[Shoneun Ai-Request] Is It The Way?

Author: Helmy a.k.a helmyshin1 a.k.a HelKey a.k.a helmymikyung

Main Cast: Shim Changmin DBSK, Cho Kyuhyun Super Junior

Suport Cast: Yunho, Jaejong, Junsu, Yoochun, Yesung, Ryeowook, Leeteuk, Donghae, Eunhyuk, Sungmin.

Genre: Shoneun Ai, AU, Romance, Friendship

Rating: PG-15

Lenght: Oneshoot

Disclaimer: FF ini hanya imajinasi author semata. Tidak ada maksud untuk menjelek-jelekkan pihak manapun! Ini juga FF Shoneun Ai pertama author, jadi mian kalo nanti kesannya rada aneh.

Shin1’s Note: Buat Lia Eonni (Lee Tae Ri) yang udah ngrequest FF ini, mian banget sebelumnya karena jadinya lama, soalnya akhir-akhir ini jadwal sekolah lagi padet. Mian juga kalo entar Ffnya mengecewakan! Ide lagi mepet.. hehe.. *bow

DON’T LIKE? DON’T READ!

27 Mei 2006

Penampilan perdana salah satu boyband Korea Super Junior bersama satu member baru mereka, Cho Kyuhyun berlangsung dengan meriah.

“Nampaknya para fans akan mudah untuk menyukainya,” tutur Yesung sembari berbisik kepada seorang namja yang tengah berjalan beriringan dengannya. “Semoga saja,” balas namja bernama Park Jungsu atau yang kerap di sapa Leeteuk itu.

Cklek,

“Annyeong.. Hai, magnae!” Tiba-tiba Leeteuk berseru setelah mengucap salam. Seorang pria dengan postur tubuh yang cukup tinggi dan berwajah manis memiringkan kepalanya sehingga dapat melihat dua pasang pria yang masing-masing menenteng sebuah kantong plastik putih transparan.

“Baru pulang belanja, hyung?” tanya si magnae sembari memamerkan evil smile kebanggaannya. “Ne.” Jawab Leeteuk dan Yesung nyaris bersamaan.

Tanpa mengucap apa-apa lagi, Leeteuk segera berlalu ke dapur, sedangkan Yesung berlari ke kamar mandi.

“Hei! Kemana yang lain?!” seru Leeteuk agak kencang, membuat Kim Ryeowook berhenti sebentar dari kegiatan mengiris sayurannya. “Pergi.” Balas Ryeowook.

Leeteuk meletakkan satu kantong plastik putih berisi bahan makanan ke atas meja lalu berkacak pinggang, “huh! Selalu saja pergi tanpa pamit!”

“Sudahlah.. lagi pula mereka tak akan hilang,” kata Ryeowook asal.

“Ne.. ne.. aku mau mandi dulu!”

“Mwo?! Jadi kau belum mandi dari tadi, hyung! Aigoo~ tak sadarkah engkau.. ini sudah pukul 11 siang!” cerocos Ryeowook sembari mengacung-acungkan pisau yang sedari tadi di genggamannya, namun, yang di omeli malah pergi berlalu tanpa memperhatikan sedikit pun.

 “Sudahlah, jagiiya.. tidak usah dipikirkan..” tiba-tiba Yesung berucap dengan lembut sambil mendekap Ryeowook dari belakang. Ia mengecup leher Ryeowook perlahan.

“Aish.. pergi! Aku sedang sibuk!”

“Huh! Baiklah.. aku akan pergi,”

***

“Uaaaah… selesai!” sorak Ryeowook saat melihat beberapa mangkuk dan piring berisi lauk-lauk di atas meja. Ia menyeka peluh yang mengalir di pelipisnya.

“Mmm.. Kyuhyun, kau sedang apa?” tanya Ryeowook beberapa saat kemudian saat bola matanya tak sengaja menatap Kyuhyun tengah duduk tenang di atas sofa sembari memainkan jemarinya di iPhone miliknya.

“Bermain game.” Jawab Kyuhyun begitu singkat.

“Oh..” Ryeowook hanya membalas dengan lirih. Baru saja ia mau melangkahkan kakinya kembali, namun sebuah teriakan menghentikan dirinya.

“Annyeong ……..!!!” suara melengking Changmin memecah keheningan.

