Mask Party {Kwangmin Love Story} Serie A

page

Author           : Awsomeoneim

Main cast       :

  • Kwang Min, (Boyfriend)
  • Han Je Soo
  • Shizuka Higashikuni

Support cast :

  • Shin Min Ra (you)
  • Lee Taemin, (SHINee)
  • Young Min, (Boyfriend)
  • Kang Hyun In

Type                : Chapter

Genre              : Romance, Friendship

 

ANNYEONG HASEO!! *lambai-lambai + Kibar bendera* #plaakkk

BTW, reader…Gimana kabar? Author baik, Cuma lagi kangen aja sama Kwangmin #gubrak

Hahaha…ini ada persembahan FF dari author {lagi}. Ini udah seri ketiga SEQUEL MASK PARTY. Pdahal, rencananya Cuma bikin 1 sekuel..tapi ternyata adik-adiknya si Taemin banyak yang request bikinin sequelnya juga…Wow. Ya jadilah 3 Sequel #sekakeringat

Jadi berasa sinetron Tersanjung =,=” tapi semoga aja jalan ceritanya {ketiga-tiganya} menarik dan ngga sinetron Indonesiaan #plak

This is the last SEQUEL, but not for the last for my carieer #yaiyalah

 

So, nikmati, keep reading, and Keep comment! \^_____^/

SIDER, YOUR IDOL WILL COME TO ME AND SAY, “WILL YOU BE MY GIRLFRIEND?” WAHAHAHA #EVILLAUGH

Previous series :

Mask Party Sequel

Mask Party Sequel {Young_In Couple}

Kwangmin POV.

Jung Woo {Ketua kelas x4} membagikan sebuah selebaran informasi seleksi beasiswa ke luar negeri. Ada beberapa pilihan tujuan, diantaranya USA, Inggris, Singapore, Jepang, Australia, Italia, Jerman dan Prancis. Mataku langsung tertuju pada Negara 2 dari akhir. Jerman?

‘Hmm Negara itu bagus di bidang teknologi. Aku sejak SMP juga suka dengan pesawat.. Bagaimana kalau kucoba saja? Iseng-iseng…ajak Youngmin hyung ah…’ Batinku.

Kurasakan ponsel di atas bangkuku bergetar. YAHOO! Belum juga bilang, Youngmin hyung sudah mengajakku ikutan seleksi ini…dan pilihan kami sama! Jerman! Whaw.. kami sehati! {namanya juga kembar…}

Setelah mengirimi balasan, tiba-tiba aku teringat seseorang yang mungkin saat ini sedang ada di Jerman. Dia teman saat aku masih berumur 7 tahun. Dia sekaligus cinta pertamaku..

*flashback*

Sore itu aku pulang sendirian dari tempat Les pianoku. Youngmin hyung sedang sakit, umma menungguinya dan appa belum pulang kerja. Sopir yang bekerja di rumah kami juga sedang cuti.

Karena jaraknya dekat kuputuskan untuk jalan kaki saja. Ditengah jalan aku bertemu yeoja manis yang tinggal di sebelah rumah kami, namanya Han Je Soo. Dia lebih tua 2 tahun dari pada aku, dan dia kakak kelasku.

“Noona sedang apa di sini? Kenapa sendirian?” tanyaku sambil berjalan mendekat ke arahnya yang sedang duduk sambil memeluk kedua lututnya di pinggir jalan.

“Hiks..Kwangminnie..” ia menyeka air matanya, wajahnya terlihat merah padam.

“Ne..ini aku noona. Noona kenapa menangis?” aku berjongkok di sampingnya, sementara ia masih mengelap beberapa butir air mata yang mengalir dari matanya. ‘Aish..dia sudah kelas 4 SD kenapa masih tidak malu menangis di pinggir jalan seperti ini sih?’ batinku.

“Umma menyuruhku membeli telur, tapi spedaku tidak sengaja tersandung sebuah batu,  dan akhirnya aku jatuh dan semua telurnya pecah.” Ia masih sesenggukan.

Kulihat sepeda pink favoritnya tergeletak begitu saja di sebelahnya, dan di sampingnya ada pecahan telur. Karena ia duduk, pinggiran rok kotak-kotaknya terkena sedikit cairan telur itu. Aku mengeluarkan sapu tangan dan tissue dari dalam saku jaket dan memberikan pada Je Soo noona.

“Noona gunakan sapu tangan ini untuk menyeka air matamu dan tissue untuk mengelap pinggiran rok mu yang terkena telur itu, lalu kita kembali ke toko tempatmu beli telur tadi,” kataku.

“Mwo? Aku tidak bawa uang selain uang yang diberikan oleh umma,” elaknya sambil menyeka airmatanya dengan saputanganku.

“Aku bawa uang kok. Ayo cepat bersihkan rokmu lalu ke toko. Mrs. Han pasti akan mengomel kalau noona pulang saat fajar sudah tenggelam,” aku bangkit lalu menegakkan kembali sepeda noona dan menuntunnya beberapa langkah darinya, “Ayo, noona!”

Ia menatap ke arahku lalu bangkit dan membuang bekas tisu tadi, ia menyusulku yang sudah mulai berjalan lagi, “gwenchanayo?”

Aku tersenyum tulus padanya, “Gwenchana. Ganti saja besok.”

“Ne..jeongmal gomawoyo Kwangminnie..” ujarnya sambil tersenyum. Bekas air matanya masih ada, namun kini wajahnya lebih baik.

“Cheonmaneyo Je Soo noona . Ah, Noona tidak terluka?” tanyaku sambil mengamatinya dari kepala – kaki. Kelihatannya dia baik-baik saja.

“Hanya luka di sini, tidak parah kok, nanti kuobati setibanya di rumah,” ia menyingkap lengan bajunya dan terlihat sikunya yang sedikit lecet.

