Sticking With You (Part 4)

Author: Tirzsa

Main cast:

  • SNSD’s Tiffany
  • 2PM’s Nichkhun

Support cast:

  • 2PM’s other member

Genre: Romance

Length: Chapter

Rating: PG – 16

Disclaimer: Terinspirasi dari “My Sassy Girl”.

Previous part: [Part 1] | [Part 2] | [Part 3]

***

Nichkhun’s POV

Sepanjang perjalanan pulang, ia sama sekali tak bicara. Tak sepatah katapun. Dan saat aku menatapnya, ia mencoba menghindari terjadinya kontak mata. Sampai kami tiba diapartemen pun, ia hanya mengatakan bahwa ia sedang tidak ingin makan dan lelah, jadi ia langsung naik ke tempat tidur.

Aku menyesap kopiku dan berjalan keluar beranda apartemen. Semilir angin malam berhembus memainkan anak rambutku. Malam yang sungguh sepi dan gelap. Hanya ada suara keramaian kota yang samar-samar.

Tapi tak lama kemudian, aku mendengar ponsel Tiffany berbunyi. Gadis itu segera bangun dan meraih ponselnya. Ia menoleh kearahku lalu berlalu menuju kamar mandi. Mungkin aku sedikit tidak sopan karena sudah lancang, tapi hatiku tak tahan untuk tidak menguping pembicaraan Tiffany dan seseorang yang meneleponnya itu melalui pintu kamar mandi.

Aku menempelkan telingaku ke daun pintu dan memasang pendengaranku sebaik mungkin.

“Sudah berapa kali aku bilang bahwa aku tidak akan mungkin kembali?!” Kudengar suara Tiffany yang tertahan. Ia tahu mungkin jika ia berteriak, aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas.

“Melapor ke polisi? Oemma pikir dengan begitu oemma bisa mengancamku?!”

Jantungku berdegup kencang saat Tiffany menyebutkan kata ‘polisi’ dan ‘oemma’. Hatiku tak berhenti menerka-nerka sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan.

“Terserah oemma saja!”

Aku terkejut saat mendengar suara Tiffany yang membentak dari dalam kamar mandi. Ketika mendengar langkah kaki, aku segera menjauh dari depan kamar mandi dan berlari ke beranda apartemen.

Aku melirik kearah kamar mandi saat mendengar pintu itu terbuka. Tiffany keluar dari sana dengan wajah dingin dan tak berekspresi. Seolah tidak terjadi apa-apa barusan. Namun, bisa kulihat dari matanya yang bergerak-gerak gelisah, yang menandakan bahwa ia sedang kesulitan.

***

“Tiffany, aku akan pergi ke perpustakaan,” kataku.

Tapi gadis itu tak berkutik. Ia masih tertidur diatas ranjang dan membelakangiku. Aku tahu ia telah bangun, tapi rupanya keadaan hatinya masih sama seperti malam tadi. Rasa ingin tahuku begitu besar untuk mengetahui apa yang sudah mengganggu pikirannya. Tapi aku terlalu takut untuk menanyakannya.

Karena masih tak mendapat respon, aku memutuskan untuk segera pergi menuju perpustakaan sebelum ketua pustakawan itu menghakimi keterlambatanku.

Sebelum benar-benar menutup pintu apartemen dan pergi, aku berbalik sekali lagi untuk melihat keadaan Tiffany. Dan ia masih diam disana, diatas ranjang, dengan tenang.

***

“Nichkhun, tolong bantu aku disini!”

Aku segera berlari kearah rak belakang perpustakaan untuk membantu tuan Jongmin—ketua pustakawan disini—untuk meletakkan beberapa buku dirak paling atas.

“Biar aku saja, tuan Jongmin,” kataku lalu meraih buku itu dan menjinjit untuk meletakkan buku itu disana.

“Ah, gomawo.”

Aku memapah tubuh tuan Jongmin untuk turun dari kursi lalu membantunya berjalan ke ruangan kerjanya. Setiap kali melihat sosok tuan Jongmin, aku merasa begitu kagum padanya. Diusianya yang telah senja, ia masih begitu mencintai pekerjaannya yang tidak seberapa ini dan mengabdikan hidupnya untuk merawat buku-buku tua itu.

“Tolong antar aku duduk didekat jendela sana,” kata tuan Jongmin dan aku mengangguk.

