Sticking With You (Part 3)

Author: Tirzsa

Main cast:

  • SNSD’s Tiffany
  • 2PM’s Nichkhun

Support cast:

  • 2PM’s other member

Genre: Romance

Length: Chapter

Rating: PG – 16

Disclaimer: Terinspirasi dari “My Sassy Girl”.

Previous part: [Part 1] | [Part 2]

***

Tiffany’s POV

Suara langkah kaki. Terlalu berisik untuk koridor sesepi itu. Aku menoleh untuk mencari tahu siapa pemilik suara langkah kaki itu. Bayangan gelap pemuda yang dipantulkan melalui lantai marmer itu sudah memberiku petunjuk yang cukup jelas.

“Cepat sekali,” komentarku saat melihat Nichkhun keluar dari kampus.

Ia menatapku dingin. Tak berekspresi. Dan aku paling benci jika ditatap seperti itu.

“Ya, juggolae? Mengapa menatapiku seperti itu?”

“Aku tak lulus ujian,” sahutnya lirih.

“Oh? Wae? Apa kau sungguh mengerjakan soal itu dengan benar? Mengapa hasilnya begitu cepat keluar?”

“Apa kau tidak sadar bahwa ini semua terjadi karena..” Nichkhun mendesah. Tak sanggup melanjutkan ucapannya. “Lupakan saja.”

Aku mengernyit. “Apa yang sebenarnya sedang kau bicarakan?”

Ia menggeleng lagi. “Bukan apa-apa. Kajja! Kita pulang saja!”

Melihatnya tak bersemangat seperti itu, ada rasa iba terbersit didalam hatiku. Aku berlari kecil menyusulnya didepanku dan merangkul pundaknya.

“Sebaiknya jangan pulang dulu!” cegatku sambil tersenyum kearahnya.

“Lalu kau ingin kemana?”

“Aku tahu mungkin sangat berat bagimu untuk mencari pekerjaan. Tapi, apa kau tahu bahwa sesuatu yang berlebihan tidak baik untuk dirimu sendiri? Sekali-kali, kau harus lebih menghargai dirimu dengan melakukan sesuatu yang menyenangkan.”

“Seperti?”

“Aku tahu banyak tempat yang menyenangkan. Ikutlah denganku!” kataku sambil menarik tangannya.

“Tapi kemana?”

Tiffany’s POV end

***

Nichkhun’s POV

“Kau ingin nonton film apa?”

Aku mengusap daguku sambil menatap poster-poster film yang terpampang disisi dinding bioskop. Ada dua film romantis komedi, dua film laga, dan satu film horor. Dan aku memilih satu film laga Barat yang dibintangi oleh salah satu aktris favoritku, Jodie Foster.

“Ini..” kataku lalu menunjuk poster film yang kumaksud.

“Ani, kita nonton film horor yang ini saja.”

“Mwo? Tapi..”

“Kajja!”

Belum sempat aku menyatakan persetujuanku, Tiffany sudah menarik tanganku untuk pergi menuju bar kasir. Ia memesan dua tiket film horor yang dimaksud, lalu kembali menarikku menuju bar popcorn.

“Kau ingin memesan apa?” tanyanya lagi.

“Cola dan popcorn karamel.”

“Ya, juggoleyo? Pesan air mineral dan popcorn saja,” desisnya. Dan lagi-lagi, aku terpaksa mengangguk dan menuruti keinginannya saja.

Seusai memesan beberapa minuman dan camilan, kami masuk ke dalam studio begitu ada pemberitahuan dari pengeras suara bahwa film horor itu akan dimulai. Untuk beberapa alasan, aku merasa gugup dan keringat dingin saat mulai masuk ke dalam studio. Sementara Tiffany tampak begitu bersemangat dan tidak sabar.

Kami memilih tempat duduk kosong yang terletak dibarisan ketiga. Penonton film horor saat itu sedang tidak begitu ramai. Dan kulihat, mereka memilih tempat duduk yang agak memojok dan paling belakang. Tepatnya, hanya kami berdua yang duduk dibangku paling depan.

