My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip Seven

Main Cast :

  • Lee Jinki (Onew)
  • Shin Jibyung
  • Shin Jikyung

Support Cast :

  • 2PM Junsu
  • Other SHINee members
  • Etc.

Genre : Marriage Life, Family, Life, Humor

Length : Continue

Rating : Teen

Disclaimer : Only own the plot & Shin Jibyung.

>>> Previous <<<

“Maafkan aku, kalau aku sudah menyakitimu. Aku tidak tahu kalau—”

“Aku sudah memaafkanmu.”

“Jadi, lupakan saja hal-hal yang terjadi kemarin, dan kita kembalikan keadaan seperti semula. Aku adalah saudara iparmu, begitupun sebaliknya. Dan selamanya tidak akan berubah, karena bagaimanapun, kamu sudah punya Jibyung.”

Dia membuka beberapa kancing atas piyamaku, dan menarik turun bagian lengannya, sehingga aku bisa merasakan udara—yang bercampur dengan napasnya—menyapu bahuku. Belum cukup dengan hanya seperti itu, aku kembali dibuat terkejut saat bibirnya mendarat di bahuku.

“Ya-hh~”

*

CLIP 7

Aku mencengkram lengannya dengan keras, ketika telapak tangannya membelai pelan perutku, dan dengan perlahan bergerak naik. Demi Tuhan, dia membuatku takut.

Tapi kemudian aku merasakan kepalanya jatuh di sela pundakku. Napasnya terdengar teratur menerpa leherku, dan tangannya tidak bergerak lagi. Aku ikut terdiam, menunggu apa yang akan dilakukannya setelah ini. Namun ternyata tidak terjadi apapun. Apa dia tertidur?

Dengan perlahan kudorong tubuhnya menyingkir dari atasku, dan kudapati matanya terpejam dengan damai. Benar, dia tertidur.

Bodoh! Kau mengagetkanku!

Aku mengusap ujung-ujung mataku, dimana sejumlah air mata ternyata telah menggenang tanpa kusadari. Kubenahi kembali bajuku sebelum menyelimuti Onew, lalu kubaringkan diriku di sisi lain tempat tidur, agak jauh darinya. Aku masih kaget sekaligus takut, bahkan anggota gerak tubuhku masih gemetar dan jantungku masih berdetak tak normal.

Dan dengan begitu, aku mencoba untuk melupakannya dan tertidur.

(End of POV)

>>><<<

(Author’s POV)

Junsu duduk di kursi kemudi setelah sebelumnya menutup pintu mobil dengan sedikit membantingnya. Dia menopang sikunya di pintu mobil dan tergugu cukup lama. Perkataan Onew beberapa waktu lalu kembali terngiang di telinganya.

Onew—dengan keadaan tidak sadar karena mabuk—telah mengatakan semuanya, semua hal yang terjadi padanya akhir-akhir ini, semua hal yang terjadi di antara dirinya dengan Jikyung—di hadapan Junsu saat Junsu mengantarnya ke apartemen Onew dan Jibyung.

Junsu ingat dengan jelas bagaimana Onew berkata panjang lebar tentang dirinya yang sering merasa bimbang akan perasaannya, tentang status pernikahannya yang menurutnya terombang-ambing, tentang Jibyung yang sedikitpun tidak tahu-menahu keraguannya, dan juga tentang Jikyung yang ternyata juga mencintainya, termasuk tentang ketidaksetujuannya dengan ‘kesepakatan’ di antara dirinya dengan Jikyung—yang Junsu tidak tahu ‘kesepakatan’ seperti apa yang dimaksud.

Onew sudah mengatakannya secara gamblang, dan di antara semuanya, yang paling membuat Junsu merasa cukup terpukul adalah kenyataan bahwa ternyata Jikyung mencintai Onew. Selebihnya, dia tidak terlalu mempermasalahkannya karena dia memang tidak berhak mencampuri urusan rumah tangga Jibyung dan Onew, walaupun Junsu merasa kasihan melihat Jibyung yang sepertinya memang tidak tahu apapun.

Kembali pada hal yang membuat Junsu ‘terpukul’, jika ternyata Jikyung memang menyukai Onew, bukankah itu artinya, perasaan Junsu pada Jikyung selama ini bertepuk sebelah tangan?

Junsu tahu dia tidak harus langsung percaya begitu saja terhadap semua yang sudah dikatakan Onew, karena bisa saja Onew hanya asal bicara—karena mabuk. Tapi pemandangan yang Junsu lihat di depan rumah Shin sebelumnya—dimana Onew dan Jikyung saling memeluk satu sama lain—justru membuatnya berpikir semua yang dikatakan Onew adalah kenyataan. Lagipula, bukankah terkadang orang yang mabuk akan mengeluarkan semua uneg-uneg yang terpendam dalam hatinya?

Junsu memijat pelan pelipisnya, sekedar untuk mengurangi rasa pening yang menyerang kepalanya tiba-tiba. Tangannya yang lain mencengkram steer dengan erat.

Sekali lagi, jika kenyataannya Jikyung memang menyukai Onew, lalu untuk apa Junsu menunggu selama ini?

Junsu mengangkat kepalanya dengan perlahan, lalu terkekeh miris, menertawakan dirinya sendiri, “Aku menyedihkan, ya?”

