Can’t You Stay By My Side? (Oneshot)

Disclaimer: FF ini terinspirasi dari lagunya JYJ – In Heaven. Jadi, maklumin aja jika ada kesamaan adegan dengan di MV-nya JYJ, walau pun ada beberapa adegan yang saya tambahkan. Tapi, ini murni pemikiran saya kok.

 

Main Cast:

  • Park Yoochun ‘JYJ’
  • Song Ji-hyo

Genre: Romance, Fantasy

Yoochun mematut dirinya di hadapan sebuah kaca besar yang terdapat di dinding kamarnya. Tubuhnya kini dibalut setelan jas hitam dan di pergelangan tangannya melingkar sebuah jam tangan yang juga berwarna hitam. Sesekali, ia juga merapikan rambutnya. Setelah merasa puas, Yoochun menghela nafas.

Hari ini adalah hari terpenting dalam hidupnya. Ia yang bekerja sebagai auditor di perusahaan konsultan keuangan, akan melakukan presentase hari ini di depan para atasannya. Ini adalah kesempatan yang sangat langka sekaligus sangat berharga untuk Yoochun. Dan ia benar-benar tak mau melewatkannya sia-sia.

Lingkaran hitam yang ada di bawah matanya menjadi bukti kuat bahwa selama ini ia tengah susah payah begadang tiap hari untuk mempelajari segala sesuatu yang harus ia presentasekan hari ini. Dan ia sudah bertekad, tak ada satu hal pun yang bisa mengacaukan kesempatannya hari ini.

 

 

***

            “Nomor yang Anda hubungi sedang—” Untuk ke sekian kalinya, hanya operator yang menjawab.

Ji-hyo menghela nafas panjang. Sejak tadi pagi, ia berusaha menghubungi namjachingunya, Yoochun, namun pria itu tak pernah mengangkat teleponnya. Entahlah, Ji-hyo benar-benar tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Hatinya sudah lelah.

Sebulan terakhir ini, Yoochun selalu tidak memberi kabar padanya dengan alasan bahwa ia tengah sibuk dengan pekerjaannya. Ji-hyo memang bukanlah tipe gadis yang manja selalu meminta untuk ditelepon atau bertemu setiap hari. Tapi, setidaknya, ia hanya ingin Yoochun membero kabar padanya. Sayangnya, Yoochun tak melakukan itu.

Lagi-lagi, Ji-hyo menghela nafas berat. Ia menatap LCD telepon genggamnya dengan ragu. Jempolnya membimbingnya untuk menulis pesan kepada Yoochun.

Chagi, apakah kau sudah makan? Aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku harap kau akan menghubungiku secepatnya karena aku sangat merindukanmu. Apakah kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu? Saranghae…

 

 

 

***

            “Daebak! Jeongmal daebak, tuan Yoochun!”

Yoochun tersenyum puas ketika ia mendapatkan standing applause dari para atasannya di ruang rapat. Satu per satu dari mereka kemudian menyalami Yoochun atas keberhasilan dan kecerdasan Yoochun dengan ide-ide yang ia tampilkan di layar saat presentase tadi.

“Tadi benar-benar sangat hebat, Yoochun!” puji tuan Huiyeol, direktur perusahaan tempat Yoochun bekerja. Tak henti-hentinya pria tua itu tersenyum dan menyalami Yoochun dengan bersemangat.

“Gamsahabnida, sajang-nim. Aku memang berusaha untuk memberikan yang terbaik,” jawab Yoochun dengan tersenyum lebar.

“Aku yakin kedua orangtuamu pasti sangat bangga mendapatkan anak sejenius dirimu.”

Yoochun tertawa renyah. “Ne, mungkin saja.”

Setelah tawa keduanya mereda, tuan Huiyeol memukul pundak Yoochun. “Apakah kau sudah punya kekasih? Melihatmu seperti ini, membuatku ingin menjodohkanmu dengan anak perempuanku,” ujar tuan Huiyeol setengah berbisik.

