I’m The Last

Author : Awsomeoneim

Genre : Romantic

Cast :

Main Cast :

ü  Jo Kwang Min {Boyfriend}

ü  Go Liu Ra (you)

Figuran :

ü  No Min Woo {Boyfriend}

ü  Myung Je (OC)

Annyeong Haseo Yeorobun!! ^_____^ Hari ini author ulang tahun, itu sebabnya author kasih kalian FF ini untuk merayakannya~

| Reader : Ngga butuh thor!! | Author : *Nangis ke pelukan bias reader* | Reader : Siapin minyak sama korek api |

v So, nikmati, keep reading, and Keep comment! \^_____^/

AWAS!! JIKA ADA YANG BERNIAT MEMPLAGIAT, AYO LOMBA MAKAN CABE KRITING SAMPE RAMBUT KRITING LAWAN AUTHOR!!

Dini Hari, Kamar Tidur, 15 Maret 2012

Aku masih termenung menatap layar netbook. Hanya pandanganku yang ada di sana, pikiranku sudah terbang nun jauh ke kilatan masa lalu yang selalu setia berada di bagian memori kehidupanku.

Ada satu hal, yang sebenarnya tidak terlalu besar, terjadi. Sebuah hal yang simple, yang mungkin membuat orang lain berfikir aku ini berlebihan.

Tiba-tiba aku menguap dan itu membuatku tersadar dari lamunan senduku, lalu aku melihat jam yang tertera di LCD, Oh, sudah pukul 01.00 AM ternyata. Pantas saja aku mengantuk.

Aku merenggangkan badanku yang sedaritadi berposisi sama selama 5-10 menit. Sebelum melog-out akun facebookku, pesan itu kembali terlihat. Sebelum aku kembali melamun, aku cepat-cepat menutup aku facebook lalu mematikan Netbook.

Sudah cukup. Aku tidak boleh memikirkannya lagi. Aku harus menghentikan perasaan ini. Aku yang sudah memutuskan untuk keluar dari hidupnya. Aku yang memutuskan untuk melepaspaksa dia, namja chingu, cinta pertamaku.

Pagi Hari, Pukul 06.30, SMA Younjin, 15 Maret 2012

Keesokan paginya, aku sudah berjalan menyusuri koridor sekolah.  Aku sedang memikirkan seorang namja. Tapi bukan namja yang membuatku melamun lama di depan Netbook tadi malam. Ia.. seorang yang menurutku berhasil mencuri perhatianku akhir-akhir ini.

Ketika asyik memikirkan namja itu, suara yang familiar terdengar tidak jauh dariku. Aku mengalihkan perhatian yang dari tadi terpaku pada keramik lantai koridor kehadapanku.

Dia ada di sana! Sedang asyik bicara dengan seorang temannya, sesekali ia tertawa dan tersenyum. Taukah dia betapa pun tipisnya senyum yang ia perlihatkan tetap bisa membuat hatiku girang dan meletup-letup hebat?

*kira-kira seperti inilah ekspressi namja yang dilihat Liu Ra*

Ah, aku harus segera ke kelas, tidak enak kalau memandanginya terus seperti stalker. Aku menggigit bibir bawahku dan mempercepat langkahku setelah berhasil melewatinya. Dari sudut mataku tampaknya ia tidak melihat ke arahku, melirik saja sepertinya tidak..

Hufft, tidak taukah dia ini hari special untukku? Padahal aku sangat mengharapkan ucapan selamat darinya. Walau hanya sebagai teman. Sebagai teman saja.. aku tidak berharap yang lebih kok.

Sudahlah, ia pasti tidak tau. Tanggal ulang tahunku pasti tidak penting baginya. Oiya, aku kan bukan siapa-siapanya. Hanya teman. Itu pun tidak dekat. Heah.. kenapa aku terlalu berharap begini sih? Aku menjitak pelan kepalaku menyadari betapa konyolnya harapanku. Lalu dengan menghela nafas berat, aku memasuki kelasku.

Jam Istirahat,  09.45, kelas X5, 15 Maret 2012

Saat istirahat aku hanya diam di kelas. Tadi pagi secara serentak teman-temanku memberikan surprise, ucapan selamat ulang tahun, dan tart white forest yang sangat lucu. Tentu saja hal itu membuatku terpaksa harus mengganti suasana dan ekspressi wajahku sedrastis mungkin, demi menghargai mereka.

