My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip Three

Main Cast :

  • Lee Jinki (Onew)
  • Shin Jibyung
  • Shin Jikyung

Other Cast :

  • 2PM Kim Junsu
  • Other SHINee members
  • Lee & Shin family

Genre : Marriage Life, Family, Comedy (dikit), Life

Length : Continue

Rating : PG-13

Author : Mira~Hyuga

Previous : Clip 1 | Clip 2

>>><<<

CLIP 3

(Jibyung POV)

Aku membentangkan alat pengukur tubuh di tanganku dari pinggang hingga mata kaki Onew yang sedang tertidur pulas. Karena tidak ada kerjaan, iseng-iseng aku mengukur tubuhnya seperti ini. Toh tidak mengganggunya. Dan lagi, siapa tahu catatan ukurannya berguna nanti. Akan kugunakan membuat couple shirt untuk kami, mungkin? Atau pajama couple? Fufufu~

Setelah selesai mengukur bagian yang biasa digunakan untuk menentukan ukuran baju, dengan iseng lagi aku mencoba mengukur bagian wajahnya. Mungkin bisa kugunakan untuk membuat topeng ayam(?) untuk menambah koleksi alat penyamar SHINee’s Leader ini?

“Alis. Satu… ani, lebih dari satu sentimeter. Yaa~ tebal sekali.” Gumamku, lalu mencatatnya di notes yang berada di pangkuanku. “Hidung? Tiga… empat… 4,6 sentimeter.” Aku refleks memegang hidungku dan mendengus sebal. Well, JANGAN TANYAKAN ALASANNYA! :@

“Mata… omo!” aku terlonjak kaget saat dia membuka matanya secara tiba-tiba.

“Ya, ya, ya~” omelnya pelan.

“Ehehe~ mian. Lanjutkan tidurmu.”

Onew merubah posisinya jadi duduk dan menyentil dahiku, “Mwohani?” ucapnya setengah mengomel lagi.

“Issh~ apho..” ringisku pelan.

“Kamu mengganggu istirahatku.” katanya lagi sambil menguap lebar.

“Mianhaerago (Aku ‘kan sudah bilang maaf).” balasku dengan nada semenyesal mungkin.

“Aigo~” dia malah mencubit kedua pipiku dengan gemas.

Tubuhku bahkan sampai terpaksa mengikuti arah cubitannya, sambil tidak lupa mengaduh, “Aaaa~ aphaa~ Onew-ya, neo jinjja!”

“Na wae?” tanyanya sambil nyengir dan melepaskan cubitannya. Aissh~ aku yakin pipiku akan membiru setelah ini. “Hey, aku lapar.” ujarnya setelah sebelumnya melihat-lihat notesku sebentar.

“Eoh? Jinjja?” aku turun dari tempat tidur dan memakai kembali sandal rumah. Dia mengikuti setelah sebelumnya menggumam mengiyakan. “Keurae. Aku akan memasak sesuatu.” Aku berjalan ke arah dapur dan memeriksa kulkas. Aku bisa memasak apa saja, tapi bukan berarti aku ahli memasak. Maksudku bahan-bahan untuk membuat apapun sudah tersedia sangat lengkap di sini. Eomma dan eommonim benar-benar niat sekali memisahkan kami dari mereka (=3=).

Aku menoleh sebentar saat mendengar Onew menguap lagi. Dia sedang duduk di meja makan, meletakkan kepalanya di atas meja. Sepertinya dia lelah sekali. Aku memutuskan untuk membuat bibimbap saja, agar dia bisa segera makan, karena memang membuat bibimbap lebih mudah dan tidak perlu waktu yang lama.

“Byung-nim…”

“Berhenti memanggilku seperti itu!”

“Yeobo…”

(-____-) Anak ini. “Wae?”

“Ani… kenapa Jikyung harus bekerja dengan orang lain? Menurutku bekerja untuk butik kalian saja sudah cukup.” katanya dengan suara pelan. Aku mulai mengaduk campuran bahan bibimbapku.

“Memangnya kenapa? Dengan begitu ‘kan akan banyak orang yang tahu kemampuannya. Tidak boleh?”

“Bukan, hanya saja, aneh rasanya kalau saudara kembar saling terpisah.”

“Memangnya kami harus menempel seperti orang yang kembar siam?” balasku lagi-lagi dengan sedikit nada sinis, tapi langsung bergidik ngeri membayangkan sendiri apa yang baru saja kukatakan.

“Bukan begitu maksudku, pabo. Maksudku kalian terlihat lebih maksimal jika bekerja sama.”

“Lebih maksimal bagaimana? Ya, lagipula, kalau kami bekerja di satu tempat lagi, kamu akan salah lagi mengenal kami.”

Dia tertawa seketika, “Haha~ keurae. Itu tidak boleh terjadi lagi.”

“Kenapa tidak boleh? Boleh saja, kok.” candaku. Ah~ salah, sepertinya aku salah mengatakan ini, karena Onew mendadak tidak bersuara lagi. Sebenarnya ada apa dengannya? Apa benar yang dikatakan Jonghyun waktu itu? “Ehem! Makanannya sudah siap!” seruku, mencoba kembali mencairkan suasana. Aku membawa bibimbap itu ke meja makan dan meletakkannya di depan Onew.

“Mana sendokku? Aku sudah lapar sekali.” katanya sambil menegakkan punggungnya dan tersenyum tipis. “Wah~ kelihatannya enak.”

“Keureom.” Aku menepuk dadaku dengan bangga. Dia tertawa kecil dan mulai menyantap bibimbap itu, begitu pun denganku.

“Wah~ cincin itu cocok sekali di jarimu.” Onew menarik tangan kiriku dan memainkan cincin yang masih terpasang di jari manisku. Cincin pernikahan kami. Memang apa lagi? Benda itu tidak pernah lepas sedikitpun dari jariku sejak aku memilikinya.

Aku tertawa kecil dan melihat tangannya sendiri, “Kenapa milikmu tidak dipakai?” tanyaku kemudian.

“Aku tidak berani memakainya di saat sibuk seperti ini. Bagaimana kalau hilang nanti?” jawabnya. Aku mengangguk setuju. Dan juga bisa gawat kalau ada fans atau netizen yang melihatnya. Hufft~ beginilah resiko backstreet. (= =)

“Jadi… kapan kalian berangkat lagi?” tanyaku sambil menyuapkan bibimbap ke-3 sendok ke dalam mulutku.

“Emm—” belum sempat menjawab, Onew merogoh sakunya dan mengeluarkan handphonenya, dan menjawab panggilan telepon itu, “Ne, Key… Aku sedang bersama Jibyung… Aah~ keurae? Arasso. Aku pergi sekarang.”

Dari percakapan di teleponnya saja aku bisa menebak kalau dia sudah harus pergi lagi. Aissh~ padahal dia belum menghabiskan bibimbapnya. Kulihat Onew berdiri, “Yeobo, aku harus pergi lagi.” katanya sambil menyuapkan sesendok lagi bibimbap ke mulutnya dan meneguk minumannya. Lalu dia berlari kecil ke arah kamar.

