Triangle Love Part 2

Author : AltRiseSilver

Previous Chapter : Prolog | Part 1

annyeong saya kembali membawa chapter FF ini. Jangan lupa tinggalkan comment setelah baca FF ini supaya saya semangat lanjutinnya~~ gomawo *bow*

“Berjongkoklah,” pinta Herse kepada Ouranus membuatnya mengernyitkan keningnya tak mengerti. “Ayo cepat,” paksa Herse tidak sabar karena Ouranus tak kunjung menuruti perintahnya. “Kau mau apa?” suara penasaran Triton membuat kepala Herse menoleh kearahnya dan tersenyum.

“Aku ingin digendong,” ucapnya manja kepada Triton sebelum naik ke punggung Ouranus. Triton menghela nafasnya cemburu. “Jangan cemburu ya, Triton,” ucap Herse sambil mengerlingkan matanya kepada Triton.

-ooOOoo-

Taerin menyipitkan matanya perlahan, cahaya matahari yang masuk melalui celah jendelanya membuatnya kesusahan membuka matanya. “Uhm,” Taerin bergumam tak karuan sambil mencari jam wekernya dimeja samping tempat tidurnya.

Ia mengerjapkan matanya menyesuaikan sinar yang ada diruangan itu sebelum melihat jam yang berhasil diraihnya. “OMONA!” pekiknya setelah melihat jarum jam diangka 10, rasa kantuk yang tadi menghinggapinya lenyap segera. Ia bangkit dari posisinya lalu masuk kedalam kamar mandi.

Pagi ini sebenarnya ia berencana ingin mengunjungi perpustakaan untuk mencari sebuah buku namun rencananya gagal karena wekernya tidak berfungsi dengan baik. Taerin menyelesaikan mandinya dengan cepat lalu segera memakai pakaian dan keluar dari hanok.

Ia melirik jam tangannya lalu berteriak didalam hati karena bis yang akan mengantarnya ke perpustakaan akan datang ke halte 5 menit lagi tapi jarak dari hanok menuju halte sekitar 20 menit. Taerin mempercepat langkahnya sambil terus melirik jam tangannya.

“Taerin-ya,” tiba-tiba suara Kibum terdengar dari belakangnya namun gadis itu tidak menghiraukannya, saat ini tidak ada waktu untuk berbincang-bincang dengan Kibum.

“Taerin-ya,” suara Kibum terdengar lagi, kali ini lebih dekat. Taerin menoleh dan mendapatkan Kibum sedang mengendarai sepeda kearahnya. “Mau kemana?” tanyanya saat mereka sudah berdampingan. Taerin melirik jam tangannya lagi. “Kau bisa mengantarkanku ke halte bis? Aku ingin pergi ke perpustakaan,” pinta Taerin.

Kibum menghentikan sepedanya lalu mengisyaratkan Taerin untuk naik. Gadis itu menurut, setelah duduk dibelakang ia memeluk pinggang Kibum kuat.

“Huaaahhhh!” teriaknya saat merasakan hembusan angin yang kuat akibat kayuhan sepeda Kibum yang kuat. “Kibum-a, pelankan sedikit,” pinta Taerin saat mereka akan menuruni jalan. Kibum berusaha menghentikan laju sepedanya namun belum sempat ia mengerem, sebuah batu besar membuat mereka kehilangan keseimbangan lalu jatuh berguling kebawah.

GUBRAK!

Kepala Taerin sempat terbentur dengan keras menciptakan sebuah luka memar di pelipis kanannya dan tidak sadarkan diri.

Kibum yang baik-baik saja bangkit dari tempatnya lalu menghampiri tubuh Taerin yang tidak bergerak dan mencoba menyadarkan gadis itu.

Kibum mulai dilanda panik, berulang kali ia mengguncangkan tubuh Taerin namun gadis itu tidak juga membuka matanya. Ia menggendong tubuh Taerin lalu pergi dari tempat itu.

-ooOOoo-

Taerin beberapa kali mendengar suara kepanikan Kibum dan merasakan guncangan ditubuhnya namun matanya sangat sulit untuk dibuka. Detik kemudian ia merasakan badannya terangkat dan tersapu angin.

Susah payah ia membuka matanya hanya sekedar untuk melihat apa yang dilakukan Kibum untuknya. Matanya menyipit dan mulai melihat langit. Bola matanya membesar lagi dan mendapati wajah Kibum yang panik.

“Kibum,” gumam Taerin membuat Kibum menunduk lalu tersenyum padanya.

“Sebentar lagi sampai,” ucapnya lembut yang hanya dibalas oleh anggukan Taerin namun tanpa sengaja gadis itu melihat sesuatu yang tidak pernah dimiliki manusia biasa. Ia ingin bertanya namun pusing dikepalanya membuatnya memejamkan matanya lagi.