>>><<<

Onew terbangun dengan sendirinya ketika tubuhnya ‘mendeteksi’ datangnya hari berikutnya.  Hal pertama yang Onew lihat adalah sisi kiri dari wajah seseorang, tapi sedetik kemudian semuanya seolah berputar. Onew memejamkan matanya kembali dan menekan dahinya dengan punggung tangan hingga sensai berputar itu menghilang. Dia ingat sudah menghabiskan berkaleng-kaleng beer tadi malam, di dekat sungai Han, dan ada Junsu yang menemaninya. Mungkin dia minum sampai mabuk.

Apa? Mabuk? Lalu sekarang aku di…

Dengan segera Onew membuka matanya lagi, memindai setiap sudut ruangan yang terasa familiar baginya. Lalu untuk kedua kalinya, matanya menangkap sosok perempuan yang masih terlelap di sampingnya, sedikitpun tidak merubah posisinya. Onew mendekatinya dan menghembuskan napas lega begitu tahu itu adalah Jibyung, karena itu berarti dia tidak sedang berada di sembarang tempat dengan orang yang tidak dikenalnya. Tapi siapa yang membawanya ke sini? Junsu kah?

Onew membuat lengannya sebagai bantalan kepalanya, menyerongkan tubuhnya agar bisa memperhatikan Jibyung dengan leluasa. Wajahnya yang terlihat damai dan desah napasnya yang teratur membuat sudut-sudut bibir Onew tertarik tanpa disadarinya. Ternyata begini rasanya menemukan dirinya berada di tempat tidur yang sama dengan orang yang disayanginya, dan pertama kali disambut dengan pemandangan seperti ini begitu terbangun di pagi hari?

Untuk pertama kalinya Onew merasa damai seperti ini.

Sesuatu di leher Jibyung mengganggu pemandangan Onew yang langsung menurunkan tatapannya ke leher Jibyung. Onew memicingkan matanya dan terkesiap pelan, bukankah itu… kissmark?

Kedua matanya membulat begitu potongan-potongan ingatannya tentang kejadian semalam satu-persatu mulai bermunculan. Onew terperanjat dan membalikkan tubuhnya dengan cepat, dan di saat itu pula kepalanya membentur nakas di samping tempat tidur hingga menimbulkan suara benturan yg lumayan.

Namja itu mengaduh pelan dan memegangi kepalanya yang terbentur. Tubuhnya meringkuk hingga kepalanya hampir menyentuh lutut. Rasa pusing yang belum mereda—karena bir—sekarang harus ditambah lagi karena kecerobohannya.

Sementara Jibyung—yang merasakan tempat tidur yang berguncang pelan—membuka matanya. Dua detik kemudian kesadarannya sudah kembali dengan utuh. Jibyung menolehkan kepalanya ke arah Onew, mengernyit mendapati namja itu meringkuk memunggunginya sambil menggerutu tak jelas.

Wae?” tanya Jibyung pelan sambil merubah posisinya menjadi duduk. Onew menghentikan gerakannya dan melihat ke arah Jibyung yang mengajukan satu pertanyaan lagi sambil menguap, “Meori apha?

Onew kembali membalikkan badannya hingga telentang, “A-ah, sudah bangun? Selamat pagi.” katanya pelan. Jantungnya tiba-tiba bergemuruh tak karuan.

Ne. Kenapa dengan kepalamu? Apa sakit?” Jibyung mengulangi pertanyaannya.

“Ng, n-nakasnya terlalu dekat dengan tempat tidur.” jawab Onew yang membuat Jibyung terkekeh pelan.

“Aku akan ambil air minum.” Jibyung beranjak turun dari tempat tidur dan berjalan ke luar kamar sambil menggeliat pelan, dan tatapan Onew mengikutinya hingga sosoknya menghilang di balik pintu kamar.

Onew menghembuskan napas lega sembari mengusap kepalanya untuk yang terakhir kali. Sepertinya Jibyung biasa saja. Apa yeoja itu tidak ingat? Atau memang memutuskan untuk tidak mempermasalahkan itu?

Onew menatap langit-langit kamar dengan alis hampir menyatu. Bayangan kejadian semalam kembali muncul seolah di depan matanya, membuatnya tidak habis pikir dengan dirinya sendiri.

“Bagaimana bisa aku melakukan itu?” gerutunya pelan. Kakinya menendang-nendang udara dan tangannya memukul-mukul kasur dengan gemas, “Apa aku menakutinya? Aissh~”

Tak lama kemudian Jibyung kembali dengan segelas air putih di tangannya. Dia menghampiri Onew dan menyodorkan gelas itu di depannya. Onew meneguknya pelan, sementara matanya tak lepas dari Jibyung yang juga tengah memperhatikannya.

“Ehm~ Junsu-ssi yang mengantarmu ke sini, kalau kau bertanya-tanya tentang itu.” kata Jibyung pelan.

“O-oh, aku ingat.” Jawab Onew setelah meletakkan gelasnya yang sudah kosong di atas nakas, “Dan soal itu…” dia menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur sehingga posisi mereka sekarang duduk bersisian di bibir tempat tidur. Onew menggaruk bagian belakang kepalanya dengan canggung, “… aku minta maaf.” lanjutnya.

Jibyung hampir tersedak ludahnya sendiri, namun kemudian menjawab, “Aaah~ aku sebenarnya tidak telalu mempermasalahkannya. Hanya saja… akan lebih baik kalau kau melakukannya dalam keadaan sadar.” tutur Jibyung dengan pipi bersemu merah begitu saja. Ada sedikit perasaan tak menyangka bahwa mereka akan membahas hal ini juga.