“Arasso, arasso. Kamu memang orang sibuk. Terlalu sibuk sampai tidak punya waktu untuk bersantai sebentar saja.” gerutuku pelan seraya melipat kedua lenganku di depan dada.

“Jibyung-nim! Aku berangkat!”

Aku segera berlari menghampiri sumber suara sambil menjawab singkat, “Ne.”

“Hati-hati di rumah.” Ujarnya yang sedang mengenakan sepatunya.

Aku menggumam dan mengangguk mengerti.“Aku bisa ke rumah eomma kalau kesepian. Atau memanggil Jikyung ke sini.” tambahku kemudian.

Onew berdiri dan mengacak rambutku pelan, “Ide bagus. Baiklah, aku pergi.”

“Ne.” sahutku dengan suara kecil. Tapi dia tidak juga beranjak dari tempatnya. “Kenapa lagi?” tanyaku heran.

“Kita harus berpisah lagi, padahal baru bertemu beberapa jam saja. :(”

“Gwaenchana. Aku bisa menerima ini.” Jawabku semakin pelan. Aaissh~ berbicara semellow ini bukan styleku!

Aku menjerit pelan karena kaget saat Onew tiba-tiba memelukku. Aku tidak tahu sekuat apa dia memelukku, yang jelas cukup membuatku sesak napas, seperti tadi (.__.). “Ya! Tunggu apa lagi? Ayo berangkat!” ucapku agak sedikit membentak, tapi juga sambil menepuk-nepuk punggungnya pelan. Beberapa detik kemudian dia melepas pelukannya sambil mengerucutkan bibir, dan aku tertawa karenanya.

Saat hendak membuka pintu apartemen, dia malah berhenti dan berbalik lagi menatapku, “Ah! Aku melupakan sesuatu.” ucapnya dengan wajah datar. Aku mengangkat alis heran, apa lagi kali ini? Namun bisa kurasakan kedua mataku membelalak saat Onew merengkuh wajahku dan mencium keningku sekilas.

“Ya!” protesku, mundur selangkah.

“Wae? Kita ‘kan sudah menikah, yeo.bo. Haha~ Annyeong!”

Aissh~ jinjja! Oksigen, oksigen!

>>><<<

“Jibyung-ah? Bagaimana apartemennya?” sambut(?) eomma sambil nyengir, ketika aku sudah sampai di rumah malam harinya. Aku mendelik ke arahnya, tapi mengangguk perlahan, menunjukkan bahwa aku cukup suka dengan apartemen yang ia dan eommonim hadiahkan pada kami itu.

“Eomma dan eommonim konyol sekali.” ujarku kemudian. Eomma tertawa pelan.

“Omo!” pekiknya tiba-tiba sambil menunjuk pipiku. Refleks aku menyentuh pipiku juga sambil melempar pandangan ‘ada apa’ padanya. Dan ekspresi kaget eomma langsung berubah menjadi ekspresi senang, “Yaa~ kalian sudah melakukannya sampai mana selama beberapa jam ini? Pipimu sampai seperti itu. Apa menantuku terlalu kasar?”

Lama aku mencerna perkataan yang terlontar dari mulutnya itu. Dan maksud dari perkataan eomma semakin jelas saat dia menambahkan, “Tidak sia-sia kami memberi kalian apartemen. Aah~ aku jadi tidak sabar ingin segera menggendong cucu~ :3”

“EOMMA!!”

*

BLAMM!

Saking terburu-buru karena malu, aku tidak sengaja menutup pintu kamar dengan membantingnya. Ya ampun, apa yang eomma pikirkan? (>///<) Memangnya ada apa dengan pipiku?

Aku menghampiri meja rias dan mengamati pipiku di cermin. Hanya merah sedikit. Ah! Ini, kan, karena cubitan Onew tadi. Kenapa eomma menganggapnya @#!#$%^** (T_T)

Terdengar suara pintu terbuka. Aku menatap ke arah sumber suara, “Oh~ Jikyung-ah. Sudah pulang?”

“Kalau aku belum pulang, lalu siapa yang ada di hadapanmu ini?” balasnya lesu, kemudian menghempaskan tubuhnya sendiri di atas tempat tidurnya tanpa mengganti baju kerjanya. Aku mencibir pelan saat beberapa menit kemudian terdengar dengkuran halusnya.

>>><<<

“Ige mwoya?” tanyaku sambil mengamati sebuah undangan yang baru saja Jikyung berikan padaku. Kami masih di kamar pagi ini, sedang bersiap-siap untuk kembali menjalankan aktifitas kami sehari-hari.

“Minggu depan perusahaan tempatku bekerja akan menggelar fashion show untuk mempromosikan busana musim panas kami. Salah satunya, juga akan menampilkan rancangan pakaianmu yang kuambil waktu itu.” terangnya sambil nyengir di akhir perkataannya, “Tapi jangan khawatir. Aku merekomendasikannya atas namamu, kok. Kerja bagus! Yuhee sunbae langsung memilihnya untuk ditampilkan di fashion show nanti.” imbuhnya lagi.

“Jinjja-ya?” ujarku senang. Dia mengangguk, dan aku segera memeluknya sekilas, “Yaa~ gomawo, Shin Jikyung!”

“Arasso, arasso.” kekehnya ikut senang. “Makanya kamu harus datang. Arachi?”

“Oke, ma’am!” balasku sambil memberi hormat. Kami kemudian keluar beriringan menuju ruang makan untuk menyantap sarapan kami.

“Aigoo~ anak-anakku yang cantik… Kajja, sarapan kalian sudah mulai mendingin.” sambut eomma dari meja makan.

“Pagi, eomma.” balas kami bersamaan, kemudian duduk di tempat makan masing-masing dan mulai menyantap sarapan kami, begitupun eomma.

Beberapa kali aku melihat eomma memperhatikanku beberapa detik, kemudian terkekeh pelan begitu saja. Sampai akhirnya Jikyung menyadari itu dan bertanya, “Waegeurae, eomma?”

Eomma terkekeh sekali lagi, “Ya, Jikyung-ah. Bukankah kamu ingin cepat punya keponakan?”

“Eomma, jangan mulai lagi…(TT_TT) Kami tidak melakukan apa-apa kemarin. Cheongmalyo..” elakku dengan segera, dan serius, tentu saja. Tapi Jikyung dan eomma malah menertawakan. ==”

>>><<<

“Shin Jibyung-ssi? Shin Jikyung-ssi. Wah~ kalian benar-benar identik. Aku bingung bagaimana membedakan kalian.” Komentar itu terlalu sering kudengar dari  mulut orang-orang yang baru bertemu dan mengenal kami. Dalam 3 jam pertama hadir di lokasi fashion show ini saja aku sudah mendengarnya dari 4 orang tamu undangan—sepertiku. Dan kami—seperti biasa—hanya membalasnya dengan senyuman atau tertawa kecil.

Jikyung tidak mengada-ada. Fashion show ini memang menunjukkan juga model pakaian musim panas rancanganku. Rancangannya juga, tentu saja. Aku sedikit was-was mengingat di sini designer-designer terkenal juga hadir. Seperti Andre Kim, Jung Sara—yang merupakan pemilik perusahaan ini—dan Han Sangjoon. Tapi aku juga penasaran bagaimana komentar mereka.