“Oh.. kita sekalian beli plester saja di sana,” ujarku, “luka yang dibiarkan terbuka terlalu lama akan menimbulkan infeksi yang lebih parah. Sekedar buat p3k plester cukup kan.”

“Ne… doctor Kwangmin ssi,” katanya sambil terkekeh.

Aku juga tertawa mendengar panggilan darinya..hahaha padahal semua orang tau hal itu kan? {hayoo siapa yang belum tau..sini les sama Kwangmin.. *lempar Kwangmin, ambil lagi* #gubrak}

Bisa berjalan bareng dan ngobrol dengannya saja sudah membuatku saaangat bahagia. Sehingga menurutku pinjaman uangku tidak ada apa-apanya.

Hmm, semoga besok kami bisa lebih banyak ngobrol saat di sekolah 😉

Keesokan paginya, aku bangun dengan semangat ’45. Youngmin hyung yang masih bergumul dengan selimutnya bahkan meledak dengan sangat hebat sampai tembok kamar kami jebol {Thor, lu lebay, sumpah! #plakk} saat aku memaksanya untuk cepat bangun karena hari ini aku ingin cepat-cepat sampai di sekolah dan bertemu Je Soo noona.

Tapi.. aku tidak menemukannya di kantin. Padahal itu tempat favoritnya. Aku tidak menemukan sepedanya saat melewati parkiran sepulang sekolah. Otomatis aku lunglai lesu saat perjalanan pulang sampai rumah.

Youngmin hyung meledekku habis-habisan melihat tingkahku yang sangat berbeda antara tadi pagi dan siang ini. Aku cuek saja, aku hanya ingin tau kemana Je Soo noona.

Sesampainya di rumah, umma memberikan aku dan Youngmin hyung masing-masing 1 kue bolu. Umma bilang itu dari keluarga Han. Je Soo noona yang mengantarkannya, ia juga menitipkan uang ganti yang aku pinjamkan dan juga sapu tanganku.

Setelah itu aku segera berlari keluar rumah dan melihat rumah keluarga Han yang sangat sepi. Mobil dinas milik Mr. Han tidak ada di luar rumah seperti biasanya. Sepeda Je Soo noona juga sudah tidak  berada di halaman rumah. Kursi yang selalu di teras juga lenyap.

Aku tidak percaya ini. Jadi, kemarin Mrs. Han menyuruh Je Soo noona membeli telur untuk membuat kue bolu dan memberikannya pada keluarga kami untuk berpamitan karena Mr. Han ditugaskan ke Jerman?!

Aku baru saja senang bisa ngobrol lama dengan yeoja yang selama ini hanya bisa kusapa tiap pagi dan sore.. tapi ia sudah harus pergi ke benua yang begitu jauhnya dari Seoul…. Kenapa kau tidak mengatakan padaku noona?

Kurasakan mataku panas, detik berikutnya aku sudah terisak dan kurasakan sebulir air mata mengalir turun diikuti bulir-bulir air mata lainnya..

*flashback end*

‘Je Soo noona, bogoshippo~’ kataku dalam hati sambil masih menggenggam formulir itu. ‘Aku harus memenangkan beasiswa ini! Harus! Aja-aja Hwaiting Kwangmin ssi!’ aku memberi semangat pada diriku sendiri. Aku berharap tuhan memberiku kesempatan bertemu dengan orang yang selama ini kurindukan…

Saat istirahat, aku ke kantin dan melihat Min Ra duduk santai di bangku favoritnya, dekat jendela.

“Annyeong Min Ra ssi! Kenapa sendirian dan melamun?” Aku menarik kursi di hadapannya dan duduk di sana.

“Oh, sedang tidak ada kerjaan saja, hehehe” dia nyengir melihatku.

Dia ini yeoja chingu Taemin hyung. Yeoja yang manis dan ramah. Aku suka ngobrol dekanya di waktu luang, dan kebetulan ekskul kami sama persis, jadi lebih akrab. Bisa dibilang dia teman baik alias sahabatku. Atau hanya aku yang berpikiran seperti itu? Hm, terserah dia sih.

“Kau juga kenapa sendirian? Dimana Youngmin?” Dia menatapku heran.

“Entahlah..biasanya hyung sudah sampai di sini duluan. Kita tunggu saja,” jawabku santai. Dia selalu mengabsen ketidaklengkapan kami. Apakah dia pikir jika anak kembar kemana – mana harus bareng?

“Uhm..” dia hanya berdehem menanggapiku.

“Min Ra, Taemin hyung akan tiba 3 hari lagi dari Jepang.” aku iseng mengangkat topic tentang namja chingunya.

“Ne.. aku tau.” Dia menatapku datar dan meminum lagi teh kotaknya.

“Hanya begitu saja ekspresimu?” jadi aku yang heran dengan yeoja ini. Kukira umumnya yeoja histeris atau jingkrak-jingkrak jika akan segera bertemu namja chingunya. Tapi dia..

“Kau mau aku loncat dari atap gedung untuk menyatakan kegembiraanku huh?” Min Ra menatapku dengan tatapan khas tanpa dosanya.

“Aish..memangnya kau berani?” Aku menahan tawa mendengar perkataannya. Itu lebih dari sekedar mustahil.

“Tidak, makanya aku hanya duduk diam di sini dan menjerit di dalam hati,” ujarnya sambil tersenyum jahil padaku.

“Jeez…ternyata Min Ra yeoja yang seperti ini ya..” aku menggangguk-anggukan kepala, bergaya paham sambil tersenyum misterius.

“Yeoja yang bagaimana?” ia mengernyitkan dahinya.

“Hanya aku yang perlu tau,  😉 sudahlah tidak usah dibahas lagi..oiya, kau akan ikut program pertukaran pelajar?” aku memilih mengganti topic saja. Karena sebenarnya aku tidak menyimpulkan apa-apa dari perkataan Min Ra tadi. Hanya bersikap sok bijak #plakk

“Hmm tidak biasanya Kwangmin mengalihkan pembicaraan,” pandangannya penuh selidik, “Masalah itu, aku tidak tertarik. Aku lebih nyaman tinggal di sini dari pada di Negara asing.”

