Sticking With You (Part 6)

Author: Tirzsa

Main cast:

  • SNSD’s Tiffany
  • 2PM’s Nichkhun

Support cast:

  • 2PM’s other member

Special cameo:

  • DBSK’s Yunho

Genre: Romance

Length: Chapter

Rating: PG – 16

Disclaimer: Terinspirasi dari “My Sassy Girl”.

Previous part: [Part 1] | [Part 2] | [Part 3] | [Part 4] | [Part 5]

***

Tiffany’s POV

Untuk beberapa saat, aku dan Yunho oppa larut dalam pikiran kami masing-masing. Kami mulai terdiam, dan menikmati suara angin semilir tengah malam.

“Tiffany,” panggil Yunho oppa. Suaranya terdengar sangat pelan dan lembut. Nyaris berupa sebuah bisikan.

“Hm?”

“Aku tidak pernah melupakan saat kali pertama kita bertemu di Amerika. Aku ingat, saat itu sedang musim gugur, kau duduk ditaman dan tengah menangisi kematian anjing kesayanganmu.”

Aku menoleh dan mengamati raut wajah Yunho oppa saat mengatakan hal itu. Ia tersenyum sambil mendongak dan mengamati langit.

“Ne, aku juga mengingatnya,” kataku. “Kau datang dan mencoba menenangkan tangisku. Kau membelikanku es krim dan bahkan berjanji akan mencarikan anjing yang lebih lucu.”

Yunho oppa mengangguk. Dan selanjutnya, aku sedikit tersentak saat kurasakan tanganku dipegang olehnya. Ia menyelipkan jari-jarinya yang panjang dan hangat diruas-ruas jariku. Dan saat ia melakukan hal itu, bayangan-bayangan masa lalu kami yang menyenangkan seolah menyeruak masuk memenuhi relung-relung hatiku yang kesepian.

Mata kami bertemu. Mata Yunho oppa masih terlihat teduh dan tenang, sama seperti terakhir kali aku melihatnya beberapa tahun silam saat kami berdua menuntut ilmu di negeri paman Sam.

“Bisakah kita mengulang semuanya dari awal?”

Aku tercengang saat Yunho oppa menanyakan hal itu.  Tapi kulihat ia bersungguh-sungguh soal ucapannya. Ia menggenggam tanganku lebih erat dan membuat tanganku berkeringat sekaligus merasa gugup.

“Kau mau, kan?”

Ketika ia mulai mendesak, secara refleks, kepalaku menoleh kearah pohon pinus yang ada dihadapan kami. Dipuncak pohon pinus itu, dua gembok berwarna biru dan merah muda saling bertaut, bertahan ditengah dinginnya salju yang menyelimuti puncak kepala gembok itu. Dan sepertinya aku tahu aku akan memberikan jawaban seperti apa.

Tiffany’s POV end

***

Author’s POV

Nichkhun berlari secepat yang ia bisa untuk menuju ke rumah oemmanya. Dan sesampainya disana, ia bisa melihat oemmanya tersungkur dijalanan depan rumah mereka dengan beberapa tas dan barang-barang milik oemmanya.

“Oemma!” Nichkhun berlari menghampiri oemmanya dan melihat wajah oemmanya yang kini basah dan penuh oleh luka memar. “Oemma, siapa yang melakukan ini padamu? Siapa?”

“Ya, bocah tengik!”

Nichkhun menoleh saat mendengar suara seorang pria yang ia kenali dari balik punggungnya. Renteiner kejam, Lee Minjae.

“Minjae! Kau brengsek!”

Nichkhun bangkit berdiri dan hendak menghantamkan pukulannya ke wajah Minjae, tapi dua pengawal pribadinya telah menahan tubuh Nichkhun terlebih dahulu. Nichkhun berusaha memberontak, tapi tubuh dan pergerakannya telah dikunci oleh dua anak buah Minjae yang mempunyai tubuh jauh lebih besar daripadanya.

“Lepaskan aku!”

“Minjae, lepaskan anakku!” teriak nyonya Horvejkul dengan susah payah. Tapi Minjae tak menghiraukan perkataan wanita baya itu.

“Mau berlagak seperti pahlawan, huh, bocah tengik?” Minjae mendorong-dorong kepala Nichkhun dengan kasar. “Kau, oemmamu, dan juga almarhum abojimu yang hina itu benar-benar tak tahu malu!”

