The One I Love -Part 2

Tittle               : The One I Love part 2

Main Cast      : Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Kim Yoona

Support Cast : Sungmin,  Seohyun, Eunhyuk, Bora

Genre              :School day, Romance, Happy

“cheers…” suara dentingan gelas bercampur teriakan menghiasi ruangan itu. Eunhyuk, Donghae dan Bora berkumpul untuk merayakan keberhasilan mereka dalam ujian kenaikan tingkat menjadi pengacara.Tahun akhir ini mereka memang disibukkan ujian-ujian untuk menjadi pengacara, belum lagi bekerja menjadi pengacara sementara.

“wah.. tidak disangka kita bisa sukses bersama seperti ini,” ujar Eunhyuk.

“berterima kasihlah pada Donghae yang selalu membantumu,” Bora mulai memakan snack ringan. Bora adalah kekasih Eunhyuk, mereka memulai hubungan sejak lulus SMA dan hubungan mereka sangat lancar atau bahkan tidak sama sekali karena satu sama lain tidak pernah merasakan bahwa mereka adalah pasangan kekasih. Mereka berkencan layaknya teman dengan teman.

“dia berubah banyak, dukunglah pacarmu Bora.”

Eunhyuk menyeringai mendengar kata manis Donghae. “kau harus percaya kata-katanya,” Eunhyuk langsung merangkul Donghae erat. “..dia orang yang jujur Bora.”

Bora mendengus, pacarnya ini walaupun teori rendah tapi soal praktek memang nomor satu. Mungkin dari mereka bertiga Eunhyuk lah yang paling tepat menjadi pengacara, sayangnya perilaku yang seenak sendiri membuat citranya menjadi pudar. Banyak orang tidak menyangka bahwa Eunhyuk mahasiswa hukum, dan cita-citanya adalah menjadi seorang pengacara.

“perbaiki dulu cara penampilanmu Hyuk sebelum kau dilantik menjadi pengacara,” komentar Bora. Donghae mengangguk-angguk setuju.

“kalian semua tidak tahu fashion. Ini yang namanya pengacara modern, kalau aku berpakain seperti Donghae yang begitu bersih, berjas rapi, rambut disisir simetris ahhh… itu sangat…hmpp hemp…”

Donghae memasukkan keripik kentang ke mulut Eunhyuk. Bora menambahkan lebih banyak keripik kentang ke mulut Eunhyuk, mereka tertawa melihat kondisi Eunhyuk yang telah di-buly. Tak lama kemudian Donghae memilih lagu dan sebuah lagu pun terputar..

Well you done done me and you bet I felt it

I tried to be chill but you’re hot that I melted

I fell right through the cracks

And now I’m trying to get back

 

Eunhyuk langsung merebut mic dari tangan Donghae, ini adalah lagu kesukaannya. “untuk kalian berdua,” ujar Eunhyuk sambil mengedipkan mata sebelah kirinya dengan genit, dan menunjuk kearah Bora.

I won’t hesitate no more, no more
It cannot wait, I’m yours

Well open up your mind and see like me
Open up your plans and damn you’re free
Look into your heart and you’ll find love love love
Listen to the music of the moment maybe sing with me
Ah, la peaceful melodys
It’s your God-forsaken right to be loved love loved love love

So I won’t hesitate no more, no more
It cannot wait I’m sure
There’s no need to complicate
Our time is short
This is our fate, I’m yours

Selagi Eunhyuk menikmati lagu dan suaranya sendiri. Bora mendekati Donghae yang sedari tadi hanya menikmati snack yang sudah membuatnya terlena, mungkin karena sakit hati mic yang ia pegang direbut oleh temannya yang tidak malu karena suaranya yang… (tahulah).

“bagaimana dengan pekerjaanmu? Menyenangkan?” tanya Bora. Donghae menatap teman perempuan yang hanya ia punya. Setelah cukup banyak perempuan yang mengantri untuk menjadi teman ataupun kekasih. Hanya Bora lah yang mampu membuatnya nyaman, seperti Eunhyuk.

“kenapa tiba-tiba bertanya hal semacam itu? bukannya kau yang paling tidak setuju jika aku mengajar di sekolah?”

“itu kan dulu saat aku tidak tahu mengapa kau ingin sekali menjadi guru. Ayolah.. ceritakan tentang sekolahmu, bagi cerita padaku juga jangan hanya pada Eunhyuk.”

