December Painful

Author : Mira a.k.a Mira~Hyuga

Main cast : Lee Jinki, Choi Minho

Support cast : Kim Jonghyun, Kim Kibum (Key), Lee Taemin

Genre : Bromance, Friendship, Family, Sad (?)

Length : Oneshot

Rating : G/PG-13

Summary : “Jika kau memang berpikiran seperti itu, aku pun sama. Aku juga pernah berharap… tidak pernah hidup di dunia ini dan muncul begitu saja di hidupmu. Aku tahu dan mengerti bagaimana perasaanmu begitu kau kehilangan harapanmu. Sangat mengerti, Minho-ya. Aku juga pernah berpikiran untuk pergi dari hidupmu sejak saat itu. Tapi aku tidak ingin mengecewakan orang tua kandungmu, walaupun pada akhirnya aku tetap gagal, tidak bisa menjagamu dengan baik. Aku sudah berjanji pada mereka, akan menyayangimu sampai akhir.”

N.A. : Annyeong! Aku pulang(?) bawa oleh-oleh… *apadeh* Sebenernya FF ini pernah dipost di SF3SI dalam rangka merayakan ultahnya Minho ama Onew (FF Party). Aku ngepost lagi di sini buat memperingati(?) ultah Minho lagi. Haha~

Maaf ya, kalo ceritanya gaje naudzubille.. Dan posternya… -__-V

Satu lagi, URI KEROROOOO!! *PLAKK!* SAENGIL CHUKKAHAE! ^^ Moga makin ganteng, makin tinggi(?), makin ber-abs(?), dan makin sukses ya, sama SHINee! WE LOVE YOU!! \^0^/

>>><<<

Pagi yang berkabut. Hujan gerimis turun membasahi bumi. Cuaca dingin yang menusuk membuat setiap orang lebih ingin memilih berlindung di bawah selimut. Namun ada pula yang tetap bersemangat menjalani hari, walau sebenarnya mereka pun masih ingin bermalas-malasan.

Jinki melangkah menuju sebuah kamar dan mengetuk pintunya yang masih tertutup rapat.

“Minho-ya, kau sudah bangun?” panggilnya agak ragu.

Tidak ada jawaban.

Jinki kembali mengetuk pintu, kali ini lebih keras. “Kau tidak kuliah?”

Tetap tidak terdengar sahutan.

“Ireona, Minho-ya..! Kau bisa terlambat.” Sekali lagi Jinki meningkatkan volume suaranya.

Hening sejenak.

BRAKK!

Entah benda apa yang Minho lemparkan hingga mengenai pintu dengan keras dan membuat Jinki terlonjak kaget. Suara itu kemudian disusul teriakan parau sekaligus bernada kesal—dari dalam kamar, “CEREWET!! BERISIK SEKALI!!”

“Oh~mianhae. Tapi ini sudah waktumu berangkat.” Jawab Jinki dengan nada yang jauh lebih halus dari teriakan Minho tadi.

Minho membuka pintu dengan kasar. Badannya kemudian menyembul keluar. Kedua matanya menatap Jinki, sorotnya terlihat menunjukkan kekesalan. “Aku sudah lelah mengatakan ini padamu, dan kuharap ini yang terakhir kalinya. JANGAN PERNAH BERANI MENGATURKU!! ARASSO?!” teriaknya tepat di hadapan Jinki, kemudian mendorong Jinki dengan kasar dan melangkah lebar menuju kamar mandi.

Jinki yang masih berdiri terpaku di tempatnya menatap punggung Minho sembari menghela napas dalam-dalam. “Bau alkohol. Kurasa dia mabuk lagi semalam.” gumamnya datar, seolah tidak pernah terjadi apapun sebelumnya. Ia melangkah memasuki kamar Minho, menatap berkeliling ke setiap sudut ruangan sempit dan berantakan itu, dan langsung berinisiatif membereskan semuanya.

Choi Minho dan Lee Jinki. Setiap orang akan dengan mudah membedakan kedua pria ini hanya dengan sekali lirik dan dari sisi manapun. Terang saja. Nama depan, sifat, maupun fisik mereka jauh berbeda. Tapi mereka sebenarnya bersaudara. Saudara tiri tepatnya.

