My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip Two

Main Cast :

  • Lee Jinki (Onew)
  • Shin Jibyung
  • Shin Jikyung

Other Cast :

  • Other SHINee members
  • Lee & Shin family
  • etc.

Genre : Marriage Life, Family, Comedy, Life

Length : Continue

Rating : PG-13

Author : Mira~Hyuga

No Words. Just read and comment, oke? Hihi~ ^.^
Happy reading! 😀

>>><<<

CLIP 2

(Jibyung’s POV)

Sembari menunggu pelanggan, aku melihat-lihat kamera digital yang digunakan Jikyung untuk mengabadikan momen-momen penting kemarin. Tanpa sadar aku tersenyum-senyum atau bahkan tertawa pelan saat melihat semua hasil jepretannya, terlebih saat Onew menciumku di atas altar. (^///^)

Walaupun tidak ada resepsi pernikahan, tidak ada bulan madu ke luar negeri, dan tidak ada pra wedding, aku tetap senang dengan pernikahanku ini. Lagipula, aku tidak melihat mewah atau tidaknya pernikahanku. Tapi aku melihat sah atau tidaknya pernikahan kami di mata agama maupun hukum.

“Eonni, kau melihat apa?” Choi Sooyoung, salah satu orang yang membantuku di butik ini menghampiriku dengan ekspresi penasaran. Mungkin dia menangkap gelagat anehku sejak tadi.

“Eh? A-ani… bukan apa-apa.” Elakku sembari menyembunyikan kamera itu di belakang punggungku. Jangan sampai dia melihatnya. Kalau sampai dia lihat ini, bisa terjadi ‘sedikit’ masalah, apalagi karena ada Onew. Jangan sampai!

Sooyoung menatapku curiga, kemudian menatap ke belakang punggungku, “Apa sih?” gumamnya dengan nada kentara sekali penasaran.

“Sudah kubilang bukan apa-apa. Ah~ ada yang datang! Oso oseyo?! Cepat layani dia, Sooyoung-ah!” ujarku dengan intonasi yang tidak beraturan.

Sooyoung menatapku dengan pandangan ingin tahunya lagi, dan aku mendorong bahunya sedikit agar cepat pergi, “Ppalli!”

Setelah Sooyoung menyingkir, aku meletakkan kameranya di laci meja dan mengunci laci itu, lalu mengantongi kuncinya di celanaku. Haha~ dengan begini aku aman sekarang. Hampir saja…

***

“Eonni, aku pulang duluan, ya!” seru Sooyoung dari pintu masuk.

“Ye! Annyeong!” sahut Sunkyu, seorang lagi yang juga sering membantuku di sini selain Sooyoung.

“Hati-hati, ya!” tambahku sambil melambai pada Sooyoung. Lantas gadis jangkung itu melangkah semakin jauh dari tempat ini.

Aku merogoh saku celanaku saat kurasakan handphone’ku bergetar. Aku segera membaca pesan yang baru saja masuk,

“From : Dubu-Sangtae -_-

Jibyung-nim, aku di halte. :D”

“Aratta!” gumamku tanpa sadar, sembari mengambil kamera yang tadi kusimpan di dalam laci meja.

“’Aratta’ mwo?” tanya Sunkyu dengan alis saling bertaut heran.

“Ah~ eopseo. Aku pergi, ya! Sebentar lagi Jikyung kemari, kok.” Aku menepuk bahu gadis itu sambil lalu. Sunkyu hanya membalas dengan gumaman dan lambaian kecil ke arahku. Akupun keluar dari butik ini.

***

Begitu sampai di halte yang dimaksud, aku melihat Onew sedang duduk bersisian dan mengobrol dengan Jikyung di bangku halte. Walaupun penampilan Onew ‘serba tertutup’ aku tahu itu dia, tentu saja. Haha~

Aku menekan klakson motorku sebanyak tiga kali, yang membuat keduanya menoleh ke arahku. Jikyung melambai ke arahku. Aku turun dari motor dan menghampiri mereka, “Sudah lama?” tanyaku pada Onew yang menjawab dengan anggukan dan juga gelengan (-__-“), “Mana yang benar? Iya atau tidak?” tanyaku lagi.

“Dua-duanya?” kekehnya.

Jikyung meraih lenganku sebagai pegangan untuk membantunya berdiri, “Selamat bersenang-senang, ya! Aku pergi!” katanya sambil melambaikan tangan pada kami dan kemudian berlalu, sehingga hanya ada kami berdua di sini.

“Kalkke?” gumamku pelan sambil menunjukkan kunci motorku ke arah namja yang sekarang berstatus sebagai suamiku itu.

“Kajja!” ujarnya sambil berdiri dan meraih kunci di tanganku.

“Baiklah. Kali ini kubiarkan kau yang mengemudi.” Kataku sambil nyengir dan mendorong punggungnya dari belakang, karena dia sendiri hanya berjalan kalau aku mendorongnya. Nah, tidak salah ‘kan kalau aku sering memanggilnya Dubu Sangtae? (-__-)a

>>><<<

“Kita makan siang dulu, bagaimana?” tawar Onew saat dia menepikan motorku di depan sebuah kedai bulgogi yang terlihat agak sepi. Kami memang sering ke sini saat ingin makan bulgogi bersama. Ya, kalian tahu, ‘SHINee Leader…’ (¬..¬)

“Arasso. Kajja, kajja!” ucapku setuju seraya menopangkan tanganku di kedua bahunya dan turun dari motor.

“Jamkkan! Lakukan lagi!” katanya tiba-tiba sembari menahan tanganku yang masih di bahunya. “Tolong pijat bagian itu lebih kencang!” pintanya sambil terkekeh. Sontak aku menarik tanganku dan memukul punggung atasnya dengan agak keras.

“Aissh~ istriku galak sekali.”

Aku yang sudah berjalan beberapa langkah menuju kedai itu langsung berbalik lagi setelah mendengar perkataannya, “Mworago?!”

“Coba saja kalau berani. Kuncinya ada padaku sekarang.” Onew mengangkat kunci motorku dan tersenyum penuh kemenangan. Kemudian dia berjalan dengan langkah lebar mendekatiku, lalu menyeret sambil memiting leherku. Aissh~ suami macam apa kau ini! (/ `з´)/

(End of POV)

***

(Onew’s POV)

“Ah~ ya. Kau sudah melihat foto-foto… kita?” tanya Jibyung saat kami sedang menyantap bulgogi yang kami pesan. Aku hanya menggelengkan kepala karena mulutku sibuk mengunyah bulgogi.

