[FF Freelance] Love is Really Blind (Part 3)

Author : Xan She

Main Cast :

  • Suzy ‘Miss A’
  • Lee Junho ‘2PM’

Other Cast :

  • Seohyun ‘SNSD’
  • Xiah Jun Su ‘JYJ’

Genre : Romance, Life, Sad

Length : Continue

Rating : PG-15

Disclaimer : Murni hasil pemikiran sendiri. Mohon saran dan kritiknya setelah membaca FF ini… 😀

A/N : Gak bosen nih ngucapin makasih buat admin yang baik banget bantuin posting FF-ku ini. Gomawo juga readers yang setia nunggu tiap partnya. Gak kelamaan nunggu kan? Semoga penasarannya ilang deh setelah baca part ini… Happy reading.. 😀

Previous part: Part 1, Part 2

Junho’s POV

Setelah mengantar Seohyun pulang, aku memutar arah mobilku berbalik untuk bergegas pulang ke rumah. Syukurlah permasalahanku dengannya sudah terselesaikan. Aku pun berharap ia dapat hidup bahagia dengan membuka hatinya untuk tunangannya.

Mobilku melaju di jalanan sepi. Waktu memang sudah sangat larut. Jalanan tampak lengang, hanya ada beberapa orang pejalan kaki yang… Tunggu sebentar, sepertinya aku mengenali yeoja itu. Suzy? Ia nampak berjalan dengan langkah-langkah cepat diikuti tiga orang namja yang selalu berusaha bersembunyi ketika Suzy menoleh ke belakang.

Aku merasakan ada yang tidak beres dengan pemandangan itu. Segera kuhentikan laju mobilku dan memarkirnya sembarang di tepi jalan ketika Suzy dan ketiga orang itu sudah tidak terlihat di belokan jalan.

Aku segera melompat turun untuk menyusul mereka. Bahkan aku berlari menuju lenyapnya keempat orang itu dari pandanganku tadi di belokan jalan. Namun aku sama sekali tidak menemukan mereka, aku telah kehilangan jejak. Aku berusaha untuk tetap tidak putus asa. Aku yakin orang-orang itu berniat menyakiti Suzy.

Usahaku akhirnya berbuah. Di belokan selanjutnya aku menemukan Suzy berteriak-teriak berusaha melawan apa yang dilakukan ketiga orang itu padanya.

BUUKK!!

Kutarik pundak seorang namja di hadapan Suzy, memutarnya agar ia menjauh dari yeoja itu lalu kuhantam pelipis kirinya dengan tinjuku.

“YA! Mwohaneungoya?” Kataku penuh emosi. Aku tidak suka dengan caranya memperlakukan seorang wanita seperti itu. Aku bahkan tidak percaya dengan apa yang baru saja kulihat.

Kuperhatikan namja yang kini tersungkur di aspal. Aku dapat mengenalinya dengan jelas walaupun dalam keadaan gelap sekalipun. Dia adalah salah satu pegawai di perusahaan appa.

“Yisung?” Kataku tak percaya. Aku tidak begitu mengenal sosok namja itu. Appa hanya menceritakan sekilas tentang tugas seorang penanggung jawab perusahaan yang dijabat oleh namja itu.

Kulihat dari ekor mataku, kedua orang lain yang sedari tadi diam kini mulai beranjak dan berusaha menyerangku. Sepertinya mereka tidak terima dengan perlakuan kasarku terhadap rekannya itu.

Salah satu dari mereka berusaha menyerangku dari belakang, tapi aku beruntung masih bisa menyadarinya. Sebelum ia berhasil menyentuhku, kuarahkan tendanganku tepat di atas perutnya. Tidak terlalu keras memang, namun cukup membuatnya terjatuh dan meringis kesakitan. Mataku beralih pada satu-satunya orang yang masih berdiri disana. Ia berusaha melukai wajahku dengan sebuah pisau lipat yang baru saja ia keluarkan dari sakunya. Aku menunduk menghindarinya lalu secepat kilat meninju bagian perutnya baru kemudian memukul tengkuknya ketika orang itu membungkuk menahan perutnya yang sakit.

Kedua orang itu berusaha menyerangku lagi, namun Yisung memberikan kode kepada keduanya untuk berhenti menyerang. Tidak lama setelah itu mereka bertiga bangkit berdiri dan bergegas pergi meninggalkan lokasi dengan sedikit berlari.

