warga disini,” jawab Jong-hyun. Ia berusaha sehemat mungkin.

Tanpa penolakan sama sekali, Min-hyuk akhirnya mengangguk setuju dan mengikuti Jong-hyun dari belakang.

Setelah melihat-lihat keadaan dan merasa sudah menemukan seseorang yang tepat untuk bertanya, Jong-hyun dan Min-hyuk menghentikan langkahnya pada segerombolan gadis sekolah yang tengah menikmati cemilan dipinggir jalan.

“Permisi,” Jong-hyun berusaha terlihat seramah mungkin didepan gadis-gadis itu. “Aku ingin menanyakan sesuatu.”

Gadis-gadis itu menoleh dan menyahut. “Ne? Apa yang akan kau tanyakan?”

Jong-hyun menyodorkan selebaran itu pada gadis-gadis itu. “Aku ingin pergi ke alamat-alamat ini. Bisa kalian tunjukkan ke arah mana aku harus pergi?”

Gadis-gadis itu membaca alamat-alamat itu dengan hati-hati. Ada beberapa dari mereka yang terlihat sedang berusaha mengingat-ingat sesuatu, ada pula yang langsung manggut-manggut seolah sudah tahu dimana alamat-alamat itu. Namun, mereka masih berdiskusi sejenak untuk mencari kesimpulan dari pengetahuan mereka tentang alamat-alamat tersebut.

Setelah tidak lama berdiskusi, salah seorang dari gadis-gadis itu menoleh ke arah Jong-hyun. “Oppa, apakah kau orang baru disini?”

Jong-hyun mengangguk mantap. “Ne, aku adalah orang baru disini dan baru saja tiba tadi. Jadi, apakah kalian tahu dimana alamat-alamat itu?”

Gadis itu mengangguk. “Tapi, oppa harus membayar semua makanan kami ini semua dan kami akan memberitahu oppa kemana harus pergi,” ucap gadis itu tiba-tiba.

Jong-hyun mengerutkan alisnya. Entah ia harus bilang apa. Ia terkejut sekaligus bingung. Ekspresi Min-hyuk pun tak jauh beda dari Jong-hyun. Sementara gadis-gadis itu masih diam dan menunggu persetujuan Jong-hyun.

Mwo?!” Jong-hyun merampas selebaran itu dari tangan gadis itu dengan kasar. “Aku pikir semua warga Seoul itu baik, ternyata masih ada saja bibit-bibit licik seperti kalian di Seoul,”

Jong-hyun yang geram dengan tingkah gadis-gadis itu langsung pergi. Beberapa gadis-gadis itu sempat tidak terima dengan perlakuan kasar Jong-hyun dan mengumpat ke arah Jong-hyun. Namun, Jong-hyun terlanjur kesal, hanya diam saja dan melanjutkan perjalanannya.

***

            “Hyung, eodi ganeungeoya? Pergelangan kakiku serasa mau patah. Kita sudah berjalan kaki seharian ini dan belum menemukan tempat tinggal. Eotteohge?” Min-hyuk menyerah kemudian langsung mencari posisi untuk duduk di sebuah bangku yang ada di tepi jalan.

Malam sudah mulai larut dan mereka berdua masih tidak tahu mereka sedang berada di mana. Jong-hyun yang tadinya begitu bersemangat, akhirnya perlahan-lahan mulai menyerah juga. Ia akhirnya duduk bersama dengan Min-hyuk sambil meneguk sebotol air mineral yang dibeli tadi sore di sebuah toko kecil.

“Bagaimana kalau kita menyewa hotel saja?” usul Min-hyuk.

Usulan Min-hyuk kemudian disambut oleh jitakan keras dari Jong-hyun yang mendarat tepat di kepalanya. “Apa kau sudah bosan hidup? Bukankah sudah aku bilang bahwa kita harus bisa menghemat sehemat mungkin? Uang yang sekarang kita punya sisa sedikit dan itu untuk membayar uang sewa apartemen.”