“Aish.. tidak bisakah kalian masuk ke dorm orang dengan baik-baik?!” protes Ryeowook yang dibalas anggukan canda oleh Changmin dan kawan-kawan.

“Ne.. ne.. mian.. kami Cuma mau mengunjungi member baru kalian. Tidak apa-apa kan? Lagi pula kami juga belum kenal.” Sahut Yunho.

“Eeeh..” Kyuhyun segera bangkit begitu menyadari tamu yang datang. “Annyeonghaseo.. jeonun Cho Kyuhyun imnida! Bangeupseumnida!” sapa Kyuhyun seraya membungkuk.

“Sudahlah.. santai saja. Tidak usah terlalu formal.” Balas Junsu yang sedari tadi masih diam. “Ngh.. baiklah..” Kyuhyun hanya menurut.

“Hei.. mari duduk! Kenapa kalian berlima hanya diam saja?” ujar Ryewook. Sehingga, Yuho, Yoochun, Junsu, dan Jaejong mengambil tempat duduk tak jauh dari Kyuhyun, sementara Changmin hanya berdiri sambil memadangi Kyuhyun yang sama sekali tak memperhatikannya karena ia masih asyik dengan pekerjaannya, yaitu bermain game.

“Hei! Kenapa kau?!” hardik Jaejong melihat magnae-nya hanya bengong. “Ah, anii..” jawab Changmin kemudian lalu duduk di samping Jaejong yang kebetulan tempatnya kosong.

Lalu, datanglah Ryeowook dengan beberapa jus buah di nampannnya. “Uaaaah… tidak perlu repot-repot! Tapi kalau setiap hari begini juga tidak apa-apa!” seru Changmin yang segera bangkit menyahut salah satu gelas berisikan jus di nampan yang dibawa Ryeowook tadi.

“Hei.. pelan-pelan kalau minum! Kau bisa tersedak nanti!”

***

AUTHOR POV

Suatu sore yang damai. Ditemani semilir angin tanpa bunyi, juga siluet surya yang hendak beranjak dari singgasananya.

“Bila seseorang mempunyai perasaan cinta yang dalam kepada orang yang tidak mungkin mencintainya.. apakah orang itu.. mempunyai alasan untuk tetap.. mempertahankan cintanya?” Changmin menyuarakan kata hatinya dengan lirih, namun masih bisa didengar oleh seorang namja yang hanya beberapa senti lebih pendek di sebelah kanannya.

Namja itu masih diam, menunggu apa kalimat selanjutnya yang akan Changmin utarakan.

“Akankah bisa… dia tetap mencintai orang –yang dia tau- tidak mungkin mencintainya…” lanjutnya dengan nada yang sedikit bergetar. Tak jelas apakah kalimat itu mengutarakan sebuah pertanyaan ataukah sebuah ungkapan.

Changmin menghentikan langkah kakinya, membuat namja di sampingnya turut mengikuti. Ia menghela nafas cukup dalam, “mungkin memang tidak bisa..” lalu mendongakkan kepalanya menghadap langit. “Benar kan.. Jaejong.. hyung?” dan memiringkan kepalanya menatap namja itu.

“Eh?” Jaejong tersentak, tak menyangka akan pertanyaan Changmin.

”Heemmm..” Jaejong bergumam dengan beberapa jari tangan yang diusap-usapkan ke dagunya. “Tapi bagaimana dia bisa yakin kalau orang yang dicintainya itu tidak mempunyai perasaan yang sama dengannya? Memangnya dia sudah bertanya pada orang yang dicintainya itu?”

“Hhh.. tanpa bertanya pun, dia sudah tau jawabannya..” gumam Changmin dengan menunduk.”Jinja?! Memangnya dia tau darimana? Dia kan belum bertanya..” Jaejong sedikit menaikkan nada bicaranya.

“Entahlah.. tapi, jawabannya pasti begitu menyakitkan.” Kata Changmin. “Berarti dia adalah orang yang tidak mau menerima resiko dan tidak mau mencoba,” komentar Jaejong.

“Waeyo, hyung?” Changmin masih belum mengerti.