Dan aku baru tahu dari Jikyung jika sebagian designer terkenal itu ternyata mengenal eomma—yang beberapa tahun lalu memang memutuskan untuk berhenti karena menikah dengan appa—dan bahkan berteman dan sempat bekerja sama dengan eomma. Dan beruntungnya aku, Han Sangjoon—katanya—menyukai rancanganku. Aku senang sekali, tentu saja. Kami sempat bertukar nomor handphone saat itu.

Kemudian aku tahu tujuannya menanyakan nomor handphone’ku. Beberapa hari kemudian ia menghubungiku untuk menawari sebuah pekerjaan padaku. Pekerjaan sebagai designer, tentu saja. Aku akan bekerja sama dengan staff designernya. Karena kebetulan saat itu ada eomma di sampingku, dan eomma juga langsung menyuruhku menerimanya, akupun menerimanya dengan senang hati.

“Senang bisa bersaing denganmu, Twin.” ujar Jikyung saat aku memberitahunya tentang hal ini. Aku hanya menanggapinya dengan mengangkat-angkat alis tanda setuju.

Dan sekarang, tepatnya seminggu setelah penerimaan pekerjaan itu, akhirnya aku sudah resmi bekerja di perusahaan yang dimaksud Han Sangjoon ajussi—begitu aku memanggilnya.

Alhasil, bulan ini menjadi bulan sibuk bagi kami. Tidak hanya aku dan Jikyung dan juga eomma yang sekarang harus mengurus butik, tapi juga Onew dan SHINee yang sibuk bolak-balik Jepang-Korea. Kami jadi jarang bertemu, dan hanya sesekali saling bercerita melalui telephone atau sekedar menyapa melalui pesan singkat.

(End of POV)

>>><<<

…SHINee Dorm @ Japan…

(Onew’s POV)

“Younggeun neomu yeppo~” dari kamar kami, aku bisa mendengar Jonghyun bernyanyi dengan lantang dari arah dapur. Tapi… Younggeun katanya? Nugu? “Keuraechi, Minho-ya?” seru namja itu kemudian.

“Keurae.” terdengar suara Minho yang menjawab dengan sangat santai. Sepertinya dari ruang tengah. Setelah mencerna perkataannya selama beberapa detik, aku melompat turun dari tempat tidur dan setengah berlari keluar dari kamar, dan langsung kudapati Minho sedang duduk dengan kaki selonjoran di sofa, sambil memainkan handphone-nya.

“Minho-ya! Younggeun?” tanyaku dengan tidak rinci. Entah kenapa aku sedang malas berbicara banyak. (.__.)

“Oh, hyung.” dia menatapku dan sedikit tersipu, “Park Younggeun…”

“Pacarnya, hyung!” seru Jonghyun yang masih di dapur.

“Ani, belum.” elak Minho kemudian.

“Belum? Berarti ‘akan’ jadi pacarmu, kan?” godaku iseng.

“Mungkin. Aah~ sudahlah, memalukan sekali.” Minho menutup wajahnya dengan bantal sofa sambil terus menggerutu tak jelas. Aku tertawa sebentar melihatnya seperti itu.

“Younggeun neomu yeppeo~” entah sehati(?) atau bagaimana, aku, Jonghyun dan Key—yang masih juga di dapur—bernyanyi bersamaan. Dan malangnya, bantal sofa yang dilemparkan Minho justru hanya mendarat di wajahku. (-___-”)

Ah, tapi… aku jadi ingat Jibyung. Jikyung juga.

>>><<<

“Jinki-ya, tidak mampir dulu ke tempat istrimu?” tanya manager hyung saat kami sudah sampai di Seoul. Ya, ia tahu statusku sekarang. Selain keluargaku, keluarga Jikyung dan SHINee, ia juga tahu tentang pernikahanku.

“Menurutmu, hyung? Apa aku harus mampir dulu?” tanyaku balik. Entahlah, aku malah merasa bingung. Tempat mana yang harus kudatangi untuk bertemu—setidaknya—salah satu dari mereka? Ah~ kalian pasti tahu siapa ‘mereka’ yang kumaksud.

“Loh? Kenapa malah bertanya padaku?” ujar manager hyung dengan nada heran dan tatapannya terfokus ke jalanan. Aku nyengir sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“Tentu saja harus mampir, hyung! Kau ini. Datangi saja kantornya.” kata Key. Ya, itulah masalahnya, sayang(?). Otak dan hatiku tidak bekerja sama satu sama lain. Pendapat mereka berbeda. Kantor tempat bekerja siapa yang harus lebih dulu kudatangi? KENAPA KALIAN TIDAK MENGERTI?!

Eh~ mereka ‘kan memang tidak tahu. (.__.)

“Kira-kira orang lain yang melihatku akan mengenaliku, tidak?” tanyaku lagi, sedikit sakras.

“Eh, lebih baik jangan.” Taemin ikut buka mulut.

“Ya sudah kalau begitu. Lebih baik aku pulang ke dorm dulu, mengambil mobilku.” ucapku akhirnya. Manager hyung hanya mengangguk dan lanjut mengemudi menuju dorm kami.

Dan yang lebih parah, aku tidak tahu hatiku memihak siapa.

>>><<<

Aku dalam keadaan sadar sepenuhnya, dan aku sadar bagaimana akhirnya aku memutuskan untuk bertemu Jikyung lebih dulu. Aku sudah berada di depan gedung kantornya sekarang. Dan kebetulan sekali, yeoja itu keluar dari dalam kantornya dan langsung melihat ke arah mobilku.

“Jikyung-ah!” panggilku seraya menurunkan jendela mobil. Dia tersenyum dan sedikit berlari kecil menghampiriku.

“Kau di Seoul ternyata.” katanya pelan.

“Memangnya siapa yang ada di hadapanmu sekarang?” candaku, dia tergelak, “Mau kemana?” tanyaku kemudian.

“Ah~ ada yang harus kulakukan di sebuah tempat.” jawabnya datar.

“Aku bisa antar, kalau kamu mau.” tawarku sambil mengangkat-ngangkat alis. Dia berdiri mematung selama beberapa saat, menghela napas dan tersenyum.

“Kalau tidak keberatan.” cengirnya. Aku menggedikkan kepala, mengisyaratkannya untuk segera masuk. Dia pun berjalan memutar dan duduk di sampingku, “Kamu sudah bertemu Jibyung?” tanyanya sambil memasang seat beltnya.

Pertanyaannya itu membuatku tertegun, tapi tidak lama aku menjawab, “Hmm~ sudah.” Aku baru saja berbohong! Aku tahu, dan aku sadar akan hal itu. Otakku yang memerintahku untuk berkata seperti itu. Jadi jangan salahkan aku! Oke, lupakan.

“Kalian sudah maju selangkah lebar. Itu bagus sekali.” Ucapku memecah keheningan.