Min-hyuk mengelus-elus kepalanya yang kesakitan. “Lalu kita harus bagaimana, hyung? Aku kedinginan dan juga lapar.”

Jong-hyun menghela nafas. Ia merogoh dompetnya dari tas dan memeriksa sisa uang yang mereka punya. Tapi, setelah beberapa detik kemudian, mimik wajahnya semakin memburuk. Sepertinya keuangan mereka semakin menipis dan sangat pas-pasan. Sesaat, Jong-hyun merasa bahwa ide untuk pindah ke Seoul ternyata bukanlah ide yang cukup bagus apalagi jika mereka tidak mempunyai cukup uang.

Entah sudah berapa apartemen yang mereka datangi hari ini. Dan semua biaya sewa apartemen itu ternyata tidak semurah apa yang mereka bayangkan. Dan terpaksa, mereka harus kembali menyusuri jalanan Seoul untuk mencari apartemen yang jauh lebih murah dari apartemen-apartemen sebelumnya.

Tiba-tiba, saat tengah kebingungan, seorang pria pendek dengan wajah garang menghampiri mereka. Pria itu menggunakan pakaian yang mencurigakan, yakni, jaket kulit hitam, celana jeans hitam, kaos hitam, dan juga sebuah topi hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Semua serba hitam.

Pria itu menatap Jong-hyun dan Min-hyuk yang tengah ketakutan karena kemunculannya dengan tatapan tajam dan tiba-tiba dia bertanya, “Apakah kalian lapar?”

***

            Jong-hyun dan Min-hyuk meletakkan tas mereka di meja makan. Suasana mendadak jadi hangat, karena kini mereka berdua tengah berada di sebuah restoran Chinese, yang tidak begitu jauh dari bangku yang mereka duduki beberapa menit yang lalu.

Walau pun Jong-hyun dan Min-hyuk masih terlihat canggung dan merasa was-was dengan pria tadi, tapi nyatanya, mereka tetap mengikuti pria tadi saat mereka diajak untuk makan malam di restoran itu. Lagi pula, pria itu ternyata tidak menakutkan seperti apa yang mereka pikirkan.

“Jadi, kalian ingin makan apa? Nanti akan aku buatkan,” ucap pria tadi sambil membuka jaket dan topinya. Setelah membuka jaket dan topinya, wajah pria itu bahkan tidak terlihat menyeramkan sama sekali.

“Apakah… kau pemilik restoran ini?” tanya Min-hyuk dengan hati-hati.

Pria itu mengangguk. “Ne! Namaku Ahn Suk-hwan. Tapi, kalian bisa memanggilku dengan sebutan ahjussi.”

Jong-hyun dan Min-hyuk manggut-manggut. “Ahjussi, apa maksudmu mengajak kami makan di restoranmu? Maaf saja, tapi kami sebenarnya tidak mempunyai uang,” timpal Jong-hyun.

Suk-hwan hanya tersenyum kecil. Sambil memasang sebuah celemek ke tubuhnya, Suk-hwan berjalan ke arah dapur. Didapur itu semua perlengkapan untuk memasak sudah lengkap. Dari balik sebuah kaca transparan, Jong-hyun dan Min-hyuk masih bisa melihat Suk-hwan beraksi dengan alat-alat masak itu. Dengan piawai, Suk-hwan mengiris-iris tipis beberapa paprika berwarna hijau, kuning, dan merah. Setelah itu, ia mempersiapkan adonan tepung yang sudah dicampur air dan saus untuk menu makanan mereka malam itu.

“Aku tidak akan meminta kalian untuk membayar semua makanan ini. Tenang saja!” teriak Suk-hwan dari dapur.

Walau pun sempat merasa senang, tapi sejujurnya saja Jong-hyun dan Min-hyuk merasa tidak enak atas kebaikan Suk-hwan. Jarang-jarang saja akan ada orang sebaik Suk-hwan yang mau menerima dan memberikan makanan gratis pada orang yang baru saja bertemu.

Setelah memakan waktu sekitar 30 menit, akhirnya makanan telah siap untuk disantap. Suk-hwan membawakan Jong-hyun dan Min-hyuk semangkuk nasi putih dan seporsi daging babi asam manis dengan perpaduan warna yang cantik dari paprika warna-warni.