Ia memutarkan bola matanya, “Kalau untuk jalan-jalan aku masih mau, tapi kalau tinggal dalam waktu lama..sepertinya aku tidak punya niatan.”

“Begitu.. Aku dan Youngmin hyung akan mencoba peruntungan kami. Kami ingin sekolah di Jerman. Hmm aku ingin tau cara belajar mereka,” aku berkata dengan penuh semangat. Tiap mengatakan Jerman, yang kuingat sebenarnya adalah Je Soo noona.

“HWAITING LEE TWINS!! hehe” ia tersenyum saat melihatku terkekeh karena semangat darinya, “Ah, lalu bagaimana dengan Boyfriend kalau kalian misalnya terpilih? Kalian akan meninggalkan karir kalian?”

“Mm..maybe. toh usia kami masih muda, masih banyak hal yang bisa kami coba. Mungkin saja kami bisa jadi ahli professional design pesawat,” aku mengatakannya sekedar iseng. Tapi kalau benar terjadi… agak berat juga untuk meninggalkan group dan fans.

“Lalu bagaimana dengan Bestfriend? Mereka pasti akan kecewa berat..” ia memikirkan hal yang sama denganku..

“Waktu akan terus berjalan, Min Ra-ah.. Saat agency menemukan pengganti yang pas, lambat laun mereka akan kembali pada Boyfriend kan? Bukannya aku menganggap enteng…tapi kalau memang itu harus terjadi, harus ada yang dikorbankan kan?” Aku menjawab apa adanya, sesuai yang ada di pikiranku.

“Ne…kau benar juga,” ia tersenyum mendengar jawabanku, membuat wajahnya makin manis. Pantas saja hyung bertahan pacaran sejak SMP dengannya #plak

‘Heah..Je Soo noona, apakah kini wajahmu juga seaegyo Min Ra ssi?’

Author POV

Kini Lee Twins sedang berada di bandara, mereka bersiap berangkat menuju Jerman untuk memulai kelas 11 mereka di sana.

Yap, mereka berhasil lolos seleksi pertukaran murid itu. Kwangmin senang bukan main, dan dia jingkrak-jingkrak di kamar 3 hari 4 malam {yak, author kumat errornya}

Atas alasan yang tidak diketahui Kwangmin, Youngmin juga tampak bersemangat untuk segera check in di Jerman {alasannya udah author kasih tau di Mask Party edisi Hyun In kan?}

Hanya orangtua dan Taemin yang menemani mereka di bandara.. saat waktu keberangkatan semakin dekat, Taemin segera memeluk kedua dongsaeng ‘ajaib’nya.

“Hati-hati di sana, jangan bertengkar mlulu! Aku tidak mau dapat berita kedua dongsaengku di pulangkan paksa ke Korea karena bertengkar terus kerjaannya di sana!” Taemin menatap tajam YoungKwang bergantian.

“Ne, hyung..” kedua namja itu kikuk terkena tatapan deathglare Taemin.

“Kalian kesana untuk belajar membuat design pesawat, bukan design nuklir!” {jauh amat bang…} Taemin masih memandang mereka dengan tatapan yang sama.

‘Apakah ini kelas militer?’ batin Youngmin.

‘Hyung kesambet apa sih…ngomongnya banyak banget pagi ini…’ omel Kwangmin dalam hati.

“Ne..hyung.” hanya itu yang kembali keluar dari mulut namja kembar dihadapan Taemin.

Taemin tiba-tiba tersenyum dan kembali memeluk kedua dongsaengnya, “Aku hanya bercanda… tapi kalian jangan berkelahi sungguhan di sana, okay?” 😉

“Ahahaha…pasti!” Jawab Youngmin seketika, ‘akhirnya ia menghentikan tatapan tajamnya’ ujarnya sambil menghela nafas lega.

“Kami akan pulang dengan cara baik-baik kok hyung,” Kwangmin menepuk-nepuk pundak Taemin, mengisyaratkan agar Taemin percaya pada mereka.

“Jaga diri kalian di sana ya… Kembalilah dengan hal terbaik yang bisa kalian wujudkan dari sana,” ujar Mr. Lee kemudian.

“Ne, umma juga akan selalu mendoakan kesuksesan kalian,” sambung Mrs. Lee yang berada di samping Mr. Lee.

“Gomawo umma, appa, Taemin hyung… kami berangkat dulu,” Kwangmin tersenyum manis pada ketiga orang di hadapannya.

“Kalian juga jaga diri kalian ya..” ujar Youngmin lalu memeluk appa, umma dan hyungnya, diikuti Kwangmin.

Setelah itu, mereka segera menuju tempat pemberangkatan… ‘Kehidupan di Jerman pasti akan menyenangkan!’  sorak Kwangmin dalam hati sambil menyeret kopernya.

Youngmin POV.

Kini aku sudah jauh dari Min Ra ssi. Tidak bertemu, tidak melihat, tidak mendengar suaranya. Tapi.. hati dan pikiranku masih di dominasi olehnya…

Biarlah..ini pasti hanya membutuhkan waktu..lama – kelamaan aku pasti melupakannya, dan itu HARUS!

Humm, BTW kenapa si Kwangmin akhir-akhir ini jadi dingin. Ia jadi seperti lesu tidak seperti 2 bulan lalu saat masih baru tiba di Jerman. Dia kenapa ya? Tanya ga ya? Tapi dia tampak sangat menyeramkan (?)