“Dia sembarangan memutuskan kalau orang yang dicintainya itu sama sekali atau tidak mungkin mencintainya, padahal dia belum pasti tau. Kedua, dia berkata kalau jawabannya pasti begitu menyakitkan, padahal dia belum bertanya, jadi, bagaimana dia bisa tau kalau jawabannya menyakitkan?!”

“Begitu yaaa…” Changmin bergumam untuk kesekian kalinya.

“Sudahlah.. kau pasti bisa!” Jaejong memberi semangat dengan menepuk pundak Changmin satu kali.

“Eh?” Changmin agak mendelik setelah Jaejong menyelesaikan kalimatnya.

“Haha.. ‘dia’ ? Siapa lagi kalau bukan kau?!”

“Aish.. hyung… kau ini..”

Drrrt… drrrrrt…

Tiba-tiba saja ponsel Changmin bergetar, membuatnya harus menekan tombol hijau diantara beberapa tuts handphone miliknya itu.

“Ne, hyung? Oooh.. baiklah. Tunggu aku. Annyeong..”

 “Ayo, hyung! Manager hyung memanggil kita!” seru Changmin, dan segera  berbalik hendak menuju kantor SM yang diikuti oleh Jaejong.

***

 “Haha.. sudah kubilang kan, kau tak akan bisa bermain game ini! Cobala yang ini kalau kau bisa!!!”

“Aaaah.. kau curang, Kyu! Aish..”

Sial. Kenapa dia begitu dekat dengan Sungmin?! Aaarrghh…

Look at me! Aku disini.. tidakkah kau sadar akan kehadiranku, hah?!

***

Mungkin aku sudah berusaha sekuatku untuk menghapus perasaanku. Tapi pada kenyataannya, aku sama sekali tak bisa membohongi diriku sendiri. Rasa yang sudah aku kubur dalam-dalam, bagai orang yang mengubur aib terbesar dalam hidupnya terbongkar sudah. Mungkin hanya karena alasan  yang konyol, tapi begitulah arti daripada rasa itu sendiri. Tak mengenal apapun, siapa pun, kapan pun, dan segala yang menghalanginya.

Cinta.

Ya. Satu kata yang mendefinisikan sebuah rasa. Sebuah rasa yang tak ingin mempunyai nama. Ada yang tau kenapa? Ya. Menurutku, nama saja tak cukup untuknya, walau nama itu bisa didefinisikan dengan begitu luas, tapi rasa yang diwakili oleh nama itu, mempunyai makna yang jauh lebih luas lagi.

Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang? Membiarkan rasa itu berkembang? Atau mencegahnya agar tetap menjadi sebuah kuncup rasa yang tak akan pernah bermekaran?

Satu keputusan.

Itu yang aku perlukan. Sungguh, begitu berat. Karena keputusan itu akan begitu berpengaruh untuk jalan hidupku.

Kenapa?

Jangan tanya. Itulah akibat dari kata “Saranghae”

***

Cklek,

Suara kenop pintu yang dibuka baru saja terdengar tepat satu detik yang lalu hingga seseorang bergegas masuk ke ruangan itu dan langsung menarik pergelangan namja tersebut. Tak peduli akan si namja yang terus-terusan bertanya kenapa atau apa tujuannya, juga beberapa keluhannya yang sempat terlontar karena orang itu menggenggam pergelangan tangannya terlalu kencang atau ia berjalan terlalu cepat untuknya.

Hingga mereka sampai ke sebuah tempat…

Glek!

Namja itu tersentak. Begitu terkejut akan apa yang mengalir di syaraf-syarafnya. Benarkah ini sungguh terjadi?

“Aa.. apa.. ii… ini?” tanya namja itu lalu mengedarkan pandangannya ke pantulan cahaya bulan di tenangnya permukaan air danau malam. Memperhatikan lagi sekelilingnya. Sebuah bentuk hati dari lampu-lampu kecil yang berkelap-kelip di tengah gelapnya malam.

“Jika aku tidak bertanya.. aku tak akan pernah tau jawabannya.” Perkataan orang yang mengajaknya tadi spontan membuyarkan lamunan singkatnya.

“HEI!!!” Gertak Yunho cukup keras sehingga membuyarkan lamunan Changmin. “Eh, oh, eh.. apa hyung?” Changmin menoleh ke Yunho yang duduk di samping kanannya. “Aish… kau ini. Apa yang kau perhatikan? Sejak Super Junior –dengan Kyuhyun- mulai tampil, kau terus-terusan melihat panggung. Ada apa sih?!” Yunho mulai penasaran.

