Haze Girl {3 to 3}

Author : Awsomeoneim

Genre : Romantic, Family Background, Friendship

Casts :

Lee Jun Ho (2 PM), Kevin Woo (U-Kiss), Kwon Han Jie (you)

Other Casts :

2 PM members, etc.

Annyeong yeorobun!! This is the last part!! Mianhe author harus ngeprotect, soalnya author penasaran, seberapa banyak sih SIDER dan GOOD READER di FF ini.. atau emang yang baca dikit #jlebb

Hahaha Let it go lah.. Yang udah dapet PW selamat baca, semoga ngga nyesel, dan semoga ingat janjinya untuk NGETIK TANGGAPANNYA, ARRASEO!!

v So, nikmati, keep reading, and Keep comment! \^_____^/

AWAS!! JIKA ADA YANG BERNIAT MEMPLAGIAT, AYO LOMBA ADU KANO DI AIR TERJUN!!

‘Aku tidak pernah melihat wajahmu semuram ini sebelumnya’

‘Aku sepertinya terkena kutukan’

‘Kenapa kau berkata seperti itu?’

‘Padahal aku sudah berusaha sampai sejauh ini, masih saja bisa dia bertemu dengannya’

‘Ini yang dinamakan takdir tuhan’

‘Haruskah seperti ini? Tidak bisakah aku mengubah takdir? Tuhan bilang aku bisa merubah takdirku asal aku berusaha. Aku sudah berusaha sedemikian rupa, tapi nyatanya…’

‘Sebenci itukah kau padanya sampai mau menularkan rasa bencimu?’

‘… Entahlah, aku hanya tidak ingin dia bertemu dengannya selama hidupnya. Cukup aku saja yang pernah mengenalnya.’

‘Tapi dia adalah bagian darinya, tidak mungkin tidak bertemu, walau sekali.’

‘Aku tidak sanggup untuk tau reaksinya. Belum tentu juga dia ingat apalagi percaya.’

‘Aku yakin kau mengenalnya lebih daripada orang lain.’

‘Kurasa tidak…’

‘Ini sudah terlalu lama.. tidak bisakah kalian saling melupakan luka lama?’

‘Ini bukan luka… ini hanya masalah egoism.’

‘Selesaikanlah.. Kau tidak mungkin menghindarinya hingga akhir hidupmu.’

‘Aku rasa aku hanya… merasa rendah dihadapannya. Aku pasti tidak mampu menatap matanya..’

Author POV.

Di tempat latihan 2PM, Jun Ho memikirkan kata-kata appanya saat di bandara. Akibatnya, ia hanya berdiri diam bersandar pada salah satu sisi dinding di sana.

*Jun Ho in Ngelamun Activity*

Chansung menyadari ada yang aneh dengan Kaisar 2PM yang biasanya maha rajin dalam hal berlatih. Ia menghampiri manusia yang kini menyerupai patung karena hanya diam saja.

“YYA! Lee Jun Ho, kau sedang dirundung masalah apa? Tubuhmu tampak sekeras batu, dari tadi tidak bergerak sedikitpun. Tidak lelah?”

Jun Ho melirik sedikit kearah Chansung lalu ia hanya menghela nafas, “Bukan masalah, hanya sesuatu yang mengganggu pikiran. Aku jadi tidak mood latihan.”

“Itu namanya masalah, hyung pabo,” ujar Chansung to the point dan berhasil membuat Jun Ho segera menggulatnya hingga mereka berdua berguling-gulingan di lantai tempat latihan.

Member yang lain hanya menatap dengan takjub, tanpa niat untuk melerai sedikitpun.. mereka hampir menyiapkan popcorn untuk nonton, sayangnya.. acara gulat itu keburu habis.

“Yaaah… ga jadi makan popcorn deh,” celetuk Junsu lalu mengajak member lainnya, minus Jun Ho dan Chansung, untuk kembali latihan.

Jun Ho pun menceritakan apa yang sedang dipikirkannya, dan dia merasa senang dengan keberadaan Han Jie, “Tapi kalau Han Jie harus jadi dongsaengku… agak gimana rasanya.” Ujar Jun Ho yang tidak mampu berkata-kata.

“Berarti kau menaruh perasaan padanya, hyung,” lagi-lagi Chansung berkata to the point.

Sebelum Jun Ho kembali menggulatnya, Chan sung langsung berteriak ke anggota 2 PM yang lain jika Jun Ho menyukai Han Jie. Akibatnya? Jun Ho diledekin abis-abisan, dan ia mengirimkan sinyal perang kepada Chansung.

Malamnya sepulang dari latihan, alias di dorm, sebelum tidur Jun Ho mengubek-ngubek gallery ponselnya dan ternyata ada 1 foto Han Jie dengannya. Perlahan dia menggumam, “Sepertinya…Chansung….benar”

~^^~

Di lain Negara, di sebuah tol, di pagi yang sejuuuuuk~

“Kevin ssi, dimana keluargaku akan menjemputku?”

“Tentu saja di Jakarta,”

“Kau mengira aku bodoh atau kau yang bodoh, huh?”

“YYA! Aku lebih tua darimu! Kenapa bicaramu kasar sekali?”

“Habis kau sangat menyebalkan!”

“Aku hanya bercanda… Tidak ada yang menghubungiku. Jadi sebaiknya kita langsung ke Kantor dubes Korsel saja, kita tunggu di sana.”

“Arraseo..”

Adu mulut di dalam mobil Ferrari-F12-Berlinetta-620GT berhenti dan digantikan oleh alunan sebuah lagu dari U-Kiss -> 0330

*Ini mobilnya si Kevin*

“Kenapa memutar lagu sedih sih?”

“Mana kutau? Tanyakan saja pada pemutar mp3nya!”

“Tapi kan pemutar mp3nya ada di mobilmu.”

“Lalu apa kau pikir aku yang mengendalikan pemtutar mp3nya??”

Aah..sepertinya, pertengkarannya kembali di mulai~ _._

~^^~

Setibanya di kantor Dubes, keluarga Han Jie telah menanti kedatangan ‘anak nyasar’ itu. Setelah meluangkan sekitar 20 menit untuk saling berbincang dan basa-basi, Han Jie dan keluarganya segera melanjutkan perjalanan kembali ke kediaman mereka.

“Ma..tau ngga?” Han Jie memulai percakapan saat mereka sudah landing dan dalam perjalanan panjang dari Surabaya menuju Jember. *numpang promosi kota author #plakk*

“Kamu belum kasih tau mama, mana mungkin mama tau kamu mau ngasi tau mama apa?” seorang wanita berusia 38 tahun disamping Han Jie mencubit pelan hidung Han Jie.

😀 Han jie malah nyengir tanpa dosa, “ ^_^v | Jun Ho oppa baru saja mengirimiku sebuah pesan, dia bilang Mr. Lee mau mengadopsiku menjadi anaknya, haha”

“MWO? Aissh…Mr. Lee itu pasti tidak tau jika aku sangat menyayangi yeoja ini.. Tidak akan kubiarkan dia merebutmu dariku!” Umma Han Jie memeluk Han Jie erat.