“Ya, kenapa kita harus duduk didepan?” bisikku pada Tiffany.

Ia tersenyum lebar kearahku dan berkata, “Agar lebih menegangkan dan seru!”

Aku menelan ludah. “Apa kau tahu ini film tentang apa?”

“Entahlah. Aku tidak begitu yakin. Tapi yang kudengar, ini film horor thriller yang penuh adegan sadis,” jelasnya santai.

Aku menelan ludah lagi. Tapi rasanya tenggorokanku terasa menyempit karena aku tak bisa menelan dengan benar. Dan saat tiga puluh detik film berlalu, aku berdoa dalam hati agar aku bisa tertidur malam nanti.

***

Rupanya aku melupakan satu doa saat menonton film tadi. Aku lupa bahwa seharusnya aku berdoa semoga nafsu makanku tetap stabil setelah menonton film menjijikkan tadi. Dan sebagai akibatnya, kimchi dihadapanku sekarang lebih mirip potongan-potongan lidah manusia yang baru saja dicelup kedalam kubangan darah. Yaiks!

“Ya, mengapa kau tidak menghabiskan makan malammu?”

Aku mendongak dan menatap Tiffany diseberang meja, lalu menggeleng dengan gugup. “Aku sedang tidak terlalu lapar sekarang.”

“Wae? Apa kau tidak menyukai makanan di restoran yang aku sarankan ini, huh?”

“A-a-aniyo,” sergahku. “Tapi, aku memang tidak lapar saja.”

“Tapi setidaknya kau harus tetap menghargaiku,” ucapnya dengan nada kesal. “Habiskan makananmu cepat.”

Aku menggeleng lagi dan Tiffany berdecak dengan raut frustasi. Ia mengambil salah satu potongan sawi yang tampak seperti lidah manusia dimataku lalu menyuapkannya ke dalam mulutku.

“Buka mulutmu!” perintahnya.

Aku memejamkan mata dan menggeleng. Kututup mulutku rapat-rapat dan menahan napas untuk beberapa saat.

“Ya, juggolae? Ppali!”

Ia mendesak potongan sawi itu agar masuk ke dalam mulutku. Lalu tiba-tiba ia menginjak kakiku dari bawah meja dan secara otomatis aku membuka mulut dan hendak berteriak. Tapi teriakanku tertahan karena Tiffany langsung menjejalkan kimchi itu ke dalam mulutku sekaligus.

Ia tersenyum tipis kearahku dan berkata, “Nichkhun-ssi, manhi meogeu!”

***

Aku rasa perkataan Tiffany soal ‘menghargai-diri-dengan-bersenang-senang’ tadi tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Ia mengajakku untuk bersenang-senang, tapi justru sebaliknya, seolah aku yang sedang menemaninya untuk bersenang-senang.

Malam sudah mulai larut. Seusai makan malam, kami memilih duduk disebuah bangku taman sebelum kembali ke apartemen. Pikiranku mulai kalut. Aku terus memikirkan hal-hal yang terus mengganggu pikiranku. Pekerjaan.

“Khun-ah..”

Aku menoleh kearah Tiffany saat ia memanggilku. Ia mendongak keatas dan menatap langit.

“Hm?” sahutku.

“Apa kau pernah mencintai seseorang?” tanyanya.

Entah mengapa, aku merasa asing begitu mendengar pertanyaan ini—walau aku sudah cukup sering diajukan pertanyaan yang sama. Mungkin aku merasa asing karena diajukan oleh orang yang berbeda.

Wajah Tiffany tampak sangat lusuh saat mengajukan pertanyaan itu. Ia bertanya seperti itu tanpa menatapku dan seolah sedang berbicara pada langit.

“Tentu saja pernah.”

“Apa hal yang kau takutkan terjadi saat kau mencintai seseorang?”

Aku terdiam beberapa saat lalu menjawab, “Takut kehilangan dan takut jika ia menolak cintaku. Kau sendiri?”

Masih mendongak ke langit, Tiffany menjawab pertanyaanku dengan suara yang sangat pelan. “Takut jika ia mengatakan bahwa ia mencintaiku.”

