KyuRin Tale : Ugly

Author : Iefabings

Cast : Cho Kyuhyun (SJ), Song Hyerin (oc), Super Junior, Song Harin (oc), Song Eunhye (oc), Song Eunchae (oc)

Introducing : Aunty Cho, aunty Lee, aunty Park (Kona Beans’ auties)

Guest Star : Victoria f(x)

Genre : Romance, comedy, family

Rating : PG-13

P.S : Hari ini saya kembali membawa ff aneh ciptaan saya. Tokoh-tokoh baru mulai bermunculan. Semoga gak bikin bingung. Hehehe…

^0^

Hyerin pov

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Pagi ini, aku membuat tiga perjanjian dengan diriku sendiri. Pertama, tidak akan memikirkan KyuToria lagi. Kedua, tidak akan browsing tentang KyuToria lagi. Ketiga, menghilangkan KyuToria sepenuhnya dari otakku. Huft, penuh dengan KyuToria.

Aku keramas, untuk menghilangkan stress. Kalau dipikir-pikir sebenarnya untuk apa aku capek-capek memikirkan KyuToria? Aku kan bukan siapa-siapanya Kyuhyun. Dan yang perlu ku garis bawahi juga, Kyuhyun tidak mungkin sekali pun memikirkanku. Jadi aku buang-buang waktu dan tentu saja buang-buang lemak karena aku yakin sekarang berat badanku menurun.

Dan benar saja, setelah memakai seragam lengkap, sebelum sarapan aku mengukur berat badanku dan hasilnya, turun 3 kilo. Ini… benar-benar sangat buruk!

“Eonnieeeeeee, berat badanku turuuuuuuun. Ottokeheeeeee?” teriakanku langsung memenuhi apartemen.

“Aish, jangan teriak pagi-pagi, kau bisa membangunkan seisi gedung apartemen tahu!” Harin eonnie, yang sudah terbiasa dengan ini menjawab dengan malas. “Kali ini berapa kilo?”

“Ottokhe eonnie… Sampai 3 kilo… Kau tahu untuk menaikkan 1 kilo saja sangat sulit. Apalagi 3 kilo… Ottokhe?”

“Ya sudah, eonnie tambah jatah bekalmu 3 kali lipat. Nanti kau beli coklat sendiri ya, beli yang banyak,” kata Harin eonnie sambil menyiapkan bekalku.

Aku memakan sandwichku banyak-banyak. Setelah makan tiga potong, aku berangkat dengan mengambil sepotong sandwich lagi untuk ku makan dalam perjalanan ke sekolah. Ternyata makan bisa menghilangkan stress. Aku jadi lebih rileks sekarang setelah migrain selama beberapa hari ini.

Tapi asal kau tahu saja, kelihatannya aku akan migrain lagi karena di koridor lantai 11 aku bertemu dengan…

“Annyeong, kau Hyerin yang mebuat miniatur Kyuhyun itu kan?” yah, Victoria menyapaku dengan gaya anggunnya seperti biasa. Aku seakan disihir jadi batu dengan tangan menyuapkan sandwich ke mulutku. Tapi syukurlah sihir itu segera hilang dan kini mulutku menggembung penuh sandwich. Cepat-cepat ku habiskan potongan sandwich dalam mulutku.

“Uhm, annyeong…” sapaku, masih dengan mulut penuh.

“Ternyata benar ya, kau shiksin. Tapi badanmu tetap kurus. Aku jadi iri. Kau tahu aku malah harus mengatur makanku agar badanku lebih prosporsional.”

Apa dia tidak salah bicara? Tubuhnya sudah bagus seperti itu masih merasa kurang. Dan untuk apa dia bicara begitu, yang lebih penting sekarang, dia sedang apa di sini. Dia tidak mungkin ke sini hanya untuk mengomentari tubuhku yang kurus ini kan?

“Eonnie, sedang apa di sini?” tanyaku.

“Aku mau ke dorm Super Junior,” dan lagi, jawaban yang membuat migrainku makin parah.

“Mau menemui Kyuhyun ya?” semoga pertanyaanku ini tidak terdengar aneh di telinganya.