Aku membantunya duduk disalah satu bangku yang menghadap keluar jendela. Aku menarik sebuah kursi dan duduk disebelah tuan Jongmin. Kami berdua memandangi matahari yang menggantung rendah dilangit. Langit berubah menjadi berwarna biru tua dengan sapuan jingga dibeberapa bagian.

Enam jam lagi ulangtahun Tiffany, batinku. Dan aku belum punya ide apapun untuk merayakan ulangtahunnya.

Aku melirik kearah tuan Jongmin dan mendapatinya tengah memejamkan mata lalu menarik napas dalam-dalam, seolah ia sedang berada didalam kelas Yoga.

“Haah~” Tuan Jongmin menghembuskan napas panjang dan tersenyum hangat. “Besok hari ulangtahun istriku,” katanya tiba-tiba.

“Yang ke berapa?” Aku berusaha terdengar antusias.

“Seharusnya, tahun ini ia sudah berumur 69 tahun.”

Aku mengerutkan alis. “Seharusnya?

Tuan Jongmin mengusap wajahnya. Kulitnya yang lembek dan keriput itu tertarik kesana-kemari, mengikuti gerakan usapan tangannya yang kasar. “Ia sudah meninggal.”

“Meninggal? Aku turut sedih, tuan Jongmin,” kataku sambil mengusap punggungnya.

“Gwaenchanha.” Ia tersenyum lagi. “Aku yakin ia telah mendapatkan tempat terbaik disisi Tuhan.”

Aku hanya tersenyum samar dan terus mengusap punggung tuan Jongmin.

“Oh ya, kau lihat gedung yang disana itu?” Tuan Jongmin menunjuk gedung 63 lantai yang menjulang tinggi didaerah Yeouido.

“Ne, aku melihatnya.”

“Aku masih ingat saat ulangtahunnya, aku memberinya kejutan disana. Kami punya banyak kenangan disana. Aku mengajaknya makan malam romantis, menuliskan kata-kata romantis disebuah gembok lalu memasangnya digedung itu dan kami memainkan lie detector,” jelasnya dengan mata berbinar-binar.

“Lalu, apakah istrimu bahagia dengan kejutan itu?”

Ia mengangguk antusias. “Geureumyo. Ia bahkan mengatakan bahwa kejutan itu adalah hal yang terbaik yang ia alami.”

Aku terdiam sementara tuan Jongmin terus bercerita tentang istrinya. Sebenarnya pikiran dan pendengaranku sudah tak sepenuhnya berkonsentrasi pada cerita-cerita tuan Jongmin. Tapi itu memberiku sebuah ide cemerlang untuk ulangtahun Tiffany nanti.

Nichkhun’s POV end

***

Author’s POV

Flashback

“Oppa, besok aku akan ulangtahun. Apa kau sudah merencanakan pesta kejutan untukku?”

“Hm.. Aniyo,” sahut pemuda itu sambil terkekeh.

Tiffany memukul pelan pundak pemuda itu dan memasang raut kesal. “Aish~ Oppa tidak romantis sama sekali!”

Masih sambil terkekeh, pemuda itu bertanya, “Lalu, kau ingin aku melakukan apa?”

“Mengapa bertanya padaku? Seharusnya oppa bisa memikirkannya sendiri. Jika aku yang mencetuskan idenya, itu bukan pesta kejutan lagi.”

Pemuda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Hm, tapi aku tak begitu pandai memberi pesta kejutan. Setidaknya kau harus memberiku gambaran, kejutan seperti apa yang kau inginkan.”

“Hm, aku ingin oppa datang ke sekolahku dan memberiku setangkai bunga mawar saat pelajaran tengah berlangsung,” seru Tiffany.

“Mwo? Apakah itu tidak berlebihan?”

“Wae? Bukankah itu sangat romantis? Aku ingin membuat chinguku merasa iri karena namjachinguku yang tampan ini melakukan sesuatu yang romantis. Oetteoh?”

Pemuda itu terlihat ragu. Tapi Tiffany mengguncang-guncang lengan pemuda itu lalu mengerang manja, “Jebal, oppa. Jebal..”

Pemuda itu tersenyum kearah Tiffany lalu mengangguk. “Anything for you..”