“kau cemburu padaku?”

“iya! Kau lebih terlihat sebagai pasangan Hyuk daripada aku. Padahal siapa juga pacarnya. Makanya lain kali kalau ada masalah atau apapun ceritalah denganku. Bukankah kita berteman, teman harus saling menolong dan aku siap menolongmu Hae!”

Donghae melirik ke Bora, wajah yeoja itu sudah memohon dan melunak. “sekolah memang tidak begitu mengerikan seperti apa yang kau bilang. Disana banyak sekali orang yang baik, kepala sekolah juga sangat mendukungku untuk mengajar. Kelas seni juga telah kurubah agar tidak membosankan, seerti kau dan Eunhyuk sarankan padaku. Murid-murid disana memiliki banyak sifat dan keunikan. Kau akan menemukan …”

“cinta?”

Donghae berhenti bicara, “kukira kau harus mencari seseorang untuk dijadikan pacar Hae.”

“aku belum berminat.”

“kau ingin sampai kapan menyendiri terus. Manusia itu dicipatakan untuk berpasangan, kau harus menemukan seseorang yang mampu mengerti dan memberimu dukungan. Apalagi dengan kondisimu sekarang bukankah akan lebih baik jika ada seorang yang bisa mendengarkan keluh kesahmu. Kau akan merasakan sesutau yang berbeda dan merasakan kenyamanan. Apa kau tidak merasa kesepian?”

“aku punya Eunhyuk.”

“dia milikku.”

“kau mulai merasa memilikinya?” Donghae memberikan pertanyaan yang menyulitkan Bora, perempuan itu memang aneh. Selama berpacaran dengan Eunhyuk, ia tidak pernah mengenalkan Eunhyuk sebagai pacar didepan umum. Makanya, tak heran jika di kampus banyak sekali laki-laki yang menginginkan partner seperti Bora. Cantik, sexy, pintar dan kaya. Sayang, gadis ini tidak tahu betapa cintanya Eunhyuk, sampai laki-laki itu berusaha keras untuk bisa menjajari nilainya dengan Bora agar mereka masih bisa menjadi partner sampai sekarang.

Bora tidak menyukai pertanyaan Donghae. Ia memang salah sudah membuat pacarnya merasakan kecemburuan ketika dirinya sedang berada ditengah-tengah teman laki-lakinya. Sedangkan semua orang di jurusannya tak tahu apa-apa tentang kisah kasihnya dengan Eunhyuk, mahasiswa yang sering dipandang sebelah mata karena penampilannya yang lebih terlihat sebagai artis ketimbang pengacara.

“kau membuatku malas bertanya Hae! Oh ya, pastinya ada murid yang kau sukai kan?”

“hmm.. mungkin.”

“hah! Siapa?! Siapa?”

“Kim Yoona,” Eunhyuk menjawab pertanyaan kekasihnya itu, lalu mencium pipi gadisnya itu cepat. “beberapa hari ini Hae sering membicarakannya, telingaku sampai sakit mendengarnya. Sepertinya anak kecil bernama Yoona itu sudah membuat Hae jatuh hati,” jelas Eunhyuk. Bora gantian menatap Donghae yang malah asyik minum cola miliknya,

“kau yakin Hyuk?” tanya Bora sambil memberikan kode kepada Eunhyuk untuk melihat tingkah laku temannya yang biasa saja.

“Hae malu kalau menceritakannya padamu Bora.”

“aku tidak malu, asal bicara kau Hyuk!” Donghae menyingkirkan tangan Eunhyuk yang ingin merangkulnya. “dia hanya murid perempuan yang suka menyanyi tapi tidak terlalu mengerti tentang music itu sendiri, makanya aku membantunya.”

“ckckck… seperti biasa Hae berusaha menjadi orang paling baik diantara kita.”

“dia malaikat chagi~ biarkan saja dia seperti itu. Kita lihat saja hatinya akan memilih siapa.”

“benar juga, aku penasaran dengan yang namanya Yoona. Kau pernah bertemu dengannya?”

Eunhyuk menggeleng, “aku hanya melihat foto di ponselnya.”

“eh?” Bora menatap Donghae tajam. Bagaimana bisa seorang guru memiliki foro murid perempuannya, apalagi disimpan di hp. “pervert..” ujar Bora lirih tapi Donghae bisa mendengarnya dengan jelas.

“YA! Kau salah paham. Ini hanya foto biasa.”

