The Darkness

Title : The Darkness

Author : shineelover14

Main cast :

  • Park Shinra a.k.a YOU
  • Lee Jinki
  • Choi Minho
  • Shin Yongri
  • Kim JongHyun

Genre : Triller, Mistery, NC-17

Lenght : Oneshot

Annyeong. Ini adalah FF pertama ku yang ber-genre Triller. Semoga gak mengecewakan. Oh ia, sengaja author memberi rating NC. Bukan karna ada maksud lain hanya didalam ceritanya terjadi sesuatu #Tiiiiiiiit ..(*Di Sensor). Hehehe

Oke deh, Happy Reading ..

Author P.O.V

Seorang gadis tengah berlari di dalam gua yang begitu gelap. Sedikitpun tak dapat ia rasakan udara yang berhembus, benar-benar terasa hampa. Tak ada sedikit cahaya pun yang meneranginya. Nafasnya terhengah-hengah, keringat nya sudah bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Rambutnya yang tadinya terikat rapi kini sudah acak-acakan dan benar-benar sangat berantakan. Dengan cepat ia berlari menghindari sesuatu. Entah sedang menghindari apa. Ia terlihat begitu ketakutan.

Author P.O.V end

2 hari sebelumnya ..

Park Shinra P.O.V

“Jagi-a, penjelajah kita kali ini kemana?”tanya ku pada namja chingu ku.

“Kita akan ke gua bawah tanah di Gwangju”ucap namjachinguku sumringah. Ya aku dan ke 4 sahabat ku beserta namjachinguku mempunyai hobi yang aneh. Suka bertualang menaklukan keganasan alam. Dan kali ini kami berlima akan bertualang ke dasar Gua Gwangju untuk mencari bahan penelitian tugas kelompok kami. Kami adalah mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi ternama di Seoul. Dan sekarang memasuki tingkatan ke 5

1 hari sebelumnya ..

“Bagaimana persiapannya Minho-ssi? apa sudah beres semuanya”tanya ku.

“Tentu saja Shinra-ah”ucapnya sambil memasukkan barang-barang bawaan kami kedalam bagasi mobil Jeep milik Jonghyun. Kulihat namjachinguku Lee Jinki sedang memeriksa beberapa barang dari dalam tas ranselnya.

“Penjelajahan kali ini pasti akan lebih menegangkan. Karena sebelumnya kita belum pernah menjelajahi tempat yang gelap. Jujur aku kurang suka dikegelapan. Tapi karna ada kau, aku yakin aku pasti aman”ucap ku.

“Tenang lah jagi. Kali ini kita pasti akan berhasil. Penelitian kita tentang jenis bebatuan yang ada didalam gua itu pasti akan mendapatkan hasil yang baik”ucapnya sedikit membuat ku tenang. Aku pun beralih ke Yongri, sahabat terbaik ku. Ia juga sedang mempersiapkan barang bawaannya. Ia adalah yeojachingunya Minho.

“Banyak sekali bawaan mu?”ucap ku sambil tersenyum kepadanya.

“Tentu saja harus banyak, kita harus mempersiapkan segala kemungkinan yang ada”ucapnya.

“Hm .. Baiklah nyonya Minho, terserah kau saja”ucap ku lalu meninggalkannya.

<><><><><>

Setelah semua persiapan yang kami lakukan dengan total, kami pun berangkat menuju ke Gwangju. Tidak .. tidak .. lebih tepatnya berangkat menuju kematian. Kami tertawa lepas selama dalam perjalanan. Bercanda riang dan bernyanyi bersama. Kami terlihat sangat gembira sekali dalam penjelajahan kami ini dan tidak mengetahui bahaya yang sedang menanti kami saat ini.

Butuh waktu setengah hari untuk sampai ke Gua di Gwangju. Dan ini cukup menyita energi kami.

Sesampainya di sebuah hutan, kami menapaki jalan setapak yang mengarah langsung ke Gua. Dari kejauhan dapat ku lihat dengan jelas mulut Gua yang sangat besar itu. Didalam benar-benar sangat gelap. Kami pun semakin dekat dengan kematian kami. Tapi tak satu pun dari kami menyadari hal itu, termasuk aku.

“Jinki-ssi, apa kau yakin mau masuk kedalam. Kelihatannya benar-benar sangat menyeramkan”ucap Yongri sambil merangkul tangan Minho.

“Tentu saja, kita sudah susah payah membersiapkan semua ini. Tidak mungkin kan kita kembali ke Seoul tanpa membawa laporan apa-apa”ucap Jinki.