Aku menahan langkahku untuk mengejar mereka. Mataku beralih pada sosok yeoja yang masih terduduk kaku di tempatnya. Tangannya membekap erat kemejanya yang sudah tidak berkancing di bagian atasnya. Perlahan aku mendekatinya, lalu menunduk mensejajarkan pandanganku ke wajahnya yang pucat. Aku berusaha menyentuh bahunya pelan untuk sekedar membuatnya tenang. Ia menggerakan tubuhnya ke belakang dan semakin erat menggenggam bagian depan kemejanya, membuat tanganku terpaksa harus menjauh darinya. Sepertinya ia masih takut karena kejadian barusan. Tapi bisa kurasakan jelas tubuhnya berguncang hebat saat tanganku menyentuh bahunya tadi. Aku dapat melihat dengan jelas ketakutan yang terpancar dari matanya. Keadaan yang gelap sama sekali tidak dapat menghalangi pandanganku untuk mengetahuinya.

“Kau tidak apa-apa?” Aku masih berusaha untuk menenangkannya walau sepertinya sulit. Ia terus menatapku tajam tanpa kedip. Aku tau matanya pasti memerah saat ini.

Ia masih tidak menjawab. Akhirnya kulepaskan jas hitam yang kukenakan, lalu dengan sangat hati-hati kusematkan di tubuhnya yang bergetar. Ia tidak melawan. Aku menatap matanya dalam. Baru pertama kali kusaksikan kesedihan yang teramat dalam dari matanya. Namun masih jelas kurasakan keangkuhan dari tatapan itu.

Matanya mulai berkaca-kaca. Lalu dengan segera ia bangkit meninggalkanku dengan sedikit berlari. Sedangkan aku masih terpaku di tempatku. Aku yakin bisa menyaksikan air matanya mengalir kalau saja ia tidak berpaling dan beranjak pergi dari tempatku ini. Entah mengapa aku merasakan kepiluan yang dalam. Sepertinya aku melihat kesedihannya dibalik sifat angkuhnya selama ini.

Aish~ Aku bahkan baru mengenalnya beberapa hari, tapi pikiranku sudah berani menilainya.

Aku segera bangkit lalu mengikuti kepergiannya, sekedar memastikan yeoja itu selamat sampai tujuan. Kuperhatikan Suzy dari kejauhan. Ia terus berlari menyusuri jalanan yang sepi dan jelas kulihat bahunya berguncang hebat. Sepertinya ia menangis.

Aku terus mengikutinya dengan mengatur jarak agar ia tidak merasa takut dan terganggu. Tapi kemana sebenarnya ia akan pergi? Suasana di depannya sekarang hanyalah sebuah bangunan tua yang mirip seperti apartemen yang tidak terawat. Bangunan dengan lima lantai itu sama sekali tidak memberi tanda adanya kehidupan di dalamnya. Hanya terlihat cahaya lampu di dua ruang pada lantai dua dan empat, selebihnya gelap.

Aku menghentikan langkahku ketika melihat Suzy memasuki bangunan tua yang kumaksud tadi. Aku tidak percaya kalau dia tinggal di tempat seperti itu. Bahkan bangunan itu sama sekali terlihat tidak layak huni. Cat diseluruh permukaan bangunan itu telah lapuk dan lembab. Tapi beberapa menit kemudian aku berusaha mempercayainya ketika lampu di salah satu ruang di lantai paling atas menyala.

Aku menatap cukup lama ke ruang itu, lalu akhirnya memutuskan untuk pergi setelah ruangan itu gelap. Sepertinya ia memutuskan untuk beristirahat.

Junho’s POV end

—<><>—

Author’s POV

“Sebenarnya kemana dia?” Junho tidak henti-hentinya berjalan bolak-balik di depan meja kerjanya. Sudah tiga hari Suzy tidak masuk kerja. Inilah yang membuat Junho jadi gelisah.

Sebenarnya Junho tau pasti kenapa Suzy tidak masuk kerja tanpa memberikan alasan. “Tapi apa harus selama ini? Kalau dia menolak masuk kerja karena Yisung, seharusnya ia tau kalau orang itu sudah kupecat.”

Junho menghentikan langkahnya. Ia harus bertindak melakukan sesuatu agar Suzy kembali bekerja di tempatnya.

Author’s POV end

—<><>—

Suzy’s POV

Aku enggan kembali bekerja di tempat kerjaku. Aku juga rela bila harus dipecat karena ketidakhadiranku berhari-hari tanpa keterangan. Aku tidak mau bertemu dengan Yisung, namja yang benar-benar kubenci. Ia membuatku semakin membenci pria.