Jibyung merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah kamera digital dari sana, “Mau melihatnya?” tanyanya lagi, dan aku menggeleng lagi sambil nyengir lebar. Tentu saja aku tidak serius. “Shiro? Keurae. Aku tidak akan mengijinkanmu melihatnya sekalipun setelah ini.” tukasnya yang kembali memasukkan kamera itu ke dalam tasnya.

“Ani, ani! Aku hanya bercanda. Bercanda, Lee Jibyung-nim.” Cegahku dengan buru-buru. Jibyung menatapku dengan mata membulat. Aku mengerti, makanya segera kulanjutkan perkataanku, “Kamu ‘kan sudah jadi nyonya Lee sekarang.”

Dia menggembungkan pipinya, tapi kemudian mengeluarkan lagi kamera tadi.

“Igeo. Aku juga baru melihat sebagian. Tadi Sooyoung hampir saja memergokiku.” Katanya lagi dengan nada sebal. Aku hanya tertawa kecil dan mengambil kamera itu dari tangannya, dan mulai melihat-lihat isinya bersama Jibyung.

Selama itu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mencari-cari sosok Jikyung di setiap foto, walaupun sesekali aku tertawa melihat hasil jepretan-jepretan ini. Ah~ ya. Ternyata kalau dihitung-hitung, jumlah fotoku sendiri lebih banyak dari Jibyung. Bahkan ada fotoku saat sedang memanggang daging tadi malam. Ckckck~ padahal aku tidak tahu ada yang memotretku saat itu.

“Bagaimana kalau kita cetak ini?” usulku setelah selesai melihat-lihat semuanya.

“Aku setuju saja. Kapan?” tanyanya.

“Jigeum?”

Jibyung mengangguk-angguk, “Boleh saja, kalau kau tidak sibuk.”

“Aku tidak sibuk. Dua jam ke depan aku free. Kajja!”

>>><<<

Setelah keluar dari photo studio untuk mencetak foto-foto tadi, aku dan Jibyung berjalan beriringan menuju tempat motor Jibyung diparkir. Aku membaca jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Ada waktu satu jam lagi sebelum aku harus kembali ke dorm. Kutatap Jibyung yang berjalan di sampingku, dan dengan seketika bayangan Jikyung muncul di benakku. Perasaan ragu kembali menyelimutiku. Apakah ini saatnya aku mengatakan hal ini pada Jibyung? Aku tidak mau perasaan raguku ini sampai mengganggu hubungan pernikahan kami jika aku tidak segera mengatakannya. Memang salahku tidak mengatakan ini dari awal, sebelum kami sampai di jenjang pernikahan.

“Yaa~ Dubuuuu-yaaaaa~? Neo mwohaeee~?” sebuah telapak tangan melambai di depan wajahku, membuat lamunanku buyar begitu saja. “Kau melamun, ya?”

“Ah? Ani. Hanya sedang memikirkan sesuatu.” Sahutku, berusaha terlihat biasa, kemudian menaiki motor sport putih milik Jibyung yang kini sudah berada di depanku, “Kajja!”

“Sudah harus pergi?” tanyanya sembari duduk di belakangku.

“Ajik, masih ada satu jam lagi.”

“Lalu?”

“Aku ingin jalan-jalan dulu sebentar. Mumpung ada kendaraan yang bisa kupinjam.” Candaku. Jibyung mendengus dan kemudian menepuk kedua bahuku dengan agak keras. Entah kenapa aku selalu senang membuatnya kesal XD.

Aku kembali menghentikan laju motor yang kukendarai ini di dekat sebuah taman kota yang terlihat lengang, “Mau apa ke sini?” tanya Jibyung sembari turun dari motor dan bersandar secara menyamping pada joknya, persis seperti yang kulakukan.

Aku menatapnya lekat, “Aku mau membicarakan sesuatu.” Ujarku serius, sebagai pembukaan.

Jibyung balas menatapku dan terlihat mencari-cari bola mataku di belakang sunglasses yang sedang kukenakan. Dia tersenyum simpul dan berkata, “Katakan saja! Tapi jangan terlalu serius, aku jadi takut.” Katanya polos.

Aku mencibir, “Dasar aneh!”

“Ani, Jikyung lebih aneh dariku.” Balasnya dengan enteng.

Aku tertegun mendengar nama kembarannya itu disebut. Harus mulai darimana? Apa yang harus lebih dulu kukatakan? Bagaimana reaksinya nanti jika aku sudah mengatakannya? Jibyung memang wanita yang tegar dan juga dewasa. Tapi terkadang dia sangat pandai menyembunyikan perasaannya dan berusaha untuk terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain, meskipun itu membuat hatinya lebih sakit lagi. Aissh~ aku merasa menjadi namja yang sangat kejam. Apa yang sudah kulakukan? Aku menikah dengan Jibyung, namun perasaanku selalu tertuju pada Jikyung. Seberapa keras pun usahaku menghilangkan perasaan itu, tapi aku tetap tidak bisa. Jinki, bukankah kau segera mengikat janji dengan Jibyung adalah untuk menghilangkan perasaanmu itu? Tapi… kenapa…?

“Dubu-ya? Aigoo~ kau melamun lagi, ya? Apa sih yang kau pikirkan?” lagi-lagi Jibyung menginterupsi apa yang sedang kupikirkan, “Ada yang salah?” tanyanya lagi dengan nada cemas. Aku menggeleng dan menyunggingkan senyumku, berusaha terlihat biasa. Ya, dia terlihat sangat cemas.

Itu dia.

Tiba-tiba saja sebuah pemikiran terlintas di benakku. Aku menatap lurus ke mata Jibyung dan memegang kedua bahunya.

“Ya!” dia membulatkan kedua matanya, seolah waspada terhadap apapun yang akan kulakukan selanjutnya.

Sejenak hening, di antara kami tidak ada yang bicara.

“Jibyung-nim, buat aku lebih mencintaimu.” Ujarku serius, mengemukakan apa yang baru saja terlintas di benakku.

