Never Let You Go (Part 1)

Author : Xan She

Main Cast :

  • JB aka Im Jaebum
  • Park Jiyeon ‘T-Ara’

Other Cast :

  • Jung Jinwoon ‘2AM’
  • Victoria Song ‘f(x)’
  • Ham Eunjung ‘T-Ara’

Genre : Romance, Life School

Length : Chapter

Rating : PG-13

Poster from photobucket.com (diedit sedikit)

Disclaimer : Terispirasi dari FF pertamaku ‘Love is Really Blind’ (Tapi kali ini mau buat main cast prianya yang jutek). Semoga banyak yang suka.. 😀

A/N : Mulai suka sama JJ couple sejak author Tirzsa gabungin mereka di FF ‘Fated to Love You’ (nyontek couple-nya yah, Thor) 😀 Sengaja milih mereka berdua di FF ini biar feel-nya lebih dapet *amin*

Buat yang udah request couple kemarin, masih aku tampung semua. Soalnya belum kepikiran jalan cerita yang seru. Tapi pasti aku pertimbangkan untuk next FF deh 😀 Mending baca yang ini dulu. Mudah-mudahan nggak ngecewain readers… 😀

Jiyeon’s POV

“Ya, mhohaneungoya?” Aku berteriak keras ke arah seorang pemuda yang membelakangiku. Tangan pria itu mencengkram keras bahu seorang bocah kecil laki-laki berseragam di depannya. Gayanya brutal. Baru lihat saja aku sudah tau dia itu bukan pria baik-baik.

Aku sempat takut saat sepasang sorot mata tajam dari pria itu menatapku ketika ia menoleh. Tapi sekuat tenaga kukumpulkan kembali semua keberanianku yang hampir runtuh. Aku tidak suka dengan caranya memperlakukan seorang anak kecil seperti itu.

“Cepat lepaskan dia.” Aku memberanikan diri membalas tatapan matanya setajam mungkin. Ia tidak boleh tau kalau sebenarnya aku sangat takut.

Tangan pria itu makin melemah bahkan ia menegakkan tubuhnya yang tadi sedikit menunduk mendekatkan wajahnya pada bocah kecil itu. Untung saja bocah kecil itu pintar, begitu pria brutal itu lengah, ia segera melepaskan diri dan melesat melarikan diri sejauh mungkin.

Aku harus cari cara untuk mencegah pria itu mengejar bocah tadi. Dengan reflex kutarik tangan kiri pria itu dan menggigit keras punggung tangannya.

AAARRGKH!!

Pria itu berteriak kesakitan. Sepertinya aku terlalu ekstra mengeluarkan semua kekuatanku. Biarlah, ini akibatnya bila mencoba menyakiti anak kecil. Pria itu berusaha melepas paksa gigitanku di tangannya. Dan itu mengakibatkan ia harus lebih menahan rasa sakit karena aku malah semakin rapat menggigitnya—baru akhirnya ia sedikit menarik paksa tangannya hingga benar-benar terbebas dari gigitanku.

Masih kulihat pria di depanku meringis kesakitan menggenggam punggung tangan kirinya yang memerah. Aku tidak berani memastikan apa itu hanya kulitnya yang memerah atau karena berdarah.

“Kau..” Ia menatapku penuh amarah setelah cukup lama mengerang menahan
rasa sakitnya.

Aku menutup rapat mataku ketika kulihat ia mengayunkan tangan kanannya berusaha memukulku. Aku merasa bodoh dengan sikapku ini. Berusaha menjadi pahlawan, tapi nyaliku sangat ciut.

Satu detik, dua detik, tiga detik.

Aku belum juga merasakan sesuatu membentur wajahku. Akhirnya kuberanikan diri untuk membuka mataku perlahan. Aku sedikit terkejut karena tidak menemukan siapapun setelah membuka mataku. Pria itu telah lenyap dari hadapanku. Bulu kudukku sempat merinding membayangkan bahwa orang itu bukan manusia. Tapi ketakutanku hilang saat aku menoleh melihat pria tadi sudah berlari cukup jauh ke arah perginya bocah tadi.