“Tidak ada apa-apa. Hanya saja.. ternyata suara Kyuhyun begitu bagus!”

“Hah? Memangnya kau baru sadar akan hal itu? Dasar kau ini..”

Tidak. Bukan suaranya yang aku kagumi. Tapi.. entah ada apa dengan hatiku. Saat pertama kali aku melihatnya, seperti ada sesuatu yang menahanku untuk tidak mengalihkan pandanganku darinya. Saat tak sengaja aku menyentuhnya, seperti ada jutaan watt listrik yang menyambar diriku. Entah apa nama perasaan ini.

Tunggu.

Sepertinya aku tau.

Cinta?

Mungkinkah?

Tidak! Ini benar-benar tidak boleh terjadi. Sadarlah Shim Changmin! Sadar!!

 “So.. saranghae Cho Kyuhyun?” ucapnya lembut. Diraihnya tangan Kyuhyun yang masih agak menegang. Tiada sepatah kata pun yang bisa mereka utarakan. Hanya suara binatang malam juga lalu-lalang kendaraan yang mulai jarang yang menabuh gendang telinga mereka berdua.

Pluk

Kyuhyun menepis tangan orang itu dengan sangat kasar. “Kita itu sama-sama…”

“Aku tau!” orang itu memotong perkataan Kyuhyun sebelum ia sempat merampungkan kata-katanya. “Aku sudah pikirkan ini baik-baik.” Ia meyakinkan.

“Tidak.” Kyuhyun menjawab dengan singkat. Sesaat kemudian, “Aku harus pergi” ucapnya dan pergi.

Tak membiarkan hal itu terjadi, dengan cepat Changmin menarik pergelangan tangan Kyuhyun, membekap kedua sisi pipi namja itu dengan kedua telapak tangannya. Hingga akhirnya, bibir Changmin sudah menekan bibir Kyuhyun cukup kencang tanpa sempat Kyuhyun mengelak.

Nyaris Cho Kyuhyun tergoda oleh sensasi yang diberikan Changmin, tapi ia turut segera pergi darinya.

“DAMN!” umpatnya setelah mengelap bibir dengan punggung tangan kanannya yang putih itu.

-CHANGMIN POV-

Arrrghhh.. apa sebenarnya yang terjadi dengan diriku?! Aku tak tau apa ini. Pasti ada yang salah dengan perasaanku. Tapi.. apa?

Dia pasti akan selalu berfikir negatif tentangku. Padahal, apakah ia tak tau, kalau cinta tidak mengenal apa saja yang menghalanginya?!

Jadi apa yang harus aku perbuat?! Aku terlanjur tergila-gila olehnya.

Hhhhh……..

Ini keputusanku. Aku pasti bisa!

Membuatnya jatuh cinta padaku? Kenapa tidak?! Lihat saja Cho Kyuhyun, kau akan tau seberapa besar rasa ini padamu

Aaaarrrrrrrrrrrrgh…….

I’m so crazy ..

-CHANGMIN POV END-

Aku membencimu, Changmin. Sangat!

Kerlipan lampu yang cukup menyilakan mata menjadi teman bagi sekumpulan orang-orang yang berdansa ria di sebuah klub malam pinggiran kota.

Mungkin, di sini adalah salah satu tempat di mana ia bisa meluapkan sejuta kekesalannya tanpa ada yang tau siapa dirinya sebenarnya. Di sini, orang-orang hanya peduli dengan dirinya masing-masing, tak terkecuali namja yang hampir 2 jam sudah berdansa tidak jelas di tengah-tengah klub sembari sesekali meneguk sebotol bir –yang entah sudah ke berapa- yang berada di genggamannya.

Sampai bosan ponsel namja itu bergetar sedari tadinya, namun si pemilik ponsel tak setitik pun menyentuhkan jemarinya di ponsel itu.

Ddrrr… ddddrrrrt…

Apa lah yang membuat namja itu berhenti sejenak dari aktivitasnya, sehingga ia sudi untuk mengangkat panggilan telefon untuknya.

“Yeo.. yeoboseo..” ucapnya dengan suara yang parau.

