Mr. One Minute (Part 1)

Main Cast:

  • Kang Min-hyuk ‘CN Blue’
  • Krystal Jung ‘f(x)’

Genre: Romance, Action

Rating: PG-13

          Min-hyuk baru saja hendak sekilas melirik jam tangannya ketika pintu kamarnya terbuka dan salah seorang pelayannya masuk. Min-hyuk memperhatikan langkah demi langkah ketika pria tua itu berjalan mendekat. Kepala Hyun-bin sediki menundun ketika berjalan kearahnya, tapi ketika tepat berhadapan dengannya tanpa disangka-sangka dia mengangkat kepala dan memandangnya.

Unbelievable! Bahkan setelah apa yang terjadi hari ini, pria itu masih punya nyali untuk menatap Min-hyuk. Sebersit rasa kesal sekaligus kagum hinggap di benak Min-hyuk. Pemuda itu menatap Hyun-bin yang masih memandangnya dengan sorot mata bertanya. Setidaknya kali ini ada pancaran ketakutan dan keraguan di sorot mata pria ini, dan itu membuatnya puas.

Min-hyuk melirik jam tangannya sebelum akhirnya benar-benar membuka mulut.

“Aku yakin kau tahu soal jas coklat kesayanganku yang hilang entah kemana. Benar?”

Sepuluh detik berlalu. Hyun-bin mengangguk.

“Kau adalah satu-satunya orang yang dipercayai untuk mengurus semua pakaianku. Dan artinya, hanya kau yang tahu dimana jas coklatku berada. Benar?”

Dua puluh detik berlalu. Hyun-bin kali ini menggeleng.

“Aku memang bertugas untuk mengurus semua pakaianmu, tuan. Tapi, aku benar-benar tak tahu kemana jas coklatmu,” kata Hyun-bin lirih.

Didepannya, Min-hyuk langsung bangkit dari duduknya dan menghadap kearahnya sambil bertolak pinggang. He’s not happy at all. Min-hyuk menggeleng-gelengkan kepalanya, kesal.

“Lalu, siapa yang pantas aku curigai jika bukan kau, bodoh?!” pekik Min-hyuk.

Tiga puluh detik berlalu.

Hyun-bin menunduk dan bergumam pelan. “Aku benar-benar tidak melakukannya, tuan.”

Min-hyuk menengadahkan kepalanya, mendesah kesal, dan menatap Hyun-bin tak percaya. “Aku beri kau dua pilihan. Dipecat atau mengakuinya? Kau mencurinya, bukan?”

Empat puluh detik berlalu.

Hyun-bin mendongakkan kepalanya dan tersentak kaget ketika mendengar ancaman Min-hyuk. Untuk ke sekian kalinya, ia kembali menggelengkan kepalanya. “Demi Tuhan! Aku tidak melakukannya, tuan.”

“Jadi, kau masih tidak mau mengakuinya?”

“Itu karena aku memang tidak melakukannya!” Hyun-bin tetap bersikeras.

Lima puluh detik berlalu.

“Baiklah,” Min-hyuk menghela nafas dan merilekskan bahunya yang tegang. “Kau… dipecat.”

Hyun-bin ternganga. Sementara ia berusaha mencerna apa yang ditangkap telinganya, Min-hyuk melanjutkan ucapannya.

“Dan hari ini juga, kau segera angkat kaki dari rumahku. Aku tak suka melihat pencuri menginjakkan kakinya di rumah ini.” Min-hyuk kembali duduk ke kursi empuknya sembari melirik jam tangannya. 60 detik pas.

Hyun-bin tidak mampu berkata-kata dan hanya menatap Min-hyuk dengan ekspresi yang tampaknya sudah tidak keruan, campuran antara shock, bingung, takut, dan entah apa lagi. Otaknya terasa kosong, rasanya seperti masuk ke ruang hampa dan ia merasa tubuhnya mengambang di udara.

Akhirnya, setelah kesekian kalinya berusaha mencerna dan ternyata otaknya masih belum percaya juga dengan apa yang didengarnya, Hyun-bin langsung bersimpuh di kaki Min-hyuk sambil menangis sedu-sedan.