Dari ujung mataku, bisa kulihat Jikyung menoleh padaku sebentar, “Ne. Dan kami jadi sibuk setiap hari. Ck~ tapi pasti kalian lebih sibuk dan lebih lelah dari kami.” katanya, dan aku hanya tertawa. “Tapi kamu masih menyempatkan diri untuk bertemu istrimu. Benar-benar suami yang baik.”

Mendengar itu aku merasa tertohok dan hampir saja mencibir pada diriku sendiri. Suami yang baik? Aku malah merasa bahwa aku adalah laki-laki terjahat di dunia. Kamu ‘kan bukan istriku. Tapi justru aku seperti lebih memprioritaskanmu, Jikyung-ah. Konyol. Benar-benar konyol aku ini. Bagaimana bisa tempat di hatiku terisi oleh dua orang sekaligus? Sampai kapan aku bisa menyimpan ini sendiri?

Tapi kuharap perasaan ini lenyap dengan sendirinya, seiring berjalannya waktu, dan tidak akan pernah terjadi lagi. Semoga saja.

“Kapan kalian sampai di Seoul?” tanya Jikyung. Oh~ syukurlah dia mau berbasa-basi.

“Tadi.” jawabku singkat.

“Eh? Jadi kalian hanya bertemu sebentar?!” pekiknya kaget. Aku jadi gelagapan.

“A-ani… eh, maksudku iya, dia bilang dia sangat sibuk. Jadi… begitulah. Kami hanya bertemu sebentar.” Bagus, Lee Jinki. Kau sudah pintar berbohong sekarang.

Jikyung diam, terlihat berpikir. Dan kemudian kudengar suara helaan napasnya yang terdengar berat. “Wae? Sakit?” tanyaku.

“Ah? Ani, ani. Gwaenchana.” Kepalanya menggeleng-geleng saat dia mengatakan itu. Sementara aku mengangguk-angguk, kembali fokus menyetir.

Aku agak kaget saat Jikyung berujar, “Di sini saja. Aku turun di sini saja.”—saat kami melewati jalan yang di pinggirnya ada sebuah terowongan pejalan kaki. Aku menatap Jikyung heran.

“Di sini?” tanyaku sangsi, tapi menepikan mobilku juga, “Memangnya sudah sampai? Ini ‘kan bukan tempat yang kamu sebutkan tadi.” tambahku sambil menatap Jikyung yang terlihat terburu-buru melepaskan seat beltnya.

“Aku baru ingat, ada urusan lain yang harus aku selesaikan di dekat sini. Terimakasih tumpangannya, adik ipar. Aku pergi.” Ujarnya, lalu membuka pintu mobil di sampingnya sambil melambai kecil ke arahku.

Aku tidak langsung melajukan mobilku lagi, melainkan memandangi punggungnya dulu yang perlahan-lahan menuruni tangga terowongan itu dan menghilang di antara orang-orang. Aku tidak tahu akan jadi seperti ini. Tapi ‘sesuatu’ yang kurasakan pada Jikyung terasa semakin kuat. Aku merasakannya.

Perlahan tapi pasti, kepalaku terkulai lemas hingga menyentuh kemudi. Dan aku juga merasakan perlahan-lahan sebuah cairan meluncur ke ujung hidungku dan menetes begitu saja ke lantai mobil. Aku ingin marah pada diriku sendiri, tapi aku tidak bisa melakukan itu. Dan semakin aku memikirkan hal ini, semakin aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.

Bodoh.

>>><<<

“Hyung, gwaenchana?” Jonghyun meletakkan punggung tangannya di dahiku. Aku segera menyingkirkannya dengan pelan. “Kau menggeliat-geliat tidak nyaman sejak tadi. Apa jangan-jangan hyung mabuk udara?”

“Tidak.” jawabku pelan.

“Sedang memikirkan sesuatu?” tanyanya lagi.

Aku menatapnya, melihat sorot matanya yang menyiratkan keingintahuan dan entah bagaimana caranya membuat suatu kepercayaan muncul di benakku. Apakah bukan tindakan yang salah jika aku menceritakan semuanya padanya?

Jonghyun mungkin akan punya solusi untuk masalah yang kuhadapi. Dan saat ini juga kesempatanku agar member lain tidak tahu.

“Jjong-ah.” ucapku akhirnya, tapi kemudian diam lagi saat Jonghyun menanggapi.

“Ada masalah antara kau dan Jibyung?”

Bingo!

“Bagaimana kau tahu?”

Dia terlihat berpikir sebentar, “Hanya menebak.” singkatnya.

“Dan kau sudah tahu masalahnya?”

“Tentu saja tidak. Bagaimana aku tahu kalau hyung tidak pernah cerita?” katanya sewot. Aku sempat tergelak sebentar, tapi kembali lagi membuat atmosfer serius di sekitar kami berdua. Akhirnya setengah jam perjalanan menuju Jepang ini kuhabiskan dengan menceritakan apa yang selama ini mengganggu pikiranku. Jonghyun terlihat beberapa kali memekik terkejut saat aku bercerita tentang aku yang… mencintai Jikyung dan Jibyung sekaligus. Tatapan ingin tahunya berubah menjadi tatapan yang melihatku seolah aku adalah orang teraneh yang pernah dia tahu.

“Hyung, astaga. Ada apa denganmu?” katanya sekali lagi. “Seharusnya kau terus terang saja pada istrimu, membicarakannya dengan kepala dingin, maka semuanya akan pulih dengan cepat. Kalau begini, aku tidak tahu…”

“Kau tidak tahu sesulit apa melakukan itu!” tukasku dengan hampir berseru, sehingga memotong ucapannya, “Tidak semudah mengatakannya, juga tidak semudah kelihatannya.” kali ini suaraku kembali ke volume asal.

Jonghyun tetap menatapku dengan tenang, “Paling tidak katakanlah dulu pada salah satu dari mereka. Kalian bisa menyelesaikannya bersama nanti.” ujarnya pelan.

“Tapi…”

“Aku tahu bahwa hyung yakin perasaanmu itu akan menghilang sendirinya. Tapi bagaimana kalau tidak?” sekarang dia yang menyela perkataanku. Aku terdiam. Benar. Bagaimana kalau tidak hilang? Bagaimana kalau aku tidak bisa menghilangkannya?

Namun, seperti biasa, setiap aku memikirkan apa yang harus kulakukan, aku selalu menemui jalan buntu. Kali ini pun seperti itu. Jika aku mengatakan yang sebenarnya pada salah satu dari mereka, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Bagaimana reaksi mereka nanti? Terutama Jibyung, yang dalam hal ini adalah ‘korban’ dari kebodohanku. Apa yang akan dilakukannya jika tahu aku sudah hampir mengkhianatinya?

Dan Jikyung… apa reaksinya nanti? Apa dia akan memakiku dengan kata-kata kasar? Atau malah menjauhiku begitu saja? Aku… tidak mau itu terjadi. Astaga, Lee Jinki! Apa yang terjadi padamu? Kenapa tiba-tiba kau seolah kehilangan arah seperti ini?

“Pikirkan matang-matang, hyung. Masalahmu lumayan serius, menurutku. Pokoknya yang paling penting sekarang adalah komunikasi.”

