[PREVIEW STEP 7] The Pain of This Marriage

Title : The Pain of This Marriage (Step 7 : Hurt) [PREVIEW]
Author : Van-MinKeyCode / VanFlaKets91 (@vanflaminkey91)
Length : chapter
Genre : AU, romance, friendship, family, angst, tragedy
Rating : PG
Main cast : Kim Hyunra (OC), Choi Minho & Kim Key SHINee
Support cast : Jung Hyorim (@_ECHAimnida_), Kim Jonghyun SHINee, Ahn Myongri (OC), Ahn Jaekyo (@aajni537), Lee Taemin SHINee
Other cast : Sooyoung, Jessica SNSD, Krystal f(x), Onew SHINee, and others…
Disclaimer : the story and its cover are mine. The casts except OCs are belong to their God and parents. OCs are mine, too. The idea is God’s, but He give it to me…
Author’s Note : Sebenernya mau comeback April, tapi karena ini teaser, ga enak deh ditahan (?) jadi aku publish dulu. Semoga ga kecewa, ya.

***

“Jadi ini hasilnya, Suster?” tanyaku sambil membaca dengan teliti hasil diagnosa pasienku, Kim Hyunra. Aku membacanya sambil mengingat-ngingat sesuatu.

“Ne, Taemin uisa. Hasilnya memang begitu.” Suster Lee berkata kepadaku. Aku tersenyum dan mengangkat kepalaku yang tadi menunduk.

“…” Aku berkata dengan pelan di telinga Suster Lee agar tak ada orang yang bisa mendengarnya selain aku dan dia. Ekspresinya tampak terkejut, sudah kuduga. Segera saja aku rogoh kantungku dan kukeluarkan selembar cek berisi sejumlah uang dengan nominal yang besar – sesuatu yang sudah kusiapkan.

“Kumohon, Suster. Lakukan demi apapun. Saya tahu anda sedang butuh biaya, kan? Saya harap anda mau membantu saya.”

***

Dua minggu sudah lewat sejak perpisahan di bandara itu, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan kembali ke sini. Aku melirik sebuah map yang terletak di sudut meja kerjaku.

Surat perceraian.

Ketika aku membuka map tersebut, aku dapat melihat secarik kertas kecil terselip di sana. Di atas kertas tersebut tertuang deretan tulisan tangan yang rapi dan bagus. Aku tahu betul siapa yang menulis ini.

Sambil menarik nafas aku mulai membacanya. Kuatkan dirimu, kau pasti bisa membaca ini.

Dan aku mulai membacanya dari kalimat yang pertama, yang semakin lama semakin membuatku susah bernafas. Mungkin nafasku akan berhenti sebentar lagi.

…benar saja. Nafasku memang berhenti ketika aku membaca satu kalimat terakhir di sana.

…jadi, tanda tanganilah surat itu secepatnya, aku akan mengirim orang untuk mengambilnya darimu, dan aku akan benar-benar pergi dari hidupmu karena kupastikan bahwa pertemuan terakhir kita adalah di sidang perceraian nanti…

Aku menghela nafas panjang. Tahukah dirimu bahwa sebenarnya sejak kita bertemu pertama kali di bangku SD pun aku sudah tertarik padamu. Aku memancing amarahmu agar aku dapat melihat ekspresi kesalmu dan kau mau menggubris aku. Sungguh, aku menyayangimu. Aku baru menyadarinya. Bahkan Hyorim, dia bukan cinta pertamaku, karena aku sadar… cinta pertamaku adalah kau, istriku.

Tapi, sebegitu bencinya kah kau padaku?

***

Oppa, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa pulang dalam keadaan mabuk dan babak belur begini?

Aku berjalan menghampirinya yang terbaring di atas sofa flat kami sambil membawa sebaskom air es dan lapnya untuk mengompres luka di bibirnya.

“Oppa,” panggilku ketika aku mulai menempelkan lap yang baru kuperas dari air dingin di baskom. “Katakan, apa yang terjadi padamu?”

