Sticking With You (Part 5)

Author: Tirzsa

Main cast:

  • SNSD’s Tiffany
  • 2PM’s Nichkhun

Support cast:

  • 2PM’s other member

Special cameo:

  • DBSK’s Yunho

Genre: Romance

Length: Chapter

Rating: PG – 16

Disclaimer: Terinspirasi dari “My Sassy Girl”.

Previous part: [Part 1] | [Part 2] | [Part 3] | [Part 4]

***

Author’s POV

Nichkhun merebahkan tubuh Tiffany diatas ranjang lalu menghampiri kembali pemuda yang membawa sebuket bunga mawar tadi yang berdiri diluar pintu apartemen.

“Jadi…” Nichkhun tak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap pemuda itu dengan bingung.

“Hm, sebaiknya aku datang besok saja, mengingat keadaan Tiffany seperti itu,” pemuda itu menjulurkan kepalanya untuk mengintip kedalam apartemen, melihat Tiffany yang masih tak sadarkan diri.

“Ne, aku pikir juga begitu.”

“Hm, kalau begitu, tolong berikan ini pada Tiffany,” pemuda itu menyerahkan sebuket bunga mawar itu pada Nichkhun. “Dan ucapkan juga padanya, selamat ulangtahun.”

“Ah, ne, akan kusampaikan padanya,” kata Nichkhun sambil tersenyum ramah.

Pemuda itu balas tersenyum. Ia mulai membalikkan badan dan pergi menjauh. Namun, Nichkhun kembali mencegatnya.

“Jogiyo!”

Pemuda itu menoleh kebelakang. “Ne?”

“Kau belum mengatakan namamu.”

“Ah, benar juga.” Pemuda itu terkekeh pelan. “Namaku Jung Yunho. Yunho.”

“Ah, baiklah.” Nichkhun mengangguk dan pemuda itupun berlalu.

Author’s POV end

***

Tiffany’s POV

Kepalaku tiba-tiba terasa sangat sakit dan berat. Kelopak mataku enggan terbuka sedikitpun. Aku tidak mengingat apa yang sudah terjadi malam tadi. Tapi entah mengapa aku bermimpi mendengarkan suara Yunho oppa tadi malam. Dan terasa sangat nyata. Seolah ia sangat dekat denganku. Hanya berjarak beberapa senti dihadapanku.

Aku mengerang lalu mencoba membuka mata. Semuanya tampak begitu silau dan mataku mulai membiasakan akan cahaya yang terang itu. Saat aku benar-benar bangun, aku melihat Nichkhun masih terkapar dilantai. Tertidur dengan sangat pulas.

Aku mulai ingat apa yang terjadi semalam. Nichkhun memberikan kejutan ulangtahun untukku tapi sayangnya kejutannya gagal karena ulah para kawanan burung gagak itu. Aku tertawa sendiri saat mengingat kejadian itu.

Aku mengamati sekelilingku dan mataku tertumbuk pada sebuket bunga mawar yang ada diatas meja rias. Sesuatu yang rasanya kukenali. Aku segera mengambil bunga mawar itu dan mencari-cari kartu diantaranya. Tak jarang tanganku tertusuk oleh duri-duri tajam bunga itu. Tapi nyatanya memang tak ada kartu nama disana.

Aku berpaling kearah Nichkhun. Ia pasti tahu sesuatu tentang bunga ini.

“Ya, ireona! Ya!” Aku menendang-nendang kaki Nichkhun dengan kasar dan pemuda itu hanya menggeram kesal.

“Aish, sebentar lagi. Aku masih sangat mengantuk.”

Aku yang mulai naik pitam, mendekat kearah telinganya lalu berteriak sekencang-kencangnya, “YA! NICHKHUN!”

“Argh!” Ia terlonjak dari bangunnya dan mengusap telinganya berulang-ulang kali. “Wae?!” erangnya kesal.