>>><<<

Ternyata benar yang dikatakan Jonghyun. Aku… tidak bisa. Aku tidak bisa menghilangkan perasaanku, dan perasaanku itu juga tidak menghilang dengan sendirinya. Malah jika diingat-ingat lagi, selama kami berada di Jepang, aku lebih sering menghubungi Jikyung daripada istriku sendiri. Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Dan sebelum terlambat, aku berpikir untuk segera melakukan apa yang disarankan Jonghyun beberapa waktu lalu.

Begitu kami kembali ke Seoul, aku langsung memutuskan untuk bertemu salah satu dari mereka, dan lagi-lagi yang kupilih adalah Jikyung lebih dulu. Tidak, aku belum siap mengatakannya pada Jibyung dan melihat reaksinya secara langsung.

(End of POV)

>>><<<

(Jikyung’s POV)

“From : Junsu Oppa

Keurae. Aku akan menjemputmu ke sana. Ittabwa! :D”

Aku tersenyum tipis setelah membaca pesan singkat itu, dan kembali mengantongi handphoneku di dalam saku baju, lalu kembali lagi pada pekerjaanku. Ah, kalian pasti bertanya-tanya siapa Junsu oppa ini. Dia 2PM Kim Junsu, dan dia baru saja mengajakku makan siang bersama. Kaget, kan? Bwahaha~ *evil laugh-__-*

Aku sudah lumayan lama kenal dengannya, juga sudah lumayan dekat. Pertama kali kami bertemu saat aku menemani Jibyung ke sebuah event yang dihadiri SHINee dan juga 2PM, kira-kira 1,5 tahun yang lalu. Saat itu aku tidak sengaja menemukan dompetnya di backstage, dan kami kenal, eh, maksudku dia mengenalku saat aku mengembalikan dompet itu padanya. Saat itu aku senang sekali karena bisa bertemu dengan salah satu idolaku. Tidak kusangka ternyata kami akan jadi sedekat ini.

>>><<<

“Oppa, annyeong?” sapaku saat melihat mobil Junsu oppa terparkir di depan kantorku. Dia yang mengenakan pakaian penyamar hanya membalas dengan lambaian, dan mengisyaratkan padaku untuk masuk ke dalam mobilnya.

“Yaa~ kajjaaa~! Nan manhi paegeopha.” Katanya setelah aku sudah selesai memasang seat beltku. Aku tertawa mendengar suara ‘kruyuk’ perutnya yang menyusul kemudian.

***

Junsu oppa membersihkan pinggir-pinggir bibirnya dengan selembar tissue setelah kami selesai dengan makan siang kami. Aku pun melakukan hal yang sama.

“Jikyung-ah, sebenarnya aku tidak hanya mengajakmu makan siang. Selain itu, ada yang ingin kubicarakan. Ani, ada yang HARUS kubicarakan padamu.” Ujar Junsu oppa tiba-tiba.

“Mwonde?” tanyaku sembari menopang dagu dengan kedua tangan yang bertumpu siku di atas meja.

“Nan… joahae.” Katanya mantap namun terlihat gugup, setelah sebelumnya terlihat menimbang-nimbang sebentar.

“Eh?”

“Aku… menyukaimu, Shin Jikyung. Ah, salah, sepertinya… aku… eeh~ mencintaimu.” Ulangnya dengan tersendat-sendat, “Maukah kau… bersamaku? Sebagai… pasangan?”

Aku menganga lebar. Aku yakin aku kelihatan jelek sekarang ini. “Oppa…” gumamku tidak percaya. Dia? Kim Junsu? 2PM Kim Junsu? Idolaku sendiri? Menyatakan cinta padaku? Dan bahkan memintaku menjadi… pasangannya? Yang benar saja? Kau pasti bermimpi, Shin Jikyung! Bangunlah!

Untuk beberapa saat kami hanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku bahkan masih berusaha menampar-nampar pipiku, siapa tahu ini benar-benar hanya mimpi. Tapi ternyata bukan. Omo~ apa yang harus kulakukan?

“Gwaenchana.” Suara Junsu oppa membuyarkan pikiranku. Dia meraih tangan kiriku, dan melanjutkan setelah aku menatapnya masih dengan ekspresi bodoh, “Aku tahu banyak yang harus kamu pertimbangkan. Karena itu aku memberimu waktu untuk memikirkannya lebih dulu. Pikirkan baik-baik, ya! Aku akan menunggu.”

Shin Jikyung, mati kau!

Sebenarnya aku bisa saja menjawab ‘ya’ sekarang juga, mengingat bahwa Junsu oppa adalah idolaku sejak dia dan 2PM debut. Tapi… ada sesuatu yang mengganjal di hatiku yang membuatku menahannya. Tapi aku tidak tahu apa itu.

“Kajja, kita kembali. Aku akan mengantarmu lagi ke kantor.”

Aku mengangguk dan berdiri dari dudukku. Aigoo~ pikiranku benar-benar kacau sekarang. Aku yakin setelah ini aku tidak akan berkonsentrasi pada kerjaanku.

Sepanjang perjalanan aku lebih banyak diam dan menatap ke luar jendela mobil. Terkadang Junsu oppa berusaha untuk mencairkan suasana, dan sepertinya tidak berhasil karena aku masih merasa canggung. Duh, Jikyung, benar apa kata kembaranmu. Kau memang aneh = =”.

Sesampainya di depan gedung kantor, aku segera melepas seat beltku, bahkan sebelum mobil ini berhenti sepenuhnya. Aku ingin cepat-cepat menjauh dari Junsu oppa. Bisa mati kaku(?) aku kalau terus di dekatnya.

“Gomawoyo, oppa.” Ujarku sambil menganggukkan kepala sedikit dan turun dari mobil ini. “Annyeong!” imbuhku sambil melambaikan tangan. Junsu oppa tersenyum dan membalas lambaian tanganku.

“Pikirkan baik-baik, ya!” pesannya lagi, sebelum kemudian memutar balik arah laju mobilnya. Setelah kendaraan beroda empat itu menghilang dari pandanganku, aku langsung menunduk dengan lemas. Eotteokhae?

Baru saja aku melangkah hendak memasuki gedung perusahaan, kudengar seseorang menyerukan namaku. Karena itu aku membalikan badan lagi dan mendapati Onew sedang mendekatiku sambil mengangkat sebelah tangannya dan tersenyum lebar. Oh iya, tadi dia juga bilang ingin bertemu sebentar.

Aku mendekat dua langkah sembari membalas senyum-sapanya.

“Sudah makan siang?” tanyanya.

Aku menjawab, “Baru saja.”

“Emm~” dia manggut-manggut, lalu kemudian mengusap tengkuknya sambil sedikit menunduk, “boleh bicara sebentar… di mobilku?”

Aku mengangkat sebelah alis, “Kenapa tidak?” Dan dia tersenyum.

***

Kami sudah berada di dalam mobilnya sekarang, seperti yang dikatakannya. Tapi hingga saat ini, sekitar 8-10 menit sejak kami duduk di bangku mobilnya ini, belum ada satu kata pun yang diucapkan suami kembaranku ini.