“Berani sekali kau mengatakan hal buruk tentang abojiku, bangsat!” teriak Nichkhun marah.

Minjae tersenyum licik. Ia menghembuskan asap rokok ke depan wajah Nichkhun dengan sengaja, lalu melayangkan sebuah tinjuan keras di pelipis kiri pemuda itu. Nyonya Horvejkul berteriak histeris, Nichkhun tersungkur diatas tanah dengan darah mengalir dari pelipisnya.

“Jangan berani-berani menginjakkan kaki kalian berdua sebelum membayar utang-utang abojimu padaku. Arasso?!”

Dengan perasaan takut sekaligus gusar, Nichkhun dan nyonya Horvejkul terpaksa hanya bisa mengangguk.

***

“Ya, appo!”

“Tenanglah sedikit, babo. Aku kesulitan untuk membersihkan lukanya jika kau bergerak-gerak terus!”

Tiffany mendengar suara Nichkhun disusul seorang wanita dari dalam apartemen ketika ia baru saja pulang dari taman. Dan begitu ia mendorong daun pintu dengan sangat pelan, ia menemui Nichkhun tengah duduk bersama seorang wanita baya yang tengah memegang sebuah plester obat dan kapas. Mata ketiganya bertemu, saling bertukar pertanyaan masing-masing.

“Oh? Kau siapa?” tanya nyonya Horvejkul pada Tiffany. Tadinya ia pikir Tiffany adalah gadis yang tinggal diapartemen sebelah dan sedang salah masuk apartemen. Tapi melihat gadis itu saling bertukar pandang dengan anak lelakinya, ia yakin Nichkhun tahu soal gadis yang tengah berdiri dihadapannya itu.

Nichkhun menelan ludah. Ia tidak tahu harus memberi jawaban seperti apa pada oemmanya. Apakah ia harus mengatakan bahwa Tiffany tinggal bersamanya? Apakah ia harus mengatakan bahwa ia sedang dalam masa perjanjian untuk bertanggung jawab pada bayi—yang bisa saja—ada dirahim Tiffany? Ya, ia bisa saja mengatakannya pada oemmanya seperti itu jika ia sungguh-sungguh telah bosan hidup. Karena jika ia mengatakan hal itu, oemmanya akan langsung membunuhnya.

“Masuklah, Tiffany,” kata Nichkhun gugup. Ia beralih pada eommanya lalu melanjutkan, “Oemma, perkenalkan, ini Tiffany, dia adalah..” Pemuda itu menatap Tiffany sebentar dan menjawab, “Temanku.”

Tiffany tampak datar-datar saja. Tidak seperti sebelumnya, ia sepertinya menerima saat Nichkhun mengakuinya sebagai seorang teman. Sementara nyonya Horvejkul terlihat masih kebingungan.

“Teman? Lalu, apa yang ia lakukan diapartemenmu pada jam 2 pagi, huh?”

“Ia sedang terkena musibah!” seru Nichkhun refleks. “Rumahnya dilanda banjir, maka dari itu ia datang ke apartemenku untuk menginap disini beberapa hari. Sebagai teman dan apalagi dia adalah seorang gadis, tidak mungkin aku membiarkannya tidur begitu saja dipinggir jalan.”

“Ne, itu benar,” timpal Tiffany, berusaha meyakinkan nyonya Horvejkul.

Walaupun belum sepenuhnya percaya pada gelagat aneh pada dua anak muda itu, tapi nyonya Horvejkul mengangguk dan mempersilahkan Tiffany masuk.

Author’s POV end

***

Nichkhun’s POV

“Bagaimana? Apa kau berhasil mengintai Tiffany dan Yunho saat dikafe sore itu?” tanya Junsu padaku. Siang itu, aku, Junsu, dan Junho sedang menikmati jam makan siang di sebuah kedai dekat perpustakaan.

Aku menggeleng. “Ani, aku ketahuan oleh Tiffany,” sahutku sambil mengaduk-aduk makananku dengan tidak bersemangat.

“Lalu? Apakah dia marah?” tanya Junho.

