[FF Freelance] Attack of Love (Part 3)

Title   :: Attack of Love Part 3

Author   :: haehyunho a.k.a Han Chaehyun

Genre   :: Romance, Friendship, Family

Length   :: Chaptered

Rating   :: PG

Main Cast   :: Jung Hyemi (OC), Shin Soohyun of U-Kiss

Other Cast   :: Member of MBLAQ, Member of Super Junior, Member of U-Kiss

Disclaimer   :: This story and plot is mine

lovelylovelife.wordpress.com  

Previous part: Part 1, Part 2

―――――――――――――――――――――――――――――――――

Hyemi POV

“Annyeong.”

“O, annyeong hyung. Waegeurae?” aku dan Donghae oppa langsung menoleh ke sumber suara yang sedang berbicara dengan Eunhyuk oppa, dia member U-Kiss tapi aku tidak tahu siapa, aku hanya tahu Soohyun saja. Hehe.

“Boleh kami masuk?” tanya Eunhyuk oppa.

“Oh, kajja masuk hyung.” Katanya lalu mempersilahkan masuk. Aku mengintil dibelakang oppadeul.

“Annyeong yeorobun.” Sapa Eunhyuk dan Donghae oppa bersamaan.

“Annyeong hyung.” Sapa mereka balik.

“Ah, kami hanya ingin main saja, sekalian berbincang. Gwaenchana?”

“Gwaenchanayo hyung. Oia, hyungdeul yang lain mana hyung?” tanya salah satu dari mereka.

“Di ruang tunggu, yaa Hyuk kenapa kau meninggalkanku sendiri?” tanya Donghae oppa begitu melihat pasangannya itu malah meninggalkannya untuk mengobrol bersama Soohun, eh? Soohyun? Aigoo, aku mau mengobrol dengannya. Aku langsung menarik-narik ujung baju Donghae oppa untuk menyadarkannya akan keberadaanku. Benarkan ia langsung menoleh.

“Aigoo, aku lupa. Hyuk~ah.” Panggil Donghae oppa lagi, Eunhyuk oppa yang merasa dipanggil langsung menengok.

“Mwoya?” tanya Eunhyuk oppa.

“Igo. Kau melupakannya.” Kata Donghae oppa sambil menarik tanganku ke depan.

“Omo, aku lupa pada uri Hyemi.” Kata Eunhyuk oppa. Oppa kau melupakanku. T_T

“Uri Hyemi kau sama oppa saja, biarkan Eunhyuk itu melakukan apa yang di mau.” Kata Donghae oppa sambil merangkul pundakku.

“Andwae, uri Hyemi bersamaku saja, biar Hyemi ikut denganku mengobrol dengan Soohyun. Kajja Hyemi~ya ikut oppa. Tinggalkan saja Hae oppamu itu.” Eunhyuk oppa langsung menarikku duduk disebelahnya bersama Soohyun, Omo omo, jantungku.

“A-annyeonghaseyo Soohyun~ssi.” Sapaku, aigoo, aku gugup.

“Annyeonghaseyo, err, Hyemi~ssi. Kita bertemu lagi.” Balasnya, ia masih ingat padaku. Kyyaaa senangnya.

“Ne, Soohyun~ssi.”

Soohyun POV

“Annyeong yeorobun.” Aku langsung menengok mendengar sapaan itu, ah Eunhyuk dan Donghae hyung ternyata.

“Annyeong hyung.” Sapa kami balik.

“Ah, kami hanya ingin main saja, sekalian berbincang. Gwaenchana?”

“Gwaenchanayo hyung. Oia, hyungdeul yang lain mana hyung?” tanya Dongho.

“Di ruang tunggu, yaa Hyuk kenapa kau meninggalkanku sendiri?” tanya Donghae hyung begitu melihat Eunhyuk hyung malah meninggalkannya untuk mengobrol bersamaku.

“Aigoo, aku lupa. Hyuk~ah.” Panggil Donghae hyung lagi, Eunhyuk hyung yang merasa dipanggil langsung menengok.

“Mwoya?” tanya Eunhyuk hyung.

“Igo. Kau melupakannya.” Kata Donghae hyung sambil menarik seseorang ke depan. Eh? yeoja itu?