“Aku mohon, tuan! Aku mohon! Jangan pecat aku. Kau tidak tahu bagaimana susahnya mencari pekerjaan sekarang. Jika aku dipecat, bagaimana nanti kehidupan anak dan istriku?” ujarnya lirih.

Min-hyuk tertawa histeris. “Aku tidak pernah peduli jika anak dan istrimu akan mati kelaparan karena tak sanggup dibiayai oleh pencuri seperti dirimu. Tak ada lagi kata ‘kompromi’. Keputusanku sudah bulat!”

Namun Hyun-bin tak menyerah. Masih tetap merengek dan bergelayut di kaki Min-hyuk, Hyun-bin terus membujuk pemuda itu. “Aku mohon, tuan. Aku mohon!”

Bukannya sebuah ampunan yang Hyun-bin dapatkan namun sebuah bukti kemarahan Min-hyuk yang tanpa ampun. Min-hyuk melayangkan kakinya dan menendang keras bagian perut Hyun-bin, membuat pria itu sontak meringis kesakitan sambil mengelus perutnya.

“Lihat aku, bodoh!” suara Min-hyuk terdengar keras berusaha meningkahi suara isak tangis Hyun-bin.

Hyun-bin berusaha keras menghentikan tangisnya dan mengatur nafas. Ia memberanikan diri untuk melihat kearah Min-hyuk. Matanya langsung beradu dengan sepasang mata coklat yang tajam dan menyayat itu. Rasa dingin melesak ke dalam tubuhnya, merayap jengkal demi jengkal kulitnya dan menggigit hingga ke tulang.

Min-hyuk berkata, “Aku yakin ini bukanlah sesuatu yang sanggup kau terima. Tapi, ingat, aku paling benci jika dibuat kesal. Jadi, untuk terakhir kalinya, jangan membuat aku kesal. Mengerti?”

Hyun-bin bahkan tidak bisa mengangguk. Kengeriannya tumbuh semakin besar dan ia tidak berani untuk mencerna sepenuhnya perkataan Min-hyuk. Ia memilih untuk segera beranjak. Ia membimbing dirinya sendiri untuk segera keluar dari ruangan itu, dan secepat mungkin menjauhkan diri dari pemuda itu. Kengerian yang ia rasakan hampir membuatnya gila.

Hampir ia jatuh terduduk lagi karena lututnya yang masih terasa lemas. Dan ketika beberapa pelayan lainnya yang juga tengah berada di dekatnya hendak menolong, Min-hyuk kembali meneriaki pelayannya itu.

“Ya! Kau juga ingin bernasib sama dengannya?”

Pelayan itu menggeleng lemah.

“Kalau begitu, biarkan dia. Jangan membantunya!”

Dengan langkah berat, pelayan tadi mundur ke belakang dan membiarkan rekannya itu tergopoh-gopoh memapah dirinya sendiri.

Setelah Hyun-bin benar-benar keluar dari ruangan itu, Min-hyuk menatap tajam seluruh pelayan yang saat itu tengah mengelilinginya satu per satu.

“Ada yang ingin bernasib sepertinya?” tanya Min-hyuk dengan suara tinggi.

Dengan gerakan serentak, para pelayan itu menggeleng lemah.

“Kalau begitu, jangan pernah macam-macam denganku. Mengerti?!”

“Ne!”

***

            Pukul lima sore. Krystal kini berada di dalam Metro yang membawanya ke stasiun terakhir. Ia baru saja pulang dari rumah pamannya untuk mengambil beberapa buku kuliah milik kakak sepupunya yang sudah tidak terpakai lagi, mengingat mulai besok ia akan memasuki tahun pertamanya sebagai seorang mahasiswi. Hitung-hitung untuk menghemat pengeluaran kedua orangtuanya yang hanya bergaji pas-pasan.

Tiba lima belas menit kemudian, ia keluar dari kereta dan menyusuri lorong jalan keluar yang menghubungkan perhentian itu dengan dunia di atas. Ketika baru melangkah keluar, Krystal terlonjak kaget saat melihat seorang pria tua yang dari kejauhan tiba-tiba ambruk ke tanah.