“Hei! Di mana kau?! Ini sudah larut, kenapa kau belum kembali juga?!” bentak seseorang di seberang jaringan yang sangat terlihat kekesalan dari nada bicaranya.

“Haha.. larut? Benarkah? Apa kau baru sadar kalau ini sudah larut? Haha… pabo..”

“Kau ada di mana? Biar kami menjemputmu!” kali ini nada orang itu terdengar khawatir.

“Apa? Kalian mau ikut bersenang-senang di sini? Dengan senang hati aku akan menemani kalian. Di sini sangat menyenangkan. Seharusnya kalian ke sini sejak tadi.”

“Sudahlah! Sekarang katakan di mana kau berada!!”

“Aku?! Aku ada di… di tempat yang paling menyenangkan di dunia! Haha..!!”

Cklek,

Tanpa basa-basi namja itu segera menutup ponselnya, padahal orang yang menelfonnya sama sekali belum selesai berbicara dengannya.

-YUNHO POV-

“Eh?! Kalian baru pulang? Apa kalian tadi tidak bersama Changmin?” tanyaku sesaat setelah pintu dorm terbuka dan Jaejong juga Yoochun masuk ke dorm.

Awalnya mereka hanya diam dan memandang satu sama lain, lalu menjawab “Anii..” hampir bersamaan. “Waeyo?” tambah Yoochun.

“Dia belum pulang sejak senja.” Balasku. “Dan dia tidak menjawab telefon,” Junsu yang sedari tadi duduk di sofa melengkapi penjelasan singkatku.

 “Kau sudah menelfonnya?” tanya Jaejong tiba-tiba. Aku hanya menganggukkan kepala sehingga dia merogoh saku mantel hitamnya untuk mengeluarkan ponsel berwarna perak miliknya.

Tak berapa lama kemudian, terdengar suara namja dengan nada yang begitu parau saat Jaejong menempelkan ponsel itu di daun telinganya.

“Yeo.. yeoboseo..”

“Hei! Di mana kau?! Ini sudah larut, kenapa kau belum kembali juga?!” Jaejong setengah berteriak ketika mengucapkan kalimat itu.

“Haha.. larut? Benarkah? Apa kau baru sadar kalau ini sudah larut? Haha… pabo..”

 “Kau ada di mana? Biar kami menjemputmu!” kali ini nadanya itu terdengar khawatir.

“Apa? Kalian mau ikut bersenang-senang di sini? Dengan senang hati aku akan menemani kalian. Di sini sangat menyenangkan. Seharusnya kalian ke sini sejak tadi.”

“Sudahlah! Sekarang katakan di mana kau berada!!”

“Aku?! Aku ada di… di tempat yang paling menyenangkan di dunia! Haha..!!”

Cklek,

“Sial!!” Jaejong mengumpat cukup kencang. Sangat jelas jikalau ada beribu rasa kesal yang tersimpan dalam nadanya itu.

Kali ini, dia memandangi wajah kami satu persatu. “Kita harus mencarinya. Dia pasti ada di sebuah klub tak jauh dari Seoul. Lebih baik kita berpencar untuk mempersingkat waktu.” Usul Jaejong.

“Mwo?! Kau pikir klub malam di Seoul yang sebesar ini hanya ada beberapa saja?! Itu akan menghabiskan waktu yang banyak walau kita berpencar!” Yoochun tidak terima.

“Baiklah. Kita perkirakan. Kira-kira..di mana klub malam yang biasa Changmin kunjungi?” aku bertanya yang tidak jelas kepada siapa pertanyaanku ditujukan.

“Pasti ke suatu klub yang jauh dari keramaian..” Junsu menggumam dengan beberapa jemari tangan yang diusap-usapkan ke dagunya. “Aku tau beberapa klub yang seperti itu!” sahut Yoochun.

“Baiklah. Kau Yunho, kau bersama Yoochun, dan aku akan mencari bersama Junsu.” Usul Jaejong yang disetujui kami semua.

***

Yunho menancap gas mobilnya dengan begitu kencang. Kedua matanya selalu fokus dengan apa yang ada di depannya, sementara dua indra pendengarannya masih menyimak apa yang dikatakan oleh Yoochun.