“Omo, aku lupa pada uri Hyemi.” Kata Eunhyuk hyung.

“Uri Hyemi kau sama oppa saja, biarkan Eunhyuk itu melakukan apa yang di mau.” Kata Donghae hyung sambil merangkul pundak yeoja itu.

“Andwae, uri Hyemi bersamaku saja, biar Hyemi ikut denganku mengobrol dengan Soohyun. Kajja Hyemi~ya ikut oppa. Tinggalkan saja Hae oppamu itu.” Eunhyuk hyung langsung menariknya duduk disebelahnya bersamaku.

“A-annyeonghaseyo Soohyun~ssi.” Sapanya, ia gugup?

“Annyeonghaseyo, err, Hyemi~ssi. Kita bertemu lagi.” Balasku, aku ingat ia yemHHHyemi yeodongsaengnya Teuki hyung kan? Jadi ia sering ikut Teuki hyung?

“Ne, Soohyun~ssi.”

“Ya ya ya. Kalian formal sekali sih bicaranya? Tidak usah seformal itu. dan Hyemi~ya, Soohyun itu lebih tua darimu panggil oppa saja. Benar kan Soohyun~ah.” Kata Eunhyuk hyung.

“Nde? O, gwaenchana, panggil oppa saja.” Kataku.

“Jeongmal? Ah geurae, Soohyun~ssi err maksudku oppa.”  Katanya. Ck. susah ya memanggilku oppa? Eh memang dia berapa tahun dibawahku sih?

“Nah, begitu kan enak. Benar kan Hyemi~ya?” tanya Eunhyuk oppa pada Hyemi.

“Err, hyung boleh aku tanya sesuatu?” bisikku pada Eunhyuk hyung.

“O, mwoya?”

“Memangnya Hyemi berapa tahun di bawahku?” tanyaku. Aku penasaran saja.

“Ah, kalau tidak salah uri Hyemi hampir sama dengan Mir. Sebentar.” Jeda Eunhyuk hyung lalu beralih pada Hyemi yang sedang memainkan handphonenya.

“Hyemi~ya, umurmu hampir sama dengan Mir kan?” tanyanya pada Hyemi. Hyemi mengangguk.

“Benar kan kataku.” Sahut Eunhyuk hyung. Aku mengangguk mendengarnya.

“Emm, Soohyun op-oppa…” panggil Hyemi. Agak aneh mendengarnya memanggilku begitu. Haha. Mungkin karena kami baru kenal.

“Ne? waeyo Hyemi~ya?” tanyaku. Aku geli sendiri melihat tampang bingungnya.

“Err, kan oppa lebih tua dariku memangnya umur oppa berapa? Mian kalau pertanyaanku aneh.” Katanya. Aku tersenyum mendengar pertanyaannya, Eunhyuk hyung bahkan sudah tertawa terbahak-bahak. Aku pikir ia mau menanyakan apa, ternyata hanya menanyakan umurku. Memangnya ia tidak tahu tentangku? Atau minimal U-Kiss?

“Aku 89line.” Jawabku. Dia mengangguk-angguk.

“Aigoo, Hyemi~ya, oppa pikir kau mau menanyakan apa pada Soohyun, kalau hanya pertanyaan begitu tanya padaku juga bisa. Ckckck. Soohyun~ah, uri Hyemi memang begini. Jadi maklumi saja.” Kata Eunhyuk hyung padaku sambil mengacak-acak rambut Hyemi, kulihat Hyemi hanya menggembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya. Aigoo, kyeopta.

“OPPA!” teriak Hyemi sambil memukuli Eunhyuk hyung, aku tertawa melihatnya, yeoja ini lucu juga. Kesan baru yang kudapat setelah kami mengenal beberapa minggu. Aku tahu selama ini ia suka melihat perform kami, tapi untuk bertemu seperti ini hanya sesekali itupun selalu ada yang menemaninya, dan biasanya yang menemaninya SuJu hyungdeul.

“Ehm, Soohyun oppa.” Panggilnya lagi.

“Ne?”

“Aku mau mengatakan sesuatu pada oppa.” Apa lagi? Jangan sampai ia mengatakan hal yang lucu seperti tadi lagi.

