My Angel (Oneshot)

Main Cast:

  • Jessica Jung ‘SNSD’
  • Ok Taecyeon ‘2PM’

Genre: Romance

Sambil membawa keranjang cucian di pelukannya, Jessica mendorong dan membuka pintu depan rumahnya menggunakan kaki. Gadis itu terlihat kaget saat melihat Taecyeon, suaminya, tengah berbaring di atas rumput pekarangan rumah mereka, masih dengan menggenggam pemotong rumput. Ia hanya bisa tersenyum tipis, memaklumi. Diletakkannya keranjang cucian itu di lantai teras lalu menghampiri Taecyeon.

“Taecyeon-ah, Taecyeon-ah.” Diguncang-guncangnya bahu pria itu dengan lembut. Namun Taecyeon sama sekali tak bergerak dan membuka matanya.

Jessica menghela nafas. Ia menyerah. Gadis itu lalu memapah tubuh Taecyeon yang satu setengah kali lipat lebih berat dari tubuhnya dengan tergopoh-gopoh dan membawanya masuk ke kamar mereka di lantai atas.

“Fiuh~” Jessica mengusap keringatnya ketika meletakkan tubuh Taecyeon di atas ranjang. Diusapnya dengan lembut dan sayang rambut pria itu.

“Taecyeon-ah,” gumam Jessica dengan suara bergetar, “Apakah kau tahu… bahwa aku sangat mencintaimu?”

 

***

                Jessica mengangkat panci yang digunakan untuk merebus mie dengan serbet putih. Lalu diletakkannya panci berisi mie rebus itu di atas meja. Ia mendongakkan kepalanya dan memandangi suasana kamar di lantai atas. Masih sunyi senyap.

Gadis itu lalu beranjak menuju kamar itu. Ketika pintu dibuka, nampak Taecyeon masih tertidur di ranjang dengan begitu nyenyaknya. Wajah Taecyeon saat sedang tidur nampak polos bak seorang malaikat. Jessica tak bisa tahan untuk tidak mengulum senyum tiap kali melihat wajah Taecyeon yang sedang terlelap.

“Taecyeon-ah, Taecyeon-ah,” panggilnya sambil mengusap pelan rambut Taecyeon.

Taecyeon membuka matanya dengan perlahan. Pandangannya yang masih kasat akan kantuk dan agak ngantuk membuatnya tak bisa melihat jelas wajah Jessica.

“Aku sudah membuatkan makan malam untukmu. Aku harus pergi bekerja sekarang. Kau tidak apa-apa kan jika ku tinggal sendiri?” ujar Jessica lembut.

Taecyeon mengerang. Ia mengucek-ngucek matanya dengan bosan dan beranjak dari tidurnya. Ditatapnya wajah istrinya dengan serius lalu tersenyum tipis. “Ne, tidak apa-apa.”

Jessica menghela nafas. “Baguslah. Jangan lupa makan malam, ya? Aku akan pulang secepatnya.”

Pria itu hanya mengangguk.

Jessica lalu meraih tasnya dan mengecup pipi Taecyeon lalu akhirnya pamit untuk pergi bekerja. Dan ketika Jessica menghilang dibalik pintu kamarnya, Taecyeon mematung di atas ranjang. Tapi, tak berapa lama kemudian, ia beranjak keluar dari kamar dan menuju dapur.

Dilihatnya di meja makan sudah ada sepanci mie rebus dan semangkuk nasi, serta sumpit. Digesernya kursi meja makan itu lalu ditatapnya semua makanan yang ada di atas meja itu dengan tatapan kosong. Ia lalu meraih sumpit dan mulai memakan mie rebus itu dengan perlahan. Tak berselang lama, Taecyeon mulai merasa matanya seolah meredup dan rasa kantuk yang hebat mulai menyerangnya. Ia lalu menelungkupkan tangannya diatas meja, berhenti makan, dan tertidur.

 

***

                Jessica sampai di tempat ia bekerja dan menerobos kerumunan pria-pria di pub untuk mencapai tangga menuju kelab, tempat dimana ia bekerja sebagai pelayan. Band tradisional sedang memainkan lagu-lagu rakyat Korea favorit dan para pengunjung ikut bernyanyi penuh semangat. Saat itu baru pukul setengah delapan malam, jadi kelab itu belum resmi dibuka.