“hahahaha…” Eunhyuk mulai tertawa melihat wajah Donghae yang sudah mulai memrah, tanda-tanda bahwa Donghae sedang malu dan berusaha menutupi kebenaran tentang foto tersebut. Sama persisi saat dirinya bertanya perihal foto tersebut. Bora buru-buru mengambil ponsel Donghae dari kantongnya, ia tahu benar dimana letak hp tersebut, Donghae pun lengah. Bora dan Eunhyuk langsung mencari dimana foto itu berada.

“di password?!” pekik Bora kaget.

“coba ketik y-o-o-n-a”, suruh Eunhyuk. Bora masih bingung, kenapa passwordnya mudah sekali. Karena terlalu lama Eunhyuk merampas hp tersebut dari tangan Bora. Dan ia segera mengetik apa yang barusan ia ucapkan tadi.

Dan..

“benarkan kataku, Hae tidak mudah menghapal password.”

“kyeopta~..” ujar Bora melihat foto Donghae dengan gadis bernama Yoona itu. Dilihat dari fotonya, pasti mereka habis jalan-jalan dan ini diluar jam sekolah. Sebenarnya apa hubungan Hae dengan Yoona? Apa benar Hae menyukai gadis yang memiliki jarak umur 5 tahun dengannya ini??? pikiran dan pertanyaan mulai memenuhi kepala Bora.

Tuk! Eunhyuk memukul pelan kepala kekasihnya. “sudahlah, jangan terlalu dipikirkan.”

Bora mengangguk. Ia tahu Donghae bukan lagi orang yang harus ia pikirkan lagi, semuanya sudah berubah.

===============================

 Choi seonsaengnim pun membagikan nilai ulangan kemarin. Kyuhyun sangat senang sekali ketika melihat nilai yang ia dapat. Ia pun melirik Yoona yang berada dibangkunya sambil memperlihatkan nilainya dengan angkuh.

“100, kau kalah!!” gumam Kyuhyun pelan pada Yoona. Yoona hanya tersenyum ia pun menunjukkan nilainya dengan santai.

“mwo!!! 100+ ,” ujar Kyuhyun dengan mata melotot. Yoona pun memeletkan lidahnya pada Kyuyun, hal tersebut menambah ia kesal.

Kyuhyun dan Yoona memang telah lama bersaing, mereka telah mengikrarkan diri sebagai musuh sejak awal semester terakhir mereka di SM High School. Awalnya Kyuhyun memang paling pintar di sekolahnya dulu namun karena ada seorang yang tak terkalahkan di SM High School yaitu Kim Yoona, hal itu membuat peringkatnya bergeser langsung. Mereka pun bersaing, bahkan saking kuatnya masing-masing Choi seonsaengnim sampai bingung memberi perinngkat pada mereka.

“kau mendapat nilai berapa So?” tanya Yoona.

“85, lumayan ada kemajuan,” ujar Soehyun.

“baguslah, nantinya aku tidak usah memberimu training lagi, hehehe…”

“tapi aku maish perlu bantuanmu Yong.”

“anytime..”

“anak -anak minggu depan akan ada penilaian untuk kelas paling baik. Yang dinilai bukan hanya dari prestasi akademik tapi juga dari kerapihan kelas. Sabtu depan kita akan mengecat ruangan kelas, oh ya kita belum memiliki denah bangku dan jadwal piket karena itu ibu menunjuk Kyuhyun dan Yoona untuk membuatnya,” ujar Choi seonsaengnim.

“mwo?!! Aku dengan Kyuhyun? Kenapa harus dengan dia bu?” ujar Yoona protes.

“karena Kyuhyun pandai menggambar dan tulisanmu juga rapi,” ujar Choi seonsaengnim.

“bu … kalau dia tidak mau biar kukerjakan sendirian saja,” ujar Kyuhyun.

“tidak bisa, ini sudah keputusan ibu. Kalian berdua yang harus menyelesaikannya dan besok dikumpulkan. Semua bahan-bahan yang diperlukan ada di ruangan ibu, bila ada kekurangan kalian ambil saja ke sana,” tukas Choi seonsaengnim.

“lalu apa ibu akan menemani kami?” tanya Kyuhyun kembali.

“aniyo … ibu harus mengurus baju pengantin untuk pernikahan ibu. Maafkan ibu yah, kalian pasti bisa menyelesaikan tanpa ikut campur ibu. Akan ada Lee Sonsaeng yang akan menengok pekerjaan kalian juga,” ujar Choi seonsaengnim.