3 detik kemudian mereka tertawa bersamaan. “Haish..mama lebay~”

“Maklum, obat sempat ilang lamaaa banget,” 😀 “Untung sekarang obat mama sudah balik,”

“Hm?” Han Jie menolehkan kepalanya, menatap mamanya penasaran.

“Kamu obat anti lebay mama, sayaaaaang~” lalu wanita tadi sudah kembali memeluk Han Jie erat sebelum Han Jie sempat menghindar.

Han Jie POV.

*Kamar Han Jie*

Uwaaaah, akhirnya aku kembali ke kamar tercintaa \^,^/ Oh, kasur..aku sangat merindukanmuu #pelukkasur (?) Setelah menempuh 5 jam perjalanan dari Surabaya.. akhirnya ku tiba kembali di goa mak lampir kesayangankuuu >_<

Aku tidak berniat menata baju-baju di koper, jadi aku tiduran dulu di tempat tidur ini.. Uah… rasanya nyaman sekaliiiii~ Punggungku serasa berada di awan..

“TOKTOKTOKTOK.. nona.. makan malamnya sudah siap”

Terdengar samar-samar suara asisten rumahku, dan dengan setengah sadar dan suara serak ala vokalis rocker aku menjawabnya, “NEEE”

Eh, aku mengerjapkan mataku beberapa kali lalu segera ambil posisi duduk. ‘Ini kan di Jember, kenapa aku pakai Bahasa Korea? Ah, kacau…’ x_____x

Aku tersadar bahwa langit sudah menghitam setelah kusibakkan jendela kamarku. Dengan langkah menyeret aku menuju lemari pakaian dan menenteng handuk ke kamar mandi. Sebelum menutup pintu, kudengar ponselku berdering.

“Yoboseyo..” suara di seberang sudah terdengar sebelum aku membuka mulut. Aish, loadingku setelah bangun tidur jadi 300% lebih lambat sepertinyaa #benturinkepalaketembok

“Ne..yoboseyo Jun Ho oppa,” aku sudah tau dari suara dan nada bicaranya. Hebat kan aku?

“Bagaimana perjalananmu? Lancar? Menyenangkan? Ah, apa kau sudah tiba di rumah?” Dia bertanya seperti orang yang ikut kuis ‘Who wants to be a milionare’ terburu sekali..

“Lancar dan..melelahkan. Ne, aku sudah ada di rumah, sudah merasakan kembali kenyamanan kasurku..HAHAHA..”

“Menyenangkan tidak?” dia mengingatkanku 1 pertanyaan dia yang belum aku jawab.

“Ah, itu.. lebih menyenangkan melakukan perjalanan dengan oppa. Walau naik sepeda, tapi itu jauh lebih mengasyikkan dibanding naik pesawat,” aku menatap koperku yang tergeletak begitu saja saat mengingat kata ‘pesawat’.

“Ah, memang itu yang ingin kudengar,” ia terkekeh di ujung sana, “Aku ingin mendengar jawaban itu~”

“Sudah senang sekarang huh?” tanyaku kemudian.

“Mm..sangat senang. KKK~ ” dia masih saja terkekeh. Aish, apa dia salah makan hari ini?

“Oppa memangnya tidak ada jadwal perform?” Aku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 6 PM, artinya di Seoul masih pukul 8 PM, dan itu bukan waktunya 2PM untuk santai-santai.

“Ada..ini aku sedang berada di ruang tunggu dengan yang lainnya,” kurasa ia sedang menghadapkan speakernya ke arah member yang lain, karena terdengar suara mereka yang saling bersahutan.

“Sangat berisik, oppa!” protesku sambil mengusap telingaku, “Kalau begitu, JUN HO OPPA, FIGHTING!!”

“Kkk~ gomawo..” kalimatnya yang ini terdengar sangat menggantung.

“Ada apa oppa?” reflek aku bertanya.

“……” tidak ada jawaban, padahal kami masih tersambung. Apakah koneksinya eror?

“Oppa..YYA! Jun Ho Oppa!! Gwenchanayo?” aku agak khawatir setelah sekian detik masih saja tidak ada suara darinya.

“Nan jeongmal Bogoshippo Han Jie-ah” {aku sungguh merindukanmu Han Jie}

“Uh…nado…bogoshippo oppa..” dengan tempo lambat akibat serangan jantung aku membalas perkataannya.

“Eh, aku harus segera perform, sampai disini dulu ya. Saranghae Han Jie ah.” PLIK-sambungan telpon terputus.

Aku yakin semua member sedang meneriakinya di sana, sementara aku disini… berdiri di kamar tanpa nyawa akibat serangan jantung dari kata-kata paling akhir di kalimatnya barusan. YYA! Jun Ho Oppa, kau berniat benar-benar membunuhku ya? Tapi..aku sungguh tersipu dengan perkataannya. >////<

~^^~

½ tahun telah berlalu tanpa terasa. Kini aku sudah berada di kampus jurusan HI. Hm.. bahasa Inggrisku yang paling bisa kuandalkan menurutku, makanya aku mengambil jurusan ini tanpa ragu. Kenyataannya? Aku lumayan kesulitan sekalipun aku merasa pandai dalam bidang ini. T_T sepertinya aku yang terlalu berlebihan *pukpuk Han Jie*

Sesampainya di rumah aku menemukan nasi goreng dan ayam bakar di meja makan, terlantar.. Maka dengan semangat 45 aku segera meraih piring, menggenggam sendok dan garpu, lalu menyelamatkan mereka..makanan terlantar (?)

*Ayam Panggang Madu*

Beberapa menit kemudian, baru kudengar pintu terbuka dan ibuku melangkah masuk.

“Wah, anak mama makan duluan ternyata..” ujarnya dengan sebuah senyuman mengembang dan beliau mendaratkan sebuah kecupan hangat di pipiku.

“Aku sudah tidak tega melihat mereka ditelantarkan oleh kakek di sini, ma..” jawabku dengan sebuah cengiran.

“Sudah jadi mahasiswa, makin pintar mencari alasan ya kau ini!” sebuah jitakan lemah dari tangan keriput mendarat di kepalaku. Aish, kakek ini!!

“Itu kan kenyataan… Apho haraboji..” ujarku memelas sambil mengelus kepalaku.

“Sini haraboji tambah biar cepat sembuh,” Kakek menyuruhku mendekat dan menyiapkan tangan kanannya untuk menjitakku lagi T.T nappeun haraboji…

“Aniyo.. tidak perlu! Kalau aku makan pasti akan jadi cepat sembuh,” aku segera mengambil ayam panggang lagi dan kakekku hanya menatap dengan tatapan ‘WHAT THE..’

“Kalau kalian akur justru rumah akan sepi.. Baguslah kalau kalian terus bertengkar,” ucapan mama barusan membuat kami berdua kompak berkata, “MWO?”