“Mwo?” dia mengerjap-ngerjapkan matanya dan kemudian tertawa lepas. Tapi aku tetap menatapnya dengan tajam, menunjukkan bahwa aku benar-benar serius dengan perkataanku. Akhirnya dia berhenti tertawa dan menghela napas dalam, “Wae?” tanyanya pelan.

Ddang! Apa yang harus kukatakan sekarang? “L-lakukan… lakukan saja!”

“Iya, memangnya kenapa? Aku tidak mau melakukannya kalau kau tidak punya alasan.” Kekehnya pelan.

“Apa harus ada alasannya bagi pasangan yang sudah menikah seperti kita?” ucapku setelah diam beberapa saat. Dia tertegun menatap mataku, lalu mengangguk perlahan.

“Arasso. ^^” katanya sambil tersenyum.

Aku menghela napas, belum sepenuhnya lega, karena memang aku belum mengatakan yang sebenarnya. Tapi jika dipikir-pikir lagi, apa yang kulakukan ini memberikanku peluang untuk melupakan perasaanku pada Jikyung, dan juga menghilangkan keraguanku. Mungkin setelah Jibyung berhasil membuatku lebih mencintainya, masalah ini akan lenyap begitu saja. Semoga.

Mungkin kedengarannya aku begitu egois dengan memilih cara pintas seperti ini. Tapi aku juga tidak mau menyakiti perasaan Jibyung nantinya.

“Jadi?” celetuk Jibyung, yang lagi-lagi membuyarkan lamunanku.

Aku mengamati jam tanganku lagi. Masih ada banyak waktu. Sayang kalau disia-siakan begitu saja, “Hey, bagaimana dengan malam pertama kita?” tanyaku asal.

“Mwo?!” pekiknya seraya memukul tanganku yang masih memegang bahunya. Tapi tetap bisa kulihat semburat merah di pipinya.

“Honeymoon?” aku malah semakin tertarik menggodanya.

“Museun honeymoon?” dengusnya sambil menunduk dalam.

“Aah~ bagaimana dengan tempat tinggal kita nanti? Oh~ iya. Kau ingin punya berapa anak? Dua? Satu? Oh! Kembar? Kembar tiga? Kembar tujuh?”

“YA!! Kau kira aku kucing, bisa melahirkan tujuh anak sekaligus?!”

“Aiyyaa~ istriku galak sekali.”

“Mwo?!”

>>><<<

Sejak saat itu aku belum bertemu lagi dengan Jibyung karena harus mempersiapkan debut SHINee di Jepang. Paling hanya melalui telepon, itu juga harus aku duluan yang menghubunginya. Jibyung memang seperti itu. Terkadang terlalu cuek padaku. Dan karenanya aku malah teringat bagaimana aku bisa lebih mencintainya kalau seperti ini? Dia belum melakukan apapun yang bisa membuatku lebih mencintainya. Atau belum, jika kembali mengingat kami belum bertatap muka lagi? Kuharap begitu.

Tapi karena hal ini, bukan berarti aku tidak mencintai Jibyung sama sekali. Aku mencintainya. Hanya saja, entah kenapa dan entah sejak kapan perasaanku lebih mencondong pada Jikyung. Aissh~ aku benar-benar merasa menjadi laki-laki yang tidak berperasaan.

Aku mengacak rambutku dengan asal, bersamaan dengan getaran handphone yang kurasakan di saku celanaku. Eomma?

“Ne, eomma?”

“Jinki-ya! Apa malam ini bisa pulang sebentar? Sebentaaar… saja.” Terdengar suara lembutnya dari speaker handphoneku. Bahkan aku sudah jarang bertemu dengan orang tuaku saking sibuknya. Padahal letak rumah orang tuaku lumayan dekat dengan kantor SM.

“Mianhae, eomma. Nanti sore aku sudah harus berangkat ke Jepang.” Jawabku dengan sedikit meringis.

“Keurae? Ah~ sayang sekali. Padahal kami mau mengadakan makan malam dengan keluarga istrimu. Apa tidak bisa diundur jadi besok saja?” katanya terdengar kecewa.

“Andwaeyo. Jweseonghaeyo.”

“Ah~ eotteokhae?”

“Mungkin lain kali, eomma. Saat ini belum ada waktu luang. Sebenarnya aku juga ingin, tapi sekarang benar-benar tidak bisa.”

“Arasso.”

“Sampaikan maafku pada eommonim, ya!?”

“Ne.”

“O~”

“Kau harus cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanmu!? Dan cepat berikan kami cucu.”

“(o__o) Ne?! Eer~ n-ne, eomma (-__-“).”

“Keurae. Kembali bekerja, jangan terlambat makan, jaga kesehatanmu. Arachi? Kau sehat kan, sekarang?”

“Jalnaesso. Gomawoyo.”

“O~ ittabwa!”

“Emm~”

PIP!

Aku memandangi layar handphoneku dengan nanar. Sebenarnya aku benar-benar ingin pulang hari ini. Kalau makan malam dengan keluarga Shin, mungkin aku juga bisa bertemu si kembar… Ji… kyung. Aarrgh~ andwae! Jibyung, maksudku.

Dan untuk kedua kalinya aku mengacak rambutku dengan perasaan kesal pada diriku sendiri.

DOR! DOR!

Seseorang menggedor pintu bilik toilet—tempatku berada sekarang—dari luar. “Ya, hyung! Apa sih yang kau lakukan? Lama sekali. Aku sudah tidak tahan.” Dan dari suaranya aku tahu itu Jonghyun.

Aku segera berdiri dan membuka pintu bilik ini sedikit, “Apa tidak ada tempat lain?”

“Aissh~ ppallihae! Aku yakin kau tidak sedang poop, kan? Cepat keluar! Aigoo~” namja di depanku ini mendorong pintu bilikku dan sesekali memegangi perutnya sambil meringis.

“Ketahuan.” Cengirku yang kemudian segera keluar dari sana. Beberapa saat kemudian, aku menutup lubang hidungku rapat-rapat dengan tangan seraya keluar dari toilet.

*

“Hyung, kau agak berantakan.” Komentar yang terlontar dari namja yang kini mengubah warna rambutnya jadi merah—menyambutku saat aku sampai di depan member lain berkumpul.