Kini aku hanya berharap bocah kecil tadi tidak tertangkap pria brutal itu. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk menolongnya. Paling tidak aku sudah memberikan sedikit jeda untuk bocah itu melarikan diri.

Aku berjalan mendekati sepedaku yang kubiarkan tergeletak di aspal jalan. Aku sangat panik melihat seorang pria yang ingin melukai seorang bocah tadi. Oleh karena itu aku segera turun dari sepedaku dan membiarkannya terhempas keras ke aspal.

“Haah~” Aku menghela nafas panjang. Mudah-mudahan sepedaku ini baik-baik saja. Aku pasti akan dimarahi oemma bila merusakkan sepeda keramat ini.

Sambil terus berdoa di dalam hati, aku mulai melajukan sepedaku pulang ke rumah. Ya Tuhan, semoga sepedaku ini baik-baik saja.

—<><>—

“Aku pulang.” Aku masuk ke dalam rumah setelah susah payah memarkirkan sepeda tuaku ke depan teras rumah.

“Kau sudah pulang?” Oemma melirikku sekilas ketika aku sudah memasuki ruang tamu. Ia lalu kembali melanjutkan kesibukannya menjahit pesanan pelanggan dengan mesin jahitnya yang usang.

Ne.” Aku hanya menjawab singkat dan berjalan malas melanjutkan langkahku menuju kamar.

“Cepat kau ganti seragam sekolahmu itu, lalu tolong antarkan pakaian ini pada bibi Lim.” Oemma menghentikan suara mesin jahitnya lalu melipat pakaian yang baru saja ia selesaikan.

Mho?” Aku baru saja akan menolak, tapi kuurungkan niatku. Siapa lagi yang bisa oemma andalkan untuk membantunya? Ia hanya punya aku di dunia ini. “Ne.” Setelah aku mengiyakannya, kulanjutkan langkahku menuju kamarku.

Jiyeon’s POV end

—<><>—

Author’s POV

Jaebum melangkah cepat menyusuri jalan. Bola matanya berputar cepat menjelajah ke segala arah. Raut cemas nampak jelas di wajahnya yang letih.

“Sebenarnya lari kemana dia?” Jaebum akhirnya menghentikan langkahnya. Ia kini berkonsentrasi mengatur irama nafasnya yang tidak teratur karena kelelahan.

—<><>—

“Ya, kenapa bisa begini?” Jiyeon tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menatap sedih sepedanya yang rusak di tengah perjalanannya pulang ke rumah—setelah mengantarkan pesanan jahitan kepada bibi Lim. Sepedanya hampir patah. Body sepeda tuanya itu bengkok karena sudah berkarat.

“Kalau begini, bagaimana caranya aku bisa pulang ke rumah?” Jiyeon mencoba memperbaiki sepedanya untuk kesekian kalinya, tapi lagi-lagi gagal. Ia sama sekali tidak mengerti cara memperbaiki benda di depannya itu. Suasana disekitarnya sepi, bahkan langit sudah hampir gelap karena langit sore akan segela berganti malam.

Akhirnya tidak ada lagi cara yang bisa ia lakukan selain mendorong paksa sepeda itu walaupun beberapa kali Jiyeon harus berhenti membenarkan posisi body sepedanya yang hampir patah sempurna. Jiyeon sudah benar-benar pasrah apa yang akan dikatakan oemmanya ketika melihat sepeda keramat ini rusak. Sepeda ini sangat berharga bagi Jiyeon juga oemma karena benda ini adalah benda kesayangan almarhum appa. Tapi sekarang benda itu telah benar-benar hancur.

Jiyeon sudah hampir sampai ke tempat tujuan. Ia menghentikan langkahnya begitu melihat seorang bocah kecil laki-laki yang sempat dilihatnya siang tadi. Bocah berseragam tamak kanak-kanak itu duduk di pinggir jalan sambil memeluk kedua lututnya. Badannya bergetar, sepertinya ia sangat kedinginan.