Aku duduk diam di bangku taman yang berada tepat di depan sebuah Taman Kanak-Kanak. Inilah kesibukan baruku selama aku tidak pergi bekerja. Aku menatap iri pada anak-anak itu. Senyum mereka benar-benar lepas bermain-main bersama. Bahkan yang lebih membuatku iri adalah ketika anak-anak riang itu menyambut orang tua yang menjemput mereka pulang. Pelukan dan ciuman hangat dari orang tuanya membuat anak-anak itu begitu bahagia. Aku iri, benar-benar iri.

Tiba-tiba saja aku merasakan luka itu lagi.

Eomma, Appa… Seandainya saja kalian berada di sampingku. Aku tidak akan merasa kesepian setiap hari. Aku tidak harus merasakan kesedihan setiap hari karena harus berjuang sendiri di dunia yang kejam ini. Juga pasti tidak akan ada yang berani melukaiku seperti… Seperti waktu itu.

Memori beberapa hari yang lalu itu tiba-tiba saja berputar kembali di kepalaku. Saat Yisung mencoba melukaiku. Aku sangat takut waktu itu. Ia benar-benar membuatku takut.

Kini bisa kurasakan air mataku membasahi kedua pipiku. Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk kuat dan berani melawan nasib ketika memutuskan untuk keluar dari panti asuhan. Tapi kehidupan ini terlalu sulit bagiku, eomma, appa. Kenapa kalian tega meninggalkanku sendirian di dunia ini?

Akhirnya kubiarkan air mataku selanjutnya mengalir tanpa henti. Biarkan untuk hari ini saja aku menangisi diriku untuk yang terakhir kalinya. Aku janji, setelah ini aku harus jauh lebih kuat.

Suzy’s POV end

—<><>—

Junho’s POV

Aku segera melajukan mobilku menyusuri jalanan menuju suatu tempat. Tempat dimana aku dapat menemukan orang yang kucari, Suzy.

Entah mengapa sejak melihat kesedihan dari matanya, aku merasakan ia bukan benar-benar orang yang angkuh dan keras kepala. Aku yakin ada sesuatu yang pahit yang ia sembunyikan di balik sifatnya itu. Ya, anggap saja aku sok tau.

Bohong bila aku tidak peduli padanya sejak kejadian itu. Tatapannya sungguh membuatku penasaran, sampai akhirnya aku meminta bantuan seseorang untuk sedikit menyelidiki latar belakang Suzy. Sungguh hanya sedikit.

Aku terpaksa memberhentikan laju mobilku di tepi jalan sebelum sampai di apartemen tempat tinggal Suzy. Tepatnya beberapa meter di depan sebuah Taman Kanak-kanak. Aku melihat yeoja yang kucari tengah duduk menyendiri menatap kearah anak-anak TK yang ceria. Tatapannya lurus dan tulus, sama sekali tidak kutemukan keangkuhan dalam tatapan itu seperti yang selalu kulihat dari matanya.

Aku memperhatikannya cukup lama. Jelas kulihat tatapan iri di matanya. Sejak mengetahui sebagian kecil cerita masa lalu yeoja itu, aku mulai prihatin padanya. Sama sekali tidak ada lagi benci yang kurasakan ketika menatapnya seperti saat pertama aku bertemu dengannya.

Aku sedikit tau tentang Suzy. Suzy adalah seorang anak yatim piatu yang hidup di sebuah panti asuhan sejak bayi. Sejak kecil ia bahkan tidak mengetahui siapa kedua orang tuanya. Seorang bibi yang mengurusnya di panti hanya mengatakan bahwa ia menemukan Suzy di depan pintu panti dalam keranjang bayi dan selembar kertas yang menuliskan namanya.

Sejak saat itu Suzy tidak pernah menanyakan tentang kedua orang tuanya kepada siapapun. Inilah yang membuat Suzy menjadi seperti sekarang ini. Tidak pernah merasakan kasih sayang yang tulus dari kedua orang tuanya membuat ia tumbuh menjadi pribadi yang angkuh dan sulit bergaul dengan yang lainnya.

Aku juga tau bahwa Suzy telah memutuskan untuk keluar dari panti yang telah merawatnya sejak lima tahun yang lalu.

Mataku tak beralih pada sosok itu. Suzy membiarkan air matanya tumpah. Akhirnya aku melihatnya menangis. Sesuatu yang kukira tidak akan pernah kulihat dari seorang Suzy. Pasti ia merasakan hari-hari yang sulit setiap hari.

Dasar gadis bodoh, berusaha terlihat kuat di luar padahal di dalamnya sangat lemah.

Aku tidak tega melihatnya larut akan kesedihannya tanpa bisa berbagi dengan seseorang. Tapi tentu aku tidak akan menghampirinya dalam keadaannya yang sedang menangis seperti sekarang ini. Ia pasti akan sangat marah bila memperlihatkan kesedihannya pada orang lain.