“Kalau kau takut, harusnya kau tidak ikut”celetuk JongHyun.

“Sudahlah jagi. Kan ada aku disini. Aku akan menjaga mu”ucap Minho pada Yongri. Dan akhirnya Yongri pun terlihat lebih tenang sekarang.

Kami pun mulai masuk kedalam gua tersebut. Gua yang sangat besar. Dipenuhi stalakmit dan stalaktit (*Bener gak sih tulisannya? ..) yang runcing-runcing pada langit-langit dan lantai Gua. Benar-benar lembab dan sangat basah. Semakin kedalam, ku raba dinding gua untuk merasakan tekstur bebatuan yang ada digua ini lalu langsung ku tulis ke dalam laporan ku. Dan tanpa sengaja aku menyentuh sesuatu yang berlendir dan basah dari dinding batuan itu, apa ini? batin ku. Pikiran ku mulai memikirkan hal yang aneh-aneh, tapi dengan segera langsung ku buang jauh-jauh pikiran aneh ku.

30 menit berlalu kami pun semakin dalam memasuki gua tersebut dan belum menemukan apa pun untuk penelitian kami. Dan tiba-tiba jalan yang kami selusuri tadi buntu. Ku edarkan pandangan ku keseluruh sudut Gua itu dan pandangan ku tertuju pada sebuat lubang disudut dinding Gua. Aku pun berjalan mendekat ke lubang itu. Ku senteri lubang itu, tapi tak terlihat apa-apa. Hanya kegelapan yang ada disana.

“Kau yakin akan masuk kedalam sini?”ucap ku pada Jinki sambil terus menyenteri lubang tersebut.

“Tentu saja, kita belum mendapat apa-apa disini”ucap Jinki sambil mengeluarkan beberapa barang dari dalam tasnya.

“Tapi lubang itu sangat sempit Jinki-ssi. Akan susah untuk bernafas didalam sana”celetuk Yongri yang mulai ketakutan lagi. Aku pun berjalan mendekatinya.

“Tenanglah kita akan selalu bersama”ucap ku sambil memegang lengannya.  Awalnya ia tidak yakin, tapi pada akhirnya ia pun setuju untuk masuk kedalam lubang itu. karna lubangnya benar-benar sangat kecil, tentu saja tas yang kami bawa dengan terpaksa kami tinggalkan. Hanya peralatan seperlunya saja seperti alat penerangan, serta senjata tajam saja yang kami bawa. Kami pun merangkak didalam lubang yang sempit itu dengan berjejer. Yang terlebih dahulu masuk adalah Jinki, kemudian disusul diri ku di posisi ke dua, berikutnya Yongri, Minho dan terakhir JongHyun. Semakin lama lubangnya makin terasa sempit. Yongri mulai ketakutan lagi, ia menangis dan tentu saja aku pun berhenti merangkak lalu menenangkannya.

“Tenang lah Yongri-ah, sebentar lagi kira pasti keluar dari lubang ini. Aku yakin sekali kita pasti akan menemukan ujung dari lubang ini”ucap ku pada Yongri, pada hal aku sendiri pun tak yakin. Akhirnya ia pun merasa tenang kembali, aku pun berbalik melihat kedepan dan ku lihat Jinki sudah tidak ada. Kemana ia? Aku mulai semakin panik. Aku pun merangkak lagi berusaha mencari Jinki dan kami pun sampai di 2 persimpangan lubang. Aku bingung sekali harus memilih lubang yang mana karna tak dapat ku temukan jejak Jinki. Dengan segala keberanian aku pun memilih lubang sebelah kanan. Selama beberapa menit kami merangkak dan akhirnya kami menemukan ujung dari lubang ini, aku pun sedikit bernafas lega. Tapi disini tidak ku temukan Jinki.

“Mana Jinki-ssi?”tanya JongHyun pada ku.

“Entah lah, aku tak tau”ucap ku berusaha menahan tangis ku.

“Bagaimana bisa kau tidak tau Shinra-ah, bukannya Jinki berada didepan mu?”timpal Minho yang tentu saja membuat ku semakin panik.

“Aku tidak tau. Sewaktu perjalanan kita terhenti tadi dia masih ada, tapi setelah aku menoleh kembali, ia sudah tidak ada”ucap ku dan kali ini air mata ku pun tumpah tak tahan menahan semua desakan dari teman-teman ku. Yongri pun memeluk ku. Aku menangis dalam pelukannya.

