First Love (Not SongFict)

Title : First Love (Not SongFict)

Author : AltRiseSilver

Cast : Han Taerin (OC), Seseorang yang akan kamu ketahui di endingnya^^

Genre : Fluff, Romance

Rating : General

Disclaimer : Kenapa judulnya not songfict? karena eh karena *plak* aku pernah bikin Songfict dengan judul yang sama, niatnya FF kali ini dibikin songfict tapi karena feelnya ga dapet akhirnya aku bikin ficlet aja wehehe dan karena disini ga ada ficlet, jadinya aku jadiin drabble aja *jadi maunya apasih?* wehehehe gausah banyak ngomong lagi.. silahkan dibaca^^

Backsound : First Love – Eunhyuk & Donghae Super Junior

Suara lembut Donghae Super Junior terdengar mengalun ditelingaku, hujan deras yang membasahi bumi saat ini seakan tidak ada pengaruhnya bagi kulitku. Aku melonggarkan jaketku sedikit, bintik-bintik air turun membasahi kaca bis yang aku tumpangi. Aku mendesah pelan.

I’m your only oppa

You’re my only girl

I will always be by your side

I’m your only oppa

Our love is so sweet

Oppa will only love you

Lirik lagu ini menguapkan kenanganku bersama seseorang yang dulu selalu mengatakannya padaku. Seseorang yang sejak enam tahun ini selalu kurindukan tanpa aku tahu apa dia merindukanku atau tidak. Tapi, aku tidak peduli, bagiku tetap memikirkannya dan merindukannya adalah kebutuhanku.

Hujan deras telah mereda perlahan namun bintik-bintik dikaca masih terus turun tertiup sapuan angin bis. Sebuah pertanyaan menyelip di otakku. Kenapa?

Hanya itu, hanya itu pertanyaan yang bisa ku katanyakan pada diriku sendiri. Lagi-lagi aku hanya mendesah ringan. Lantunan lagu ini masih terus berputar lembut di telingaku dan ingatan tentang kisah kami masih terus berputar seperti film di kepalaku.

6 tahun lalu, saat semuanya belum sesulit ini.

6 tahun lalu, saat kami masih bisa berkomunikasi setiap saat.

6 tahun lalu, saat aku dan dirinya bisa bergandengan tangan didepan banyak orang

Dan 6 tahun lalu, saat dirinya berjanji akan selalu menjadi dirinya sampai kapanpun.

Mengingat itu semua membuat sunggingan senyum menghiasi wajahku. Aku tidak peduli, aku tidak peduli walau sekarang orang-orang di bis memandangiku heran. Aku tetap tidak peduli, aku ingin kenangan kami terus berputar diotakku saat ini.

Jakarta-Seoul.

Dua kota yang sama-sama sibuk, sama-sama menjanjikan kehidupan dan sama-sama mempunyai kenangan untukku.

Lagi-lagi aku mendesah, mengeluarkan asap putih dari hidungku. “Kenapa harus semacet ini?” gumamku saat memandang ke arah depan dan mendapatkan antrian mobil yang panjang.

Aku memalingkan wajahku lagi ke kaca disebelahku, aku tak lagi memikirkan pria itu. Aku benar-benar bisa dianggap gila kalau terus memikirkannya di depan umum seperti ini.

Aku merogoh kantung celanaku dan mengambil ponselku, mencari playlist lain yang tidak membuatku terpaku pada kenanganku.

Aku memandang wallpaper ponselku, masih ada foto dirinya 6 tahun lalu terpajang disana. Aku tersenyum, ku usap perlahan mengikuti lekuk wajahnya. “Kau harus bertanggung jawab atas semua kerinduan ini Oppa,” bisikku pada fotonya kemudian memasukkannya kembali kedalam kantung celanaku lagi dan mulai menikmati pemandangan kota Jakarta yang selalu sama setiap harinya.

Pikiranku menerawang lagi, entah kenapa dia benar-benar membuatku tidak bisa berhenti berpikir tentangnya. “Kau sedang apa ya disana? Sesibuk itukah hingga tidak menghubungiku?” batinku sambil menunduk. Awan mendung yang tadi hinggap di bumi Jakarta perlahan tergantikan sinar matahari yang menyilaukan mata.