“Jinjja?” tanyaku memastikan seraya menatap pantulan bayanganku di jendela kaca di salah satu ruangan di gedung SM Ent. ini. Benar saja. Rambutku sudah tidak karuan sekarang. Aku segera merapikannya dan bergabung bersama yang lain.

“Haah~ kita benar-benar sibuk akhir-akhir ini.” Key merapatkan punggungnya ke sofa yang dia duduki.

“Beberapa minggu ke depan juga kita akan sibuk.” Timpal Minho yang sedang memainkan handphonenya.

“Semoga kesehatanku tidak terganggu. Aigoo~ aku khawatir dengan stamina uri Taeminnie…” ujar Key lagi.

“Keurae? Tapi aku lebih muda darimu, hyung. Staminaku pasti lebih kuat darimu.” Kekeh Taemin, yang membuat Minho dan Key, dan aku juga, tertawa membenarkan.

“Berarti seharusnya kita khawatir pada Onew hyung.” Celetuk Key dengan wajah datarnya, yang disambut tawa lebih keras dari yang lain. Mau tidak mau aku juga ikut tertawa. Dan dengan ini mereka sudah menghiburku secara tidak langsung.

“Bicara tentang stamina, Onew hyung, bagaimana kabar Jibyung noona?” tanya Minho antusias, tapi terlihat ada guratan jahil dalam senyum penuh karismanya itu. Dan lagipula apa hubungannya stamina dengan Jibyung, Minho-ya?! (-___-)

“Setahuku kalian belum honeymoon, kan? Malam pertama saja terganggu pekerjaan.” Timpal Key dengan wajah datarnya (lagi).

“Yaaa~” goda Minho jahil.

“Mwoya?” sanggahku seraya tertawa kecil.

“Oh~ Taemin-ah! Kenapa wajahmu yang memerah?!” pekik Key tiba-tiba dengan jari telunjuknya yang mengarah pada Taemin yang duduk tepat di sampingku.

Taemin mengambil bantal sofa untuk kemudian digunakan untuk menutup wajahnya, “Aa~ makanya kalian jangan membicarakan hal semacam itu di depanku!”

Sontak kami tertawa mendengar rengekan magnae kami yang berusaha bertransformasi menjadi namja manly ini. Menurutku, tetap saja dia Taemin yang polos dan imut seperti beberapa tahun lalu (.__.)v.

(End of POV)

>>><<<

(Jibyung’s POV)

“Kau kapan pulang?” gumamku pada ‘mainan panda’ yang sedang bergerak-gerak ceria di bawah matahari itu. Issh~ dia seperti sedang mengejekku! (= =,) “Bisa diam tidak?!” bentakku sembari menekan bagian kepala benda itu sehingga dia tidak bisa bergerak-gerak lagi.

AAAHH~ DUBU-YA~~ Ayolah, kau bukan Bang Toyib(?) kan? Cepat pulang dan bantu aku mengatasi eomma dan mertuaaaa~! Mereka terus mendesakku untuk cepat-cepat &*^#@$^*()(&%$$%^*, pokoknya mereka jadi menyeramkan akhir-akhir ini. Ini gara-gara kau! Harusnya yang didesak itu kau, bukan aku. Atau jangan-jangan kau dapat yeoja lain di Jepang? (╥__╥) *Jibyung galau gila= =”*

“Paboyaaa~! Eotteokhae?” Aku mengambil handphone yang kuletakkan di dekat bantal, mengamatinya beberapa saat sambil menimbang-nimbang apakah aku akan menelponnya atau tidak, dan apakah aku harus mengiriminya pesan atau tidak?

Sebenarnya mudah saja melakukan itu, tapi masalahnya… aku tahu dia pasti sangat sibuk di Jepang sana. Pernah beberapa kali aku mencoba menghubunginya duluan, tapi tidak ada satu pun yang langsung diangkat olehnya. Mengirimi pesan juga sering, tapi yang membalasnya malah Key dan segala keisengannya (=_=“). Aku ‘kan kesal… Karena itu aku selalu menunggunya menghubungiku duluan, atau terkadang mencari informasi tentangnya di internet.

Tapi setiap aku melakukan itu—menunggunya menghubungiku duluan—aku selalu teringat perkataannya beberapa minggu lalu, tentang ‘membuatnya lebih mencintaiku’. Terkadang terpikir juga olehku, apakah dia serius saat mengatakan itu? Apa sebabnya dia mengatakan itu? Apakah karena selama ini cinta yang kuberikan padanya masih kurang? Atau ada sebab lain? Yang jelas, jika memang dia serius mengatakan itu, aku takut aku tidak berhasil melakukannya, dan aku takut karenanya akan ada sesuatu yang terjadi di antara kami, apapun itu.

Setelah merenung beberapa saat, akhirnya kuputuskan untuk menghubunginya lebih dulu. Siapa tahu…?

Nada sambung mulai terdengar, membuatku sadar mengenai apa-yang-akan-kubicarakan-jika-yang-mengangkatnya-dia-sendiri. Oke, kurasa aku sudah tertular kepikunan Jikyung (.__.). Aku melupakan topik pembicaraannya.

“Tidak ada jawaban dari nomor yang Anda tuju. Silahkan hubungi be—”

PIP!

Ini yang kusebut ‘menunggunya menghubungiku duluan’! (= ..=)

>>><<<

“Wae?” Jikyung mengetuk kepalaku dengan sumpit yang dipegangnya saat kami sedang makan siang bersama di sebuah kedai samgyetang. Mulai hari ini Jikyung tidak bisa sering-sering mengelola butik bersamaku, karena dia sudah menjalin kerja sama dengan sebuah perusahaan di Seoul, tidak jauh dari tempat butik kami berada.

“Apanya yang kenapa?” tanyaku menanggapi pertanyaannya tadi.

“Aku sering melihatmu melamun. Hati-hati!” bisiknya dengan nada penekanan yang terkesan horor. Aku menghela napas pendek.

“Jikyung-ah~” kutarik lengan bajunya dengan pelan, membuatnya menatap mataku dengan serius. Terkadang aku ingin mencubit pipinya kalau dia sedang seserius ini.