Dia yang meringis tiba-tiba saja menatapku sedih. Tatapan mata ini… tidak, aku tidak mungkin melihatnya lagi. Jonghyun oppa, kenapa tatapanmu sama seperti saat kau kehilangan Myongri unnie?

“Oppa,” panggilku lagi ketika aku melihat air matanya mengalir. Kenapa kau Jonghyun oppa?

“Tak apa,” ujarnya sambil berusaha tersenyum walau kutahu senyumannya hanya pelindung kepedihan hatinya. “Aku menangis karena kau menderita dan aku…” Dia menggeleng lagi kemudian menatapku dalam.

“Ini semua karena Ahn Jaekyo…”

***

Siang hari yang cerah.

Sebuah mobil berhenti secara tiba-tiba, menimbulkan bunyi melengking yang berasal dari gesekan ban dan aspal yang sedang panas-panasnya.

Dia yang duduk di balik kemudi menatap fokus kepada sepasang anak manusia yang sedang berjalan sepuluh meter di arah jam sebelasnya. Mereka tampak mesra.

Sesuatu yang membuatnya iri adalah… betapa akrab, bahagia dan cocoknya mereka dilihat dari sisi manapun.

Ia mengepalkan tangannya cukup keras, sebelum memutuskan untuk melepaskan seat belt-nya dengan kasar dan keluar dari mobilnya. Ia berjalan agak cepat menyusul dua orang yang sudah akan menyeberang itu.

Sayang sekali, targetnya melihat dirinya dan menarik pasangannya menjauh dari dia.

Tapi, dia tak mau kehilangan lagi untuk kedua kalinya. Disambarnya pergelangan tangan wanita itu dengan keras sehingga mau tak mau wanita itu harus berbalik.

“Kim Hyunra, berikan aku kesempatan!”

Hyunra tertawa kecil, matanya berkilat penuh emosi, “Tidak! Pergi dari kehidupanku! Apa yang kau harapkan? Bukankah aku sudah bilang…” Ia terdiam sejenak, menelan salivanya sebentar untuk merealisasikan rasa sedihnya. “…aku tidak bisa punya anak!”

***

Sooyoung turun dari mobilnya ketika dilihatnya Kyuhyun sedang duduk di kafe, persis di samping jendela sehingga Sooyoung bisa melihat Kyuhyun dengan jelas.

Kaki jenjangnya melangkah santai menuju ke kafe. Perasaan berbunga memenuhi hatinya. Senyum lebar disunggingkannya, tapi tak bertahan lama karena ia melihat sesuatu.

Sukses menghentikannya.

“Seohyun, Kyuhyun?” gumamnya sambil menatap dua orang yang baru ia sebut namanya dengan tatapan hampa.

***

Ia tersenyum menatap sehelai foto dalam genggamannya. Dinikmatinya pose bahagia yang dirinya lakukan di foto tersebut bersama sang kekasih.

“Minho-goon, aku merindukan masa-masa ini, jujur.” Hyorim bergumam sendiri. Entah ia harus merasa bahagia atau tidak karena sebentar lagi obsesinya akan tercapai.

“Kau akan lepas dari wanita itu dan menjadi milikku lagi, seutuhnya.”

***

“Emm, tidak apa aku masuk flatmu?” Minho tampak ragu-ragu melangkah ke dalam flat Hyunra, padahal mereka belum bercerai. Mereka masih suami istri.

Hyunra mendesah berat. Jika saja ia tak menemukan Minho dalam keadaan hampir pingsan di tengah jalan, ia tak akan mau mengajak pria itu ke flatnya. Jonghyun kan sedang di luar kota. Lagipula, bukankah ia sendiri yang bilang bahwa pertemuan terakhir mereka hanya di persidangan?

“Sudahlah, aku akan memasakkan bulgogi untukmu…”

Minho menggosokkan kedua tangannya sambil berjalan menuju dapur. Wajahnya mulai memerah, tidak sepucat tadi. Bibirnya juga tidak begitu kering lagi, walau tubuhnya masih lemas.

Ia menemukan Hyunra berdiri memunggunginya, tampak sibuk dengan peralatan dapur di depannya.