Onew tersenyum lebar melihat ekspresi Jibyung yang memalingkan wajah darinya, “Keurae.” katanya sambil terkekeh dan mengacak pelan rambut Jibyung.

“Kau… tidak ada schedule pagi ini?” tanya Jibyung kemudian.

“Jam berapa sekarang?” Onew memindai setiap dinding kamar mereka. Tatapannya terkunci pada sebuah jam dinding berbentuk persegi yang tergantung di dinding yang kosong. 6.40 am, “Ah, aku baru akan kembali jam sembilan.” Katanya.

“Tapi aku harus berangkat jam delapan.” Jibyung meringis kecil.

Gwaenchana.” Sahut Onew sambil menguap, membuat Jibyung mengernyit karena aroma aneh menyentuh lubang hidungnya.

Ya! Bukankah sebaiknya kau membersihkan diri? Kau bau alkohol, tau!” gerutu Jibyung, mengibaskan tangannya di depan hidung.

“Benar. Mandikan aku, kalau begitu!”

YA!

>>><<<

Aigoo~ Lee Jibyung benar-benar pintar memasak sekarang. Apakah memang kebetulan nasi goreng kimchi kali ini tidak keasinan, atau karena keajaiban datang padamu?” seloroh Onew setelah menelan sesendok nasi ke dalam mulutnya.

Mendengar komentar—yang sebenarnya sudah didengar Jibyung berkali-kali—dari Onew, Jibyung mencebikkan bibir, mendelikkan matanya dan menyendok makanannya dengan tenaga berlebih, “Memuji ya memuji, tidak perlu mengucapkan kata sindiran juga.” gerutunya tanpa menatap Onew.

Onew menahan tawanya melihat tingkah yeoja yang sudah menjadi istrinya itu. Tanpa mengatakan apapun Onew melanjutkan acara makannya, namun tatapannya terus tertuju pada Jibyung. Lagi-lagi Onew tersenyum geli melihat ekspresi Jibyung yang masih mengerucutkan bibir dan beberapa kali mendelik padanya. Benar-benar childish.

Sementara tangannya kembali menyendokkan nasi ke dalam mulut, dengan perlahan Onew menjulurkan kakinya ke depan, mencari-cari kaki Jibyung di bawah meja. Dia jadi tertarik untuk menggoda Jibyung.

Jibyung tersentak pelan begitu merasakan sesuatu yang dingin menggelitik tulang kering kakinya. Dia menunduk untuk melihat ‘sesuatu’ itu, lalu menatap Onew dengan lebih tajam.

Wae?” tanya Onew dengan cengiran lebar menghiasi wajahnya, membuat Jibyung mau tak mau tertawa pelan. Jibyung ikut menjulurkan kaki untuk menginjak kaki Onew, namun dengan mudah Onew menghindar dan justru menginjak kaki kanan Jibyung dengan kaki kirinya, sementara tangannya dengan santai menyuap nasi goreng jatahnya, begitu pun Jibyung.

Mereka tertawa kecil saat Onew berusaha mendapatkan kaki kiri Jibyung yang terus saja menghindarinya. Tapi toh pada akhirnya tetap Onew yang menang. Alhasil, kedua kaki Jibyung kini berada di bawah telapak kaki Onew.

“Jangan marah lagi, Jelek!” Onew terkekeh geli.

Molla!

Yaa~ aku hanya bercanda. Smile! Smile~~” Onew menarik-narik pipi Jibyung, hingga Jibyung tak bisa lagi menahan tawanya. Mereka kembali melanjutkan sarapan mereka, dengan kaki Onew yang kini mengangkat kaki Jibyung berayun-ayun di bawah meja.

>>><<<

“Byung-nim~ kau harus berangkat sekarang?” Onew menyembulkan kepalanya ke dalam kamar, membuat Jibyung yang berada di dalam kamar terlonjak kaget dan berbalik membelakangi Onew, mengancingkan kemejanya dengan cepat.

Yaa.. tidak bisakah kau ketuk pintu dulu sebelum masuk? Aku sedang mengganti pakaian.” Omel yeoja itu tanpa menatap Onew yang sedang berjalan menghampirinya.

“Memangnya kenapa? Kau ‘kan istriku.” gumam Onew setelah berada tepat di belakang Jibyung yang kembali tersentak untuk yang kedua kali.

Ya, Dubu-Sangtae!” seru Jibyung sembari mundur selangkah. Entah kenapa dia jadi sedikit takut setelah mengalami kejadian semalam.

“Iya, maaf, maaf.” Onew menampakkan cengirannya lagi, kemudian mendudukkan diri di bibir tempat tidur, memperhatikan Jibyung yang berjalan ke arah meja rias sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.

“Perlu bantuan?” tanya Onew yang melihat Jibyung terlihat sedikit kesulitan dengan hairdryer’nya. Onew berjalan menghampiri Jibyung, melihat yeoja itu mengangguk padanya dari pantulan cermin di depan mereka.

Onew berdiri di belakang Jibyung sambil mengeringkan rambut Jibyung dengan hairdryer tersebut. Jibyung tersenyum simpul melihat pantulan bayangan Onew di cermin. Pria itu terlihat sangat serius.

“Apa yang akan kau lakukan setelah aku berangkat?” tanya Jibyung yang merasa tidak begitu nyaman dengan kesunyian yang sempat tercipta di antara mereka, “Apa kau akan tinggal di sini sampai jam sembilan?”

