Sticking With You (Part 1)

Author: Tirzsa

Main cast:

  • SNSD’s Tiffany
  • 2PM’s Nichkhun

Support cast:

  • 2PM’s other member

Genre: Romance

Length: Chapter

Rating: PG – 16

Disclaimer: Terinspirasi dari “My Sassy Girl”.

***

Tiffany’s POV

Denting-denting piano dari instrumental Canon mengiringi langkah-langkah kakiku yang kaku. Aku terus mencoba mengikuti gerakan kakinya yang teratur. Tapi tak jarang semuanya akan berakhir dengan pekikkan dan ringisan kecil yang keluar dari mulutnya akibat hak sepatuku.

“Auch..” ringisnya lagi.

“Mianhae,” ucapku. Tanpa rasa penyesalan.

“Gwaenchanha.” Ia tersenyum. Ralat. Pura-pura tersenyum.

Cih. Ia pikir bisa meluluhkan hatiku dengan deretan giginya itu, desisku dalam hati.

“Apa kau tidak pernah menari?” tanyanya.

“Aniyo.”

“Jeongmal?”

Aku mengangguk. Mulai merasa mengantuk dan bosan akan obrolan basa-basi seperti ini.

Ia tertawa kecil. Saat tertawa, pupil matanya bersembunyi dibalik lengkungan matanya yang sipit.

“Kenapa kau tertawa?”

“Aniyo. Hanya saja, kau sangat lucu,” ucapnya. Masih tersenyum.

Aku melemparkan senyuman sinis kearahnya. Ia pikir aku badut? Apanya yang lucu? Babo!

“Byunghee! Tiffany! Kemari sebentar!”

Aku mendesah lega saat mendengar suara oemmaku yang berteriak dari arah lain. Byunghee melepas genggamannya dari tanganku dan kami dengan serentak menoleh ke sumber suara.

“Ne, oemma?”

“Kemarilah!”

Aku dan Byunghee menghampiri meja makan dan duduk bersampingan. Aku mulai merasa risih dengan tingkah Byunghee yang seperti perangko ini. Ia selalu saja berusaha mendekatkan dirinya denganku. Menyebalkan.

“Mungkin kalian berdua memang baru mengenal satu sama lain selama kurang lebih dua bulan ini. Tapi..” Nyonya Jung—oemma Byunghee—tersenyum kecil kearah oemmaku. Seolah mereka sedang merahasiakan sesuatu dari kami. Terutama aku. Karena kulihat Byunghee ikut tersenyum dan ia sepertinya sudah tahu kemana arah pembicaraan oemmanya.

Kali ini oemmaku yang mengambil alih pembicaraan. “Tapi, kami sudah berniat ingin menjodohkan kalian. Minggu ini kami sudah menjadwalkan bahwa kalian akan segera bertunangan. Oetteoh?”

“Mwo?!” Aku tak dapat menahan diri untuk tidak berteriak saat mendengar ucapan oemmaku barusan.

Nyonya Jung, Byunghee dan juga oemmaku tampak terkejut melihat reaksiku.

“Ah, waeyo, Tiffany? Ada yang salah?” tanya nyonya Jung sopan.

Aku melirik oemmaku diseberang meja yang sedang memelototiku. Aku tahu mungkin reaksiku tadi terdengar agak tidak sopan dan seolah sudah menolak—yang pada kenyataannya demikian—tapi bagaimanapun juga, aku harus menyadari kesalahan itu dan bersikap normal.

“Ah, ani. Ani,” kataku sambil kembali memperbaiki posisi dudukku.

Nyonya Jung tersenyum lagi dan melanjutkan, “Rencananya acara pertunangan kalian akan diadakan pada hari Sabtu. Kalian masih punya waktu beberapa hari untuk menentukan desain cincin pertunangan kalian.”

Byunghee meraih tanganku dan menggenggamnya dengan sangat erat. “Tapi, jangan merasa bingung dan khawatir soal cincin pertunangan kita. Aku punya salah satu langganan toko perhiasan di Paris dan aku sudah memesan sepasang cincin cantik untuk kita. Aku yakin kau tidak akan kecewa.”