Ah, aku tanya pada Jeremy saja. Beberapa minggu ini ia tampak akrab dengan murid asli Jerman itu..yap, sebelum sekolah nanti akan kutanyakan padanya. Hoahmmm…kenapa aku masih saja tidak bisa menyesuaikan diri dengan Jam di jerman ya? Heah, jadi susah begini =.=” {kasihan Youngmin…}

Sudah jam 4.30 a.m. tapi aku masih ngantuk berat… {sama dengan jam korsel 12.30 p.m}

=Saat sarapan bersama=

Aku sengaja berjalan di samping Jeremy terus sejak keluar dari asrama sampai menuju kantin. Mencoba berbasa-basi lalu ke topic permasalahan. Aku lumayan terkejut dengan jawabannya.

“Kau serius? Dia mengajakmu mencari alamat keluarga Han selama seminggu kemarin?” aku sampai mengabaikan sereal yang hendak kumasukan ke mulutku.

“Yea, aku tidak bohong. Dia bersikukuh mencari gadis bermarga Han itu,” Jeremy tampak sangat antusias, dia menggigit sepotong Hot Dog-nya lalu lanjut berbicara, “Pertama-tama kami ke kantor kedutaan, agak sulit masuk ke sana. Tapi untunglah karena pamanku juga bekerja di sana, kami bisa menemukan informasi yang kami cari dengan mudah.”

“Kalian berhasil bertemu dengan keluarga Han?” aku makin penasaran dan serealku sukses aku abaikan {buat author deh..yayaya #plakk}

“Sayangnya, sebelum kami hendak ke alamat itu, seseorang memberitau kami bahwa keluarga Han sudah lama pindah tugas ke Inggris. Kwangmin kukuh untuk ke alamat itu, akhirnya baru keesokan harinya kami ke sana. Kami malah bertemu dengan penghuni baru di rumah itu. Mereka bilang diplomat yang pernah tinggal di sana memang pindah ke Inggris beberapa tahun lalu.” Jeremy berhenti bercerita dan menunggu responku.

Pikiranku kembali ke masa lalu. Aku masih ingat betul saat Kwangmin tergesa-gesa keluar rumah setelah umma memberi taunya bahwa keluarga Han pindah ke Jerman. Saat aku menyusulnya keluar, aku melihatnya sedang menangis sesenggukan dan aku hanya berani melihatnya dari batas pintu rumah kami.

Berarti alasan dia untuk ke Jerman, bukan sekedar ingin belajar lebih dalam tentang pesawat, tapi…untuk bertemu Han Je Soo..

“Hey, apakah kau tau siapa yang dimaksud oleh kembaranmu itu?” pertanyaan Jeremy membuyarkan lamunanku.

“Oh, ya. Tentu saja, dia adalah Han Je Soo, teman baik Kwangmin sejak kecil. Kwangmin pasti sangat merindukan Je Soo sampai-sampai ia berusaha keras untuk bisa kemarin,” jawabku sambil mulai menikmati sereal di hadapanku, walau sudah tidak menarik.

“Mm..begitu.. adik kembarmu itu sangat teguh pendirian dan mempunyai semangat baja ya..ckckck…aku sangat kagum padanya,” Jeremy tersenyum sangat lebar sambil mengatakan hal tersebut.

Aku jadi tersadar akan kata-katanya. “Hm, kau benar. Dia memang adik kembar yang sangat daebak. Aku bangga padanya.”

“Daebak? Apa itu?” Jeremy jadi agak bingung dengan tanggapanku. Haha, walau sudah 2 bulan di Jerman, ternyata aku masih saja suka mencampur adukkan bahasa korea dengan jerman. Dasar Youngmin!

“Itu artinya hebat,” ralatku segera dan Jeremy tersenyum senang sambil terus mengulang kata-kata ‘Daebak’. Sepertinya ia tertarik dengan bahasa korea..haha

 Kwangmin POV.

Youngmin hyung meletakkan flashdisknya di sampingku. Oh, mungkin didalamnya ada file yang ingin ku copy. Setelah kumasukkan, ternyata benar. Setelah mengopy, aku mengembalikannya pada Youngmin hyung yang sedang tidur-tiduran di kasurku.

“Hyung gomawo, ini kukembalikan,” aku meletakkan flashdisknya di meja kecil di samping kasurku.

“Ne, eh Kwangmin,” ia memanggilku yang sudah akan duduk kembali di depan laptop.

“Wae, hyung?” Aku memutar kursiku menghadapnya.

“Aku curiga sejak beberapa hari ini kau jadi tidak sebegitu semangat seperti awal tiba disini. Apa kau ada masalah?” ia menoleh padaku tanpa mengubah posisinya.

“Aniyo…tidak ada apa-apa.. apakah begitu kelihatannya?” aku memberinya pandangan biasa, memang sih..akhir-akhir ini aku jadi agak males, setelah…

“Apakah karena kau tidak berhasil menemukan Je Soo noona?” ia duduk di kasurku dan memandangku lurus.

“Ah…hyung…aku..” aku sangat kaget. Bagaimana dia bisa tau? Dia menyewa agen FBI untuk membuntutiku selama seminggu ini? #gubrak

“Aku tau dari Jeremy. Aku tidak menyangka kau masih mengingat yeoja yang pergi ke Jerman sejak 9 tahun  lalu itu.” Dia memandangku dengan tatapan lebih jinak (?)

“Bagaimana dan kenapa aku harus melupakannya? Aku tidak bisa menemukan alasan untuk melupakannya, justru ada banyak sekali alasan untuk selalu mengingatnya.” Aku berkata dengan nada lemah. Aku frustasi.

“Aku paham. Aku juga berada di posisi yang sama denganmu. Bedanya, aku lebih rumit.” Ia jadi tampak frustasi juga.

“Min Ra ssi kan?” aku memandangnya dan memperhatikannya dengan seksama.

Ia menoleh padaku dengan tatapan mengiyakan, lalu ia bangkit dari kasurku dan mengambil flashdisknya, “Tidak usah bahas hal itu lagi kalau kita sama-sama tidak ingin terperangkap lebih lama dalam posisi menyesakkan seperti ini,” ia tidak menatapku lagi, “Aku yakin waktu terus berjalan. Dengan adanya hal itu, kita pasti bisa melupakan mereka, dan menjadi lebih baik. Selamat malam, Kwangmin. Jangan tidur terlalu larut!” pesannya sebelum ia keluar dari kamarku.