“Aaish~ sebenarnya apa yang ingin kamu katakan? Ingin membicarakan Jibyung? Ppallihae, waktu istirahatku sudah hampir habis.” gertakku tidak sabar.

“A-ani, aku hanya tidak tahu harus mulai dari mana.” katanya membela diri. Aigo.

“Kalau begitu katakan saja intinya. Hm?”

Dia menatapku sejenak, sehingga aku bisa melihat sorot keraguan di kedua mata sipitnya itu. Lalu kemudian dia menghela napas panjang sambil menatap ke depan, terlihat menimbang-nimbang, “Begini. Kurasa aku… sudah menghianati adikmu.”

“MWO?!”

“Ani, dengarkan dulu!”

Kembali kukatupkan bibirku dengan keras, dan menatapnya kesal. Awas saja kalau dia benar-benar melakukan hal itu!

“Aku… tidak tahu sejak kapan.” Dia melanjutkan, lalu berhenti sebentar untuk menghela napas lagi, “Begini Jikyung-ah. Aku… menyukaimu.”

DEG!

“M-mworago? A-aku… tidak dengar dengan jelas, mian. Bisa ulangi lagi?” Ya, aku pasti hanya salah dengar. Tidak mungkin dia berkata seperti itu. Maldeo andwae! Mungkin ini hanya efek setelah pembicaraanku dengan Junsu oppa tadi. Atau… aku masih mengharapkan sesuatu dari namja di hadapanku ini? Ah~ andwae!

“Maaf membuatmu kaget. Tapi aku serius. Aku selalu memikirkanmu. Semakin hari perasaanku ini entah kenapa semakin besar. Dan aku tahu jelas ini adalah perasaan seorang pria pada wanita, bukan perasaan adik ipar pada kakak iparnya.”

Perkataannya itu sukses membuatku mematung beberapa detik. “Kamu bercanda, Lee Jinki-ssi…” desisku kemudian sambil bersedekap dan menatap ke luar melalui jendela mobil di sampingku. Aku tidak menyangka, hari ini… dua orang namja menyatakan perasaannya padaku. Tapi aku lebih tidak menyangka hal itu yang akan keluar dari mulut namja bermarga Lee ini. Aku tidak menyangka dia merasakan hal itu.

Tapi bagaimana kalau dia sengaja, hanya untuk memberiku harapan kosong? Lagi?

“Sudah kubilang aku serius. Mianhae.”

“Lalu bagaimana dengan Jibyung?”

“Nan… mollasso. Aku juga merasa sangat bersalah karena ini.”

Aku tidak bisa menahannya lagi!

“Seharusnya kamu katakan itu pada Jibyung, bukan padaku. Maaf, sekarang aku harus segera kembali, sudah hampir terlambat.” Ucapku cepat dan segera membuka pintu mobil di sampingku dan menurunkan sebelah kakiku.

Namun Onew menahan tangan kananku, “Aku belum selesai bicara, Jikyung.”

Tanpa menoleh, aku membalas, “Tidak, aku tidak punya waktu untuk bercanda.” Ah, sial! Kenapa suaraku terdengar bergetar seperti ini?

“Aku tidak sedang bercanda! Dengarkan aku dulu!”

“LEPASKAN!!” kuhempaskan tangannya dengan agak keras, dan bergegas berlari sebelum dia mencegahku lagi. Ternyata air mataku sudah tumpah, dan aku segera menghapusnya dengan kasar.

Lee Jinki-ssi, kau sudah membuat luka baru lagi di hatiku.

(End of POV)

>>><<<

(Jibyung’s POV)

Jam dinding di ruang kerja kami—aku dan Jikyung—menunjukkan hampir waktu tengah malam. Tapi kami masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Jikyung sibuk mempersiapkan rancangan barunya, sedangkan aku sibuk menjahit. Entah kenapa perasaanku jadi gelisah. Dan dengan perasaan gelisah ini, aku jadi menyadari sesuatu. Aku berhenti menggerakkan mesin jahit di depanku dan menatap Jikyung yang tampak serius. Atau boleh kukatakan… berusaha serius?

Kenapa? Dia sedang ada masalah, ya?

“Jikyung-ah.” panggilku kemudian. Dia menjawab dengan gumaman, “Wae?” tanyaku singkat.

“Apanya?”

“Kamu kelihatan lesu. Ada masalah?”

“Oh? Ani, aku hanya sedang berusaha berkonsentrasi. Tapi musik dari handphonemu itu sedikit mengganggu.” Katanya agak sinis. Aku melirik handphone yang kuletakkan di meja kerjaku. Sejak tadi aku memang sengaja memutar lagu-lagu SHINee, tidak tahu kenapa, aku hanya sedang ingin mendengar suara seseorang.

Lalu kuulurkan tanganku untuk meraih handphoneku itu, bermaksud mematikan musiknya, sebelum Jikyung berucap lagi dengan pelan, “Gwaenchana. Aku mengerti kamu sedang merindukan seseorang.”

“Jangan katakan segamblang itu, Jikyung-ah. Kalimatmu yang terakhir cukup disimpan di hatimu saja. Aku ‘kan malu.” balasku dengan suara yang memelan di kalimat terakhir. Kudengar kekehannya yang terdengar hambar. Aneh sekali. Perasaanku kenapa rasanya gelisah begini?

“Tapi kamu benar…” aku kembali membuka pembicaraan, setidaknya agar tidak terlalu sepi—diluar suara-suara yang terputar di handphoneku, tentu saja—“… aku memang merindukannya. Aissh~ padahal hari ini dia di Seoul, kenapa tidak menemuiku sebentar saja?”

Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana, aku melihat gerakan Jikyung terhenti seketika sesaat setelah aku menyelesaikan perkataanku. Dia menatapku dengan pandangan agak… horor? “Kalian tidak bertemu hari ini?” tanyanya pelan, dengan suara yang terdengar agak tercekat. Aigo~ apa dia terkejut sekali? Kenapa ekspresinya itu sampai sebegitunya?

Aku menggeleng pelan untuk menjawab pertanyaannya, dan sekali lagi aku merasa perasaanku kacau. Kali ini aku mengemukakan pertanyaan yang sejak tadi bercokol di pikiranku, “Jikyung-ah, kamu sedang ada masalah? Tidak ada rencana mendiskusikannya denganku?”

“Hanya masalah kecil.” jawabnya datar.

“Keurae? Mwoeyo?”

PLAKK!

Aku hampir melompat dari kursiku ketika Jikyung membanting pensil yang dipegangnya ke atas meja dengan kasar, lalu merapatkan punggungnya pada sandaran kursi sambil merengek kecil, “Kim Junsu oppa menyukaiku, Jibyung-ah~ Nan eotteokhae~?”

“MWO?! KIM JUNSU?! 2PM KIM JUNSU??” teriakku refleks.

“Ne. Tapi, bisa sedikit pelankan suaramu?”

Aku segera berderap menghampirinya, dan mengguncang bahunya, “YA! APA JAWABANMU?! EOH?”