“Arasso.” katanya kemudian. Err~ inilah untungnya memiliki saudara kembar. Kau tidak perlu berbicara banyak jika ingin menceritakan perasaanmu, karena dia—kembaranmu itu—bisa langsung mengerti, begitu juga sebaliknya. Kau akan merasakan apa yang dirasakan kembaranmu.

“Biarkan aku menghabiskan makan siangku dulu.” katanya datar, dan aku mengangguk setuju.

Setelah itu, tidak ada yang bicara di antara kami yang sibuk dengan makanan masing-masing. Aku baru menceritakan masalah yang sedang kupikirkan saat dia sudah selesai dengan makanannya.

*

“Kesabaranmu sedang diuji sekarang.” Ucap Jikyung sembari menunjuk langit-langit dengan telunjuknya—setelah aku selesai mengungkapkan masalahku. Aku mengangguk mengiyakan. “Kalau saat itu dia memang serius mengatakan tentang ‘membuatnya lebih mencintaimu’, tanpa memberitahukan alasannya, seharusnya dia juga sedang berusaha untuk lebih mencintaimu sekarang. Kau mengerti, kan?”

Aku mengangguk lagi, “Tapi sepertinya dia memang sudah berusaha melakukan itu. Aku juga sebenarnya sudah berusaha, tapi selalu gagal.”

“Tentu saja!” sambar Jikyung berapi-api, “Bagaimana bisa berhasil kalau kalian saja jarang bertemu, kau ini!”

“Aku tahu itu~”

“Tapi… apa yang membuatnya berkata seperti itu, ya?” Jikyung terlihat menerawang, dan aku hanya angkat bahu, malas berpikir, walaupun aku sudah memikirkan hal yang sama lebih dulu.

“Jadi apa yang harus kulakukan sekarang?” ucapku setengah merengek.

“Aissh~ memangnya aku sudah pernah menikah, eoh?” Jikyung malah menjitak kepalaku. “Kurasa kamu terlalu cuek, tempramen dan juga sedikit berkomunikasi. Hanya karena telponmu tidak diangkat beberapa kali, kamu langsung marah dan tidak peduli dia akan menelpon balik atau tidak. Dan saat berbicara di telepon, aku sering memperhatikan, jarang sekali kamu yang berbicara banyak, walaupun aku yakin di benakmu ada banyak yang ingin kamu katakan, dan dia juga memberimu kesempatan untuk berbicara. Kalian ‘kan sudah menikah, ceritakan apapun yang kamu rasakan, apapun yang kamu pikirkan pada suamimu, tidak boleh ada rahasia di antara kalian, sekecil apapun itu. Itu yang kutahu.”

“Tapi kurasa dia sendiri juga menyembunyikan sesuatu.”

“Menyembunyikan apa?”

“Tentu saja tidak tahu, kan sudah kubilang ‘menyembunyikan’.”

Jikyung terlihat berpikir, hingga bisa kulihat kerutan dahinya yang dalam—mungkin saking seriusnya dia berpikir. “Aaarh~ molla, molla. Untuk urusan seperti ini bukan aku ahlinya.” Namun kemudian dia mengacak rambutnya sendiri, frustasi, “Mianhada.” Tambahnya lagi setelah menghela napas sejenak. “Kenapa tidak ceritakan saja pada eomma?”

“Ani~!!” sangkalku cepat-cepat, “Ini urusan pribadiku. Aku tidak mau membuat eomma ikut memikirkannya. Andwae.” Jikyung menatapku dengan nanar, dan aku cepat-cepat menambahkan, “Terimakasih sudah menjadi pendengar yang paling baik untukku, Twin.”

Jikyung tersenyum dan merentangkan kedua tangannya sambil berdiri, aku melakukan hal yang sama, dan kami pun berpelukan selama beberapa detik. Aku membagi kegelisahanku sekaligus ‘menyerap’ energi positifnya.

“Baiklah, kita bisa bicarakan hal ini lagi di rumah. Sekarang aku harus kembali ke kantor, jam makan siang sudah hampir habis.” Katanya seraya melepaskan pelukannya dan menatap jam tangan yang dikenakannya.

“Perlu kuantar?” tawarku dengan suara pelan, dia mengangguk sambil merangkul bahuku dan kami keluar bersamaan dari kedai ini.

>>><<<

“Yeoboseyo.” suara rendah seorang namja mengangkat telponku.

“Ah, ne, Jonghyun-ah. Ini aku.” sahutku lempeng. Auh~ ribut sekali di sana.

“Oh~ ne, ne, Jibyung-ah. Waegeuraeyo?”

“Kalian sedang apa?”

“Kami sedang rehearsal.” Oh~ pantas saja ribut-ribut.

“Ah~ keurae? Apa aku mengganggumu?” tanyaku takut-takut.

“Aniyo, ani… Waegeurae?”

“Itu… apa di dekatmu ada Onew?” tanyaku hati-hati.

“Wae? Mau bicara padanya?”

“Ani, justru menjauhlah kalau dia sedang di dekatmu.”

Kudengar Jonghyun terkekeh sebentar, “Mwo? Ah~ waeyo?” Err~ sudah berapa kali, sih, dia mengatakan ‘wae’? (.__.)

“Nanti dia mendengarkan pembicaraan kita.”

“Oh~ arasso.” Sejenak dia menghentikan perkataannya. Mungkin karena sedang ‘menjauh’? ”Memangnya apa yang ingin kau bicarakan? Tumben.” Lanjutnya kemudian, dengan suara yang lebih pelan.

“Hanya ingin menanyakan sesuatu. Apa kalian merasa ada yang aneh atau berbeda dari Onew akhir-akhir ini? Apapun itu.” Ujarku hampir terdengar mendesak.

“Emm~ kurasa… ada. Onew hyung sering melamun akhir-akhir ini. Tidak terlalu sering, sih. Tapi lebih sering dari yang biasanya. Bagaimana, ya? Arrh! Kau pasti tahu lah, maksudku.”

Seolah mendapat titik terang, aku memintanya meneruskan dengan tidak sabaran, “Ne, ne. Lalu?”

“Kami sudah beberapa kali memintanya menceritakan apa yang mengganggu pikirannya. Tapi dia bilang tidak ada yang perlu diceritakan, dan dia baik-baik saja. Ya, kurasa kau juga sudah tahu, kan, bagaimana seorang leader. Dia dituntut untuk punya berlapis-lapis topeng yang bisa menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya. Dan kalau Onew hyung, kurasa tanpa dituntut pun sifatnya sudah seperti itu.”