“Hyung…aku sendiri tidak yakin dengan keajaiban ‘berjalannya waktu’ buktinya sudah 9 tahun lalu itu terjadi, dan aku masih mengingatnya dengan jelas,” kataku pada diriku sendiri. Aku jadi tidak bersemangat mengerjakan tugas-tugasku…

Taemin POV.

Dengan semangat aku mengendarai mobilku menuju bandara. Yeay, akhirnya! Setelah 2 tahun berturut-turut tidak pulang, kini aku bisa menemui mereka setiap hari! Yes, the Lee Twins has back to Korea! {biasanya tiap tahun Lee Twins pulang, Cuma karena ada project serius mereka tidak pulang ke korea selama 2 tahun.}

Aku menunggu..dan menunggu.. seharusnya sudah 5 menit yang lalu mereka tiba..kenapa ini tidak ada tanda-tanda?

Aku memilih memainkan ponsel saja sambil menunggu mereka, daripada garing #jedierr

“Taemin hyung!” ada 2 suara namja familiar yang sangat kurindukan. Saat aku mendongak, aku mendapati sosok dongsaengku berjalan mendekat.

Aish, mereka jadi tambah stylish dan tampan saja #plakk aku segera bangkit dan memeluk mereka erat.

Setelah itu aku membawa mereka ke café es krim favorit kami dan tidak sengaja bertemu Min Ra dan Hyun In. Lumayan lama kami ngobrol di sana, lalu berpamitan pulang. Kedua makhluk ini pasti masih membutuhkan waktu banyak untuk istirahat.

Di dalam mobil, Youngmin tetap diam seperti biasa dan Kwangmin sibuk memilih-milih lagu di mp3nya.

“Bagaimana project kalian di Jerman itu? Sukses?” aku membuka pembicaraan sesi kedua (??)

“Mm..lumayan sukses,” Kwangmin yang berada di belakng menyahut lebih dulu.

“Agak rumit dan melelahkan..tapi untungnya kami pulang dengan 2 penghargaan. Sesuai keinginan appa,” Youngmin menjawab lagi dengan nada yang ½ tak bersemangat. Mungkin ia lelah.

“Appa dan umma ada di rumah kan hyung?” Youngmin bertanya, sepertinya lebih bersemangat.

“Ne, tapi nanti sekitar pukul 5 p.m. mereka akan pulang dari tour di Hongkong,” jawabku sambil menatap sekilas kaca spion yang ada di atas, kulihat Youngmin menatap keluar jendela dengan pandangan datar.

“Oh, padahal mereka sudah sering ke Hongkong~” ia membalas dengan singkat.

“Hyung…apakah kamarku di rombak ulang?” Kwangmin tiba-tiba bertanya hal nonsense.

“Dirombak? Untuk apa?” aku heran dengan makhluk satu ini. Ia tidak jahil seperti Youngmin, hanya…agak tidak bisa ditebak pemikirannya.

“Ah…itu artinya tidak ya…berarti masih berantakan.” Kulihat ia manyun lalu kembali berkutat dengan mp3nya.

“Dasar pemalas!” ujarku sambil terkekeh mendengar alasannya.

Sesampainya di rumah, Youngmin segera membawa naik kopernya sementara Kwangmin parkir dulu di dapur.

Ternyata ia mencari-cari jus di dalam kulkas, kukira dia mau masak.. Aih, apa yang kupikirkan..dia kan ke Jerman bukan untuk belajar masak, tapi belajar merangkai pesawat.. heah, bodoh sekali aku #plakk

Author POV.

Kwangmin iseng mengunjungi butik tempat Lee Twins konsultasi jas untuk dikenakan di pernikahan Taemin lagi. Sebelum berangkat, ia bertemu Youngmin yang sedang disidang karena tak pulang semalaman. Karena tak ingin menganggu, Kwangmin pergi diam-diam dan menitipkan pesan kepada pembantu di rumahnya.

Dia lihat waktu itu ada beberapa mode baju yang lucu untuk cewek. Mungkin saja ada yang bagus untuk dia berikan kepada Min Ra sebagai hadian pernikahannya.

Sesampainya di sana ia berkeliling ditemani seorang pelayan. Pandangannya terpaku pada sebuah dress hitam putih yang eyecatching di sebuah poster di sana.

>The Poster<

“Apakah dress itu juga diproduksi di butik ini?” tanya Kwangmin pada pelayan di sampingnya.

Pelayan tersebut menjawab dengan tenang, “Ne, itu adalah salah satu dress yang memenangkan kontes secara internasional.”

Kwangmin mengangguk mengerti dan masih mengamati mode dress itu. Sepertinya bagus untuk Min Ra ssi. “Siapa perancangnya?” Kwangmin ingin meminta langsung pada sang designer untuk membuatkannya satu.

“Kebetulan, perancangnya adalah pemilik butik ini. Namanya Nona Han Je Soo.” Pelayan itu tersenyum saat Kwangmin menoleh padanya.

“Mwo? Benarkah Han Je Soo yang merancangnya?” Kwangmin mengulangi lagi kata-kata pelayan itu, “Dia ada di korea saat ini?” Kwangmin menjadi sangat bersemangat saat tau hal itu.

“Ne, tuan.” Pelayan itu juga terkejut dengan ekspressi Kwangmin.

“Ah, bisakah aku bertemu dengannya?” Kwangmin dengan tatapan berbinar-binar menatap pelayan tersebut.

Pelayan yang dipandanginya jadi melting sendiri {yaiyalah, mukanya Kwangmin imut begitu! #plakk} “N..ne ten..tentu saja. Kapan anda ingin bertemu dengannya?” Pelayan itu sempat gugup beberapa detik.