Ia segera mengganti pakaiannya dengan seragam kelab yang serba hitam. Diraihnya sebuah serbet dan kemoceng dari dalam gudang, lalu ia mulai berjalan kearah belakang bar dan menyusun satu per satu gelas sehingga menimbulkan denting yang begitu keras menggema di ruangan yang sepi itu.

“Permisi.”

Jessica merengut ketika mendengar suara berat seorang pria dari arah luar pintu kelab yang tertutup. Ia nampak bingung dan melirik jam tangannya sendiri. “Ini kan masih jam setengah delapan, kenapa sudah ada orang yang datang?”

Gadis itu meletakkan gelas-gelas yang tadi memenuhi tangannya lalu berjalan kearah pintu kelab dan membukanya. “Mianheyo, tapi kelab kami belum buka. Setengah jam lagi baru akan dibuka.”

Terdengar hening untuk beberapa saat.

“Jessica, ini aku, Junsu!”

“Junsu?” gumam Jessica pelan. Ia segera membuka pintu dan menemukan kakak laki-lakinya berdiri di depannya sambil tertawa gugup. Mulut Jessica ternganga lebar, kaget bukan main melihat kakak lelakinya berdiri di depan kelab. Itu sesuatu yang jarang terjadi, bahkan bisa dibilang mustahil.

“Boleh aku masuk sebentar?” Junsu menunjuk ke dalam ruangan kelab yang kosong itu.

Jessica mengangguk ragu. “Boleh.”

Jessica kembali berdiri ke belakang bar dan sibuk merapikan gelas-gelas dan Junsu duduk diam sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kelab itu. Seusai merapikan gelas-gelas itu, Jessica ikut duduk berhadapan dengan kakak lelakinya dan menatap pria itu sembari meneliti penampilan Junsu malam itu.

Gaya kakak lelakinya malam itu sangat kaku mengingatkan Jessica pada guru matematikanya dulu, mengenakan cardigan rajutan warna cokelat, dipadu dengan celana panjang cokelat yang sangat pas dikenakan dengan sepatu cokelat mengilap. Tidak ada sehelai rambut pun yang keluar jalur semuanya tersisir rapi. Kuku-kuku jarinya juga bersih sempurna. Jessica bisa membayangkan Junsu mengukur panjang kukunya dengan penggaris kecil setiap malam, untuk memastikan panjangnya tidak melebihi standar kuku jari di Korea—seandainya hal semacam itu ada. Penampilan Junsu sangat tidak cocok dengan suasana kelab.

Junsu juga tidak pernah terlihat rileks dan nyaman dengan dirinya sendiri. Ia selalu terlihat seperti terjerat dasinya yang diikat erat-erat di leher, dan selalu berjalan tegap, seolah-olah ada tiang yang dipancangkan di tulang punggungnya. Bila ia tersenyum, yang sangat jarang terjadi, matanya tidak pernah ikut tersenyum. Ia seperti sersan kepala yang galak, melatih diri sendiri dengan keras, memarahi dan menghukum dirinya setiap kali berubah menjadi manusia biasa.

Jessica meletakkan kedua tangannya di keran minuman, berpose bak bartender sejati. “Kau ingin minum sesuatu?” tanyanya sambil tersenyum tipis kearah Junsu.

Junsu menoleh. “Air mineral saja.”

“Cuma itu?” Jessica mengangkat alisnya tinggi-tinggi.

Junsu mengangguk.

“Hm, wajar saja. Kau kan tak tahu nama-nama minuman lainnya selain air mineral, kan?” gumam Jessica pelan.

“Apa kau bilang?” Junsu mengernyit tak suka.

Jessica buru-buru meralatnya. “Bukan apa-apa.”

Gadis itu lalu membuka kulkas di belakangnya dan mengeluarkan sebotol air mineral, lalu memberikannya pada Junsu.

“Terima kasih,” kata Junsu datar. Jessica mendengus.

“Jadi, ada apa kau datang kemari? Pasti bukan hanya untuk membeli air mineral, kan?” tanya Jessica kembali duduk di kursi belakang bar.

Junsu meneguk air mineralnya kemudian menjawab, “Aku hanya ingin melihat keadaanmu. Sudah beberapa bulan kita tidak bertemu sejak kau menikah dengan pria penyakitan itu.”

Jessica mengerutkan alisnya, tak suka dengan perkataan Junsu yang dinilai terlalu sarkatis mengumpamakan Taecyeon seperti itu. “Apa maksudmu?!”