“Siapa yang memberikan bunga ini?” tanyaku sambil mengangkat bunga mawar itu didepan wajahnya.

“Kau membangunkanku hanya untuk menanyakan hal itu?” protesnya.

“Ya, jawab saja! Ppali!”

“Seorang pemuda,” sahutnya malas.

“Pemuda? Bagaimana rupanya? Apakah ia menyebutkan namanya?”

Nichkhun mengangguk. “Ia bilang namanya Jung Yunho. Yunho. Namanya Yunho. Kau puas sekarang?”

Aku terbelalak. Jadi, Yunho oppa benar-benar sudah kembali dari Amerika?

“Mengapa kau tidak mempertemukanku dengannya?” protesku.

“Ya, bagaimana bisa? Kau saja sedang mabuk berat. Lagipula itu sudah larut malam, aku tidak bisa membiarkan seseorang yang tidak kukenal masuk begitu saja kedalam rumahku walaupun ia mengaku bahwa ia adalah temanmu.”

Aku mendengus lalu meraih ponselku. Setidaknya, aku harus melakukan sesuatu.

Tiffany’s POV end

***

Nichkhun’s POV

Sejak sejam yang lalu, Tiffany tidak pernah melepas ponselnya. Aku tidak mengerti mengapa ia begitu ingin menghubungi pemuda bernama Yunho itu. Seberapa pentingnya pemuda itu untuknya? Mungkin sangat penting.

“Sudahlah. Mungkin ia sedang sibuk sekarang. Kau mengganggunya jika kau terus menghubunginya seperti itu,” kataku santai.

Tiffany lalu berbalik dan memberiku tatapan tajam, “Bisakah kau diam dan melanjutkan saja kegiatanmu?”

Aku mendesah. Mungkin aku memang tidak seharusnya ikut campur dalam urusannya.

Aku yang saat itu sedang bersiap-siap untuk pergi ke perpustakaan, entah mengapa, merasa sangat malas. Aku ingin dirumah saja. Mengawasi Tiffany. Jujur, aku merasa khawatir jika Tiffany akan bertemu dengan pemuda itu. Entah apa yang kutakutkan. Aku hanya merasa seperti itu saja untuk alasan yang aku sendiri tidak tahu.

Aku beranjak ke dapur untuk membuat segelas kopi saat kudengar Tiffany bersorak girang. Aku mengintip lewat pintu dapur dan melihat ia menatap layar ponselnya yang berkedip-kedip. Ada telepon masuk rupanya dari Yunho. Pantas saja ia sangat senang.

“Yunho oppa!” seru Tiffany.

“Yunho oppa!” gumamku pelan, mengikuti Tiffany dengan nada yang dibuat-buat. Mendadak aku merasa kesal saat itu.

“Ne, gwaenchanha. Bagaimana kabarmu? Kapan oppa tiba di Korea?”

Selanjutnya aku tidak sungguh-sungguh berkonsentrasi pada kopi buatanku. Aku hanya terus menambahkan—entah itu gula atau kopi—ke dalam cangkit sembari memasang telinga untuk mendengar obrolan Tiffany dan Yunho.

“Oh, jinjjayo?”

Aku mendengar suara Tiffany yang tertawa dan itu membuatku semakin kesal. Aku benar-benar penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan.

“Ne, aku tidak sibuk hari ini. Bagaimana kalau kafe dipinggir jalan sana? Jam 3 sore? Ne, arasso. Sampai jumpa!”

Aku kembali berpura-pura fokus pada kopiku begitu Tiffany mematikan ponselnya dan menoleh kearah dapur. Setelah merasa aman dan tidak lagi diperhatikan olehnya, aku mendesah lega. Aku mengangkat cangkir kopiku lalu meneguknya dalam-dalam. Sejurus kemudian, aku memuntahkan kembali kopiku dan hampir saja mati tersedak.

Aku memerhatikan cangkir kopiku tadi dan baru menyadari bahwa aku terlalu banyak memasukkan kopi. Hampir setengah cangkir!