Mata-mata lapar Jong-hyun dan Min-hyuk langsung menangkap wangi dari babi asam manis itu. Min-hyuk yang sejak tadi sudah menderita kelaparan langsung melayangkan sumpitnya dan menangkap daging babi dan melahapnya bersama nasi.

“Selamat makan!” teriak Min-hyuk dengan semangat.

Tak mau kalah, Jong-hyun pun akhirnya ikut melahap makanan itu dengan cepat. Setelah berjalan seharian ini, akhirnya rasa capek mereka bisa terbayarkan dengan makanan yang super enak itu. Sementara Suk-hwan hanya bisa tersenyum saat melihat Jong-hyun dan Min-hyuk makan dengan sebegitu lahapnya.

“Siapa nama kalian berdua?” tanya Suk-hwan.

“Aku Min-hyuk. Lee Min-hyuk. Dan ini hyung-ku, namanya Lee Jong-hyun,” jawab Min-hyuk singkat kemudian kembali melanjutkan makannya.

Suk-hwan manggut-manggut. Kini tatapannya tertuju pada beberapa tas besar yang dibawa oleh Jong-hyun dan Min-hyuk. “Apakah kalian warga baru disini? Kalian berasal dari mana?”

Min-hyuk berusaha menelan makanannya dan kemudian kembali menjawab, “Kami dari Busan. Aku dan hyung pindah ke Seoul untuk mencari hidup yang lebih baik. Sayangnya, sampai saat ini, kami belum mendapatkan apartemen untuk tinggal.”

“Ah, jeongmal? Jika kalian mencari apartemen yang murah, aku bisa menunjukkannya pada kalian. Eotteoh?” usul Suk-hwan.

“Dimana apartemen itu?” tanya Jong-hyun.

“Tidak jauh dari sini. Di seberang jalan sana. Beberapa blok dari gedung SM Enterteinment. Dan kalian belum mempunyai pekerjaan kan?”

“Min-hyuk tidak akan bekerja. Dia akan tetap melanjutkan sekolahnya. Aku yang akan bekerja. Wae?

“Ah, begitu.” Suk-hwan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Al-asso, aku akan memberikanmu pekerjaan sebagai pengantar makanan di restoranku.”

Jong-hyun tersentak kaget. “Jeongmal? Wah, ahjussi,” Jong-hyun meletakkan mangkuk nasi dan sumpitnya kemudian bangkit dan memeluk tubuh Suk-hwan dengan erat. “Jeongmal gomawo! Ternyata masih ada orang sebaik dirimu, ahjussi!

Walau pun merasa sedikit kesusahan untuk bernafas karena diapit oleh tubuh Jong-hyun yang lebih besar darinya, tapi Suk-hwan masih bisa tersenyum. “Sama-sama! Lanjutkanlah makanmu!”

Jong-hyun tersenyum lebar kemudian kembali melanjutkan makannya. Dan ketika tatapan Suk-hwan kembali ke mereka berdua, ada suatu perasaan yang begitu aneh, tapi menyenangkan. Disaat itu pula Suk-hwan merasa bingung. Apakah perasaan itu sedih ataukah senang?

***

            Suk-hwan berjalan lunglai saat dalam perjalanan pulang menuju rumahnya. Ia baru saja mengantarkan Min-hyuk dan Jong-hyun ke sebuah apartemen murah yang tadi ia sebutkan. Setelah berpisah dari mereka, terbesit rasa sedih dihatinya.

Sebenarnya, sosok Min-hyuk dan Jong-hyun mengingatkan Suk-hwan pada kedua anak laki-lakinya, Ahn Ji-yoon dan Ahn Shi-hoo. Jika mereka masih hidup sampai detik ini, mereka pasti sudah sebesar Jong-hyun dan Min-hyuk, begitu pikir Suk-hwan. Dan setiap mengingat hal itu, membuatnya begitu merasa bersalah dan sedih.