Aku hanya bisa memaksakan senyumku saat mendengar berita itu.

Habislah aku.

***

“Bukankah menyenangkan memiliki suami seperti Byunghee? Ia tampan, terpelajar, dan sangat perhatian padamu. Oemma tidak sabar melihat cincin yang ia pesan dari Paris itu. Pasti sangat cantik.”

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku didepan cermin saat mendengar oemmaku terus mengoceh soal Byunghee, Byunghee, dan Byunghee. Telingaku selalu panas setiap kali namanya disebut.

“Oetteoh, Tiffany? Kau sangat senang, kan?”

Aku melirik oemma dari depan cermin dan tertawa sinis. “Akhfu sudhfa biyhang thak akwan mau mwenikhah denghannyah,” kataku sambil terus menggosok gigiku.

“Mwo? Wae?” pekik oemmaku. “Apa lagi yang kurang darinya? Mengapa kau masih tak bisa menerima Byunghee? Bagi oemma, ia tampak sempurna.”

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku lagi. Aku meludah keatas wastafel, berkumur dengan air, dan menyeka mulutku yang basah. “Kalau begitu, oemma saja yang menikah dengannya,” gumamku cuek.

“Mwo?”

“Ani,” ralatku. “Oh ya, aku sangat mengantuk sekarang. Aku ingin tidur.”

Aku menghempaskan tubuhku diatas ranjang lalu menarik selimut sampai batas daguku.

“Ya, Tiffany, oemma sedang bicara denganmu. Jangan membelakangiku seperti itu!” Oemma mengguncang-guncang lenganku.

“Aish~ Aku mengantuk, oemma. Nanti saja kita bicarakan soal Byunghee. Kalau perlu, jangan lagi membicarakan tentangnya. Aku muak mendengarnya,” keluhku.

Ranjangku terasa bergoyang saat oemma berdiri. Kudengar suara desahan panjang keluar dari mulutnya.

“Oemma sungguh tidak mengerti dengan seleramu, Tiffany. Sebenarnya, tipe pemuda seperti apa yang bisa merebut hatimu?”

Tiffany’s POV end

***

Author’s POV

Ia mendorong daun pintu dengan kakinya yang panjang hingga pintu menabrak dinding dan menimbulkan bunyi debuman yang keras. Tampak sepasang kaki panjang yang terhuyung-huyung membawa kotak kardus raksasa yang berat.

Pemuda itu meletakkan kardus itu di ambang pintu dan terduduk di lantai dengan wajah merah dan napas terengah-engah. Ia menyobek sisi penutup kardus lalu menggunakan sobekan kardus itu untuk mengipas-ngipas dirinya.

Baru beberapa menit berlalu dan bisa bernapas lega, pemuda itu menerima telepon dari seseorang. Oemmanya.

Ia menelan ludah dan berdeham sebentar sebelum mengangkat telepon dari wanita yang ditakutinya itu.

“Ne, eomma?”

“Ya, jangan pernah kembali ke rumah sampai kau mendapatkan pekerjaan? Arasseo?!”

Tuut.. Tuut.. Tuut..

Ia tak sanggup berkata apa-apa lagi saat eommanya meneriakinya seperti itu dan bahkan tak memberinya kesempatan untuk bicara. Pemuda itu menatap layar ponselnya dengan putus asa.

“Habislah aku..”

***

Tok.. Tok.. Tok..

“Tiffany, kau masih didalam? Ppalinawa. Oemma tidak mau membuat keluarga Byunghee kecewa karena keterlambatan kita.”

Nyonya Hwang tak mendengar sahutan dari dalam kamar putrinya. Sangat hening dan damai.

“Tiffany?”

Masih tak ada sahutan.

Tok.. Tok.. Tok..