Kini Jiyeon mempercepat langkahnya menyusul bocah kecil itu. Setelah perlahan meletakkan sepedanya di atas aspal jalan, ia semakin mendekati bocah itu.

“Hei, apa yang kau lakukan disini?” Jiyeon menunduk dan menyentuh bahu bocah itu pelan. Sebisa mungkin ia tidak ingin membuat anak itu takut. Jiyeon berusaha tersenyum ramah begitu bocah itu menoleh ke arahnya.

“A-ku se-dang me-nung-gu kakak-ku.” Bocah itu masih memeluk erat lututnya. Kata-katanya terbata-bata. Wajahnya pucat. Ia benar-benar kedinginan.

“Aigoo~ kau kedinginan. Dimana kakakmu?” Jiyeon mengusap lembut pipi bocah itu. Ia berusaha menghangatkannya dengan telapak tangannya.

Bocah itu menggeleng pelan.

“Dimana rumahmu? Biar oenni antar kau pulang.” Jiyeon membantu bocah itu untuk berdiri. Sepertinya bocah itu sudah lebih baik. Wajahnya tidak terlihat terlalu pucat.

Jiyeon lalu menuntun bocah kecil itu sesuai petunjuk dari tangan kecil anak itu yang menunjuk jalanan lurus di depan mereka.

“Siapa namamu?” Jiyeon bertanya disela-sela perjalanan. Tangannya masih menuntun erat tangan kanan bocah itu.

“JaeSung, Im JaeSung.” Bocah bernama JaeSung itu berjalan sedikit cepat. Ia berusaha mengimbangi langkah Jiyeon dengan langkah-langkah kecilnya yang lucu.

“Hm.. Aku Jiyeon. Kau boleh memanggilku oenni.” Jiyeon tersenyum manis ke arah bocah itu. “JaeSung-ah, apa rumahmu masih jauh?”

“Disini.” JaeSung menghentikan langkahnya lalu menunjuk sebuah rumah persis di sampingnya. Jiyeon ikut berhenti. Matanya menoleh kearah yang ditunjuk JaeSung. Sepertinya ia mengenal daerah ini. Ketika ia menoleh kesekitar, ia yakin ini jalanan yang sama menuju rumahnya. Bahkan ia bisa melihat rumahnya yang hanya terpisah tiga rumah dari rumah yang ditunjuk JaeSung.

“Apa kau baru pindah kesini?” Jiyeon meragukan petunjuk bocah itu. Setaunya rumah yang berada tepat di depannya saat ini sudah lama kosong dan tidak terawat. Ukuran rumah itu juga tidak terlalu besar.

JaeSung mengangguk. “Aku dan kakakku baru pindah ke rumah ini seminggu yang lalu.”

“Oh, dimana orang tuamu? Apa mereka di dalam?” Jiyeon baru saja ingin berjalan mendekati pintu pagar rumah itu namun ekspresi JaeSung seketika menghentikan langkahnya selanjutnya. Sepertinya ia salah bicara. JaeSung tadi sama sekali tidak membahas tentang orang tuanya. Ia hanya mengatakan dirinya dan kakaknya yang pindah ke rumah ini.

“Maksudku, apa kakakmu ada di dalam?” Jiyeon membenarkan kalimatnya. Ia tidak ingin melihat ekspresi sedih di wajah lugu bocah itu. “Permisi~ Apa ada orang di dalam?” Jiyeon mulai memanggil orang yang mungkin berada di dalam rumah. Ia mencoba membuat bunyi dari benturan gembok dan besi pagar yang ia mainkan. Pagar itu tidak terkunci, seharusnya ada orang di dalam. Tapi sudah cukup lama Jiyeon berteriak, tidak ada sedikitpun tanda-tanda akan ada yang keluar dari dalam.