Ji-yoon dan Shi-hoo adalah kedua putra Suk-hwan yang meninggal karena insiden kecelakaan. Setelah ditinggal oleh ibu mereka, Suk-hwan hanya mempunyai Ji-yoon dan Shi-hoo. Dan ketika kecelakaan itu terjadi dan merenggut nyawa kedua putranya, hal ini sempat membuat Suk-hwan begitu merasa bersalah karena tidak bisa menjaga kedua buah cintanya dengan baik.

Insidena kecelakaan itu terjadi saat Ji-yoon yang berumur 14 tahun dan Shi-hoo yang baru berumur 10 tahun begitu terobsesi untuk mengikuti sebuah audisi besar-besaran yang diadakan oleh SM Entertainment beberapa tahun yang lalu. Ji-yoon dan Shi-hoo begitu menyukai idola-idola yang ada di SM Entertainment dan impian mereka adalah bisa bertemu dan satu panggung bersama idola-idola mereka.

Awalnya, Suk-hwan sempat menentang keras tentang keinginan anaknya menjadi artis. Tapi, karena Ji-yoon dan Shi-hoo begitu bersikeras, akhirnya Suk-hwan tak bisa melakukan apa-apa selain mengikuti keinginan anaknya.

Akhirnya pada hari yang telah ditentukan, Ji-yoon dan Shi-hoo datang ke SM Entertainment untuk mengikuti audisi yang peserta audisinya mencapai ribuan orang di kantor agensi SM Entertainment. Walau pun lelah karena menunggu, tapi mereka berdua tetap gigih dan sabar menunggu giliran. Sampai pada saat giliran mereka, tiba-tiba saja gerombolan peserta audisi dibuat rusuh karena tiba-tiba saja salah satu grup idola SM, yakni, H.O.T muncul di hadapan mereka.

Semua gerombolan peserta audisi yang tadinya sudah berbaris dengan rapi untuk menunggu giliran akhirnya menjadi histeris dan berhamburan kesana-kemari. Mereka berusaha untuk bersalaman, meminta tanda-tangan dan berfoto dengan semua personil H.O.T. Ji-yoon dan Shi-hoo yang juga merupakan fans berat dari H.O.T juga langsung berlari dan menyeringai dibalik gerombolan peserta lain untuk dapat melihat jelas idola mereka.

Saat Ji-yoon dan Shi-hoo berhasil mendekat ke arah idolanya, tiba-tiba saja seorang bodyguard H.O.T mendorong tubuhnya dengan keras sampai Ji-yoon dan Shi-hoo terpental jatuh ke lantai. Tak ada yang peduli dengan mereka berdua. Bahkan, tubuh mereka diinjak-injak oleh peserta audisi lain yang terlalu sibuk untuk meminta tandatangan H.O.T.

Sampai akhirnya ada seorang anak perempuan yang berteriak ketakutan saat melihat Ji-yoon dan Shi-hoo pingsan tak sadarkan diri. Beberapa staff agensi SM pun langsung melarikan Ji-yoon dan Shi-hoo yang masih tak jelas keadaannya.

Dan tak berapa lama kemudian, beberapa orang karyawan dari agensi SM datang ke rumah Suk-hwan. Mereka mengabarkan bahwa kedua putranya, Ji-yoon dan Shi-hoo meninggal dunia karena kehabisan nafas. Beberapa tulang rusuk Ji-yoon dan Shi-hoo bahkan patah karena tertimpa tindih oleh peserta audisi lain. Tak ada yang bisa Suk-hwan lakukan selain menangisi mayat kedua anaknya. Ia tak pernah mengira bahwa kedua anaknya akan meninggal dengan keadaan seperti itu.

Agensi SM yang seharusnya bertanggung jawab atas hal itu hanya membayar biaya pemakaman dan rumah sakit untuk Ji-yoon dan Shi-hoo. Selain itu, agensi SM bahkan meminta Suk-hwan agar tidak memberitahukan tentang masalah ini kepada publik karena dapat merusak citra SM. Mereka meminta Suk-hwan untuk memutar balikkan cerita dan mengatakan bahwa kedua putranya tidak meninggal dan kini sedang baik-baik saja.