Flashback end

***

Tiffany’s birthday

Gadis itu menggeliat-geliat gelisah diatas tempat tidur lalu membuka matanya. Cahaya matahari menyisip dari jendela beranda apartemen dan masuk ke dalam. Tiffany mengamati sekelilingnya dan menyadari ke-tidak berada-an Nichkhun disana.

“Kemana dia?” gumamnya sambil mengusap wajahnya.

Ia meraih ponsel genggamnya dan melihat ada beberapa pesan singkat yang masuk. Beberapa dari teman lamanya dan dari keluarganya yang mengucapkan selamat ulangtahun. Tapi Tiffany langsung mengernyit begitu melihat satu nomor tak dikenal yang masuk ke kotak pesannya. Dan ia rasa, ia mengenali orang itu.

Selanjutnya, ponsel Tiffany berdering. Nomor yang tak ia kenali itu berkedip-kedip dilayar ponselnya. Dan entah mengapa, Tiffany harus merasa gugup ketika ingin mengangkat telepon dari seseorang yang tak ia kenali itu.

Ia menempelkan ponsel ketelinga dan mulai menyahut dengan suara gugup, “Yeobboseo?”

“Tiffany?”

Mata Tiffany membulat saat mendengar suara berat milik pemuda diseberang sana. Dan ia yakin benar, siapa pemilik suara berat itu.

“Oppa? Kau kah ini?”

Belum sempat pemuda diseberang sana menyahut, tiba-tiba Tiffany terkejut saat mendengar suara terompet terdengar dari luar apartemen. Dan disusul dengan Nichkhun yang muncul dari balik pintu sambil membawa kue ulangtahun dengan lilin kecil diatasnya.

“Saengil chukka hamnida! Saengil chukka hamnida! Saranghaneun, Tiffany! Saengil chukka hamnida!” Nichkhun bernyanyi sekeras mungkin sambil menghampiri Tiffany yang masih terlihat bingung.

Gadis itu dengan refleks mematikan ponselnya dan beralih fokus pada Nichkhun. Ia berusaha tersenyum saat melihat Nichkhun dengan tampang jenakanya menggunakan topi kerucut dan memberinya sebuah kue ulangtahun yang sangat cantik.

“Saengil chukka hamnida, Tiffany!” seru Nichkhun lagi.

“Gomawoyo.”

“Cepat tiup lilinnya sebelum lilinnya mati,” kata Nichkhun sambil menuding lilin-lilin itu.

Tiffany mengangguk. Sebelum ia meniup lilin-lilin itu, ia menutup mata sebentar dan mengucapkan doa dalam hati. Setelah lilin ditiup, keduanya bertepuk tangan.

“Aku masih punya kejutan lagi untukmu,” kata Nichkhun.

“Oh ya? Apa itu?”

“Jika aku mengatakannya sekarang, bukan kejutan lagi namanya. Sebaiknya kau bersiap-siap sekarang dan aku akan mengajakmu pergi ke suatu tempat.”

Author’s POV end

***

Nichkhun’s POV

“Untuk apa kita ke sini?” tanya Tiffany begitu kami sampai digedung berlantai 63 di Yeouido.

Aku tersenyum jahil lalu berkata, “Lihat saja nanti.”

Aku tergesa-gesa berlari kecil sambil menarik tangan Tiffany sementara ia mulai kelelahan untuk mencoba mengimbangi langkahku yang cepat. Selanjutnya, kami menaiki lift untuk mencapai lantai paling atas.

Saat angka-angka di lift itu mulai bergerak, aku bisa merasakan jantungku berdegup hebat, tangan dan kaki terasa dingin. Aku merasa khawatir sekaligus penasaran, apakah Tiffany akan menyukai kejutanku atau tidak.

Aku meliriknya untuk mengetahui raut wajahnya, tapi rupanya ia sedang berkonsentrasi pada ponselnya.

“Apakah oemmamu menghubungimu lagi?” tanyaku.

Ia tampak terkejut saat mendengarku bicara dan dengan gugup memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya. Ia menggeleng dan tersenyum kearahku, “Aniyo.”

Aku mengulum senyum lalu kembali melihat angka-angka yang ada diatas kami. Kami sudah berada dilantai 37. Lalu tiba-tiba aku menyadari ada yang salah ketika angka 37 itu tidak bergerak dan berkedip-kedip. Dan.. BRUK!!