“Benar, kau sendiri mau berangkat sekolah?” aku mengangguk.

“Sepagi ini, biasanya setan itu belum bangun kecuali ada jadwal. Tapi eonnie masuk saja, nanti pasti salah satu oppadeul membangunkannya.”

“Begitu, ya. Mudah-mudahan aku tidak mengganggunya. Aku juga baru kali ini mengunjungi dorm Suju sepagi ini.”

“Aku berangkat dulu, eonnie. Annyeong…” ucapku, dan meninggalkannya.

Aku yakin si setan itu pasti berbunga-bunga pagi ini karena bidadari pujaannya mengunjunginya. Dan kurasa, aku akan mengingkari janjiku hari ini. KyuToria kembali bersemayam di benakku. *cih, bahasanyaaaaa*

^0^

Aku menatap wajahku di cermin yang ku pinjam dari Hani. Ku rasa bahkan bayanganku sendiri sangat lelah melihatku.

“Hyerin-ah, ada apa dengan wajahmu? Kau sudah melihat cermin sebanyak 33 kali sejak tadi pagi. Kembalikan cerminku,” kata Hani, yang sudah dia ulangi sebanyak 20 kali.

“Aku belum menemukannya,” jawabku, sudah kuulangi 17 kali.

“Menemukan apa?” teriak mereka, sudah diulangi sebanyak 17 kali juga.

“Hal yang menarik dari wajahku. Yang bisa dibanggakan, yang bisa membuat orang mengatakan bahwa aku cantik,” akhirnya aku mengatakannya.

“Apa kau baik-baik saja?” Hyoki mendekatiku, kelihatan sangat iba.

“Kau punya masalah? Baru kali ini kau peduli pada penampilanmu. Sebenarnya ada apa?”

Aku tidak menjawab pertanyaan mereka, hanya menatap mereka.

“Menurutmu, Victoria itu bagaimana?” tanyaku.

“Memangnya kita punya teman yang bernama Victoria?”

“Aish, Hani-ah, maksud Hyerin itu Victoria f(x). Benar begitu kan Hyerin-ah?” Hyoki memukul kepala Hani. Aku memangangguk lemah.

“Yaaaaa, kalau Victoria yang itu aku tahu. Menurutku dia cantik, anggun, berbakat, dan aku belum menemukan kekurangannya. Dia memang sempurna, jadi wajar kalau banyak namja yang menyukainya. Kelihatannya Nickhun 2PM yang menjadi pasangannya di WGM memang menyukainya. Dan ku dengar Kyuhyun juga menyukai Victoria. Intinya Victoria benar-benar sempurna…” Hani mengoceh panjang lebar, dan bagiku itu seperti memukulkan palu ke kepalaku seribu kali.

Hyoki menyikut lengan Hani dengan tatapan, ‘diam, babo!’.

“Ya, aku tahu Victoria memang sangat sempurna. Aku… juga ingin secantik dia…” ucapku lirih.

I think I’m ugly

And nobody wants to love me

Just like her I wanna be pretty, I wanna be pretty

Don’t lie to my face, ‘cause I know I’m ugly

Siapa yang memutar lagu itu? *author : akuuuuu! (tunjuk tangan)* *Hyerin : sengaja banget!* Seolah mengolokiku dan itu sangat sesuai dengan suasana hatiku sekarang. Aku menelungkupkan wajahku ke bangku.

“Arasseo, I know I’m ugly…”

“Yak, Yubinsshi, apa yang kau lakukan? Matikan musiknya sekarang juga atau kau mati!” teriak Hyoki. Rupanya Yubin yang memutar lagu itu.

“Mwo? Kau pikir sekolah ini punya kakekmu? Suka-sukaku mau memutar lagu apa saja. Kenapa? Kalian merasakan seperti yang ada di lirik lagu 2NE1 ini?” jawab Yubin disertai tawa yang mengejek. Yoonhee juga ikut tertawa.

“Dasar nenek sihir! Ku bilang hen…”

“Sudah, Hyoki-ah, tidak apa-apa. Aku ke toilet dulu, tak perlu ikut,” aku beranjak dari tempat dudukku dan ke toilet sendirian.