Wanita baya itu memutar knop pintu kamar Tiffany dan membuka pintu kamar putrinya lebar-lebar. Ia menoleh kesana-kemari, mencari-cari sosok Tiffany. Dicarinya gadis itu dikamar mandi, tapi tetap juga tidak ada. Yang ia temukan hanyalah gaun merah yang seharusnya digunakan oleh putrinya saat mereka berkunjung kerumah Byunghee saat pesta pertunangan malam itu.

Tapi, satu hal yang baru ia sadari saat melihat jendela kamar Tiffany terbuka lebar adalah gadis itu telah kabur.

“Tiffany!!!”

Author’s POV end

***

Nichkhun’s POV

“Apa kau sudah menikah?”

“Ne?”

Pria dihadapanku mendesah. “Aku tanya, apa kau sudah menikah?”

“Ah, belum. Waeyo? Apakah ada hubungannya dengan wawancara pekerjaan ini?” tanyaku.

Pria itu mendesah lagi. Aku tak bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya karena setiap kali ia ingin berbicara, yang ia lakukan hanyalah mendesah.

“Ne. Kami mencari calon pekerja yang sudah cukup umur dan sudah menikah,” katanya.

“Oh, tapi aku sudah cukup umur,” kataku sambil tertawa kecil. “Apakah aku terlihat sangat muda?”

“Berapa umurmu?” tanyanya dingin. Tidak terpengaruh oleh candaanku.

“25 tahun.”

“Dan kau belum menikah, bukan?”

Aku mengangguk dengan canggung.

Pria itu mendesah lagi—aku letih melihatnya seperti itu. Ia menatapku dengan sepasang matanya yang redup lalu berkata dengan lantang, “Naga!”

“Mwo?”

“Naga! Kau tidak diterima bekerja disini.”

“Mwo? Waeyo?”

“Aku sudah letih berurusan dengan pemuda semacam dirimu. Aku sudah menerima banyak pekerja yang seumur denganmu dan belum menikah, akibatnya pub milikku ini semakin hancur karena banyaknya kasus perceraian yang terjadi disini.”

Aku menggeleng. “Aku tidak.. mengerti..”

“Kau tahu, begitu banyak wanita-wanita baya yang datang kemari dan berselingkuh dengan pegawai-pegawaiku yang seumur denganmu. Jadi aku tidak mau mempekerjakan lagi pemuda yang belum menikah.”

Aku masih tak mengerti. “Tapi..”

“Naga!”

“Tapi.. Aku bukan tipe pemuda seperti itu..” kataku, membela diri. Tapi pria itu masih tak memercayaiku.

Ia menarik kerah bajuku dan memaksaku keluar dari ruang kerjanya.

Nichkhun’s POV end

***

Author’s POV

“Oemma, boleh aku pulang ke rumah? Aku sudah mencari pekerjaan kemana-mana, tapi masih belum ada yang mau menerimaku,” rengek Nichkhun ditelepon.

“Ani. Kau tidak boleh pulang ke rumah. Aku sudah muak melihat kerjaanmu yang sehari-harinya hanya tidur saja tanpa membantu orangtuamu yang sudah tua ini,” pekik nyonya Horvejkul diujung telepon.

“Aish~ Tapi..”

Tuut.. Tuut.. Tuut..

Nichkhun menatap layar ponselnya dengan bingung dan melihat hubungan telepon dengan oemmanya diputuskan begitu saja.

“Aish~ Jinjja!”

Pemuda itu mengurut pelipis lalu berjalan menuju stasiun kereta.

Stasiun kereta malam itu tampak lengang seperti biasa jika waktu sudah larut malam. Hanya ada beberapa pekerja kantoran yang menunggu kereta terakhir tiba dan seorang gadis aneh yang berdiri di ujung peron kereta dengan wajah tertutup penuh oleh rambut.

Melihat langkah-langkahnya yang tidak konsisten, Nichkhun bisa menebak bahwa gadis itu pasti sedang mabuk. Dan sangat berbahaya untuknya jika berdiri ditepi peron seperti itu dalam keadaan mabuk. Bisa-bisa gadis itu terpeleset jatuh ke rel kereta dan.. Ugh! Membayangkannya saja tak bisa.