Terdengar suara menggeram dari luar lift dan lampu didalam lift juga ikut berkedip-kedip, lalu akhirnya semua terasa tenang dan sunyi. Aku dan Tiffany mulai merasa curiga dan saling bertukar pandang.

“Apa yang terjadi?” tanya Tiffany panik.

“Aku rasa liftnya berhenti,” kataku.

Ia mengernyit, “Berhenti? Tidak mungkin!”

Ia maju kedepan beberapa langkah dan menekan tombol darurat, tapi tak ada reaksi sama sekali. Tiffany yang mulai dikuasai rasa frustasi dan dengan panik mulai menggedor-gedor pintu lift dengan kasar.

“Ya! Ya! Tolong kami! Kami terjebak di lift! Ya! Apakah ada orang disana?”

Aku ikut membantu Tiffany dengan mencoba untuk membuka pintu lift yang tertutup rapat. Tapi usahaku sia-sia. Pintunya tak bisa dibuka sama sekali dan sepertinya lift kami terhenti di tempat yang tidak tepat.

Tiffany menatapku putus asa, “Ottokhe?”

Nichkhun’s POV end

***

Author’s POV

Keduanya duduk dilantai dengan wajah kusut. Sudah 30 menit berlalu dan tak ada tanda-tanda bahwa lift itu akan kembali seperti semua. Dan suara Tiffany hampir habis karena sepanjang 30 menit itu ia hanya menghabiskan suaranya untuk berteriak-teriak minta tolong dengan hasil yang sama.

Nichkhun berpaling kearah Tiffany dan merasa khawatir dengan keadaan gadis itu. “Gwaenchanha?”

Tiffany menoleh dan memasang raut kesal, “Bagaimana bisa kau bertanya seperti itu di kondisi seperti ini, babo? Aish~”

Pemuda itu mendesah. “Ne, ne, arasso.”

Keduanya terdiam lagi. Merasa putus asa.

Tapi sejurus kemudian, raut wajah Nichkhun berubah cerah. Ia merogoh sesuatu dari dalam tasnya dan mengeluarkan sebuah alat dari sana.

“Tadaaaa!” serunya.

“Ige mwoya?” Tiffany menuding alat itu dengan wajah bertanya-tanya.

“Lie detector!”

“Mwo?”

“Lie detector!” seru Nichkhun lagi. “Kau tidak mengetahuinya?”

Tiffany menggeleng. “Jadi, ini semacam alat untuk mengetahui siapa yang berbohong?”

“Ne, begitulah,” sahut Nichkhun sambil terkekeh. “Ingin mencobanya?”

“Hm, boleh. Bagaimana cara kerjanya?”

“Begini,” Nichkhun meletakkan tangannya diatas alat itu lalu melanjutkan, “Kau letakkan tanganmu seperti ini dan katakan sesuatu, lalu tekan tombol yang merah. Jika kau jujur, lampu warna-warni ini akan menyala. Tapi, jika kau bohong, tanganmu akan tersetrum.”

Tiffany tersenyum lebar. “Baiklah, ayo kita coba.”

“Tapi permainan ini tidak akan terasa seru jika kita tidak menetapkan peraturan,” kata Nichkhun.

“Lalu, kau ingin menetapkan aturan seperti apa?”

Pemuda itu menarik napas lalu menjawab, “Bagaimana jika kita memberikan apresiasi untuk yang berkata jujur. Jika kau mengatakan hal yang jujur..” Nichkhun tertawa kecil saat melanjutkan ucapannya, “Bagaimana dengan.. kiseu?”

Tiffany mengernyit dan berkata dengan dingin, “Ya, juggolae?”

Nichkhun langsung tertawa gugup dan menggeleng, “Ah, arasso. Itu ide yang buruk. Bagaimana jika yang menjawab dengan jujur boleh meminta apa saja?”

Gadis itu terdiam sesaat, menimbang-nimbang usul Nichkhun. “Hm, baiklah. Kau duluan.”

“Kenapa harus aku?”

“Karena kau yang mengusulkan, jadi kau yang memulai duluan. Aku akan menanyakanmu sesuatu dan kau harus menjawab dengan jujur.”

Nichkhun menelan ludah dan mendadak merasa gugup. Ucapan Tiffany tadi lebih terdengar seperti sebuah ancaman baginya. Dan jika ia sampai memberikan jawaban yang benar maupun salah, ia akan merasakan sakit yang sama.