“Apa kau yakin kakakmu ada dirumah?” Jiyeon masih belum menoleh ke arah JaeSung. Matanya masih sibuk memastikan apakan ada seseorang yang akan keluar dari pintu rumah di depannya itu.

“KAKAK!!” Suara teriakan JaeSung terdengar nyaring—membuat Jiyeon menoleh seketika.

“JaeSung?” Seorang pria berdiri tegak beberapa meter dari tempat Jiyeon berdiri. JaeSung berlari dengan semangat ke arah pria itu, lalu memeluknya erat setelah pria itu sedikit menundukkan badannya untuk menyambut pelukan bocah itu.

“Kakak, mianhaeyo. Aku janji akan turuti semua permintaan kakak. Aku tidak akan berkelahi dengan temanku lagi.” JaeSung mulai menangis tersedu-sedu. Ia masih memeluk pria itu dengan sangat erat.

Author’s POV end

Jiyeon POV

Aku hanya bisa berdiri kaku menyaksikan pemandangan di depanku. Sulit dipercaya. Pria itu adalah pria brutal yang kutemui siang tadi. Dan bocah kecil itu adalah adiknya? Ya Tuhan apa aku salah menduga? Siang tadi sangat jelas terlihat pria itu ingin melukai JaeSung. Dan ternyata semua kecurigaanku itu salah besar. Pria itu hanya berusaha menegur adiknya yang berkelahi dengan temannya.

“Kau kemana saja? Kakak mencarimu kemana-mana. Baguslah bila kau mau berubah.” Pria itu menatap JaeSung dengan tatapan teduh lalu bangkit dan menuntun bocah itu mendekat ke arahku. Ralat, maksudku ke rumah mereka.

“Kau..?” Pria itu menatapku tajam begitu jarak kami semakin dekat. Sepertinya ia ingat kejadian siang tadi—saat aku berusaha menjadi pahlawan. Aish~ mau kutaruh dimana wajahku ini? Aku bingung harus bersikap bagaimana sekarang.

“Dia Jiyeon Oenni, kak. Oenni yang mengantarku pulang.” JaeSung membuka suara menjelaskan posisiku disini. Paling tidak aku sudah menjadi pahlawan bocah itu dengan mengantarnya pulang dengan selamat.

Pria berpenampilan brutal itu masih saja memandangiku dengan tatapan yang menyakitkan mata. “Kuperingatkan padamu jangan pernah ikut campur masalah orang lain bila kau sama sekali tidak tau apa-apa.” Pria itu akhirnya mengakhiri tatapannya di mataku setelah mengatakan kata-kata yang sukses membuatku merasa bersalah. Ia menuntun JaeSung memasuki pagar rumahnya.

Cih, melihat tingkahnya seperti itu membuatku muak. Untung saja permintaan maaf atas tindakanku siang tadi belum kulontarkan. Aku akan sangat menyesal bila mengatakannya.

“Ya, jangan bersikap seolah kau yang paling dirugikan. Gara-gara kau, sepedaku jadi rusak.” Aku tidak tahan untuk tidak mengatakan ini. Aku bahkan belum tau sedahsyat apa reaksi oemma bila mengetahui hal ini.

“Aku tidak menyuruhmu mencampuri urusanku.”

Setelah kata-kata itu, aku mendengar hempasan keras pintu yang dibanting dari dalam.
Aku hanya dapat memandang tak percaya dengan sikap dingin pria itu. Benar-benar tidak sopan.

Akhirnya dengan perasaan kesal, kulangkahkan kakiku menuju tempat sepedaku tergeletak. Mental yang sengaja kusiapkan untuk menghadapi omelan oemma, mendadak menghilang entah kemana. Sial!

Jiyeon’s POV end

—<><>—

Author’s POV

Jiyeon terduduk lemas di kursi kelasnya. Bel istirahat yang baru saja melengking sama sekali tidak merubah mood buruknya sedikitpun. Omelan oemma sepanjang malam ternyata berpengaruh seluar biasa ini.