“Ne, memang, kan? Lihat saja, sejak kau menikah dengannya, kau harus bekerja seperti ini hingga larut malam. Padahal, seharusnya dia yang bekerja dan mencari uang.” Junsu mendorong bingkai kacamatanya ke puncak hidung dan menatap Jessica lekat-lekat. “Apa kau merasa tak dimanfaatkan olehnya?”

Jessica mulai naik pitam. Ia memukul meja bar dengan keras lalu bangkit dari duduknya, balas menatap Junsu dengan tajam. “Bisakah kau berhenti mengatakan hal yang buruk tentangnya? Aku tak pernah merasa dimanfaatkan olehnya. Aku bekerja karena kemauanku sendiri, bukan dia yang menyuruhku!”

Suara Jessica melengking tinggi, menggema memenuhi sudut-sudut ruangan yang sepi itu.

Junsu tersenyum sinis. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. “Berhenti sia-siakan hidupmu Jessica. Aku tak mau melihat kau menghabiskan waktumu hanya untuk merawatnya dan bekerja untuknya. Apakah kau bahagia dengan semua itu? Aku rasa tidak.”

Jessica mengepalkan tangannya dengan kesal, berusaha untuk terlihat tenang agar tidak kehilangan kesabaran. Ia duduk membeku di kursinya karena shock. Rasanya tidak percaya Junsu tega mengatakan hal itu kepadanya. Ia merasa terhina dan sakit hati, dan ingin sekali menendang kakaknya keluar dari kelab itu. Ia sudah malas bersikap sopan lagi pada Junsu dan ia jelas tidak berniat menjelaskan pada kakaknya yang selalu berpikiran sempit.

“Tidak, Junsu. Aku tak pernah menyesal dan merasa menyia-nyiakan waktuku hanya untuk merawatnya. Asalkan aku bisa bersamanya, itu sudah cukup membuatku bahagia,” ujarnya dengan suara dan bibir bergetar.

Suasana terasa sangat tegang. Tiba-tiba Junsu menepuk lututnya menandakan akhir pembicaraan. “Sebaiknya aku pergi sekarang. Aku harap, kau memikirkannya kembali, tentang kehidupanmu,” katanya, berdiri dan meregangkan tubuh dengan sikap berlebihan, seolah sudah berjam-jam duduk terus.

Jessica hanya diam dengan rahang terkatup rapat. Gadis itu mengawai kepergian kakaknya yang menghilang dari balik pintu dengan mengkal, lalu membanting pintu itu keras-keras. Pria itu membuat darahnya mendidih sampai rasanya ia ingin sekali menonjok wajah Junsu tadi. Junsu benar-benar tidak punya perasaan dalam segala hal.

 

***

                “Aku pulang.”

Jessica membuka pintu rumahnya lebar-lebar dan mendapati Taecyeon tertidur di meja. Ia segera menghampiri pria itu dan menggelengkan kepala ketika melihat mie rebus buatannya beserta semangkuk nasi yang ia siapkan sore tadi tak tersentuh sama sekali. Ditatapnya wajah Taecyeon sambil menghela nafas.

“Taecyeon-ah, Taecyeon-ah.”

Taecyeon menggeliat dan membuka matanya. “Jessica? Kau sudah pulang?”

Jessica merengut tak senang. Ia menggeser kursi meja makan dan duduk di samping suaminya. “Kenapa kau tidak makan makanan buatanku? Bagaimana jika kau sampai jatuh sakit?”

Taecyeon menatap mie rebus dan nasinya yang sudah dingin dengan bingung. “Aku… tidak tahu.”

Jessica menelan ludah. “Mau aku suapi?”

Pria itu mengangguk manja. Jessica tersenyum hangat lalu mulai menyuapi pria itu dengan perlahan. Sesekali keduanya bertukar senyum ketika Taecyeon hendak membuka mulutnya lebar-lebar dan menerima suapan dari Jessica.

Seusai makan malam, Jessica mengantar Taecyeon kembali ke kamar dan mengipas-ngipasi kepala pria itu sampai pria itu kembali tertidur. Hatinya terenyuh dan tak bisa menahan rasa sakit yang ada di dadanya tiap kali melihat wajah Taecyeon yang sedang tertidur.

 

***

                Diluar sudah sangat gelap. Jessica tak dapat lagi melihat pohon di luar jendela kamar dan kelopak matanya terasa berat. Ia mendekatkan tangan ke wajah dan menggosok matanya agar tetap terbuka. Jari-jari tangannya terasa kaku dan tak dapat dilipat dengan mudah karena udara dingin yang menusuk tulang-tulangnya.