***

“Pertanyaan pertama. Jika kau sedang berada diatas kapal dan kapal itu tenggelam, siapa yang akan kau selamatkan duluan, aku atau oemmamu?” tanya Tiffany datar.

Nichkhun tertegun. Baru saja Tiffany melontarkan pertanyaan pertama, tapi pertanyaan ini sudah sangat menjebak dirinya. Jika ia menjawab bahwa ia akan menyelamatkan oemmanya terlebih dahulu, Tiffany akan menghabisinya. Dan jika ia menjawab bahwa ia akan menyelamatkan Tiffany, alat itu akan menyetrum tangannya.

“Ya, mengapa lama sekali? Ppali!” desak Tiffany.

“Aku akan menyelamatkanmu terlebih dahulu!” teriak Nichkhun dengan nada putus asa.

Tiffany mengangguk dingin lalu menekan tombol merah di alat itu. Lalu Nichkhun tiba-tiba terlonjak dan segera menjauhkan tangannya dari alat itu. Tangannya terasa perih saat merasakan setruman itu menjalar ke seluruh lengannya.

Nichkhun melirik Tiffany untuk melihat reaksi gadis itu. Dan seperti yang ia tebak, Tiffany langsung mencubit pipi pemuda itu dengan gemas lalu menggeram marah, “Kau bohong, huh?”

“Mianhae, mianhae!” Nichkhun meringis kesakitan dan berusaha melepaskan cubitan Tiffany dari pipinya.

Selanjutnya, ketika permainan itu dilanjutkan, semuanya akan berakhir dengan ringisan Nichkhun. Kesakitan yang ia rasakan dua kali lebih menyakitkan. Tangannya mulai memerah dan bergetar menahan perih saat merasakan setruman berulang-ulang kali, dan begitu pula dengan nasib pipinya.

“Ini pertanyaan terakhir,” kata Tiffany dengan tenang.

Nichkhun menatap wajah gadis itu dengan penuh harap bahwa pertanyaan yang terakhir ini tidak akan lagi menjebak dirinya.

“Apa itu?”

Author’s POV end

***

Nichkhun’s POV

“Harapan macam apa yang kau ingin kan sekarang? Berharap lift ini tidak akan kembali seperti semula untuk beberapa saat atau lift ini segera berjalan seperti biasa?”

Aku mengernyit saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Tiffany. Berbeda dari pertanyaan sebelumnya, menurutku pertanyaan ini begitu mudah. Tapi entah mengapa, aku rasa ada sesuatu yang ingin tahu dan ada yang tersembunyi dari pertanyaan yang ia ajukan.

“Kenapa kau diam saja?” tanya Tiffany, membuyarkan lamunanku.

Aku mengangguk lalu menjawab dengan nada yakin, “Tentu saja aku berharap lift ini akan berjalan seperti biasa.”

Tiffany mengangkat alisnya lalu menekan tombol merah dengan tenang, sementara aku menutup mata rapat-rapat. Walaupun aku yakin dengan jawabanku akan sepenuhnya jujur, tapi karena rasa trauma itu, aku tak berani melihat hasilnya.

“Kau jujur.”

Aku mendengar suara Tiffany mengatakan bahwa aku jujur lalu membuka mataku perlahan. “Ne?”

“Kau jujur. Lihat,” Ia menunjuk alat itu, “Lampunya menyala.”

Aku menghela napas lega dan segera menjauhkan tanganku dari alat itu. Kulirik Tiffany dan melihat reaksinya. Sangat sulit untuk mengetahui apa yang sedang dipikirkannya akhir-akhir ini. Ia selalu memasang raut datar.

“Jadi, aku boleh meminta apa saja sekarang, kan?” tanyaku padanya.

Ia menatapku bingung.

“Kau ingat, peraturan tadi? Yang jujur boleh meminta apa saja?” Aku mencoba mengingatkannya.

“Oh, ne,” Ia mengangguk, “Baiklah, kau boleh meminta apa saja.”

Aku terkekeh pelan. “Kalau begitu aku ingin sebuah..” Kulihat wajah Tiffany masih tetap datar, lalu melanjutkan dengan suara yang sangat pelan, “Kiseu..”

Gadis itu mencondongkan tubuhnya kearahku, membuatku tersentak. “Mworago?”