“Waegeurae Hyemi~ya?” kataku. Kulihat ia melihat ke Eunhyuk hyung.

“Eh oppa sebentar ya.” Katanya padaku, dan ia malah menarik Eunhyuk hyung agak menjauh dariku, dan Donghae hyung juga ikut, ada apa sih?

“MWORAGO?” kudengar Eunhyuk dan Donghae hyung berteriak kemudian Hyemi memukul mereka. Dan mereka lanjut bicara lagi. Apa sih? Aku jadi penasaran. Lalu kemudian kulihat hyungdeul mengangguk-angguk. Kemudian mereka menuju ke sini lagi.

“Oppa.” Panggil Hyemi lagi. Mungkin ia sudah mau bicara.

“Ne, Hyemi~ya?”

“Aku mau mengatakan sesuatu pada oppa, tapi oppa jangan kaget, atau kesal atau jadi tidak enak padaku ya?”

“Ne, aku tidak akan seperti itu.”

“Juga jangan menjauhiku.”

“Ne, aku tidak akan menjauhimu. Jadi apa?” tanyaku.

“Yaksok?” tanyanya, astaga aku jadi tidak sabar menunggunya.

“Ne, yaksokhae Hyemi~ya. Jadi kau mau bicara apa?” aku benaran sudah tidak sabar nih jadinya.

“Oppa…”

“Ne?”

“Naega…” aigoo, kenapa bicaranya terputus-putus sih?

“Hyemi~ya?”

“Ne, oppa?”

“Waegeurae? Bicara saja, kenapa dipotong-potong begitu?” kataku akhirnya saking tidak sabarnya menunggunya selesai bicara. Kulirik hyungdeul tapi mereka juga melihatku dengan tatapan err… cemas? Atau panic?

“Naega…” aku kali ini tidak menyelanya, menunggunya menyelesaikan sendiri kalimatnya. Aku mau tau sebenarnya pada yang ingin diucapkannya sampai ia jadi terbata-bata begini.

“Naega, Joahae.”

“Nde?” tanyaku, sepertinya aku salah dengar.

“Joahae oppa, ani saranghae, saranghaeyo Soohyun oppa.” Tegasnya.

“MWO?” sungguh, aku shock mendengarnya, ige mwoya? Aku langsung melihat ke hyungdeul, sekarang ekspresi mereka malah jadi seperti orang yang pasrah. Aku bingung jadinya. Masalahnya aku merasa Hyemi mengatakan yang sebenarnya, maksudku ia mengatakan bukan atas dasar fans terhadap idolanya tapi sebagai yeoja terhadap namja. Ah, aku jadi pusing sendiri.

“Oppa? Soohyun oppa?” panggil Hyemi lagi.

“Hyemi~ya, naega…”

“Gwaenchana oppa, aku hanya ingin mengatakan itu. aku tulus mengatakan itu oppa, mian kalau pernyataanku malah mengganggumu, aku tidak bermaksud menganggu oppa atau membuat oppa pusing. Kalau oppa merasa tidak enak lebih baik lupakan saja oppa. Mianhamnida Soohyun oppa. Aku pamit dulu oppa. Annyeonghaseyo.” Katanya lalu bangkit dan membungkuk padaku, kemudian berbalik menuju keluar. Kulihat hyungdeul mendesah bingung.

“Hyung.” Panggilku, mereka menoleh.

“Hyemi serius Soohyun~ah.” Kata Donghae hyung.

“Kami kembali dulu, annyeong.” Kata Eunhyuk hyung, mereka lalu berbalik dan menyusul Hyemi keluar.

Aku mendesah, lelah dan bingung bercampur. Bukan masalah pernyataan cintanya, tapi masalahnya adalah orang yang mengatakannya. Aku sudah sering menerima pernyataan cinta seperti itu dari banyak yeoja, tapi situasi sekarnag berbeda. Aku yakin Hyemi menyatakannya atas dasar yeoja terhadap namja bukan fans terhadap idolanya, itu dia yang membuatku bingung, ditambah lagi bahwa ia dongsaeng Teuki hyung.