Akhirnya kuambil ponselku untuk mencoba menghubunginya. Nomornya juga kudapat dari orang suruhanku.

Nada sambung mulai terdengar dari ponselku. Harusnya sekarang ponsel Suzy mulai bergetar karena panggilanku. Tidak berapa lama, kulihat Suzy membuka tasnya dan mengambil ponselnya dari dalam sana. Ekspresi heran sempat ia tunjukan. Mungkin ia bingung karena nomor asing yang tertera di layar ponselnya.

Cukup lama aku menunggunya menjawab panggilanku. Ia terlihat seperti sedang menimbang-nimbang untuk menjawab atau mengabaikannya. Setelah menghapus sisa-sisa air mata di pipi dan sudut matanya lalu kemudian mengetes suaranya agar tidak terdengar bergetar, ia akhirnya menjawab panggilan dariku.

Yeobboseo?” Suaranya tiba-tiba saja membuatku gugup entah kenapa.

“Ya! Suzy-ah. Kenapa kau tidak juga masuk kerja?” Aku berusaha berbicara seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa.

Ia sempat diam sebentar baru kemudian mulai bersuara. “Dari mana kau tau nomorku?”

“Ya! Apa pantas kau bicara seperti itu pada atasanmu?” Aku berusaha mengalihkan pertanyaannya. Aku tidak ingin ia tau dari mana aku mendapatkan nomor ponselnya. “Kenapa kau tidak masuk berhari-hari tanpa ijin? Kau tau resikonya bukan?”

“Aku tidak takut kalau harus dipecat dari pekerjaanku. Aku memang sudah berniat untuk berhenti dari tempat itu. Jadi kau tidak perlu bersusah payah membuatku tidak nyaman bekerja disana.”

Aku tidak percaya ia berkata semudah itu. Perkataannya benar-benar seperti ia akan sangat mudah mendapatkan pekerjaan lain.

“Ya! Suzy-ah. Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja? Kau harus mengerjakan proyekmu hingga selesai. Setelah itu terserah apa yang mau kau lakukan.”

“Apa lagi yang harus kuselesaikan? Permintaanmu mengenai hasil penataan ruang pertemuan bahkan sudah kuletakkan di atas mejamu. Berarti tugasku sudah selesai.”

“Aku memang sudah menerimanya. Tapi banyak yang harus kau perbaiki. Aku sedikit heran mengapa kau tidak mengerjakannya bersama anggota team yang lain? Aku bahkan mendapatkan dua berkas hasil rancangan yang berbeda darimu dan dari keempat orang lainnya. Jadi mana yang seharusnya kuterima?”

“Terima saja yang menurutmu bagus.” Suzy sepertinya malas berlama-lama bicara denganku. Bila begini, sama saja tidak membuahkan hasil. Ia tetap tidak akan mau kembali bekerja.

“Keduanya menurutku bagus. Tapi aku punya ide untuk membuatnya lebih bagus lagi. Yaitu dengan menggabungkannya.”

“Kalau begitu terserah kau saja. Mianhaeyo, aku sedang sibuk.”

“Suzy-ah, aku butuh bantuanmu. Pertemuan itu dipercepat menjadi dua minggu lagi. Mereka tidak akan bisa mengerjakannya tanpamu. Kita tidak punya banyak waktu.”

“Kurasa aku tidak..”

“Ya! Memangnya apa yang kau kerjakan hingga kau begitu sibuk? Duduk menyendiri sambil meratapi nasibmu, itu yang kau sebut sibuk?” Aku tidak tahan dengan semua penolakannya terhadap ajakanku.

Suzy melihat kesekelilingnya. Sepertinya ia menyadari aku berada di dekatnya karena perkataanku tadi. Kutundukan wajahku dari kaca mobilku agar ia tidak melihatku. Tapi sedetik kemudian aku baru menyadari kalau kaca mobilku terlihat gelap dari luar, jadi pasti Suzy tidak akan bisa menemukanku di dalam mobil.

Aku mengutuk kebodohanku bertanya seperti itu pada Suzy.

“Apa tebakanku benar?” Aku berusaha mencairkan suasana tegang yang sempat tercipta. Berkata seolah-olah aku hanya asal menebak dan tidak benar-benar berada di dekatnya sambil memperhatikannya.

“Aku tunggu kau sekarang juga di kafe Wang. Aku tidak akan pulang sebelum kau datang menemuiku hari ini.”

“Ya!” Hanya itu kata terakhir yang kudengar dari ujung ponsel sebelum aku mengakhiri sambungan telepon. Sepertinya ia akan terus menolak bila aku tidak segera memutuskan sambungan teleponnya.