“Em~” gumamku pelan, sedikit tersentuh dengan kalimatnya barusan. “Jjong-ah, apakah mungkin karena jadwal kalian yang terlalu padat? Atau ada yang membuatnya tertekan? Apa ada suatu masalah yang berhubungan dengan agensi kalian atau sebagainya?” tanyaku lagi, kali ini dengan intonasi yang lebih santai.

“Kalau jadwal padat, sih, sudah biasa, tidak mungkin bisa membuatnya sampai begitu.” Dia berhenti lagi sebentar. “Masalah dengan agensi? Setahuku tidak ada masalah apapun, kok. Semuanya baik-baik saja. Memangnya kenapa, Jibyung-ah? Dia juga tidak menceritakan apapun padamu?”

Aku menghela napas dalam, “Tidak, makanya aku bertanya padamu. Tapi sepertinya aku sudah tahu alasannya sekarang.” Ya, kemungkinan besar alasannya karena masalah itu.

“Waegeuraeyo? Kalian ada masalah?”

“E-eh? (.__.)a An-ni… yo, kkeokjeongma.”

“Gwaenchana. Siapa tahu kami bisa membantu? Kalian bertengkar? Apa masalahnya serius?”

Bagaimana aku bisa tahu itu serius atau tidak? Yang tahu detailnya ‘kan Onew sendiri, dan parahnya dia tidak memberitahuku.

“Jibyung-ah, mian…” Jonghyun kembali bersuara karena aku tidak menjawab. Suaranya terdengar jauh lebih serius sekarang. “Mungkin lebih baik aku mengatakannya padamu sekarang.”

“Ne, wae?” Kenapa aku jadi ikutan was-was begini?

“Entah ini hanya pengamatanku saja, atau yang lain juga menyadarinya, aku… melihat… hyung… ah~ gwaenchana, Jibyung-ah? Mungkin ini akan sedikit menyinggung perasaanmu.”

“Ani, ani, gwaenchana. Malhaejyeo!” desakku semakin tidak sabaran.

“Mianhae, tapi aku melihat hyung sepertinya… tidak terlalu senang… dengan pernikahan kalian. Ah~ tapi itu bisa saja hanya perasaanku. Mianhae.”

Molla. Mendengar itu aku malah merasakan sesuatu yang dingin pecah dalam jantungku. Kukira bukan hal ini yang akan Jonghyun katakan. Dan kukira dampaknya tidak akan sesakit ini. Ini sih bukan ‘sedikit’ lagi, tapi ‘sangat’ menyinggung perasaanku.

“Jibyung-ah, gwaenchana? Mianhaeyo.”

“Jibyung-ah…”

Suara Jonghyun di telfon hampir berbarengan dengan suara Jikyung yang memanggilku dari pintu masuk butik. Aku menoleh ke arah Jikyung dan menjawab pertanyaan Jonghyun, Ne. Gwaenchana, gwaenchana. Ehm~ sudah, ya, aku harus bersiap-siap pulang. Annyeong.” Tanpa menunggu jawaban Jonghyun aku langsung memutuskan sambungan, kemudian menatap Jikyung yang sekarang sudah berdiri di hadapanku.

Dia tersenyum simpul dan mengangguk, “Sudah malam. Jibe kaja!”

>>><<<

Hari-hari berikutnya kujalani dengan agak kurang bersemangat dan terkadang tidak fokus dengan apa yang kulakukan. Tapi tidak terlalu sering, karena aku takut orang-orang di sekitarku—terutama eomma—menyadari ketidak beresanku ini. Kecuali Jikyung, karena memang aku tidak bisa menyembunyikan apapun darinya, ditambah lagi dia sudah tahu perkaranya dari awal.

Aku masih sering memikirkan perkataan Jonghyun tempo hari, dan mengingat-ingat kembali hal apa yang sudah kulakukan hingga membuat Onew merasa tidak senang setelah menikah denganku. Tapi bukan berarti aku mempercayai sepenuhnya perkataan Jonghyun itu, karena dia sendiri bilang itu belum tentu benar. Tidak ada salahnya, kan, intropeksi diri? Dan sekaligus untuk berjaga-jaga kalau ternyata perkataan Jonghyun itu justru benar. Dan hingga saat ini aku belum mendapat petunjuk apapun mengenai itu.

Saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju Gyeonggi-do, rumah orang tua Onew, atau sekarang aku harus menyebut mereka mertua? Err~ rasanya agak aneh. = =” Tidak tahu apa yang akan kulakukan di sana, aku hanya ingin menemui mereka saja. Mumpung butikku juga sedang libur.

Sesampainya di sana, eommonim menyambutku dengan senang. Melihat senyumnya, aku jadi ingat Onew. Mereka mirip sekali.

“Eommonim, abonim mana?” tanyaku.

“Di toko. Akhir-akhir ini pelanggan kami bertambah banyak, abonim jadi sering pulang malam.” Tuturnya sambil menuntunku masuk ke rumah. Aku berdengung paham. Kemudian eommonim meninggalkanku di ruang keluarga rumah ini, dan kembali lagi dengan membawa segelas minuman.

“Kukira kau membawa kabar bahagia?” katanya dengan sedikit cemberut. Aku tertawa garing dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Pasti soal itu lagi! “Kau lihat, aku kesepian di sini. Jinki dan ayahnya selalu sibuk bekerja. Kalau sudah punya cucu, kan, setidaknya aku punya mainan.”

Aiiyyy~ tuh, kan! (>,<”)

DRRT~ DRRRT~

Handphoneku bergetar, aku segera mengambilnya di dalam saku jaketku. ‘Dubu-Sangtae’s Calling’. Baguslah, kau menyelamatkanku di saat-saat seperti ini. Aku melirik eommonim dan menekan tombol loudspeaker.

“Ne.” Ujarku.

“O, Jibyung-ah.” Sahut Onew setelah sebelumnya tidak terdengar suara siapapun. Eommonim yang mendengarnya mendekat ke arahku.

“Wae?” tanyaku.

“Ani, hanya ingin mendengar suaramu.”

Seketika eommonim memekik, “Aaaigooo~”

BLUSH!