*Birthday cake from X5 Member for Go Liu Ra*

Kini sambil duduk aku berkutat dengan ponselku. Membuka akun twitter, disana terdapat mention dari teman-temanku yang isinya ucapan selamat ulang tahun. Lalu ganti aku membuka akun facebook, Sejujurnya aku berdebar.. apakah ia sudah mengirimkan ucapan selamat?

Aku membuka dinding facebook, tapi seberapa banyak aku mencari.. tidak ada kiriman darinya. Kecewa? Ya, begitulah. Aku mendengus sebal lalu setengah membanting ponselku ke meja setelah keluar dari aplikasi laknat itu *peace*

“YYA! Kenapa yang ulang tahun malah berwajah suram begini?” Suara ceria Myung Je masuk ke telingaku setelah suara bantingan ponsel.

“Aniyo.. gwenchana,” jawabku singkat dan sebuah senyuman kusunggingkan untuk membuatnya percaya.

“Aigoo~ Neo geotjimalyo.. Aku tau, kau pasti menunggu ucapan dari Kwa…akh!” Kupastikan ia meringis kesakitan sebelum menyelesaikan kalimatnya. Ia memandangku sebal bukan main.

“Save my pride, please?” balasku terhadap pandangannya barusan.

“Ne, mianhe! Keurom.. kau tidak perlu menendang tulang keringku sekeras itu! Cukup cubit tanganku atau apa kan bisa?!” Myung Je masih menatapku dengan tatapan mematikan walau ada permintaan maaf di dalam kalimatnya barusan.

“Mungkin akan kulakukan itu lain kali, tadi reflek,” ujarku cuek.

Ia masih saja sesekali mengelus kaki kanannya, dan aku jadi gusar, “YYA! Memangnya sesakit itu huh?”

Aku segera keluar dari bangkuku dan berlutut melihat kakinya. Agak merah, dan mungkin besok akan jadi biru / ungu =_=V

“Aish.. aku tidak sangka akan jadi seperti, naikkan kaus kakimu agar tidak terlihat oleh anak lain. Sekarang kau kutraktir apa saja sepuasmu,” ujarku lalu bangkit dari kegiatan berlututku barusan, “Sebagai permintaan maafku.”

“Jinjayo? Jinjayo? Jinjayo?” Entah sejak kapan Myung Je memiliki pandagan yang bling-bling seperti ini..

“Ne, cepat atau tidak sama sekali!” Aku mengambil ponsel lalu berjalan duluan keluar kelas.

Kudengar ia berteriak sebelum mengikuti langkahku, “YYA! Diktator,  tunggu aku!!”

Siang Hari, 13.30, 15 Maret 2012

Sepulang sekolah, aku masuk kekamar dan pandanganku langsung menuju ke netbook yang tergeletak di atas eja belajar.

Aku menimang-nimang akan online atau tidak. Aku sangat ingin segera mengecek apakah pesan dinding dari orang yang sangat kutunggu sudah ada. Tapi mengingat tadi kejadian tadi pagi dan saat istirahat langsung membuat semangat tempurku runtuh (?)

Aku berbalik dan memutuskan untuk berganti baju lalu makan siang saja, karena aroma masakan umma tercium lebih menggoda dibanding aroma kekecewaan yang akan segera kudapatkan jika aku online, sepertinya.

Malam hari, 19.00, Ruang Makan, 15 Maret 2012

Akhirnya saat makan malam tiba. Ayah baru pulang dari kantor dan beliau meberiku sebuah bingkisan saat aku, umma dan unnie serta oppaku makan malam. Setelah kubuka, ternyata hadiahnya adalah sebuah Camera Ferarri berwarna merah! Wah~ Appa sangat tau kalau aku suka warna merah!!

*Kado dari Appa Liu Ra -> hasselblad_ferrari*

Umma memberikan 7 bingkisan setelah kami selesai makan malam. Ada kado dari umma, unnie, oppa, ajusshi, ahjumma, halmoni dan haraboji. Dengan semangat baja aku segera membukanya satu persatu. Setelah sesi buka kado, aku memboyong barang-barang itu ke dalam kamar.