Suzy terlihat kesal sambil memandangi ponselnya. Ia tidak segera beranjak pergi dari duduknya untuk menuju sebuah kafe yang kusebut tadi.

Aish~ Yeoja ini benar-benar keras kepala. Berani sekali dia mengabaikan perintahku.

Aku menunggunya cukup lama sampai akhirnya ia beranjak dari tempat itu. Bersamaan dengan itu pula aku menyalakan mesin mobilku dan bergegas menuju kafe lebih dulu.

Junho’s POV end

—<><>—

Authors’s POV

Suzy menyapu pandangannya ke seluruh sudut ruang ketika memasuki sebuah kafe yang dimaksud Junho. Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di tempat itu. Kafe itu berdekatan dengan posisi Taman Kanak-kanak, tempatnya menyendiri tadi. Sepertinya Junho sengaja memilih tempat bertemu yang dekat dengan keberadaan yeoja itu agar tidak terlalu menyusahkannya.

Junho mengangkat satu tangannya ke arah Suzy untuk memudahkan yeoja itu menemukannya.

Suzy melangkahkan kakinya dengan malas menuju meja tempat Junho berada, lalu berdiri tegak di depan namja itu.

“Ya! Kemana saja kau? Kau membuatku menunggu lama!” Junho mengeluh bahkan sebelum Suzy berniat untuk duduk di depannya. Tentu ini hanya keluhan basa basinya. Padahal Junho juga baru sampai di kafe itu beberapa menit sebelum Suzy datang.

“Aku tidak menyuruhmu menungguku!” Suzy menatap tajam ke arah Junho. Entah mengapa Junho merasa lebih nyaman melihat ekspresi angkuh yeoja itu dari pada harus menyaksikannya menangis.

Arasso, arasso. Duduklah!” Junho masih berakting kesal di depan Suzy. Dalam hatinya ia bersyukur Suzy masih mau datang ke kafe ini untuk menemuinya.

“Kau bilang kau sudah menungguku lama?” Suzy melirik Junho tajam setelah mengambil posisi duduk di depannya.

Junho sempat salah tingkah tidak menyangka Suzy akan bertanya seperti itu, namun ia berusaha menguasai dirinya agar tidak terlihat aneh. Akhirnya ia mengangguk mantap berusaha meyakinkan Suzy.

Suzy hanya tersenyum sinis kearahnya. “Tapi kuperhatikan cangkir kopimu masih terisi penuh.” Kini Suzy melirik cangkir kopi di hadapan Junho yang terlihat belum tersentuh sama sekali. Bahkan Mocha di atas kopi itu masih pekat tanda belum tersentuh.

Junho segera ikut memperhatikan secangkir kopinya itu. “Ini sudah cangkir ke tiga sebelum kau datang.” Untung saja otak Junho bekerja cepat mencari alasan yang masuk akal. Ia makin gugup, ia takut kalau-kalau Suzy menanyakan hal lain yang tidak ia duga yang memaksanya untuk kembali berbohong.

Jinjjayo?” Ekspresi Suzy seperti tidak percaya dengan alasan Junho.

Keureom. Apa kau ingin memesan sesuatu?” Junho berusaha mengalihkan perhatian Suzy dari topik tadi.

Ani. Cepat katakan saja apa yang ingin kau katakan. Aku tidak bisa berlama-lama denganmu.”

Aish, gadis ini masih saja bersikap angkuh terhadapku. Ia bahkan sama sekali tidak memandang kedudukanku. Gumam Junho dalam hati.

Ara, ara. Aku tidak mengerti sesibuk apa kau sekarang hingga tidak kembali bekerja. Tapi aku mau kau menyelesaikan proyekmu hingga selesai.”

“Sepertinya aku sudah menjawab pertanyaanmu itu.”

“Ya! Suzy-ah. Kenapa kau tidak bertanggung jawab terhadap pekerjaanmu? Kalau kau memutuskan berhenti bekerja hanya karena Yisung, kau tidak perlu khawatir. Orang itu sudah kupecat.” Sikap Suzy memaksa Junho mengingatkan kembali tentang orang itu. Sebenarnya Junho tidak pernah berniat menyebut nama namja itu karena itu pasti akan membuat Suzy kembali mengingat kejadian mengerikan di malam itu.

Suzy terdiam sejenak baru kemudian mulai bersuara. “Aku tidak menyuruhmu untuk memecatnya.”

“Kau kira aku sudi mempekerjakan orang sepertinya? Sikapnya itu sama sekali tidak pantas dengan jabatannya sebagai penanggung jawab perusahaan.”