Walau pun Suk-hwan merasa sakit hati dan tidak terima dengan perlakuan SM yang lebih mengutamakan kepentingan perusahaannya daripada nyawa orang lain, tapi Suk-hwan tak bisa berbuat banyak selain mengikuti permintaan agensi SM. Ia yang hanyalah seorang pemilik restoran kecil-kecilan tidak akan mampu bersaing dengan agensi SM yang mempunyai kekuasaan paling besar.

Setelah kejadian itu, agensi SM memang sering memesan makanan ke restoran milik Suk-hwan. Setidaknya, Suk-hwan merasa bahwa agensi SM masih menghargai mendiang kedua putranya. Tapi, tetap saja, kerinduan Suk-hwan kepada kedua putranya tak bisa ia hindari sama sekali.

Apalagi setelah bertemu dengan Jong-hyun dan Min-hyuk. Walau pun setelah bertemu dengan mereka berdua membuat rasa rindu itu datang kembali, setidaknya hal itu membuat Suk-hwan merasa bahwa Jong-hyun dan Min-hyuk adalah kedua anaknya sendiri. Ia merasa bahwa kedua orang itu telah hadir ke sisinya atas perintah Tuhan untuk menggantikan posisi Ji-yoon dan Shi-hoo.

***

            Gerimis dan malam hampir larut. Tapi, salah satu lampu ruangan di agensi SM masih menyala. Ruangan latihan. Padahal suasana sudah mulai sepi. Semua karyawan dan beberapa artis yang mempunyai jadwal untuk latihan hari ini juga sudah mulai meninggalkan kantor. Tapi, hanya Tiffany yang tersisa.

Ditemani manajernya, Taecyeon, Tiffany masih serius berlatih menyanyi dan koreografi dari lagu yang akan dibawakan saat SNSD comeback nanti, sementara Taecyeon sibuk memerhatikannya dari belakang.

Terkadang, sebagai manajer, Taecyeon terlihat tidak tega setiap kali membaca schedule yang harus dikerjakan Tiffany dalam sehari. Bahkan, ada suatu saat dimana Tiffany bahkan tidak sempat untuk makan hanya karena harus memenuhi jadwal pekerjaannya yang begitu padat.

Tapi, disamping itu, Taecyeon begitu mengagumi kegigihan Tiffany. Ia tak pernah sekali pun mengeluh sebagaimana pun lelahnya karena pekerjaan yang padat. Padahal, sekali pun Tiffany tidak pernah mengatakan ia lelah, tetap saja Taecyeon bisa mengetahui dari air wajah Tiffany yang terkadang mulai memucat.

Bagi Taecyeon, Tiffany adalah sosok yang begitu kuat. Sejak pertama kali masuk sebagai salah satu trainee, Taecyeon telah ditugaskan oleh Soo-man untuk menjadi asisten untuk Tiffany. Dan Taecyeon menjalani tugasnya dengan begitu baik. Ia berusaha menjadi sahabat, oppa, sekaligus partner kerja untuk Tiffany. Setiap hari Taecyeon bagaikan ekor untuk Tiffany. Kemana pun Tiffany pergi, Taecyeon pasti akan ada bersamanya untuk menjaganya.

Senyum Tiffany adalah tujuanku untuk tetap hidup. Maka dari itu, aku harus terus hidup untuk membuatnya tetap tersenyum padaku, batin Taecyeon.

Oppa!

Taecyeon tersentak dari lamunannya. “Kau mengagetkan aku!”

“Sejak daritadi aku memanggilmu, tapi kau tidak mendengarkanku juga!” jelas Tiffany sambil duduk disamping Taecyeon dan meraih sebotol air mineral yang langsung diteguknya.

“Ah, aku sedang memikirkanku sesuatu,” jawab Taecyeon.

Tiffany meletakkan botol air mineral itu kembali ke lantai. “Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Bukan apa-apa.” Taecyeon berusaha mengalihkan pembicaraan. “Kau sudah selesai latihan kan? Ayo kita pulang sebelum hujan semakin deras.”