“Kita pasti akan menemukannya”ucap nya berusaha menenangkan ku. Aku pun mengangguk. Dan kami pun melanjutkan penjelajahan kami sambil berteriak-teriak memanggil nama Jinki. Sudah setengah jam kami menyusuri rute ini, kami terus saja melewati jalan yang sama, kami tersesat.

Aku pun mulai putus asa. Aku terduduk lemah meratapi nasib kami sekarang dan tiba-tiba sesuatu menarik JongHyun masuk kedalam kegelapan. Kami terkejut sekali, ia terus berteriak meminta tolong. Minho, aku dan Yongri pun mengejar JongHyun yang semakin menghilang di kegelapan. Suaranya sudah tidak terdengan lagi sekarang.

“Kemana ia?”tanya ku.

“Entah lah”kata Minho.

Kami terus berlari dengan berbekal penerangan seadanya. Dan tiba-tiba aku tersandung sesuatu. Aku terduduk.

“Apa itu?”tanya ku. Penciuman ku mulai mencium sesuatu yang berbau sangat amis sekali dan tangan ku mengentuh sesuatu yang sangat pekat. Kucium cairan yang tak sengaja ku sentuh tadi, dan baunya benar-benar sangat amis. Minho pun menyenteri sesuatu yang ku tabrak tadi dan betapa terkejutnya aku melihat JongHyun sudah tidak bernyawa. Darah mengalir dimana-mana menggenangi lantai. Isi perutnya terkeluar dari tubuhnya, usus, jantung dan organ-organ dalam tubuhnya berceceran dimana-mana. Bagian lehernya tercabik-cabik tak beraturan. Darah segar terus mengalir dari sana. Bagian kepalanya sudah tak berbentuk lagi, sangat mengenaskan. Otaknya terkeluar dari batoknya. Ini membuat ku ingin muntak.

Aku menangis. Aku tak tau bagaimana kelanjutan nasib kami setelah ini. Yongri yang melihat itu langsung memeluk Minho. Ia benar-benar shock melihat jasat JongHyun yang mengenaskan. Minho pun tak dapat berkata apa-apa lagi, ia hanya tercengang melihat pemandangan ini. Kami pun berusaha untuk mencari jalan keluar dari gua ini. Gua ini terasa semakin aneh, kami terus saja berputar-putar pada jalan yang sama seperti tak memiliki ujung.

“Berhenti sebentar”ucap ku.

Aku mulai kehabisan nafas. Disini benar-benar sesak. Untuk menghirup oksigen pun sangat sulit. Aku menundukkan kepala dan menutupi wajah ku dengan kedua tangan ku dan aku pun mulai menangis ketakutan lagi. Saat ini pikiran ku tertuju pada Jinki. Bagaimana nasibnya saat ini. Apa ia telah berakhir seperti JongHyun juga atau masih selamat.

Lalu tiba-tiba sesuatu jatuh diatas kepala ku. Apa ini batin ku. Aku pun memenyentuh kepala ku. Terasa seperti lendir yang tadi ku sentuh didinding gua waktu kami baru masuk. Aku pun mendongakkan kepala ku ingin melihat apa yang ada diatas langit-langit gua.

Dan AAAaaaaaaaaa!!!!!!

Aku berteriak sekencang-kencangnya melihat sesuatu yang merayap di dinding. Tubuhnya dipenuhi lendir. Wajahnya seperti kelelawar, memiliki telinga yang panjang. Kulinya berwarna pucat dan berlendir. Dengan sigap aku pun menghindar dari terkamannya.

“Eeeeeaaaakkkkkkk ..”(*susah mau gambarin suaranya, jadinya kayak gitu deh .. Mian)

Ia bersuara sangat aneh sekali. Pandangan ku tak lepas dari sosoknya yang masih merayap didinding itu. Ia memiliki tangan dan kaki, hanya saja kakinya menekuk seperti kodok. Minho dan Yongri terkejut melihat sesuatu yang merayap didinding itu.

“Lari ….”teriak ku.

Aku berlari sekuat tenaga ku walau aku sudah tak sanggup untuk berlari. Tiba-tiba kulihat Yongri tersandung batu. Belum sempat Minho ingin membantu Yongri berdiri, tubuhnya sudah dikerumuni makhluk itu.