“yes…” pekik Yoona, setidaknya ada guru yang akan bersama mereka dan itu adalah Donghae. Yoona merasa tenang karena tidak harus melihat wajah musuhnya ini terus.

“aish … aku benar-benar sial,” rutuk Kyuhyun.

“yang sabar ya nak ….” ujar Yoona.

============================================

“kau akan meninggalkanku So?” tanya Yoona. Seohyun mengangguk ia tak punya pilihan lain, karena ia sudah terlanjur janji dengan orang lain.

“mianhae Yong, aku ada janji dan aku harus menepatinya. Nanti aku akan meneleponmu. Bagaimana?”

“baiklah. masih ada Donghae Sonsaeng juga kok.”

“oooo… kau mulai menyukai guru itu ya… Yong! Kau harus berusaha!”

Yoona memukul lengan Seohyun, menyuruh temannya itu menjaga mulutnya. Seohyun hanya tersenyum melihat rona merah di wajah Yoona.

“bye .. hati-hati yah,” timpal Yoona.

Yoona pun menghela nafas, rasanya kesal sekali bila ia harus bekerja sama dengan musuhnya. Ia pun kembali ke kelas sambil menunggu Kyuhyun membawa semua bahan yang diperlukan.Beberapa saat kemudian Kyuhyun tiba dengan membawa kardus yang berisi bahan-bahan yang diperlukan.

“ini ….” ujar Kyuhyun sambil meletakkan kardusnya di meja.

“kau lama sekali,” ujar Yoona kesal.

“sudah jangan banyak bicara, kita kerjakan saja dengan cepat dan aku tidak harus berlama-lama denganmu,” ujar Kyuhyun.

“siapa juga yang ingin berlama-lama denganmu,” balas Yoona kemudian memukulkan kertas karton ke bahu Kyuhyun.

“bwweekkk,” ledek Yoona sambil memeletkan lidahnya.

“aish … sebenarnya siapa yang seperti anak kecil,” rutuk Kyuhyun.

Dengan tekun dan teliti Kyuhyun dan Yoona pun mengerjakan pekerjaan mereka. Yoona pun memperhatikan Kyuhyun yang dengan mudah dapat menggambar denah-denah bangku kelas dengan indah dan unik. Ada rasa kagum menelusup ke hatinya, ia pun menatap wajah Kyuhyun yang terlihat serius.

“dia tampan juga,” gumam Yoona dalam hati.

“jangan melihatku terus, ayo cepat kerjakan bagianmu,” ujar Kyuhyun sambil terus menggambar. Yoojin salting dibuatnya.

“siapa yang melihatmu, aku melihat hasil kerjamu,” kilah Yoona kemudian mengibas-ngibaskan tangannya ke wajahnya, wajahnya memerah. Kyuhyun pun tersenyum kecil.

Yoona mengambil pena dan mulai merangkum nama-nama siapa saja yang harus ia tulis. Belum juga ia menuliskan apa yang ada di pikirannya. Kyuhyun mulai mengoceh kembali. “langsung tulis saja, katanya pintar, juara pertama. Hanya menulis denah saja kenapa sampai bingung begitu,” ujar Kyuhyun melecehkan.

Yoona melirik tajam kearah Kyuhyun yang masih focus dengan gambarannya, ingin sekali ia memukul lelaki menyebalkanku. Seharusnya ia ralat perkataannya tadi, laki-laki ini memang tampan tapi tidak setampan sifatnya. Seperti devil yang memiliki topeng angel, pantas saja banyak murid perempuan yang mengantri untuk bisa kencan dengannya. Pasti laki-laki ini memanfaatkan mukanya untuk meminta bayaran. Huh!

Yoona hampir saja menyelesaikan pekerjaannya, namun pulpen yang ia gunakan habis.

“aish … kenapa pulpen ini habis di saat-saat terakhir. Ahh … merepotkan saja,” rutuk Yoona. Ia pun melirink Kyuhyun yang masih asyik dengan pekerjaannya.

“aku ke kantor dulu mengambil pulpen,” ujar Yoona. Kyuhyun pun mengangguk.

Setelah beberapa saat kemudian, Yoona pun kembali ke kelas setelah mendapatkan pulpen yang ia butuhkan, namun aneh ia tidak menemukan Kyuhyun di tempatnya tadi duduk.