***

Sekitar 11 tahun yang lalu, orang tua kandung Minho mengadopsi Jinki dari sebuah panti asuhan. Berawal dari kunjungan keluarga Choi (Minho dan kedua orang tuanya) dalam rangka beramal ke panti asuhan tersebut. Sejak pertama bertemu, Minho dan Jinki bisa akrab dengan mudah dan berteman baik. Saat itu, usia Minho 8 tahun, dan Jinki 10 tahun. Bahkan saking merasa cocok, Minho selalu merengek di hadapan kedua orang tuanya agar lebih sering mengunjungi panti asuhan tempat tinggal Jinki, dan dalam jarak waktu sekitar beberapa minggu, Minho kembali merengek agar orang tuanya mau mengadopsi Jinki.

Kedua orang tua Minho meminta Jinki agar menganggap mereka sebagai orang tua kandungnya sendiri. Jinki memang menyetujui hal itu. Tapi ia menolak dengan halus ketika mereka mengusulkan agar marga Lee-nya diganti dengan Choi. Alasannya karena pendengarannya tidak akan terbiasa dengan nama Choi Jinki.

Waktu demi waktu berlalu. Minho mulai menganggap Jinki sebagai saingannya dalam mencuri perhatian orang tua mereka dengan prestasi-prestasi yang membanggakan. Ia berusaha berprestasi di bidang olahraga. Jabatan sebagai kapten tim basket pernah disandangnya saat masa junior high school. Bahkan saat menjabat sebagai kapten, timnya sering mendapat medali emas dalam beberapa olimpiade/turnamen. Namun usahanya sia-sia, karena tetap saja orang tua kandungnya lebih bangga pada Jinki yang hampir selalu menjadi ketua OSIS dan berprestasi di bidang akademik. Hal ini tentu saja membuat Minho merasa semakin tersaingi dan bahkan dia merasa bahwa justru ialah yang dianggap anak tiri oleh orang tua kandungnya.

Hari ulang tahun Minho dan Jinki jatuh pada bulan yang sama dan dalam jarak hari yang berdekatan. Minho yang lebih dulu menemui hari ulang tahunnya yang ke 15 pada tanggal 9 Desember pada tahun itu sangat berharap kedua orang tuanya tinggal di rumah sepanjang hari ulang tahunnya tersebut. Dan lagi-lagi harapannya harus kandas begitu saja. Orang tuanya itu malah sama sekali tidak ada waktu pulang karena sibuk dengan urusan pekerjaan. Mereka baru bisa pulang lima hari kemudian, tepat pada saat hari ulang tahun Jinki yang jatuh pada tanggal 14 Desember.

Saat itu juga Minho meledak. Ia marah di hadapan kedua orang tuanya dan Jinki yang hanya bisa terdiam. Dengan napas yang tidak beraturan ia mengeluarkan semua uneg-uneg yang memenuhi pikiran dan menyakiti hatinya. Tidak sedikitpun ia berpikir bahwa saat itu adalah saat terakhir ia melihat orang tuanya, karena esoknya keduanya mengalami kecelakaan lalu lintas yang parah dan langsung meninggal dunia di tempat kejadian.

Tepat di tempat pemakaman, Minho menangis sejadi-jadinya, sementara Jinki berusaha menenangkan, meskipun ia sendiri terlihat berusaha keras menahan tangis. Entah makhluk apa yang merasuki Minho saat itu. Dengan sekejap ia berdiri sembari merengkuh kerah baju Jinki, dan memukul Jinki tepat di wajahnya, hingga Jinki tersungkur dan darah mengalir dari sudut bibirnya. Merasa belum puas, Minho kembali memukul, menendang bahkan mencekik Jinki hingga Jinki sempat tak sadarkan diri.

Tidak lama setelah itu, perusahaan milik keluarga Choi langsung dikabarkan bangkrut. Semuanya habis tanpa sisa. Akhirnya, sejak saat itu hingga sekarang Minho dan Jinki menyewa sebuah rumah kecil yang hanya terdiri dari satu kamar tidur, ruang tengah, dapur dan satu kamar mandi yang semuanya sempit. Jinki terpaksa berhenti kuliah dan bekerja menjadi salah satu pelayan di sebuah kafe. Sedangkan Minho, ia tetap melanjutkan kuliahnya. Ia selalu pulang sangat larut dalam keadaan mabuk. Sifatnya berubah sangat drastis. Ia jadi mudah marah, kasar, dan suka berfoya-foya.