Nichkhun’s POV end

***

Author’s POV

“Khun hyung, apakah kalian punya rekomendasi buku yang bagus disini?” tanya Junho sambil melihat-lihat jejeran buku di rak buku khusus sastra klasik.

Hening. Junho tak mendengar Nichkhun menyahut disana. Ia menoleh untuk melihat keadaan dan mendapati Nichkhun tengah berpangku dagu dengan raut datar.

“Ya, hyung!” panggilnya setengah berteriak.

Nichkhun terlonjak dan langsung menoleh. “Ya, mwoya?”

“Aku daritadi mengajakmu bicara tapi kau tidak mendengarkanku,” keluh Junho sambil duduk bersama dengan Nichkhun dan Junsu.

“Sudahlah, Junho,” kata Junsu, menengahi. “Nichkhun sedang banyak pikiran. Ia sedang memikirkan yeojachingunya.”

Junho terbelalak. “Mwo? Yeojachingu? Hyung, mengapa kau tidak memberitahuku bahwa kau sudah memiliki yeojachingu?”

“Aish, kau mempercayai perkataan Junsu, hah?”

Junsu terkekeh. “Tapi, itu benar, kan? Kau sedang memikirkannya, kan?”

“Ya, sebenarnya, siapa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Junho yang merasa disisihkan.

“Kau tahu, saat Nichkhun pertama kali datang kesini, ia datang bersama seorang yeoja. Yeoja itu sangat cantik, hanya saja sedikit galak,” jelas Junsu dengan seringai diwajahnya.

“Oh, jinjjayo? Siapa yeoja itu, hyung?” Junho terlihat semakin bersemangat.

“Entahlah,” Junsu mengangkat bahu. “Nichkhun bilang, mereka hanya berteman.”

Junsu dan Junho menatap curiga kearah Nichkhun dan membuat pemuda itu merasa risih. “Ya, neo, juggolae?”

Keduanya sontak terbahak. “Ya, tingkahmu itu sangat ketahuan. Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu dan tebakanku tadi tidak salah, kan?” kata Junsu.

“Ne, ne, kau menang sekarang. Puas?” Nichkhun menghela napas.

Junsu dan Junho terbahak. “Apa yang mengganggu pikiranmu, hyung?” tanya Junho.

“Entahlah, aku tidak begitu tahu. Hanya saja, aku merasa khawatir,” jawab Nichkhun.

“Khawatir? Khawatir akan apa?”

“Aku juga tidak mengerti. Entah yakin atau tidak, tadi malam aku bertemu seseorang. Sepertinya ia punya hubungan dengan Tiffany. Dan aku merasa khawatir begitu saja.”

Junho terkikik geli. “Jadi, kau cemburu?”

Walau sulit untuk mengakuinya, Nichkhun memilih untuk diam saja. Tidak mengakui, tidak juga mengelaknya. Ia sendiri masih belum begitu yakin.

“Lalu, bagaimana dengan pemuda itu?” tanya Junsu.

“Tadi pagi aku sempat mendengar keduanya mengobrol lewat ponsel. Kukira mereka akan bertemu sore ini di kafe pinggir jalan Yongdae.”

“Kalau begitu, pergilah kesana.”

Nichkhun mengernyit. “Untuk apa?”

“Bukannya kau merasa khawatir? Datanglah kesana untuk mengawasi gerak-gerik keduanya.”

“Tapi bukankah itu membuatku terlihat seperti seorang penguntit?”

“Aish!” Junsu melambaikan tangannya ke udara lalu berkata, “Tidak usah pikirkan hal itu. Lagipula kau menguntit bukan untuk hal negatif, bukan? Kau hanya khawatir akan keadaan yang mungkin saja bisa menimpa Tiffany. Dan kau memang harus menjaganya.”

“Benar, hyung!” imbuh Junho.

Nichkhun menghela napas. “Hm, baiklah.”

Author’s POV end

***

Nichkhun’s POV

15.34 sore.

