Sticking With You (Part 2)

Author: Tirzsa

Main cast:

  • SNSD’s Tiffany
  • 2PM’s Nichkhun

Support cast:

  • 2PM’s other member

Genre: Romance

Length: Chapter

Rating: PG – 16

Disclaimer: Terinspirasi dari “My Sassy Girl”.

Previous part: [Part 1]

***

Tiffany’s POV

67 panggilan tak terjawab. 13 sms. Masing-masing dari oemmaku dan juga Byunghee. Oemma khawatir dengan keberadaanku, sementara Byunghee menanyakan keberadaanku agar ia bisa menjemputku saat itu juga dan kami bisa melaksanakan pertunangannya. Tapi tidak untuk kali ini.

“Mianhae, oemma.” Aku mencabut baterai ponselku dan memasukkannya ke dalam saku.

“Mwohaneungoya?”

Aku berbalik dan melirik pemuda dibelakangku. “Bukan urusanmu,” desisku.

Ia mendengus kesal kearahku.

Otakku sedang berpikir keras, bagaimana caranya agar aku bisa sembunyi dari oemma dan Byunghee sampai mereka berhenti mengejarku? Bagaimana agar oemma berhenti untuk membujukku menikah dengan Byunghee? Dan dimana aku harus bersembunyi selama menghindarkan diri dari pertunangan itu?

“Dimana sikat gigiku?”

Aku melirik lagi pemuda itu. Ia tengah sibuk membongkar isi kardusnya mencari-cari sikat dan pasta gigi. Baru aku sadari, sepertinya ia baru saja pindah ke apartemen ini. Karena barang-barang miliknya masih berada didalam kardus. Belum sempat dirapikan.

Seolah mendapat pencerahan, sebuah ide tercetus begitu saja didalam otakku. Pemuda ini tampak tidak terlalu buruk. Ia terlihat seperti pemuda baik-baik, tidak suka mabuk, tidak merokok, tidak bermain dengan perempuan, dan..

“Ehem..” Aku berdeham cukup keras untuk meminta perhatiannya.

Ia mengangkat wajahnya dengan bingung.

“Apa kau lapar?” tanyaku ramah.

“Lumayan. Wae?” tanyanya balik. Masih dengan raut yang sama.

“Ingin mencari sarapan?”

Tiffany’s POV end

***

Nichkhun’s POV

Langkahnya sangat cepat. Seolah sedang terburu-buru. Aku berusaha membuntutinya dari belakang, mensejajarkan langkahku dengannya, tapi langkahnya selalu bisa lebih cepat dariku.

“Ya, tidak bisakah kau pelan sedikit?” keluhku. Tapi ia hanya diam. Memandang lurus kedepan dan terus berjalan.

Kami tiba disalah satu resto fast food yang jaraknya tak terlalu jauh dari apartemenku. Karena hari ini adalah hari minggu, resto fast food pasti akan selalu ramai oleh anak-anak yang sedang berpesta ulangtahun. Beberapa anak perempuan bahkan menabrak kakiku dan menumpahkan minuman soda mereka ke celanaku. Menyebalkan sekali.

“Kau ingin pesan apa?” tanyanya padaku begitu kami tiba didepan bar kasir.

Aku memandangi papan menu yang ada dihadapan kami lalu menunjuk salah satu menu. “Aku pesan ini. Chicken fillet dan minuman soda ukuran besar.”

“Ya, neo.. Juggole?” Ia menatapku dingin dan sinis. “Pesan air mineral saja.”

Aku merengut. “Mengapa kau harus bertanya apa yang ingin kupesan jika akhirnya kau yang menentukan pesananku?” gerutuku.

“Mworago?”

Aku segera menggeleng. “Ah, aniyo.”

Seusai memesan dua botol air mineral, kami memilih sebuah meja kosong yang jauh dari hiruk pikuk. Tepat disudut ruangan, dekat dengan jendela. Suara anak-anak yang berteriak itu tak lagi terdengar memekakkan telinga.

“Oh ya,” kata gadis itu, “Bisa kau jelaskan padaku, mengapa aku bisa berada di apartemenmu malam tadi?”

“Ah, tadi malam saat sedang berada di stasiun kereta, aku melihatmu dan..”

“Apa kau melakukan sesuatu padaku saat malam tadi?” selidiknya. Ia mencondongkan tubuhnya kearahku dan menatap curiga.