Aissh~ kurasa wajahku memerah sepenuhnya sekarang. Kudengar Onew tertawa di sana, tepat saat eommoni mengambil alih handphoneku.

“Jinki-ya!”

“Ne?”

“Ini eomma.”

“Ah, eomma. Jadi Jibyung sedang bersamamu?”

“Ne, dia datang ke rumah.” Eommonim tersenyum simpul dan melirikku sekilas. Aku hanya bisa mendengarkan percakapan mereka sekarang.

“Oh~ arasso.”

“Jinki-ya, kapan kau pulang?”

Onew terkekeh, “Kalau tidak ada halangan, besok lusa aku akan pulang, sebelum konser SM Town Paris.” Terangnya santai.

“Ah~ jinjja? Kau pasti lelah sekali.” Benar. Dia pasti lelah sekali.

“Hehe~ gwaenchana. Bagaimana kabar eomma?”

“Eomma selalu baik-baik saja. Justru eomma khawatir padamu.”

“Aku juga baik-baik saja, kok. Jangan khawatir. Jibyung-ah!”

Aku langsung menegakkan tubuhku, “Wae?”

“Bagaimana kabar kakak iparku?”

“Jikyung? Dia sehat-sehat saja. Eomma juga.” Jawabku. Dia terdengar menggumam kecil. Jika bertatap muka langsung, sepertinya dia sedang manggut-manggut sekarang. Tapi… aissh~ dia tidak tanya kabarku? Bagaimanapun, kan, kami jarang berkomunikasi. (=o=)

(End of POV)

>>><<<

(Onew’s POV)

“Ya! Tidak kangen padaku?” tanyaku sedikit terkekeh.

“A-aniyo!”

“Emm? Keurae? Wae?”

“Tsk! Molla. Sudahlah, kembali bekerja!”

“Aigoo~ istriku galak sekali.”

“Ya!!”

“Arasso, arasso. Tunggu kedatanganku, ya, Byung-nim…”

“…”

“Yeobo?”

“NE!!”

BRUAKK!

Aku meringis kecil sembari mengusap pantatku yang ‘mencium’ lantai. Dia berteriak keras sekali. Makanya aku kaget dan sukses terjatuh dari kursi yang sedang kududuki. Aduh~

“Hyung, waeirae?” tanya Minho yang kebetulan melihat caraku terjatuh dengan menakjubkan.

Aku menggelengkan kepala dengan cepat dan kembali duduk, “Ani, tidak ada apa-apa. Lanjutkan saja apa yang kau lakukan.” Dan aku kembali terpaku pada handphoneku. Ah, ternyata sudah tidak tersambung.

Iseng-iseng aku membuka konten phonebook. Aku belum mengganti ID kontak Jibyung, anyway. Setidaknya, kan, harus ada spesial-spesialnya, seperti Lee Jibyung, Byung-buin-nim(?), Yeobo, atau My J-Partner(?) (.__.) Akhirnya aku sampai di ID kontak Shin Jibyung, yang tepat di bawahnya ada nama Shin… Jikyung. Kakak ipar. Apa yang sedang dilakukannya, ya? Kakak ipar. Well, tidak ada salahnya, kan, kalau aku menghubungi kakak iparku? Dia hanya kakak iparku.

Setelah aku mendekatkan speaker handphone ke telingaku, tanpa perlu menunggu lama, sudah terdengar jawaban,“Yeoboseyo?”

“Kakak ipar~ annyeong haseyo~” candaku.

“O—hahaha~” Aku ikut tertawa mendengarnya. Dia kemudian menambahkan, “…keurae, aku kakak iparmu sekarang.” Ne, hanya kakak ipar.

“Ne. Bagaimana kabarmu?”

“Tentu saja baik. Bagaimana denganmu?”

“Mwo? Kau tidak tahu? Banyak sekali yang tahu kabarku. Kenapa kau tidak?”

“Maksudmu?” Oh~ oke. Aku lupa bahwa si kembar ini sedikit lelat berpikir. Aku membiarkannya sebentar, sampai akhirnya dia tertawa lagi dan berkata, “Arasso, arasso. Mianhae, aku tidak sempat update berita tentang kalian. Sekarang aku lebih sibuk karena tidak bekerja di butik kami lagi.”

“Oh~ jinjja?” ucapku menunjukkan ketertarikan. Padahal aku sudah tahu itu dari Jibyung beberapa hari yang lalu. Baik! Aku melakukan ini karena ingin lebih lama berbicara dengannya. Aku mengakui itu!

“M-hmm~ sekarang Jibyung sendiri yang menjalankan butik.” Terang Jikyung lagi, dan aku menggumam paham.

“Jadi kamu sedang di tempat kerjamu sekarang?”

“Ani, aku sedang di bar. Ya tentu saja, adik ipar. Kenapa masih tanya?” aku tertawa mendengar selorohannya yang sebenarnya agak garing ini (.__.)a “Ah~ Onew-ya.. Apa Jibyung sudah…” dia berbicara lagi dengan kalimat menggantung.

“Sudah apa?”  tanyaku penasaran.

“Ani. Mungkin belum.” Katanya lagi, sedikit bergumam. “Oh~ sudah dulu, ya. Aku harus kembali bekerja.” Kurasa dia sengaja mengakhiri pembicaraan.

“O-oh~ ne. Annyeong!”

PIP!

Ck~ padahal aku ingin lebih lama lagi bicara dengannya. Tapi ya sudahlah, gawat juga kalau aku mengganggu pekerjaannya. Tapi, ngomong-ngomong, apa maksudnya barusan, ya? Sudah apa?

>>><<<

Sesuai rencana, kami kembali ke Korea dua hari kemudian. Begitu sampai di Incheon, sebuah pesan masuk ke dalam handphoneku. Pesan singkat dari eomma yang isinya menyuruhku untuk menemuinya sebentar di rumah. Oke, mungkin aku bisa sekalian beristirahat di sana sebelum harus terbang lagi ke Paris nanti.

“Pasti kau lelah, ya?” eomma mengambil tas di tanganku dan memelukku sekilas.

“Sedikit.” Kekehku, balas memeluknya. Bohong, sih. Tapi bagaimana pun, kan, ini adalah resiko atas pilihanku. Aku harus menerimanya tanpa banyak mengeluh.