“Kyuhyun ….hei kau kemana?” panggil Yoona. Ia pun melihat hasil kerja Kyuhyun.

“sepertinya sudah selesai. Apa dia langsung pulang? Aish … dasar laki-laki tidak bertanggung jawab. Teganya meninggalkanku disini, padahal ini sudah malam,” rutuk Yoona.

Yoona pun segera menyelesaikan tugasnya, saat ia akan beres-beres ia mendengar sesuatu dari belakang kelas. Yoojin pun kaget dan agak takut, tapi ia memberanikan diri untuk melihat sambil membawa penggaris panjang dari meja guru. Dengan derap langkah sepelan mungkin ia mengendap-endap ke belakang kelas.

“siapa kau?!” teriak Yoona saat sebuah tangan mencolek bahunya dari belakang.

“omo?!!! Sonsaengnim?!!! Sedang apa disini?” tanya Yoona.

“kurasa Choi sonsaengnim menyuruhku untuk melihat pekerjaan kalian. Apakah semuanya sudah selesai?”

“semuanya beres , besok akan aku serahkan langsung ke Choi Sonsaeng.”

“baguslah, bagaimana kalau aku antar pulang?”

Yoona tersenyum, “sonsaeng sangat baik berbeda dengan Kyuhyun. Dia meninggalkanku sendirian setelah menyelesaikan tugasnya. Dasar laki-laki yang tidak bertanggung jawab!”, omel Yoona.

“dia meninggalkanmu sendirian? Kyuhyun perlu diajarkan bagaimana bersikap terhadap perempuan.”

“sonsaeng pasti juga tidak suka padanya kan.”

“bagaimana bisa aku menyukai anak yang sering bolos kelas seni dan malas sekali mengerjakan tugas. Dan pasti setiap pekerjaannya mirip dengan Sungmin.”

Yoona menatap gurunya ini tidak percaya. “wahhh.. jadi sonsaeng selama ini tahu?”

“tentu saja. Tapi anak itu memiliki talenta yang luar biasa dalam bernyanyi. Kau akan menyukai suaranya, sayangnya ia lebih menyukai ujian sendirian daripada bersama kalian. Aku rasa hanya itu yang bisa membantu nilai kelas musiknya memiliki nilai tinggi semester kemarin. Aku berharap bahwa kalian berdua bisa berduet.”

“MWO?! Sonsaeng sudah gila.”

Donghae tertawa lalu mengacak puncak rambut Yoona. “hari ini aku maafkan karena sudah memanggil gurumu dengan gila, Kim Yoona. Lain kali akan ada hukumannya”

Yoona memeletkan lidahnya, karena sudah terbiasa dekat dengan gurunya satu ini, ia bahkan lupa kalau daritadi ia sudah menggunakan banmal. Yoona menjitak kepalanya sendiri atas ketidak sopanannya.

================================

“tuan ini sudah malam, apa kita pulang sekarang?” tanya sopir pribadi Kyuhyun.

“sebentar lagi, kita menunggu satu orang yang akan ikut kita pulang.”

“bukankah tuan Sungmin sudah pulang terlebih dahulu.”

“aku tidak membicarakannya.”

Kyuhyun melihat jam tangannya sekali lagi, sudah begitu malam. Apa yang sebenarnya dilakukan perempuan itu sampai saat ini belum keluar, pikir Kyuhyun. Ia memang sengaja meninggalkan Yoona di kelas sendirian agar perempuan itu yang membereskan semuanya. Hihihi…

Ahh.. akhirnya keluar juga,,,

Kyuhyun ingin menyuruh sopirnya mengklakson  untuk memmberi tanda bahwa ia sudah menunggu kedatangan perempuan itu daritadi. Tapi sedetik kemudian niatnya langsung berubah.

“kita pulang,” ujar Kyuhyun. Wajahnya sudah terlanjur keruh melihat perempuan itu tidak berjalan sendirian.