Jessica menahan nafasnya untuk beberapa detik. Dan saat itu juga, seolah waktu juga ikut berhenti sehingga udara pun berhenti untuk mendengarkan detak jantungnya. Kehampaan yang mencekam lalu menyeruak di dalam dadanya, membuat pelupuk matanya kini digenangi oleh air mata. Matanya mulai mengabur oleh air mata dan ia tak bisa menghentikannya.

Ia menatap Taecyeon yang terlelap di belakangnya dan terisak. Matanya lalu tertuju pada bungkusan-bungkusan obat yang ada di samping tempat tidur dengan putus asa. Sejak Taecyeon divonis mengidap penyakit *Narkolepsi, Jessica selalu merawat pria itu dengan tulus. Ia selalu merasa bahagia bahkan bila terkadang jika ia sedang sibuk mengobrol dengan suaminya, tahu-tahu Taecyeon sudah tertidur di belakang punggungnya. Mereka nyaris tak bisa membagi waktu bersama-sama seperti waktu mereka bertemu dulu. Dulu. Sebelum Taecyeon divonis menderita penyakit itu.

Sungguh, tak pernah sekali pun Jessica merasa menyesal telah memiliki Taecyeon dalam hidupnya, meski pria itu serba kekurangan. Ia justru bahagia karena bisa memiliki pria itu. Yang ia inginkan hanyalah bisa bersama pria itu selamanya dan memeluk serta mendekapnya. Tak ada yang lain.

 

***

                Jessica langsung meloncat turun dari tempat tidur, mengenakan kaus dan celana pendek, dan melesat turun ke lantai bawah saat ia sadar Taecyeon tak berada di sampingnya. Sesampainya di lantai bawah, ia mendapati Taecyeon sedang sarapan pagi sambil menonton TV.

“Selamat pagi,” sapa Taecyeon sambil tersenyum lebar.

Jessica balas tersenyum dan berlari memeluk, menggelayut manja di leher kokoh pria itu. “Selamat pagi juga.” Ia membungkuk dan mengecup pipi pria itu lembut.

“Mau?” Taecyeon menyendokkan bubur buatannya ke depan wajah Jessica.

Jessica menggeleng. “Tidak, untukmu saja.”

“Baiklah.” Taecyeon lalu menyuapi mulutnya sesuap bubur itu. Wajahnya tampak sangat cerah, seolah tubuhnya telah diisi oleh energi yang begitu banyak.

“Taecyeon-ah, hari ini aku ingin jalan-jalan. Kau bisa menemaniku, kan?” tanya Jessica sambil ikut duduk di meja makan bersamanya.

“Hm, tentu saja bisa.”

Gadis itu menyeringai lebar. “Kalau begitu cepat habiskan sarapanmu, lalu kita pergi.”

 

***

                Sambil berpegangan tangan, Jessica dan Taecyeon menyusuri jalanan Seoul sembari tak henti-hentinya terus bercerita panjang lebar. Sepanjang obrolan berlangsung, hanya Jessica yang terus-menerus berbicara. Entah itu ia menceritakan tentang pelanggan kelab yang menyebalkan atau tentang perilaku aneh para dancer baru yang tampil di kelab. Selebihnya, Taecyeon hanya mendengarkan dan sesekali menggumam pelan, menandakan bahwa ia tengah mendengar cerita Jessica dengan baik. Padahal, matanya meredup karena rasa kantuk yang sedang menyerangnya. Tapi ia berusaha untuk tetap mendengar cerita istrinya sampai selesai.

“Aku ingin makan es krim. Kau mau, juga?” tawar Jessica sambil menunjuk sebuah toko es krim yang terletak di sudut jalan.

Taecyeon mengangguk. “Aku akan menunggumu di bangku taman sana.”

“Baiklah.”

Jessica lalu berlari kecil menuju toko itu dan membeli dua batang es krim vanilla. Ketika keluar dari toko, ia mendesah lega ketika melihat Taecyeon masih duduk disana dan tak tertidur. Tadinya ia khawatir, jika meninggalkan Taecyeon sebentar saja, pria itu bisa tertidur lagi.

“Ini es krim mu.” Jessica menyerah sebatang es krim pada Taecyeon dan mulai menjilati es krim miliknya sambil ikut duduk di samping pria itu.