Setelah meneguk sebotol minuman dingin, aku menghempaskan tubuhku di atas sofa dengan posisi tengkurap. Tidur beberapa menit mungkin tidak apa-apa.

***

“Jinki-ya!” eomma mengguncang pelan bahuku, tepat saat aku baru saja akan kehilangan kesadaran. Terlelap maksudku.

“Mmm?”

“Ireona-ya! Ada sesuatu yang harus kamu lakukan.”

Aku membalikkan badanku, sehingga kali ini posisiku berbaring telentang, sembari memeluk bantal sofa dan menatap eomma, “Mwoeyo?”

Eomma menyodorkan sebuah kunci dan secarik kertas ke arahku, dan meletakkan tas jinjing berukuran besar di atas perutku, “Bawa barang-barang ini dan pergi ke alamat itu, arachi?” katanya.

“Mwo? Untuk apa?” tanyaku lagi sembari duduk tegak dan memeriksa isi tas tadi. Baju-bajuku? Untuk apa? Kemudian aku meneliti kertas di tanganku, yang ternyata isinya alamat yang mungkin eomma maksud barusan. Kalau tidak salah, ini, kan, alamat sebuah apartemen. Ah~ ada nomor kamarnya juga.

“Kau akan tahu setelah sampai di sana.” Ujar eomma lagi. Aku menatapnya sambil memiringkan kepala bingung. Ada apa, sih? Aku jadi seperti diberi misi (-__-).

Tapi tidak ada salahnya melakukan ini, “Keurae. Aku berangkat.”

>>><<<

“Nuguseyo?” tanya seseorang dari intercom setelah aku membunyikan bel sekali. Meskipun aku punya kuncinya, entah kenapa aku rasa apartemen ini tidak terkunci karena ada seseorang di dalamnya. “OH!” pekik orang itu  kemudian. Tunggu, aku mengenal suara ini.

“Aa! Jibyung-nim!” seruku seraya tertawa kecil. Dia melambai padaku. Jadi ini ‘misi’nya? Aduh~ eomma ada-ada saja.

Pintu apartemen ini terbuka, dan Jibyung muncul sambil tertawa-tawa. Dia menyuruhku masuk, dan kembali tawaku pecah setelah dia menutup kembali pintunya dengan rapat. “Aku tidak tahu kau ada di sini. Eomma hanya menyuruhku ke sini, dan memberikan ini.” Aku menunjukkan kunci dan tas di tanganku.

“Jinjja?” ujar Jibyung. “Aku juga tidak tahu kau akan ke sini. Eomma hanya mengatakan ini hadiah untuk pernikahan kita.”

“Ooh~ jadi ini apartemen kita sekarang?” gumamku sambil meletakkan tasku di atas sofa dan berkeliling sebentar. “Wah~  mereka sudah menyiapkan semuanya, ya?” gumamku, kagum dengan orang tua kami yang niat sekali melakukan ini. Tanpa sengaja mataku menangkap sebuah foto frame yang menggantung di dinding kamar. Foto pernikahan kami? Apa mereka juga yang menyiapkan ini?

“Aigoo~ bahkan lemari esnya saja sudah terisi penuh.” Jibyung memasuki kamar dengan tas yang tadi kubawa berada di tangannya.

“Jinjja?”aku menatapnya sebentar, dan kembali terpaku lagi pada foto tadi. “Ya! Mereka juga sempat-sempatnya melakukan ini?” tanyaku sambil menunjuk benda itu.

“Oh? Aniya. Itu  aku yang memasangnya.” Sahut Jibyung santai.

“Yaa~! Byung-nim, yeobo! Gomawo!” aku menghampirinya dan memeluknya sekuat tenaga. Untuk orang secuek dia, biasanya hal sekecil ini tidak akan dia lakukan. Tapi sekarang… aigoo~ aku senang sekali.

“I-i.. ya! Aku… tidak bisa… bernapaaaas..”

“Bogosipheo, Byung-nim!” aku malah mengeratkan pelukanku dan tidak mempedulikan rontaannya. Aku harus bisa menyingkirkan keraguanku, dan membuatnya menjadi orang yang satu-satunya ku cintai. Ani, aku pasti bisa.

(End of POV)

>>><<<

To Be Continued

22 thoughts on “My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip Two

  1. annyeong..
    Aku lom baca part 1nya niy… whe…

    ‘Gmn kabar kaka ipar!?’ aiiish onew,,, teganyaaa… whuhuhu…
    trus gmn sama perasaan jikyung y!? pa pnya rasa jg ma onew!?
    eomma jinki baeknya ngasi apartmen… 🙂
    dtunggu next part!!

  2. AIGOOOOO~ AKU KETINGGALAN BACANYA!!

    keren banget eonn dan menggemaskan!!
    Jadi gimana ini?? Ntar onew ngutarain perasaannya ke Jikyung? OMO!! Napeun namja!!
    Aku gak kuat deh kalo ntar baca part Onew kasi tau perasaannya yang sebenarnya ke Jikyung kayak di treasernya itu..huhuhu..kesian Jibyung eonni…

    Pokoknya gak boleh pisah ya mereka..
    Jibyung, jangan cuek-cuek dong jadi istri. Ntar nyesel lho mbak di tinggal si dubu..PLAKKKK!!!

    O, iya yang part terakhir itu sweet banget sih..hehehehhehe..

    Part 3 nya aku tunggu eonn!!
    Pasti tambah seru deh. Bawa bantal dulu ah, biar bisa di gigit kalo geregetan #PLAKK!!sarap!!

    Oke eonn, cepet yah updete nya 😀 hahahahahihihihihihuhuhuhuhehehehehehehohohoo….

    • AKU JUGA TELAT BALESNYAAA T.T #lebay

      .__. Ah, masa sih keren?
      Wah~ daebak, kamu masih inget teasernya? .___. Jadi merinding. *eh?*

      Part terakhir? Cuma pelukan. Kgak ada sweet2nya, kecuali kalo yg dipeluk itu aku .___. #DZING!

      Ahaha~ bantal lagi yg jadi korban XD #plakk
      Makasih ya, Devinda.. ^^

  3. hihihi masih suka ketawa-tawa sendiri nih… Tanggung jawab, Author!! *Lho?

    Mau tanya nih, Author punya kembaran juga yah??

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s