Aku sudah terlambat 34 menit. Entah sudah sepanjang apa obrolan Tiffany dan Yunho. Dari balik tiang listrik, aku memerhatikan keduanya duduk bersama di dalam kafe, tepat didekat jendela. Wajah Tiffany tampak berseri-seri dari biasanya.

Selepas menyelesaikan pekerjaanku diperpustakaan, aku langsung kemari, kafe Yongdae. Aku mengikuti saran Junsu untuk memerhatikan gerak-gerik keduanya. Dan sejauh ini, aku belum melihat ada yang aneh-aneh. Tapi siapa tahu saja akan terjadi sesuatu, jadi kuputuskan untuk mengintai mereka dari dalam kafe.

Aku menggunakan penyamaranku. Aku menggunakan kacamata, kumis palsu, topi, dan mantel lalu masuk ke dalam kafe. Aku memilih duduk disebuah meja kosong yang sejajar dengan meja mereka, tepat membelakangi keduanya. Antara mejaku dan meja mereka hanya berjarak beberapa meter. Walaupun sedikit khawatir, tapi aku yakin penyamaranku tidak akan terbongkar.

Aku menarik sebuah buku menu dari atas meja dan menutupi setengah wajahku sambil terus memasang mata kearah Tiffany.

“Permisi, Tuan, Anda ingin memesan sesuatu?”

Tiba-tiba seorang pelayan pria dengan wajah datar menghampiriku. Ia memegang sebuah buku catatan kecil dan sebuah pulpen. Bersiap untuk mencatat pesananku.

“Hm, mianhae, tapi aku tidak memesan apa-apa.”

“Kalau begitu kau harus keluar dari kafe kami jika hanya ingin menumpang duduk,” ucapnya dingin.

Aku mendengus kesal mendengar gertakan pria itu. “Baiklah, aku pesan cola saja.”

Ia mencatat pesananku dan berlalu dari hadapanku.

Aku kembali berkonsentrasi pada Tiffany dan Yunho. Mereka masih mengobrol sambil bercanda sesekali. Aku mengangkat wajahku dari buku menu yang menutupi wajahku, untuk dapat melihat dengan jelas. Aku mencoba menerka-nerka arah obrolan mereka dari mimik dan mulut mereka.

Dan tiba-tiba, mata Tiffany bertemu dengan mataku. Aku segera menunduk dan menutupi wajahku dengan buku menu.

“Hampir saja,” gumamku sambil mendesah lega.

Setelah merasa cukup aman, aku kembali mengangkat wajahku dan memerhatikan keduanya.

“Tuan, ini minuman Anda. Harganya 2000 won.” Pelayan itu kembali mendatangiku dengan segelas minuman cola dingin.

“Ne, nanti kubayar.”

“Ani, Anda harus membayarnya sekarang.”

Aku menatap pelayan itu dengan kesal. Ia sangat mengganggu. “Mengapa harus seperti itu? Aku pasti akan membayarnya.”

“Mian, Tuan. Tapi manajerku bilang tampang Anda seperti pencuri, jadi kami meminta Anda membayar minuman ini terlebih dahulu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.”

Aku menggeleng-gelengkan kepala dan akhirnya hanya bisa menurut. Aku merogoh beberapa lembar won dari dompetku dan menyerahkannya pada pelayan itu. “Ambil saja kembaliannya,” kataku.

Pelayan itu mengamati uang 2000 wonku lalu mendesis, “Cih, kembaliannya saja hanya beberapa won, lalu dia bilang boleh mengambil kembaliannya. Dasar pelit!”

“Aish!” Aku mendengus saat melihat ulah pelayan itu. Benar-benar menyebalkan.

Setelah letih beradu mulut dengan pelayan itu, aku kembali fokus pada tujuanku yang sebenarnya. Aku kembali menoleh kearah Tiffany dan Yunho, namun mereka sudah tak ada lagi disana. Meja itu kini kosong, hanya ada seorang pelayan yang tengah mengangkat piring makanan mereka.