Taecyeon meraih es krim itu dari tangan Jessica dan ikut menyesap es krimnya. Keduanya duduk sambil menikmati es krim masing-masing dalam diam. Jessica sibuk memerhatikan beberapa anak kecil yang tengah sibuk berlari kesana-kemari, bermain kejar-kejaran bersama beberapa orang anak lainnya di taman.

“Menurutmu, kapan kita akan mempunyai anak juga?” tanya Jessica.

Taecyeon tak menjawab. Terdengar hening yang begitu lama di antara keduanya. Jessica menoleh kearah Taecyeon tepat saat kepala Taecyeon bersandar di bahu Jessica dan tertidur. Es krim yang tadi digenggam oleh tangannya sudah jatuh ke atas tanah dan meleleh.

“Taecyeon-ah?” Jessica membelai rambut pria itu.

Pria itu membuka matanya, memperbaiki posisi duduknya dan menyahut dengan gelagapan. “Ne?”

Jessica menatap Taecyeon dengan cemas lalu tersenyum samar. “Kau baik-baik saja? Jika kau merasa sangat mengantuk, kita bisa pulang sekarang.”

Taecyeon menggaruk-garuk kepalanya dan menggosok-gosok wajahnya dengan kedua tangan. “Aniyo. Aku baik-baik saja. Jangan pulang dulu, aku masih ingin jalan-jalan denganmu.”

“Apa kau yakin?”

“Tentu saja.” Taecyeon tersenyum lebar dan segera menarik tangan Jessica. Mereka lalu berlari ke seberang jalan dan menghampiri sebuah toko yang menjual sepeda motor.

“Bagus, kan?” tanya Taecyeon sambil menunjuk sebuah sepeda motor skuter berwarna biru yang dipajang di teras toko itu.

Jessica mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah lalu menjawab. “Ne, bagus.”

Taecyeon mengangguk antusias. Matanya berbinar ketika menatap skuter biru itu. Jessica dapat menangkap suatu sinyal dari mata Taecyeon.

“Kau menginginkannya?” tanya Jessica pelan.

Taecyeon tertawa pelan. “Ani. Aku tidak punya uang untuk membelinya.”

“Aku bisa membelikannya untukmu,” kata Jessica sambil tersenyum.

“Mwo? Aniyo. Tidak usah.”

Jessica menyeringai. “Tidak apa-apa. Aku akan bekerja lebih keras lagi agar mendapatkan uang yang lebih banyak.”

Taecyeon terdiam. Ia menatap sepasang mata sendu milik Jessica yang selalu menatapnya tulus dan penuh kasih sayang.

“Ayo kita pulang! Kau pasti sangat letih!” Jessica meraih lengan Taecyeon dan menariknya pergi dari situ.

Sepanjang perjalanan pulang, Taecyeon kembali hanya diam. Bukan karena ia berusaha menahan kantuknya, tapi hatinya terasa sangat sakit. Ia baru sadar selama ini Jessica sudah mengorbankan begitu banyak hal untuknya tapi ia tak pernah memberikan apa-apa pada gadis itu, selain hanya penyakit yang ia derita.

 

***

                Sinar matahari pagi menyentuh jendela dan kebisingan terdengar dari dalam kamar, diikuti gerakan menggeliat Jessica di atas tempat tidur. Tangannya meraba-raba ke samping tubuhnya, dan lagi-lagi ia tak menemukan Taecyeon di atas tempat tidur.

“Taecyeon?” panggilnya sembari bangkit dari tempat tidur.

Tak berapa lama kemudian Taecyeon melongokkan kepalanya dari dalam kamar mandi sambil menyeringai lebar kearah Jessica.

“Apa yang kau lakukan didalam sana?” tanya Jessica.

“Tada!” Taecyeon lalu keluar dari dalam kamar mandi dalam balutan setelan jas hitam putih yang rapi. “Lihat, aku tampan, bukan?”

Jessica nampak terkesiap dan mengernyit tak percaya. Ia berjalan mendekat kearah pria itu dan menyentuh dadanya yang bidang.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa memakai jas seperti ini?” tanya Jessica terbata-bata.

“Aku ingin pergi melamar pekerjaan.”

“Mwo? Melamar pekerjaan?” Jessica meneliti raut wajah Taecyeon. Keramahan di sekeliling mata pria itu tak dapat menyembunyikan rasa kasihan yang gadis itu tahu dirasakan oleh Taecyeon. Jessica ingin mengatakan pada suaminya bahwa ia tidak apa-apa, tapi Taecyeon menyela kata-katanya.