Saat melihat netbook, hatiku langsung campur aduk. Antara perasaan kesal terhadap namja yang jadi orang pertama yang mengucapkan selamat padaku, dan namja lain yang kutunggu ucapannya namun sampai saat ini belum juga muncul.

‘DLING DLING DLING’

Ponselku menampakkan sebuah pesan, dari temanku yang bernama No Min Woo,

‘Go Liu  Ra, kau akan datang jam berapa di acara Api Unggun malam ini? Kami sudah menunggumu. Oiya, jangan lupa untuk minta izin kepada orang tuamu sebelum berangkat 🙂 ’

Ah, aku lupa kalau ada kegiatan ini, padahal wali kelasku baru saja mengumumkannya tadi pagi di kelas! Aigoo~ ini pasti karena aku terlalu memikirkan namja sialan itu!

‘Mungkin sekitar pukul 7.30 PM. Tidak apa-apa kan?’ [sent to : No Min Woo]

Sambil menunggu balasan Min Woo, aku menyiapkan apa saja yang akan kubawa di tas selempang kecilku.

[received from : No Min Woo] ‘Gwenchana.. acaranya akan dimulai pukul 8 PM kok. Kalau begitu akan kusuruh Kwang Min menjemputmu segera. Tunggu dia ya 😉 ’

AIGO!! Apa-apaan si Min Woo ini?! Kwang Min yang akan menjemputku? Lihat, dia juga pasang emoticon WINK di akhir pesannya.. Licik sekali dia!

‘Hey, Min Woo! Kenapa malah Kwang Min kau suruh huh? >:/ tidak adakah yang lain? ’ [sent to : No Min Woo]

Aku mendengus sebal. Agak senang juga sih. Tapi, ayolah… Masa aku harus berboncengan dengan Kwang Min? Pasti akan canggung sekali. Padahal aku berharap bisa melupakannya sejenak di acara ini.

[received from : No Min Woo] ‘Karena dia baru datang, dan sudah tidak ada pekerjaan yang bisa dia kerjakan di sini. Makanya daripada dia nganggur, kusuruh saja menjemputmu. Otte? Gwenchana?’

Aish.. aku tidak bisa apa-apa kalau begini~ Menolak juga akan sangat mencurigakan. Toh dia hanya akan menjemputku. Lebay sekali kau Liu Ra!

‘Ne, gwenchana. Kami akan segera tiba di sana , ’[sent to : No Min Woo]

Tepat saat pesanku terkirim, terdengar suara umma memanggilku. Beliau bilang ada teman yang menjemputku. Mampus kau Liu Ra! Dia sudah tiba!! Otohke, ottohke? Jantungku berdegup ribuan kali lebih cepat.

1..2..3.. Kutarik nafas dalam-dalam, lalu kuhembuskan.. Rilex Liu Ra.. Rilex~ Tidak akan terjadi apa-apa. Jantungmu tidak akan copot kok! Cukup pakai helm yang ia sodorkan, naik ke motornya, turun, ucapkan terima kasih, berikan kembali helmnya, selesai! Yak, itu lah scenario yang kubuat untuk menghadapi Kwang Min.

Aku berjalan mendekat untuk pamit kepada ummaku. Lihat, apa yang dilakukan ibuku? Dia sudah menyuruh Kwang Min masuk! Dia sedang duduk tenang di sofa kami. Aish, umma iseng sekali! Oh, tidak kurasa… karena itu tata krama yang tepat dalam memperlakukan tamu.

Aku tersenyum kecil kearah Kwang Min saat ia menoleh padaku dan memberikan sebuah senyuman tipis. Umma membisikkan sesuatu di telingaku sebelum aku berjalan keluar menyusul Kwang Min, “Namja chingumu tampan sekali, Liu Ra~”

Setengah menjerit aku membantah hal itu, dan umma hanya terkekeh geli melihat reaksiku. Ampuuun.. aku apes sekali hari ini.. Aku harap Kwang Min tidak aneh-aneh selama di perjalanan. Eh? Aneh-aneh bagaimana.. dia saja sangat dingin kepadaku tadi pagi. Jeezzz sepertinya otakku perlu di service secepatnya!