Aku mulai beranjak dari dudukku, sebentar lagi bis akan berhenti di halte tujuanku. Aku menghampiri pintu saat bis berhenti lalu turun perlahan dari sana.

Aku berjalan menuju kampusku tanpa berhenti mengulang semua kenangan tentangnya. “Taerin.”

Ah bahkan aku masih mengingat suaranya saat memanggil namaku. Aku terus berjalan perlahan menuju kampusku. “Taerin.” Lagi-lagi kudengar suaranya yang sama persis seperti 6 tahun lalu, aku menggelengkan kepalaku cepat agar suara-suara itu tidak terdengar lagi ditelingaku.

Tiba-tiba aku merasa seseorang menyentuh pundakku dan membalikkan badanku lalu mencopot kedua headset di telingaku. Mataku terbelalak, orang yang menjadi tokoh utama daya khayalku beberapa detik yang lalu kini sudah tepat berada dihadapanku sembari tersenyum.

Aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku lagi. Ku tabrakkan badanku memeluknya kencang, tangisku pecah karena kerinduan yang terlalu lama kupendam sendirian kini menguak dan tak mampu kucegah.

“Jangan menangis, dasar gadis cengeng,” ejeknya sambil membalas pelukanku dan mengelus pelan rambutku.

“Kau jahat! Kau jahat!” kataku setengah menjerit dipelukannya sambil sesekali memukul punggungnya, kudengar suara tawanya. “Aku tahu, pukul aku sepuasmu kalau begitu,” ucapnya.

Aku melonggarkan pelukanku dan memandanginya.

“Aku tidak mau memukulmu, aku ingin menghukummu,” ucapku membalas perkataannya. Dia memandang mataku, tatapan yang memang tidak pernah berubah sejak dulu. “Apa hukuman untukku?” tanyanya seperti mulai tertarik pada perkataanku.

Aku mengusap sisa airmataku di pipi sambil memutarkan bola mataku, memikirkan hukuman apa yang tepat untuk kerinduanku selama ini.

“Jangan tinggalkan aku lagi,” ucapku sambil memeluk tubuhnya yang besar sekali lagi. Dia mengelus kepalaku lagi.

“Kau merasa aku meninggalkanmu?” tanyanya lembut, aku mengangguk.

“Aku tidak pernah begitu sayang,” bantahnya. Aku menggeleng. “Tapi, aku kesepian selama tanpamu disampingku,” ucapku. Dia menghentikan elusan tangannya di rambutku kemudian melonggarkan pelukan kami. “Kalau begitu jangan rasakan aku disampingmu mulai sekarang tapi, rasakan aku ada dihatimu agar kau tidak merasa kesepian lagi.”

Aku tersenyum. Kalimat sederhana yang membuatku merasa bersalah karena terlalu menyalahkannya selama ini.

Mianhe Oppa,” ucapku penuh rasa penyesalan. Dia hanya tersenyum dan membelai wajahku. “Jangan menangis lagi ya, jangan menangis lagi hanya karena seorang Shindong,” bisiknya ditelingaku. Aku tersenyum, tidak menggeleng atau menganggukkan kepala saat mendengar permintaannya itu.

Aku rasa dia akan menyesal kalau suatu saat nanti aku tidak menangisinya lagi, kami masih saling berpandangan. Kerinduan yang tadi kurasakan benar-benar menguap ke udara dan tenggelam dalam senyumannya yang ceria.

Dia meraih tangaku dan menggenggamnya erat, menautkan jemari kami dalam genggaman yang hangat.

Sepertinya aku harus berterimakasih pada hujan hari ini, aku kembali tersenyum dan mengikuti langkahnya. Semua mata memandangi kami iri, sama seperti 6 tahun yang lalu namun kali ini mereka tahu siapa yang menggandeng tanganku mesra.

The End.

No Silent Reader. No Plagiator

7 thoughts on “First Love (Not SongFict)

  1. Itu shindong ? Jinjja ?? Padahal di bayang2 ku aku kira eunhyuk tp kalo kali ngomong aku bayangin nya zhoumi. Waaah meleset aku hahaha , pas tau shindong aku gk berenti ngakak XD

    Daebag eonni , aku suka kata-kata nya . Apalagi ngebayangin nya~ ^^

  2. Hahahaha. Lucu. Shindong? 😀
    tp gapapa. Dia kan baik. Kerenn. Aku sampai bingung ngebayanginnya ><

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s