Aku menggeleng dengan kaku. “Aniyo. Aku tidak melakukan sesuatu padamu.”

“Jeongmal?”

Aku mengangguk.

“Apa jaminannya bahwa kau tidak melakukan sesuatu padaku?”

Aku mengernyit. “Tapi aku memang tidak melakukan sesuatu padamu.”

“Buktinya?”

Jleb!

Aku terkesan dengan caranya menjebakku—walaupun aku tidak mengetahui apa maksudnya yang sepertinya begitu menuntutku. Aku yakin bahwa ia tahu kalau kami tidak melakukan ‘sesuatu’ semalam, tapi mengapa ia terlihat sangat memaksaku untuk mengakui hal yang tidak kulakukan?

“Ya, apa kau mendengarku?” bentaknya.

Aku mengangguk. “Ne, aku mendengarmu. Tapi, sekali lagi sudah kukatakan bahwa aku memang tidak melakukan sesuatu padamu dan aku yakin akan hal itu.”

“Hm, baiklah,” gumamnya. Ia mengeluarkan selembar kertas dan pulpen dari tasnya lalu mulai menuliskan sesuatu. Sementara aku mencoba menebak-nebak apa yang sedang ditulisnya.

“Tanda tangan disini.” Ia menyerahkan kertas itu kearahku.

Aku membaca kalimat demi kalimat yang tertulis diatas kertas itu dan tertegun. Tenggorokan nyaris tercekat. “Ige mwoya?! Perjanjian untuk bertanggung jawab? Tinggal denganku?”

“Untuk jaga-jaga saja, jika aku tiba-tiba didiagnosis hamil, sudah pasti itu anakmu,” ujarnya santai.

Aku memutar bola mataku. “Ya, tapi aku benar-benar tidak melakukannya!”

“Kalau begitu tanda tangani saja kertas itu. Kalau kau memang tidak melakukannya, seharusnya kau tidak perlu bertingkah sepanik itu, bukan?”

“Ne, aku mungkin setuju dengan persoalan tanggung jawab itu, tapi..” Aku menelan ludah lalu melanjutkan ucapanku, “Tinggal serumah denganku?”

Gadis itu meraih botol mineralnya sembari berkata, “Aku hanya ingin memastikan kau tidak melirik gadis lain selama kau masih dalam masa perjanjian untuk bertanggung jawab. Dan jika kau sampai melirik gadis lain..” Ia memutar penutup botol air mineral itu hingga menimbulkan bunyi ‘pletak’ yang cukup keras, lalu menatapku dingin, “Lehermu akan bernasib sama dengan penutup botol ini, arasseo?”

Aku menatapnya dengan horor dan secara otomatis kepalaku mengangguk tanpa diperintah.

***

From: Nenek Sihir

Jangan sampai telat pulang ke rumah dan jangan makan siang diluar. Aku sudah menyiapkan makan siang untuk kita. Dan jika kau sampai makan di luar dan pulang telat, aku akan membunuhmu. Arasseo?

“Hah..” Aku mendesah dan meletakkan ponselku diatas meja.

“Waeyo? Mengapa wajahmu lusuh begitu? Siapa yang mengirim sms? Oemma mu?” tanya Junsu.

Aku menggeleng lemah.

“Lalu siapa?”

Aku hanya diam. Tak sanggup menyebutkan namanya.

Junsu, Junho, dan Chansung saling bertukar pandang. Junsu memberanikan diri untuk menyentuh ponselku dan membaca pesan singkat yang masuk dari Tiffany.

“Nenek sihir? Apakah ini oemma mu? Bukannya kau diusir dari rumah?” tanya Chansung.

“Ani. Bukan oemmaku. Tapi..”

“Yeojachingumu? Kau punya yeojachingu?” tanya Junho.

Aku menggeleng lagi. “Aku juga tak mengerti.”

Ketiganya mengernyit. Raut wajah mereka juga tak jauh berbeda denganku. Aku juga tak bisa mengartikan bagaimana hubunganku dengan Tiffany sebenarnya. Aku baru berkenalan dengannya kemarin malam dan sekarang ia memintaku untuk bertanggung jawab dan tinggal serumah denganku.

“Ya, ia meneleponmu!” pekik Chansung sambil menyerahkan ponsel itu padaku.