“Geureumyo. Mana mungkin dia tidak marah. Ditambah lagi, tadi malam aku melihat Tiffany bertemu dengan Yunho ditaman. Keduanya bertemu diam-diam. Dan..” Aku mengacak-acak rambutku dan menghentak-hentakkan dahiku ke atas meja dengan frustasi. Aku tidak bisa membayangkan apa saja yang sudah terjadi antara Tiffany dan Yunho tadi malam.

“Mereka berpegangan tangan?” imbuh Junho. “Atau pelukan? Berciuman?”

“Ya, juggolae?!” pekikku kesal. “Tidak mungkin mereka melakukan hal itu.”

“Bukannya mungkin saja?” kata Junsu santai. “Apalagi seperti yang kau bilang sebelumnya, sepertinya Yunho pernah punya hubungan dengan Tiffany. Dan ia jauh-jauh kembali dari Amerika hanya untuk memperbaiki hubungannya dengan Tiffany. Bisa saja, kan?”

Aku mengerutkan kening dan menatap Junho dan Junsu dengan kesal. “Ya, aku datang kemari untuk menceritakan hal ini dengan kalian, seharusnya kalian bertugas untuk memperbaiki moodku, bukannya merusaknya!”

Keduanya hanya terbahak melihatku yang mulai naik pitam. Dan karena mulai merasa bosan dengan gurauan Junho dan Junsu, aku memutuskan untuk pergi. Tapi, begitu aku membalikkan badan, hendak keluar dari kedai, aku melihat Tiffany dan Yunho masuk ke dalam kedai.

Bukan hanya melihat keduanya bersama, tapi kulihat tangan Tiffany melingkar manis dilengan Yunho. Benar-benar sebuah petaka!

“Hyung, bukannya itu..”

Aku segera kembali duduk bersama Junho dan Junsu sebelum Tiffany dan Yunho melihatku dan juga membekap mulut Junho.

“Apa yang mereka lakukan disini? Dan mengapa mereka saling bergandengan tangan?” lanjut Junho begitu aku melepas bekapan tanganku dimulutnya.

Aku menggeleng. “Mollayo.”

Kami bertiga mengamati Tiffany dan Yunho yang duduk disudut ruangan kedai sambil membungkuk agar tidak ketahuan. Keduanya terkikik bahagia. Dan pemandangan itu sangat menyesakkan dadaku. Tak hanya sampai disitu, saat makanan pesanan mereka tiba, keduanya saling suap-menyuapi. Kekanak-kanakan sekali!

“Lihat, mereka saling suap!” seru Junho pelan.

“Aku tahu, babo,” kataku kesal.

Junsu terkikik saat melihat reaksiku. “Khun, lihat dari kepala dan telingamu keluar asap. Kau benar-benar dibakar cemburu sekarang.”

“Aish!”

Nichkhun’s POV end

***

Tiffany’s POV

Aku tersenyum puas saat mendengar suara bisik-bisik tiga orang namja disudut meja lain. Tapi, sepertinya yang sudah direncanakan sebelumnya, aku tak ingin mengusik ketenangan mereka. Jadi kubiarkan saja hal itu berlalu dengan bertingkah seolah aku tidak tahu. Obrolanku dengan Yunho oppa juga masih berlanjut seperti biasa.

“Apakah ini tidak keterlaluan?” tanya Yunho oppa padaku.

“Ani, gwaenchanha, oppa. Ini tidak akan berlebihan,” kataku sambil terus memakan suapan yang diberikan Yunho oppa padaku.

Kami saling bertukar senyum lalu melanjutkan obrolan kami.

“Jadi, kapan oppa akan kembali ke Amerika?” tanyaku.

“Molla. Mungkin sampai kau punya waktu untuk ikut bersamaku pergi ke Amerika,” katanya sambil terkekeh.

Aku ikut terkekeh. “Aku punya kapanpun waktu untukmu, oppa.”

“Jeongmal? Kalau begitu, ikutlah denganku ke Amerika nanti.”

“Hm, baiklah. Akan kupertimbangkan.”

Tiffany’s POV end

***

Author’s POV

Matahari berlalu. Bulan naik ke singgasananya.