“Kali ini, aku yang harus bekerja untukmu. Kau harus istirahat juga. Lihat,” Taecyeon memegang kedua bahu Jessica dan menatap gadis itu dari bawah keatas lalu mendecak. “Kau sudah kurus sekali karena keletihan bekerja.”

“Tapi, apa kau tidak apa-apa? Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? Apakah kau mau aku temani?”

Taecyeon segera menggelengkan kepala. “Tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri.”

“Tapi—”

“Ayolah!” Taecyeon mengerang seperti anak kecil. “Aku bukan anak-anak lagi. Apakah kau tidak percaya padaku?”

Jessica menggigit bibir bawahnya. Ia menatap Taecyeon dengan cemas. Tapi pria itu berbalik menatapnya dengan tatapan memohon, membuatnya tak tahan untuk bertatapan lama dengan pria itu.

Jessica menghembuskan nafas. “Baiklah. Asal, kau harus berhati-hati dijalan. Mengerti?”

Taecyeon menyeringai lebar dan berpose hormat kearah Jessica. “Siap, nyonya! Aku pergi dulu!” Pria itu lalu mengecup lembut ujung hidung Jessica dan menghilang dari balik pintu.

 

***

                Ketika menginjakkan kaki di perusahaan tempatnya akan melamar kerja, Taecyeon menarik nafas lalu menghembuskannya kuat-kuat. Ia bisa merasakan jantungnya berdegup begitu kencang, seolah-olah suatu saat jantungnya bisa saja melesat keluar dari sana dan merobek dadanya.

Sebelum masuk ke dalam, Taecyeon mengecek penampilan terakhirnya di depan kaca pintu masuk perusahaan itu lalu tersenyum puas. Setelah itu, ia masuk ke dalam dan hampir saja mati berdiri saat melihat ratusan pria tengah duduk mengantri di bangku-bangku yang ada di depan ruangan wawancara.

Taecyeon tertegun dan memandang semua pria-pria itu dengan raut wajah tegang sekaligus khawatir. Ia sempat merasa patah arang ketika melihat begitu banyaknya pria yang juga ingin melamar pekerjaan. Taecyeon menghela nafas. Pasrah. Dengan langkah berat, ia melangkah dan ikut duduk bergabung bersama para pelamar kerja lainnya.

 

***

                “Ok Taecyeon!”

Tak ada yang menyahut. Semua pria yang ada di ruangan itu melongokkan kepalanya ke segala arah, mencari seseorang bernama Ok Taecyeon. Tapi, orang yang dipanggil tak kunjung menyahut juga.

“Apakah tidak ada yang bernama Ok Taecyeon disini?” ulang petugas yang mendata nama-nama pelamar kerja siang itu.

“Mungkin saja dia sudah pulang,” sahut salah seorang pria.

Petugas itu menganggukkan kepalanya. “Baiklah. Kalau begitu lanjut ke pelamar berikutnya. Hwang Jin-young!”

“Ne!” Seorang pria berperawakan pendek dan gemuk bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam ruang wawancara.

Sementara Taecyeon, duduk tertidur di bangku itu. Tak menyadari namanya telah dipanggil.

 

***

                Jessica mengetuk-ngetukkan jemarinya ke atas meja makan dengan resah. Hari hampir malam tapi Taecyeon tak kunjung pulang juga dan membuatnya khawatir. Apakah ia baik-baik saja? Jangan-jangan ia tertidur di dalam kereta dan lupa jalan pulang?

Jessica semakin panik. Tapi, setiap kali mengingat bayangan Taecyeon tadi pagi, perasaan panik dan khawatir itu perlahan-lahan mulai hilang juga. Ia akhirnya memilih untuk menyibukkan diri dengan membersihkan rumah.

Gadis itu naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamar. Ia melongokkan kepalanya ke dalam kolong ranjang dan meraih beberapa kardus besar berisi CD koleksi Taecyeon. Ia sudah memutuskan untuk membuang saja semua CD milik Taecyeon, toh pria itu tak pernah lagi mendengarkannya.

Dengan tergopoh-gopoh Jessica membawa kardus besar itu ke dalam pelukannya dan berusaha menuruni tangga dengan susah payah. Tapi tiba-tiba saja, saat ia melangkahkan kakinya ke anak tangga berikutnya, kakinya tergelincir dan akhirnya gadis itu tersungkur jatuh dari tangga dan tak sadarkan diri.

 

***

                “Tuan? Tuan?”