“Tuh kan, walau rajin tengkar, kalian kompak banget..” mama menanggapi dengan tenang dan makan tanpa halangan.

“Aish.. eomma..” aku memilih untuk lajut menghabiskan nasi gorengku daripada membuka mulut lagi. Karena kalau tidak berdebat dengan umma, pasti jadinya akan beradu verbal dengan kakek. ==”

“Oh aku lupa untuk memberitau umma.. besok Jun Ho oppa dan Mr . Lee akan datang kemari dan menginap semalam. Mereka ada urusan ke Bali, dan sebelum ke Bali mereka memutuskan untuk singgah di sini dulu. Boleh ya?” aku berkata dengan antusias.

Umma segera menghentikan gerakan kedua tangannya, terdiam untuk sesaat, menoleh kepada kakek dengan sebuah pandangan yang tak bisa kudefinisikan. Barulah setelah kakek menganggung, umma menatapku dengan sebuah senyuman kecil, “Tentu saja boleh.”

“MM..terima kasih umma!” aku tersenyum senang dan tak sabar untuk segera mengetikkan sms untuk Jun Ho Oppa.

“Umma juga mau mengatakan sesuatu,” kulihat beliau sudah menata rapi sendok dan garpunya, pertanda sudah selesai.

“Apa itu?” aku menyendokkan nasi terakhir lalu merapikan sendok dan garpuku.

“Hari sabtu besok Mr. Woo dan Kevin akan umma undang untuk acara makan malam ke sini. Umma harap kamu tidak ada acara.”

“Aniy, aku juga tidak ada kuliah kok hari itu. Memangnya ada event apa?” tanyaku sambil mencari-cari ponsel di tasku. Aku sudah tidak sabar untuk memberitau Jun Ho oppa kalau..

“Acara pertunanganmu dengan Kevin Woo,” umma mengatakannya dengan tenang.

Tapi mampu membuat tanganku menjadi lemas dan ponsel yang sudah kupegang terjatuh dengan indah di lantai ruang makan. KLOTAKKKK.. rasanya, hatiku juga ikut jatuh bersamaan dengan ponselku. Bedanya, ponselku baik-baik saja sedangkan hatiku… rasanya sudah tidak berbentuk lagi dan sudah menjadi jutaan kepingan di bawah sana.

Kevin POV.

Hari ini aku ada tugas mengantarkan seorang pengusaha korea yang tertarik dengan usaha tembakau. Seorang diplomat menyarankan salah satu daerah di Jawa Timur dengan penghasilan tembakau terbaik, Jember. Aku agak bersemangat mendengar nama kota itu. Bagaimanapun, itu artinya aku akan berada di satu daerah yang sama dengan Han Jie ssi. Hey, sejak akapan aku jadi suka bertemu dengannya?!

Saat aku sedang mengepak pakaian yang akan kubawa, seorang memencet bel apartemenku. Segera kulihat intercom dan appaku sudah berdiri tenang di luar sana. Ada apa?

“Ada apa appa kemari?” tanyaku setelah mempersilahkannya duduk dan menyunguhkan secangkir teh ke hadapannya.

“Kau tau saja kalau ada sesuatu yang akan kukatakan padamu,” jawabnya santai dengan menyeruput tehnya, “Hm.. tehnya sangat enak. Membuat moodku benar-benar baik.”

Aku hanya diam mendengarnya berkata demikian.

“Kau kapan akan berangkat ke Jember?”

“Besok, pukul 8 pagi,” jawabku sambil melihat ke arah kamarku yang belum sempat kututup. Ingin rasanya segera menyelesaikan acara berkemasku.

“Oh.. kau bisa mampir ke rumah Ny. Kwon?” ayahku mengembalikan pandanganku ke arahnya seketika, ketika aku mendengar nama ‘Ny. Kwon’ ah, itu kan ibu Han Jie.

“Ne? Untuk apa?” aku mengerutkan dahi heran.

“Sampaikan padanya, ayah menerima undangan beliau untuk kita makan malam bersama akhir pecan ini,” tampak sebuah senyuman terlukis di wajah ayahku. Senyum bahagia.

“Oh.. ada perayaan apa memangnya?” aku makin penasaran saat beliau malah terkekeh pelan.

“Aku memangnya belum memberitaumu?”

“Appa tidak bertemu denganku selama 2 minggu ini. Bagaimana bisa appa bilang begitu..” aku menyandarkan punggungku ke sofa. Menghela nafas berat.

“Kau akan bertunangan dengan putri Ny. Kwon,” ujar appa dengan lugas dan tanpa beban.

Namun mataku malah terbelalak dan reflek bertanya, “Kwon Han Jie?”

*Ekspressi Kevin*

Appa masih tersenyum sementara di dalam hatiku terselip sebuah perasaan antara senang, terkejut, dan perasaan harus siap ditolak olehnya. Aku tau.. dia menyukai Lee Jun Ho sejak mereka awal bertemu. Bahkan mungkin sebelum bertemu…

~^^~

Kini mobilku sudah menyusuri jalanan daerah Jember. Tapi belum memasuki areal kotanya. Aku sudah menyusun sebuah rencana untuk hal ‘pertunangan’ itu. Aku ingin memastikan kondisi hati Han Jie, yang seharusnya sudah kuketahui. Walau begitu.. tidak ada salahnya kan, jika aku ingin bertanya langsung kepada yang punya perasaan.

Kuparkirkan mobilku di salah satu pagar sekolah Han Jie. Katanya ia sedang mengambil beberapa daa yang ia butuhkan untuk di kampus yang belum sempat ia urus saat itu. Aku menunggunya keluar, sekitar.. 10 menit kurasa. Sambil menunggunya, aku memasang headphone dan mendengarkan sebuah lagu di luar mobil karena cuaca tidak terlalu panas dan aku akan lebih mudah menemukannya. Itu sih kalau dia belum ganti wajah…

*Sekolah Han Jie -> Golden-High-School*

Waktu yang kunantikan tiba, aku mulai melihat beberapa murid bergerombol keluar pagar. Beberapa tentu saja tersenyum dan tampak terpesona olehku *Kevin <- dijitak author* Aku hanya menampakkan senyum canggung sambil terus mencari Han Jie dari bawah pohon tepatku bersandar.

*Jajaja~ Kevin ssi~*

Kulihat ia sedang berjalan bersama seorang namja, apakah namja chingunya? Ah, andwae! Mana ada namja yang mau berpacaran dengan yeoja yang hobi membentak sepertinya… {ini orang ngga sadar diri banget ya..ckckck}

Kupanggil namanya dalam sekali panggilan, untunglah dengan cerdasnya dia langsung menoleh walau dia menampakkan tatapan melotot. Ya, dia melotot ke arahku. Dengan langkah cepat dan kedua alis yang bertaut, dia menunjuk ke arahku dan berkata, “Neo…Ish.. untuk apa kau menjemputku?”