Minho mendekati istrinya itu dan melihat semangkuk bulgogi di atas meja. Lalu, Hyunra sedang apa sekarang?

“Oh, memotong sayur.” Hyunra berjengit kaget saat mendengar Minho berbicara tepat di telinga kirinya.

“Aigo! Kau mengganggu, tahu?” cibir Hyunra sambil melanjutkan memotong sebuah wortel di depannya. Diam-diam Minho memperhatikan Hyunra yang tampak semakin cantik saat sedang serius begitu. “Kau lihat apa? Cepat makan sana!”

“Iya, sebentar…” balas Minho tanpa mengalihkan pandangannya.

“Kenapa kau bisa di jalanan begitu, kau kan sakit. Kau membahayakan dirimu, tahu?” Minho tersenyum mendengar Hyunra berkata begitu. Jadi, Hyunra khawatir padanya?

“Aku sakit karenamu…” ucap Minho membuat Hyunra langsung memekik keras karena tiba-tiba pisaunya meleset ke jarinya sehingga mengeluarkan darah. Tanpa basa-basi, Minho meraih jari Hyunra yang terluka dan menghisap darahnya agar berhenti.

Hyunra terdiam di sana, menatap Minho yang sedang fokus dengan lukanya. Hatinya tiba-tiba terasa sakit.

“Mianhae,” ujar Minho setelah luka di tangan Hyunra membaik. Hyunra menarik tangannya dan kemudian tersenyum canggung. Ia hendak berbalik menghadap wortel yang tadi ia potong sebelum Minho menarik bahunya hingga mereka berhadapan.

Mata Hyunra membelalak lebar, bibir mereka bertemu. Sebuah kecupan manis sebagai tanda sebuah akhir yang pahit…

***

Hyunra melirik Minho yang duduk dengan jarak yang cukup jauh di samping kanannya. Pria itu tampak tenang dan tegar menghadapi perceraian ini, membuatnya berpikir apakah benar Minho memang mencintainya – seperti yang pria itu katakan kemarin-kemarin?

Ketika Minho menoleh, Hyunra cepat-cepat berpaling mendengarkan lagi omongan berwibawa hakim.

Minho tersenyum kecut melihatnya.

…. Palu itu diketuk tiga kali disusul dengan suara sang Hakim yang menyudahi hubungan benang merah itu.

“Kalian resmi bercerai.”

Entah kenapa air mata lolos begitu saja dari mata kiri Hyunra, membuatnya tersenyum sedih. Sedangkan Minho menunduk, berusaha sekeras apapun untuk tidak menyesali semua ini.

***

“Selamat tinggal flat lamaku,” gumam wanita itu sambil menarik kopornya menyusul sang oppa yang sudah berjalan duluan di depannya. “Ini kenangan terakhir di Seoul… sebelum aku benar-benar tinggal di Jepang.”

***

Key tersenyum kepada Hyunra yang sedang mengamati isi flat baru Key.

“Kau suka, Honey?” tanya Key sambil merangkul bahu Hyunra. “Aku sudah bilang, aku akan terus bersamamu. Makanya aku membeli flat ini, agar aku bisa tinggal bersamamu di Jepang.”

Hyunra tersenyum. Entah kenapa tak ada rasa berbunga lagi di dalam dadanya ketika Key berperilaku seperti itu.

“Gomawo, Key-goon…”

***

Taemin berjalan dengan cepat di sepanjang koridor rumah sakit. Ia memegang kepalanya dengan satu tangan, kepala yang terasa berat itu…

“Tidak, itu pasti salah. Tidak.” Ia terus bergumam, nyaris berpikir bahwa ia menderita skizoprenia karena mendengar suara-suara yang ada di dalam memori otaknya. Sebenarnya bukan itu.

Ia mengingkari kenyataan. Ia tidak tahu harus bagaimana sekarang.

Jadi, orang yang berada di samping Lee Taeyoung di saat-saat terakhirnya adalah… Hyunra?

Suara hatinya tiba-tiba angkat bicara dan membuat ia semakin sakit kepala. Sesampainya di depan ruang prakteknya, Taemin langsung mendorong pintunya dengan kasar.