Suara gemuruh kereta terdengar sayup-sayup dari terowongan gelap. Disusul suara seorang wanita dari pengeras suara yang memberi peringatan untuk semua calon penumpang agar berdiri di belakang garis kuning.

Nichkhun memerhatikan lagi gadis mabuk itu. Gadis itu masih bersikukuh berdiri ditepi peron dan tak mengindahkan peringatan tadi.

“Apa ia sudah bosan hidup?”

Suara gemuruh kereta semakin jelas terdengar. Gadis itu masih diam ditempat dengan posisi yang sama. Nichkhun semakin panik—entah mengapa juga ia harus panik, perasaan itu datang begitu saja. Dan saat kepala kereta muncul melalui terowongan, Nichkhun berlari kearah gadis itu dan menarik tubuhnya sampai keduanya berdiri aman dibelakang garis kuning.

Gadis itu mengangkat wajahnya, menoleh kearah Nichkhun dan menatap pemuda itu dengan tajam. Nichkhun segera melepaskan genggaman tangannya dari lengan gadis itu dan masuk ke dalam kereta dengan santai.

Author’s POV end

***

Nichkhun’s POV

“Apa gadis itu mabuk?”

“Ne, sepertinya ia memang sedang mabuk.”

“Ya Tuhan, padahal ia gadis yang cantik, tapi mengapa harus mabuk seperti itu? Aku benar-benar kasihan padanya.”

Aku mendengar suara bisikan-bisikan kecil dari kumpulan wanita baya yang duduk tepat disampingku. Tebak, mereka sedang membicarakan siapa? Ne, gadis mabuk itu. Yang duduk tepat dihadapanku dengan wajah tertunduk.

“Ya, sepertinya ia akan muntah!” pekik salah seorang wanita baya itu.

Tubuh gadis itu memang terlihat tersentak beberapa kali. Mulutnya menggembung seolah terisi oleh sesuatu—yang menjijikkan. Aku memalingkan wajahku ke sisi lain agar tak bisa menatap pemandangan mengerikan itu. Dan..

“Hueks!”

“Argh! Ia muntah!”

Aku mencoba melirik melalui sudut mataku untuk melihat keadaan, tapi baru sedetik kemudian, aku langsung menutup mata lagi. Tak sanggup melihat cairan aneh itu keluar dari mulut gadis itu.

Tak berapa lama kemudian, gadis itu akhirnya selesai membuang isi perutnya ke lantai kereta. Kami semua memandang jijik kearah gadis itu, tapi ia tampak santai menyeka mulutnya yang basah.

Tiba-tiba saja, ia memandangku, lurus, lalu mengerang, “Yeobo..” dan jatuh pingsan.

“Mwo?” pekikku tak percaya.

Semua penumpang kini menudingku. Mereka memberikan tatapan sinis kearahku. Terutama para wanita baya yang berada disampingku.

“Ya, ternyata kau adalah suaminya! Mengapa kau tidak menjaganya dengan baik, huh?”

“Aniyo, ia bukan istriku. Aku berani bersumpah,” ucapku.

“Ya, kau masih berani berbohong! Suami macam apa kau ini, huh?!”

Wanita-wanita baya itu mendorong-dorong kepalaku, menarik bajuku, menjambak rambutku, dan terus menghujaniku dengan kata-kata kasar.

***

Aku menyumpalkan selembar tissue ke dalam lubang hidungku yang masih tak berhenti mengalirkan darah. Kuraba pelipisku yang terasa perih. Ada bekas cakaran disana.

“Ulah para wanita baya tadi sungguh keterlaluan. Mereka hampir saja membunuhku dan aku harus mengurus gadis menjijikkan ini..” Aku berpaling dan menuding gadis yang mabuk tadi. Ia kini masih tertidur dibangku stasiun kereta. Tepat disampingku.

“Hari ini aku benar-benar sial..” kataku lirih.