“Mmm.. mungkin aku akan mengikutimu sampai di tempat kerja, setelah itu langsung meluncur ke dorm.” Jawab Onew masih dengan mimik serius sambil menyisir rambut Jibyung.

Jibyung terkekeh, “Untuk apa mengikutiku?”

Onew menatap Jibyung dari pantulan cermin, memperlihatkan deretan gigi kelincinya, “Hanya untuk memastikan kau selamat sampai tujuan.” katanya ringan.

“Eiyy~”

“Karena setelah ini, mungkin kita akan jarang bertemu.” gumam Onew yang terdengar seperti keluhan tersirat di telinga Jibyung.

Keurae? Kau akan sibuk lagi?” ucap Jibyung, yang dibalas anggukan pelan dari Onew.

“Begitulah.”

Arasso. Hwaitting, hwaitting! Lakukan yang terbaik untuk para Shawol. Aku juga masih Shawol, loh!” Jibyung mengepalkan tangannya di depan, Onew melihatnya dan tersenyum.

“Wah! Semangatku penuh lagi~”

“Hahaha~ aku melakukannya dengan baik, kan?”

Keurae.

*

Keundae..” suara Jibyung memecahkan kesunyian yang kembali tercipta, “… apa kau ada masalah?”

Mwo?” tanya Onew tak mengerti, meletakkan hairdryer di tangannya ke atas meja karena sudah tidak diperlukan lagi.

“Ehm~ aku hanya… baiklah, maksudku, kenapa kau mabuk semalam?” tanya Jibyung agak ragu. Gerakan Onew yang sedang menyisir rambut Jibyung terhenti sejenak.

Onew tersenyum tipis, “Benar juga. Kenapa aku bisa memutuskan untuk minum bir sampai mabuk, ya?” kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya, dan memang persis dengan apa yang dipikirkannya. Onew teringat pembicaraannya dengan Jikyung semalam. Apa mungkin karena hal itu? Karena ‘kesepakatan’ yang bahkan Onew sendiri belum menyetujuinya secara gamblang?

Jibyung memicingkan mata, melihat pandangan Onew yang terlihat sedikit menerawang. Jibyung mendesah pelan, “Tidak apa-apa kalau kau tidak ingin menceritakannya padaku.” tuturnya pelan.

“Tidak sekarang.” Onew tersenyum sambil diam-diam menghembuskan napas berat.

Arasso.” Jibyung bangkit berdiri dan merapikan lagi rambutnya yang telah selesai disisir Onew, “Yah~ sepertinya aku harus berangkat sekarang.”

Kajja.” Onew berbalik dan berjalan ke arah lemari, mencari sesuatu, sementara Jibyung keluar dari kamar lebih dulu.

Selagi mencari sesuatu yang dibutuhkannya, pikiran Onew tidak pernah lepas dari kejadian semalam. Dia merasa masih ada yang tidak beres di sini. Tapi Onew hanya ingat samar-samar.

*

Onew melingkarkan syal sutera milik Jibyung di sekeliling leher yeoja itu tanpa mengatakan apapun. Tapi Jibyung tahu apa maksudnya. Lagipula dia juga tidak mau orang lain melihat sesuatu yang janggal di kulit lehernya, “Gomawo. Warnanya pas dengan bajuku.”

Onew hanya menanggapi dengan mengacak pelan rambut Jibyung. Mereka segera bersiap dan keluar dari apartemen mereka itu. Sebelum berangkat, Jibyung menyerahkan sebuah paper bag berukuran kecil pada Onew, “Eomma memberikan ini padaku, dan dia memintaku memberikannya juga padamu.” katanya.

“Apa ini?” Onew mengintip isi paper bag itu, mengeluarkan botol yang merupakan satu-satunya barang di dalamnya.

“Katanya vitamin penambah stamina.”

“Oh?” Onew terdiam sejenak, lalu tiba-tiba saja tertawa geli, membuat Jibyung menatapnya heran.

Wae?” tanya yeoja itu semakin bingung karena kini Onew mengangguk-angguk seolah memahami sesuatu yang tidak Jibyung pahami.

“Kau bilang ini dari eommoni?” Onew menahan tawanya sejenak.

Jibyung mengangguk, “Ne. Kenapa memangnya?”

“Tidakkah kau tahu maksudnya memberikan benda seperti ini?”

Jibyung menggelengkan kepalanya lagi, belum mengerti arah pembicaraan Onew. Sedang Onew terkekeh lagi, “Sudahlah, lebih baik kalau kau tidak tahu. Ayo, berangkat!”

“Apa, sih?” Jibyung merengut, tapi mengekor di belakang Onew yang berjalan keluar dari apartemen mereka itu, tanpa merasa penasaran dengan perkataan Onew yang belum juga dimengertinya.

Kajja!” Onew mengambil tangan Jibyung dan menggenggamnya sepanjang perjalanan mereka hingga di dalam lift yang membawa mereka ke lobby gedung.

>>><<<

Onew terkesiap, punggungnya yang tadinya bersandar dengan santai pada sandaran kursi kini menegang. Entah karena apa, dia tiba-tiba mengingat semua yang dikatakannya pada Junsu saat mabuk kemarin.

“Apa yang kulakukan?” gumam Onew setelah menemukan suaranya kembali, bahkan tidak sadar jantungnya masih berdetak. Dia merasa seolah jantungnya telah menghilang karena terlalu terkejut dengan apa yang dilakukannya sendiri.