Aku mengerutkan alis. “Bukankah itu hal yang bagus?”

Ia menghela napas lalu menunduk. Ia memainkan jemarinya sambil menggumam, “Kau tahu, aku pernah mencintai seseorang. Aku sangat mencintainya, sampai aku begitu ingin tahu apapun mengenai dirinya. Namun, semakin aku mengenal dirinya, aku sadar oleh satu fakta yang tak terelakkan.”

“Apa itu?”

“Ia pernah bilang padaku bahwa ia sangat menyukai hujan, tapi, ia selalu membuka payung begitu hujan turun. Ia pernah bilang bahwa ia menyukai matahari, tapi, ia selalu mencari tempat berlindung dikala matahari bersinar cerah. Ia pernah bilang bahwa ia menyukai angin, tapi, ia selalu menutup jendela rumahnya ketika angin berhembus.”

Aku melihat bulir air matanya jatuh melalui garis matanya. Aku tertegun saat melihat pemandangan itu.

“Maka dari itu..” lanjut Tiffany, “Aku takut jika ia mengatakan bahwa ia menyukaiku tapi ia malah melakukan sebaliknya.”

Entah karena malam itu memang terasa sangat sunyi dan sepi atau memang suara isak tangis Tiffany yang mulai terdengar nyaring. Aku tak tahu kisah seperti apa yang telah begitu melukai hatinya saat dimasa lalu, tapi, aku merasa bahwa aku harus menolongnya.

Nichkhun’s POV end

***

Tiffany’s POV

“Ya, ireona! Ya!”

Aku mengguncang bahu Nichkhun, berusaha membangunkannya. Tapi ia hanya menggumam dengan tidak jelas dan mengabaikanku. Aku mendengus kesal. Mulai frustasi. Dan hanya ada satu cara lain untuk membangunkan pemuda yang malas ini.

Aku beranjak ke kamar mandi dan mengambil air seember lalu kembali menghampiri Nichkhun. Lalu… BYURR!

“Argh!” Nichkhun menjerit dan tampak kaget. Ia mengusap wajahnya dan memandangiku dengan kesal. “Ya, mwoya?!”

“Aish~ Mengapa kau sulit dibangunkan, babo?” Aku melempar ember itu kearahnya dan kepalanya masuk ke dalam ember itu.

“Argh!” Ia meringis lagi.

“Ya, cepat bangun!”

Ia mengangkat ember itu dan mendengus. “Ya, kenapa aku harus bangun cepat? Aku sedang sangat mengantuk sekarang.”

Aku berkacak pinggang dihadapannya dan mendesis, “Ya, juggolaeyo? Bangun saja cepat dan segera bersiap-siap. Tadi ada yang menelepon lewat ponselmu, namanya Junsu, dan ia bilang ia punya satu lowongan pekerjaan untukmu disebuah perpustakaan kota.”

Matanya membulat. “Mwo? Junsu? Kau bicara dengannya? Kau mengangkat teleponnya?”

Aku mengangguk. “Ne, wae?”

Ia menghela napas lalu menggeleng. “Aniyo, bukan apa-apa.”

“Kalau begitu, cepat sana mandi!” teriakku kesal.

“Ne, ne, arasseo!”

Tiffany’s POV end

***

Author’s POV

“Pulanglah ke rumah dan eomma tidak akan membahas hal ini lagi,” ujar nyonya Hwang diseberang telepon. Suaranya terdengar begitu tenang dan jernih.

“Shireo,” kata Tiffany menolak. “Aku tidak akan kembali jika eomma tidak berhenti menjodohkanku dengan Byunghee!”

“Ya, Tiffany, sampai kapan kau akan berhenti membuat masalah? Oemma sangat malu dengan tertundanya pertunanganmu dengan Byunghee. Apa kau tahu betapa malunya oemma saat mereka menanyakan dimana dirimu saat pesta pertunangan itu berlangsung, huh?”

Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Terbersit rasa bersalah dihatinya, tapi egonya tetap bersikukuh. “Aku tidak peduli!” katanya, setengah berteriak. “Aku tidak akan pernah peduli dengan perasaan oemma, karena oemma juga tidak mengerti dengan perasaanku.”

“Tapi..”

Tiffany segera memutuskan sambungan telepon dan menghela napas. Ia menatap kosong pemandangan diluar beranda apartemen dan berharap air matanya tidak akan jatuh lagi. Matanya sudah cukup bengkak setelah menangisi sesuatu yang seharusnya tidak ia tangisi.

Ia menarik napas lagi dan menenangkan dirinya. Lalu saat ia berbalik, kepalanya menabrak dada bidang seseorang.

“Ya, apa kau sudah gila?!” bentak Tiffany saat mendongak dan mendapati Nichkhun berdiri begitu dekat dengannya.

“Waeyo? Ya, siapa yang menelepon tadi? Oemma mu?”

Gadis itu mendorong tubuh Nichkhun lalu berjalan menuju meja rias. “Bukan urusanmu!”

Nichkhun meletakkan handuknya ke atas tempat tidur dan mengamati wajah Tiffany melalui refleksi cermin meja rias. “Tapi, tadi itu memang oemma mu yang meneleponmu, kan? Apakah ia menanyakanmu? Ia pasti khawatir padamu karena tak pulang dalam beberapa hari. Dan…”

“Ya, bisa kau berhenti menasihatiku?” bentak Tiffany dengan nada frustasi. Ia berbalik dan menatap Nichkhun tajam. “Memangnya kau tahu apa soal oemmaku?”

Nichkhun terdiam. Ia menggaruk-garuk kepalanya dengan canggung lalu berdeham. “Baiklah, terserah kau saja,” katanya lalu berlalu dari situ.

Tiffany menghela napas saat melihat punggung Nichkhun menghilang dari balik pintu masuk apartemennya. Perasaannya sedang sangat kacau sekarang. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bersalah karena sudah membentak Nichkhun.

***

“Boleh kami pasang di mading ini?”

“Ne, tentu saja.”

Junsu melirik beberapa petugas kepolisian yang berdiri di koridor perpustakaan sambil mengantongi beberapa lembar kertas cetak. Rasanya memang cukup aneh mendapati polisi di perpustakaan. Dan hal itu mengundang Junsu untuk mendekat kearah dua petugas polisi dan seorang pustakawan yang sedang berbincang itu.

“Mengapa ia bisa hilang?”

“Bukan hilang. Lebih tepatnya, ia kabur. Begitu penjelasan yang kami terima dari oemmanya yang datang melapor.”

“Kabur? Apa yang sebenarnya sudah terjadi?”

Polisi itu menggeleng. “Kami juga tidak tahu. Aku rasa, itu privasi klien kami dan klien kami juga sepertinya tidak berniat memberitahunya.”

Pustakawan itu mengangguk. “Ah, mianhada.”

Setelah berbasa-basi sebentar, kedua polisi itu berpamitan dan langsung pergi dari perpustakaan itu. Sementara si pustakawan juga sudah kembali masuk ke perpustakaan. Hanya ada Junsu seorang diri dikoridor yang sepi itu.

Pemuda itu merangkak dengan hati-hati kearah mading yang ada disamping pintu masuk perpustakaan. Junsu tak bisa mengatakan bahwa mading itu benar-benar sebuah ‘mading’ karena bukan hanya info-info tentang karya-karya sastra yang ada disana, melainkan brosur-brosur juga ada disana. Mading itu lebih mirip papan iklan ketimbang mading.

Junsu melihat selembar kertas putih dengan foto seorang gadis diatasnya. Ini pasti kertas yang ditempel oleh polisi-polisi tadi, batinnya. Sangat mudah untuk mengenalinya karena masih ada bekas basah oleh lem dimasing-masing sudut kertas cetak itu.

“Hwang Miyoung, 162 cm, kulit kuning langsat, dan terakhir kali terlihat tanggal 4 Maret.” Junsu membaca semua keterangan yang tertulis dikertas cetak itu dengan hati-hati.