Beberapa penumpang kereta yang kebetulan sedang mondar-mandir di stasiun saat itu, memberiku tatapan iba sekaligus aneh. Mereka pasti menganggap aku dan gadis ini adalah sepasang orang gila. Yang satunya dengan wajah babak belur dan satunya lagi sedang pingsan karena mabuk. Benar-benar sial!

Aku melirik gadis mabuk itu dan mendengus. Biar kutinggalkan saja kau sendiri disini!

Aku pun bangkit berdiri dan hendak pergi. Tapi baru dua langkah, aku mendengar suara geraman dari belakang punggungku.

“Yeobo, eodiya?”

Aku berbalik badan dan melihat gadis itu berbicara dalam tidurnya. Calon penumpang kereta lain menatapku sinis. Aku bahkan bisa mendengar komentar-komentar mereka dibelakangku.

“Ya, mengapa bisa ia meninggalkan istrinya sendirian di stasiun kereta?”

“Ia suami yang sangat buruk.”

Aku mengusap wajahku, mencoba menahan malu. Kuhampiri lagi gadis itu dan membopongnya dipunggungku. Tak ada jalan lain yang bisa kuambil selain membawanya pulang.

***

“Dimana obat itu?”

Aku membongkar isi kardusku, mencari-cari obat penghilang efek mabuk. Dan setelah beberapa menit mencarinya, akhirnya aku menemukannya juga.

Kudekati gadis mabuk yang sedang tertidur diatas ranjang apartemenku sambil membawa satu butir obat, tissue dan segelas air. Aku duduk ditepi ranjang, mengangkat kepala gadis itu dengan perlahan ke pangkuanku dan memasukkan obat itu ke mulutnya. Aku membantunya untuk meneguk air dan menyeka sudut bibirnya yang basah dengan tissue.

Seusainya, aku memperbaiki posisi tidur gadis itu dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut.

Nichkhun’s POV end

***

Tiffany’s POV

Dengan kepala terasa berat dan pusing, aku berbalik kesana kemari, mencoba menghindari berkas cahaya matahari yang menembus lewat jendela dan menyilaukan mataku yang masih mengantuk. Namun, saat aku mencoba membalikkan badan, tiba-tiba saja.. BRUK!

“Auch!”

Aku terkejut saat mendengar pekikkan seorang pemuda. Sontak aku langsung membuka mata dan mendapati diriku menindih tubuh seorang pemuda tepat dibawahku. Aku segera bangkit berdiri dan menjauh.

“Ya, nuguya?!”

Pemuda itu masih meringis. Kedua tangannya tertangkup menutupi bagian selangkangannya. Aku tak begitu ingat, tapi kupikir saat jatuh dari atas ranjang, lututku tak sengaja menghantam ‘itu’-nya.

“Aku tidak akan punya anak! Aku tidak akan punya anak!” pekiknya kesal.

Aku menghampiri pemuda itu dan menendang lengannya. “Ya, ireona! Jangan seperti perempuan, baru begitu saja sudah mengerang seperti akan mati.”

Pemuda itu mencoba berdiri dengan susah payah lalu menatapku dengan kesal. “Ya, apakah kau tidak tahu betapa berharganya barang ‘ini’? Apa kau tidak tahu akan bagaimana sakitnya? Coba rasakan jika aku..”

Ia melirik bagian selangkanganku dengan hati-hati dan menelan ludah.

“Ya, juggoleyo?!” Aku mendorong kepalanya sampai tubuhnya terpental jatuh keatas ranjang dan tak sengaja kepalanya membentur sisi dinding yang merapat ke ranjang.

“Auch!”

To be continued…

143 thoughts on “Sticking With You (Part 1)

  1. Wakkss XD
    Lucu bgt moment di kereta! Itu pasti Fany sengaja manggil Jong ‘Yeobo’ buat balas dendam krna aksi bunuh dirinya gagal! Hahahaa
    Cute ihh ini couple, Joooaaaaa~

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s