Junho dan Junsu mengikuti langkah kaki Nichkhun dengan kesal. Pemuda itu tengah mabuk. Bahkan tangannya masih memegang botol soju yang kosong dan enggan melepaskannya. Walaupun telah kosong—karena dibawah pengaruh mabuk—Nichkhun selalu mengira bahwa botol soju itu masih penuh dan bertingkah sedang meminum isinya.

“Ya, Khun hyung, hari sudah malam, kau mau kemana, huh?” pekik Junho kesal. Ia mengurut tempurung lututnya karena sedari tadi mengikuti Nichkhun dari belakang. Tentu saja sebagai seorang sahabat, Junho dan Junsu tak bisa membiarkan Nichkhun berjalan begitu saja seorang diri dalam keadaan mabuk.

“Aku tidak mau pulang!” teriak Nichkhun.

“Ya, Khun, berhentilah bersikap bodoh! Ayo cepat pulang!” Junsu menarik-narik lengan Nichkhun, memaksa pemuda itu untuk kembali ke apartemen.

Tapi Nichkhun memberontak. Ia mendorong tubuh Junsu dengan kasar lalu menggerutu, “Ya, jangan berani menyentuhku!”

Junho dan Junsu hanya bisa mendengus melihat tingkah Nichkhun yang menyebalkan, namun tetap setia menjaga sahabat mereka. Setelah beberapa puluh menit berjalan tanpa tujuan, mereka sampai disebuah stasiun kereta. Tak jarang, Junho dan Junsu harus berani menahan malu saat Nichkhun yang tiba-tiba berteriak tidak jelas ditengah keramaian orang yang sedang menunggu perhentian kereta selanjutnya.

“Ya, apa kau tahu, aku pertama kali bertemu Tiffany disini! Tepat disini!” teriak Nichkhun sambil menyeringai lebar. Pemuda itu berdiri dipinggir peron sambil menunjuk tempat Tiffany berdiri dan nyaris tertabrak kereta.

“Khun, sudahlah, berhentilah mengingat Tiffany!” Junsu mencoba menenangkan Nichkhun. Tapi hasilnya tetap saja sama. Nichkhun tetap enggan mendengar perkataan sahabatnya.

“Dan kau tahu lagi,” kata Nichkhun melanjutkan, “Tadi kau lihat kan, saat Yunho dan Tiffany sedang mengobrol di kedai siang tadi? Kau lihat saat Tiffany bilang ia akan ikut dengan Yunho ke Amerika? Kau lihat?”

Junho dan Junsu hanya bisa tertegun saat melihat bulir air mata mengalir jatuh dari mata Nichkhun. Pemuda itu menangis. Dan itu adalah pemandangan baru untuk Junho dan Junsu. Nichkhun sebelumnya tak pernah menangis dihadapan mereka.

“Apakah kau begitu mencintainya, hyung?” gumam Junho pelan.

Nichkhun tertunduk. Ia mengamati botol soju kosong yang dipegangnya lalu tiba-tiba mengangkat wajahnya dan berkata, “Aku akan bunuh diri saja.”

“Mwo?”

“Aku akan bunuh diri. Disini.” Nichkhun mundur beberapa langkah sampai ujung sepatunya menyentuh pinggir peron.

“Ya, Khun! Jangan berbuat yang aneh-aneh, cepat kembali kemari!” teriak Junsu panik.

Orang-orang disekitar mereka mulai menaruh perhatian pada sosok Nichkhun yang berdiri dipinggir peron. Junsu dan Junho terus berusaha membujuk Nichkhun untuk menghentikan niat konyolnya itu. Tapi pemuda itu tetap saja bersikeras.

“Ya, jangan berani mendekat kemari atau aku akan lompat ke rel kereta!” ancam Nichkhun.

“Ya, Nichkhun, hajima!” teriak Junsu putus asa.

Merasa usaha mereka akan berakhir sia-sia, Junho menatap Junsu dengan tatapan khawatir lalu bertanya, “Ya, hyung, oetteohke?”

Junsu menghela napas. Ia menatap jamnya dan menyadari kereta selanjutnya akan tiba dalam waktu 15 menit. “Hubungi Tiffany!”

Author’s POV end

***

Tiffany’s POV

Begitu aku pulang, kulihat keadaan apartemen sangat sepi. Tak ada orang. Nichkhun belum juga pulang. Padahal seharusnya jam kerjanya diperpustakaan sudah berakhir dua jam yang lalu, tapi tak ada tanda-tanda bahwa pemuda itu akan segera pulang. Apalagi, ia tak mengabariku juga.