Malam Hari, Tempat Berkumpul, 19.30, 15 Maret 2012

Selama di perjalanan, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut kami berdua. Ia menyetir motornya dengan kecepatan sedang, jadi aku merasa nyaman. Sesampainya di tempat tujuan, aku melanjutkan scenario yang sudah kusiapkan tadi.

“Gomawo Kwang Min-ah,” ujarku sambil mengembalikan helm yang kupakai kepadanya.

“Mm~ Cheonma,” ia melepas helmnya, lalu menerima uluran helm dariku tanpa melihat ke arahku, lalu meletakkannya di tempat ia juga meletakkan helmnya.

*Motornya Kwang Min -> YamahaYZF-R152*

“Aku duluan ke sana, ya.” Pamitku, walau sebenarnya ini tidak penting, tapi entah kenapa rasanya tidak sopan jika tiba-tiba saja pergi tanpa mengucapkan speatah katapun pada seseorang yang sudah mengantarkanku.

“Mm, silahkan,” ia memandangku sekilas lalu berjalan kearah lain, yang bersebrangan dengan tujuanku.

Lihat, dia saja mengacuhkanku. Bagaimana bisa aku mengharapkan ucapan ulang tahun darinya? Itu tentu saja tidak penting baginya.

Aku mendengus kecil sambil berjalan gontai ketempat api unggun. Kulihat Myung Je berdiri tidak jauh dariku, dan ia segera berlari menghampiriku setelah melihat aku berjalan ke arahnya.

Aku membalas pelukannya, dan berjalan bersamanya. Kulihat ia menengok sebentar ke belakang lalu melihat ke arahku.

“Ada apa?” tanyaku.

“Kau datang kemari dengan Kwang Min, Liu Ra?” ia bertanya dengan mata yang sudah sebesar bola bekel.

“Ne..” aku memainkan ponselku, berusaha mengalihkan ingatankudari cold scene yang baru saja terjadi.

“Mwo? Guraeyo? Waaa kau pasti senang sekali!!” makhluk di sampingku ini sudah jingkrak-jingkrak tidak karuan, dan aku menatapnya dengan bingung.

“Min Woo yang menyuruhnya menjemputku, jangan berpikir yang macam-macam!” Aku memberikan deathglare di akhir kalimatku, karena aku melihat ia nyengir setan sambil memandangku. Itu tandanya ia akan segera melakukan ide aneh yang akan menjatuhkan harga diriku #lebay

Akhirnya senyum setannya itu hilang seketika setelah mendapat deathglareku. Ia malah merangkulku untuk segera bergabung dengan teman-teman lainnya.

3 jam 50 menit sudah berlalu, sekarang sudah pukul 11.50 PM. Acaranya akan selesai pukul 12 PM, dan dihadapan kami masih ada beberapa siswa yang menampilkan bakatnya. Ya, ini adalah acara adu bakat se-kelas X, dan kebetulan berbarengan dengan tanggal ulangtahunku. Jadi, kuanggap sebagai perayaan ulang tahunku sekalian.

Kulihat di seberangku, Kwang Min tampak sangat menikmati acara ini. Sesekali ia tertawa dan bercanda dengan temannya. Sering kali kulihat ia tersenyum dan tertawa. Tidak ketika sedang bersamaku, apalagi waktu kami sampai. Wajahnya seperti pahatan patung yunani… Begitu indah, tapi kaku dan dingin.

Malam Hari, Kios Minuman, 23.55, 15 Maret 2012

Aku merasa haus, dan aku segera beranjak menuju tempat penyimpanan minuman ringan yang ada di dekat gerbang masuk. Aku sedang memilih-milih minuman ketika kurasa seseorang sedang berdiri di dekatku.

Kwang Min! Dia sudah berada di sampingku… apakah ada sesuatu yang akan dia katakana? Errr, tidak tidak tidak!! Mungkin ia juga sedang haus. Aku harus segera menghapus imajinasi konyolku itu jika tidak ingin kembali badmood. Sudah tau tidak ada harapan kenapa aku masih saja…begini.

Setelah mendapatkan minuman yang kuinginkan, aku segera minggir untuk member kesempatan untuk Kwang Min memilih minuman. Tapi ia malah meraih pergelangan tanganku dan menahannya.