Di toilet, aku hanya duduk dan memutar musik dari ponselku. Benar, itu lagu yang cocok untukku. Ugly…

^0^

Kyuhyun pov

Donghae mengajakku ke apartemen Harin, dan langsung kuiyakan. Hehehe, biasanya kan jam segini Hyerin sudah pulang sekolah. Tapi saat tiba di sana aku merasa sedikit kecewa.

“Mana Hyerin?” tanya Donghae, dilanjutkan dengan bisikan di telingaku. “Aku mengerti, Kyu. Jadi biar aku saja yang tanyakan pada eonnienya. Kau pasti gengsi mau tanya sendiri.”

Aku pura-pura tidak mendengar. Tapi ya, tentu saja aku ingin tahu kenapa dia belum pulang.

“Belum datang, mungkin sebentar lagi,” jawab Harin.

“Bersabarlah, Kyu. Dia pasti segera datang. Kau main saja dulu dengan Eunchae,” kata Donghae.

“Bisakah kau meutup mulutmu sebentar? Kau bukannya membantu, malah membuatku semakin terlihat bodoh,” ucapku. Dia malah memainkan bola matanya dan aku mengerti maksunya. “Baiklah, aku akan main dengan Eunchae dan tidak akan mengganggu kalian. Kau puas?”

Donghae nyengir, dan aku menuju ruang TV tanpa gairah. Sebenarnya apa yang dilakukan si kurus itu? Kenapa belum pulang? Padahal waktuku tidak banyak karena sebentar lagi aku dan Donghae ada jadwal. Kalau tidak segera datang, awas kau, Hyerin.

Ting…tong…

Aku langsung bangkit. Mungkin itu Hyerin, tapi kenapa membunyikan bel?

“Itu kan, Hyoki dan Hani,” kata Harin lirih lalu membuka pintu.

Tampak dua orang yeoja dengan seragam seperti yang biasa dipakai Hyerin.

“Selamat sore, eonnie,” sapa salah satu dari mereka, yang berpostur lebih tinggi.

“Ada apa?” tanya Harin.

“Apa Hyerin sudah pulang?”

“Pulang? Bukannya kalian satu kelas? Hyerin belum pulang,” suara Harin terdengar panik.

“Tapi tadi Rin-ah tiba-tiba menghilang. Kami pikir dia pulang duluan.”

“Apa? Tapi dia belum datang, bagaimana mungkin?”

“Ada apa?” aku dan Donghae mendekati Harin dan dua teman Hyerin.

“Hyerin belum pulang, biasanya dia dengan mereka. Tapi sampai sekarang… Bagaimana ini, oppa?”

Mworago? Si kurus itu hilang?

“Apa kalian sudah mencarinya di semua tempat? Siapa tahu dia ke kamar mandi atau apa?” tanyaku, juga mulai khawatir. Jangan buru-buru meledekku. Aku tahu kami memang jarang akur, tapi ayolah, aku sangat mengkhawatirkannya. Untuk kali ini saja, izinkan aku jadi orang baik.

“Sudah, kami mencari ke semua sudut sekolah, bahkan di ruang guru. Tapi Hyerin tidak ada. Makanya kami ke sini untuk memastikan dia sudah pulang apa belum.”

“Sudah menghubungi ponselnya?” tanyaku lagi.

“Tidak diangkat. Kami sudah mengirim pesan, tapi tidak dibalas.”

Lengkap sudah alasanku untuk mengkhawatirkannya. Apa dia diculik? Tapi siapa penculik gila yang punya ide untuk menculiknya? Mungkinkah dia tersesat? Tentu saja tidak mungkin. Semoga dia baik-baik saja di mana pun dia berada. Dan ku mohon sekali lagi pada kalian, berhentilah meledekku.

“Kau mau kemana?” tanya Donghae.

“Mencari Hyerin. Kau mengerti kan?” jawabku singkat.

“Aku ikut. Kau tunggu di sini ya, Rin-ah. Biar aku dan Kyuhyun yang mencarinya. Tenanglah,” Donghae mengelus pundak Harin.

“Biar aku saja. Hyerin kan dongsaengku, jadi aku yang bertanggung jawab padanya. Kalian kan juga ada jadwal sebentar lagi, nanti terlambat.”