“Ada tikungan ke kanan beberapa meter lagi, kau belok saja,” ujar Yoochun mengarahkan.

***

Sebuah mobil silver yang tak perlu ditaksir lagi berapa mahal harganya berhenti tepat di depan klub malam yang letaknya begitu terpencil. Tak lama kemudian, 2 orang namja keluar dari dalam mobil itu. Mereka segera masuk dan mengedarkan pandangan matanya ke seisi klub walau harus menerima resiko berhimpitan dengan banyak orang.

“Hei! Apa yang kau lakukan? Cepat kembali!” teriak Yunho tanpa memperhatikan keadaan di sekelilingnya dengan berlari ke arah seseorang yang tengah asyik bermabuk ria di tengah klub. Yunho segera menarik pergelangan tangan orang itu dan membawanya keluar dari kerumunan yang begitu ramai.

“Eh?”

Yoochun sedikit terkejut saat mengetahui bahwa Yunho dapat dengan cepat menemukan Changmin.

***

“Dia mabuk berat..” ucap Yoochun setelah menghela nafas dan menurunkan tubuh Changmin ke atas tempat tidur. “Pasti ada masalah yang berat..” Yunho mengutarakan pendapatnya, “ne” dan disetujui oleh Yoochun.

“Biarkan dia istirahat.” Kata Yunho lalu berjalan menuju dapur dan beberapa saat kemudian diikuti oleh Yoochun.

“Oh iya, kau sudah mengabari Jaejong dan Junsu?” tanya Yunho setengah berteriak kepada Yoochun. “Sudah. Mereka akan sampai sebentar lagi.”

***

Suatu siang dengan panas yang cukup menyengat di bumi Seoul, nampak beberapa namja yang menjadi pusat banyak perhatian duduk tenang di sebuah cafe pinggiran yang sebenarnya jauh dari keramaian.

“Ssst.. haruskah kita bertanya pada mereka?” bisik Jaejong ke satu namja di sampingnya, dan namja itu mengangguk walau pelan.

“Mm.. apa ada yang tau tentang masalah Changmin?” tanya Jaejong sehingga orang-orang yang duduk di sekitarnya refleks menghentikan aktivitas kecil yang mereka lakukan dan menyempatkan diri untuk fokus terhadapa Jaejong.

“Maksudmu?” seorang pria yang duduk berhadapan dengannya –Jaejong- menyuarakan pertanyaannya lebih dahulu.

“Tadi malam Changmin mabuk berat di sebuah klub pinggiran Seoul.. kami tidak pernah melihat atau pun menyangka dia bisa mabuk seberat itu. Pasti ada sesuatu yang membuatnya begitu tertekan hingga dia melakukan hal itu.” Terang Jaejong dengan nada yang agak lirih, sekedar untuk berjaga-jaga kalau-kalau ada paparazzi yang mengutip perkataannya.

“Jinja?! Apa mereka tidak bercerita apapun terhadap kalian?” selidik namja itu lagi. Jaejong mengangguk mengiyakan ucapan namja itu. “Dia bahkan sangat tertutup akhir-akhir ini, Leeteuk hyung.” tambah Yoochun.

“Lalu, sekarang bagaimana keadaannya?” kini Eunhyuk ganti bertanya.

“Dia sudah sadar tadi pagi. Tapi dia tidak mau berkata apapun, kami hanya membiarkannya istirahat lagi.” jawab Junsu.

“Hei, Kyuhyun! Kenapa dari tadi kau hanya diam saja? Tak memberi saran atau tanggapan sedikit saja kepada mereka..” protes Eunhyuk walau tidak terlalu ditanggapi oleh Yunho dkk. “Ah.. anii..” balas Kyuhyun lalu menyambar secangkir coklat hangat di depannya.

“Hei.. itu punyaku!” Protes Eunhyuk lagi. “Ehh.. mian..mian. Oh iya, aku ada urusan. Aku harus kembali lebih dulu. Annyeong!” lalu pergi begitu saja.

“Heh.. ada apa dengan Kyuhyun itu?” tanya Yoochun cukup lirih setelah mematiskan bahwa pendengaran Kyuhyun sudah tidak bisa menjangkau volume suaranya dengan jarak yang cukup jauh.

“Molla..” balas Leeteuk singkat.