Taecyeon mengerang ketika merasa tubuhnya diguncang-guncang oleh seseorang. Ia tersentak kaget saat melihat seorang OB berdiri tepat di hadapannya.

“Mianheyo, tapi, apakah Anda akan tetap terus disini? Saya hendak mengunci kantor sekarang,” kata OB itu sopan.

“Ne? Mengunci kantor?” Taecyeon mengedarkan pandangannya ke segala arah dan tak menemukan siapa-siapa disana kecuali dirinya dan OB itu. “Mana semua orang? Bagaimana dengan wawancaranya?”

OB itu mengerutkan alisnya. “Apa maksud Anda? Wawancaranya sudah selesai sejak dua jam yang lalu.”

Taecyeon terlonjak dari duduknya. “Mwo? Tapi, aku…”

“Ada apa? Anda tertidur, ya?”

Taecyeon terlihat bingung. Karena tak tahu harus menjawab apa, ia hanya bisa mengangguk dengan ragu.

“Hm, mianheyo. Tapi Anda harus segera pulang sekarang, karena aku akan mengunci kantor ini.”

Taecyeon mendesah kecewa lalu mengangguk.

 

***

                Lampu teras rumahnya belum dinyalakan. Suasana rumah tampak sangat temaram dan gelap. Taecyeon mengerutkan alisnya. Ia mengetuk-ngetuk pintu tapi Jessica tak kunjung membukakan pintu untuknya. Ia mencoba mengintip dari balik jendela, tapi suasana di dalam terlalu gelap, ia tak bisa melihat apa-apa kecuali bayangan-bayangan benda yang dipantulkan oleh cahaya bulan.

“Jessica! Jessica!” Taecyeon menggedor-gedor pintu dengan panik. Perasaannya mulai tak enak. Karena tak juga mendapat sahutan, Taecyeon terpaksa mendobrak pintu. Dengan gerakan terburu-buru, ia mencari saklar lampu di tengah gelap gulita. Tak jarang kakinya terbentur dengan sudut meja atau kursi, membuatnya meringis kesakitan.

Ketika lampu menyala, Taecyeon tersentak saat melihat tubuh gadis yang ia cintai tergolek lemah di atas lantai dengan kepala penuh darah.

“Jessica!” Ia menghampiri gadis itu dan mengguncang-guncang tubuh Jessica dengan keras. Tapi gadis itu tak memberi respon sama sekali dan membuat Taecyeon semakin panik.

Ia lalu menggotong tubuh Jessica ke luar rumah dan berteriak-teriak ke rumah tetangganya.

“Ahjussi! Ahjussi! Tolong aku!” teriak Taecyeon dengan suara lirih.

Tak berapa lama kemudian, seorang pria tua keluar dari rumah itu. “Ada apa? Ya Tuhan!” Pria tua itu terkejut melihat kepala Jessica yang penuh oleh darah. “Apa yang terjadi dengan Jessica?”

Taecyeon tak menjawab. “Aku pinjam motormu sebentar. Aku akan membawa Jessica ke rumah sakit sekarang.”

“Baiklah. Silahkan saja.”

Dengan gerakan terburu-buru, Taecyeon lalu mendudukkan tubuh Jessica bersandar pada punggungnya dan menderukan motor itu ke jalanan, menuju rumah sakit. Dengan kecepatan tinggi, ia melajukan motor itu, membiarkan angin malam menerpa wajahnya.

Tapi, lagi-lagi Taecyeon merasakan rasa kantuk yang hebat kembali menyerangnya. Pandangannya serasa kabur dan matanya mulai meredup. Ia benar-benar tak bisa berkonsentrasi membawa motor. Dan tiba-tiba saja, matanya tiba-tiba terbuka lebar ketika ia sadar bahwa cahaya lampu mobil kini tepat berada di hadapannya.

Pria itu membelok secara tiba-tiba kearah kiri dan menabrak trotoar, membuat tubuhnya dan Jessica terlempar jauh ke jalan. Setelah itu ia juga ikut tak sadarkan diri.

 

***

                Taecyeon mengerjap-ngerjapkan matanya berulang-ulang kali. Pandangannya masih terasa kabur. Ia bisa merasakan kepalanya kini dililit oleh perban yang cukup tebal. Telinganya bisa menangkap suara-suara teriakan histeris dari luar kamar rawatnya.

“Dia sudah membunuh adikku! Dia sudah membunuh adikku!” Terdengar suara Junsu berteriak-teriak diluar sana.