“Halo, Taemin-ssi.” Sebuah suara berat menyapanya. Taemin membelalakan matanya dan membeku di sana. Apalagi ini?

“Hoongki ahjussi?”

***

“Maaf, tapi sekarang saya yang menghuni flat ini. Kim Hyunra dan Kim Jonghyun sudah pindah negara dan saya tak tahu negara apa.”

Suara seorang wanita yang tadi bertemu dengannya saat nekat menghampiri flat Hyunra kembali memenuhi otaknya.

“Minho?” Sebuah suara lembut di sampingnya menyadarkannya dari semua dilemanya.

“Ah, ne, Hyorim?” balas Minho sambil berusaha menampakkan senyuman palsunya. Diliriknya gadis itu sedang membuka daftar-daftar paket pernikahan yang eksklusif.

“Bantu aku memilih untuk pernikahan kita, bisa?”

Minho menenggak ludah. Ingat pernikahan, ia ingat pernikahan pertamanya. Namja itu tersenyum dan menggenggam tangan Hyorim sambil perlahan menutup buku daftar itu.

“Kita akan bicarakan nanti. Ayo, aku mau mentraktirmu es krim.”

***

“Siapa yang kau cintai sebenarnya?”

Hyunra menoleh saat Jonghyun berbicara kepadanya. Matanya yang sembab dibelalakkan sehingga terlihat lebih lebar.

“Maksud…”

“Kau mengatakan kau mencintai Key, kau mengharapkannya, kau menantinya. Tapi, kau bisa menangis sehebat ini setelah bercerai dengan Minho dan melihatnya akan menikahi Hyorim. Siapa yang kau sayangi?”

***

“Sebenarnya kau kenapa? Sudah beberapa hari ini kau begitu nafsu makan, sering pusing dan pingsan. Kau terlalu banyak masalah, ya?” Key menggenggam tangan Hyunra yang duduk di sebelahnya.

Mereka sedang duduk di ruang tamu rumah orang tua Hyunra, bersama Nyonya Kim saja karena Tuan Kim dan Jonghyun sedang pergi.

Nyonya Kim menatap putrinya dengan tatapan menilai, “Umma curiga.” Ia melepas kacamata baca yang agak turun ke tengah hidungnya. “Kau nafsu makannya besar, tapi pusing dan sering pingsan. Jangan-jangan kau hamil?”

Hyunra yang tadinya tidak peduli dan tidak menyahut setiap omongan Key maupun ummanya mendadak seperti tersengat.

“Mwo? Anhi! Tidak mungkin, aku tidak bisa punya anak!” bantah Hyunra sambil menutup matanya dan menghela nafas panjang.

“Tapi, kalau kau hamil pun, aku bersedia menjadi ayahnya,” celetuk Key sambil tersenyum lembut. Hyunra menatapnya tajam, namun tak berkata apa-apa.

Sedetik kemudian ia sudah melamun, “Hamil?” gumamnya dengan perasaan kosong.

CUT~~!

The full story will be publish on May, 2012! 😀 

***

Oke, ceritanya makin cacat ._____________. lagi-lagi saya keluarin teaser, bukan full story. Well, sekarang saya masih hiatus sebenernya. Tapi, banyak yg cukup penasaran jadi aku bikin teaser *malah bkin penasaran kayaknya -___-*

Okeee~~ doain ya biar aku bisa cepet beresin FF2 aku, jadi step 7 cepet beres dan lanjut ke step 8 yang super ngenes , camkan itu! XD #ditendang. Pokoknya step 8 sama 9 SUPER NGENES DEHH~~ beneran, ga boong!

Oke, cukup sekian. Maafkan saia kalo teasernya ga menarik ._____.v

With love,
Van-MinKeyCode 

24 thoughts on “[PREVIEW STEP 7] The Pain of This Marriage

  1. pengen hyunra bener-bener hamil trus bisa balikan sama minho walaupun udah cerai…
    kapan di publish nih?
    aku ga sabar pengen tau ceritanya…
    bener-bener penasaran…
    >_<

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s