***

Setelah selesai membereskan semuanya, Jinki melangkah menuju pintu, hendak keluar dari kamar Minho. Namun matanya menangkap benda yang tergeletak tepat di belakang pintu. Sebuah bingkai foto, lengkap dengan fotonya. Bingkai foto itu sudah rusak, kacanya pun sudah menjadi serpihan kecil dan berserakan di lantai. Jinki mengambil benda itu sembari menggerutu kecil, “Kenapa bisa pecah begini?”

Sejenak ia tertegun menatap sepasang suami-istri yang sedang tersenyum manis dalam foto itu. Ya, itulah orang tua tirinya. Yang sudah mendukung, menjaga dan menyayanginya dengan setulus hati. “Semoga kalian tenang di sana.” gumamnya, lalu menghela napas berat.

Minho yang sudah selesai mandi langsung memasuki kamarnya. Ia segera merebut benda yang sedang berada dalam genggaman Jinki seraya berseru, “Apa yang kau lakukan, hah?!”

“Aku? Ani, Minho-ya. Aku menemukannya memang sudah dalam keadaan seperti itu.” elak Jinki. “Ah~iya. Kurasa kau melempar sesuatu ke arah pintu tadi. Mungkin itu yang kau..”

“KELUAR!!”

“Mian, tapi bukan aku yang memecahkannya. Atau begini saja. Biar kuganti bingkainya dengan…”

“Tidak perlu!!”

BLAM!!

Minho mendorong Jinki keluar dan membanting pintu tepat di depan Jinki yang langsung terdiam. Tapi lagi-lagi Jinki segera membuat ekspresi wajahnya sesantai mungkin. “Baiklah. Kurasa aku harus berangkat sekarang. Sarapan sudah kusiapkan di meja, Minho-ya. Jangan lupa dimakan. Aku tidak mau kau sakit.”

“….”

“Sampai jumpa…” akhirnya Jinki melangkah keluar setelah mengenakan jaketnya. Cuaca di luar masih terasa dingin.

>>><<<

Minho masih terdiam di kamarnya, duduk di samping tempat tidur sembari melamun. Masih tergambar jelas ekspresi Jinki setiap saat ia membentaknya. Apa perilakunya terlalu keras? Ia memang sering membentak Jinki dan meneriakinya meskipun ia tahu Jinki sama sekali tidak bersalah. Pantaskah ia melakukan semua itu hampir selama 4 tahun terakhir ini?

“Ah~tentu saja aku pantas melakukannya. Dia juga pantas mendapatkannya.” Ujarnya kemudian sembari berdiri secara tiba-tiba.

Setelah siap berangkat dan tidak mempedulikan sarapan yang sudah Jinki siapkan untuknya, Minho melangkah keluar rumah dan meluncur dengan sepeda motornya.

Belum seperempat jalan ditempuh, Minho menemukan Jinki sedang berjalan santai menyusuri trotoar menuju halte bus. Dengan sengaja Minho mengarahkan sepeda motornya ke genangan air yang terdapat bahu jalan, sehingga air yang menggenang itu terciprat ke arah Jinki dan membasahi setengah celananya. Setelahnya, Minho melanjutkan perjalanannya, berlalu begitu saja.

Jinki menghela napas (lagi). “Bukan… itu bukan Minho. Walaupun benar dia Minho, mungkin suasana hatinya saja yang memang sedang tidak baik.” Gumamnya datar, lalu kembali berjalan ke arah halte yang hanya berjarak beberapa meter lagi di depannya. Ia tidak mempedulikan bagian celananya yang basah dan agak kotor itu.

>>><<<

-Nice Cafe-

“Oso eoseyo…” sapa Jinki sembari membungkuk kepada pelanggan pertamanya yang balas tersenyum. “Silakan memilih tempat, agassi…!” ujarnya lagi. Wanita itu berjalan perlahan ke sebuah meja yang dekat dengan jendela besar di sudut kiri kafe.

Jinki mengikuti wanita itu dari belakang. “Ingin memesan sesuatu, Agassi?” tanyanya.

“Oh~ne. Segelas cokelat panas saja.” Wanita itu tampak sedikit merapatkan jaketnya.

“Baiklah. Mohon tunggu sebentar..!” Jinki membungkuk, kemudian pergi ke bagian penyedia pesanan. Ia masih bisa melihat pelanggan lain mulai berdatangan dan membuat sibuk pelayan yang lain.