Detik berikutnya pandangannya berubah menjadi pandangan khas orang yang sudah tau segalanya, alias sombong, “Kau pasti di suruh ibuku untuk menjemputku, yak an?” aku bahkan belum menarik nafas dia sudah kembali bicara, “Aish, apa kau pikir karena kita akan segera bertunangan maka kau yang mengatur hidupku? Aniyo! Tidak akan kubiarkan!” Lalu dia melangkah menjauh.

“YYA! Kwon Han Jie-ah! Kau pikir aku ini babu ibumu ha, mau disuruh seenaknya?!” Aku membalas ucapannya dengan bahasa korea. Kuyakin kini makin banyak yang melihat ke arahku dan Han Jie.

“Kalau begitu kenapa kau ada disini kalau bukan untuk menjemputku? Sudahlah.. aku masih ada urusan, aku akan pulang terlambat, aku sudah menelpon ibuku!” Dia kembali melangkah dan sebelum ia mendapatkan langkah ketiganya, lengannya sudah kutahan.

“Karena ada yang harus kubicarakan denganmu Han Jie ssi~” aku menekankan pada kata ‘ssi’. Berharap dia bisa mengerti aku sedang kepanasan dan ingin segera duduk nyaman di mobil dengan terpaan AC.

“Apa hal penting..”

“Pertunangan yang akan dilaksanakan!” Aku menjawabnya cepat. Ya tuhan.. taukah engkau bahwa yeoja ini membuatku ingin menjejalkan ban serep ke mulutnya? Dia cerewet sekali! -_-“

Otomatis dia diam menatapku. Dia diam saja saat aku menariknya masuk ke dalam mobil, sampai aku melajukan mobilku menembus kerumunan murid-murid sekolahnya.

“Kau sudah tau tentang pertunangan itu?” Aku membuka percakapan saat kami sudah lumayan jauh dari sekolahnya.

Kulirik, dia hanya mengangguk kecil.

“Kau tidak menyukainya kan?” Ini sebenarnya pertanyaan yang kurasa sudah jelas jawabannya.

Kulirik, lagi-lagi dia mengangguk dalam diam.

“Lee Jun Ho kan yang kau sukai?” Jujur.. aku tidak suka menyebut nama namja itu. Tapi.. kalau aku menyebutnya dengan kata-kata  ‘Oppamu’ bisa-bisa aku dijitak dan dia akan cerammah 7 hari 7 malam.

Kulirik, dia hanya diam dan menunduk.

“YYA~ Kwon Han Jie.. jawab aku..” aku mengguncangkan bahunya pelan. Dia menyingkirkan tanganku dengan gerakan yang lemah dan enggan.

“Ani..” jawabnya kemudian.

“Geotjimal,” aku menepikan mobilku di depan sebuah loket pantai untuk mengambil karcis.

Sepertinya, dia baru menyadari bahwa kami sudah sampai di lokasi ini.

“YYA!! Kenapa kita bisa sampai di sini?” Dia menatapku dan keluar jendela bergantian dengan panic.

“Aish, tidak perlu panic begitu. Aku tidak akan macam-macam denganmu. Aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan di pantai, sekalian aku ingin tau seperti apa pantai di sini.” Jawabku sambil sibuk mencari-cari lahan parkir.

Kudengar ia hanya mendengus lalu terkekeh pelan, “Ucapanmu itu terdengar seperti seorang malaikat,” ujarnya.

Gantian aku yang terkekeh mendengar perkataannya, “Maksudmu aku tidak pernah berkata selembut itu ha?” dengan cuek aku melepas safety belt.

“Kau kan shinigami,” dia berkata begitu tanpa menatapku, kubiarkan saja dan hanya kutanggapi dengan cengiran.

“Kau tidak bilang kepada ibumu bahwa kau menolak pertunangan ini?” aku mulai bertanya lagi saat ia sudah berjalan keluar dari mobil, dan dia hanya menatapku sekilas dengan enggan.

“Memangnya bisa?” tanyanya sambil memandangi beberapa pohon kelapa yang masih agak jauh dari lokasi kami.

Aku tersenyum getir mendengarnya. ‘Ah, ada benarnya juga perkataannya. Dia putri tunggal Ny. Kwon. Kalau bukan dia yang menyenangkan Ny. Kwon, lalu siapa lagi?’

Tanpa sadar, aku sudah menggenggam tangannya sambil berjalan mendekati pantai. Saat aku menoleh ke arah Han Jie, dia menatapku heran. Ah, aku melakukannya begitu saja, tapi tidak ingin melepaskannya. Aku hanya tidak ingin kehilangan kenyamanan yang ada di genggamanku. Dia juga tidak berusaha menarik tangannya..

“Kau benar-benar menyukai Jun Ho ssi?” aku menatap buliran-buliran pasir yang bergerak ke kakiku saat angin menerpa.

“Keapa kau tanya itu terus Kevin-ah?” akhirnya dia menyebutkan namaku..oh, dia masih ingat namaku ternyata.

“Kan sudah kubilang, aku akan membicarakan tentang rencana pertunangan kita,” aku menatap wajahnya yang mendung. Kusibakkan sedikit rambutnya, lalu segera mengalihkan perhatian pada lautan luas saat ia menatap mataku heran.

*Pantai Papuma, Jember, Jatim*

“Kalau kau benar-benar menyukai Jun Ho ssi, dan begitu pula dengannya, aku akan membantumu menolak pertunangan ini,” aku menghela nafas, “Tidak ada artinya jika sebuah pertunangan di paksakan. Itu hanya akan menjadi duri di dalam daging kalau dilakukan.”

Aku menatap iris coklat milik yeoja yang kini menatapku dengan wajah bersalah, “Kenapa menatapku begitu?” aku terkekeh kecil melihat mimiknya.

“Aniyo.. hanya merasa sangat tidak enak padamu. Aku sangat menyusahkanmu..” Dia membuang jauh-jauh pandangannya dariku.

Ya, hatiku saat ini memang sangat sesak rasanya. Mengatakan hal tadi, sepertinya butuh ½ dari tenagaku. Terpaksa? Tentu saja.. Aku sejujurnya tertarik dengan yeoja ini. Sayangnya.. dia tidak mempunyai perasaan untukku. Jadi mau bagaimana lagi?

Detik berikutnya aku mengajaknya makin mendekat dengan ombak dan beberapa kali mencoba menceburkannya, tapi dia mencengkeram lenganku sangat kuat. Aku tidak tahan untuk tertawa saat melihat wajahnya yang histeris saat itu. Dan akibatnya aku diciprati air laut, walau hampir 90% usahanya sia-sia sebenarnya.

Sebetelah aku merasa ia agak berbahaya, karena ia makin menjadi-jadi mencipratkan air laut, aku menarik lengannya untuk menjauh dari sana. Kami membersihkan kaki dari pasir-pasir pantai, lalu menikmati sebuah es kelapa muda. Kutelisik.. mimic wajahnya sudah agak lebih baik.