Junho terdiam menunggu reaksi Suzy yang tidak juga bersuara menanggapinya.

“Suzy-ah. Tolong kembali bekerja. Perusahaan sangat membutuhkanmu. Pertemuan besar yang akan diadakan dua minggu lagi sangat penting untuk kemajuan perusahaan. Itu sangat berpengaruh besar agar para pengusaha berniat menanamkan modalnya.” Baru kali ini Junho memohon pada seseorang. Tujuannya sama sekali bukan karena perusahaan yang kini dipegangnya. Tapi jauh dibalik itu semua ia ingin mencoba membuat Suzy tidak kesulitan. Ia tidak tega membiarkan Suzy tidak mempunyai pekerjaan. Bagaimana yeoja itu bisa menghidupi dirinya sendiri? Tidak akan ada orang yang mau membantu yeoja angkuh sepertinya. Hanya inilah satu-satunya cara untuk melindungi Suzy. Dengan berdalih di balik nama perusahaan, tentu Suzy tidak akan menolak permintaan Junho.

Suzy terlihat sedang berpikir keras. Ia memang sangat membutuhkan pekerjaan itu untuk menghidupi dirinya sendiri. Ia juga seharusnya senang karena tidak harus melihat Yisung disana karena Junho telah memecatnya. Ia hanya sedikit terkejut dengan sikap Junho yang seperti itu, tidak biasanya namja itu memohon seseorang untuk kembali bekerja. Tapi Suzy tau alasannya. Junho hanya berusaha memajukan perusahaan appa-nya yang kini ia ambil alih.

“Akan kupertimbangkan.” Jawab Suzy akhirnya.

Junho tidak bereaksi apa-apa. Perkataan Suzy untuk mempertimbangkan kembali ajakannya tadi bisa bermaksud iya, bisa juga tidak. Dan ia masih bisa merasakan keangkuhan yeoja di depannya saat berkata tadi, membuat senyuman kecilnya terukir sendiri di sudut bibirnya.

—<><>—

“Kenapa hanya kita berdua yang pergi ke gedung ini?” Suzy sedikit heran ketika memasuki gedung tempat pertemuan besar yang akan diadakan bersama Junho.

“Yang lain kutugaskan di kantor untuk menyempurnakan penataan ruang dibeberapa bagian. Lagipula menurutku tidak perlu banyak orang untuk menyurvei tempat ini.” Junho masih terus berjalan memasuki ruang gedung yang lebih dalam. Ia tidak sempat menatap Suzy yang bertanya padanya. Matanya masih sibuk memperhatikan sekeliling berusaha mengingat-ingat gedung yang sudah lama tidak ia kunjungi itu. Sudah lebih dari lima tahun ia tidak pernah menginjakkan kakinya ke gedung ini. Terakhir ia kesini saat mengantar appa-nya bertemu dengan teman sesama pengusaha, itupun hanya sebentar.

Jinjjayo? Kurasa malah seharusnya mereka ikut.”

Junho menghentikan langkahnya “Waeyo? Bukankah kau sendiri juga tidak begitu akrab dengan mereka?” Akhirnya ia menoleh kearah Suzy yang juga ikut berhenti tepat di sampingnya.

Ne, tapi itu lebih baik dari pada aku harus berdua saja denganmu.” Suzy berkata tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari mata Junho. Ia memberikan banyak penekanan di kalimatnya itu.

Mho?” Junho baru akan membalas perkataan Suzy, tapi segera diurungkannya. Ia memang sudah tidak tersinggung lagi dengan ucapan Suzy sejak peristiwa malam itu. “Sudahlah aku sedang malas berdebat denganmu. Kau pergilah ke lokasi lebih dulu. Ruangan itu ada di lantai sebelas. Ada yang harus kukerjakan di lantai ini. Aku akan menyusulmu segera.” Tanpa menunggu tanggapan dari Suzy, Junho segera berbalik menuju lokasi lain.

“Ada apa dengannya? Kenapa tidak membalas perkataanku seperti biasanya?” Suzy masih diam di tempatnya memandang kepergian Junho yang semakin menjauh. Ia agak bingung dengan sikap namja itu, tapi ia berusaha untuk tidak memperdulikannya dan meneruskan langkahnya menuju lift.

Junho menoleh kembali ke tempat Suzy berdiri. Ia memperhatikan yeoja itu menunggu pintu lift terbuka. Dalam hatinya ia cukup senang sikap Suzy kembali seperti semula. Bahkan yeoja itu sempat mengajaknya berdebat tadi. Setelah cukup puas menatapnya, ia pun kembali berbalik untuk melanjutkan langkahnya menuju tempat yang ia tuju.