Yongri hanya bisa berteriak. Ku lihat mereka menggigiti tubuh Yongri. Mereka menusuk perut Yongri dengan kuku-kuku mereka yang tajam. Mengeluarkan isi-isi perut Yongri dan memakannya dengan lahap. Ada 5 makhluk yang mengerumuni Yongri. Yang satu mencabut paksa mata Yongri dari tempatnya, yang satu lagi menggigiti kepala Yongri hingga otaknya terkeluar lalu melahapnya dengan rakus. Dan yang lainya melahap tubuh Yongri hingga tak bersisa. Minho pun segera menarik tangan ku dan berlari menjauhi makhluk tadi. Tubuh ku bergetar hebat menyaksikan kematian Yongri yang mengenaskan tadi. Aku benar-benar takut.

“Minho-ssi, apa kita akan selamat?”tanya ku sambil menangis.

“Aku tak tau Shinra-ah. Yang pasti kita karus segera lari dari sini”ucap Minho tanpa menghentikan langkahnya.

Ketika kami sudah merasa jauh dari kejaran makhluk tadi, kami pun berhenti sebentar untuk mengatur nafas kami yang terhengah-hengah. Minho duduk dihadapan ku, ia menangis. Aku tau berat baginya menyaksikan kematian seseorang yang dicintainya dengan sangat mengenaskan. Aku pun duduk disebelahnya dan menyentuh pundaknya. Dengan cepat ia memeluk ku. Aku pun memeluknya. Ia menangis tak hentinya.

Dan tiba-tiba sesuatu menarik tubuh Minho kedalam kegelapan. Minho mengerang kesakitan. Aku tak dapat melihat ia ada dimana, karna aku tak membawa menarangan. Aku hanya berteriak-teriak mencari Minho sambil meraba-raba udara.

“Minho-ssi”ucap ku lirih.

Tak ada jawaban sedikit pun. Aku menangis, aku tak tau harus kemana. Aku tak tau harus berjalan kearah mana. Tapi samar-samar ku dengar suara Minho. Ia berkata.

“Cepat lari Shinra-ah. Cepat lari sekuat-kuatnya dan jangat berhenti”

Hanya itu yang ku dengar. Dan aku pun menuruti kata-katanya. Aku pun berlari didalam kegelapan. Sedikitpun tak dapat kurasakan udara yang berhembus, benar-benar terasa hampa. Tak ada sedikit cahaya pun yang menerangi langkah ku. Nafasku terhengah-hengah, keringatku bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Rambutku yang tadinya terikat rapi kini sudah acak-acakan dan benar-benar sangat berantakan. Dengan cepat aku berlari menghindari makhluk itu.

Tuhan tolong lah aku. Berikan lah aku keajaiban. Aku berharap ini hanya lah mimpi buruk saja. Aku pun memejamkan mata ku berharap aku terbangun dari mimpi buruk ini. Untuk beberapa detik mata ku terpejam.

Lalu dengan perlahan ku buka kembali mata ku. Ku lihat cahaya putih mengilaukan masuk kemata ku dan lama kelamaan dapat terlihat jelas apa yang kulihat sekarang. Aku berada dikamar ku. Kupandang lekat-lekat seisi kamar ku. Ini nyata, benar-benar nyata. Ku toleh kaca rias ku yang berada disebelah kanan, kupandangi wajah ku disana. Aku menangis mengingat mimpi buruk itu. Aku pun bergegas turun dari tempat tidur ku, melangkah menuju pintu. Belum sempat aku melangkahkan kaki ku, aku tersandung sesuatu dan hanya kegelapan yang kulihat.

“Ternyata ini memang benar nyata”ucap ku lirih.

Aku terdiam dan tiba-tiba sesuatu menyentuh pundak ku. Aku berteriak histeris. Lalu ia membekap mulut ku. Ia berbisik “Jangan teriak”ucapnya di telinga ku. Mata ku membulat. Aku kenal suara ini, benar-benar sangat mengenalnya. Aku berbalik dan memeluknya erat.

“Ku kira kau sudah mati tadi ..”ucap ku sambil menangis dalam pelukannya.

“Sudah tenang lah Shinra-ah. Kita akan selamat”ucap nya pada ku.

“Tapi keluar lewat mana? Disini buntu”ucap ku lagi.

“Kita harus berusaha ..”ucapnya sambil memegang tangan ku dan berjalan mengendap-endap.

Tiba-tiba ia berhenti, ia menghidupkan alat penerangan. Dan dapat kulihat wajahnya yang benar-benar sangat ku rindukan. Aku pun memeluknya lagi.

“Jagi-a”ucap ku.

“Wae?”tanyanya pelan.

“Aku benar-benar takut kita tidak dapat keluar dari sini”ucap ku

“Jangan putus asa, kita harus mencobanya”ucap Jinki.