“Bagaimana ini? Junsu hyung..” Onew baru saja akan mengambil handphonenya di dalam tas, tapi kemudian urung karena ingat saat ini mereka sedang berada di pesawat. Onew semakin hopeless, dan akhirnya kembali duduk bersandar sambil menyesali kecerobohannya.

Junsu sudah tahu semuanya sekarang, dan hubungan Onew dengan Jibyung dan juga Jibyung dengan Jikyung bisa terancam jika Junsu sampai mengatakannya juga pada Jibyung. Akan lebih baik jika Junsu tidak membocorkannya begitu saja.

“Ya, semoga.” Onew berusaha berpikir positif, “Semoga saja Junsu hyung tidak membocorkannya. Aku yakin dia tahu dimana posisinya.”

Tapi meski seandainya Junsu tidak mengatakannya pada siapapun, bagaimana imej Onew di mata namja itu mulai saat ini? Apa sekarang Junsu menganggapnya laki-laki yang berengsek? Itulah pertanyaan yang kini muncul di benak Onew.

Onew menggeram pelan, dan kakinya tiba-tiba sangat ingin menendang sesuatu. Dia berniat berbicara dengan Junsu di telfon jika sudah sampai di Jepang nanti.

>>><<<

 

A few weeks later…

Jikyung terpaksa menghentikan pekerjaannya sejenak untuk mengambil handphone’nya yang beberapa waktu lalu bergetar dari dalam saku blazernya. Ada satu inbox baru dari Junsu.

From : Junsu Oppa

Ada waktu sore ini?

Jibyung tersenyum kecil. Benar juga, sudah dua minggu sejak kami terakhir kali bertemu di cafe, dia baru menghubungiku lagi sekarang, batin Jikyung sambil memilih opsi ‘Reply’ di handphonenya.

Kurasa ada, Oppa. Waeyo?

Selang beberapa detik kemudian, handphone Jikyung kembali bergetar karena pesan balasan dari Junsu.

From : Junsu Oppa

Aku tunggu di tempat biasa.

.

Arasso. 😀

Yakin setelah ini Junsu tidak akan membalas lagi, Jikyung mengembalikan benda persegi berwarna putih itu ke dalam saku bajunya, lalu kembali pada pekerjaannya memilih-milih sketsa desain model pakaian untuk merek baru mereka sebelum diserahkan pada kepala designernya.

Jikyung belum juga menyadari seseorang tengah mengharapkan sebuah keputusan darinya.

>>><<<

Setelah memarkirkan mobilnya di cafe tempatnya akan bertemu dengan Jibyung, Junsu mengangkat panggilan yang sudah sejak tadi masuk ke handphonenya, “Yeoboseyo?” sahutnya sambil mengukir senyum kecil yang berarti, tahu apa maksud si penelfon terkesan begitu mendesak ingin berbicara dengannya.

“Junsu hyung?” sahut si penelfon juga, terdengar seperti kalimat pertanyaan.

“Oh, Onew-ya.

“Apa kau sedang sibuk, hyung? Apa aku mengganggumu?”

“Tidak, aku sedang jalan-jalan. Ada apa?” tanya Junsu yang sebenarnya sudah tahu topik pembicaraan yang akan mereka bincangkan. Hanya saja, yang jadi pertanyaannya, kenapa Onew baru akan membicarakan itu sekarang, padahal kejadiannya sudah lewat hampir dua minggu?

“Hyung, ada hal yang harus kita bicarakan.”

“Baiklah. Tentang apa?” Junsu masih tak ingin menunjukkan bahwa dia sudah tahu.

“Aku sudah mengingatnya sejak kemarin-kemarin, tapi aku baru bisa menghubungimu sekarang, Hyung. Handphone’mu selalu tidak aktif, dan lagi aku juga sedang sibuk.”

“Oh..” Junsu mengangguk. Sekarang dia ingat, selama lebih dari seminggu sejak malam dimana Onew mabuk, dia tidak peduli dimana handphone’nya berada, karena selama itu pula dia merasa kacau dengan kenyataan yang belum pasti. Pertanyaannya tadi terjawab sudah.

“Jadi, apa yang akan kau bicarakan? Sepertinya penting sekali?” tanya Junsu masih pura-pura tidak ingat.

“Saat kita bertemu beberapa hari lalu di Sungai Han, apa hyung ingat?”

Astaga, apa yang sedang dia tunggu-tunggu? Kenapa begitu bertele-tele? batin Junsu mulai tak sabar.

“Ooh~ tentang itu… aku tidak bermaksud apa-apa. Aku sudah berusaha menghentikanmu yang terus-terusan mengoceh. Jadi sepertinya bukan salahku, kan, kalau aku mengetahui semuanya?” akhirnya Junsu mengeluarkan apa yang berada di pikirannya, dengan nada setengah bergurau.

“Ah, hyung masih ingat?”

Junsu terkekeh pelan, “Tentu saja.”

“Aku tidak tahu hyung menganggapku bagaimana sejak saat itu.” Onew tertawa kering, “Aku tidak sebaik kelihatannya.”

“Sejujurnya, aku memang sempat berpikir begitu.” aku Junsu, “Tapi tenang saja. Itu urusanmu, aku tidak berhak ikut campur dan hanya menganggapnya angin lalu. Kau di mataku tetap sama. Tapi…”

Tapi mungkin untuk Jikyung yang mencintaimu, aku tidak bisa tidak memikirkannya, lanjut Junsu dalam hati.