“Aissh~ jangan teriak! Kamu ini! Aku belum menjawab apa-apa.” Dia menunduk. “Aku tidak tahu harus bagaimana.”

“Bukankah dia idolamu, Jikyung-ah? Kenapa tidak langsung saja?” ucapku asal sambil membentuk tanda kutip di samping kepalaku—dengan menggerakkan jari tanganku.

Untuk sejenak Jikyung terlihat memikirkan sesuatu, lalu menatapku beberapa detik dalam diam dan tiba-tiba saja mendorong keningku dengan jari telunjuknya. Sambil mencibir, dia melangkah melewatiku dan keluar dari ruangan kerja ini, “Aku lelah. Ayo tidur sebentar.”

“Ya~ ajakanmu itu membuatku merinding, Jikyung-ah.” aku berderap menyambar handphoneku dan berlari kecil mengikutinya keluar.

“Otakmu saja yang berpikiran mesum.” balasnya santai. Aissh~ dia ini!

>>><<<

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan servis area…”

PIP!

Aissh~ jinjja! Apa yang sedang dilakukannya, sih?! Sudah berapa belas kali aku mencoba menghubunginya, tapi selalu tidak aktif. Oke, aku tahu dia sedang sibuk-sibuknya. Tapi entah kenapa aku benar-benar mau berbicara dengannya saat ini. Tidak sepenuhnya kemauanku, sih. Pagi tadi eomma mendesakku untuk setidaknya bertemu sebentar dengan Onew.

“Rasanya aneh melihat pasangan yang sudah menikah saling acuh seperti kalian yang sibuk dengan pekerjaan sendiri-sendiri.” Begitu katanya tadi. Bahkan eomma bilang kami adalah pasangan pengantin yang aneh, karena terlihat menganggap pernikahan adalah sesuatu yang tidak ada bedanya dengan permainan.

Aku sangat tahu kami memang aneh. Aku tahu itu. Tapi aku juga tahu jelas bahwa kami sama-sama memandang pernikahan adalah sesuatu yang tidak boleh diremehkan. Dan lagi, mau bagaimana lagi? Lagipula siapa yang menginginkan kami segera menikah waktu itu? Atau mungkin bisa kuganti pertanyaannya jadi; kenapa SHINee debut di Jepang di waktu yang tidak tepat? Ah, tapi tidak ada gunanya aku menyalahkan keadaan. Toh, aku masih punya banyak stok kesabaran yang membuatku bisa menunggu lebih lama lagi. Dan mungkin kami juga bisa memperbaiki keadaan nanti.

Ngomong-ngomong, karena tidak bisa menghubungi Onew, apa aku harus menemuinya langsung di dorm saja, ya? Aku dengar pagi ini mereka tidak ada jadwal perform. Well, mungkin pergi menemuinya langsung ke dormnya adalah keputusan yang paling baik.

(End of POV)

>>><<<

(Onew’s POV)

“Kalian tidak perlu menyusahkan diri untuk ikut berpikir. Aku bisa menyelesaikan ini sendiri, karena ini memang urusan pribadiku.” Ujarku dengan agak sakrastik. Selain Jonghyun, sekarang Minho dan Key juga sudah tahu masalahku. Ini karena tadi Minho tidak sengaja mendengar pembicaraanku dengan Jonghyun tentang masalah tersebut.

“Hyung, tapi bagaimana dengan Jibyung noona?” akhirnya pertanyaan yang sama—yang sudah kudengar beberapa kali dari orang-orang yang mengetahui masalah yang kuhadapi—terlontar juga.

“Aku bisa mengatasinya sendiri, sudah kubilang.” tukasku dengan suara naik setengah oktaf karena mulai kesal—menanggapi perkataan Key barusan. Tidak hanya kesal pada kedua dongsaengku itu, aku juga kesal dan marah pada diriku sendiri yang kurasa (tanpa sengaja) sudah… bermain api.

“Bagaimana? Dengan menyembunyikannya rapat-rapat?” kata Minho, terdengar sedikit ironi, “Aku rasa hyung juga sudah mengerti, cepat atau lambat dia akan tahu.” Sambungnya, dan aku mengiyakan dalam hati.

TING! TONG!

Mendengar suara bel, sontak Jonghyun berdiri untuk membukakan pintu, karena mungkin dia mengerti bagaimana atmosfir yang diciptakan oleh kami bertiga tidak memungkinkan salah satunya beranjak hanya untuk melihat siapa yang datang dan membukakan pintu untuknya.

“Nuguseyo?” kudengar suara Jonghyun yang aku tahu sedang berbicara melalui intercom. Beberapa detik kemudian dia memanggilku, “Onew hyung!”

Aku menoleh dengan cepat dan memberikan tatapan ‘apa?’

Jonghyun mengarahkan telunjuknya pada intercom dan berucap dengan suara pelan, “Jibyungie…”

Sekarang tiga pasang mata tepat mengarah padaku, “Jangan katakan apapun tentang itu, arasso?” bisikku pada mereka yang hanya mengangguk kecil. Aku beranjak ke arah pintu dan membukanya, bersiap memakai ‘kedok’ku lagi.

“Hoi!” sapa(?) Jibyung begitu aku membuka pintu. Dia mengangkat sebelah tangannya, “Lama tidak bertemu, Dubu-ya.” Katanya datar dengan ekspresi yang datar juga. Ck~ childish sekali anak ini. (-___-“)

Aku mendengus dan menjitak kecil kepalanya, kemudian memberi isyarat padanya untuk masuk.

“Oh~ annyeong, Jonghyun, Key, Minho! Mana Taemin?” sapanya ceria saat melihat tiga orang lainnya. Namun tidak ada yang membalas sapaannya itu, apalagi menjawab pertanyaannya tentang Taemin. “Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanyanya lagi sambil celingukan. Kelihatan sekali kalau dia kebingungan.

“Oh~ Taemin sedang sekolah.” Akhirnya aku yang menjawab.

“Keurae? Ah, dia rajin sekali.”

Aku mengangguk setuju atas perkataannya, sementara dia masih terlihat heran. Bisa kulihat matanya meneliti satu-persatu ekspresi Key, Minho dan Jonghyun, dan juga aku, “Keundae, apakah kedatanganku mengganggu? Sepertinya kalian sedang membicarakan hal yang serius.”

Lagi-lagi tidak ada yang menjawab pertanyaan yeoja itu. Tidak mau berlama-lama dalam suasana canggung ini, aku menarik Jibyung ke arah dapur, dan menarikkan sebuah kursi untuknya, kemudian menuangkan segelas air sebelum menyodorkannya padanya, “Ada apa?” tanyaku.

“Kenapa handphonemu tidak bisa dihubungi?” dia balik bertanya.

Aku membatu sesaat, “Jinjja?” tapi kemudian menarik sebuah kursi lagi dan mendudukinya, sehingga jika kami duduk saling menyerong, maka posisi kami akan saling berhadapan. Aku melanjutkan perkataanku sementara Jibyung meneguk air minumnya, “Mungkin baterainya habis atau bagaimana. Memangnya ada apa?”