“Kemana mereka?” gumamku.

“Ya, mwohaneungoya?”

Aku terlonjak saat tiba-tiba menyadari Tiffany yang telah duduk disampingku.

“Oh! Kau.. Bukannya kau.. Mengapa kau ada disini?” tanyaku terbata-bata.

“Bukankah seharusnya aku yang bertanya demikian? Apa yang kau lakukan disini? Dan mengapa kau berdandan seperti ini?”

“Hm.. Aku..”

“Kau mengintaiku, kan?” Tiffany menatapku curiga. “Maka dari itu kau berdandan seaneh ini agar aku tidak mencurigaimu yang sejak tadi memerhatikan kami, kan?”

Wajah Nichkhun berubah pucat dan ia mulai terlihat salah tingkah. Ini benar-benar diluar dugaannya. Bagaimana bisa ia tidak menyadari kehadiran Tiffany disisinya?

“Dan kau…” Tiffany mengambil gelas cola yang diatas meja, “Meminum cola? Sudah berapa kali aku bilang minum air putih saja, huh?!”

“A-a-aku… Itu…” Nichkhun benar-benar tak sanggup membela dirinya lagi. Semuanya sudah benar-benar terbongkar.

“Sudah berani mengintaiku, sekarang kau mau menyangkal juga soal cola ini, huh? Juggoleyo?” Tiffany menjewer telinga Nichkhun dengan kesal lalu berkata, “Ayo cepat pulang!”

Author’s POV end

***

Byunghee’s POV

Aku meneguk wiskiku untuk gelas yang ke tujuh. Sudah hampir dua minggu sejak kaburnya Tiffany dan aku kehilangan banyak uang karena pertunangan kami yang tertunda. Aku membuka kotak cincin berwarna biru tua yang ada diatas meja. Dua cincin yang kupesan jauh-jauh dari Paris, kini tidak terlihat indah lagi dimataku.

Aku berulang menelepon bibi Hwang untuk menanyakan soal keberadaan Tiffany, tapi wanita baya itu juga belum mendapat kepastian apapun dari polisi. Masih belum ada yang menelepon dan mengatakan bahwa mereka melihat Tiffany.

“Aku pikir semua orang di Seoul tidak peduli soal kertas pencarian orang hilang itu. Kita harus melakukan sesuatu untuk menarik perhatian orang-orang agar mau membaca kertas pencarian orang hilang itu. Imbalan mungkin?” Begitulah saran bibi Hwang kepadaku saat kami berbincang lewat ponsel.

Dan aku pikir, saran bibi Hwang sangat tepat. Tidak akan ada orang yang menolak uang. Dengan begitu, mereka pasti akan berlomba-lomba untuk dapat menemukan Tiffany, dan aku bisa segera menikahi Tiffany.

Aku mengambil ponselku yang terletak diatas meja lalu memutar nomor kantor polisi.

“Selamat malam, ada yang bisa kami bantu?” Suara berat salah seorang petugas kepolisian menggema diseberang sana.

“Aku Byunghee. Aku adalah tunangan dari Tiffany, gadis yang masuk dalam daftar pencarian orang hilang.”

“Ah, ne, tuan Byunghee. Ada apa?”

“Aku ingin kalian membuat ulang kertas pencarian orang hilang untuk Tiffany.”

“Ada apa memangnya? Apakah kertas buatan kami kurang bagus?”

“Bukan, bukan itu,” kataku dengan suara tertahan. “Aku ingin kalian menambahkan uang imbalan disana.”

“Uang imbalan?”

Aku mengangguk. “Betul.”

“Baiklah, akan kami catat. Berapa banyak imbalan yang Anda akan jaminkan?”

Aku terdiam beberapa saat lalu menjawab dengan nada sangat yakin, “20 juta won.”

Byunghee’s POV end

***

Author’s POV

Tok! Tok! Tok!