Tidak lama kemudian, segelas cokelat panas untuk pelanggan sudah siap. Jinki segera mengantarkannya pada pelanggan pertamanya tadi. Wanita itu tengah menatap ke arah luar melalui jendela di samping tempat duduknya. Pandangannya kosong, dan ia terlihat gelisah.

“Minumanmu, Agassi…” ucap Jinki, lalu meletakkan cokelat panas tadi ke atas meja.

Wanita itu agak terperanjat dan segera merubah sikapnya. “Ne, kamsahamnida..” ia tersenyum simpul.

Jinki balas tersenyum, lalu membungkuk dan beranjak pergi dari sana.

***

Setelah disibukkan oleh para pelanggan dan berjalan mondar-mandir ke sana ke mari, Jinki memutuskan beristirahat sejenak. Ia berdiri di tempat yang lumayan jauh dari tempat para pelanggan sembari menyandarkan tubuhnya ke dinding. Walaupun lumayan jauh, dari sana ia masih bisa memperhatikan para pelanggan yang sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Kim Jonghyun, teman Jinki yang juga salah satu pelayan di kafe ini berdiri tepat di samping Jinki. “Auw~ouw~pipiku… pipimu.” Racaunya tak jelas, dengan pandangan lurus ke depan. “Aigoo~siapa yang salah di sini?”

Jinki memperhatikan Jonghyun dengan dahi berkerut. “Apa yang sedang kau lakukan?”

Jonghyun menunjuk sekilas ke sudut kiri ruangan kafe. Jinki mengikuti arah telunjuknya tertuju. “Aku sedang memperhatikan mereka.” Jonghyun tertawa kecil.

Jinki mendapati wanita yang menjadi pelanggan pertamanya tadi tengah berbicara dengan seorang pria yang duduk tepat di hadapannya. “Apa? Tidak terjadi apa-apa di sana.” katanya heran.

“Kau tidak melihatnya? Tadi wanita itu menampar laki-lakinya.”

“Jinjja?”

“Hmm~mungkin saja tanggal 9 Desember ini akan jadi salah satu momen buruk untuk salah satu dari mereka.”

“Sembarangan..” Jinki menyikut pelan lengan Jonghyun yang hanya terkekeh.

Mereka terdiam sebentar, tapi kemudian Jinki terkesiap karena baru saja mengingat sesuatu. “Jamkkan! Kau bilang apa tadi? Tanggal berapa?” tanyanya tidak sabar.

Jonghyun mengangkat bahunya santai. “Bukannya sekarang memang tanggal 9 Desember?”

“Aigoo~kenapa aku selalu lupa?” Jinki menepuk dahinya berkali-kali.

“Ada apa dengan tanggal 9 Desember?”

“Itu hari ulang tahun adikku.”

>>><<<

09.44 pm…

“Palli, palli… Kali ini tidak boleh terlambat…!” gerutu Jinki pada dirinya sendiri. Ia baru saja selesai bekerja, dan kini tengah berlari menuju toko kue yang letaknya tidak jauh dari “Nice Cafe”. Ia berencana membeli sebuah kue tart lengkap dengan lilin yang berbentuk angka 20 untuk merayakan ulang tahun Minho.

>>><<<

10.32 pm…

Kue tart berukuran sedang dan dengan hiasan krim yang sederhana itu sudah tersaji di atas meja kecil di ruang tengah. Jinki juga baru saja selesai memasangkan lilin berbentuk angka itu tepat di atasnya. Ia tidak menghias seluruh ruangan dengan pernak-pernik dan balon karet berwarna-warni layaknya pesta ulang tahun pada umumnya, karena ia kira tidak akan ada cukup waktu. Minho bisa saja tiba-tiba datang saat Jinki sedang menghias ruangan, dan kesannya jadi bukan kejutan lagi.

Beberapa waktu yang lalu Jinki sedikit merasa lega begitu mendapati rumahnya masih kosong dan tidak ada tanda-tanda Minho sudah pulang, karena itu tandanya ia belum terlambat mengucapkan selamat. Jinki juga berharap kali ini ia tidak terlambat mengucapkan “Selamat ulang tahun” pada Minho, karena pada tahun-tahun sebelumnya ia malah baru ingat hari ulang tahun Minho sehari setelah hari H.