“Jiyeon-ah. Apa kau tidak mau ke kantin?” Teman sebangkunya—Eunjung melirik ke arah Jiyeon yang terlihat tidak bersemangat.

Good afternoon class. Mohon perhatiannya sebentar.” Mrs. Catty, selaku wali kelas XI-B tiba-tiba saja masuk ke ruang kelas bersama seorang pemuda. Siswa siswi yang baru saja berniat keluar kelas untuk beristirahat siang itu segera mengurungkan niatnya. Mereka duduk rapi di tempatnya semula.

“Hari ini kita kedatangan penghuni baru kelas ini. Semoga kalian dapat berteman dengannya.” Mrs. Catty berdiri tepat di depan kelas. Seorang pemuda di sebelahnya bergaya cuek. Sama sekali tidak terlihat senyuman di wajahnya. Pergelangan tangan kiri pria itu terbungkus perban yang cukup tebal.

Suasana kelas tiba-tiba saja riuh. Jelas terdengar ekspresi kekaguman para siswi perempuan di kelas ini. Murni hanya siswi perempuan, sedangkan siswa laki-laki hanya memandang datar calon penghuni baru itu. Bahkan ada diantara mereka yang menatap dengan tatapan iri.

“Nah sekarang silahkan perkenalkan dirimu.”

Jiyeon sangat terkejut melihat seorang pemuda yang tengah berdiri di depan kelas. Matanya terbuka lebar berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia sedang tidak salah melihat. Pria itu adalah pria brutal yang ia temui kemarin siang. Dia adalah kakak dari JaeSung.

Glek! Jiyeon menelan ludah susah payah untuk sekedar membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba saja mengering. Apa dunia sesempit ini? Pikirnya. Karena bertemu pria itu kemarin, sepedanya rusak dan ia harus rela menahan omelan dari oemmanya sepanjang malam. Dan sekarang ternyata pria itu akan menjadi teman sekelasnya. Sepertinya hari-hariku ke depan akan semakin sial, batinnya dalam hati.

Annyong. Naneun Im Jaebum imnida. Senang berkenalan dengan kalian.” Kalimat terakhir Jaebum sama sekali tidak tergambar di ekspresi wajahnya yang datar. Malah ia sama sekali tidak terlihat senang akan bergabung di kelas tempatnya berdiri saat ini.

Jiyeon menatap angker pemuda itu. Sifat angkuh pria itu sama sekali tidak berkurang sedikitpun dari pertemuan mereka kemarin. Jaebum memindai tatapannya ke setiap sudut ruang kelas dengan malas. Ia sangat tidak suka dengan yang namanya ‘adaptasi’.

Kegaduhan kelas kembali tercipta. Suara histeris siswi lebih mendominasi dan ini tentu membuat Jiyeon semakin jijik manatap Jeabum. Apa sebenarnya yang mereka lihat dari sosok pria brutal sepertinya? Jiyeon tidak mengerti sama sekali selera seluruh siswi teman sekelasnya itu. Bahkan ia menyaksikan pemandangan yang sama ketika menoleh ke arah Eunjung yang duduk manis di sampingnya. Mata temannya itu hampir tidak pernah lepas dari sosok Jaebum. Sorot kekaguman jelas terpancar dari matanya. Jiyeon jadi merinding melihat pemandangan itu.

“Baiklah sekarang kau boleh duduk. Carilah bangku yang tidak berpenghuni.” Mrs. Catty mempersilahkan Jaebum untuk memilih tempat duduk sesukanya.

Jaebum berjalan lurus ke bagian belakang kelas. Bangku di bagian depan sudah terisi penuh. Kebetulan, Jaebum memang suka bila harus duduk di bagian belakang kelas.