Tiba-tiba saja Yoochun merasakan dadanya begitu sesak. Senyum yang sedari tadi tersimpul di kedua sudut bibirnya memudar seketika dan membawanya terbang jauh ke suatu tempat. Dan detik itu juga, Yoochun terlonjak kaget ketika telepon genggamnya yang ada di dalam saku celananya bergetar.

“Mian, tuan. Aku permisi sebentar untuk mengangkat telepon,” kata Yoochun pada tuan Huiyeol dan kemudian disambut anggukan setuju oleh pria tua itu.

Langkah Yoochun seketika terhenti ketika ia sampai di sudut ruangan. Ia merogoh saku celananya dan menatap LCD telepon genggamnya. Alisnya bertaut ketika tahu siapa yang menelepon.

“Yeobboseo?”

“Yoochun? Apakah kau sibuk?”

“Aniyo. Waeyo? Ada apa bibi meneleponku?”

Terdengar hening yang begitu pekat di seberang telepon. Setelah itu, terdengar isakan tangis yang saling bersahut-sahutan, membuat bulu kuduk Yoochun berdiri.

“Bibi, apa yang sebenarnya terjadi?” desak Yoochun, mulai tak sabar sekaligus penasaran.

Wanita diseberang telepon itu terlihat kelimpungan mengatur nafasnya. Ia kemudian menjawab lirih, “Yoochun-ah, Ji-hyo meninggal…”

 

 

***

            “Yoochun, apakah kau mencintaiku?”

“Kenapa kau tidak menjawabku?”

“Apakah kau tidak mencintaiku?”

“Waeyo?”

“Aku mencintaimu, Yoochun!”

 

“Argh!!” Yoochun terlonjak dari bangunnya dengan tiba-tiba. Sekujur tubuhnya kini basah akan peluh keringat. Nafasnya tersengal-sengal. Bulu kuduknya berdiri. Ia menyapukan pandangan ke sekelilingnya dan tak ada siapa-siapa disana kecuali barang-barang yang memang ada di dalam kamarnya.

Ia mengusap keringat yang ada di dahinya dengan punggung tangannya. Mimpinya tadi cukup membuatnya begitu shock. Ia mendengar suara Ji-hyo dengan jelas berbisik di kedua telinganya.

Sudah dua tahun berlalu sejak kematian Yoochun, dan bayang-bayang gadis itu masih terus menghantuinya. Sekelibat rasa bersalah kini menghampiri hatinya. Ia sadar bahwa ia terlalu banyak menyakiti Ji-hyo dan melupakan gadis itu. Singkatnya, ia terlalu egois.

Yoochun tak bisa membuang pemandangan menyeramkan saat di rumah sakit ketika ibu Ji-hyo memberi kabar tentang kecelakaan yang dialami Ji-hyo. Tubuh gadis itu terbujur kaku di atas tempat tidur. Wajahnya pucat pasi dan tubuhnya sedingin es. Matanya terkatup rapat.

Kabarnya, Ji-hyo meninggal karena ditabrak oleh mobil saat tengah menyeberang jalan. Entah apa yang mengusik pikirannya sampai gadis itu tak bisa berkonsentrasi dengan jalanan. Namun, Yoochun sebenarnya sudah bisa menebaknya. Kejadian itu terjadi tepat pada tanggal 8 Agustus 2008, pukul 11 siang. Dan saat itu, dimana Yoochun tengah melakukan presentase penting itu, tepat dimana Yoochun tidak menghiraukan Ji-hyo saat gadis itu berusaha menghubunginya. Singkatnya, kematian Ji-hyo disebabkan oleh dirinya.

Yoochun menjambak rambutnya, berusaha menenangkan bayangan menyeramkan itu yang terus melompat-lompat.