—<><>—

Sesampainya di lantai sebelas sesuai petunjuk yang diberikan Junho, Suzy segera bertanya pada seseorang yang kebetulan lewat di depan lift.

Mianhae eonni, bisa memberitahuku dimana ruang yang akan dipakai untuk pertemuan besar dua minggu lagi?”

Yeoja yang ditanya Suzy tidak bersuara, ia hanya memandang Suzy penuh selidik.

“Aku Suzy dari Han Corp. Aku ditugaskan untuk menyurvei ruangan itu untuk kami tata.” Suzy memperlihatkan tanda pengenal yang ia kalungkan di lehernya pada yeoja itu untuk meyakinkannya.

Akhirnya yeoja itu menunjuk satu ruangan yang tertutup rapat di sudut paling ujung.

Setelah mengucapkan terima kasih sekedarnya, Suzy pun beranjak menuju ruang yang dimaksud.

Suzy sempat takjub saat berada tepat di depan pintu ruangan itu. Pintu tinggi dan megah berdiri kokoh di hadapannya. Ia tidak menyangka ada pintu semegah ini di gedung tempatnya berdiri saat ini. Mungkin arsitek yang merancang gedung ini mendesain khusus ruangan ini sehingga tampak berbeda dengan ruangan yang lain.

Suzy mulai membuka pintu itu perlahan, seketika terdengar bunyi engsel pintu yang dibuka. Bunyinya menggema karena ruangan yang luas itu tidak berisi banyak benda, hanya ada meja besar mewah, beberapa kursi tinggi yang mengelilinginya serta benda-benda lainnya. Ia sempat ternganga menemukan ruangan seluas dan semegah ini. Namun sepertinya harus dipoles sedikit lagi agar lebih memikat. Itulah tujuannya ia datang ke tempat ini.

Suzy mulai melangkah memasuki ruangan itu. Bahkan suara sepatunya yang beradu dengan kerasnya keramik terdengar dengan sangat jelas. Ia mulai berkeliling melihat-lihat benda-benda dan keadaan yang ada di dalamnya.

Suzy tidak membuang-buang waktu. Setelah meneliti seluk beluk dan benda-benda itu, ia mulai mengukur panjang dan lebar meja kemudian mencatatnya pada buku catatan  yang sedari tadi ia bawa.

“Sepertinya meja ini perlu dibalut kain yang mewah. Hm.. Atau sebaiknya diganti saja?” Suzy tampak berpikir keras. “Sebaiknya kucatat saja dulu ukurannya.”

Setelah itu ia beranjak pada 6 buah kursi yang mengelilingi meja itu. “Sepertinya kurang cocok untuk pertemuan besar. Kursi ini lebih cocok berada di dapur. Sangat mirip seperti kursi makan. Kurasa aku harus menggantinya dengan yang lebih pantas.” Suzy mencatat poin-poin penting untuk membuat ruangan itu menjadi senyaman mungkin.

Setelah cukup lama mengamati ruangan itu dan mencatat banyak pekerjaan rumah untuknya, kini ia menatap jendela dengan kaca besar di salah satu sisi ruangan itu. Dari kaca itu ia dapat dengan jelas melihat pemandangan indah di luar. Pemandangan langsung ke atas langit biru dan hamparan gedung-gedung tinggi di tengah ibu kota yang pasti akan sangat indah pada malam hari. Dari sana juga dapat terlihat sangat jelas aktifitas orang-orang di depan gedung itu. Suzy baru menyadari pasti arsitek yang merancang bangunan ini juga sengaja mengambil sudut yang tepat untuk mendapatkan pemandangan indah ini.

Kini ia memperhatikan bentangan kaca di depannya yang sangat luas dan tinggi.

“Wah tinggi sekali.” Suzy sempat ragu jangkauan tangannya akan sampai pada bagian teratas kaca itu. Akhirnya ia mencoba untuk mengukurnya dengan alat pengukur semacam meteran di tangan kanannya. Berkali kali ia menjinjitkan kakinya agar ujung meteran di tangan kanannya itu menyentuh puncak tertinggi kaca itu, namun sama sekali tidak berhasil. Ia mencoba sedikit melompat untuk mencapainya, dan hampir sampai. Namun begitu kakinya kembali menyentuh keramik, jangkauannya pun ikut menurun.

Tiba-tiba tangan seseorang menyentuh tangan kanannya yang sedang bekerja keras dari belakang. Tangan itu mengambil alat pengukur dari tangan Suzy dan membantu menempatkannya di puncak tertinggi kaca itu. Suzy sempat terkejut saat punggungnya menyentuh tubuh orang dibelakangnya.