“Hyung, waegeurae? Apa yang tadi kalian bicarakan, kenapa serius sekali? Dan tadi si Hyemi itu saat keluar kulihat wajahnya sedih? Ada apa sih hyung?” tanya Dongho beruntun, dan kulihat semuanya melihatku seakan meminta jawaban. Aish, aku pusing dan mereka juga bertanya hal yang membuatku pusing.

“Nope, jangan bicaran ini dulu. Anggap kalian tidak tahu dan lupakan yang kalian lihat hari ini. aku sedang tidak ingin membahasnya.” Sahutku. Dan langsung berdiri, keluar, aku ingin cepat sampai dorm dan mengistirahatkan tubuh dan pikiranku.

Hyemi POV

Hhh, Hyemi bodoh. Babo yeoja! Kenapa kau mengatakannya. Aku menyesal sudah mengatakannya, setelah melihat ekspresinya setelah aku mengatakan perasaanku padanya malah membuatku menyesal. Dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan nanti saat bertemu dengannya lagi. Aku tidak berani bertemu dengannya lagi, kalau saja tadi ia menyambut dengan baik pernyataanku aku tidak akan begini. Tapi karena tadi ia seperti itu aku jadi tidak mau bertemu dengannya lagi. Dan sekarang aku sendirian di apartemen, mengurung diri dikamarku, masih menangisi kebodohanku.

(Oh neo) Neomani hamkke kajullae
(Meolji anheun fantasy) Sangsangi gadeukhan I sesange
Kkeuteun eobseo Never end Yeogin Neverland

Handphoneku berdering, kulihar G.O oppa menelepon. Ada apa sih? Aku langsung menghapus airmataku dan menetralkan suaraku sebelum mengangkat telepon.

“Yeoboseyo, oppa.” Sial, suaraku masih agak serak.

“Hyemi~ya, gwaenchana? Suaramu kenapa? Kau jadi datang ke MuBank?” oppa, kenapa menanyakan hal itu~ huwee

“Gwaenchana oppa, oppa kau ada apa menelepon malam-malam begini?”

“Ah, iya. Besok kita dipanggil appa dan eomma ke rumah, sekalian makan bersama.”

“Eh? kenapa mendadak oppa?”

“Molla, oppa juga baru diberitahu tadi. Oppa juga jadi bolos latihan kok. Kau ada acara memangnya?”

“Aniyo, hanya saja… ah geurae, oppa kita datang bersama atau bertemu di sana?”

“Bertemu di sana saja, oppa ada urusan dulu sebelumnya. Otte?”

“Geurae, see you there. Oppa.”

“Hmm, jalja. Hyemi~ya.”

“Jaljayo, oppa.” PIP

Aku langsung melemparkan handphoneku ke sembarang arah. Hhh, tumben appa dan eomma menyuruh datang dan mengajak makan bersama tapi dadakan begini? Biasanya kalau seperti ini ada hal penting yang ingin dibicarakan. Apa ya kira-kira? Hah, sudahlah. Sudah malam. Lebih baik aku tidur, aku capek merenungi kebodohanku terus karena perasaanku pada Soohyun.

***

Aku sudah rapi sekarang, siap untuk ke rumah orangtuaku. Hmm, oppa urusannya sudah selesai belum ya? Ah aku telepon sajalah.

“Yeoboseyo, Hyemi~ya?”

“Oppa, odi? Urusanmu sudah selesai belum?”

“Belum. Kau masih di apartemen?”

“Ne. tapi aku sudah siap oppa. kau yakin tidak mau bersama?”

“Aniyo aku sendiri saja. Yasudah kau berangkat. Aku juga sebentar lagi berangkat. Hati-hati bawa mobilnya.” Ih, selalu deh, padahal aku kan sangat mahir dalam mengemudi.

“Ne, oppa. Annyeong.”

“Ne. Annyeong.” Setelah selesai telepon aku langsung mengambil kunci mobil dan bergegas keluar dari apartemen, siap menuju rumah orangtuaku.

“APPA. EOMMA!” teriakku begitu masuk rumah. Ahh, setelah tinggal di apartemen aku jadi jarang pulang, aku juga jadi kangen dengan kamarku. Apa aku menginap saja malam ini? Ahh. Lihat nanti sajalah.