Nama kontak Tiffany—Nenek Sihir—berkedip-kedip dilayar ponselku. Ia pasti meneleponku karena tidak membalas pesan singkatnya. Dan disisi lain, aku juga sedang tidak berselera untuk mengobrol dengannya. Suaranya terdengar menyeramkan ditelingaku.

Aku berdeham beberapa kali sebelum akhirnya menerima teleponnya.

“Yeobbosseo?”

“Anda telah menghubungi nomor yang salah. Silahkan hubungi nomor lain dan jangan pernah menghubungi nomor ini. Thank you” ucapku dengan suara yang dibuat-buat.

“Ya, juggole?”

Aku tertegun.

“Cepat pulang sekarang atau aku akan membunuhmu! Arasseo?!”

Tuut.. Tuut.. Tuut..

“Hyung, apa yang ia katakan?” tanya Junho sambil mengguncang bahuku.

Aku menutup flip ponselku. “Ia akan membunuhku..”

Nichkhun’s POV end

***

Author’s POV

Nichkhun berdiri didepan pintu apartemen dengan gelisah. Ia tak berani mengetuk pintu sama sekali. Ia tak bisa membayangkan bagaimana wajah Tiffany saat ia muncul didepan pintu. Tapi, ia tak bisa hanya berdiri terus didepan pintu seperti itu.

Pemuda itu menarik dan mengeluarkan napasnya dengan teratur lalu mengumpulkan keberanian untuk mengetuk pintu. Dua kali ketukan. Masih tak terdengar suara langkah kaki dari dalam. Ia mengetuk pintu lagi. Dan pintu dihadapannya terbuka.

“Oh! Kau mengagetkanku!” rutuk Nichkhun sambil mengusap dadanya.

Tanpa basa-basi lagi, Tiffany langsung mengapit kepala Nichkhun diantara lengannya dan menarik pemuda itu dengan kasar.

“Ya, appo! Appo!” ringis Nichkhun.

“Appo? Hm? Appo? Apa maksudmu untuk ‘tidak menghubungi nomor ini lagi’, huh? ‘Menghubungi nomor yang salah’, huh? Juggole?” Tiffany mencengkeram kepala Nichkhun dengan erat dan membuat pemuda itu meringis lebih keras.

“Mianhae, mianhae,” ucap Nichkhun disela-sela ringisnya.

***

Nichkhun mengusap tengkuknya yang terasa perih akibat cengkeraman tangan Tiffany sambil terus menyuapi mulutnya dengan makanan. Sementara Tiffany melirik pemuda itu diseberang meja dalam diam.

“Dimana ponselmu?” tanya Tiffany tiba-tiba.

“Ada di saku bajuku,” sahut Nichkhun lemah.

Tiffany menjulurkan tangannya. “Kemarikan..”

“Oh? Untuk apa? Apa yang akan kau lakukan?”

“Kemarikan saja, cepat!”

Mau tidak mau, Nichkhun hanya menurut. Ia meraih ponselnya dari dalam saku lalu menyerahkannya pada Tiffany. Gadis itu mengotak-atik ponsel Nichkhun lalu tersenyum sinis saat melihat sesuatu dari ponsel tersebut.

“Nenek Sihir?” desisnya.

Wajah Nichkhun berubah pucat. “Ah.. Itu..”

Tiffany meraih sendok lalu memukulkannya ke jidat pemuda itu. “Aish~”

PLETAK!

“Auch!” Nichkhun mengusap jidatnya.

“Ya, juggoleyo? Nenek Sihir? Aku akan membunuhmu jika kau menuliskan hal-hal yang aneh lagi dikontakmu! Arasseo?”

Pemuda itu mengangguk dengan patuh sembari terus meringis.

Tiffany kembali mengotak-atik ponsel Nichkhun untuk beberapa lama lalu mengembalikannya lagi pada pemuda itu. Nichkhun mengecek apa yang telah dilakukan Tiffany pada ponselnya dan terkejut sendiri melihat perubahan ponselnya.

Author’s POV end

***

Tiffany’s POV

Ia bilang akan ada ujian masuk pegawai kantoran sore itu, jadi kuputuskan untuk mengantarnya sampai ke terminal bus. Entah mengapa aku melakukannya, dorongan itu datang begitu saja. Seolah itu sangat wajib. Terlebih lagi, masih ada beberapa hal yang perlu kutekankan padanya.