Nyonya Horvejkul yang awalnya tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk dirinya, terkejut saat mendengar suara pintu rumahnya yang diketuk dengan kasar oleh seseorang. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Waktu yang kurang tepat untuk bertamu. Dan nyonya Horvejkul yakin, orang yang mengetuk pintu rumahnya adalah tamu yang tidak diinginkan.

Tok! Tok! Tok!

“Ne, tunggu sebentar!”

Nyonya Horvejkul berlari kecil dan segera membuka pintu. Seorang pria bertubuh gempal, dengan potongan rambut klimis, dan bekas luka jahitan dibawah matanya muncul dihadapan wanita baya itu. Sebatang cerutu terselip dibibir hitam milik pria itu.

“Annyeong!” sapa pria itu dengan senyum misterius.

“Mau apa kau datang kemari?” tanya nyonya Horvejkul dengan suara terbata.

“Bersikap sopanlah sedikit. Apa kau tidak pernah diajar tata krama?”

“Ani. Pergi dari rumahku sekarang juga!”

Nyonya Horvejkul hendak menutup pintu rumahnya, tapi pria itu menahan pintu itu agar tetap terbuka dengan kedua tangannya. Ia menyuruh dua anak buahnya yang berbadan tegap dan besar untuk mendobrak pintu. Dan akhirnya, nyonya Horvejkul terpental jatuh ke belakang.

Pria dan beserta dua anak buahnya itu tertawa kecil saat melihat nyonya Horvejkul dalam keadaan tak berdaya.

“Jangan pernah macam-macam denganku. Jangan pernah…”

Author’s POV end

***

Nichkhun’s POV

Sudah sejam lebih Tiffany berkutat dengan ponselnya. Aku bisa mendengar suaranya yang berbisik-bisik. Walaupun demikian, aku tahu bahwa ia sedang mengobrol dengan Yunho. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi bisa kutebak mereka sedang mengobrol tentang masa lalu mereka yang menyenangkan.

Walaupun merasa terganggu dengan suara bisik-bisik dan cekikikan Tiffany, aku hanya bisa berpura-pura bahwa aku telah tidur. Aku tak berniat untuk mengganggu keduanya. Aku pikir, Tiffany memang butuh teman saat ini. Jadi kubiarkan saja ia menikmati waktunya dengan pemuda itu. Lagipula, aku punya hak apa untuk mengganggunya?

“Baiklah, bagaimana kalau kita bertemu ditaman luar?” Aku mendengar suara Tiffany lagi.

“Ne, baiklah. Kutunggu ditaman luar apartemen.”

Selanjutnya, aku tak mendengar suara Tiffany lagi. Aku segera menutup mata dan berakting seakan-akan telah tidur saat Tiffany bangun dari tempat tidur. Aku mengintipinya saat ia sedang merangkak dengan hati-hati kearah lemari dan mengambil pakaian hangatnya. Dan selanjutnya, ia keluar dari apartemen.

“Apakah mereka akan benar-benar bertemu dimalam seperti ini?” gumamku pelan.

Karena merasa khawatir—bayangkan saja, seorang pemuda dan gadis bertemu dipenghujung tengah malam, apa yang akan terjadi?—aku berniat mengikuti Tiffany. Setelah menggunakan pakaian hangat dan sepatu, aku mengikutinya dari belakang dengan jarak terpaut beberapa meter.

Ketika kami sampai dilantai bawah apartemen, Tiffany tiba-tiba menoleh kebelakang dan aku segera bersembunyi dibalik tiang besar penyangga gedung. Begitu merasa aman, aku kembali mengintip dan melihat Tiffany sudah kembali berjalan menuju taman. Lalu aku kembali mengikutinya.

Sesampainya ditaman, aku bisa melihat Yunho sedang duduk di bangku taman sambil memegang dua gelas minuman hangat. Aku mencari sebuah pohon cukup besar untuk bersembunyi dan terus mengawasi gerak-gerik keduanya. Tiffany mulai berlari kecil untuk menghampiri Yunho.