Pria itu bangkit dari tidurnya kemudian beranjak kearah dapur. Ia mengambil segelas air mineral dari kulkas dan langsung menenggaknya sampai tandas. Setelah itu, ia langsung bersiap-siap untuk melanjutkan pekerjaannya di kantor. Ia harap, kesibukannya bisa membuatnya lupa dengan bayangan Ji-hyo.

 

 

***

            Dering beker yang tidak tahu diri membangunkan Yoochun pagi ini, berteriak memanggil nyawanya untuk kembali bersatu dengan raga. Rasanya Yoochun sadar ketika secara oerlahan nyawa itu merasuki tubuhnya, diawali dari kakinya, kemudian naik sejengkal demi sejengkal, dan diakhiri dengan satu sentakan yang menyengat di dadanya ketika akhirnya nyawa itu berhasil masuk ke cangkang peraduannya.

Yoochun bangun dan terduduk di tempat tidur sambil mengucek-ucek matanya yang masih kasat akan kantuk. Dengan langkah berat, ia menyurukkan kakinya ke sandal tidur dan berjalan kearah dapur.

Saat pria itu membuka kulkas, ia mendesah kecewa ketika melihat kulkasnya kosong melompong. Tak ada bahan makanan yang bisa ia masak. Padahal, perutnya sudah berteriak menuntut haknya. Yoochun terduduk di kursi meja makan sambil berpikir, akan sarapan apa dia pagi ini.

Saat tengah asik berargumen dengan pikirannya, tiba-tiba saja bel pintu rumahnya berbunyi. Ia menjulurkan kepalanya kearah pintu depan dan menangkap siluet seorang wanita dari balik kaca pintu rumahnya yang kabur. Saat bel itu berbunyi lagi, Yoochun langsung berjalan kearah pintu.

“Ne, tunggu sebentar!” sahutnya.

Ketika pintu itu dibuka, nampak seorang gadis dengan potongan rambut sepanjang bahu tersenyum manis kearah Yoochun. Sementara Yoochun nampak mematung dan matanya seketika membulat ketika tahu siapa orang yang tengah berdiri di hadapannya sekarang. Ji-hyo.

Karena kesal melihat Yoochun yang dari tadi masih mematung dan tidak mempersilahkan dirinya masuk, Ji-hyo langsung menyeruduk tubuh pria itu mundur beberapa langkah dan langsung masuk begitu saja. Ji-hyo yang saat itu tengah membawa tas belanjaan, langsung menuju kearah dapur dan meletakkan bawaannya ke atas pantry.

Setelah berhasil mengatasi kekagetannya, Yoochun mengikuti langkah gadis itu kearah dapur. Dan raut wajahnya kembali pucat melihat Ji-hyo, yang seharusnya sudah meninggal, berdiri sehat di hadapannya.

“Waeyo? Mengapa kau melihatiku seperti itu? Seperti baru melihat hantu saja!” ujar Ji-hyo setelah menyadari Yoochun yang daritadi menatapnya takjub.

Yoochun menggeleng. “Ah, aniyo.”

Karena masih tak percaya dengan apa yang ia lihat, Yoochun berjalan pelan mendekat kearah Ji-hyo yang tengah sibuk mengeluarkan barang belanjaannya. Ia menatap gadis itu lekat dan memberanikan diri untuk menyentuhnya.

Ji-hyo menoleh dan menatap aneh kearah Yoochun ketika tangannya dipegang oleh pria itu. “Kau ini kenapa?”

Setelah berhasil meyakinkan dirinya sendiri bahwa gadis itu memang nyata, Yoochun tersenyum kegirangan dan langsung memeluk tubuh Ji-hyo dengan erat. Ji-hyo, yang walau pun merasa heran dengan kelakuan aneh Yoochun, hanya bisa tersenyum bahagia.

“Aku membelikan bubur untukmu,” kata Ji-hyo setelah pelukan Yoochun lepas dari tubuhnya.

“Jinjjayo?”

“Ne, kau mau?”

Yoochun tersenyum lebar kemudian mengangguk semangat. “Tentu saja.”