“Sekarang. Apa dia ada di sini sekarang?” KwangMin Rasa ia akan segera meledak.

“Baiklah tuan, silahkan menunggu di sana. Saya akan panggilkan manajer Han.” Pelayan itu membungkuk pergi.

‘WHAW! Thank’s god! Akhirnya…’ Kwangmin merasakan hatinya meluap-luap bahagia. Ia segera berjalan menuju sofa duduk di bagian dalam depan butik.

Kwangmin POV.

Aku seperti kejatuhan matahari {aa…panaassss #author geje#} akhirnya…setelah 14 tahun kami bisa bertemu kembali… *lama banget ya..author kejam*

Kulihat ada seorang yeoja berjalan mendekat. Ia menggunakan blazer abu-abu dan kaos putih. Dia modis sekali…ternyata banyak yang berubah setelah sekian tahun, ya..

>Han Je Soo noona<

Ia memandangku agak bingung, setelah aku berdiri dan menyapanya, wajahnya langsung terlihat super gembira.

“Annyeong Kwangminnie! Sudah lama sekali kita tidak bertemu!” dia tetap memanggilku dengan cara yang sama seperti waktu dulu. “Kau sekarang menjadi namja yang tampan dan cool, walau wajahmu tidak jauh berbeda,” lalu ia memelukku. Hangat.

Tidak taukah kau, Je Soo noona, kata-katamu barusan tidak seberapa membuatku senang dibandingkan rasa senang karena kini aku dapat bertemu lagi denganmu.

“Hm, kau juga semakin cantik dan modis,” kataku sembari melepas pelukannya, “Butik ini sangat terkenal di Seoul, tidak heran kalau ternyata manajernya adalah kau, Je Soo noona.”

“Bisa saja kau ini… kau juga sangat hebat. Aku baca di surat kabar kau meraih banyak penghargaan di jerman bersama kakak kembar 6 menitmu itu,” dia duduk di samping tempatku tadi, dan aku juga kembali duduk.

“Ya, kau benar. Kukira dengan aku pergi ke Jerman, aku bisa bertemu denganmu, tapi ternyata ujung-ujungnya kita bertemu di sini..” aku mengulas sebuah senyum bahagia di wajahku.

Ia juga tersenyum, sangat manis. “Sudah lama sejak kau menolongku saat itu. Maaf ya aku tidak sempat berpamitan kepadamu. Aku terus saja merasa tidak enak hati padamu,” sedikit raut kesedihan tampat di wajah berkulit putih itu.

“Sudahlah..itu masa lalu noona. Kenang saja sebagai hal yang indah..” aih, aku ini sok bijak sekali.

“Hm..ne..gomawo, atas waktu itu,” sebuah senyuman dan pancaran kebahagiaan tampak dari wajahnya, “Oiya, tadi kata pelayan kau mencariku karena ingin membicarakan sesuatu.”

Oiya, aku kembali teringat dengan desain baju yang kurasa cocok dengan Min Ra ssi, “oh, itu..aku ingin pesan baju yang modelnya seperti itu,” aku menunjuk sebuah poster dress.

“Itu? Ok, kebetulan itu limited edition dan posternya baru kupasang hari ini. Jadi kau akan bisa menjadi salah 1 pemilik dari 2 karya itu,” Matanya berbinar senang, “Untuk siapa? Yeoja chingumu kah? Wah..aku penasaran seperti apa wanita pilihanmu Kwangminnie..pasti dia sangat anggun.” Lanjutnya lagi.

Aku jadi salah tingkah, “Aniyo..itu akan kuberikan kepada calon istri Taemin hyung sebagai hadiah pernikahan mereka. Menurutmu apakah itu cocok?”

“Mm..ne. Menurutku juga seperti itu,” ia mengangguk paham. Lalu kami bertukar nomor ponsel dan dia berencana memberikan dress itu minggu depan.

“Aku belum punya yeoja chingu, noona.” Aku mengklarifikasi tuduhannya tadi. Ia harus tau bahwa hanya dia yang selama ini ada di hatiku.

“Oh ya? Kau pasti terlalu pemilih,” tuduhnya, “Padahal kau ini perfect, pasti banyak yeoja yang tertarik padamu.” Ia tersenyum memandangku.

“Ah, noona..kenapa kau bicara begitu. Selama ini..” aku akan mengatakannya sekarang! Ya, sekarang!

BRUK, “Hwuaaaa…apho…” tiba-tiba terdengar suara sebuah benda jatuh. Saat aku melihat kea rah suara, sebuah manekin jatuh dan sepertinya sempat mengenai kepala gadis kecil yang kini sedang berdiri dan menangis di belakang manekin yang terpuruk itu.

Aku segera menghampiri anak itu dan mengelus kepalanya, “Ada apa gadis kecil? Kepalamu terkena manekin ini?”

Ia menangis cukup keras, namun saat aku mengelus kepalanya tangisnya agak reda, wajahnya merah padam, sambil menghapus air matanya ia mengangguk, “Ne, ajusshi..sakit sekali.. hiks..hikss…eomma..” ia lanjut menangis.

“Cup..cup cup..ayo kita cari eommamu setelah ini,” aku membantu gadis cilik itu menyeka air matanya.

Ia tersenyum padaku, “Kamsahamnida ajusshi..” ia memanggilku ajusshi? Setua itukah aku? Haha.. lalu ia menatap kea rah lain, “eomma..”

Aku mengernyit, ‘eomma?’ aku melihat kea rah gadis cilik itu memandang, dan ia melihat kea rah Je Soo noona yang sudah mendekat kearah kami.

“Je Rim…makanya jangan suka berlari-lari di dalam toko. Eomma sudah bilang berkali-kali, kan?” Je Soo noona berlutut di depan gadis cilik itu.

Gadis cilik bernama Je Rim itu ketakutan ditatap tajam begitu, “ne..mianhe eomma… aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku berjanji..”