Aku menelan ludah lalu berkata dengan volume yang lebih besar, “Aku ingin sebuah kiseu.”

Tiffany mengangguk-anggukkan kepalanya lalu memperbaiki posisi duduknya. “Arasso.”

Aku tekejut saat mendengar reaksinya yang masih datar-datar saja. Ia tak keberatan sama sekali soal permintaanku. Bukankah tadi ia tidak suka jika melibatkan ‘ciuman’ dari permainan kami? Lalu, mengapa ia sekarang tidak merasa keberatan? Belum sempat aku mendapatkan jawaban atas pertanyaanku sendiri, Tiffany mencondongkan tubuhnya kearahku lalu memejamkan mata.

“Hm, ppalinawa!”

Aku melirik bibir Tiffany dan merasakan jantungku mulai bekerja diatas normal. Suasana di lift terasa jauh lebih panas dan membuat diriku gelisah karena gerah.  Ini benar-benar diluar perkiraan dan aku mulai salah tingkah. Apakah aku benar-benar akan menciumnya?

Tiffany masih dengan tenang didalam posisi tubuhnya yang seperti itu. Matanya masih terkatup rapat dan menungguku untuk melakukan sesuatu. Aku menghembuskan napas ke hadapan telapak tanganku untuk memastikan bau mulutku tidak bermasalah. Sejurus kemudian, aku menarik napas panjang dan menutup mataku.

Aku beringsut maju ke depan dengan sangat perlahan. Beberapa senti. Aku bisa merasakan napas Tiffany menghembus didepan wajahku, membuat jantungku melompat-lompat bak kegirangan. Lalu…

BRUK!

Tubuhku terdorong ke depan dan menabrak dinding lift. Sementara Tiffany terlontar ke samping. Kami berdua terkejut saat mendengar suara lift yang menggeram dari luar dan akhirnya lift itu berjalan seperti semula.

“Liftnya jalan!” sorak Tiffany bahagia.

Sementara aku hanya bisa mendesah kecewa. “Aish~”

Nichkhun’s POV end

***

Tiffany’s POV

TING!

Suara lift berbunyi. Kami akhirnya tiba dilantai 63. Dan saat pintu lift terbuka, aku terbelalak saat melihat satu set meja makan yang ada di tengah-tengah atap gedung. Ada beberapa lilin kecil yang terletak diatas meja, menanambah unsur romantis didalamnya.

“Apakah kau menyukainya?” tanya Nichkhun.

Aku berpaling padanya dan tersenyum lebar. “Tentu saja.”

Sejenak, kami melupakan kejadian yang menegangkan tadi lalu berjalan menghampiri meja makan itu. Namun ada beberapa hal aneh yang kutemui disana. Makanan yang seharusnya ada diatas meja saat itu menghilang entah kemana. Seolah telah ada seseorang yang menghabiskannya.

“Dimana makanannya?” pekik Nichkhun.

Aku mengamati keadaan disekeliling kami dan melihat kawanan burung gagak bertengger dipagar pembatas atap gedung. Aku melihat dengan sangat jelas ada irisan daging panggang diparuh burung gagak itu.

“Mereka yang menghabiskannya,” kataku pada Nichkhun sembari menunjuk kearah kawanan burung gagak itu.

“Mwo?” Nichkhun berpaling kearah yang kutunjuk dan berteriak marah kearah burung gagak itu. “YA!”

Ketika Nichkhun berteriak frustasi, burung gagak itu mengeluarkan suara-suara aneh seolah sedang mengejeknya lalu terbang pergi. Aku tertawa kecil melihat reaksi Nichkhun yang tampak begitu kesal dan marah karena dinner yang ia siapkan gagal total.

“Sudahlah,” Aku mengusap punggung pemuda itu. “Setidaknya, kita masih bisa menikmati winenya, bukan? Tapi aku harap, kita tidak usah berlama-lama disini sebelum burung lain mengganggu kita lagi. Bagaimana?”

Nichkhun menggigit bibir bawahnya dengan ragu lalu akhirnya mengangguk pasrah.

Tiffany’s POV end

***

Author’s POV

“Mianhae, acara ulangtahunmu jadi kacau karena aku,” ucap Nichkhun dengan nada menyesal.