“Aku menambahkan nomorku sebagai panggilan darurat di nomor satu, jangan pernah melepaskan ponselmu. Kau harus membalas pesan singkat dan menjawab teleponku walaupun dalam keadaan darurat sekalipun. Dan wallpapermu sudah kuganti dengan beberapa foto lain milikku. Jika kau bosan dengan wallpaper ini, bisa kau ganti dengan fotoku yang lain,” jelasku padanya.

Aku menoleh padanya untuk melihat reaksinya, tapi rupanya ia sedang menoleh kearah lain dan tidak begitu mendengarkan ucapanku barusan. Aku mengikuti arah pandangannya dan tepat kearah yang dilihatnya, ada beberapa gadis berseragam SMU sedang mengobrol diterminal bus diujung sana.

“Ya, juggole?” bentakku sambil menginjak kakinya.

“Argh!!!” Ia menjerit kesakitan sambil memegangi kakinya. “Ya, mwoya?!”

“Masih bersamaku saja, kau sudah berani melihat gadis lain. Kalau begitu, aku akan ikut bersamamu kesana sampai ujianmu selesai, untuk menjagamu melakukan hal-hal aneh lagi.”

“MWO?!”

Tiffany’s POV end

***

Nichkhun’s POV

Aku melirik Tiffany dari ekor mataku dan mendesah. Ini benar-benar konyol. Aku baru saja berkenalan dengannya sehari yang lalu dan kini ia sudah mengatur-aturku seperti seorang istri. Sungguh sulit dipercaya!

Dan tololnya, aku begitu saja mau menerimanya tinggal dirumahku dan menandatangani perjanjian bodoh itu. Aku berani bersumpah bahwa aku memang tidak melakukan sesuatu padanya, tapi disisi lain, aku merasa ragu. Kepalaku terus membayangkan ada bayi yang hidup didalam perut Tiffany. Dan bayi itu.. anakku?!

“Mengapa kau melihatiku seperti itu? Ada yang aneh dengan wajahku?” tanyanya sambil mengusap-usap pipinya.

Aku tersenyum gugup kearahnya. “Aniyo.”

Setelah mengendarai bus selama beberapa menit, akhirnya aku dan Tiffany tiba di universitas Seoul. Disini kami akan mengadakan sebuah tes masuk pegawai negeri dan ini adalah satu-satunya kesempatan yang aku punya untuk mendapatkan pekerjaan.

Begitu aku ingin masuk ke dalam ruang ujian, aku menoleh kearah Tiffany yang berdiri diambang pintu masuk utama. Ia tersenyum kearahku dan berteriak, “Hwaiting!”

***

“Tolong letakkan ponsel ada kedalam kotak ini. Selama ujian berlangsung Anda tidak diperkenankan untuk menggunakan ponsel untuk menghindari terjadinya kecurangan,” jelas seorang pria tua berkacamata itu.

Para peserta ujian yang lain—termasuk aku—maju kearah depan dan berjalan kearah kotak yang disediakan didepan ruang kelas. Masing-masing dari kami mulai meletakkan ponsel ke dalam kotak itu. Saat aku hendak meletakkan ponselku kedalam sana, aku malah teringat oleh sesuatu.

“Jangan pernah melepaskan ponselmu. Kau harus membalas pesan singkat dan menjawab teleponku dalam keadaan sedarurat apapun.”

Aku menggeleng pelan dan diam-diam memasukkan lagi ponselku kedalam saku jaketku sebelum ada yang melihat. Tiffany sudah memperingatkanku dan aku tak mau lagi terlibat masalah dengannya, jadi kuputuskan untuk mengikuti perintahnya, lalu kembali duduk dibangku tadi.

Ujian dimulai. Kertas soal dan jawaban mulai dibagikan. Aku merasa lebih waspada jika saja ada seorang pengawas ujian yang mendekat kearahku, mencegat mereka jika saja mereka mendapatiku masih menyimpan ponselku di saku jaket. Tapi, setelah ujian dinyatakan telah mulai, pengawas itu masih tak mencurigaiku dan aku bisa bernapas lega.

Suasana sangat hening. Hanya terdengar bunyi pensil yang diletakkan diatas meja, bunyi lipatan keras, dan gumaman pelan dari beberapa peserta. Aku mencoba berkonsentrasi membaca soal pertama yang ada dikertas, saat ponselku bergetar didalam saku.