Ia mengusap dagunya dengan pelan dan bergumam, “Kenapa ia harus sampai kabur dari rumahnya?”

Author’s POV end

***

Nichkhun’s POV

“Dimana chingumu bernama Junsu itu?” tanya Tiffany sambil menarik-narik ujung jaketku.

Aku memandangi sekelilingku dan mencari-cari sosok Junsu diperpustakaan itu. Tapi aku tak menemukannya dimana-mana, sampai akhirnya aku terkejut saat seseorang menepuk bahuku dari belakang.

“Khunnie!”

Aku berbalik dan tersenyum saat melihat Junsu. “Ya, kau hampir saja membuat jantungku copot!”

Ia tertawa kecil. “Mianhae, mianhae.”

“Oh ya, jadi, bagaimana tentang lowongan pekerjaan yang kau bicarakan itu?”

“Ah, soal itu…” Junsu berhenti melanjutkan ucapannya saat matanya bertemu dengan sosok Tiffany yang berdiri tepat disisi tubuhku.

“Ya, Junsu!” pekikku.

“Ah? Mianhae, mianhae.” Tingkahnya terlihat sangat aneh dan gugup. “Khunnie, apakah ia gadis yang mengangkat teleponku pagi tadi?” tanyanya sambil melirik kearah Tiffany.

Aku melirik Tiffany sekilas lalu mengangguk.

“Jadi.. Dia.. Adalah..”

“Jangan salah paham, Junsu,” sergahku. “Kami hanya berteman. Kebetulan tadi pagi ia memang datang ke apartemenku dan saat kau menelepon aku sedang mandi jadi dia yang mengangkat teleponmu. Benar, kan?”

Saat aku menoleh kearah Tiffany, ia memberiku tatapan tajam. Aku segera merangkul pundak Tiffany dan mengusapnya.

“Ia sedang datang bulan, jadi tempernya kurang baik hari ini,” kataku sambil tertawa gugup, berusaha mengendalikan situasi.

Junsu mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum. Matanya masih tak bisa lepas dari Tiffany. Seolah ia baru saja melihat seseorang yang ia kenal, tapi bisa kupastikan mereka belum pernah bertemu sama sekali, karena tingkah Tiffany tetap dingin-dingin saja saat bertemu dengan Junsu.

“Jadi, bagaimana soal pekerjaan yang kau maksud?” tanyaku pada Junsu.

Junsu tersadar dari lamunanya dan segera beralih kearahku. “Ah, soal pekerjaan itu. Aku dengar perpustakaan ini membutuhkan seorang karyawan. Aku pikir kau bisa mengajukan permintaan pekerjaan disini.”

Aku mengangguk. “Ne, kalau begitu, dimana aku bisa mengajukan permintaan?”

Junsu menunjuk sebuah ruangan yang ada disudut perpustakaan. “Disana ruangan kepala pustakawan disini. Kau bisa bicara dengannya. Aku akan menemanimu.”

Nichkhun’s POV end

***

Junsu’s POV

Sementara aku memerhatikan Nichkhun menuliskan biodatanya untuk bekerja sebagai karyawan diperpustakaan ini, aku diam-diam mencuri-curi pandang kearah gadis yang bersama Nichkhun tadi. Gadis itu tengah mondar-mandir didalam perpustakaan sambil melihat-lihat deretan buku yang ada disana.

“Ya, Khunnie,” panggilku.

“Hm?” sahutnya tanpa menoleh.

“Apa kalian tidak mempunyai hubungan apapun?” tanyaku.

Nichkhun mengangkat wajahnya dan menatapku. “Aku tidak mengerti.”

“Maksudku, kau punya hubungan apa dengan gadis itu?” Aku menunjuk gadis itu.

“Bukankah aku sudah bilang bahwa kami hanya berteman?”

“Tapi, apa kau yakin hubungan kalian hanya sebatas itu? Sebab, kulihat wajahnya terlihat kesal saat kau mengatakan padaku bahwa kalian hanya berteman. Jangan bohong padaku!”