Taecyeon lalu terloncat dari tempat tidur. Ia terengah-engah tanpa sebab, lalu segera berlari keluar kamar. Di koridor rumah sakit ia bisa melihat Junsu menangis disana sambil menendang-nendang tembok. Saat Junsu menyadari Taecyeon juga berada disana, ia langsung menghampiri Taecyeon dan melayangkan tinjuan keras di pipi Taecyeon membuat pria itu tersungkur jatuh.

“Dasar pria brengsek! Kau sudah membunuh adikku! Kau pembunuh! Kau pembawa sial untuk adikku!” Sumpah serapah Junsu terdengar begitu menyakitkan untuk Taecyeon. Dadanya terasa sangat sakit dan sesak. Ia terduduk dan menangis.

“Jangan berpura-pura menangis, bajingan! Kau pasti senang karena Jessica sudah meninggal!”

Taecyeon merasa tubuhnya terjatuh lemas seolah tak ada tulang yang menyangga tubuhnya. Setelah suasana mulai terkendali, Junsu dipaksa oleh beberapa orang suster dan dokter untuk istirahat, Taecyeon memilih untuk tetap di rumah sakit.

Ia berjalan kearah ruang UGD, tempat dimana jasad Jessica masih disimpan disana. Ditatapnya tubuh tak bernyawa itu dengan perasaan hancur. Mata Jessica terpejam rapat. Tubuhnya sangat kaku dan dingin. Taecyeon kembali menangis sepanjang malam itu disisi jasad Jessica, seolah itu bisa menghidupkan Jessica kembali. Dan setelah lelah menangis, ia akhirnya tertidur.

 

***

                Angin malam memainkan anak rambutnya. Taecyeon menatap pohon yang ditanam Jessica dan dirinya dulu di pekarangan rumah lewat jendela kamar. Sudah seminggu sejak Jessica pergi, tapi Taecyeon masih belum bisa melupakan gadis itu.

Air matanya mengalir. Dan matanya masih terus menatap pohon itu. Dulu, keduanya tak pernah tahu apa nama dan jenis pohon yang mereka tanam. Pohon itu berdaun setelapak tangan. Bentuk daunnya sempurna seperti sebungkah hati. Indah seperti bentuk simbol cinta. Malam itu tangkau daun itu menggantung siluet bentuk hati di sepanjang dahan dan ranting. Membuat rimbun seluruh batangnya.

Pohon itu sedang berbunga. Bunga yang elok. Membuat kuning seluruh permukaan pohonnya. Dan wanginya semerbak memenuhi langit-langit malam. Memberikan aroma kesendirian yang menyesakkan. Mengingatkannya pada Jessica.

Taecyeon menghela nafas.

Ia meraih belasan butir obat dari dalam botol kaca yang terletak di samping tempat tidur. Digenggamnya seluruh butiran obat itu sambil terisak pelan. Ia merasa hidup ini tak berarti lagi tanpa kehadiran Jessica. Ia benar-benar putus asa. Selama ini, hanya Jessica lah yang menerimanya apa adanya. Selama ini, hanya Jessica lah yang mencintainya dengan tulus. Selama ini, hanya Jessica lah yang selalu mendengarkan keluh kesahnya. Tapi, sejak gadis itu pergi, Taecyeon seolah hanya segepok daging dan tulang yang tak bernyawa.

Sambil terus menangis dan terisak, Taecyeon memasukkan semua butir-butir obat itu sekaligus ke dalam mulutnya. Ia menelan semua obat-obat itu dengan paksa, dan sesekali membuatnya tersedak dan sesak nafas. Tak perlu menunggu lebih lama lagi, Taecyeon bisa merasakan kantuk yang teramat sangat. Kantuk yang ia rasakan jauh lebih berbeda dari yang bisa ia rasakan. Kantuk yang satu ini juga dibarengi dengan rasa sakit yang luar biasa. Setelah itu, ia memejamkan mata dan tidur… untuk selama-lamanya.

 

THE END

***

*Narkolepsi: serangan tidur, dimana penderitanya amat sulit mempertahankan keadaan sadar

30 thoughts on “My Angel (Oneshot)

  1. Yaampuuunnn… couple TaecSicca pertama yg saya baca dan inii sad romance!! huuuweeeeeee T.T
    awalny seneng krna suka ff yg kehidupannya udh nikah gtu eh mlh bgni jadinyaaa… huwaaaaa T.T

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s