Us and Ours – Part 2

Author: helmyshin1

Cast: Kim Jaejong and find by yourself.

Genre: Family, Friendship

Rating: General

Lenght: Sekuel (Maybe)

Requested by: Tirzsa Eonnie

Rumahsakit.

Sekali lagi, Jaejong masih ingat betul kejadian itu.

“Jadi… boleh ‘kan?” namja tadi memastikan, nampak tidak sabar karena ingin segera beristirahat dari perjalanannya yang melelahkan.

“Apa kau merasa terganggu dengan permainanku?”

“Aku hanya ingin.. mengiringi dedaunan yang bernyanyi”

Us and Ours – Part 2 | 2012 helmyshin1 present

FLASHBACK

“Oppa..” rintih seorang yeoja sembari memperhatikan foto berbingkai yang tengah ia genggam. Matanya menerawang jauh di mana dirinya melewati secuil hidup bersama namja itu –yang ada di foto. Sungguh menampakkan bekas yang tak mampu dimusnahkan.

Sakit, sedih, bahagia, tertawa, 20 tahun sudah ia melewati semuanya bersama namja tersebut.

Minyoung –sang gadis- hapal betul siapa sosok yang senyumnya tergambar di lembaran itu, dialah namja paling berpengaruh di hidupnya. Namja yang menjelma layaknya gurunya sendiri. Bukan guru yang mengajarkan membaca maupun menulis kata demi kata, tapi guru yang mengajarkannya jauh lebih berarti dari itu semua.

Guru yang mengajarkannya arti kehidupan, yang selalu mengingatkannya dengan kalimat, “Kita adalah satu.”

Terkadang muncul gagasan tak biasa di otak si yeoja, untuk apa harta berlimpah tapi orang yang kau sayangi tak ada?

Tak berguna. Hampa.

Kenangannya itu bagaikan tinta hitam yang diteteskan ke air, diaduk dengan cepat, dan melebur. Seperti sesuatu yang akhirnya sulit digapai kembali.

Air matanya menetes lagi, cukup sampai di sini dulu ia mengingat saudaranya. Lagi pula masih ada waktu untuk mengeringkan air mata ‘kan?

Semoga saja.

“Minyoung-ah, ayo makan!” untung suara sang ibu membuyarkan lamunannya. Nyaris ia tenggelam dalam lubang kesedihan –lagi.

“Ah. Ne, eomma.” Minyoung meletakkan foto itu ke tempatnya –ke atas meja- walau dirinya masih ingin menggenggam benda itu seperti keinginannya untuk terus bersama saudaranya.

Saatnya memakai topeng kebohongan lagi.

Memang. Ekspresi wajah bisa berbohong dengan mudahnya, namun membohongi perasaan memang sulit adanya. Selalu ada rasa rindu untuk menatap bangku yang kini kosong di hadapannya, bangku yang dahulu ditempati namja yang sekali lagi ia sayangi.

Ia merindukan sosok itu. Sepeti tumbuhan gurun yang merindukan secerah hujan.

“Kau beruntung bisa diterima di Universitas terbaik Seoul, jangan sampai kau menyiakan kesempatan itu seperti kakakmu yang tak tahu diri. Mencemari nama baik keluarga dengan kelakuan bejatnya.” Sebuah suara berat beradu dengan bunyi-bunyi alat makan yang berkolaborasi menjadi satu.

Entah mengapa sang ayah tak pernah kehabisan kata untuk membuka aib demi aib anaknya sendiri, bahkan saat makan malam sedang berlangsung sekali pun, membuat Kim Minyoung hanya bisa meremas garpu dan sendok yang digenggamnya, berharap dua benda itu bisa remuk untuk melegakan emosinya sedikit saja.

“Lihatlah, bahkan sudah dua tahun ini dia hilang entah kemana, tak pernah memberi kabar sedikit pun kepada orang tuanya.” Namun apalagi yang bisa dilakukan Kim Minyoung? Sama seperti sang ibu, hanya bisa menekan segala rindu yang berkecamuk dalam organ vitalnya.