“Tidak apa-apa, aku juga sangat mengkhawatirkannya,” ucapku tanpa sadar.

“Tapi…”

“Sudah, kau tunggu saja di sini. Memangnya kau mau meninggalkan Eunchae sendirian?” kata Donghae.

“Benar juga. Baiklah, aku akan tunggu di sini. Kalau kalian menemukannya cepat telpon aku ya. Maaf merepotkan kalian.”

Aku dan Donghae segera berangkat dengan mobilku, tapi tentu saja Donghae yang menyetir. Aku tidak melepaskan pandanganku dari jalanan Seoul, berharap melihat tubuh kurus Hyerin. Tapi dasar yeoja kurus, sulit sekali menemukannya.

“Kalau kau ketemu, ku pastikan aku yang pertama kali mengomelimu, Hyerin. Kau sudah membuatku hampir mati mendadak karena mengkhawatirkanmu,” bisikku pada diri sendiri.

“Lihat wajahmu, sampai seperti itu. Sedalam itukah perasaanmu padanya?” celetuk Donghae.

“Bukan saatnya untuk meledekku, hyung,” kataku datar. Dia hanya tertawa kecil.

Tiba-tiba ponselnya bordering.

“Ada apa, Rin-ah? Sudah? Belum? Oh, arasseo. Gwenchana, dia kan dongsaengku juga. Ne, sampai nanti.”

“Ada apa?” tanyaku.

“Hyerin sudah mengirim pesan pada Harin. Dia baik-baik saja. Kau sudah tenang sekarang?”

Aku bernafas lega. Syukurlah, dia baik-baik saja.

“Gomawo, hyung,” ucapku lirih.

“Untuk apa? Aku melakukannya untuk Harin, bukan untukmu.”

“Aku tahu itu. Gomawo untuk tidak mengatakannya pada Hyerin.”

Donghae hanya tersenyum, lalu berkata, “Gomawo juga sudah merahasiakan ini dari Hyerin.”

^0^

Hyerin pov

From : Doll-Hyoki

Kau baik-baik saja? Ada dimana? Kami mencarimu kemana-mana.

 

From : Cute-Hani

Rin-ah, jangan membuat kami khawatir, kau ada dimana?

 

From : Rin-eonnie

Sebenarnya kau ada dimana? Makan malam sudah siap. Jangan sampai aku lapor polisi karena kau tak segera pulang.

Hari semakin malam. Pesan dari Hyoki, Hani, dan Harin eonnie tak segera ku balas. Saat jam pelajaran berakhir aku meninggalkan Hyoki dan Hani. Aku memilih untuk berjalan sendirian tanpa arah yang jelas. Lagu Ugly dari 2NE1 terus mengalun di headsetku. Tapi kasihan juga kalau tak segera ku balas pesannya. Mereka pasti semakin khawatir.

To : Doll-Hyoki, Cute-Hani, Rin eonnie.

Aku baik-baik saja, hanya sedang ingin minum kopi.

Walau alasan minum kopi sangat tidak masuk akal, setidaknya mereka tahu aku baik-baik saja. Dan aku tidak bohong, karena setelah lelah berjalan tanpa tujuan aku berhenti di sebuah café yang terletak di Apgujeong. Entah sudah berapa kilo aku berjalan dan bagaimana ceritanya aku bisa sampai di daerah ini. Pikiranku benar-benar kacau. Aku tidak mempedulikan keadaan di sekitarku dan betapa ramainya café itu. Sengaja ku pilih tempat paling ujung dan dekat jendela. Beginilah yang ku lakukan di saat galau.

Victoria begitu sempurna… kurasa hari ini otakku terisi penuh dengan kalimat itu. Aku memandangi bayanganku yang samar di kaca café. Bahkan dengan wujud bayangan samar seperti ini aku tampak begitu buruk.

“Agasshi, gwenchanayo?” lamunanku buyar dengan lambayan tangan di depan mataku. Aish, aku bahkan tidak sadar kalau dari tadi ada yang memanggilku dan ternyata café sudah semakin sepi.