==========================

Lelaki itu tengah asyik dengan permainan game-nya, seperti kebiasaannya jika sedang menunggu seseorang apalagi waktu yang sangat lama membuatnya begitu bosan. Makanya Sungmin selalu membawa PSP, teman setianya lah yang membuatnya menjadi maniak game, sebelumnya ia tak tahu apa-apa tentang game. Kyuhyun selalu membuatnya melakukan pertangdingan satu lawan satu, dan tidak tanggung-tanggung Kyuhyun akan selalu melakukan semua permainana game itu sampai ia kalah total. Dan karena terlalu sering dikalahkan akhirnya Sungmin mempunyai tekad untuk mengalahkan Kyuhyun dan mulai menggilai game. Setelah cukup bosan dengan game, ia melirik kearah ponselnya yang sedari tadi tidak berbunyi ataupun bergetar. Sebenarnya sedari tadi ia menunggu pesan atau panggilan dari seseorang yang akan ia temui malam ini. Sudah begitu malam, tapi orang yang ia tunggu tak kunjung datang. Karena malam ini ia akan bertemu seorang perempuan dan itu adalah sebuah rahasia,  yang tidak boleh ada satupun yang tahu tentang perihal ini termausk Kyuhyun.

“tok..tok..” sebuah ketukan menyadarkan Sungmin. Ia melihat ke kaca jendela mobilnya, seorang perempuan berpakaian tebal—mungkin karena udara yang dingin, tengah berdiri diluar mobilnya. Sungmin tersenyum dan langsung menyuruh perempuan itu masuk kedalam.

“masuklah,” Sungmin menggeser duduknya dan memberikan tempat untuk diduduki perempuan tersebut.

“maaf … pasti oppa menunggu sangat lama.”

“hampir saja aku akan meninggalkanmu. Bagaimana kabar umma?”

“umma sudah baikan, kondisinya semakin sehat. Terima kasih sudah menolong kami.” Sungmin menggeleng seperti tak menyetujui kata-kata terakhir yang diucapkan perempuan itu barusan.

“aku sudah menyiapkannya, maaf aku tidak bisa rutin menemuimu disini. Tapi aku akan berusaha untuk menolong apapun kesulitanmu, jadi selalu katakan apa yang kau butuhkan, aku pasti akan memenuhinya Seo.”

Seohyun tersenyum mendengar kata-kata tulus dari mulut Sungmin. Andai saja sikap baik hati dan pengertian Sungmin bisa ia rasakan pula di sekolah. Tapi itu tidak mungkin mengingat janji mereka yang telah dibuat dan harus ditepati satu sama lain.

Sungmin memberikan 2 bungkusan plastic besar kepada Seohyun. “bawa ini ke rumah. Sesuai janjiku aku akan bertanggung jawab. Jadi jangan bilang apapun lagi di depan Yoona dan Kyuhyun. Kita sudah berjanji akan merahasiakan ini semua kan?”

Seohyun mengangguk. “habis, oppa selalu saja berbohong. Lain kali kalau memang ingin datang menemuiku langsung telepon saja, jangan membuat orang menunggu setiap malam seperti orang bodoh.”

Sungmin tertawa mendengar nada ngambek Seohyun, ia lalu menyuruh gadis itu untuk kembali ke rumah. Sedangkan ia juga harus sampai di rumah tepat waktu sebelum ia ketahuan melakukan hal yang akan memancing kemarahan ayahnya.

“langsung tidur, dan selamat bertemu lagi di sekolah,” Sungmin melambaikan tangannya dan perempuan itu pun membalas lambaian dengan senyuman yang sangat manis.

“ahjussi, hati-hati menyetir. Didalam mobil ini ada nyawa yang harus ahjussi jaga, jangan sampai terjadi sesuatu.”

“baik nona,” jawab sopir mobil Sungmin.

“aku pulang lebih dulu. Selamat malam…”

“malam oppa,” ujar Seohyun. Mobil mulai berjalan pelan dan akhirnya meninggalkan Seohyun.

“kita langsung pulang tuan?”

“ya, aku sedang malas bertemu dengan Kyuhyun. Oh ya.. jika ayah menanyakan jadwal kegiatanku hari ini jangan bilang kalau aku ke tempat ini.”

“baik tuan..”

“jika ayah sampai tahu, aku akan langsung memecatmu.”

Sungmin memadang pemandangan jalanan malam lewat kaca mobilnya. Begitu ramai, lama sekali ia tidak melewati jalanan ini, pikirnya. Mungkin jika tidak ada jam malam untuknya maka ia akan selalu menghabiskan malamnya disini bersama Seohyun. Ia merasa tidak enak hati karena tidak begitu memperhatikan perempuan itu padahal janjinya adalah selalu menjaganya. Dan untuk masalah hubungan antara mereka berdua, ia belum sanggup menceritakn kepada Kyuhyun, bukan karena ia tak percaya tapi ia ingin menunggu wkatu yang tepat saja.