Di perjalanan pulang ia menceritakan beberapa hal menarik saat dia pulang dari korea. Dari yang teman sekelasnya histeris minta dimintakan tanda-tangan Jun Ho ssi sampai yang penasaran dengan wajah diplomat kores yang sudah menolongnya, yaitu aku. Kkk~ Ternyata jika moodnya sedang baik, dia benar-benar cerewet.

“Aku akan bicara dengan Ny. Kwon tentang hal yang sudah kita bicarakan tadi,” ujarku saat mobil sudah berhenti sempurna di depan rumah Ny. Kwon.

“Mwo? Kukira kau tadi sedang bercanda..” Han Jie menatapku dengan terkejut.

“Lalu kau mau tetap bertunangan denganku?” aku menatapnya agak sebal, dan dia segera berjengkit dan membuka safetybeltnya.

“Silahkan saja, selamat mencoba berargumentasi dengan Ny. Kwon, Tuan Muda Woo..” ujarnya sebelum menutup pintu mobilku.

Saat aku keluar dari mobil kulihat ia masuk dengan terburu-buru. ‘Ah..aku tau kenapa..’ hatiku berkata demikian saat melihat sebuah sepatu yang pernah kulihat sebelumnya.

Author POV.

Nona muda yang baru saja melangkahkan kakinya keluar dari mobil seseorang kini sedang menatap sepasang sepatu yang ia kenali di depan teras rumahnya.

‘Jun Ho Oppa!!’ serunya segera ketika bayangan sempurna si pemilik sepatu tersebut tercetak jelas di benaknya.

Han Jie segera berlari masuk ke dalam rumahnya tanpa suara. Tapi ia tidak menemukan siapapun di ruang tamu. Maka ia segera menaiki tangga, ditengah tangga kedua ia mendengar sebuah percakapan samar-samar..

*Tangga tempat Han Jie nguping*

Ia makin menajamkan telinganya untuk mendengar percakapan yang terjadi.. namun tidak bertahan sampai 5 menit, lututnya lemas seketika.

Saat ia merasa atap dunia ini runtuh, ia melangkahkan kakinya menuruni tangga dan segera mengurungkan niatnya untuk menapakkan kaki di lantai berikutnya. Ia malah kembali melangkah keluar rumah dan menarik lengan seorang laki-laki berbaju kelabu yang baru saja mengantarnya pulang.

“Aku tidak ingin di sini untuk sementara, ayo pergi dari sini!” ujarnya sambil terus menarik lengan namja itu menuju mobil, saat namja bernama Kevin tersebut bertanya, “Hey, ada apa Han Jie-ah? Kau mau kita kemana? Ini sudah pukul 5 sore…”

Ia tidak memperdulikan ocehan namja yang ditariknya sekalipun.

Jun Ho POV.

Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang lumayan sangat panjang kami tiba di sebuah rumah bernuansa mountain villa dengan sebuah kolam besar di hadapannya. Seorang pelayan mengantar aku dan ayahku berjalan di sisi kolam untuk tiba di pintu depan rumah itu.

*Rumah Han Jie*

Setelah kami di persilahkan masuk dan duduk di sofa yang lumayan nyaman. Ketika kami masih sibuk mengamati interiornya, seorang ahjumma yang masih stylish walau usianya mungkin setara dengan appaku melangkah mendekat. Entah hanya perasaanku atau… aku memang mengenal ahjumma ini?

Kulirik, ayahku tampak terkejut juga, seperti terkejutnya aku. Saat aku menatap kedua mata ahjumma tersebut, aku yakin aku tidak salah ingat. Dia orang yang benar-benar kukenal. Ingatan 17 tahun lalu kembali berputar di hadapanku saat beliau mengatakan, “Selamat datang , Jun Ho dan Mr. Lee.”

*Flashback ON*

1995

“Kau terus saja mabuk-mabukan tanpa henti, membuang-buang uang saja!! Tidak bisakah kau memikirkan kebutuhan anak kita??”

“…”

“Selalu saja begini!! Kau selalu diam, tidak bisa bertanggung jawab!! Aku sudah tidak tahan lagi hidup seperti ini!!”

“…”

“Baiklah, aku akan segera pergi dari sini!! Aku sudah muak dengan kelakuanmu!!”

“Kau..boleh saja pergi.. kemanapun kau mau.. asal.. biarkan anak laki-laki itu tinggal disini bersamaku..”

“Heah, kau sedang bercanda? Kau pikir aku sampai hati meninggalkan anakku tinggal dan diabaikan oleh appanya sendiri? Bagaiman ia akan hidup bahagia jika saat ini saja kau tak mampu memenuhi kehidupannya?!”

“Jangan banyak bicara lagi Kwon Jun Jie.. Tinggalkan anak itu disini lalu pergilah.. Aku janji akan merawatnya dengan penuh kasih sayang..”

“Janjimu itu omong kosong Lee Young Ho!! Aku akan tetap membawa anak ini bersamaku!! Tidak akan kubiarkan ia..”

PLAKKK..

“Kubilang tinggalkan dia disini!! Tidak bisakah kau mendengarnya wanita cerewet??”

Umma…Appa…

“K..Kau..Sekarang kau berani menamparku Young Ho?!”

“Jangan mengomel lagi!! Cepat kemasi barangmu dan mulailah hidup yang kau inginkan!! Perceraian kita akan kuurus besok, sekarang aku harus menidurkan Jun Ho, tidak ada waktu untuk mendengar ocehanmu lagi!!”

“YYA!! Lee Young Ho!!”

“…”

*Flashback OFF*

Ne, aku yakin dia adalah Kwon Jun Jie.. ummaku yang sudah pergi 17 tahun lalu dari rumah karena pertengkaran hebat malam itu.

Tunggu dulu… Kwon Jun Jie..Kwon Han Jie.. jika beliau benar ibuku.. apakah Kwon Han Jie..

“Mari saya tunjukkan kamar kalian,” ahjumma di hadapanku sudah kembali bersuara lalu melangkah menaiki tangga.

Aku hanya diam sambil terus mengikutinya, ketika ia berhenti di sebuah kamar, beliau tersenyum kepada kami berdua, “Ini kamar kalian, semoga kalian nyaman tinggal di sini,”

Aku tersenyum kikuk sambil masuk membawa kedua koper kami. Saat aku mengamati isi kamar tamu itu, appaku melangkah keluar kamar. Saat aku menatapnya, appa bilang ia ingin membicarakan suatu hal dengan Ny. Kwon.

Aku hanya terdiam sementara pintu di tutup. Tapi kemudian kubuka sedikit pintu tersebut untuk menguping.. apa yang mereka bicarakan?

“Tujuanku kesini sebenarnya untuk bermalam dan bertemu dengan anak yang sangat kurindukan. Tak kusangka, rumah ini ternyata milikmu, Ny. Kwon  Jun Jie..” ujar appaku.