>>><<<

11. 07 pm…

Menunggu hampir selama 30 menit membuat Jinki gelisah sendiri. Ia mondar-mandir di ruangan sempit—yang juga menjadi tempat tidurnya setiap malam—itu, berharap tiba-tiba mendengar suara deru motor yang diparkir di depan rumah, karena itulah yang menandakan pulangnya Minho. Tapi kenyataannya, keadaan di sekitar malah sepi, hanya terdengar langkah kakinya sendiri dan suara detik jam dinding.

“Palliwa, Minho-ya…!”

>>><<<

11. 57 pm…

Jinki terperanjat dan segera mengucek kedua matanya. Hampir saja ia tertidur. Dilihatnya kamar Minho masih dalam keadaan gelap dan kosong. Pandangannya kemudian beralih ke arah jam dinding, menatapnya lekat-lekat sembari menghitung sisa waktunya yang hampir tinggal 2 menit lagi. Dalam seketika, ia mendesah keras, “Ah~ayolah… Untuk sekali ini saja, jangan biarkan aku terlambat…!”

Ingin rasanya jarum jam itu berhenti bergerak, setidaknya sampai Minho datang. Namun Jinki tahu hal seperti itu tidak mungkin terjadi. Detik demi detik terus berlalu dan berganti menjadi menit, hingga akhirnya Jinki hanya bisa menelan ludah dan memejamkan matanya saat jam dinding itu tepat menunjukkan pukul 12.00 am.

Tapi Jinki segera kembali bergumam, berusaha menenangkan dirinya sendiri. “Hanya berlalu beberapa detik. Aku belum begitu terlambat.”

>>><<<

12.16 a.m..

Setelah menghabiskan isi gelasnya dalam sekali teguk, Minho merebahkan kepalanya yang terasa berat ke atas meja bar. Dengan mata sudah setengah terpejam, ia masih kembali memanggil bartender, “Kibum-ah! Teguila sunrise!”

“Kau baru saja memesan botol kedua. Kenapa sudah minta lagi?” sahut Kim Kibum, melirik Minho dengan sorot mata yang menunjukkan rasa ngeri sekaligus khawatir.

“Ya! Kau sudah mabuk. Berhenti minum, Minho-ya!” Lee Taemin, teman Minho, yang duduk tepat di samping Minho, menepuk bahu Minho sekilas.

“Tenang saja, aku yang traktir. Hik~ Hari ini ulang tahunku, Taemin-ah… Minumlah sampai puas…!” bantah Minho yang sempat cegukan di sela kalimatnya. Kemudian ia kembali mengangkat gelas kecil di genggamannya. “Hik~ Kibum-ah, mana minumanku?!”

“Andwae, andwae!! Kau harus berhenti sekarang!” tukas Taemin dan Kibum, hampir bersamaan.

“Aissh~kalian cerewet! Aku akan berhenti kalau aku mau… Jangan berani mengaturku!! Sudah kukatakan beberapa kali padamu. Sekali saja kau kembali mengaturku, aku tidak akan segan membunuhmu, Lee Jinki!!”

Taemin dan Kibum saling bertatapan heran. Bahkan Minho sudah salah menyebut nama mereka.

“Oke, terserah kau saja. Kkaja!” Taemin memapah Minho keluar dengan susah payah.

“Lepaskan! Jangan menyentuhku, cerewet!” racau Minho lagi.

“Aissh~apa yang sedang kau bicarakan sejak tadi?” keluh Taemin. Tiba-tiba saja Minho merengkuh kerah baju Taemin. Kedua matanya yang sudah memerah dan sayu itu menatap Taemin tajam selama beberapa saat.

“Apa… yang kau lakukan?” gumam Taemin hati-hati.

“Lee Taemin? Aah~ternyata kau.” Minho tertawa, lalu melepaskan tangannya dari baju Taemin. Tapi tetap terlihat jelas ia masih mabuk.

“Aissh~kau mengagetkanku!” gerutu Taemin.

“Hahaha~aku bercanda tadi. Hik~ Baiklah. Aku akan pulang. Hik~” Minho melambaikan tangannya ke arah Taemin, lalu berjalan lunglai dan agak oleng menuju tempat motornya terparkir.

“Dalam keadaan mabuk begitu, kau masih kuat menyetir?” seru Taemin.

Minho mengangkat sebelah tangannya, sementara tangannya yang lain sibuk dengan helm’nya. “Kau sudah tahu aku.”