Tiffany tertawa kecil. Ia menuangkan wine itu ke gelas mereka masing-masing lalu berkata, “Gwaenchanha. Lagipula itu bukan kesalahanmu. Setidaknya kau sudah cukup baik untuk memberikan kejutan untukku.”

“Lalu, apakah kau menyukainya?”

“Ne, mungkin aku akan menyukainya jika lift itu tidak berhenti secara tiba-tiba dan…”

Sontak keduanya menghindari saling bertatapan mata saat mengingat kejadian di lift tadi. Keduanya merasa situasi mulai awkward dan tidak terasa nyaman.

“Ayo, minum saja winenya!” kata Tiffany, mencoba mencairkan suasana.

Nichkhun tersenyum gugup dan mengangguk. Keduanya mengambil gelas masing-masing lalu meneguknya dengan perlahan. Mereka larut dalam diam dan ketenangan malam, duduk berdua ditaman, sambil menikmati langit.

“Ya Tuhan!” Nichkhun tiba-tiba tersentak, teringat oleh sesuatu. “Aku lupa dengan ini.”

Tiffany meletakkan gelas winenya dan bertanya, “Apa maksudmu?”

Nichkhun merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sepasang gembok berwarna biru dan merah muda. “Seharusnya kita memasang ini di gedung tadi, tapi aku benar-benar lupa.”

“Kalau begitu, pasang diatas pohon itu saja!” usul Tiffany sambil menunjuk sebuah pohon dihadapan mereka. Pohon pinus.

“Benar juga!” Nichkhun mengangguk, menyetujui. Ia lalu mengeluarkan sebuah spidol hitam dari kantungnya dan menuliskan sesuatu diatas gembok berwarna merah muda itu.

Setelah beberapa saat menulis diatas gembok merah muda itu, Nichkhun menyerahkan gembok berwarna biru pada Tiffany berikut dengan spidolnya. “Tuliskanlah sesuatu yang ingin kau tulis di gembok berwarna biru itu. Anggap saja bahwa itu adalah harapanmu untukku.”

Tiffany meraih gembok itu lalu menuliskan sesuatu diatasnya. Sesekali Nichkhun berusaha mencuri-curi pandang untuk dapat melihat tulisan Tiffany. Namun begitu gadis itu menatapnya, dengan segera ia mengalihkan pandangannya dan memasang raut tak bersalah.

“Selesai!” seru Tiffany.

“Coba kulihat.”

Keduanya saling bertukar gembok untuk melihat tulisan masing-masing.

Kau terlihat lebih cantik jika sedang tidak marah ^^” Tiffany tertawa saat membaca tulisan Nichkhun. “Jinjja? Apakah aku begitu cantik jika sedang tidak marah?”

Nichkhun terkekeh pelan dan mengangguk.

Yang tadinya ia tertawa, raut wajah Tiffany berubah datar dan dingin dengan drastis. “Ya, juggolae?”

Pemuda itu menelan ludah dan tertawa gugup. “Mianhae.”

Seusai membaca tulisan masing-masing, Nichkhun bertugas untuk naik ke atas pohon dan menggantungkan gembok itu dipuncak yang paling tinggi. Dengan sangat hati-hati ia menggunakan beberapa ranting pohon yang kokoh sebagai pijakannya dan berhasil mencapai puncak pohon.

“Oetteoh? Terlihat bagus, bukan?” tanya Nichkhun begitu mendarat dengan aman keatas tanah. Keduanya memandang gembok yang ada diatas puncak pohon sambil tersenyum puas.

Nichkhun yang masih mendongak keatas terkejut saat merasakan usapan tangan Tiffany pada dahinya secara tiba-tiba. Ia menoleh kearah gadis itu dengan raut bingung.

“Mian, tadi ada kotoran di dahimu,” kata Tiffany dengan suara pelan.

Nichkhun hanya tersenyum gugup lalu berkata, “Ayo, kita lanjutkan saja minum winenya.”

Author’s POV end

***

Nichkhun’s POV

“Berat sekali,” keluhku sambil memapah tubuh Tiffany.

Gadis itu kembali tak sadarkan diri setelah hampir menghabiskan setengah botol wine seorang diri. Aku berjalan ke pinggir trotoar untuk mencegat sebuah taksi.

“Tolong antarkan kami ke jalan Yongdae,” kataku pada supir taksi dan ia mengangguk.