Keduanya duduk berhadap-hadapan di meja makan. Mata Yoochun tak sedetik pun lepas dari wajah Ji-hyo. Gadis itu pun demikian. Sambil menikmati buburnya, Yoochun berusaha menelaah apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa Ji-hyo bisa berada di hadapannya sekarang. Matanya terarah ke kalender yang ada di atas kulkas. Tanggal 8 Agustus 2008. Dahinya berkerut. Tapi, ia tak peduli. Yang jelas, ia masih bisa bertemu dengan Ji-hyo sekarang.

 

 

***

            “Yeobboseo?”

“Chagiya, aku merindukanmu!” ujar Yoochun di seberang telepon dengan suara yang dimanja-manjakan.

Ji-hyo hanya bisa tersipu malu. “Aku juga merindukanmu. Bukannya ini jam kerjamu? Kenapa kau meneleponku? Apakah tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa. Lagipula, pekerjaanku sedikit lagi akan selesai. Jadi, aku ingin mengobrol denganmu sebentar.”

Ji-hyo mengangguk-anggukkan kepalanya. “Oh ya, apakah kau tahu bahwa minggu depan hari apa?” tanya Ji-hyo berusaha memancing namjachingunya itu.

Yoochun terkekeh pelan. “Tentu saja, chagi. Hari jadi kita, kan?”

Ji-hyo ikut terkekeh pelan. “Ne.”

“Tenang saja, aku sudah menyiapkan segala hal untuk hari jadi kita,” kata Yoochun dengan nada yakin.

“Jeongmal?”

“Ne.”

“Apa itu?”

“Rahasia. Nanti juga kau akan tahu.”

 

 

***

            “Ahhhh!”

Ji-hyo merentangkan tangannya dan memejamkan mata. Ia berdiri di depan pantai yang dibatasi pagar kayu dan membiarkan wajahnya diterpa angin pantai.

“Chagiya!”

Ji-hyo menoleh ketika mendengar suara Yoochun dari balik punggungnya. Pria itu membawa dua buah es krim vanilla cup di tangannya.

“Ini untukmu,” kata Yoochun sambil menyerahkan es krim untuk Ji-hyo.

“Gomawoyo, chagi.” Ji-hyo langsung menyesap es krimnya. “Oh ya, kita akan kemana hari ini?”

Yoochun menjilat bibirnya yang belepotan karena es krim kemudian tersenyum. “Kita akan dinner romantis hari ini.”

“Jeongmal?”

Yoochun mengangguk.

Sontak saja Ji-hyo melompat kegirangan. Ia langsung melompat ke pelukan Yoochun dan bergelayut di leher kokoh milik pria itu.

Matahari mulai tenggelam dan saat-saat yang Ji-hyo tunggu telah tiba. Dinner romantis. Yoochun membimbing dan menggandeng tangan gadis itu masuk ke sebuah restoran mewah. Ji-hyo berani bertaruh Yoochun merogoh kocek cukup dalam untuk mem-booking tempat ini hanya untuk mereka berdua. Ya. Hanya untuk mereka berdua.

“Kau ingin makan apa?” tanya Yoochun sambil membuka buku menu.

“Apa pun yang kau pesan,” jawab Ji-hyo sambil tersenyum lebar.

Yoochun mengangguk kemudian memesan dua porsi steak daging sapi beserta satu botol champagne.

“Apa kau menyukai tempat ini?” tanya Yoochun sambil melihat ke sekelilingnya.

Ji-hyo mengangguk antusias. “Jeongmal joh-aheyo.”

Yoochun tersenyum puas. Ia kemudian meraih jemari Ji-hyo dan mengecupnya lembut. Ditatapnya gadis itu lekat-lekat.

“Apakah kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu? Saranghae, Ji-hyo…”

 

 

***

            Siang itu, Yoochun tengah sibuk berkutat di depan komputer ruang kerjanya. Saat tengah sibuk mengetik tiba-tiba saja telepon genggamnya bergetar di atas meja.