“Ck~araaa…”

Begitu Minho sudah memasuki jalanan yang sudah terlihat lengang itu, Taemin mulai berjalan menyusuri trotoar karena jarak rumahnya tidak terlalu jauh dan tidak perlu ditempuh dengan kendaraan.

>>><<<

Jinki yang tengah menunduk dan menjambak rambutnya frustasi, langsung berdiri tegak begitu mendengar suara kendaraan di depan rumahnya.

“Pasti itu Minho.”

Tebakannya benar. Begitu Jinki membukakan pintu, Minho langsung ambruk ke arahnya, dan secara refleks Jinki menahan tubuh Minho agar tidak terjembab ke lantai. Bau alkohol yang menyengat langsung menyerang indera penciuman Jinki. “Minho-ya, kau mabuk lagi?”

“Tenang saja, hik~ aku yang traktir.” Sahut Minho.

Jinki menggeleng-gelengkan kepala dan mulai berusaha memapah Minho sampai ke kamarnya, lalu membaringkannya di atas tempat tidur. Ia membantu melepaskan jaket dan baju Minho yang mungkin bisa membuat indera penciuman seekor anjing tidak berfungsi lagi.

Setelah selesai, Jinki melangkah meninggalkan ruangan itu. “Saengil chukkhanda, Minho-ya. Jalja…”

>>><<<

Tok~tok~tok~

“Permisi!”

Tok~tok~tok~

Jinki mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan.

Tok~tok~tok~

Kembali terdengar seseorang mengetuk pintu, “Permisi!”

“Ne, jamsiman-yo..” Jinki bangkit dari sofa dan membuka pintu. Tiga orang pria dewasa berdiri tegap di depannya. “Nugu…seyo?” tanya Jinki hati-hati. Bagaimana tidak? Pagi-pagi sekali ia sudah menerima tamu seperti ini.

“Kami dari kepolisian.” Jawab salah satu dari mereka.

“Oh~ada apa?” Jinki mulai was-was.

“Kami sedang mencari pemilik kendaraan yang pelat nomornya sesuai dengan yang tertera di sini.” Orang itu menunjukkan notenya yang berisi tulisan yang berupa sederet nomor, lalu melanjutkan, “kebetulan kami menemukan kendaraan yang dicari tepat di depan rumahmu. Apa sepeda motor itu milikmu?” ia menunjuk motor Minho.

“Oh~itu… bukan. Itu milik… adikku.” Dengan ragu Jinki menjawabnya.

“Bisa tolong panggilkan adikmu?”

“Ah~ne. Tapi kurasa dia masih tidur. Waeyo? Apa adikku terlibat suatu masalah?”

“Malam tadi, sekitar tengah malam terjadi sebuah kecelakaan. Tabrak lari tepatnya. Kebetulan seorang saksi di tempat kejadian sempat melihat nomor polisi kendaraan yang digunakan pelaku, yang sekarang kami tahu kendaraan itu milik adikmu.”

“Jadi…”

“Ya, adikmu berstatus tersangka mulai saat ini.”

>>><<<

Tidak butuh waktu yang berlarut-larut untuk mengadili Minho. Pada tanggal 12 Desember, ia resmi menjadi tahanan, dan akan berlanjut selema beberapa tahun ke depan.

Menurut sejumlah saksi, Minho memang menabrak seseorang pada malam itu, kemudian pergi begitu saja. Penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan polisi juga semakin menunjukkan bahwa memang Minho pelakunya. Pada awalnya, Minho sempat mengelak, tapi kemudian dia mengaku bahwa saat itu ia masih dalam pengaruh alkohol, sehingga tidak menyadari perilakunya.

Jinki tidak bisa melakukan apapun. Sejak tahu Minho pelaku dalam kasus ini, ia sudah sangat terkejut dan kacau sekali. Tidak habis pikir juga tidak percaya. Apalagi sekarang Minho sudah terbukti bersalah.

>>><<<

14 Desember

Kali ini mereka duduk berhadapan, sesuatu yang sangat jarang mereka lakukan beberapa tahun terakhir ini. Ada perasaan senang yang Jinki rasakan, tentu saja. Tapi mengingat mereka melakukan ini bukan di situasi yang tepat, perasaan Jinki justru lebih sedih. Ia menatap Minho yang terus menunduk di depannya. “Kau… baik-baik saja?” tanyanya hati-hati.

Minho bergumam sembari mengangguk.