“Ahjussi!” teriaknya sambil berlari kecil menghampiri pria tua itu.

Krystal langsung membantu pria tua itu untuk bangkit dan duduk di bangku yang disediakan oleh petugas stasiun. Wajah pria tua itu terlihat pucat pasi dan matanya meredup dan sembab oleh air mata.

“Ahjussi, gwaenchanhayo?” tanya Krystal dengan nada cemas. Ia mengusap punggung paman itu dengan lembut.

Paman itu hanya diam. Matanya menerawang kosong kearah lain dan membuat Krystal semakin panik, tak tahu harus berbuat apa.

“Ahjussi, apa kau ingin minum? Aku belikan minum untukmu, ya?”

Saat Krystal hendak pergi ke salah satu kios kecil yang menjual minuman di ujung stasiun, tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh paman itu. “Tidak usah.”

Krystal menurut. Ia akhirnya duduk kembali di samping paman itu masih dengan raut khawatir. “Gwaenchanhayo?” Ia kembali mengulang pertanyaannya.

Paman itu tersenyum getir. “Ne, aku baik-baik saja.”

Krystal tersenyum tipis dan mendesah lega. “Oh ya, Krystal imnida,” kata gadis itu memperkenalkan diri.

“Ah, Hyun-bin imnida. Senang berkenalan denganmu, Krystal,” jawab Hyun-bin mencoba terlihat antusias.

Krystal menganggukkan kepala. Ia menggeserkan tubuhnya untuk lebih dekat kearah Hyun-bin. “Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa ahjussi bisa jatuh seperti itu? Apakah karena kelelahan?”

Hyun-bin mengangguk. “Ne, mungkin.”

Melihat dahi Krystal yang berkerut karena jawaban ambang darinya, Hyun-bin kembali melanjutkan ucapannya.

“Aku baru saja dipecat dari pekerjaanku.” Hyun-bin tertunduk lesu.

Krystal terdiam sejenak kemudian menjawab, “Aku turut sedih. Mianheyo, jika aku membuat ahjussi mengingat hal-hal yang seharusnya tidak diingat.”

Hyun-bin mendongakkan kepalanya, menatap Krystal, dan tersenyum tulus kearah gadis itu. “Tidak apa-apa, lagipula ini memang semua kesalahanku. Aku menghilangkan pakaian milik majikanku.”

Krystal manggut-manggut. “Tapi, setidaknya ahjussi tidak sengaja, kan? Lagipula pakaian itu pasti hanya salah menaruh saja. Dan tentu saja masih bisa dicari bersama-sama. Aku yakin, pasti masih bisa ditemukan.”

“Ne, mungkin,” kata Hyun-bin, lesu. “Tapi, majikanku bukanlah tipe orang yang pengertian. Dia sangat tegas. Hmm.. Tidak. Kelewat tegas.”

Krystal berdecak, tak percaya. “Tsk! Aku tak pernah menyangka jika ada tipe orang yang menyebalkan seperti itu.”

Hyun-bin hanya bisa tertawa lirih. Matanya kemudian tertumbuk pada kantung plastik besar berisi buku yang dibawa oleh Krystal. “Apa itu?”

Gadis itu menoleh kearah yang ditunjuk Hyun-bin. “Ah, ini buku-buku kuliah milik sepupuku. Dia memberikannya padaku, karena minggu depan aku sudah mulai kuliah di kampus baruku,” jelasnya dengan mata berbinar-binar.

“Ah, jinjja? Kau kuliah dimana?”

“Universitas Myongji,” jawab Krystal dengan bangga. Ya, sangat bangga. Universitas Myongji adalah salah satu kampus ter-elite, terfavorit, dan terbaik di Seoul. Dan Krystal adalah satu yang beruntung bisa masuk ke dalam kampus itu dengan beasiswa yang ia dapat.

Mata Hyun-bin seketika membulat mendengar jawaban Krystal. Bibirnya terkatu rapat dan bergetar. “Berarti kau akan sekampus dengan Min-hyuk,” katanya setelah berhasil menguasai kekagetannya.