“Tapi?” tanya Onew tak mengerti.

“Ah, tidak. Aku bicara dengan orang lain.” ralat Junsu berbohong, karena nyatanya dia hanya seorang diri di mobilnya ini.

“Ehm~ begitu?”

Terjadi sedikit jeda dalam pembicaraan mereka, sebelum suara Onew kembali terdengar, “Syukurlah kau mau mengerti. Terimakasih, Hyung. Aku merasa lega sekarang.”

“Lain kali hati-hati kalau kau ingin minum-minum.”

Onew tertawa dan menjawab, “Ah, ya.. baiklah.”

Junsu tak menjawab. Sebenarnya dia merasa masih ada yang mengganjal di pikirannya. Ada sedikit perdebatan batin, antara mengatakannya pada Onew untuk sekedar memastikan, atau tidak perlu mengatakannya tapi Junsu akan terus merasa penasaran.

“Hyung, sepertinya aku harus tutup telfonnya—” ucap Onew setelah beberapa detik ikut terdiam, namun terpaksa terhenti karena Junsu buru-buru menyela, “Tunggu, tunggu!”

“Waeyo?”

“Aku tidak bermaksud ikut campur. Tapi…” Junsu kembali ragu apakah akan mengatakannya atau tidak.

“Ne?”

“Tapi…”

“Katakan saja, Hyung!”

“Ini tentang Jikyung. Aku hanya… penasaran. Tapi sekali lagi, aku tidak bermaksud mencampuri masalah ini.”

“Ya, aku mengerti.”

“Kau dan Jikyung… tidak ada ‘hubungan’, kan? Maksudku… ya, kau tahu maksudku.”

“…” serta merta Onew terdiam. Karena itu Junsu jadi merasa tak enak dan memutuskan untuk mengurung keingintahuannya dan membiarkan berbagai asumsi memenuhi pikirannya.

“Ah, kalau keberatan—”

“Tidak ada, Hyung. Tidak ada ‘hubungan’ apapun di antara kami.”

“Oh, begitu?”

“Ne.”

Arasso. Maaf, aku terlalu lancang menanyakan itu.”

“Gwaenchana, Hyung.”

“Ng.”

>>><<<

Bel kecil di atas pintu itu berdenting saat Jikyung memasuki cafe. Jikyung memindai setiap sudut cafe, lalu tersenyum melihat seseorang mengangkat tangan ke arahnya.

Oppa, sudah menunggu lama? Maaf, tadi ada sedikit masalah di tempat kerjaku.” Jikyung duduk di kursi yang berhadapan dengan Junsu.

“Setidaknya aku tidak menunggu sampai kantung mataku turun sampai dagu.” Gurau Junsu yang terdengar agak garing di telinganya sendiri. Tapi tidak dengan Jikyung. Yeoja itu tertawa renyah mendengar selorohan Junsu yang selalu sukses membuat moodnya membaik.

“Mau pesan sesuatu?” tanya Junsu.

Ne. Oppa sudah pesan?”

*

“Aku mengajakmu bertemu hanya untuk menemaniku jalan-jalan seperti ini. Tidakkah ini sangat mengganggu?” Junsu memasukkan tangannya ke dalam saku jaket. Hari sudah mulai gelap, dia dan Jikyung kini sedang berjalan beriringan di trotoar yang tidak terlalu sepi.

“Apanya yang mengganggu?” Jikyung terkekeh maklum, “Aku juga sudah lama tidak menghirup udara segar sesantai ini.”

Jinjja?

“Ng.” angguk Jikyung yakin. Junsu memandangi Jikyung di sampingnya, ujung-ujung bibirnya tertarik begitu saja. Junsu sadar bagaimanapun keadaannya, dia akan tetap mencintai gadis ini.

Junsu mengeluarkan tangannya dari saku jaket, hendak meraih tangan Jikyung yang menggantung bebas di samping tubuhnya. Namun saat kulit mereka hanya berjarak sebesar jarum, Jikyung tiba-tiba mengangkat tangannya dan melipatnya di depan dada.

“Agak dingin, ya?” gumam Jikyung pelan.

Junsu tersenyum kikuk, menggaruk tengkuknya yang tak gatal, “N-ne.

Sejenak terjadi keheningan di antara mereka. Junsu menghela napas dalam. Mungkin sekaranglah saatnya, “Jikyung-ah..

“Hm?”

“Kau… sudah memutuskannya?”

Mwoeyo?

Saranghae.

TAP!

Langkah Jikyung terhenti di saat yang sama. Gadis itu memutar tubuhnya sembilan puluh derajat, mematung sembari menatap Junsu dengan mata membulat, “Oppa..

Bodoh, kenapa aku sama sekali tidak ingat hal ini? Aku bahkan belum memikirkannya sedikitpun. Apa yang harus kukatakan padanya sekarang? Rutuk Jikyung pada dirinya sendiri.

Oppa, aku..”

Junsu tersenyum menenangkan, membuat Jikyung semakin bingung. Jikyung membasahi bibir bawahnya dengan lidahnya. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba dia mengingat ‘kesepakatan’nya dengan Onew, yang membuatnya mendapat sedikit ‘pengarahan’; mungkinkah dengan cara ini dia bisa melupakan Onew? “Aku…” tapi hanya kata itu yang sejauh ini bisa lolos dari bibirnya.

“Kau sudah memikirkannya, kan?”