“Mianhae, aku… tidak bisa membantumu.” Ujar Jinki lagi dengan suara bergetar. Sedangkan Minho hanya terdiam.

“Aku sudah memikirkan itu habis-habisan. Tapi tetap saja… aku tidak bisa.”

Minho masih terdiam, menopang dagu dengan kepalan tangannya, dan menatap ke arah lain.

“Apa menurutmu… aku egois? Atau bahkan… terlalu egois? Mianhae, Minho-ya…”

Minho hanya berdeham kecil. Jinki ikut terdiam dan menunduk, tidak tahu harus melakukan apa lagi.

“Kau tahu? Seharusnya sejak awal kau tidak muncul di kehidupanku. Seharusnya sejak awal kau bukan salah satu penghuni panti asuhan itu. Sejak kau muncul, keluargaku, harapanku, bahkan masa depanku… semuanya hancur. Dan setelah kau menghancurkan semua itu, aku tidak ingin lagi menganggapmu sebagai saudara tiriku sekalipun, aku tidak ingin menganggapmu sebagai siapapun. Aku hanya ingin kau… tidak pernah terlahir ke dunia ini.”

Perkataan Minho ini membuat Jinki mengangkat kepalanya, menatap pria di hadapannya dengan mata melebar. Perlahan, ia menelan ludah yang kini terasa amat pahit di lidahnya. Pundaknya seakan menopang beban yang amat berat. Tangannya bergetar. Ia berkata dengan suara yang bergetar pula, “Jika kau memang berpikiran seperti itu, aku pun sama. Aku juga pernah berharap… tidak pernah hidup di dunia ini dan muncul begitu saja di hidupmu. Aku tahu dan mengerti bagaimana perasaanmu begitu kau kehilangan harapanmu. Aku juga mengerti alasanmu mengubah sifatmu. Sangat mengerti, Minho-ya. Aku juga pernah berpikiran untuk pergi dari hidupmu sejak saat itu. Tapi aku tidak ingin mengecewakan orang tua kandungmu, walaupun pada akhirnya aku tetap gagal, tidak bisa menjagamu dengan baik. Aku sudah berjanji pada mereka, akan menyayangimu sampai akhir. Aku tahu aku memang egois.”

Jinki terdiam sebentar, kemudian kembali melanjutkan, “Cheongmal mianhae. Seandainya kita bisa memutar kembali waktu, aku tidak akan berani muncul sekalipun dalam hidupmu, sehingga saat ini kau masih bisa menghabiskan waktumu, bersenang-senang dengan orang-orang yang kau sayangi, dan bisa menggapai harapanmu. Aku selalu berharap itu benar-benar terjadi, jika memang bisa.”

Minho menunduk, menopang kepala dengan kedua tangannya yang bertumpu di atas meja. Ia berusaha menahan air matanya, sementara Jinki pun mulai terisak pelan.

“Akan kulakukan apapun agar kau bisa memaafkanku, Minho-ya… Cheongmal mianhae… Bila perlu , aku tidak akan pernah muncul lagi di hadapanmu.”

Minho memejamkan kedua matanya, lalu menjawab, “Besok… tepat 4 tahun meninggalnya orang tuaku. Aku ingin mengunjungi mereka.”

>>><<<

Kedua pria itu meletakkan masing-masing bunga lily putih yang mereka bawa di atas dua gundukan tanah yang berdekatan. Selama beberapa waktu, hanya keheningan dan angin dingin yang menemani mereka, hingga akhirnya terdengar isakan tertahan yang saling bersahutan.

“Aku merindukan mereka. Kau juga, kan?” Jinki berbicara dengan hati-hati. Suaranya parau, matanya juga sembab. karena ia memang sudah menangis semalaman tadi. Minho menghapus air matanya dengan punggung tangan. “Sejak lahir aku tinggal di panti asuhan dan tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua. Tuan dan Nyonya Choi-lah yang membuatku merasakan kasih sayang itu. Mereka yang terbaik. Benar, kan? Kau beruntung. Aku tidak pernah merasakan kasih sayang itu…”

“Ah~hentikan…! Aku tidak mau menangis.” Minho, lagi-lagi menyeka air matanya. Jinki tertegun. Baru kali ini ia kembali mendengar nada suara Minho yang terkadang menunjukkan sisi lemahnya itu.