“Cih, anak macam apa itu!” Sang ayah membubuhi air yang ia teguk dengan kalimat sinisnya.

Hening sesaat.

Kim Minyoung masih mencoba dan mencoba menahan segala emosinya, namun semuanya harus meledak kali ini juga. Cercaan demi cercaan yang keluar dari mulut sang ayah seperti ditujukan kepada dirinya, membuat jantungnya serasa dihujam beribu pisau tajam yang tak terhindarkan.

BRAK!

Kali ini Minyoung tak kuasa menahan rasa yang telah lama dipendamnya, ia muak. Gadis itu bangkit dari tempat duduknya, memandang ayah kandungnya sendiri dengan mata berair.

“Cukup appa! Tak puaskah appa terus menerus mengungkit keburukan Jaejong oppa?! Dan tidak ‘kah terbuka nurani appa sedikit saja?!” teriakannya terdengar serak. Kim Minyoung mengatur napasnya, mengatur detakan jantungnya agar tak copot karena amarah yang mungkin luar biasa.

PLAK!

Nyaris saja tubuh Minyoung runtuh, jantungnya berpacu semakin kencang kurang dari satu menit. Kenapa ayahnya semakin tega kepadanya?

Sreeek..

Terdengar bunyi hentakan yang cukup kencang. Sebuah dekapan melayang ke tubuh Minyoung, dekapan penuh kasih sayang. Tangan besar dan hangat menyapu helai demi helai rambut Minyoung, membaginya kekuatan.

“Cukup.” Kata pemilik tangan besar tersebut kepada satu-satunya pria yang tersisa di rumah itu, ia mengusap rambut Minyoung lagi dengan halus.

“Appa.. tak pernahkah sedikit saja kau menaruh kepercayaan ke Jaejong oppa?” suara Minyoung melambat dan semakin lirih. Dipandangnya kedua bola mata sang ayah yang tak nampak mengkilat lagi. Pandangannya sayu namun tersirat kebencian dalam sorotnya.

Gadis itu mencoba membaca pikiran sang ayah, mencoba memahaminya atau bahkan mengendalikannya. Namun ia tidak bisa dan tidak akan pernah bisa melakukannya.

Makan malam ini nampak berantakan oleh kenangan lama yang menyakitkan.

“Biarkan aku menyusul Jaejong oppa.” Minyoung menepis pelukan sang ibu, segera berlari menuju kamarnya.

Kaki-kaki kursi bergesekan dengan lantai secara kasar, membuat darah setiap orang berdesir kala mendengar gema itu. Beberapa saat kemudian, suara derap langkah berganti dengan bantingan pintu yang beradu dengan gemuruh malam.

Tersisa seorang pria yang masih duduk rapi seperti 10 menit yang lalu. Jantungnya berdegup saat mendengar gelegar amarah Minyoung, mencoba meresapi itu. Namun ada satu sisi dalam dirinya yang mengacuhkan itu semua, membuat otaknya harus bekerja lebih keras.

“Minyoung, apa yang kau lakukan?” pekik nyonya Kim.

“Aku sudah bilang, eomma. Aku mau ke tempat Jaejong oppa!” jawab Minyoung dengan tangan yang sibuk memindahkan beberapa baju dan barang ke kopernya. Pikirannya terbang, mencari jawaban atas apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

“Kau tidak tau di mana kakakmu berada, Minyoung. Jangan melakukan hal bodoh!” tegas si ibu, berusaha menatap dua kelereng di mata Minyoung.

“Kalau begitu aku akan mencarinya.” Balasnya tenang, dikaitkan kancing-kancing mantelnya dan sesekali merapikan rambut coklatnya dengan tangan bergetar. Gadis itu menarik kopernya, berjalan ke arah pintu.

“Minyoung!”