Mereka sedang duduk berhadapan di sofa ruang depan kamar.

*Ini ruang ngobrolnya~*

“Kau masih mengenaliku? Hh..” Ny. Kwon hanya menghela nafas acuh. YYA!! Dia..benar-benar umma?? “Aku ingin Han Jie bertemu dengan ayahnya suatu saat nanti, ternyata.. secepat ini Tuhan menakdirkan kalian bertemu,” lanjutnya.

“Maksudmu?” aku yakin raut wajahku dan appa kini sangat mirip. Kami sangat-sangat penasaran dengan hal yang umma katakan barusan.

“Dia itu anakmu juga. Aku mengandung 2 bulan saat pergi dari rumah laknat itu. Aku pindah kemari dan mengganti kewarganegaraannya, juga mengganti marganya dengan margaku sendiri. Kubilang padanya, bahwa ayahnya sudah meninggal saat dia masih bayi. Dengan begitu dia tidak akan bertanya mengapa marganya Lee sedangkan ayahnya sudah tiada, ” Ny. Kwon dengan santainya menarik nafas padahal aku di sini sudah sesak tidak karuan, “Yeoja yang kau tampung di rumahmu selama 3 minggu itu adalah putrimu sendiri Young Ho, Lee Han Jie.”

Appa terdiam menatap Ny. Kwon yang menatapnya lurus.

Aku segera duduk bersandar pad tembok di samping pintu yang sedikit terbuka ini… Otakku berkali-kali hanya menggaungkan fakta bahwa Han Jie adalah dongsaengku, dongsaeng kandungku.. tidak ada yang lain lagi.

“Apakah kau tau mereka berdua saling tertarik?” Percakapan diantara kedua orang tuaku kembali di mulai, ”Jun Ho itu sepenuhnya urusanmu. Han Jie sudah kutangani dengan menjodohkannya dengan anak seorang temanku yang kemarin menjemputnya di Seoul. Kau pasti sudah mengetahuinya.”

DEG!! Apakah maksudnya..Kevin Woo?

”Kau sangat cekatan,” balas appa lirih. Kuyakin ia sebenarnya masih syok.

”Tentu saja. Aku tidak mau sampai Han Jia jatuh cinta terlalu dalam kepada Jun Ho, kakaknya sendiri.”

Kudengar kemudian appa terkekeh, tawa yang sangat ia paksakan..mungkin hanya untuk merilexkan dirinya, “Kau pasti sudah diberitaunya kalau aku mau mengadopsinya. Itu karena aku sudah merasa sangat akrab dengannya saat pertama bertemu dengannya, dan ternyata..tanpa perlu aku mengadopsinya, dia sudah menjadi anakku. Bahagia sekali memiliki putri yang aktiv sepertinya. Kenapa kau tidak memberitauku saat itu..”

Aku segera menutup pintu kamar sepenuhnya. Bahagia? Appa bahagia?? Ne.. dia bisa bahagia.. sedangkah aku disini seperti mendapat hantaman bola bowling raksasa. Rasanya kepalaku mau pecah dan dunia berakhir.. YYA!! Kwon Han Jie.. kenapa kau benar-benar dongsaengku?!

*Jun Ho ssi..pukpuk*

Sampai pukul 7 PM aku menanti kepulangan Kwon..eh, Lee Han Jie. Umma bilang dia akan pulang sekitar pukul 4 PM, tapi ini sudah terlambat 3 jam!! Aku keluar hendak membuka pagar untuk keluar mencarinya dengan mobil, lalu kulihat sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Kevin Woo keluar dari mobil itu dan aku segera menghampirinya dengan heran.

“Kenapa kau ada di sini?” tanya kami berbarengan.

“Aku ada tugas dinas ke sini. Tadi pukul 3 PM aku menjemput Han Jie di SMAnya saat dia mengambil beberapa berkas, lalu mengajaknya jalan-jalan. Aku sudah membawanya pulang kemari pukul 5 PM. Lalu dia kembali menarikku setelah masuk ke rumahnya, untuk pergi lagi,”

Kevin menghela nafas lalu menatap seorang yeoja yang sedang tertidur di dalam mobilnya, “Selama di perjalanan ia hanya menangis dan mengoceh mengatakan dunia ini kejam, menyebalkan, dsb.  Tanpa menghiraukan pertanyaanku. Aku menjalankan saja mobil berputar-putar kota ini, sampai dia berhenti menangis. Ternyata..dia tertidur..”

Kevin lalu menatapku yang hanya menatap Han Jie dalam diam, “Apa yang terjadi? Apa kau tau masalahnya? Kau sudah tiba sejak pukul 5 PM tadi kan?”

Aku hanya diam lalu melangkah membuka pintu mobil Kevin. Sebelum aku sempat melepas safetybelt Han Jie, dia sudah mencengkeram lenganku, “YYA!! Katakan padaku, apa masalahnya jika kau juga tau..”

*Tatapan Kevin ke Jun Ho*

Aku menoleh sedikit kearahnya, “Ini masalah internal, aku akan memberitaumu lain waktu. Sekarang aku harus segera membawanya masuk, ummanya sudah sangat khawatir.”

Ujarku lalu melepas safetybelt Han Jie, lalu membopongnya masuk ke dalam rumah sementara Kevin Woo sudah masuk kembali ke mobil dan melajukan mobilnya menjauh dari rumah Han Jie.

~^^~

Aku membaringkan Han Jie di sebuah kamar setelah Ny. Kwon eh, Umma menunjukkannya. Setelah aku melepaskan sepatunya dan menyelimutinya, Umma mengatakan sesuatu padaku, “Aku sangat merindukanmu, Jun Ho-ya..”

Aku tercekat menatapnya.. kupikir umma sudah tidak peduli kepadaku.. Aku menatapnya dengan pandangan lebih lembut dan memeluknya, “Nado bogoshippoyo..umma..” ucapku dengan agak berat saat mengucapkan kata ‘umma’.

Beliau mengelus rambutku lembut saat kami sudah saling melepaskan pelukan kami. Beliau tersenyum lalu beralih menatap Han Jie, “Mianhe umma telah membuat kalian saling jatuh cinta..”

Hatiku seperti tertusuk ribuan pisau tajam saat mendengarnya, namun aku tidak bisa berkata apapun..

“Umma minta maaf kepada kalian berdua..” kudengar sedikit isakannya. Lalu kulihat umma menyeka sendiri air matanya, lalu menyungginggkan sebuah senyuman, “Terima kasih sudah menjaga Han Jie dengan baik saat di Seoul,” lalu beliau melangkahkan kaki keluar kamar.

Aku masih duduk anteng di pinggir tempat tidur dan menatap Han Jie yang tampak tertidur dengan tenang.. Tapi perlahan ia membuka matanya dan menatapku cukup lama dalam diam, begitu juga denganku.

“Apa hal yang paling kau sesalkan seumur hidup?” tanyanya kemudian.