Nyonya Horvejkul pun demikian. Kudengar ia sedang keluar untuk pergi ke bank dan supermarket. Tapi juga belum kunjung pulang.

Karena hari ini aku merasa sangat lelah dan butuh mandi air hangat, aku segera menanggalkan bajuku dan masuk ke kamar mandi. Baru saja beberapa menit aku merasakan tubuhku rileks, tiba-tiba ponselku berdering keras dari arah luar kamar mandi.

“Mengganggu saja,” gerutuku sambil terus melanjutkan kegiatanku untuk berendam.

Namun, setelah dering pertama yang tidak kuangkat, ponselku terus berdering dimenit-menit selanjutnya. Kepala dan telingaku mulai sakit dan bosan mendengar panggilan berturut-turut itu. Aku memutuskan untuk mengambil handuk dan berjalan keluar untuk mengambil ponselku.

Kulihat nama Nichkhun berkedip-kedip dilayar ponselku.

“Ya, eodiya? Mengapa kau belum pulang juga? Apa kau tahu..”

“Tiffany!”

Seketika ucapanku terhenti saat aku mendengar suara seorang pemuda—bukan suara Nichkhun—menyahut diseberang sana.

“Nugu?”

“Aku Junho. Teman Nichkhun. Bisakah kau ke stasiun Yongdae sekarang?” katanya dengan suara terengah. Aku tak mampu mendengar dengan jelas suara Junho, karena dibelakangnya terdengar sangat gaduh dan ribut. Seperti ada suara orang yang saling berteriak satu sama lain.

“Ke stasiun Yongdae? Untuk apa? Aku sedang sibuk sekarang!”

“Tapi ini sangat penting!”

Aku mendengus. “Baiklah, katakan padaku hal penting apa yang harus membuatku segera kesana dan meninggalkan kesibukanku yang penting dirumah?”

“Nichkhun akan bunuh diri!”

Aku mengernyit. “Mwo?”

“Ne, ia akan bunuh diri jika kau tidak segera kemari dan mencegatnya. Kami tidak bisa berbuat apa-apa sekarang, jadi kami pikir hanya kaulah yang bisa mencegatnya.”

“Arasso. Arasso. Aku akan segera kesana!”

Tiffany’s POV end

***

Author’s POV

Sesampainya di stasiun Yongdae, Tiffany tertegun saat melihat kumpulan orang yang sedang berteriak-teriak histeris dan meneriakkan nama Nichkhun. Ia segera berlari kesana dan mencoba menerobos keramaian itu. Setelah berhasil, ia mendapati Nichkhun berdiri dipinggir peron dengan langkah sempoyongan. Pemandangan itu mengingatkan dirinya saat pertama kali ia bertemu dengan pemuda itu—diluar entah itu kebetulan atau tidak.

“Nichkhun, mwohaneungoya? Cepat kembali kesini!” teriak Tiffany.

Tapi sepertinya Nichkhun tidak mendengarkan teriakan Tiffany karena suasana disana terlalu berisik, gaduh, dan ramai. Terlebih lagi, Nichkhun sedang tidak sepenuhnya sadar karena ia masih dibawah pengaruh mabuk dan matanya setengah tertutup.

Junsu yang melihat Tiffany langsung menghampiri gadis itu. “Keretanya akan datang dalam waktu 3 menit lagi,” katanya.

“3 menit lagi? Tidak bisakah kita menyuruh petugasnya untuk menunda agar kereta itu tidak kesini?”

“Aku sudah bicara dengan petugasnya, tapi mereka bilang tidak bisa. Jadwal kereta sudah diatur sedemikian rupa, jika terlambat sedetik saja, bisa terjadi hal-hal lain yang tidak diinginkan.”

Tiffany menggigit bibirnya dengan khawatir. Ia kembali berpaling pada Nichkhun dan pemuda itu masih berdiri disana. Setiap kali ada orang yang hendak mendekat kearahnya, Nichkhun akan berteriak histeris dan mengancam akan mundur beberapa inci ke belakang sampai tubuhnya terpental jatuh ke rel kereta. Dan ini benar-benar memakan waktu!