“Hyemi~ya. Jangan berteriak sayang. Ini di dalam rumah dan yeoja tidak boleh berteriak-teriak begitu.” Kata eomma, tapi sambil memelukku dan mencium kedua pipiku, hhh, masih saja suka menceramahiku. Aku langsung menggembungkan pipiku tapi tetap membalas pelukan eomma.

“Aigoo,  yeojaui appa. Bogoshippo uri ddal.” Kata appa dan memelukku erat dan mengecup keningku, aku balas memeluknya.

“Nado bogoshippo appa.”

“Eomma bogoshippo aniya?”

“Nado bogoshippo.”

Setelah itu kami langsung berpindah ke ruang tamu. Aku langsung duduk di antara appa dan eomma.

“Appa, eomma. Waegeurae? Menyuruh datang mendadak begini? Ah iya, oppa sepertinya akan telat.”

“Ne, tadi oppamu sudah memberitahu. Tapi mungkin sebentar lagi sampai. Ada yang ingin appa dan eomma bicarakan. Maaf kalau mendadak.” Kata appa.

“Mwoya? Appa dan eomma ingin menjodohkanku dengan rekan kerja appa? Biasanya itu yang terjadi di drama-drama saat orangtua mengajak anaknya bertemu dan makan bersama.” Kataku asal.

“Kau terlalu banyak menonton drama sayang. Memangnya kau mau dijodohkan? Kalau mau biar nanti appa carikan untukmu.” Sahut eomma. Heee??? Aku kan hanya bicara asal, kenapa jadi ditanggapi serius? -__-

“Andwae. Aku hanya bercanda. Awas saja kalau appa dan eomma begitu. Aku tidak mau dijodohkan nanti percintaanku tidak berkembang dengan baik kalau dijodohkan begitu.” Kataku. Appa dan eomma hanya tersenyum mendengar omonganku yang suka asal.

“ANNYEONG~.” Aku, appa dan eomma langsung menengok saat mendengar sapaan yang seperti teriakan begitu. Dan aku mendapati oppa datang sambil tersenyum-senyum tidak jelas dan mendatangi kami. Setelah memberi salam pada appa dan eomma ditambah mengacak-acak rambutku, kami melanjutkan obrolan. Sambil menunggu waktu makan malam.

“Hyemi~ya.” Panggil appa. Saat ini kami sudah selesai makan malam dan sedang berkumpul di ruang keluarga. Appa dan eomma meminta menginap. Aku sih ikut oppa saja. Dan karena oppa mengiyakan aku juga jadi ikutan deh.

“Ne, appa?”

“Kuliahmu kan sudah selesai. Kau mau lanjut kuliah lagi tidak?” aku langsung menengok ke oppa yang duduk disampingku. Meminta bantuan jawaban tapi ia hanya mengangkat bahu.

“Eh? aku sih mau lanjut kuliah lagi, tapi kan aku baru lulus beberapa bulan yang lalu appa. Masa mau lanjut lagi?”

“Nanti saat lulus S2 kau bisa langsung menggantikan appa. Oppamu kan sibuk dengan keartisannya, jadi lebih baik kau saja yang menggantikan appa. Gwaenchana kalau kau memang mau, appa sudah menyiapkan semuanya. Kau hanya tinggal berangkat dan kuliah yang baik. Di Kanada.”

“MWO? KANADA?” aku shock mendengarnya. Kanada? Itu jauh sekali. Appa dan eomma mengangguk.

“Di sana ada teman appa, appa akan meminta bantuannya selama kau di sana.”

“Tapi, itu terlalu jauh appa. Tidak bisakah di sini saja?” pintaku. Kalau di sana, aku jauh dari semuanya, aku jauh dari oppaku, jauh dari appa dan eomma, tidak bisa menonton konser lagi, tidak bisa bertemu Soohyun lagi. Ah, Soohyun, bagaimana kalau aku kuliah di sana? Pasti tidak akan bisa bertemu dengannya, perasaanku saja belum terbalas, masa aku harus benar-benar jauh darinya?