Beberapa lama kemudian, mereka sampai di tempat beberapa orang polisi—yang ikut dan menunggu Minho hingga selesai—itu. Minho berbalik sejenak ke arah Jinki, “Ah~kemarin hari ulang tahunmu, kan? Chukkhae..”

Jinki memandang tangan kanan Minho yang terulur ke arahnya. “Kau ingat?”

“Aku tidak bisa melupakan Desember yang menyakitkan itu.”

Seketika Jinki sadar bahwa ini adalah saat-saat terakhirnya berbicara dengan Minho. Ia sudah berjanji akan pergi dan tidak akan pernah kembali menemui Minho. Ah~kenapa hal-hal yang menyakitkan selalu terjadi di bulan Desember?

Dengan senyum yang dipaksakan, Jinki menjabat tangan Minho, lalu berkata, “Gomawo. Saengil chukkhae untukmu juga..”

“Pada hari ulang tahunku, aku sempat membuat harapan.” Ujar Minho setelah melepaskan jabatan tangannya.

“Jinjja? Apa itu?”

“Aku berharap… kau… mau menepati janjimu pada kedua orang tuaku.”

“Minho-ssi, waktunya habis. Kita harus kembali.” Seru salah seorang petugas kepolisian itu seraya mengetuk arlojinya.

“Baik-baik, hyung..!” Minho menepuk pundak Jinki, lalu berbalik meninggalkannya, pergi bersama polisi-polisi itu.

Perlahan namun pasti, senyuman manis merekah di bibir Lee Jinki. “Itu sudah pasti, Minho-ya. Aku tidak akan pergi. Gomawo…”

>>><<<

FIN

23 thoughts on “December Painful

  1. Ya ampun!! Mira eonni!! kau membuatku menangis!! huwaaaaaaa *nangis di dada Donghae! Plak!!*

    seperti biasa, ff eonni bagus banget..
    Apalagi pas part endingnya, duh bener-bener menyentuh..
    Suka banget sama jalan ceritanya..
    Onew sabar banget sih ngehadapin Minho yang kasar…
    Sempet gak percaya sama sikap Minho yang suka bentak-bentak pas di bagian awal..

    Tapi Happy ending ^^
    Nice fanfic eonni…Aku tunggu ff selanjutnya 😀

    • Ya ampun, jangan nangis, dong… -_-v

      Eh, ini sebenernya jauh dari kata bagus loh, Dev (.__.)..

      Hehe~ happy end, dong.. 😀 Btw, makasih ya, udah ngikutin postingan aku dari awal.. ^^

  2. ah aku penasaran sebenernya sama apa yang udah bikin minho sadar lagi..
    karena menurut aku agak gantung jadinya..
    kenapa yah minho tiba tiba bisa baikan lagi sama jinki???

    tapi bagus ffnya..

    • Ya Minho sadar dgn sndirinya. Kalo dibayangan aku, Minho mikir2 lg klo sbnernya prlakuan dia sma Onew itu gk bner, krena Onew emg gk salah apa2 kan? Gitu, sih, yg ada di otakku. Tapi emg salah aku jg, gk diceritain detailnya.. Hehe~ miaaan.. >,<v *bow*

  3. Eonni nepatin janji nie ..

    Waa ..
    Kenapa jadi sedih kyk gini ..
    Hikz .. Hikz ..
    Eonni ampe’ nangis ..
    Kasian si Dubu Sangte ..

    Keren ide cerita nya ..
    Keep writing ..
    🙂

    Saengil chukkahamnida Uri Sweet Dubu ..

    Semoga menjadi leader yang paling bersinar ..
    Onew is the bast ..
    Saranghaeyo ..
    (*cium ..cium pipi Onew)

  4. huaaa ubek2 library ktmu ff mira…
    huuuhh hmpir aj td.. aq kira jinki meninggal.. bunuh dri..ato apalah… trnyata… minho sadar … huuuaaa

  5. Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa . -_- Kenapa harus desember author ? Aku juga lahir bulan desember . Dan tanggal lahir ku sama kayak minho . 9 Desember . Sumpah , jangan bilang desember yang jelek jelek doong . Tapi aku sukaa kok ceritanyaa . ^^
    Hehehehehe .

  6. pas Jinki bilang tentang yang sebenarnya dia juga pengen ngilang
    sumpah beneran Jinki jangan ngomong kayak gitu…
    cos bisa bikin aku nagis…

    nyesek banget ceritanya
    untung nya hepi ending
    haaaaaahhh… leganya

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s