Aku mencoba memperbaiki posisi duduk Tiffany saat kami berdua masuk ke dalam taksi. Saat sedang menikmati pemandangan diluar jendela, tiba-tiba aku merasakan kepala Tiffany jatuh ke atas pundakku. Disusul dengan tangannya yang melingkar dipinggangku dengan sangat rapat.

Aku menarik dan menahan napas untuk beberapa saat, mencoba mengatur pergerakan jantungku.

“Ah-ah-ahjussi,” panggilku pada supir taksi itu.

“Ne?”

“Tolong pelan-pelan saja membawa taksi ini.”

“Ah, ne!”

***

Saat tengah membawa Tiffany dipunggungku, aku melihat seorang pemuda berdiri didepan pintu masuk apartemenku. Ia membawa sebuket bunga dan tengah membelakangiku. Sebelumnya, aku tak pernah mengenal pemuda ini. Dan saat ia membalikkan badan dan mata kami bertemu, ia segera membungkuk kearahku dengan sopan.

“Annyeonghaseo!”

“Ah, ne, annyonghaseo!” balasku menyapanya.

Ia melirik Tiffany yang masih tak sadarkan diri lalu bertanya, “Apakah itu Tiffany?”

“Ne, ini Tiffany.”

“Apa yang terjadi padanya? Apakah ia sedang mabuk?”

Aku mengangguk.

“Hm, sepertinya aku sudah datang disaat yang tidak tepat,” gumamnya.

Aku tidak mengerti apa maksud kedatangannya, tapi dari apa yang bisa kutangkap, sepertinya ia adalah salah seorang teman Tiffany. Entahlah. Hanya sebatas teman atau lebih. Seorang pemuda yang membawa bunga untuk seorang gadis, bukankah itu mencurigakan?

Aku berdeham dan memberanikan diriku untuk bertanya pada pemuda itu. “Kau… siapa?”

To be continued…

***

NB:

Oh ya, saya membaca beberapa komentar dipart sebelumnya yang kayaknya agak kurang sreg sama karakternya Tiffany yang galak dan jutek, saya minta maaf untuk Fanytastic yang merasa Tiffany saya buat buruk di FF ini, tapi saya bener-bener nggak ada maksud apa-apa. Seperti yang saya bilang sebelumnya (di disclaimer), FF ini terinspirasi dari “My Sassy Girl” yang artinya “Gadisku Yang Lancang”, jadi saya hanya mengikuti karakter yang ada. Secara pribadi sih, saya sebenernya hanya mengarahkan sifat Tiffany yang agak galak untuk membangkitkan unsur komedinya. Jadi, mianhae sekali lagi buat Fanytastic  & juga para Winkies yang dimana karakter Nichkhun dinistakan disini *plak*. Thank you 🙂

120 thoughts on “Sticking With You (Part 4)

  1. Aaaaa suka banget sama part ini, apalagi kejadian yg pas di lift ituloh. Sweet~~ siapakah laki2 itu? Mantan Tiffany kah? Kyknya bakal jd sainggannya Khun nih. Kekeke!

  2. Sweet banget sih mereka! Jangan bilang ‘oppa’ nya Tiffany itu Siwon? Oh no!!!-_- overall aku suka sama ceritanya! Masih nggak ngerti kenapa tiffany jutek begitu ‘3’
    Aku lanjut baca next partnya doloooo~ *kabur*

  3. gwenchana author.. ini kan hanya cerita fiksi, lagian sifat tiffany yg begitu memberikan kesan yg beda dr pda yg lain, kkkk unik gtu…bagus2 😀
    hah~ knapa khun mnta kiss sm ppany yah? hahaha, adegan yg mendebarkan..
    eh, namja yg d.dpn pntu apartment khunfany sapa ya? penasaran*
    next part

  4. kyaaa mereka hampir ciuman tapi gagal huh…khun udah mulai cinta tuh ama fany tapi sayangnya byunghee harus datang ke apartment khun hah andwee, jangan ada yang bwa fany dari khun.

    -khunfany REAL-

  5. Siapa namja itu? Jangan” yg nelpon fany yg dipanggil ‘Oppa’? Ada hubungan apa mereka dulunya? Apa mantan fany?

    Aaahhh selalu suka momeng khunfany >< Apalgi pas di lift tpi sayangnya gagal kissue deh hehehe

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s