“Apa kau tidak apa-apa keluar dimalam yang dingin seperti ini?” Kudengar suara Yunho dengan begitu jelas.

“Ne, gwaenchanha, oppa. Kau membeli minuman hangat?”

“Ah, ne. Untukmu.” Yunho memberikan gelas satunya kepada Tiffany dan keduanya menyesap minuman mereka masing-masing.

“Oh ya, aku ingin menanyakan sesuatu padamu,” kata Yunho lagi. “Siapa pemuda yang tinggal bersamamu itu?”

“Nugu? Nichkhun?”

Yunho mengangguk.

“Ah, dia hanya teman. Teman saja,” jawab Tiffany santai.

Aku mengernyit tak suka. “Hanya teman?” gumamku.

Kulihat senyum Yunho semakin merekah saat Tiffany mengatakan bahwa hubunganku dengannya hanya sebatas teman. Dan melihat senyumnya itu nyaris membuatku mual. Benar-benar memuakkan!

“Apakah kau kedinginan? Pakailah jaketku.”

Aku semakin tidak percaya dengan apa yang kulihat saat Yunho melepaskan pakaian hangatnya dan membungkus tubuh Tiffany dengan pakaian itu. Dan lebih sintingnya lagi, Tiffany hanya tersipu-sipu malu saat Yunho memperlakukannya seperti itu. Ia tak menolak sama sekali. Ini membuat hatiku semakin panas dan juga bertanya-tanya, hubungan macam apa yang pernah keduanya punya?

Saat tengah serius mengintai, tiba-tiba ponselku bergetar. Satu telepon masuk dari oemma.

“Ne, oemma?” sahutku setengah berbisik.

“Khun-ah..” Kudengar suara oemmaku yang melemah. Seolah ia sedang menghadapi masa sekarat.

“Oemma? Ada apa? Mengapa suaramu terdengar seperti itu?” tanyaku khawatir.

“Khun-ah, tolong oemma..”

Karena merasa ada sesuatu yang buruk terjadi pada oemma, aku tak mampu menahan diri untuk tidak merasa khawatir dan juga panik, walaupun belum mengetahui pasti apa yang telah terjadi.

“Ne, oemma ada dirumah, kan? Tunggu aku disana. Aku akan segera kesana.”

Aku menutup flip ponsel dan melihat kearah Yunho dan Tiffany yang masih menikmati obrolan mereka. Tidak ada waktu untuk mengawasi keduanya lebih lama, oemmaku jauh lebih penting.

To be continued…

***

NB:

  • Untuk beberapa alasan, FF ini saya tunda untuk diprotect dulu. Mungkin akan diprotect pada part terakhir.
  • Mungkin kemarin ada readers yang nanya, “kok bisa Yunho tahu apartemen Nichkhun?”, well, sebenernya pas lagi di lift, pas Tiffany megang ponsel & Nichkhun negur dia, sebenernya disitu Tiffany lagi smsan sama Yunho, tapi lupa dijelasin. Mianhae~
  • Mungkin kemarin-kemarin ada beberapa readers yang belum tahu bagaimana bentuk dan rupanya lie detector itu. Nih, saya sertakan gambarnya:

(lie detector)

112 thoughts on “Sticking With You (Part 5)

  1. Yah sekarang tiffany yang bilang kalo hubungannya dengan nichkhun hanya teman , tapi kenapa di part sebelumnya tiffany marah saat nichkhun bilang ke junho bahwa mereka hanya teman? Ckck -_- lanjuttt

  2. Ibu khun knpa? Orang” itu ngapain ibunya khun? Mereka siapa? Duhh kasian emaknya khun..

    Yunho ya? Dia yg mantannya fany? Fany masih suka sama yunho?

    Aduuhh ribett bgni mna skrng udh ada uang imbalan buat kerts ilang fany lagi ckckck

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s