“Kenapa kau tidak meminta bantuan pada seseorang?”

Deg!

Suara seseorang yang ia kenal tiba-tiba saja mengejutkannya, membuat jantungnya tiba-tiba saja bekerja tak normal. Ia berbalik ke sumber suara untuk memastikan orang itu. Begitu dugaannya benar, ia segera menjauh dari sosok itu yang masih berusaha mengukur tinggi kaca itu tanpa sekali pun meliriknya.

Suzy menelan ludah berkali-kali untuk mengurangi keterkejutannya.

“Ya! Kau mengagetkanku?” Suzy masih berusaha mengatur nafasnya yang belum juga teratur.

“Seratus dua puluh senti meter.” Ucap Junho.

N-ne?” Suzy masih bingung dengan namja yang mengejutkannya itu.

“Bukankan kau ingin mengukur tinggi kaca ini? Kenapa tidak kau catat?” Junho kini menatap Suzy yang masih terlihat aneh.

“Oh, ne.” Dengan segera Suzy mencatat ukuran yang disebut Junho tadi ke buku catatannya.

Chakkamanyo, kenapa wajahmu jadi memerah seperti itu?” Junho perlahan mendekati Suzy, tangannya menunjuk ke wajah yeoja itu.

M-mho? Wajah siapa yang merah?” Suzy memegangi pipinya tiba-tiba. Ia makin salah tingkah begitu Junho semakin mendekat ke arahnya. Kaki kanannya refleks mundur satu langkah tanpa diperintah. “Sepertinya aku harus mengambil beberapa gambar di ruangan ini. Mungkin saja dapat membatu.” Suzy mengalihkan pandangannya dari mata Junho kemudian menyibukan diri meraih ponsel di sakunya. Ia berusaha terlihat wajar sebisanya.

Suzy berjalan cepat melewati Junho yang masih menunjukan ekspresi menyelidik. Ia lalu mengambil beberapa gambar di ruangan itu melalui kamera ponselnya.

Junho hanya tersenyum senang menggoda Suzy. Sejak kapan ia memberitahuku keinginannya? Biasanya juga ia selalu berlaku sesukanya tanpa berkata terlebih dahulu. Ucap Junho dalam hati.

Crek! Crek!

Suzy menoleh ke sumber suara. Ia melihat Junho juga sedang melakukan hal yang sama dengannya, mengambil beberapa gambar melalui ponselnya.

“Ya! Untuk apa kau ikut mengambil gambar?”

Waeyo? Aku juga ingin mengambil beberapa gambar, siapa tau bisa berguna.” Junho masih sibuk mengarahkan ponselnya ke sudut lain ruangan itu.

“Cih, gayamu seperti desainer handal.” Nada Suzy terdengar menyindir. Matanya menatap sinis ke arah Junho.

“Ya! Jangan memandangku rendah. Aku juga cukup tau banyak mengenai interior. Justru kau harus lebih banyak belajar dariku.” Junho menyombongkan dirinya.

“Cih, Jinjjayo?” Suzy mendengus dan menanggapi perkataan Junho dengan tidak percaya. Tanpa berharap jawaban dari Junho, Suzy kembali melanjutkan tugasnya untuk mengabadikan beberapa gambar. Ia tidak lagi memperdulikan Junho yang terdengar masih melakukan hal serupa.

Tanpa Suzy ketahui, Junho mengarahkan ponselnya pada sosok gadis itu, dan mulai mengambil beberapa gambar dirinya.

—<><>—

To Be Continued…

A/N : Sengaja part ini gak nampilin Seohyun & JunSu, soalnya lagi aku suruh istirahat dulu biar lebih fokus sama JunZy. Don’t forget to leave your comment… 😀

133 thoughts on “[FF Freelance] Love is Really Blind (Part 3)

  1. So sweet banget deh part ini.. kayaknya benih2 cinta mulai bersemi nih.. ahiiiw.. aq tuh selalu seneng klo ngaimajinasiin sosok junho yang gentleman.. jadi makin cinta sm junho.. hihihi.. keren banget ceritanya thor.. pemilihan bahasa n alurnya jg keren banget.. lanjooot..

  2. datanglah si junho oppa sang pahlawan hahahaha *gaya pahlawan bertopeng* #loh 😀
    eonnie sumpah ini ceritanya seru banget..
    junho jd pahlawan suzy eon..
    tp tunggu junho mulai peduli sama suzy ??
    apa junho mulai suka ya sama suzy ???
    next lah part selanjutnya 🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s