Yang diteriaki mematung tiba-tiba. Jujur saja, ia belum pernah melihat sang ibu berteriak dengan mata sayu. Jauh dalam hati ia memang iba, tapi rasa itu tidak akan menghentikan tekadnya. Ia terlampau muak dengan sandiwara bahwa ia baik-baik saja. Ia terlampau muak dengan kebohongan bahwa ia mampu menahan segala ucapan ayahnya.

Sekarang, persetan dengan itu semua.

“Mianhae, eomma. Saranghae.”

Tepat 60 detik setelah kalimat itu meluncur, terdengar kembali langkah beradu di tangga. Ada suara isak  tangis jika didengar sedikit lebih teliti, yang sirna di telan malam 5 menit kemudian.

“Biarkan saja anak itu pergi!” kalimat itulah yang menghentikan langkah si ibu. Sungguh sakit melihat bagian dari hidupnya pergi begitu saja, bahkan ia tak mampu melakukan apa-apa untuk mencegahnya.

“Minhyun, siapkan penerbangan ke Inggris untukku. Sekarang juga.” Minyoung menutup flap ponselnya. Dirapatkan mantel coklat yang membalut tubuh kurusnya.

Cukuplah kepercayaan dan kenangan yang menjadi bekalnya, tak lebih. Karena dua kekuatan itu sudah lebih dari cukup.

FLASHBACK END

Fajar nampak menyingsing dari ufuk timur, memberi secerah harapan bagi semua orang, memberi mereka kesempatan untuk menjalani hari baru di hidupnya, memperbaiki yang kemarin, dan merencanakan yang akan datang.

Namun di sisi lain, sang fajar juga memberi tahu bahwa umur kita semakin bertambah, memperingatkan kita untuk berusaha lebih dan lebih. Tak menyiakannya. Tapi kita tak patut bersedih di pagi yang ceria, karena akan selalu ada kehangatan yang tersembunyi di balik kepedihan.

Dua pasang mata itu bertemu di damainya pagi. Sekilas, bentuk indra mereka tak jauh berbeda. Mata yang hitam mengkilat, bibir yang segar, hidung mancung, kulit putih, bahkan model rambut sekali pun.

Tapi rambut yang satu nampak kecoklatan daripada yang lain –yang warna rambutnya hitam. Si hitam 5 centi lebih tinggi dari si coklat.

Nyaris!

“Sebenarnya apa tujuanmu ke Inggris? Menuntut ilmu?” tanya si hitam setelah meneguk segelas susu, dirapikannya beberapa alat makan yang berserakan di atas meja.

“Um, sebenarnya aku mau mencari pekerjaan. Bagaimana denganmu, Jaejong hyung?” ujar Alex –si coklat- menyapu bibirnya dengan selembar tissue, dan mengikuti apa yang dilakukan Jaejong.

“Yah, aku kuliah. Mengapa kau jauh-jauh ke Inggris untuk mencari pekerjaan? Di Korea ada berjuta lowongan, bukan?” tutur Jaejong seakan hapal betul keadaan di Korea sana. Lelaki itu mengenakan jam tangannya, memastikan bahwa masih ada waktu sebelum jam pelajarannya dimulai.

“Entahlah, ada sesuatu yang menarikku ke sini.” Alex menghela napas, berharap bebannya keluar bersama karbondioksida yang dihembuskannya. Walau ia tau bahwa itu mustahil terjadi.

“Oh iya, kau punya saudara?” tambah Alex mengikuti Jaejong bangkit. Yang ditanyai nampak diam sejenak, “Um, yah, sebenarnya iya. Mengapa?” terdengar ada beban kala menjawab pertanyaan itu, Jaejong menarik tubuhnya ke dapur, menaruh alat makan kotor di tempat mencuci piring.

“Aku juga punya, dia sebaya denganmu. Perawakannya juga sepertimu.” Alex menyusul Kim Jaejong, “biar aku saja.” Dan merebut spons berbusa yang sebelumnya dipegang Jaejong.