“Eh, ada apa Kwang Min?” tanyaku kaget sekaligus juga gugup.

“Err..” ia tampak meutar bola matanya, baru kembali menatapku, “Liu Ra ssi” kalimat yang ia lontarkan hanyalah menyebutkan namaku.

Aku jadi bingung. Eh, dia kenapa jadi aneh begini? “Ne?” kujawab saja kalimatnya yang seperti panggilan itu.

Malam Hari, Kios Minuman, 23.59, 15 Maret 2012

“Saengil Chukae Hamnida, Liu Ra ssi. God Bless you, and Wish You All The Best,” ia tersenyum pasti di akhir kalimatnya.

*Kwangmin’s Smile at that time*

Aku membeku untuk beberapa saat, otakku masih butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa ini bukan khayalanku saja. Lalu yang harus kulakukan..apa yang harus kulakukan? Aduh, kenapa kau jadi sangat bodoh di saat seperti ini, sih Liu Ra?!

“K..Kamsahamnida, Kwang Min ssi,” ucapku pelan dan agak terbata.

“Ne, Cheonmaneyo~” ia kembali tersenyum hangat. Apakah ini benar-benar Kwang Min? “Ah ini kado untukmu,” ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah yang dibungkus dengan kantong merah.

Aku menerima kantong itu, “Kamsahamnida,” sepertinya yang ada di otakku hanya kata ‘kamsahamnida’ saja saat ini ==”

“Bukalah..” ujarnya saat aku menatapnya bergantian dengan kantong yang kini ada di tangan kananku.

Aku meletakkan minumanku, lalu membuka kantong serut itu, mengeluarkan isinya dan jatuhlah sebuah gelang berliontin (?) putih seperti potongan puzzle ke telapang tanganku. Aku tertegun menatap gelang yang ada di genggamanku.

*Ini sebenarnya kalung, tapi Author modifikasi jadi gelang #plakkkk*

“Liu Ra ssi, would you be my girlfriend?” suara berat dari namja di hadapanku kini membuatku hampir meledak jika saja bisa.

Aku beberapa kali harus mengerjapkan mataku, menyadarkan diriku, kurasa.. aku sedang berada di alam bawah sadar lagi. Sepertinya aku berimajinasi lagi!

“Mianhe for being cold to you this whole day. Aku.. aku hanya merasa sangat gugup jika melihatmu. Makanya aku berusaha menghindari kontak mata denganmu, mianhe Liu Ra ssi~” ia menjawab semua pertanyaan yang sebenarnya menjadi kunci utama keraguanku dengan pernyataan cintanya itu.

“Mm… okay, I want to be your girlfriend, Kwang Min ssi,” entah apa yang merasukiku, aku bisa sangat lancar mengatakan hal itu!!

“Kuraeyo?” Kutatap Kwang Min yang sedang menatapku dengan penuh tanda tanya.

Sebegitu meragukannya kah aku? “Ne,” jawabku singkat disertai anggukan kepala.

Kemudian, bersamaan dengan terdengarnya kata “Kamsahamnida, eh maksudku Gomawo,” dari mulut Kwangmin, sebuah pelukan mendera tubuhku. Ya tuhan… Benarkah? Benarkah aku tidak bermimpi??

CHUKAEEEE MinRa COUPLE!!” Tuhan menjawab pertanyaanku dengan suara sorakan anak kelas X yang ternyata sudah berada di dekat kami berdua. Mereka pasti sudah menonton mengintip adegan awkward itu tadi! Aigooo~ Pasti wajahku sudah sangat merah >___< umma ottohke??

EPILOG

K : Liu Ra, bolehkah aku bertanya sesuatu?

L : Hm, tentu. Apa itu Kwang Min-ah?

K : Apakah aku orang terakhir yang memberimu ucapan Selamat Ulang Tahun?

L : Mm..Ne, kau orang paling terakhir hari itu.

K : Ah~ ternyata aku berhasil menjadi yang paling terakhir yang memberimu ucapan Selamat Ulang Tahun.

L : Kenapa kau tampak senang sekali?

K : Bukan tampak.. Tapi aku memang senang sekali ^^

L : Hm? Bukannya kau harusnya senang bila jadi yang paling pertama menjadi orang yang memberiku ucapan?