Krystal mengernyit, “Min-hyuk?”

“Ne, dia adalah majikanku.”

***

            Krystal meniti tangga rumahnya dan mendorong pintu kamarnya hingga terbuka. Seperti biasa, ia langsung merapikan tas, baju hangat, dan buku-buku yang ia minta tadi ke tempatnya masing-masing. Sudah sejak lahir Krystal selalu hidup teratur. Dan kalau bisa, ia mau saja mengatur semua barang-barang di kamarnya menurut feng shui. Dan jangan menanyakan hal ini pada kakaknya, Jessica. Bukannya menerima sebuah pujian, malah sebaliknya, Jessica akan mengatakan bahwa adiknya itu control freak. Tapi, toh, Krystal tak peduli.

Kamar Krystal sangat rapi dan bersih. Kamar itu tidak terlalu besar, didominasi oleh warna merah—mulai dari tempat tidur, meja belajar, rak buku, hingga lemari pakaiannya. Beberapa poster rumus-rumus matematika ditempel di dinding. Khusus yang satu ini, Krystal sempat diejek habis-habisan oleh Jessica karena masih saja memasang poster itu di dinding. Menurut Jessica, poster-poster semacam itu hanya untuk kamar milik anak sekolah dasar. Dan untuk ukuran anak kuliahan, rasanya terlalu tua untuk mengoleksi poster rumus itu. Tapi, lagi-lagi, Krystal tetap tak peduli.

Setelah berbenah diri, Krystal menghempaskan dirinya di atas tempat tidur sampai kasur itu bergoncang-goncang mengikuti gerakan dan berat tubuhnya. Ia termangu menatap langit-langit kamarnya sambil sesekali terkikik geli membayangkan dirinya mulai duduk di bangku kuliah minggu depan. Bukan perkara mudah memang mendapatkan beasiswa gratis dari kampus bergengsi itu. Krystal harus mengorbankan waktu bersenang-senangnya hanya untuk meningkatkan nilai pelajaran sekolahnya sekaligus belajar untuk mengikuti berbagai serangkaian tes untuk calon mahasiswa yang akan menerima beasiswa.

Dikepalanya kini terlintas bayangan-bayangan bentuk kampus Myongji imajinasinya sendiri. Namun, tiba-tiba saja bayangan itu mengabur. Hatinya terusik. Pikirannya kini membawa dirinya kembali mengingat perkataan Hyun-bin sore tadi. Dan entah kenapa, Krystal jadi begitu penasaran dengan sosok yang diceritakan oleh Hyun-bin. Kang Min-hyuk.

“Aku masih tak percaya ada seseorang yang sangat keji seperti dia,” gerutunya pelan. Mengingat cerita Hyun-bin tentang kontak fisik yang dilakukan Min-hyuk padanya membuat gadis itu berdigik ngeri.

Gadis itu bangkit dari tidurnya kemudian meraih segelas air putih dan langsung menenggaknya hingga habis hanya dalam dua kali teguk. Setelah itu, ia kembali ke atas ranjang dan memaksakan dirinya untuk tidur.

“Semoga aku tidak akan bertemu dengan Min-hyuk di kampus,” gumamnya pelan.

***

            Jam beker berbunyi tepat di pukul tujuh pagi, tetapi deringan bisingnya belum cukup untuk membuat Krystal membuka matanya. Gadis itu hanya menggeliat dan mengerang malas di atas tempat tidur dengan tangan menjelajah di atas meja dan meraih beker sialan itu untuk membungkamnya. Ketika beker itu berhenti berbunyi, Krysta membuka matanya perlahan. Ia memicingkan mata ketika melihat samar-samar sinar terang matahari pagi yang menyisip lewat jendela kamarnya.

Setelah itu, ia bangkit dan duduk di tepi tempat tidur, mengangkat kedua tangannya ke udara dan menguap. Dirapikannya rambut panjangnya yang bergelombang, lalu membetulkan lengan kaus tidurnya yang kusut. Melalui ekor matanya, Krystal melirik jam bekernya dan langsung berteriak histeris ketika sadar bahwa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat sekian menit.