“Oh… gwenchana…” jawabku. Seorang ahjumma berdiri di hadapanku.

“Kau ingin pesan sesuatu? Kelihatannya dari tadi kau belum pesan apa-apa,” ucapnya. Ahjumma ini kelihatannya bukan pelayan, tapi kenapa menanyaiku?

“Mwo? Aku? Um… benar, aku… mocca saja kalau begitu.”

“Segera datang…” ahjumma itu menghilang sejenak, lalu kembali dengan meletakkan secangkir kopi di hadapanku.

Aku hanya memandangi kopi itu, tidak punya gairah untuk mengangkat cangkirnya dan meminum isinya.

“Kau yakin kau baik-baik saja?” ternyata ahjumma itu masih berdiri di dekat mejaku.

“Mwo? Aku… Ne, aku baik-baik saja, ahjumma. Kau layani pengunjung yang lain saja.”

“Ku perhatikan kau sudah duduk di sini selama 2 jam sambil memandangi kaca jendela. Dan kau masih memakai seragam sekolah. Aku yakin kau sedang tidak baik-baik saja,” kata ahjumma itu, sekarang sudah duduk di hadapanku. Sebenarnya ahjumma ini siapa sih?

“Tidak perlu khawatir, ahjumma pasti sibuk. Aku tidak apa-apa. Oh, ya, kopinya enak. Apa ini café baru? Aku seperti baru pertama kali datang ke sini,” ucapku.

“Jangan alihkan pembicaraan. Kalau kau ada masalah, cerita saja. Siapa namamu, yeoja manis?”

“Song Hyerin. Apa ahjumma pemilik café ini?”

“Benar, dan jangan panggil aku ahjumma. Kau bisa panggil kami aunty saja. Arasseo?”

“Kami? Maksudnya?” pertanyaanku tidak salah kan, karena jelas-jelas ahjumma ini sendirian.

“Chankanman,” dia beranjak dari duduknya. Beberapa saat kemudian dia kembali bersama dua aunty yang lain. “Ini, kelihatannya dia punya masalah serius.”

Aku berdiri dan memberi hormat pada mereka.

“Annyeong, Song Hyerin imnida…”

“Annyeong, kau bisa panggil aku Aunty Park.”

“Panggil aku aunty Lee,” kata aunty satunya.

“Dan aku aunty Cho,” kata aunty yang duduk denganku tadi.

“Mian, mengganggu kalian. Sebenarnya aku benar-benar tidak apa-apa.”

“Kau bilang melamun selama 2 jam tidak apa-apa? Kau cerita saja pada kami,” kata aunty Lee.

“Ne, kami tidak mau ada pengunjung café ini yang terlihat murung,” sahut aunty Park.

“Kami ingin setiap pengunjung keluar dengan tersenyum,” tambah aunty Cho.

Mereka begitu hangat, aku jadi merasa nyaman berada di sana. Walau sudah ahjumma, tapi aku bisa cepat akrab dengan mereka. Kami mulai membicarakan banyak hal dan mereka mendesakku untuk menceritakan masalahku. Ku rasa tidak ada salahnya cerita pada mereka. Jadi ku ceritakan apa yang mengganggu pikiranku.

“Sebenarnya… aku merasa… tidak menarik. Maksudku, aku… saat ini sedang menyukai seseorang…”

“Aaaah, jatuh cinta rupanya,” sahut mereka serentak.

“Ne, dan dia itu namja yang istimewa,” hampir saja aku kelepasan mengatakan namanya. “Maksudku, dia bukan orang biasa dan tentu yeoja idamannya bukan yeoja yang biasa juga kan?” mereka mendengarkan penuh perhatian. “Dan… ada seorang eonnie… Dia… begitu sempurna. Cantik, berbakat, anggun, yang pasti jauh dari kata jelek. Kurasa namja yang ku sukai itu sangat menyukai eonnie itu.”

“Bagaimana kau bisa tahu kalau namja itu menyukai eonnie yang sempurna itu?” tanya aunty Park.