“Aku…”

Sekali lagi, hanya ada kesenyapan di antara mereka. Jikyung menatap Junsu tepat di matanya, sementara Junsu sudah menyiapkan hati dan telinganya untuk mendengar kata penolakan yang dia yakini akan Jikyung katakan sekarang juga.

Jikyung lagi-lagi menjilati bibirnya dengan gugup, lalu menunduk. Tangannya memilin-milin ujung bajunya, “Oppa, walaupun aku sudah menganggapmu seperti kakakku sendiri, kita… kita bisa mencobanya.”

DEG!

Kedua mata Junsu membulat dengan segera, “Apa… maksudmu?”

“Ya, jawabanku adalah ‘ya’.”

“…” Tidak ada reaksi apapun yang Junsu tunjukkan kecuali ekspresi keterkejutan yang semakin tampak di wajahnya. Kenapa? Bukankah seharusnya Jikyung mengatakan ‘tidak’? Tapi kenapa…? Junsu sibuk dengan pikirannya sendiri.

Beberapa saat mereka habiskan dengan hanya mematung dan saling terdiam. Karena tidak menangkap reaksi apapun dari Junsu mau tidak mau membuat Jikyung merasa heran dan mengangkat wajahnya untuk menatap Junsu.

Apakah perasaan seseorang bisa berubah semudah ini? batin Junsu masih tak mengerti sekaligus tak percaya, “Jikyung-ah…” bisiknya, yang dibalas dengan senyuman dari yeoja di hadapannya. Tanpa mengatakan apapun lagi, Junsu menarik Jikyung ke dalam pelukannya. Bagaimanapun rasa bahagia tetap dirasakannya, meletup-letup di dalam hatinya.

Gomawo, Jikyung-ah.”

>>><<<


To Be Continue

A/N : Aku udah nentuin part ini harus sampe mana. Makanya lebih pendek dari biasanya, kan? Wehehehe~ :mrgreen: *kabur sbelum dihajar masa*

35 thoughts on “My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip Seven

  1. ya elah.. jibyung lg takut2nya.. eh si sangtae satu malah tidur…

    cieee romantis bgt srpn smbil maen kaki-kakian (?) hahaha

    Setelah memarkirkan mobilnya di cafe tempatnya akan bertemu dengan Jibyung, — itu harusnya jikyung kan??

    overall.. aq suka gaya penulisanmu.. rapiiiiiii
    ditunggu selalu lanjutannya….

    • >,< *getok Onew oppa* *digetok balik sama Rahmi eonn*

      Walah iya, ternyata masih ada typo bertebaran.. Aku sndiri masih bingung sih, nama mereka cuma beda satu huruf.. -___- *sape suruh* Makasih udah ngasih tau ya, eonn. Lain kali bakalan lbih teliti, deh.. 😀 kekeke~

      Siip, ditunggu aja ya, eonn. Makasih.. ^o^/

  2. Author ffmu bagus….
    Kirain jibyun ama onew bakalan ngelakuin gituan..ech malah onppanya ketiduran..
    Next part jgn lama” thor 😀

  3. annyeong thor, aq bru mampir lg,dl aq baca smpe part 3, trz mlz ngelanjutin, coz gk tega ngeliat jibyung d bohongin sm onew trz….
    tp akhirnya aq baca juga dr part 4-7.hehe
    oia. ..jikyung terima junsu,smg bs ngelupain onew yaa???
    dtnggu kejutan d chap slnjtnya yaa thor….

    • Annyeong.. ^o^/
      Weh, weh… Jangan2 ff ini ngebosenin, lagi, makanya kamu sempet males lanjut baca TT~TT *colek2 tanah*

      Iya, semoga Jikyung bisa lupain Onew… *prayforJikyung/plakk!*

      Siip! Ditunggu aja, ya.. 😀 Makasih…

  4. annyeong thor, aq bru mampir lg,dl aq baca smpe part 3, trz mlz ngelanjutin, coz gk tega ngeliat jibyung d bohongin sm onew trz….
    tp akhirnya aq baca juga dr part 4-7.hehe
    oia. ..jikyung terima junsu,smg bs ngelupain onew yaa???
    dtnggu kejutan d chap slnjtnya yaa thor…

  5. Author gak kapok2 bikin reader penasaran nih…
    gak kerasa udah TBC ajah… Aku suka cara Author menyampaikan cerita, ringan dan enak dibaca.

    Ditunggu next part harus lebih cepat lagi… 😀

    • Weeeiiiss~ ya nggak mungkin kapok, lah.. Bikin orang penasaran kan emang hobiku.. :mrgreen:

      Jinjja? o.o Thankyou, thankyou.. :* Hehe~

      Iya~ next clip diusahakan ASAP.. 😀 Gomawoyo.. ^o^

  6. Sedikit lega karena Jikyung nerima Junsu ..
    Huhuhuu ..
    Eonni takut banget kalo Jikyung ampe’ ngerebut Si Dubu dari Jibyung .. #Pikirannya jahat banget .. Hee ..

    Next part di tunggu .. Udah penasaran soalnya ..

    Tapi 1 masukan nie, buat Si Dubu lebih banyak ketemu Jibyung donx .. Dari kemaren-kemaren rasanya SI DUbu lebih semangat ketemu Jikyung deh dari pada istrinya ndri .. Eonni jadi kasian banget lihat Jibyung ..