Kecewa dengan jawaban gantung Taecyeon, Tiffany menolak untuk pulang. “Ah, shiro! Aku tidak akan mau pulang jika oppa tidak memberitahukan apa yang sedang oppa pikirkan.”

Melihat Tiffany yang kelihatan kesal dengan mulut manyun, Taecyeon yang tidak tahan lagi akhirnya mengiyakan permintaan Tiffany. “Al-asso, al-asso! Aku akan menceritakannya saat perjalanan pulang nanti.”

Air wajah Tiffany berubah seketika. “Jeongmal? Baiklah, ayo kita pulang!” Tiffany langsung menarik tangan Taecyeon dan meraih ransel merahnya.

***

            Taecyeon menatap rinai hujan yang jatuh menyerupai butiran salju yang mengalir dari ujung payung merahnya yang besar. Sesekali ia mengulurkan tangannya dan merasakan dinginnya butiran bening itu yang mengenai telapak tangannya.

Sementara Tifany hanya diam dan ikut memperhatikan setiap rintik hujan yang jatuh ke tanah. Tangan kanannya kini memegang gelas minuman plastik yang separuhnya sudah kosong. Sementara tangan kirinya dengan nyaman bergelantung di lengan Taecyeon.

“Apakah kau tidak merasa dingin?” tanya Taecyeon pada Tiffany.

Tiffany menggeleng. “Tidak, aku tidak merasa terlalu dingin. Kenapa? Apakah oppa merasa kedinginan?”

Taecyeon mengangguk mengiyakan. Hari itu ia tidak menduga bahwa malam harinya akan turun hujan, jadi Taecyeon tidak membawa baju hangat. Saat itu ia hanya menggunakan kaos panjang dan celana jeans hitam. Dan karena kedinginan, wajah Taecyeon berubah menjadi merah. Terutama hidungnya.

Melihat Taecyeon yang kedinginan, Tiffany melepaskan lilitan syal hitamnya dari lehernya dan melilitkan syal itu pada Taecyeon.

Ya, mwohaneungeuya?

“Apakah oppa tidak lihat bahwa aku sedang melilitkan syal ini ke leher oppa?

“Tapi, kau bagaimana?”

Seusai melilitkan syal itu ke leher Taecyeon, Tiffany tersenyum puas. “Aku tidak apa-apa. Aku kan menggunakan baju hangat.”

Seketika, denyut jantung Taecyeon berdegup begitu kencang. Entah apa yang ia rasakan. Bukanlah sebuah kehangatan yang diciptakan dari syal hitam milik Tiffany yang terlilit rapi di lehernya, namun, senyum Tiffany lah yang membuat ia merasa begitu hangat di hujan gerimis seperti ini. Ternyata Tiffany begitu perhatian padanya.

“Oh ya, oppa, kau ingat janjimu kan? Kau berjanji akan menceritakan padaku apa yang sedang kau pikirkan tadi,” ucap Tiffany tiba-tiba.

Taecyeon tersenyum samar. “Ah, sebenarnya… aku tengah memikirkan seseorang.”

“Siapa?” Tiffany makin bersemangat.

“Seseorang yang aku cintai.”

“Pacarmu? Kau bahkan tidak memberitahuku bahwa kau mempunyai pacar!” protes Tiffany.

Taecyeon menggeleng. “Bukan! Bukan pacarku. Hanya seseorang yang aku cintai. Dia belum mengetahui perasaanku.”

Tiffany manggut-manggut. Ia terlihat sedang berpikir. “Oh ya? Aku jarang melihat oppa jalan dengan seorang perempuan. Bahkan, perempuan yang sering dekat denganmu kan cuma aku. Bagaimana bisa kau menyukai perempuan itu?”

Taecyeon tiba-tiba terdiam. Ia kemudian menatap lekat-lekat kedua pasang mata Tiffany. Wanita itu dirimu, Tiffany. Wanita itu dirimu.

To be continued…