“Ya Tuhan! Aku bisa terlambat pergi ke kampus!”

Dengan gerakan cepat, Krystal langsung berlari kelimpungan meraih handuk dan langsung masuk ke kamar mandi. Setelah mandi, ia langsung berpakaian dan menggendong ransel merah miliknya.

“Kenapa oemma tidak membangunkanku?” protes gadis itu ketika sampai ke ruang makan. Ia menyambar selembar roti tawar dan mengoleskan selai coklat dengan asal ke atasnya.

“Kau sudah kuliah, bodoh. Seharusnya kau sudah bisa bangun sendiri,” celetuk Jessica dengan santai, yang kebetulan juga sedang sarapan di meja makan. Jessica kini bekerja sebagai seorang teller di salah satu bank swasta. Jam kerjanya baru dimulai pukul sembilan pagi. Jadi ia masih punya alasan untuk berleha-leha sebentar.

“Aku tidak bicara denganmu!” pekik Krystal, kesal.

“Sudah! Sudah! Hentikan Jessica!” Tiba-tiba nyonya Jung muncul dari arah dapur sambil membawa beberapa telur mata sapi.

Jessica hanya mendengus kesal, sementara Krystal menjulurkan lidah kearahnya, bermaksud mengejek.

“Oemma, aku berangkat dulu!”

Sebelum sang ibu menasihati Krystal untuk sarapan terlebih dahulu, Krystal sudah mengecup pipinya dan langsung melesat keluar rumah. Nyonya Jung hanya bisa menghela nafas, lalu tersenyum.

***

            Sambil terengah-engah, Krystal melirik jam tangannya. “Masih lima menit lagi sebelum jam delapan, aku pasti masih bisa mengikuti kelas pertama,” gumamnya pelan.

Krystal melempar ranselnya hingga tersampir di punggungnya dan mempercepat tempo larinya. Pemandangan yang sama terdapat dari arah berlawanan. Krystal juga bisa melihat beberapa mahasiswa baru yang juga sepertinya terlambat.

Ketika melangkahkan kaki ke dalam kampus Myongji, Krystal berada di area lobi yang luas dan sangat modern dengan cat berwarna putih serta perabotan berdesain simple. Sangat kontras dengan desain jendela tinggu penuh ornament, yang mengundang cahaya matahari tanpa ragu. Bangku-bangku tanpa sandaran berbahan suede dengan kombinasi warna ungu, merah, dan oranye tersusun merapat ke dinding. Krystal menyapukan pandangannya dan matanya menangkap tanaman-tanaman hijau yang menyegarkan mata di setiap sudut ruangan. Di salah satu sudut, terdapat papan pengumuman, dengan banyak brosur yang tertempel tumpang tindih.

Krystal kemudian merogoh lembar KRS (Kartu Rencana Studi) dari ranselnya. Setelah bertanya pada beberapa orang, ia akhirnya menemukan kelas dimana ia akan belajar untuk kelas pertama.

Ketika masuk ke kelas, Krystal disambut oleh suara gaduh yang diciptakan oleh beberapa mahasiswa laki-laki yang tengah bercanda dengan sesamanya. Sementara mahasiswi perempuan terlihat sibuk menggosip di sudut ruangan.

Ruang kelas itu kecil, hanya ada sepuluh bangku yang disusun berbentuk setengah lingkaran. Di bagian depan ada satu kursi dan meja untuk gurunya, dan di dinding depan ada papan tulis. Krystal memutuskan untuk mengisi bangku yang ditengah-tengah, dengan harapan kalau harus bergiliran bicara atau maju ke kelas, ia bukan yang pertama.

Tak lama kemudian, kelas dimulai. Dosen mereka saat itu adalah seorang pria dengan berperawakan pendek, agak gemuk, dengan ekspresi datar. Namanya Kim Byung-hee. Byung-hee kemudian menyuruh satu per satu dari mereka untuk memperkenalkan diri masing-masing di depan kelas, dimulai dari ujung kanan.