Rambut hitam itu diam sejenak, segera membasuh kedua tangannya dengan air.

“Apakah saudaramu seorang yeoja?” tanya Alex, masih berkutat dengan piring-piring kotor.

Jaejong mengambil interval cukup lama, entah mengapa otaknya bekerja jauh lebih lambat kali ini. “Aku kembali pukul 4 sore.” Tuturnya, mengambil langkah keluar dapur.

“Siapa nama saudaramu itu?” yang bertanya tak memperhatikan gerak-gerik Jaejong sedikit pun.

Jaejong nyaris menggigit bibir bawahnya sendiri, tiba-tiba ada rasa takut yang menjelajahi setiap sel tubuhnya, seperti tumor ganas yang menggerogotinya. “Telfon aku kalau ada apa-apa.” Si hitam hanya meneruskan langkahnya keluar. Entah kenapa langkahnya semakin cepat, seperti seorang yang tergesa-gesa.

“Kau menghindar, Kim Jaejong.”

DEG!

Tubuh yang namanya disebut mematung, seolah beku oleh semilir angin yang bahkan terasa sejuk. Ribuan rantai besi seakan mengikat kedua kakinya, membuat tubuhnya tak mampu bergeser satu centi pun.

Dua kelopak mata itu menutup, mencoba menenangkan diri yang bahkan sulit untuk dilakukan. Dihembuskan napas dengan sangat berat, dan akhirnya ia dapat melangkah ke tempat tujuannya.

Namun si rambut kecoklatan tadi tak mencegahnya berlalu, membiarkan Kim Jaejong pergi.

***

Pemuda yang diberi nama Kim Jaejong itu menyeruput secangkir cappucino dengan lambat, menanti malam London yang akan ‘mempertontonkan diri’ seiring dengan tenggelamnya sang surya. Sepotong puzzle yang mewakili rasa pedih memenuhi otak Jaejong, memaksanya menyelesaikan puzzle itu.

“Hyung, aku rasa persediaan susu kita hampir habis, bisa kita membelinya besok?”

Sebuah suara bibir bertemu dengan mulut cangkir yang terdengar sampai di ujungnya dua detik kemudian, diakhiri dengan deheman kecil dari pemilik bibir tersebut, “Okay.”

“Um, oh iya, sebenarnya kau tak perlu repot-repot memasak makanan sendirian setiap hari, aku bisa membantumu ‘kan?” Ungkap Jaejong, dipandangnya cappucino dalam cangkirnya, air berwarna itu seperti menampilkan film hidupnya.

“Kita juga bisa membelinya.” Tambahnya datar sambil meletakkan cangkir tadi, diambilnya beberapa lembar tissue dengan lambat, mencoba menghilangkan kecanggungan yang membuat jantungnya bekerja lebih keras. Jaejong pun merosotkan tubuhnya di sofa.

“Tidak apa-apa, itu sebagai salah satu bayaran untuk ijin tinggal di apartemenmu.” Balas Alex. Ia nampak menghela napas kala rampung menata meja makan malamnya, “Sudah siap, hyung!” tambahnya girang.

Kim Jaejong mendongakkan kepalanya ke dapur, menutup laptop dan membuang lembaran tissuenya ke tempat sampah. Ia menghampiri Alex.

Dua manusia itu tak lagi membahas apa yang terjadi pagi tadi. Seakan kejadian itu hanyalah lelucon yang tak penting. Entahlah, tak tau apa yang tengah berkecamuk dalam pikiran dua orang tersebut. Tapi bukankah itu lebih baik?

“Ada kimchi?” Bibir Jaejong nyaris bergetar kala mengatakan nama makanan tersebut, nyaris tak berfungsi kedua paru-parunya.

“Yah, tidakkah kau merindukannya –Kimchi?”