“Ia mendengar obrolanmu dengan Yunho dikedai tadi. Kau bilang kau akan ikut bersama Yunho ke Amerika dan Nichkhun mulai frustasi saat ia mendengar hal itu,” imbuh Junsu.

“Mwo? Ia memercayainya?” pekik Tiffany tak percaya.

Junsu balik mengernyit. “Memangnya kalian sedang bercanda?”

“Aish, lupakan saja!”

Tinggal dua menit lagi kereta akan tiba. Samar-samar, terdengar suara gemuruh kereta dari kejauhan, dibalik terowongan stasiun kereta. Tiffany mulai panik dan merasa ia harus berani mengambil keputusan. Ia beringsut maju ke barisan paling depan dan meminta Junsu dan Junho agar menyuruh keramaian itu untuk mundur beberapa langkah.

Setelah itu, suasana mendadak sangat hening. Jarak Tiffany dan Nichkhun hanya terpaut beberapa langkah saja. Tiffany terus memanfaatkan tiap detik yang berharga itu untuk melangkahkan kakinya inci demi inci. Tapi walaupun dalam keadaan mabuk, rupanya Nichkhun menyadari bahwa gadis dihadapannya itu semakin dekat kearahnya.

“Ya, mwohaneungoya? Jangan mendekat padaku! Atau aku akan melompat ke rel kereta!”

“Nichkhun, ini aku, Tiffany!” pekik Tiffany.

“Mwoya?” Nichkhun memicingkan matanya. Ia benar-benar tidak kenal dengan sosok yang berdiri dihadapannya sekarang.

“Ini aku Tiffany! Kembalilah kesini, jangan berdiri disana. Sangat berbahaya!”

“Tiffany?” Nichkhun beringsut maju kedepan, inci demi inci. Ujung depan sepatunya kini menyentuh garis kuning. “Untuk apa kau datang kemari? Bukannya kau akan ke Amerika bersama Yunho?”

Tiffany menggeleng. “Ani, aku tidak akan pergi bersama Yunho oppa. Aku akan tetap disini.”

“Kau bohong!” teriak Nichkhun marah. Ia kembali mundur beberapa langkah dan Tiffany menahan napas saat melihat hal itu.

“Aku tidak bohong! Aku ingin tetap disini. Bersamamu.”

“Waeyo? Mengapa kau ingin bersamaku? Aku hanyalah pemuda bodoh yang bekerja diperpustakaan!”

Tiffany menelan ludah saat mendengar suara gemuruh kereta yang semakin mendekat. “Karena.. Aku mencintaimu! Aku mencintaimu, jadi aku ingin tetap bersamamu dan tidak akan pergi kemana-mana.”

Nichkhun tampak terkejut. “Jeongmal? Kau.. mencintaiku?”

“Ne, aku mencintaimu. Jadi, bisakah kau berjalan kemari sekarang? Aku tidak sanggup jika harus melihatmu bunuh diri sekarang,” pinta Tiffany dengan suara lemah.

Pemuda itu menyeringai. Ia berjalan ke depan dengan sangat pelan. Tiffany melihat kepala kereta telah muncul dari balik terowongan gelap itu dan segera menarik tubuh Nichkhun ke pelukannya hingga selamat dari hantaman badan kereta. Angin dingin malam menghembus begitu keras saat kereta itu lewat.

Dan setelah itu, Tiffany baru bisa mendesah lega saat laju kereta akhirnya memelan lalu akhirnya berhenti. Ia merasakan jantungnya berdegup kencang. Entah itu karena ketakutannya soal kereta itu, atau tentang apa yang baru ia ungkapkan pada Nichkhun barusan.

Keramaian itu bertepuk tangan dan bersorak gembira. Tiffany melepas pelukannya dari tubuh Nichkhun dan menatap pemuda itu dalam diam. Begitu pula dengan Nichkhun.

“Ucapanmu tadi, itu sungguh-sungguh, kan?” tanya Nichkhun sambil tersenyum.

PTAK!!

Tiffany menjitak kepala Nichkhun dengan keras dan mengapit kepala pemuda itu dengan lengannya. “Ya, juggolae? Aku sudah melewatkan mandi air panasku hanya untuk menyelamatkanmu di stasiun kereta!”