“Hal paling di sesalkan? Kurasa tidak ada yang bisa kusesalkan dari hidupku.” Aku berusaha bicara dengan tenang dan menyungginggkan senyum seperti biasanya.

Tapi ia sedikitpun tidak tersenyum,“Kalau aku ada..”

“Oh ya? Apa itu?”

“Mendapat kenyataan bahwa orang yang kucintai adalah kakak kandungku sendiri.”

Aku tetap diam walau hatiku menceracau sedemikian rupa, ‘Kenapa kau mengatakannya Han Jie? Aku sudah bertahan untuk tidak mengingatnya sebagai hal yang patut kusesalkan.. Ini memang sangat berat. Kita baru memulainya dan sudah hancur begitu saja.

 Aku tidak tau kenapa kisah kita begitu rumit tapi selesai dengan mudah walau menyakitkan. Iya, ini sangat menyakitkan untukku dan mungkin juga untukmu, ini kenyataan yang lebih dari sekedar pahit untuk kumiliki, Han jie.. mencintaimu, seperti memiliki luka yang indah.’

Author POV.

~~~~~~~1 tahun berlalu~~~~~~

 Han Jie baru turun dari tangga dengan membawa tas kertas yang berukuran besar, dan satu tas kecil. Kemudian terdengar suara ketukan pintu, ia buka dan dihadapannya kini terdapat sosok Lee Jun Ho..

Dia memasang sebuah senyuman pahit dan Jun Ho mengejeknya dengan berkata, “YYA! Tersenyumlah dengan benar! Aku tidak suka melihat pengantinku tersenyum sedih seperti itu! Aku mau pengantinku tersenyum bahagia!”lalu ia membantu Han Jie membawa tas besarnya.

Han jie haya terdiam selama mobil Jun Ho melaju di jalan menuju sebuah tempat.

*Mobil Jun Ho saat ini -> Bugatti-Veyron-Grand-Sport-Vitesse*

Beberapa saat kemudian, Han jie  memandangi dirinya didepan cermin, duduk dan menggenggam sebuket bunga.

Tiba-tiba ada Jun Ho masuk dengan menggunakan setelan jas. Han Jie kembali tersenyum dan dengan lirih mengatakan, “Jun Ho… oppa,”

Jun Ho membalas senyumannya, lalu berdiri di belakang Han Jie. Ia menatap refleksi bayangannya dan Han Jie, “Neomu Yeppeo,” ujarnya.

Han Jie membuka mulutnya dan mengarakan, “Kalau begini..kita tampak sempurna.”

Jun Ho nyengir kecil, “Terlalu sempurna malah..” dia ngelus kepala han jie pelan agar tidak merusak tatanan rambut Han Jie.

“Segera siapkan dirimu, arra? Semua sudah ada di luar sana.” Jun ho mencium pipi Han jie agak lama. Lalu Jun Ho memasang senyum lebar dan tanda v saat Han Jie menoleh kaget ke arahnya.

Sebelum Jun Ho memutar gagang pintu, ia mendengar Han Jie mengatakan sesuatu, “Saranghae oppa.”

Juun Ho merasa ia barusaja terkena sengat listrik ribuan watt. Ia membalik badannya, yang dipandangi hanya menunduk dalam di kursinya. Genggamman Jun Ho di gagang pintu makin erat, selagi ia mengatakan, “Nado..saranghae.”

Hanya itu suara Jun Ho yang didengar Han Jie, selebihnya suara langkah sepatu Jun Ho dan pintu yang dibuka, lalu ditutup lagi.

*flashback ke malam sebelum pagi ini*

Han jie sedang duduk tegak di sisi tempat tidurnya, menggenggam secarik kertas. Hanya terpaku pada kertas itu, dan tidak berniat membuka bingkisan yang terbungkus rapid an menawan yang mengiringi datangnya kertas itu.

Kertas dan juga bingkisan tersebut dari Jun Ho.

Diatas kertas itu ada berbaris-baris kata, dimulai dengan 2 kata :

Haze girl

Awal bertemu denganmu, senyumanmu setipis kabut

Dihari-hari berikutnya pun sama

Tapi memandangnya saja sudah membuatku senang setengah mati

Bukan hanya senyumanmu

Makin lama aku sadar bahwa dirimu untukku adalah kabut

Kabut di pagi hari

Yang akan cepat pergi, yang tipis, yang tidak setiap pagi ada

Tuhan hanya mengijinkan aku memandangimu

Tuhan kadang memberiku kesempatan menyentuhmu

Tapi tidak untuk memilikimu.

Selamat berbahagia untuk pernikahanmu dengan Kevin ssi, nan dongsaeng, Lee Han Jie.

*flashback ke malam pertunangan Han Jie

Kevin menggenggam erat sebuah undangan pernikahan dengan namanya dan Han Jie tertera di dalamnya.

Ia barusaja menerima undangan itu setelah ia tiba di hotel tempatnya menginap, di sore hari sebelum acara pertunangan yang dijanjikan appanya digelar.

Kevin memang sangat sibuk sampai tidak sempat ke rumah Han Jie untuk bertemu Ny. Kwon untuk membicarakan masalah pertunangannya, alias membatalkannya. Ia juga tidak sempat menanyakan masalah apa yang sedang dialami Han Jie sore itu kepada Jun Ho ssi.

Kini mobilnya sudah terparkir di halaman rumah Ny. Kwon dan ia memasuki area pertunangan (?) namun sibuk mencari dimana Han Jie. Beberapa kali ia harus menampakkan senyuman diplomatisnya ketika ada kenalan ayahnya yang menyapanya.

*Senyuman Diplomasi ala Kevin ssi*

Akhirnya ia menemukan yeoja yang dicarinya yang tengah berbicara dengan 2 yeoja lainnya. Ia tampak tenang-tenang saja.

Kevin menghampirinya dan memberinya kode untuk bicara berdua. Sementara mereka berdua menjauh, salah satu dari 2 yeoja yang tadi mengobrol dengan Han Jie menyeletuk, “Aigo..apakah itu calon tunangan Han Jie? Tampan sekali.. kalau aku sih akan langsung minta dinikahkan dengannya, tidak perlu acara tunangan seperti ini..” dan yeoja lainnya mengangguk antusias.

“Apa maksudnya ini? Kau menyetujuinya?” Kevin mengacungkan undangan yang daritadi digenggamnya erat. Hampir diremas malah.

“Tidak, tau-tau umma sudah memberikan undangan itu padaku tadi pagi,” yeoja dihadapannya menatapnya tanpa ekspressi.

“Han Jie.. selama aku tidak bisa bertemu Ny. Kwon kupikir kau terus berusaha meyakinkan kepada ummamu bahwa kau mencintai Lee Jun Ho. Kenapa kau jadi patah semangat begini?” Kevin berusaha mencari alasan yeoja itu hanya diam seperti boneka kayu.