Mata Jiyeon mengikuti pergerakan Jaebum yang semakin mendekat ke arahnya. Jaebum melirik ke arah Jiyeon yang memasang ekspresi berbeda dari siswi yang lain. Pandangan mereka bertemu untuk beberapa saat baru Jaebum terpaksa mengakhiri tatapannya karena ia telah melewati tempat Jiyeon duduk. Ia masih terus berjalan hingga akhirnya menghempaskan tasnya ke atas meja yang ada di pojokan kelas lalu duduk di bangku yang ada di belakang meja itu.

“Ok, kalian bisa melanjutkan istirahat kalian.” Mrs. Catty akhirnya meninggalkan ruang kelas. Bersamaan dengan itu siswi-siswi kelas itu segera beranjak dari tempat duduk mereka. Niat awal mereka yang ingin beristirahat keluar kelas mendadak berubah kompak. Mereka menyusul Jaebum—penghuni baru kalas ini untuk mengajaknya berkanalan.

Author’s POV end

Jiyeon’s POV

Cih, apa para wanita itu buta? Apa yang mereka suka dari pria brutal itu? Tampangnya sama sekali tidak menarik. Semakin lama menatapnya malah membuat mataku sakit. Aku tidak henti-hentinya menatap heran tingkah siswi-siswi genit itu yang terus saja mengerubuni Jaebum yang sepertinya tidak bereaksi apapun.

“Jiyeon-ah, ayo kita ikut berkanalan dengan pria itu.” Eunjung menarik tanganku untuk bangkit berdiri menyusul kerumunan siswi genit itu dengan semangat.

Ani. Aku tidak mau.” Aku berusaha melepaskan tarikan tangan Eunjung dari tanganku. Jangan harap aku mau berkenalan dengan pria yang membuatku ketiban sial.

Waeyo? Bukankah biasanya kau yang paling bersemangat mengajak pria tampan berkenalan?” Eunjung sedikit bingung dengan reaksiku.

Tunggu dulu. Tadi apa yang Eunjung katakan? Pria tampan? Aku bahkan benar-benar mual mendengarnya. Ia benar-benar sedang sakit. Ok, kata-kata Eunjung yang mengatakan akulah yang paling bersemangat mengajak pria tampan berkenalan memang benar. Tapi pernyataannya yang mengatakan bahwa Jaebum itu tampan sepertinya salah besar.

“Eunjung-ah, apa kau sedang sakit? apa yang menarik dari pria angkuh itu?” Aku menatap Eunjung heran.

“Jiyeon-ah, sepertinya kau yang sedang sakit. Apa kau tidak melihat pria itu sangat tampan?” Eunjung membalikkan kata-kataku. “Kalau kau tidak mau, biar aku saja sendiri.” Dengan segera Eunjung berbalik dan berlari kecil menuju pojokan kelas—tempat Jaebum duduk masih ditemani dengan sekumpulan siswi yang tertawa-tawa tidak jelas.

“Eunjung-ah. Bukannya kau tadi mengajakku ke kantin?”

Eunjung tidak menoleh mendengar teriakanku. Ia malah ikut-ikutan tertawa aneh bersama siswi lainnya. Aish~

—<><>—

To be continued…

Note: Nggak janji bisa posting cepat untuk next part. Kalau tanggapan readers banyak, mungkin bisa saya pertimbangkan untuk update soon… 😀 Please, share your comments!!

Mohon maaf, cerita pada part-part selanjutnya telah dihapus. Kalian bisa download dan membaca cerita lengkapnya dalam versi novel di Google Play Store dengan cara klik link berikut:

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bukuoryzaee.neverletyougo

140 thoughts on “Never Let You Go (Part 1)

  1. aigooo pria brutal -jaebum- ternyata kaka si bocah -jaesung- hahaha
    dasar2 jiyeon kepo sih hehehe peaceeeee
    lanjut dehhh

  2. yeaaaaaayyyy !!! ada lagi ff JJ Couple !!!!
    aku suka banget sama nih Couple,tapi susah banget nyari ff nyaaa~~

    seneng deh ma ceritanyaaa….
    lanjut yaa thooorrrr !!!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s