“Oh iya.. lebih baik hari ini jangan mengungkit-ungkit masalah itu dengan Changmin. Mungkin dia benar-benar tertekan. Lebih baik biarkan dia menenangkan diri dulu.” usul Leeteuk.

“Baiklah. Terimakasih atas saran kalian.. kami pergi dulu. Annyeong..” ucap Yunho dan keluar cafe diikuti teman-temannya.

***

KYUHYUN POV

“Aish.. kenapa aku begitu khawatir mendengar berita tadi?! Apa mungkiiin..”

“ANDWAE!!!!!!!!!!”

Aku mengacak-ngacak rambutku sendiri dengan kasar. Sungguh terdapat sesuatu yang begitu mengganjal di dalam hatiku.

Akhirnya, aku memutuskan untuk merebahkan diri ke atas tempat tidurku. Memikirkan kembali semuanya dengan baik-baik.

“Oke Kyuhyun.. ini hanya rasa khawatir sebagai teman. As friend.. no more.” Batinku meyakinkan. Namun, jauh di dalam palung hatiku, aku benar-benar tidak yakin apakah ini sungguh jawabanku yang sebenarnya.

KYUHYUN POV END

Malam akan menggantikan singgasana sang mentari beberapa saat lagi, menggantikannya dengan sinarnya  yang putih nan suci. Ditemani hembusan angin dingin yang membawa beberapa namja memasuki area dorm yang besar.

“Annyeonghaseo…” ucap 5 namja cukup lirih lalu masuk ke dalam ruangan yang ada di depan mereka.

“Eh.. kalian?! Kenapa tidak bilang kalau kalian mau ke sini?” sahut seorang namja lain yang duduk di samping kanan sebuah ranjang tempat tidur yang terbuat dari kayu yang kuat, dan di atas tempat tidur itu duduk seseorang yang tak lain adalah Shim Changmin.

“Loooh.. kau ada di sini rupanya!” potong Sungmin. “Ah, dasar kau ini, pantas saja pamit belanja tapi tidak pulang juga. Ternyata kau ada di sini..” tambah Donghae dengan nada kesal. Sementara itu, Ryewook yang belum bangkit dari tempat duduknya hanya membalas perkataan teman-temannya dengan senyum simpul. “Mian, aku hanya khawatir dengan keadaan Changmin hyung..”

GLEK

Seperti sebuah sambaran petir di siang bolong. Entah ada apakah yang menyebabkan hati seorang Cho Kyuhyun bergetar hebat sesaat setelah Ryewook mengakhiri  kalimatnya dan menatap wajah Changmin lagi.

Padahal, tiada alasan yang masuk akal Kyuhyun untuk menuduh bahwa ada sebuah hubungan antara Ryewook dan Changmin. Tapi inilah yang terjadi. Kyuhyun tak bisa menahan hasratnya sendiri, namun, dengan cerdas ia bisa menyembunyikan emosinya terhadap orang-orang di sekitarnya.

“Aigoo~ Mian semuanya. Aku ada janji dengan seseorang. Aku sudah terlambat!” serunya dan segera berlari pergi, tak mempedulikan akan para hyungnya yang terus memanggil namanya hingga ia tak mendengarnya lagi.

A FEW DAY LATER

“Aku menyesal pernah mengenalmu..” ucap Kyuhyun lirih. Begitu lirih hingga hanya dia dan seorang di sampingnya yang dapat mendengarnya.

“Kenapa?” tanya orang di dekatnya itu.

Kyuhyun menghela nafas dalam yang pertama untuk hari ini. Beranjak dari tempat duduknya dan beralih ke arah jendela untuk menyibakkan kain yang menutupinya. “Think by yourself..” jawabnya singkat tanpa nada yang memperlihatkan ekspresi apapun.

Hening.

Memang kedua orang itu sengaja membuat suasana henyak agar mereka dapat tenggelam dalam pikiran masing-masing.

“Apa aku telah menyakiti hatimu?” tanya lagi orang yang duduk di dekat Kyuhyun dengan lembut, berusaha untuk tidak menyinggung perasaan Kyuhyun sendiri. Tapi, orang itu tak mendapat jawaban yang diinginkannya, karena, Kyuhyun masih saja memandang kosong hujan salju yang menghias malam Seoul.