“Yaaa, dari sikapnya saat sedang dengannya. Beda jauh dengan saat dia bersamaku. Dia bisa tersenyum dan berbicara sangat manis pada eonnie itu. Padahal dia orangnya evil, suka mengganggu. Tiap bertemu denganku pasti selalu menggangguku…” lalu ku ceritakan bagaimana Kyu selalu mengataiku kurus cungkring, menjahiliku, dan semua kejahatan yang dia lakukan padaku.

“Begitu,” kata aunty Lee setelah aku cerita.

“Tapi kalau dilihat dari sikapnya, justru namja ini menyukaimu kalau menurutku,” ucap aunty Cho dan membuat suhu tubuhku naik turun.

“Maksud aunty apa? Itu tidak mungkin…” jawabku.

“Yaaa, aku juga tidak tahu pasti. Tapi ku rasa begitu. Kalau aku jadi dia, aku juga akan selalu menjahilimu karena itu satu-satunya cara agar aku bisa terus dekat denganmu,” terang aunty Cho.

“Tapi… aku sangat sangat tidak menarik. Dibandingkan eonnie itu aku tidak ada apa-apanya. Dia seperti coklat di hari Valentine dan aku sebutir kacang,” ucapku sedih.

“Tapi banyak orang yang suka kacang,” celetuk aunty Lee.

“Aunty tidak mengerti. Aku merasa… tidak cantik… aunty mengerti kan? Aku tidak mau mengucapkan kata yang satu itu…”

“Tidak cantik? Sudahkah kau dengar bahwa setiap wanita dilahirkan dengan kecantikan? Siapa bilang kau tidak cantik? Apa kau tidak punya cermin? Kau harus selalu percaya dalam dirimu bahwa kau itu cantik. Dengan begitu orang lain akan menyadari betapa cantiknya dirimu,” aunty Cho menceramahiku.

“Bagaimana kau mengharap orang lain mengatakan kau cantik kalau kau sendiri tidak mau mengakuinya?”

“Ya, benar. Sekarang jangan murung lagi karena itu akan menyembunyikan kecantikanmu. Ayo senyum,” aunty Lee mencubit kedua pipiku. Mau tak mau aku tersenyum juga akhirnya dan tampaknya wajahku lega sekarang karena dari pagi ku tekuk.

“Omo, yeoppoda…” seru aunty Park.

“Kau harus selalu tersenyum, terutama saat bertemu namja itu. Arasseo?” kata aunty Cho.

“Tapi, aunty. Aku itu suka makan. Namja kan tidak suka yeoja yang suka makan,” ucapku.

“Kata siapa? Namja justru menyukai yeoja yang tidak buang-buang makanan hanya untuk diet. Kau tenang saja,” jawab aunty Park.

Mereka benar-benar baik. Aku merasa memiliki 3 eomma tambahan. Lalu kami ngobrol lebih banyak lagi. Ternyata benar, café ini baru buka beberapa waktu yang lalu dan ketiga aunty yang baik ini adalah pemiliknya. Kona Beans, itu nama cafenya.

“Gomawo, aunty,” aku pamit saat jam menunjuk angka 9.

“Khusus untukmu kami gratiskan, tapi kau harus janji tidak akan murung lagi. Arasseo?” pesan aunty Lee.

“Ne, kapan-kapan aku akan berkunjung ke sini lagi. Akan ku ajak eonnie, dongsaeng dan sahabatku ke sini.”

“Harus! Dan jangan lupa mengajak namja yang beruntung itu ya,” aunty Cho tersenyum genit.

Aku pulang ke apartemen dengan jalan kaki. Sekarang aku sudah agak lega. Hyoki dan Hani harus ke café itu juga sekali-kali. Mereka pasti juga merasa nyaman di sana.

^0^

Author pov

“Aku pulaaang,” suara Hyerin dari pintu apartemen.

“Kenapa pulang?” Harin berdiri dengan tangan bersedekap. Dia menampilkan death glare terbaiknya pada Hyerin, yang sudah membuat jantungnya loncat-loncat tadi sore.s

“Eonnie, tidak suka aku pulang? Kalau ada yang menculikku bagaimana?”

Harin melangkah mendekati Hyerin, dan tanpa diduga dia menjewer dongsaengnya itu.