Aku mendongak dan melihat pengawas ujian sedang sibuk mengisi daftar nama-nama kami ke dalam absen. Aman!

Aku merogoh ponselku dan melihat satu pesan singkat dari Tiffany. Aku nyaris muntah saat melihat nama kontaknya yang ia ubah dari buku kontak didalam ponselku.

From: Tiffany ❤

Bagaimana ujiannya?

Aku melirik pengawas ujian itu. Ia masih sibuk dengan absennya.

To: Tiffany ❤

Aku bahkan belum selesai membaca soal pertama!

Aku memasukkan lagi ponselku ke dalam saku lalu kembali fokus dengan kertas soalku. Namun, beberapa detik kemudian, ponselku bergetar lagi. Dan suasana masih aman.

From: Tiffany ❤

Babo! Apa kau tidak lulus SD? Membaca saja bisa memakan beberapa menit!

Aku mendengus lalu mulai mengetik balasannya.

To: Tiffany ❤

Ya, bagaimana bisa aku membacanya jika kau terus mengirimiku pesan singkat?!

Beberapa menit awal berlangsung dan aku bahkan belum menjawab satu soal pun. Ne, aku memang sedang menjawab saat itu. Menjawab pesan singkat Tiffany ditengah ujian yang akan menentukan masa depanku.

From: Tiffany ❤

Kerjakan saja soal-soal itu dengan baik. Jika kau tidak diterima bekerja, kau akan mencari uang dengan apa?

“Ya, neo.. Kau yang disebelah sana!”

Aku terkejut saat mendengar suara berat pengawas ujian yang bergema diruangan yang hening itu. Aku mendongak dan melihat situasi dihadapanku tampak sangat menyeramkan. Semua mata tertuju padaku dan mereka menatapku aneh. Aku berbalik dan melihat kearah belakang, memastikan bahwa pengawas ujian itu tidak sedang memanggil diriku, melainkan orang lain.

“Mengapa kau diam saja? Ne, neo! Pemuda yang menggunakan jaket berwarna merah!” kata pengawas itu lagi.

Aku menoleh kearah sekelilingku lagi, mencari-cari orang lain yang menggunakan jaket merah selainku, tetapi, ternyata dikelas itu, hanya aku yang menggunakan jaket merah.

“Apa yang daritadi kau lakukan?” tanyanya.

“N-n-ne?” Aku menyahut dengan gugup.

“Apa yang kau lakukan? Kuperhatikan daritadi kau hanya menunduk dan tidak mengerjakan soalmu. Apa yang sebenarnya sedang kau lihat?”

“A-a-ah.. Itu..” Aku mulai tergagap. Tak tahu harus menjawab apa.

Dan rasa maluku semakin menjadi saat salah seorang pemuda yang duduk diseberang mejaku berteriak dengan nyaring, “Ia menggunakan ponsel! Ia curang!”

Aku semakin panik dan pucat saat suasana dikelas mulai berisik oleh bisikan-bisikan peserta lain yang menuduhku berbuat curang. Aku segera menggeleng dan hendak menjelaskannya pada yang lain, tapi pengawas ujian itu memberikanku kode untuk datang menghampirinya didepan kelas.

“Keluar dari kelas sekarang juga!”

Nichkhun’s POV end

***

Author’s POV

“Ini dia fotonya..” Nyonya Hwang memberikan salah satu foto anaknya—Tiffany—pada petugas polisi tersebut. “Aku harap kalian bisa menemukannya dengan segera.”

Petugas polisi itu memerhatikan wajah Tiffany dari foto tersebut dan menggumam, “Entahlah, Nyonya. Tapi, apakah Anda yakin bahwa anak Anda masih berada di Korea? Apakah ia tidak kabur ke luar negeri?”

“Ne, aku yakin ia masih ada di Korea. Ia tidak akan cukup berani untuk keluar negeri sendirian.”

Petugas polisi itu mengangguk lalu mengusap kumisnya yang tebal. “Baiklah, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan anak Anda.”

To be continued…

129 thoughts on “Sticking With You (Part 2)

  1. Fany bener” kya istri galak dahh.. kasian khun yg ga tau apa” jdi dimanfaatin gitu ck
    Mana takut bgt kayanya..

    Tapi selalu suka moment mereka hehe

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s