Ia tersenyum manis saat tahu siapa yang menelepon.

“Chagi,”

“Ne?” sahut Yoochun lembut.

“Hari ini, aku akan membuatkan makan malam untukmu. Aku akan datang ke rumahmu,” kata Ji-hyo di seberang telepon.

“Baiklah, aku akan pulang ke rumah sore nanti.”

“Baiklah. Aku akan pergi ke supermarket sebentar untuk membeli bahan makanan. Sampai berjumpa malam nanti, chagi.”

“Ne…”

Yoochun menutup teleponnya dan kembali berkutat dengan pekerjaannya.

 

 

***

            Ji-hyo mengambil salah satu keranjang belanjaan dari pintu masuk supermarket itu. Ia kemudian berjalan masuk dengan santai. Di telinganya kini tersumbat earphone berwarna kuning, sesekali ia juga bersenandung pelan mengikuti lirik lagu yang tengah ia dengarkan. Matanya kemudian jelalatan kesana kemari untuk memilih-milih bahan makanan yang akan ia buat malam nanti.

Setelah selesai membayar belanjaannya, Ji-hyo kemudian berjalan keluar dari supermarket. Sesampainya di pinggir trotoar, Ji-hyo menoleh kearah dan kiri. Tak ada satu mobil pun dan jalanan terlihat begitu sepi. Dengan langkah pasti, ia kemudian maju ke depan, hendak menyeberang.

Namun, tiba-tiba saja, dari arah kiri, samar-samar Ji-hyo mendengar suara deru mobil yang semakin lama terdengar begitu dekat meningkahi suara lagu yang kini bersenandung di telinganya. Dan… BRUKK!!

Tubuh gadis itu terpental jauh beberapa meter ke depan ketika bumper mobil itu tepat menghantam keras tubuhnya. Dan sesaat kemudian, terdengar teriakan dari para pejalan kaki yang saling bersahut-sahutan.

 

 

***

            Seusai mandi, Yoochun langsung menuju kearah ruang tamu. Ia melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Pria itu menggigit bibir bawahnya dan mulai khawatir karena Ji-hyo yang belum datang juga. Yoochun sempat menghubungi nomor Ji-hyo, namun hanya operator yang menjawab.

Ia juga sudah mengirim pesan singkat, namun hasilnya tetap sama. Tak juga dibalas oleh gadis itu.

Yoochun menghela nafas dan menyerah. Ia melangkahkan kakinya ke meja makan dan duduk termangu sendirian disana. Menunggu sedikit lebih lama lagi adalah jawaban yang tepat untuknya saat ini.

Ketika tengah menunggu, telepon genggam Yoochun kembali bergetar. Saat ia menatap LCD teleponnya, entah kenapa bulu kuduk Yoochun berdiri. Ia seolah kembali ke masa lalu yang tak ingin lagi ia temui.

“Yeobboseo?” sahutnya dengan suara bergetar.

“Yoochun-ah, apakah kau sibuk?”

“Aniyo. Ada apa bibi meneleponku?”

Seolah sudah bisa menebak apa yang akan terjadi, Yoochun kini bisa mendengar suara ibu Ji-hyo yang terisak di ujung telepon, membuat dirinya khawatir sekaligus panic.

“Ada apa, bibi? Jawab aku!” Yoochun bangkit dari duduknya. Tangisnya pecah.

“Ji-hyo sekarat…”

 

 

***

            Yoochun berlari secepat mungkin menyusuri koridor rumah sakit. Sesekali ia berusaha mengusap air matanya yang kini merembes ke pipinya dengan punggung tangan. Langkahnya seketika terhenti ketika ia melihat kerumunan orang tengah berkumpul tepat di depan ruang UGD. Dari jarak beberapa meter, Yoochun bisa mendengar obrolan orang-orang itu.