“Tapi appa, eomma. Aku akan jauh dari oppa, jauh dari kalian, jauh dari teman-temanku. Dan lagi aku tidak bisa meninggalkan orang-orang disekitarku. Appa, di sini saja ya?” pintaku lagi. Oke, sekarang bahkan aku hampir menangis, aku benar-benar jatuh cinta pada Soohyun dan sekarang aku harus pergi darinya? Baru semalam aku menangis karena kebodohanku padanya dan sekarang aku menangis lagi karena harus jauh darinya. Aku tidak akan bisa bertemu dengannya bertahun-tahun ke depan. Ottokhae. Kulihat oppa hanya diam saja, tapi ia juga terlihat berpikir. Oppa bantu aku.

“Appa. Kenapa tidak di sini saja? Di sini juga banyak yang bagus kan. Walaupun di sana ada teman appa, tapi pasti akan lebih nyaman di sini, aku kasihan kalau Hyemi sendirian di sana. Kalau ia sakit bagaimana? Kalau ia sedang kangen padaku atau pada kalian?” oppa mencoba membujuk appa agar membatalkan rencananya, tapi appa tetap menggeleng.

“Kalau ada yang lebih bagus dari di sini kenappa tidak di ambil? Dan di sana lebih bagus Byunghee~ya. Dan appa ingin Hyemi lebih mandiri. Selama ini walaupun ia tinggal di apartemen sendiri tapi ia masih bergantung pada appa dan eomma, terlebih padamu. Dengan ia di sana, itu akan membantunya lebih mandiri, dewasa, sifat dan sikapnya juga akan lebih matang. Appa minta kau mendukung, ini juga demi adikmu.” Jelas appa. Eomma hanya diam saja. G.O oppa akhirnya hanya pasrah mendengar keputusan appa yang memang ada benarnya.

“Hyemi~ya. Kau tidak mau hanya karena terlalu jauh? Atau karena tidak bisa jauh dari kami, terlebih dari oppamu?” tanya eomma.

“Aniyo eomma, hanya saja…”

“Berikan Hyemi waktu dulu, appa, eomma.” Pinta G.O oppa.

“Geurae, kau pikirkan dulu saja. Kalau kau mau bulan depan kau bisa berangkat, akan lebih baik kau menyesuaikan diri dulu sebelum memulai kuliahmu. Hajiman, appa berharap kau bersedia Hyemi~ya.” Kata appa.

Aku sedikit bisa bernafas lega, walaupun belum sepenuhnya, setidaknya appa masih memberikanku waktu untuk berpikir. Aku beruntung orangtuaku bukan tipe yang akan memaksakan kehendaknya, hanya saja memang agak sedikit keras dan akan berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. Aku yakin kalau oppa tidak menjadi artis, pasti oppa juga akan disuruh melanjutkan kuliahnya lagi, apalagi oppa lebih dulu lulus kuliah daripada aku.

“Oppa, ottokhae? Aku tidak mau kuliah ke Kanada oppa. Kenapa bukan di sini saja sih?” rengekku pada oppa, sekarang aku sedang berada di kamar oppa. Kami benar-benar menginap juga akhirnya.

“Nan molla, kau kan lihat tadi oppa sudah berusaha membujuk appa, tapi oppa setuju dengan appa, di sana lebih baik. Kalau ada yang lebih baik kenapa tidak. Tapi, sebenarnya apa yang memberatkanmu untuk kuliah di sana?” tanya oppa.

“…”

“Karena tidak mau jauh dari ku? Aku yakin masih ada alasan lain. Marhae.” Lanjut oppa.

“Biar oppa tebak. Emm, SuJu, BigBang, CN Blue?” aku mengangguk.

“Hey, kami artis, kau masih bisa tahu tentang kami di internet, dan aku akan rajin mengabarimu kok.”

“Hajiman, oppa…” aku ingin mengatakannya, memang benar yang tadi oppa katakan itu semua alasanku, tapi masih ada lagi, namja itu, namja yang kemarin membuatku menangis.

“Masih ada lagi? Mwoya?”

“Naega, kemarin aku menyatakan perasaanku pada Soohyun.”

“MWO? Ah jadi ini salah satu penyebabnya, jadi kau sudah mengatakan kau fansnya?” tanya oppa, aku menggeleng.

“Heee? Kau menyatakan perasaanmu tapi kau menggeleng? Maksudmu apa? Kau menyatakan kalau kau fansnya kan?” aku masih menggeleng. Oppa mendesah kesal.