“Ya, eomma pegang janjimu. Ayo bilang terima kasih pada Kwangmin ajusshi,” Je Soo noona member isyarat pada Je Rim untuk membungkuk padaku.

Je Rim menurut dan berkata dengan sopan, “Kamsahamnida Kwangmin ajusshi, mianhe sudah merepotkanmu.”

“Ne..lain kali hati-hati,” ucapku sekedarnya, “Dia putrimu?” tanyaku saat Je Soo noona bergerak menggendongnya.

“Ne, dia putri keduaku. Oppanya sedang berada di Inggris dengan halmoninya. Suamiku sedang menjemputnya di bandara, hari ini Jin Soo pulang,” matanya kembali bersinar sambil menatapku.

Aku tidak dapat membalas senyumannya semudah tadi. Ada bagian hatiku yang terasa hilang tiba-tiba.

“Jin Soo oppa akan pulang, eomma? ASYIK!! Kita akan ke Lotte Park kan hari ini?” teriakan semangat Je Rim mengembalikanku dari dunia lamunan.

“Wah, pasti dia senang sekali,” ujarku pelan sambil mengelus rambut Je Rim. Pantas saja…raut wajahnya saat menangis mengingatkan pada Je Soo noona. Ternyata…

Baru saja aku akan pamit pulang, Suara pintu butik terbuka mengalihkan perhatian kami.

“Annyeong,” sapa seorang namja berusia 30 tahunan dan seorang anak laki-laki yang memakai jaket tebal di sampingnya, ia berusia sekitar 7 tahun.

Tidak perlu ditebak, dia pasti suami Je Soo noona dan Jin Soo adalah nama anak laki-laki yang sedang digandengnya.

“Ayo beri salam pada Kwangmin ajusshi,” ujar Je Soo noona saat Jin Soo mendekat.

“Annyeong haseo..naneun Kim Jin Soo imnida.” Ia imut sekali, aku balas memberinya salam dan senyuman.

“Dia ini temanku, yeobo.” Ujar Je Soo noona sekali lagi, kini ditujukan pada namja 30 tahunan di hadapanku.

Ia tersenyum hangat dan menyodorkan tangannya padaku, “Kim Jin Young,” suaranya terdengar dalam.

Aku membalas jabatan tangannya, “Lee Kwangmin,” aku memberikan senyuman diplomasi sebisaku.

“Oh, kau dan kembaranmu itu Duo Insyinyur hebat asal jerman kan?” Kim Jin Young bertanya dengan semangat.

“Ne, anda benar sekali. Saya baru beberapa minggu tiba dari Jerman. Oh iya, saya ada keperluan lain. Semoga kita bisa bertemu kembali. Gomawo Je Soo noona atas bantuannya,” kataku sambil menatap wajah yeoja yang sangat kurindukan untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkan butiknya.

“Ne, cheonma. Lain kali kalau sudah menemukan yeoja chingu, bawa dia kemari dan kenalkan padaku ya?” ia berkata seperti itu tanpa beban. Tidak taukah? Saat ini hatiku sedang hancur lebur, noona.

“Hm..ne.” aku hanya bisa berkata 2 hal itu padamu.

Setelah memberi salam, aku segera keluar dari butik itu. Aku segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya ke jalanan. Aku tidak tau akan kemana..kemana saja asal jauh dari mereka!

Beginikah akhir semua ini? Beginikah hasil dari kerja kerasku selama ini? SEMUANYA TIDAK BERGUNA JIKA KUTAU KAU SUDAH MENIKAH DAN MEMILIKI 2 BUAH HATI DARI NAMJA BERNAMA KIM JIN YOUNG ITU, NOONA!! Semua ini kulakukan untuk bertemu denganmu. Agar kau bisa memandangku sebagai seorang namja yang patut diperhitungkan rasanya padamu… kau harusnya tau itu…

>gini nih ekspressi Kwangmin pas keluar dari Butik T_T<

Youngmin POV.

Saat aku diam di kamar, frustasi, shock dengan keputusan eomma dan appa untuk menjodohkanku karena hal sepele, Kwangmin mengirimiku pesan singkat, ‘Kau ada di rumah hyung? Appa dan umma ada tidak?’

Ah, ada apa dengan dia..sampai larut begini ia juga belum pulang. ‘Ya, aku ada di rumah. Umma dan appa pergi ke Daegu selama 4 hari kedepan. Kau kemana saja? Cepat pulang! Ini sudah larut malam!’ balasku.

Iya hanya membalas dengan singkat, ‘ne,’ Ish..ada apa lagi dengan dia? Pergi tidak pamit, pulang larut pula.

15 menit kemudian, pintu kamarku terbuka. Kulihat dongsaeng 6 menitku masuk dengan wajah kummel.

“Dari mana saja kau?” tanyaku segera saat ia duduk di pinggir tempat tidurku.

Ia tidak menjawab, ia malah menyangga kepalanya dengan kedua telapak tangannya, badannya membungkuk. Khas posisi saat dia frustasi. Aku jadi khawatir dengannya.

Aku berlutut di hadapannya, “Hey, Kwangmin! Ada masalah apa? Katakan saja padaku..” aku mengguncang pundaknya.

‘Hiks’ hanya itu yang kudengar. Semakin lama semakin sering. Dia menangis? Kenapa? Sudah lama Kwangmin tidak menangis seperti ini… ini  berarti ia dalam kondisi yang benar-benar buruk.

“Tunggu dan diam di sini!” kataku kemudian lalu aku keluar kamar. Aku bergegas ke dapur dan membuat secangkir coklat hangat. Katanya ini merilexkan.

Aku kembali dengan secangkir coklat hangat dan segera menyodorkannya pada Kwangmin. Setengah memaksa, barulah ia menurut.

“Ceritakan padaku,” kataku lagi saat ia selesai meminum coklatnya.

“Cinta itu…terasa sangat menyakitkan ya hyung..” saat dia agak tenang, ia mulai bicara.