“Aku sempat berteriak pada gadis itu bahwa ada mobil yang sedang melaju cepat, tapi sepertinya dia tidak dapat mendengarku karena saat itu telinganya tengah tersumbat oleh earphone,” ujar salah seorang wanita bertubuh gempal.

“Akhirnya ia tertabrak dan tubuhnya terlempar jauh ke depan. Ia sedang mengalami pendarahan hebat sekarang. Aku bahkan tidak yakin bahwa ia bisa bertahan dengan kondisi seperti itu,” lanjut wanita itu.

Mendengar kalimat terakhir wanita itu, Yoochun langsung geram. Ia mengepalkan tangannya dan berjalan maju kearah wanita itu.

“Aniyo! Aniyo! Ji-hyo tidak akan meninggal. Berani sekali kau mengatakan hal seperti itu!” pekik Yoochun kesal.

Beberapa orang yang ada disitu berusaha menahan tubuh Yoochun agar pria itu berhenti meneriaki wanita itu, atau bahkan melakukan hal yang lebih dari itu.

“Ji-hyo tidak akan meninggalkanku! Dia tidak akan meninggal! Kalian semua bohong!”

 

 

***

            Yoochun membuka matanya perlahan. Matanya seketika memicing ketika melihat sekitarnya berwarna putih cerah. Ia harus mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali untuk terbiasa dengan cahaya terang itu. Setelah beberapa detik kemudian, ia tersentak kaget. Ia tak tahu ia tengah berada dimana sekarang. Karena semua yang ada disana serba putih. Pakaian yang dipakai Yoochun pun serba putih. Dan ia benar-benar tak mengerti apa yang tengah terjadi.

Tak berapa lama kemudian, Yoochun dapat menangkap siluet seorang wanita dari jarak beberapa meter di depan.

“Ji-hyo? Apakah itu kau?”

Setelah matanya terbiasa dengan penerangan cahaya itu, sosok itu semakin terlihat jelas. Dan memang benar, itu adalah Ji-hyo. Sama dengannya, gadis itu juga dibalut dengan pakaian serba putih. Tatapan matanya sendu dan penuh kasih sayang.

“Ji-hyo!” Yoochun langsung berlari kearah gadis itu dan memeluk tubuhnya dengan erat. “Kau masih hidup.”

“Tidak, Yoochun. Aku sudah meninggal,” kata Ji-hyo kemudian.

Yoochun melepas pelukannya dan menatap gadis itu bingung. “Apa maksudmu?”

Gadis itu tersenyum lembut. “Atau yang lebih tepat lagi, kita sudah meninggal.”

Yoochun makin tak mengerti. “Kita?

Ji-hyo mengangguk. “Mianheyo, Yoochun. Karena aku, kau sampai mengorbankan nyawamu sendiri untuk bertemu denganku disini.”

Yoochun menghela nafas berat. Ia kini akhirnya mengerti, namun ia tetap tersenyum juga. Diusapnya pipi gadis itu dengan lembut. “Tidak apa-apa, Ji-hyo. Asalkan aku bisa bertemu denganmu. Jadi, bisakah kau tetap disampingku dan jangan pergi meninggalkanku lagi?”

Ji-hyo tersenyum dan mengangguk. “Ne, aku tidak akan meninggalkanmu. Tidak akan.”

THE END

11 thoughts on “Can’t You Stay By My Side? (Oneshot)

  1. ceritanya bagus, aku ampe merinding
    aku juga buat cerita kayak gini, cuma pemerannya jihyo dan donghae suju, gabungan mvnya jyj sama boa itu lhoo
    wah karena di sini yoochun ya bukan junsu, ceritanya makin bikin sedih u.u
    yeobo~~

  2. serius deh chingu, aku ga ngertiii.. ToT
    maapin yah,, bisa tolong jelasin ga? itu yoochun gmna bisa meninggal juga?
    trus jihyo kenapa tiba2 dteng lagi?
    ahhh,,, aku ga ngerti sumpah..

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s