K : Aniyo~ Aku lebih suka menjadi yang paling akhir.

L : Waeyo?

K : Karena aku ingin jadi cinta terakhirmu yang kau cintai sampai akhir. ~CHUU~

Hanya ada 2 orang yang akan sangat kamu ingat di hidupmu. Yaitu mereka yang menjadi Cinta pertama & yang menjadi Cinta terakhirmu.

 

Maaf ya kalaulah ini FF GJ, ngga menarik, flat, ngga ada masalah yang terlalu serius, dll.

Tapi seburuk apapun FF ini, I beg you Guys for Leaving your Comment & Idea, Pleaseeeee~~~~

BE A GOOD READER, PLEASE!!

>/\<

29 thoughts on “I’m The Last

  1. Saengil chukae hamnida^^ #prok prok prok.

    Curiga ni, jgn2 selain ultah, perasaan yg liu ra rasakan sbnrnya sm dgn perasaan pribadi sang author ya ya ya? Hehe

  2. Aduh .. So sweet !! Ceritanya bikin akku senyum2 sendiri. Andai ajja aku punya cerita hidup kayak gitu, u.u.u ! Bahagianya akku ^^ *plak !* #apadeh ?! 😀
    emang bener yah, yg akan slalu di ingat itu cinta pertama dan cinta terakhir. I’m agree it !! Authornya sukses deh buat nih FF. Akan ku tunggu karya2 author yg lain 🙂

  3. Oh iya !! Hampir lupa akku. Saengil chukka hamnida, author ^^
    god bless you 🙂
    semoga semua yg author harapkan akan menjadi kenyataan. Baik sekarang maupun di masa mendatang. 🙂

  4. Siapa yang bilang ini GJ , flat dan ga menarik ??
    Aku gk setuju kata-kata itu!!!!
    Ga gaje , menarik dan ga flat . Muka ku sampe merah baca ff ini karna cengengesan . Dari dulu aku emg suka sama karya2 author yg cast nya kwangmin . Daebag!!! Ayo buat lg dong thor , aku suka ^^

    by the way , Saengil Chukkae author awsomeoneim . Wish nothing but the best for you . Langgeng2 ya sama bias nya :p

    • Aigooo~ kuraeyo? kuraeyo? Jeongmal gomawoyo~ Jeongmal Gomawoyo~ #hug #kiss #runaway

      reader suka. author bahagia #korbaniklan amin~ semoga author dikasih pencerahan sama yang diatas 😉

      KKK~ kamsahamnida chingu ^^ amin~ amin~ amin banget buat yang harapan terakhir itu 😀 *apa deh author ini #plakkk*

  5. daebakk3x!! sukses bkin q senyam senyum gaje… wkwk, romantis banget epilognya. sukses deh buat saeng-i! ^^

  6. Aaaaaaaah!! Kwangminkuuu~!! Aku baca ini jadi deg-degan thor. Hahaha. Bayangin aku yang jadi Liu Ra XD Aaaaaaah~ Suka suka suka *labil* (?)

    • uaah, readernya aja deg-degan apalagi authornya yang nulis >_< kkk~ author deg-degan liat respon reader sih sebenarnya, ^_^v *sembunyi di balik punggung Kwangmin*

      Gapapa labil, yang penting hepi #eh
      Gomawoo~

  7. ternyata Kwangmin jaim toh ohohoho ^o^ ceritanya ringan dan menarik khas anak sekolahan sukaa 🙂
    by the way, saengil chukkae hamnida author #pasti aku jadi org yang terakhir. ah mianhae aku tidak tahu ._.v
    wish u all the best, keep writting and healthy
    kekeke, quote yang terakhir setuju banget 😉

    • Ne, gomawo ya doanya.. Iyanih emang niatnya buat FF yang easy understanding lah sebagai selingan, toh kalo FF yang berat2 mulu kasian tar reader pusing juga kasian matanya pada bengkak (kalo nangis) 😀

  8. wah, authornya lagi suka someone yah sewaktu membuat cerita ini hehehe *soktau

    menurut aku cerita ini ringan, khas sekolah banget. jadi inget masa2 lagi fall in love sama teman satu sekolah kkkkkk 🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s