Sebenarnya baterainya bukan habis, tapi mungkin benda itu memang terpisah dari handphonenya, karena aku membantingnya kemarin malam. Penyebabnya karena aku sangat kesal karena Jikyung tidak mengangkat telfonku, juga tidak membalasi SMS-ku yg semua isinya adalah permintaan maaf.

Jibyung meletakkan gelasnya yang sudah kosong di atas meja, kemudian berkata pelan, “Kita harus membicarakan sesuatu.”

Untuk yang kedua kalinya tubuhku menegang, dan tanpa sadar aku menelan ludah dengan gugup. Apa Jikyung sudah mengatakan sesuatu padanya? Apa dia sudah tahu? Apa karena ini dia datang kemari?

>>><<<

To Be Continued

30 thoughts on “My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip Three

  1. akhirnya ad lnjutnnya.. emmm jikyung kyknya jg punya rasa ma onew ya…
    gak kbyg gimana nyeseknya jibyung klo tau onew suka sm kmbrnnya..

    makin pnsrn n g sbr nunggu clip slnjutnya

    • Hehe~ ntar di part selanjutnya bakalan dijelasin gimana sbenernya perasaan Jikyung. Hehe~
      Iya, dong. Itu nyesek banget.. 😦

      Waaa~ gomawoyo, Rahmi eonn.. 😀 Hihi~

  2. SUMPAH!PART INI MENEGANGKAN!
    Mira eonniiii! Tanggung jawab nih! Bantal di rumahku rusak gara2 aku gigit! *PLAKK! Sapa suruh!*

    gak nyangka banget kalo dubu ngasi tau perasaannya ke jikyung. Pas part itu rasanya lgsung lemes eonn. Reflek nutupin muka pke bantal ampe sesak nafas*mampus*hehe
    Kasian jibyung eonn. Kyknya jikyung udh crita sama jibyung kalo onew udh ngungkapin perasaannya yah? Sok tau aja nih, habis ngeliat dari percakapan part terakhir itu *halah*
    ya udh lah, jikyung terima aja cntanya junsu! Tolak tuh si dubu yg udah pandai berbohong! Jahat!

    eittss.. Younggeun di sebut2 tuh namanya ama minho. Gak di ff ini gak di ff sana, cnta minho tak terpisahkan #PLAK! Hahahahaha

    Lanjut yah eonn..aku bener2 nungguin nih…
    Moga di clip slanjutnya, onew udh sadar dan lbih cnta sama jibyung 😀

    • O.O *kaget*
      Jiaah~ malah gigitin bantal sndiri. Bagi, ngapa? #salah XD

      Ckckck~ sampe segitunya ya, Dev? .___.
      Berarti aku hampir bunuh orang, dong, gara2 aku bikin kamu sesek napas .___. *ngaco*

      Ahihi~ liat nanti ajaaa~ ^.^v

      Hahaha~ Younggeun-Minho emang polepel tugedel (???)
      Kkk~

      Huwaaa~ makasih ya, Devinda… ^O^ *hug*

  3. HwaaAa….jinki, jahat banget… Tega Bgt mengkhianati jibyung….
    Tapi apa yg mw diomongin jibyung ma jinki ya?
    Hah…rambah penasaran….

    Ditunggu u/ part selanjut’a thor…

  4. Huaa .. Eonni kesal,,kesal,,kesal .. Kog My Sweet Dubu bimbang gt sih??
    Nyesek banget bacanya pas Dubu oppa nyatain perasaannya ke Jikyung .. Poor Jibyung ..
    Dubu oppa kok tega banget sih?? Itu istri mu loh .. Orang yg harusnya dicintai hingga akhir hayatnya .. Kenapa harus apa perasaan menyimpang ke Jikyung .. Uuuh .. Jadi kesal ..
    Kesal juga nie pas Dubu oppa ada di Seoul,,tp bukannya nemuin istrinya .. Eh malah lebih ketemu Jikyung .. Itu mah gk ada sama sekali usahanya buat ngelupain Jikyung ..
    Huft ..
    Pokoknya part ini geregetan abiz deh bacanya .. Di tunggu loh next part .. Udh penasaran tingkat akut ..
    Oh ia .. Itu si Jikyung pasti punya rasa yg sama ma Dubu oppa .. (*halah ..sok tau ..) hee ..
    Tapi eonni mohon ya Mira,,ending nya ttp Dubu oppa ma Jibyung .. Gak rela aja rasanya klo si Sangte ma Jikyung .. Berasa bgt penghianatannya kalo mereka ampe’ bersama ..

    Waaa .. Nie comment mau sepanjang mana?? Hahaha .. Geregetan .. Geregetan ..

    • Sebenernya aku juga kesel, eonn.. Heuheu~ .__.
      Dan gak tega juga sebenernya bikin Dubu oppa segini teganya… =___=a *aneh*

      Huwaaa~ eonni tau banget maksud2 yg aku tulis di clip ini. *sujud syukur*
      Segitu gregetannya, kah? 😀 *joget*

      Dubu bakalan sama Jibyung lagi? Hmm~ well, lets see.. ^O^ Haha~ #plakk
      Kkkk~ makasih ya, Icha eonn… 😀

  5. aigoo,, onew jahaaat…hiiikz…
    Jikyung kayanya suka onew jg y!?? ntar Jibyung makin merana dweh.. whuhuhu…
    Jikyung moga z nerima cintanya Junsu!? key, author.. 🙂
    fighting!!!

  6. huah. . .
    tegang bgtz baca part ini, oia. .jng2 jikyung jg suka sma onew, trz gmn ama jibyung???
    penasaran…???
    next part jng lama ya thor…

  7. Clip 3 ini bnr2 bikin Onew galau tingkat akut..ckck
    jd menimbulkan byk asumsi d otak ku nih, mungkinkah (bkn lagu Andre stinki y, hehe) nantinya Jikyung backstreet brg Onew? Trz hub Jikyung n Jibyung jd berantakan plus d tmbh lg mslh pekerjaan mereka slg bersaing? (abaikan semua asumsi d atas, hehe) ya walau bgmnpun kan biasanya pahlawan (kesiangan) slalu menang d akhir cerita stlh sblm2nya byk menderita, hehehe. Pokoknya harapanku ff ini bs happy ending, Onew+Jibyung n Jikyung+Junsu.

    Ok deh d nanti clip 5 nya, semangat!!

    • Iya, bener. Onew galau di sini.. u,u

      Iyaaaaiy!! Asumsinya… hampiiiiiiir!! >,< Gimana aku bisa mengabaikan? *jedotin kepala*

      *manggut2 setuju* iya, ya. Pahlawan kesiangan. Hehe~ :p

      Siip~ ditunggu aja, ya.. 😀 Makasih! ^w^

  8. ahhh onew…
    jangan tinggalin jibyung….. kasian kan jibyugnya….
    author sukses nie bikin orang ikut gelisah…

  9. kyaaaaa ada Junsu-oppaaaaaaaa!!!
    Author, kok masukin semua biasku sih ah jadi cemburu sama Jikyung-_-
    Onew sadis :’) kasian Jibyung :’D tapi lebih kasian aku (?)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s