“Percuma Kevin-ah..aku tidak punya alasan yang kuat untuk mempertahankan hal itu.” Kini tatapan Han Jie berubah menjadi tatapan penuh luka dan menahan air mata.

“Apa maksudmu berkata seperti itu? Jun Ho menyakitimu? Jun Ho mencintai yeoja lain? Katakan padaku..” Kevin memegang kedua bahu yeoja di hadapannya.

Han Jie hanya terdiam sesaat lalu memeluk Kevin dengan erat, terdengar isakan kecilnya diantara kalimat, “Lee Jun Ho adalah oppa kandungku, Kevin-ah.. bagaimana bisa aku mempertahankan keinginanku untuk mencintainya?”

Isakan Han jie seakan menghipnotis Kevin sehingga ia turut merasakan kesakitan yang dirasakan yeoja itu. Perlahan ia mengeratkan pelukannya dan mengusap kepala yeoja itu untuk menenangkannya.

=> THE END <=

Kamsahamnida all.. makasih semua buat yang udah baca..

Maaf jika berantakan, maaf jika tidak memuaskan, maaf jika ribet, maaf untuk semua kesalahan yang terjadi.

Ada yang mau reader tanyakan, mangga…

Ada yang mau reader complain, mangga…

Ada yang mau reader kasih pujian, mangga…

Ada yang mau reader kasih cercaan, mangga…

Author terima dengan lapang hati, kok~

C’MON GUYS, BE A GOOD READER, PLEASE!!

*Last Pict*

40 thoughts on “Haze Girl {3 to 3}

  1. Huwaaa
    Sedih T.T
    Ternyata Junho sma Han Jie kakak-adik…..
    Kenyataan yg menyakitkan…

    Akhirnya sama Kevin yah ?
    Gapapa deh, Kevin juga cakep kok #hahaha

  2. Thorrr kok ga ada dialog yg author sama reader gitu di halaman utama ._.v

    sebener nya aku emg setuju nya han jie sama kevin , gak tau knp hehe .
    Pasti nyesek bgt jadi han jie dan jun ho -_- sabar yaaaa *pukpuk*

    masih bingung jg , itu kan akhir nya han jie sama kevin . Dia udah punya perasaan atau engga sama kevin ? Tadi aja han jie blg ‘saranghae’ ke jun ho . Sequel dong thor keke~

    • ehehe…author lagi deg-degan soalnya ini part terakhir.. makanya ngga sempat curcol sama reader >_< #eh

      kkk~ iya, pukpuk buat mereka berdua..
      Hm….. udah kok. Kan si Han Jie buktinya udah mau meluk si Kevin pas malem itu 😀 *maksa ya kayanya..*

      BTW, gomawo for comment 😉

  3. Ini happy ending, kan ? Si Han Jie jadinya sama Kevin. Tp entah kenapa kok aku lebih sreg Han Jie sama Junho , 😀
    tapi mw dibilang gimana lagi , itu udah takdir , takdir yg diciptakan author. Hehehe, piss .v.
    Tapi suka lah ,
    Kevin juga ganteng ,
    lama2 juga si Han Jie bakalan suka ,,
    kalo Junho gaa sama Han Jie , gimana kalo dengan saya ? *plakk~ #ditabok hottest 😀
    oke, thor ..
    Good job buat nih FF ,
    buat yg kayak gini lagi dong, thor ..
    Aku tunggu 🙂

    • iya, happy ending sekaligus sad ending 😀 tapi ntar si junho happy ending kok sama author >< *diculik Kwangmin*

      kkk~ Gomawo~

      yang kaya gini gimana?
      endingnya?
      alurnya?
      typenya?

  4. hahh udh the end?? huaaaah ko cepet btt?? sad ending?? kasian oppa junho sm hanjie… yg sbaar yaa..
    tp sm kevin jg gpp sih.. haduuh jadi galau saya ..wkwkwkw

  5. waaah sad ending han jie ga sama junho malah ternyata kakak beradik.. tp gppa sih sama kevin

    oh ya thor, mau komen aja penggunaan bahasa korea nya apa ga sebaiknya dibanyakin dikit? kayak ‘mama’ bisa diganti ‘eomma’

    terus kayaknya masih ada beberapa kata yang gak baku..

    • syukurlah..#loh

      itu soalnya kan si han jie kelamaan di Indo, jadi maksud author biar ada perbedaannya..

      itu kayanya karena ngga keedit. aku kan kadang bikin linenya dulu, pake bahasa ngga baku, trus baru di revisi, dan itu…kayanya ngga kena refisi TT *ah, saya sangat ceroboh memang..-_-*

      BTW, gomawooo atas semuanya 😀

  6. Kyaaa~ Hepi endang! si kevin akhirnya sama joolie,eh..sama Han Jie maksutnya#plakk
    coment apa ya? ffnya udah bagusss., ^^
    berharap qm mau bkin U kiss lg saeng*hikzhikz*
    ok, smpai jmpa d ff slnjutnya!

  7. hwaa….. aku pengen nangiss… awalny aku kira kevin woo yg di tolakk tp akhirnya malah jadian ma kevin woo…
    kyaa… galau tingkat tinggi … cemburu sama Han Jie yg bisa nikah ma kevin woo….
    tp bguss kok ceritanya (y)

  8. oke… huhuhu 3sambil usap airmata pake kain pel *?*
    author bisa gag buat FF yg ada U-Kissny ??
    genre apa aja…
    gamawoyo

  9. ceritanya kereeennn thor *cium author* :* #plakk

    yeesss … akhir cerita Junho ngga sama Hanjie *evil laugh*
    … Junho jadinya sama aku #plak *digrebek Empresses* 😀

  10. kenyataan yang sangat menyakitkan buat mereka berdua:( kasian junho dan han jie… bagus bangettt endingnyaa, keep writeing author:D hwaitinggg

  11. uaaa.. Kereeenn banget. Meskipun mereka tdk bersatu tetapi mereka tetap saling memiliki.. Tp memiliki seprti kakak adik..

  12. Thor koq akhirnya sad ending gk seru jadi pingin nangis , geregetan ngebacanya , pasti sakit hati buanget buanget buanget *jadi curcol* jadi han jie sma jun hoo bkin sequel nya dong thor , trus han jie tuh ska gk sih sama kevin ? Jun hoo oppa jadinya sma siapa dong thor ?

    • aduh kalo dibikin sequel takutnya jadi sinetron chingu… biarlah apa adanya… isi hati han jie pasti dia yang tau dong kkk~

      junho pasti sama…………………………author~ kkk~

  13. Huahhh ko end nyaa gitu doang ???
    Kenapaa nggaa sampe kevin sama hye jin nya nikahh??
    Gatau kenapa malah suka sama pasangan kevin hyejin 😀
    kasian junho.a 😀 *pukpuk

    • karena menurut author dengan ending ini sudah cukup jelas chingu.
      Inti ceritanya kan han jie yang jadi ‘haze girl’ untuk junho jadi ya….begitulah. Respect ne ^^ gomawo

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s