Sebelum gilirannya tiba, Krystal sempat melihat ke sekililingnya dan baru menyadari bahwa ada dua bangku yang kosong. Satu disamping kirinya, sementara bangku kosong lainnya ada di paling ujung sebelah kanan. Artinya, masih ada dua orang mahasiswa lagi yang belum datang.

“Hei, sekarang giliranmu, nona!”

Krystal terlonjak kaget ketika mendengar teriakan Byung-hee yang tertuju kearahnya. “Ah, ne!” sahutnya.

Baru saja ia ingin memperkenalkan diri di depan, tiba-tiba saja muncul sosok pemuda yang tengah berdiri di ambang pintu kelas. Ia terlihat terengah-engah dan bisa ditebak, ia pasti tengah berlari saat menuju kelas ini.

“Mianheyo, aku terlambat,” kata pemuda itu sambil membungkukkan badannya berulang-ulang kali.

Byung-hee menghadap kearah pemuda itu, menggeleng-gelengkan kepala sambil melipat kedua tangannya di atas dada. Tentu saja ini bukan pertanda baik untuk pemuda itu.

“Jujur saja, aku tidak suka jika ada yang terlambat datang di kelasku di hari pertama masuk kampus. Siapa namamu?”

“Choi Minho, pak.”

Byung-hee menghela nafas. “Begini saja, Minho. Aku harus menolakmu untuk masuk ke kelas pagi ini karena kau sudah terlambat tiga puluh menit. Dan aku hanya akan memberikan dispensasi waktu sebanyak sepuluh menit. Dan aku tak bisa menoleransi soal ini. Jadi, kau baru boleh masuk kelas minggu depan.”

Wajah Minho terlihat kecewa, namun ia hanya bisa mengangguk pelan. “Baiklah,” katanya sambil melengos pergi, menghilang dari depan pintu.

“Baiklah, ayo lanjutkan. Perkenalkan namamu sekarang,” kata Byung-hee, mengendalikan situasi yang tadi sempat kacau.

Krystal mengangguk dan mulai memperkenalkan dirinya. “Annyeonghaseo, Krystal imni—”

Tok! Tok! Tok! Pintu kelas itu diketuk oleh seseorang. Seisi kelas serentak kembali menoleh kearah pintu. Nampak seorang pemuda berdiri di ambang pintu dengan membawa iPod hitam dan earphone yang tersumbat di telinganya.

“Boleh aku masuk?” tanya pemuda itu dengan santai, tanpa wajah bersalah sama sekali. Krystal hanya bisa melongo melihat kepercayaan diri pemuda itu.

Byung-hee terlihat gelisah dan gelagapan. Ia tersenyum kemudian berkata, “Ne, tentu saja, Min-hyuk.”

Krystal menatap dosennya itu tak percaya. What the heck? Dia mengijinkan… tunggu sebentar, siapa tadi namanya? Min-hyuk? Ya Tuhan! Krystal tak bisa mempercayai apa yang ia lihat. Mimpi buruknya menjadi kenyataan.

To be continued…

35 thoughts on “Mr. One Minute (Part 1)

  1. dalam 1 menit hyun bin dipecat cuma gara-gara jaketnya dia ilang… minhyuk disini bener-bener angkuh… itu dosennya juga sampe jiper gitu… karakter idaman minhyuk ini mah *sotoy*
    penasaran gimana nasib(?) krystal setelah ini… langsung next chap aja deh 🙂

  2. Entah ini udah ff ke berapa karya authornim yg aku baca. Dan aku selalu suka. Ini asik banget. Kayaknya minhyuk punya pengaruh deh di kampus itu. Sebetulnya agak gimana gitu ya soalnya aku baru pertama kali baca fic yg karakter minhyuknya kayak gini

  3. annyeong readers baru disini
    ffnya keceh bener deh min
    ga kebayang kalo minhyuk meranin karakter angkuh secara mukanya kan unyu make banget ^^

  4. Minhyuk yang biasanya baik imut dan Hal baik lainnya jadi angkuh dan dan kejam *sulit ngebayangin*
    But over all good job Thor

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s