“Um, yah. Boleh juga.” Jaejong menunduk, ditariknya sebuah kursi untuk ia duduki, memandang beberapa makanan yang terhidang di hadapannya, semua makanan khas Korea. Terputar kembali hampir semua slide kebahagiaan yang kenyataannya hanya menyisakan kepedihan, dan sekali lagi, Jaejong harus kuat untuk menahannya.

“Kau tak akan menghabiskan waktu makan malammu untuk memandang meja ‘kan, hyung?” tegur Alex lugas, berhasil membuyarkan lamunan Jaejong.

“Um, oh, no.”

Yah, terkadang terlalu sulit untuk kembali ke masa lalu, terlalu sulit untuk menerima apa yang telah menyakiti hati. Walau kenyataannya ada sebuah kebahagiaan yang tersembunyi di rasa sakit itu. Sebaliknya, terkadang ada rasa pedih yang tersembunyi di kebahagiaa tersebut.

Lagi.

Potongan puzzle kenangannya mulai terpasang satu persatu. Namun sampai saat ini belum jelas, masih sulit untuk dipahami.

“Roti, susu, selai, sayuran, apalagi yang harus kita beli?” Tanya seorang pemuda berambut coklat cepak, ekor matanya menangkap sesosok namja yang berdiri di sampingnya. Sosok yang ditanya bergumam sembari mengusap dagunya –berpikir.

“Buah?”

“Tepat!” sorak namja yang lebih pendek, dua buah kelereng matanya berkilauan di balik kacamata tipisnya –bahagia.

“Ngomong-ngomong, kau kerja apa, hyung?” tanya si pendek sembari berjalan menuju toko buah tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Aku? Aku bisa bekerja apa saja. Mengamen, menyanyi, menulis, melukis, yah, aku sangat berbakat, Alex!” jawabnya lancar, dilemparnya sebuah tomat sekepalan tangan anak-anak ke atas, lalu menangkapnya lagi tanpa melihat arah jatuh tomat itu.

“Okay. Aku percaya itu!”

“Hyung, bisa kau bawa ini sebentar? Aku harus ke kamar mandi saat ini juga!” Alex nyaris berteriak kala sampai di depan toko buah. Diberikannya beberapa kantong kertas berisi bahan makanan ke Jaejong, membuatnya pemuda itu kerepotan. Dan dalam waktu dua menit, Alex telah menghilang dari pandangan Jaejong.

“Tolong jeruk dan apelnya 2 kilo, sir!” Jaejong beralih ke penjual buah. Tangan kanannya tak sengaja menyentuh benda keras dan berbentuk seperti persegi panjang di dalam salah satu kantong tersebut.

“Alex’s phone,” gumamnya.

Namun yang membuat darah Jaejong berdesir bukanlah merk atau pun bentuk ponsel itu, melainkan walpaper ponselnya.

Foto Kim Jaejong dan Kim Minyoung

-To Be Continue-

Mianhae ngepostnya telat, urusan sekolah bener-bener gak bisa ditoleransi *curcol

Mian juga part ini terkesan membosankan. Dan FF ini sedikit aku ubah fokus cast’nya, kalo sebelumnya lebih ke Jaejong, mungkin untuk selanjutnya bakal lebih ke Alex atou keduanya, mudeng? #PLAK

Best regards,

helmyshin1

12 thoughts on “Us and Ours – Part 2

  1. sama seperti sebelumnya, aku masih belum punya bayangan juga tentang FF ini.
    Jaejoong ngelakuin apa sih sampe dia kayaknya dibenci banget sama keluarganya sendiri?
    dan ada hubungan apa Jaejoong, Alex, dan Minyoung?
    complicated banget 😐
    update soon, please ^^

  2. Keren!
    Udah kuduga si alex tu minyoung, hehe :p
    Thor kenapa ga coba bikin novel aja? Ceritanya keren loh 🙂

  3. bnr2 bacaan yg berat.. tp bikin penasaran. baca ff ini berasa baca novel … bahasanya yg sgt baku dan rumitnya jalan cerita… tp satu kata dr saya ‘KEREN!’

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s