Nichkhun berteriak-teriak histeris dan meringis kesakitan. “Mianhae, mianhae!”

***

“Semuanya 10.000 won,” kata petugas kasir itu pada nyonya Horvejkul.

Wanita baya itu mengangguk lalu mengeluarkan dompetnya dari dalam tas. Begitu ia melihat isi dompetnya, nyonya Horvejkul hanya bisa mendesah. Hanya tertinggal beberapa lembar uang won disana. Dan tabungannya di bank pun telah habis untuk membayar sisa utang almarhum suaminya.

“Ini uangnya.” Ia menyerahkan sisa uangnya pada petugas kasir itu lalu hendak keluar sambil membawa belanjaannya.

Saat ia hendak keluar dari supermarket, dua orang polisi masuk ke dalam supermarket membawa beberapa selembaran kertas.

“Boleh kami memasang kertas ini disini?” tanya salah seorang polisi itu pada petugas kasir itu.

“Ne, tapi tolong pasang diluar toko saja.”

“Ah, ne, gamsahabnida.”

Dua polisi itu keluar dari supermarket dan nyonya Horvejkul mengikuti mereka dari belakang. Saat dua polisi itu memasang kertas selembaran itu didepan toko, nyonya Horvejkul berusaha mengambil-ambil kesempatan untuk melihat isi kertas selembaran itu.

Rupanya kertas itu adalah kertas pencarian orang hilang. Nyonya Horvejkul membaca kalimat-kalimat yang tertera disana—ciri-ciri orang hilang tersebut—lalu terkejut saat melihat imbalan yang diberikan. 20 juta won!

Dan yang membuatnya lebih terkejut lagi saat ia melihat foto si orang hilang tersebut. Rasanya ia tidak begitu asing dengan wajah gadis yang dipasang disana. Lalu, beberapa detik kemudian, ia tersadar bahwa gadis itu adalah Tiffany, yang ia ketahui adalah teman anaknya.

To be continued…

***

NB:

1). Yang kemarin nanya soal lie detector beneran ada apa nggak, lie detector itu beneran ada. Aku pertama kali lihat juga waktu nonton acara We Got Married Adam Couple. Jo Kwon sama Gain pernah mainin itu pas di episode-episode pertama. Untuk masalah lie detector itu bisa dipercaya apa nggak, ke-akurat-annya 100% atau nggak, saya juga nggak tahu, soalnya belum pernah nyoba 😀 haha

2) Yang kemarin nanya, “Yunho itu siapanya Tiffany sih?”, “Yunho kok tiba-tiba muncul begitu aja? Emang dia siapanya Tiffany?”, nah, untuk pertanyaan ini kayaknya udah terjawab secara sendiri. Coba baca kembali di part 3, disitu Tiffany cerita soal seseorang di masa lalunya. Untuk apa karakter Yunho tiba-tiba saya munculin tanpa ada angin, kalo dipart-part sebelumnya saya nggak ngasih hint dulu ke readers? Itulah pentingnya membaca dengan menggunakan daya nalar.

112 thoughts on “Sticking With You (Part 6)

  1. Itu serius Tiffany ngaku suka sama Khun? UWAAAA Jangan bilang ibunya Khun bakal nyerahin Tiffany ke Byunghee? Please jangan!!! Aku baca lg next chapternya dolooo~

  2. eomma khin mau nyerahin fanny ke byunghee???what!!!!????
    Kasian khun nya dong
    bca nextt chapter dl deh…

  3. waah~ adegan ppany nyelamatin khun itu bner2 mendebarkan.. eh, pas udh diselamatin ttp masih ada aja aksi pukul memukul ppany ke khun.. kkkk~
    khun bner2 konyol wktu adegan bnuh diri itu.. haha
    next part

  4. oh andwe jangan sampai omma khun memberitahu keberadaan fany hanya demi uang 20jt won, kebahagiaan anaknya lbh penting dari uang, ayolah khunfany tak boleh pisah setelah apa yang mereka lewatkan.

    -khunfany REAL-

  5. Jangan bilang ibu khun bakal lapor ke polisi buat dpetin uangnya biar bisa lunasin utang appa.. Duuhh

    Nasib khunfany gimana klo ibunya lapor? pasti fany marah bgt deh… ckck

Leave a Reply to Valencia Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s