“Mianhae..” orang itu menyuarakan nadanya lagi dengan sangat lirih namun dalam, walau tanpa Kyuhyun sadari, orang itu masih menunduk bersalah.

“SEBENARNYA KAU ANGGAP APA AKU?! PELARIAN, HAH?! KAU BILANG KALAU KAU MENCINTAIKU, TAPI TAK SEDEKIT PUN AKU MERASAKANNYA!! DAN KINI, KAU MALAH DENGAN ORANG LAIN. APAKAH ITU YANG DISEBUT CINTA, HAH?!”

Tanpa diduga, Kyuhyun menjawab dengan membentak kencang yang membuat orang tadi membelalakkan matanya.

Kyuhyun mencoba meredam emosi juga mengatur nafas dan detak jantungnya yang tak beraturan. Ia kembali memandang hujan salju dan membiarkan waktunya terus terbuang percuma.

BRAK!

Orang tadi menjatuhkan dirinya. Menunduk di belakang Kyuhyun dengan sangat dalam. “Mianhae.. mianhae.. aku sungguh tidak punya maksud seperti itu. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai pelarian maupun cinta sesaat. Aku benar-benar mencintaimu, Cho Kyuhyun!” terangnya dengan nada yang nyaris terisak.

“Mianhae? Apa itu akan menyelesaikan segalanya?” kali ini Kyuhyun malah ganti bertanya, belum mau untuk menengokkan kepalanya satu derajat pun.

“Mianhae. Itu memang tidak menyelesaikan segalanya. Namun, hanya itu yang mampu kuucapkan. Mianhae.. mianhae.. aku tidak tau harus berbuat apa lagi.”

TES!

Sebuah krystal cair bening jatuh begitu saja di atas tanah dengan cepatnya.

“Tapi.. kau bilang kau tidak mencintaiku. Namun kenapa kau seperti ini? Kenapa kau malah marah, Kyuhyun?! Aku juga bingung dengan sikapmu!”

“Karenaa..” Kyuhyun memotong ucapan orang itu.

Tik . . tok. . tik . . tok . .

Ia sengaja menggantikan jawabannya dengan detakan jarum jam unutk sementara, padahal orang tadi belum beranjak dari posisinya.

“Aku mencintaimu, Shim Changmin.”

***

“Aku mencintaimu, Shim Changmin.”

Benarkah ini yang aku ucapkan? Benarkah ini yang aku rasakan? Apa benar?! Seseorang .. tolong bantu aku untuk menjelaskannya. Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutku.

Aku .. aku tidak tau apa yang aku rasakan.

Jantungku berdetak begitu kencang saat aku bertemu dengannya. Aku tak pernah berkonsentrasi saat berhadapan dengannya. Dan yang membuatku yakin.. aku merasa terbakar saat ada seseorang yang mendekatinya.

Ya.

Aku mencintainya..

***

“Benarkah?” Changmin bangkit dengan perasaan setengah tidak percaya.

Kyuhyun membalikkan badannya perlahan. Cukup enggan sebenarnya karena ia tau kalau ia akan beradu mata dengan Changmin. Dan benar adanya.. itu benar-benar terjadi.

“Gomawo!”

Tanpa aba-aba, Changmin segera memeluk erat tubuh Kyuhyun seakan tak ingin ia kehilangan pemilik tubuh ini. “Terimakasih.. terimakasih.. terimakasih.. telah mencintaiku..”

Kyuhyun hanya tersenyum bahagia di balik tubuh Changmin. Ya. Sekarang dia tau apa makna cinta. Tak mengenal apapun, siapa pun, kapan pun, dimana pun, dan segalanya yang menghalanginya.

=END=

NO BASHING! NO SPAMMING! NO SILENT READERS!!!

10 thoughts on “[Shoneun Ai-Request] Is It The Way?

  1. Aigoo~ gomawo saeng :* … Hehehe…
    Aku suka character Changmin dan kyuhyun disini 🙂 … So sweet… Jeongmal gomawayo…

    Btw, koreksi dikit Ini genrenya Yaoi loh saeng bukan ShouAi . Soalnya kyuhyun disini kan sama-sama namja. Kecuali klo gender switch.

    Overall, i really love this story . Jeongmal gomawo saeng 🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s