Aku hanya diam, mendengarkannya.

“Rasanya juga sangat sakit saat orang yang kau sukai diam-diam sejak lama memanggil yeobo pada orang lain,” ia sesenggukan lagi, aku mengelus punggungnya perlahan.

“Ternyata semuanya sia-sia hyung…semua usahaku 14 tahun ini sia-sia..” ia belum mengangkat kepalanya, suaranya masih serak.

“Apa maksudmu?” cepat, beritau aku, aku ga sabar nih!

“Je Soo noona..dia sudah menikah dan memiliki 2 anak.. aku tertinggal terlalu jauh dengan namja itu..” ia terdengar menahan tangisnya lagi. Rasanya, aku jadi ingin menangis juga #plakk

“Kau..bertemu dengannya?” aku bertanya dengan hati-hati.

Dia hanya mengangguk, lalu, “Di butik tempat kita fitting jas kemarin.. itu butik miliknya.” Dia diam sejenak, “Kenapa dunia sangat kejam pada kita? Kenapa orang yang kita cintai tidak bisa kita dapatkan..apa salah kita hyung?” {duh sinetronan #peace}

“Sabarlah..cinta sejati memang butuh pengorbanan yang besar. Suatu saat nanti pasti jodoh terbaikmu akan datang. Kenanglah Je Soo noona sebagai cinta masa kecilmu..” aku tidak sebijak Mario teguh, jadi mungkin ini tidak akan terllau berpengaruh padanya (?)

“Entahlah..” ia akhirnya mengangkat kepalanya dan menyeka air matanya, “Aku sudah lelah dengan semua ini. Aku mau istirahat.”

“Istirahatlah…” aku mengacak rambutnya agar ia lebih rilex, dan tanpa berkata apa-apa lagi ia sudah pergi keluar dari kamarku.

=Keesokan paginya=

Aku bersiap menemui Hyun In untuk membicarakan masalah ini. Kulihat Kwangmin sudah sarapan sendirian di meja makan, dengan setelan jas yang rapi. Kulihat ada koper di samping sofa TV. Mau kabur dia?

“YYA! Kau sudah rapi begini mau kemana?” tanyaku sambil duduk di hadapannya. Kulihat ia sedang menikmati sepiring spageti.

“Ke Jepang.” jawabnya singkat sambil melanjutkan sarapannya. Wajahnya masih agak pucat.

Aku shock dengan kata-katanya, semalam dia menangis seperti orang depresi, err dia memang depresi sih, tapi pagi-pagi begini sudah siap mau ke JEPANG?! kau bercanda Kwangmin?!

“Untuk apa? Kau mau refreshing? Wajahmu agak pucat, sebaiknya kau ke dokter dulu,” ujarku panjang lebar sambil mengambil spageti ke piringku.

“Aniyo, Mr. Edward {direktur perusahaan tempat LEE Twins dulu kerja di Jerman} menelponku kemarin. Ia menawarkan kontrak kerja 2 tahun di Jepang. kuterima saja. Oiya, aku baik-baik saja kok hyung, tenang saja.” Kemudian Ia meminum susu vanillanya.

“Lalu bagaimana dengan project kerja sama dengan perusahaan Hyun In?” aku jadi bengong mendengar keputusannya secepat ini ke Jepang. Je Soo noona benar-benar bisa membuatnya kalang kabut.

“Kan ada kau hyung. Kuserahkan sepenuhnya padamu. Lagipula, kau dan Hyun In kan memerlukan waktu bersama sebagai sepasang kekasih baru,” ia menatapku yang sedang makan dengan sebuah cengiran.

“Apa maksudmu?!” aku langsung menghentikan acara makanku.

“Kau kan akan segera bertunangan dengannya. Kalian serasi loh..” ia masih tersenyum tanpa dosa.

“D..dari mana kau tau?” aku kan belum memberitaunya?

“Pembantu.” Jawabnya singkat, “Kau benar-benar akan menerimanya?” kini ia menaikkan 1 alisnya, “Kau sudah melupakan Min Ra ssi?”

“Min Ra adalah masa lalu. Hyun In juga yeoja baik-baik, dia bilang dia suka padaku sejak lama. Kalau aku tau ada orang yang dekat denganku dan dia nyaman denganku kenapa aku harus menunggu yang lain? Aku rasa..aku juga lumayan tertarik dengannya saat ini.” Kataku sambil menahan malu.

Dia terkikik senang, “Wew, romantic sekali..chukae ya hyung..”

“Kau juga harus segera move on! Awas kau masih saja jomblo sekembalinya dari jepang!” ancamku.

“Hahaha, aku single bukan jomblo!” 😛 ia menjulurkan lidahnya sebelum bangkit dari meja makan, “Aku pergi dulu hyung. Pamitkan pada umma, appa dan Taemin hyung yah.bye!”

Ia pergi begitu saja. Seandainya kau tidak sedang hancur hati, aku sudah mengejarmu lalu menghujanimu dengan jitakan, Kwangmin!!

TBC.

*Sumber gambar :

**Kwangmin from google

**Han Je Soo & Poster from http://csetya.blogspot.com/2011/11/fashion-time.html?showComment=1326171591806#c1295868996747323305

 Sabar..sabar… part selanjutnya udah author post kok.. Judulnya serie B jadi kalian bisa langsung baca… sebelumnya please TYPE YOUR COMMENT AFTER READING /SIDER, YOUR IDOL WILL COME TO ME AND SAY, “WILL YOU BE MY GIRLFRIEND?” WAHAHAHA #EVILLAUGH

14 thoughts on “Mask Party {Kwangmin Love Story} Serie A

    • itu bakat terpendam author #kibasrambut 😉

      ntar kapan-kapan kalo sempet si 3LEE ini aku ajak main di Comedy Project, The HITZ, sama OVJ deh.. *malah promosi acara #plakk* 😀

      gomawo for type your comment 😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s