Kami pun menyisiri gua ini. Ku lihat Jinki sedang meraba-raba dinding gua itu. Mungkin ..

Aku pun membantunya meraba-raba dinding itu, mencoba mencari tanah yang berada diselah-selah bebatuan. Dan akhirnya kami menemukan sesuatu.

“Bantu aku menggali ini”ucapnya.

Aku pun membantunya mengais-ngais tanah yang ada di sudut bagian atas dinding gua. Dan dari kejauhan dapat kudengar suara makhluk itu berteriak-teriak. Aku menggali dengan begitu cepat, dan dapat kulihta cahaya terlihat dari selah-selah bebatuan. Kami semakin mempunyai harapan untuk selamat.

Kami pun berhasil menciptakan lubang untuk keluar. Jinki pun menbantu ku untuk memanjat dan mendorong ku agar aku bisa keluar terlebih dahulu. Tapi tiba-tiba kudengar Jinki berteriak.

Aaaaaaaaa !!!!!

Oh tidak makhluk itu. Ia semakin kuat mendorong ku keluar dari gua itu dan akhirnya aku berhasil keluar. Aku pun mendongakan kepalaku dari lubang yang kami buat. Aku berusaha meraih tangan Jinki. Sedikit lagi dan akhirnya dapat, aku menggenggam tangannya dengan erat. Aku menariknya, tetapi tenaga ku tak cukup kuat melawan ke 5 makhluk yang menarik kakinya dari bawah.

“Lepaskan tangan ku Shinra-ah”ucapnya.

“Andwe .. Andwe ..”teriak ku.

“Aku tidak akan membiarkan mu di makan oleh mereka”ucap ku lagi sambil menangis.

“Cepat selamatkan diri mu. Tinggalkan aku Shinra”ucapnya lagi.

“Andwe ..”ucap ku sambil menggenggam tangan nya semakin kuat. Lalu ia pun mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.

“Andwe .. Andwee .. Jinki-ah”ucap ku samakin menangis.

Dengan cepat ia memotong pergelangan tangannya, membuat darahnya terpancar ke wajah ku. Lalu ia lenyap di kegelapan. Aku masih saja terus memegangi tangannya yang terpotong. Aku menangis tak hentinya. Akhirnya ku lepaskan tangannya, aku pun segera berlari. Berlari menuju mobil Jeep Jonghyun yang masih terparkir di tepi jalanan setapak. Tubuh ku bergetar hebat, aku benar-benar panik. Kulihat makhluk itu keluar dari lubang. Ia berusaha mengejar ku.  Aku menghidupkan Jeep itu dan menginjak gasnya dengan kuat dan mobil Jeep ini pun melesat dengan cepat.

Aku berusaha mengatur nafas ku. Tenang lah Park Shinra, kau selamat. Tenang lah. Beberapa saat ku rasakan semilir angin menerpa wajahku. Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ku bersihkan darah Jinki yang mengenai wajah ku.

Dan tiba-tiba makhluk itu muncul dari jendela sebelah kiri ku. Ia menggit leher ku dengan giginya yang tajam, mencabik kulit ku dan kukunya menembus mata kanan ku hingga cairan merah membasahi wajah ku. Aku pun tak dapat menyetir dengan baik dan akhirnya aku menabrak pagar pembatas jalan dan mobil Jeep yang ku kendarai terjun bebas kedalam jurang.

<><><><><>

Headline News..

Di beritakan 5 mahasiswa dari salah satu Universitas ternama di Seoul mengalami kecelakaan dan mobil yang ditumpangi mereka terjun kedalam jurang. Hingga saat ini polisi masih belum bisa menemukan jasad dari ke 5 mahasiswa tersebut karna diperkirakan jasadnya sudah terjatuh kedalam jurang yang sangat dalam. Akhirnya polisi pun menutup kasus ini yang murni karna kecelakaan lalu lintas.

The End

Akhirnya selesai juga FF triller pertama ku. Mian kalo feel-nya kurang dapet. Tapi aku akan berusaha lebih baik lagi.

Mohon kritik dan sarannya. Karna kritik dan saran dari readers semua membuat ku semakin bersemangat lagi untuk menulis ..

Gomawo ..

9 thoughts on “The Darkness

    • Hahahaha ..
      Moga ajah gak ampe’ bad dream ..

      Waa ..
      Jincayeo?
      Mm .. Tapi beneran loh, aku buat FF dengan penuh perjuangan ..
      Ampe’ gak tidur semalaman .. Mikirin ide ceritanya ..

      Tapi makasii deh udah mau baca n comment
      🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s