“Aku menyatakan perasaan sebagai seorang yeoja oppa, bukan sebagai fans.” Kataku pelan. Bisa kurasakan oppa mengerang tertahan.

“Kau itu apa-apaan Hyemi~ya? Bisa-bisanya kau begitu? Kau itu yeoja, belum tahu apa-apa tentangnya, kau bilang kau hanya fansnya, tapi kenapa kau bilang kau menyatakan perasaan sebagai seorang yeoja? Lalu sekarang kau pacaran dengannya?” tanya G.O oppa, aku menggeleng lagi.

“Kau itu kalau menjelaskan jangan setengah-setengah begitu. Marhaebwa Hyemi~ya. Katakan pada oppa.” Aku merasa mataku mulai panas, airmataku sudah mendesak keluar.

“Dia tidak menanggapi penyataanku sama sekali oppa.” Air mataku pun jatuh juga. Oppa terkesiap mendengarnya, ia juga kaget melihatku menangis.

“Uljima dongsaeng~ah.” Kata oppa.

“Aku menangis lagi karenanya oppa. Kemarin setelah mengatakannya aku juga menangis dan sekarang aku menangis lagi.” Oppa langsung merengkuhku dalam pelukannya.

“Jadi saat oppa meneleponmu dan suaramu serak Karena habis menangis?” aku mengangguk dalam pelukannya.

“Kenapa tidak bilang pada oppa? Kenapa baru bilang sekarang?” tanya oppa sambil mengelus rambutku.

“Aku tidak ingin menyusahkan oppa dengan masalahku yang seperti ini.”

“Kau tidak menyusahkan oppa dan tidak akan pernah pernah menyusahkan oppa. Kalau oppa tahu pasti oppa akan melakukan apapun agar kau tidak sedih seperti ini. Sekarang apa yang mau kau lakukan? Bagi oppa Soohyun sudah bukan alasanmu untuk menahanmu ke Kanada. Nyatanya ia tidak menanggapimu.”

“Hajiman oppa, aku tidak bisa kalau harus jauh darinya, aku tahu ia tidak menanggapiku, tapi aku bukan hanya menyukainya oppa. Aku bukan menyukainya tapi mencintainya. sakit oppa saat aku tahu aku harus jauh darinya.”

“Lalu apa yang kau lakukan? Appa dan eomma juga tidak mudah dibujuk, apalagi tanpa alasan yang jelas.” Tanya oppa. Aku melepaskan diri dari pelukannya dan menghapus airmataku.

“Aku akan mencoba sekali lagi oppa. Aku akan menemui Soohyun sekali lagi. Kalau nanti ia tetap tidak menanggapiku juga, aku…” aku berhenti sebentar dan menarik nafas kemudian menghembuskannya lagi.

“Aku akan berangkat ke Kanada.” Lanjutku. Oppa terdiam mendengarnya.

“Kau yakin?” aku mengangguk.

“Aku yakin oppa. Kalau nanti aku mendapat tanggapan positif darinya aku akan membujuk dan menolak keinginan appa, tapi kalau aku tetap tidak mendapat tanggapan, aku akan menuruti appa, tanpa penolakan. Karena sudah tidak ada lagi yang bisa kupertahankan disini. Oppa, bantu aku, ne? bantu aku meyakinkan diriku sekali lagi untuk menentukan keputusanku.” Pintaku. Oppa menarikku lagi kepelukannya.

“Geurae, oppa akan membantumu. Oppa akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu.” Kata oppa.

“Gomawoyo oppa.”

“Hmm.” Kata oppa sambil mengelus-elus rambutku, dan aku merasa lelah, kesadaranku sepertinya semakin berkurang.

――――――――――――――TBC―――――――――――――――――

ps : makasih buat admin yang udah mau bantuin publish.. J

maaf kalo ffnya gaje..wkwkwk

12 thoughts on “[FF Freelance] Attack of Love (Part 3)

  1. aish…makin penasaran ama endingx…
    tpi kyakx ga bakalan sad ending kan?pasti nnti jug ska kok…*sok tau*
    udh ah..lnjut baca dulu…

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s