“Aish~ Tentu saja aku tidak berbohong,” katanya. “Aku memang tidak punya perasaan padanya dan dia juga sebaliknya. Jadi, kami hanya berteman.”

“Aku tidak yakin,” sahutku.

Nichkhun kembali melanjutkan pengisian formulirnya dan menggumam, “Terserah kau saja kalau begitu.”

Aku terdiam lalu kembali memerhatikan gadis itu. Bukan hanya sekedar bingung dengan hubungan macam apa yang dimiliki mereka berdua—aku tidak percaya bahwa mereka hanya berteman—tapi aku juga merasa pernah melihat gadis itu. Tapi, entah dimana.

Junsu’s POV end

***

Tiffany’s POV

Aku melipat kedua lenganku diatas dada sambil memandangi Nichkhun berdiri didepan jendela. Ia tengah sibuk merapikan rambutnya melalui refleksi jendela perpustakaan itu. Begitu ia melirikku melalui refleksi itu, ia segera berhenti merapikan rambutnya dan berbalik badan.

“Kajja!” katanya lalu berjalan maju.

Aku segera menarik bagian belakang rambutnya dan mencegatnya. Ia menjerit kecil dan mundur beberapa langkah tepat dihadapanku.

“Ya, aku butuh dua puluh menit untuk merapikan rambutku!” pekiknya kesal.

Bukannya melepaskan cengkeramanku dianak rambutnya, aku menariknya semakin keras dan membuatnya meringis lebih keras.

“Kau bilang ‘hanya berteman’, huh?! ‘Hanya berteman’? Juggolae?!”

Nichkhun terus meringis dan memegangi tanganku, mencoba melepaskan cengkeramanku.

“Ya, lalu kau ingin aku mengatakan apa pada Junsu? Bukannya hubungan kita memang tidak jelas?”

Seketika tanganku yang mencengkeram anak rambutnya segera mengendur saat mendengar ucapannya barusan. Dan setelah aku benar-benar melepaskan cengkeraman itu, ia merapikan rambutnya dan menatapku dengan kesal. Mata kami bertemu cukup lama. Aku tahu ia sedang menungguku untuk bereaksi, tapi aku benar-benar tidak mengeluarkan sepatah katapun saat itu.

Karena mulai merasa tidak nyaman ditatapi seperti itu, aku berjalan mendahuluinya didepan.

“Ya, Tiffany!” teriaknya.

Aku berhenti melangkah lalu membalikkan badan. “Lusa nanti aku ulangtahun. Dan aku harap, kau mempunyai kejutan untuk ulangtahunku lusa nanti,” kataku lalu melanjutkan langkahku.

To be continued…

118 thoughts on “Sticking With You (Part 3)

  1. Karakternya Fany parah banget disini haha lucu. Khun jg pasrah gitu. Kyknya Ppany udah mulai suka tuh, tp Khun-nya msh cuek gitu…kkkk~ 😀

  2. Haha mereka berdua emang bener-bener kocak parah! Menurut aku karakter Tiffany masih belum jelas, masih abu-abu belum ketara jelas gimana sifatnya dia. Makin kesini aku makin suka ceritanya! *kaburbacanextchapter* J

  3. eomma fanny maksa bgt sih mau jodohin fanny sma byunghee.
    suka sma karakter tiffany yg blak2 dan keras kepala

  4. tiffany sifatnya bner2 deh sulit di mengerti, kliatan egois dn keras kepala.. kkkkk~
    nichkhunnya kok penurut bnget yah? walopun udah di begituin mulu ma pphany? kkkk~
    next part

  5. kenapa omma fany kekeh bnget sih mau jdhin fany ama byunghee..mending sama khun, tapi khun kyanya gak suka fany heh…ada yah ya ulang tahun minta kejutan haha

    -khunfany REAL-

  6. Junsu mulai curiga sma fany! Dia kn udh liat poto orang hilang yg dimading yg pastinya itu si fany sndri… hadeuhhh bakal dilaporin nih kayanyaa

    Fany berharap dpet kejutan dri khun yaaa hayoo hahahaha kayanya udh mulai ada rasa nih

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s