Lain halnya dengan Seohyun, gadis itu menatap mobil Sungmin dengan perasaan yang campur aduk. Senang juga sedih. Akhirnya ia bisa memanggil Sungmin dengan pangggilan ‘oppa’ dan ia bisa bersikap santai didepannya. Beda sekali jika di sekolah, ia harus bersikap seolah-olah sungmin adalah seseorang yang harus ia abaikan, jelekkan dan acuhkan. Ini begitu sulit mengingat dirinya dan Sungmin sangat dekat, bahkan pertemuan yang singkat membuat mereka bisa saling percaya. Andai saja, mereka bisa jujur pada semua orang mengenai hubungan mereka.

Seohyun berjalan menuju rumahnya, sebuah tempat tinggal yang sederhana. Ia hanya tinggal bersama ibunya yang kini sering sakit-sakitan. Saat ingin membuka pintu rumah tiba-tiba saja pintu telah terbuka dari dalam.

“umma…”

Seohyun kaget melihat ibunya lah yang membukakan pintu, ia segera menyembunyikan bungkusan yang diberikan Sungmin padanya.

“seharusnya umma tidak percaya kata-katamu Seo.”

“u..umma..”

“sejak kapan kalian saling bertemu?”

Seohyun terdiam. Ia harus bagaimana…?

====================================

Yoona melangkah keluar. “terima kasih Sonsaeng sudah menemaniku pulang,” ujar Yoona membungkukan badan dan berterima kasih sudah menjadi teman pulangnya. Kini ia harus turun dari kereta dan melanjutkan perjalanan ke rumahnya.

“tidak apa-apa jalan sendirian ke rumah?”

“masih banyak orang yang berkeliaran. Sonsaeng juga harus segera pulang bukan? Sudahlah aku pergi dulu. Dahh…” Yoona kembali bersikap informal didepan gurunya satu ini. Donghae yang tak enak hati karena tidak bisa merayu gadis itu untuk ditemani pulang hanya bisa membalas lambaian tangan gadis tersebut.

“hati-hati..”

Yoona mengangguk sambil tersenyum. Setelah kereta tertutup dan kembali melanjutkan tujuan. Yoona langsung angkat kaki dan berjalan meninggalkan stasiun. Rumah Yoona memang sangat jauh dari tempatnya bersekolah, walapun begitu demi kesuksesannya ia tidak memepermasalahkan.

Yoona mengeluarkan ipod dan headshet pemberian Donghae yang masih ia pinjam. Ia memutar kembali lagu-lagu yang berada di dalam playlist ipod tersebut. Lagu-lagu gubahan gurunya yang begitu indah dengan lirik yang manis. Membuatnya tak bosan mendengarkan suara Donghae.

“aku pulang ibu…” Yoona masuk kedalam rumahnya, sampai di ruang tamu. Ia heran mengapa rumahnya begitu berantakan. Semuanya terlihat tidak beraturan, benda-benda yang selalu tertata rapi, kini berhamburan tidak teratur.

Yoona mulai panik, jangan-jangan ada maling di rumahnya. Ia langsung tersadar dan mulai mencari ayah dan ibunya. Ia ke kamar orang tuanya tapi tidak menemukan seorang pun disana. Tangan Yoona mulai gemetaran, headshet yang ia pakai ia lepaskan. Dan saat ia membuka pintu kamarnya. Kondisinya sama dengan ruangan yang lain, berantakan. Buku-buku pelajarannya terbuang begitu saja di lantai. Belum lagi lemari pakaiannya, baju-baju miliknya bermaburan di tempat tidur.

“umma!” Yoona menemukan ibunya duduk di pojok kamarnya sambil menangis. Sebenarnya apa yang barusan terjadi?

“umma, dimana ayah? Kenapa rumah berantakan seperti ini?”

“Yoona… ayahmua.. ayah…”

Yoona memeluk ibunya yang masih saja menangis, berusaha untuk menangkan dengan pelukannya. “ayah kenapa?”

“ayahmu kabur dari rumah dan membawa semua uang dan ia mencari buku tabunganmu Yong. Ayahmu kabur dari rentainer, laki-laki itu meninggalkan kita,” ujar ibunya. Yoona yang mendengar tidak bisa percaya, bagaimana bisa ayahnya berbuat seperti itu pada mereka??