“Dasar anak nakal! Apa kau tahu betapa khawatirnya aku saat Hyoki dan Hani datang kesini menanyakan kau sudah pulang apa belum padahal seharusnya kau bersama mereka. Dan bodohnya dirimu yang tidak membalas pesan kami sama sekali. Aku sampai merepotkan Kyuhyun dan Donghae oppa tahu!”

“Appo, mianhae eonnie… Aku hanya ingin menyendiri sebentar… Lepaskan telingaku, nanti putus…” Hyerin meringis.

“Awas kalau kau lakukan itu lagi, akan ku biarkan kau tidur di koridor apartemen,” ancam Harin.

“Kan aku tahu password pintunya,” kata Hyerin polos.

“Babo! Tentu saja akan kuubah sebelum kau pulang.”

“Ara, tidak akan ku lakukan lagi, eonnie. Oh, ya… apa makan malamnya habis? Aku lapar, tadi hanya minum kopi,” Hyerin mengelus perutnya. Harin hanya menatapnya, tanpa bergerak sedikitpun. “Ayolah, eonnie. Aku kan dongsaeng kesayangan eonnie. Baru sekarang kan aku melakukan kesalahan? Apa eonnie tega melihat tubuhku semakin kurus tiap harinya?” Hyerin memohon-mohon dengan puppy eyesnya.

Harin mendesah, dikalahkan puppy eyes Hyerin. Walau Hyerin sudah membuat jantungnya hampir keluar tadi sore, dia tetap menyayangi dongsaengnya itu dan tentu tidak ingin Hyerin tambah kurus. Jadi dia menghangatkan sup dan nasi untuk Hyerin.

“Gomawo, eonnieeee…” Hyerin menyuapkan nasi banyak-banyak ke mulutnya. “Oh, ya tadi eonnie bilang merepotkan Donghae dan Kyuhyun?”

“Ne, tadi sore mereka ke sini tepat saat Hyoki dan Hani menanyakanmu. Aku panik, begitu juga mereka. Karena kau tidak segera membalas pesan kami, mereka membantuku mencarimu.”

“Berarti aku orang penting ya, sampai kalian mencariku begitu. Hihihi…”

“Ck, ck, ck, kau sama sekali tidak merasa bersalah. Tadi mereka ada jadwal penting, tapi tetap mencarimu karena khawatir. Dan sekarang kau malah cengar cengir seperti ini. Kau harus minta maaf pada mereka. Arasseo?”

“Arasseo…” jawab Hyerin sambil terus makan.

“Sebenarnya tadi kau kemana dan kenapa?”

“Sudah ku bilang kan, aku ingin minum kopi.”

“Kau pikir aku bisa menerima kalimat yang tidak rasional itu? Ayo katakan pada eonnie, tadi kau kenapa?” desak Harin.

“Um… nasinya enak,” Hyerin nyengir.

“Yak, dasar anak nakal!” seru Harin.

Sebenarnya dia merasa khawatir karena dia tahu betul kalau sikap Hyerin aneh begini, berarti dia sedang ada masalah. Tapi melihat sikap Hyerin sekarang, dia megerti kalau dongsaengnya itu sedang tidak ingin membahas itu. Jadi dia tidak melanjutkan pertanyaannya lagi, hanya memandangi Hyerin yang menghabiskan nasinya.

^0^

P.P.S : Cut! Sekian untuk part ini. Mian kalo gak ada feelnya karena bikin ff ini author sambil ngegalau.*bow* Tapi author kasih sedikit bumbu kebersamaan kakak adik antara Hyerin dan Harin biar ff ini gak sekedar cinta-cintaan atau abal-abalannya KyuRin, tapi ada sisi positif yang bisa diambil readers walau cuma sejumput. *tumben author jadi orang normal yaaa* Silakan komen…

34 thoughts on “KyuRin Tale : Ugly

  1. .kalo km jelek y maana mungkin kyu nyantol ..yaga?? ^^
    .wahh..ngelamun aja bs nyampe ke konabeans..
    .kalo ay ngelamun bs smpe dorm suju ga ya?? *loh?
    .ff ini selalu berhasil buat aku ngakak padahal ceritanya gagenep.. goodjob eoniie^^b

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s