    Mira, please .. Jangat pisahin mereka yagh -Jinki_Jibyung- mereka harus tetep langgeng, apa pun yang terjadi .. Hee ..

    Hwaiting !! Tetep semangat yagh nulisnya ..

    Di part ini suka banget, coz Si Dubu sweet deh maen-maen kaki ma Jibyung ..
    “Tumbuhin cinta yang banyak buat Onew!!” seru ke Jibyung ..
    Hee ..

    • Jikyungnya nangis darah tuh, eonn. Hayoloooh~~ .__. *Jikyung : apaansilu?-,-*

      Yaah~ aku juga kasian sih, sama Jibyung. Tapi ‘kan Onew’nya sibuk mulu, eonn. Gimana, dong? .____.a *plakk!*

      Hwaitting juga buat eonni!! ^o^ Hihi~

      Jibyung : “Arasso! :D”

      Next clipnya ditunggu lagi ya, eonn. Makasih.. 😀

  7. Openingnya bikin dag dig dug, taunya?? Ya elah onew nya ketiduran, hahaha untung untung.

    Oh poor junsu, karna udah tau semuanya, walau pernyataan cintanya di terima, tetap tdk bs membuatnya bahagia sepenuhnya.

    Yg menyebabkan masalah2 sebenarnya onew nih, dr awal jikyung udah memendam perasaannya bahkan skrg menerima cinta junsu bwt “menetralkan” kembali perasaannya, toh dia jg ada rasa sama junsu.

    Sekarang onew nya ni yg hrz “bebenah” diri agar perasaan nya pure bwt jibyung. Slama ini onew merasa bingung akan perasaannya yg mendua pd jibyung+jikyung itu d karnakan hub onew+jibyung kurang nuansa romantismenya makanya ga heran walau pun udah nikah tp dia tersenyum saat terbangun dan mendapati sang istri ada d sisi, itu pasti pengalaman untk pertama x nya.

    So untk mengatasi masalah ini, sering2lah buat scene romantis bwt pasangan suami istri tsb thor^^ heheheh

    • Wakakak~ bener, eonn.. Untung… untung.. 😆

      Bikin scene romantis buat Onew-Jibyung? Ehehe~ *nyengir kuda* Tapi ‘kan Onewnya lagi sibuk, eonn.. :mrgreen: <–minta disambit bibir Taemin/eh

      Makasih ya, Iya eonn.. Ditunggu aja next clipnya.. Hehe~ 😀

  8. Baguslah jikyung mau terima cinnta junsu, paling Ga dia bisa nglupain perasaan’a ke onew dg belajar mencinntai junsu, tapi kasian juga junsu jadi pelarian jikyung,,,
    Semoga onew cepet2 ngilangin keraguannya ke jibyung, dan cepatlah bikin anak!!! Biar Rumah tangga kalian makin aman ♓è².♓é².♓è².♓é²

    Buat author q protes, kenapa pendek bangetttt????

    • Ehehe~ *nyengir kelinci, biar rada lucu dikit/eh*
      Clip ini emang lebih pendek dari yg lain .___.v *kabur sama Onew + Jibyung yg disuruh bikin anak*

      Eh, ketinggalan! Makasih, ya.. 😀 *kabur lagi*

  9. Huwahh
    Jibyung ketakutan, Onew malah tidur
    Ngga kebayang gimana tingkahnya Jibyung saat itu

    Nah loo, Junsu udah tau semuanya !
    Tapi, syukur juga dia ngga bilang sm Jibyung
    Yey !
    Jikyung se enggaknya mau coba nerima Junsu. Mungkin itu bisa bikin dia nglupain Onew (aminnnn)
    Lanjut, eonnn

  10. senang ngliat hubungan onew n jibyung mulai mesra.. Whoho.. Junsu dterima bgslah, v tak sepenuh hati kyny.u.u

  11. Mira eonniiiiii!! Duh maaf nih aku baru sempet koment. Sebenernya udah baca dari hari senin kemaren, tapi gak sempet ol.. jangan tabok aku yah eonn, karna jadi Siders selama seminggu huehehehehehe.. ^___^v

    Suka deh sama part ini..Dubu main-main kaki pas sarapan..hahayyyyy!!
    Ayo eonn, tumbuhin banyak cinta buat Jibyung. Pokonya buat Jikyung pergi dari pikiran Onew!! Kapan nih Jibyung nya tau?? Gak sabaaaaaaaaar!!

    Jikyung terpaksa yah nerima Junsu? Kasian yah junsu, padahal udah cinta banget sama Jikyung -____-

    Eh itu junsu udah tau yah kalo Onew suka sama Jikyung. Emang enak bang!! makanya jangan mabuk sembarangan #PLAKK!! kejam

    Lanjut yah eonni!! Aku pasti menunggu !! 😀

    FIGHTINGGG!!!!!!!!! 😀

    • Hyaaa! Devindaaa~~ maaf juga baru bales skrg, Baru isi pulsa modem.. -____-a heheh~

      Kapan ya, Jibyung taunya? Yah, kayaknya kita(?) harus lebih sabar nunggu lagiiii~~~ Wehehehe~ :mrgreen: *plakk!*

      Siip! Ditunggu, ya! 😀 Gomawo.. :*
      FIGHTING!! ^O^

  12. Nyaaaaaah so sweeetttttt<3 walaupun si Jikyung cuma kepaksa-_-
    Ayolaaah kalian udah punya pasangan masing-masing kenapa gak mup ooooonnn? grah-_-

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s