“umma tenang saja, ayah pasti akan kembali.”

Yoona mengeluarkan ponselnya dan mecoba menelepon nomor ayahnya, namun tak ada satupun panggilan yang dijawab ayahnya. Yoona makin mengeratkan pelukan pada ibunya, ia harus kuat dengan semua ini.

“Yong, rumah ini dibuat jaminan oleh ayahmu juga.”

“apa?!”

“bagaimana nasib kita?” ibunya makin sesenggukan, tangisnya makin deras dan tak kunjung mereda. Yoona hanya bisa memeluk sambil memikirkan hal apa yang harus ia lakukan.

================================

“dia menyuruhmu pulang.”

Donghae memandang Eunhyuk dengan tatapan yang selalu tidak biasa, kali ini tatapan ingin membunuh. Sudah Donghae katakan beberapa kali kepada teman dekatnya ini bahwa ia paling tidak suka dicampuri urusan pribadinya. Walaupun begitu kedekatakn mereka membuat Eunhyuk makin perhatian dan ingin temannya ini segera menemukan kebahagiaan yang sudah hilang darinya. Makanya sekeras apapun Donghae menyuruhnya diam ditempat, Eunhyuk malah akan berlari untuk selalu mencampuri urusan Donghae.

“dia yang datang kesini, bukan aku yang menemui,” ujar Eunhyuk menjelaskan. Ia memberikan sebuah amplop yang tebal. Isinya sudah dipastikan uang. Donghae hanya melirik kearah amplop tersebut.

“pakai saja,” ujarnya dingin.

“ini milikmu, bukan milikku.”

“kita tinggal berdua sudah lama, apa yang aku punya dan aku miliki, akan menjadi milikmu juga.”

“aku bukan penjilat.”

“tabung saja kalau begitu. Aku belum membutuhkan, gajiku sangat cukup untuk menghidupi kehidupan sehari-hari kita.”

“lama-lama aku bosan padamu Hae. Tingkahmu sudah lebih dari anak kecil, dewasalah sedikit. Seharusnya kau bisa memaafkan kesalahannya, kejadian itu murni kecelakaan bukan salah siapapun. Hanya tinggal kau keluarga yang ia miliki. Kau harus sadar, Cuma dia keluarga yang kau punya sekarang”

Donghae menghela nafas, bosan ia dengan nasihat Eunhyuk.

==============================

“aaahhhh…” Kyuhyun terbangun dari tidurnya atau lebih tepat sedari tadi ia tidak bisa tidur, bayangan Yoona jalan bersama guru seninya Lee Donghae selalu berkelebat dalam pikirannya. Juga kebiasaan perempuan itu ke ruang music sebelum pulang membuatnya kembali memikirkan hubungan apa yang sebenarnya terjalin antara keduanya. Sebenarnya Kyuhyun sudah tahu bahwa Yoona mengikuti kelas music setelah jam pelajaran selesai tapi tetap saja Kyuhyun melihat atmosfer yang aneh. Kyuhyun juga tahu bahwa mungkin gadis itu menyukai guru seninya, terlihat jelas dari muka Yoona yang selalu merona jika sedang membicarakan topic hangat itu bersama temannya.

Lalu setelah mengetahui semuanya , kenapa sekarang Kyuhyun merasakan ada yang aneh? Ia seharusnya tidak memikirkan tentang hubungan tersebut. Mau apapun status mereka tetap saja Kyuhyun tidak mempunyai hak untuk ikut campur. Tapi ini parah bukan? Seorang guru dan murid memiliki hubungan asmara di sekolah, bukankah SM High School adalah sekolah yang memiliki dedikasi yang baik dan sempurna. Hal seperti ini sangat tabu jika diketahui khalayak.

Kyuhyun memegangi kepalanya. Ia pusing. Ia stress.

“baiklah, lupakan semuanya. Hiduplah seperti biasa…” Kyuhyun meenangkan dirinya sendiri dengan berbicara seperti tadi sambil menutup mata. Tapi semenit kemudian ia terbangun lagi. Sekarang jantungnya yang tidak karuan, berdetak lebih cepat.

“ada apa denganku?!” teriak Kyuhyun sambil memgangi dadanya yang kini ia bisa sangat jelas mendengar suara detak jantung miliknya.

To be continue…..

 

41 thoughts on “The One I Love -Part 2

Leave a Reply to lee eun soo Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s