-ooOOoo-

“Apa yang terjadi padanya?” tanya Zhoumi yang sudah berada di hanok saat Kibum membawa Taerin pulang dalam keadaan pingsan dan luka di pelipis kanannya. “Jatuh saat bersepeda bersamaku,” ucap Kibum sambil melangkah masuk ke dalam hanok dan membaringkannya keatas tempat tidur gadis itu.

“Apa kau bilang?” tanya Zhoumi lagi penuh dengan emosi lalu menyeret Kibum keluar hanok. “Kau tidak bisa menjaganya? Hah?!” bentak Zhoumi dengan kesal sambil mencengkram leher Kibum penuh dengan emosi.

“Zhoumi!”

Suara Taerin terdengar dari dalam kamarnya membuat Zhoumi melepas leher Kibum dan beranjak masuk.

“Zhoumi, sayapmu,” suara Kibum dibelakang Zhoumi mengingatkannya akan satu hal yang tidak boleh dilihat Taerin. Setelah sayapnya tersembunyi ia menggerakkan knop pintu dan membukanya. Ditemukannya Taerin tengah kesusahan untuk duduk bersandar.

Zhoumi buru-buru menghampiri dan membantu Taerin. “Kenapa memaksakan diri?” tanya Zhoumi cemas.

Gadis itu hanya tersenyum lalu dilihatnya Kibum yang tengah berdiri diambang pintu sambil menatapnya datar. “Kau baik-baik saja?” tanyanya penuh perhatian membuat Zhoumi akhirnya menatap Kibum juga.

Pria itu hanya mengangguk dan memberikan senyum sekilas. “Aku pulang dulu, Zhoumi-a kau rawat Taerin dulu ya,” ucap Kibum kemudian melangkah keluar. Taerin ingin mencegahnya namun suara Zhoumi membungkamnya.

“Luka dipelipismu sepertinya parah, aku akan mengambilkan obat merah dan kompresannya,” ucap Zhoumi sebelum ia beranjak dan meninggalkan Taerin untuk mencari kotak obat.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya memikirkan sikap Kibum yang tiba-tiba saja menjadi dingin tidak seperti biasanya. Tak lama Zhoumi masuk kembali kedalam kamarnya sambil menenteng kotak obat dan sebaskom air kompresan.

“Temani aku ya,” pinta Taerin disela-sela kegiatan Zhoumi mengobatinya. Pria itu hanya mengangguk tanpa menghentikan kegiatannya.

-ooOOoo-

“Zhoumi, kau menangkap ada yang aneh pada Kibum tadi?” tanya Taerin saat keduanya duduk diteras hanok sambil menikmati teh hangat dan beberapa kue. Zhoumi menautkan alisnya lalu menggeleng pelan membuat Taerin mendesah putus asa.

“Apanya yang aneh?” tanya Zhoumi akhirnya setelah melihat ekspresi wajah Taerin sambil mengunyah kuenya namun, gadis itu hanya mengangkat kedua bahunya menandakan ketidaktahuannya juga.

“Apa kau benar-benar tidak mengenalnya sebelum bertemu disini Zhoumi-a?” tanya Taerin penasaran. Zhoumi terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Taerin yang tidak diduganya. Ia menepuk-nepuk dadanya dan meminum tehnya.

“Tentu saja tidak,” jawabnya kemudian masih sambil menepuk-nepuk dadanya. “Lalu, apakah aku pernah bertemu dengan Kibum sebelumnya?” tanya gadis itu lagi. Berbagai pertanyaan yang selama ini dikepalanya dikeluarkannya.

Zhoumi berdehem. “Sepertinya tidak, kenapa?” jawab Zhoumi cepat.

Taerin memalingkan wajahnya menatap langit. “Entahlah, aku merasa seperti ada yang berbeda dalam dirinya. Sama seperti saat pertama kali aku bertemu denganmu dulu, aku merasa ada sesuatu yang berbeda diantara kalian namun sama-sama membuatku nyaman,” jawabnya. Baru saja Zhoumi akan menimpali tiba-tiba angin berhembus pelan membuatnya menoleh kearah datangnya angin.

-ooOOoo-

Kibum memejamkan matanya saat mendengar tuturan Taerin kepada Zhoumi. Ia menghembuskan angin agar Zhoumi menoleh kearahnya sebelum pria itu menimpali ucapan Taerin.

Ia membuka matanya. Mereka saling bertatapan, bertukar ucapan melalui pandangan mata. Sedetik kemudian Zhoumi memalingkan wajahnya menatap Taerin yang masih memandangi langit.

“Sepertinya aku harus pulang Taerin-a,” ucap Zhoumi.

“Pulanglah, maaf kalau aku merepotkanmu,” timpal Taerin sambil menatap Zhoumi dan tersenyum manis membuat pria itu mengelus kepalanya pelan sebelum berjalan meninggalkan hanok Taerin.

“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Zhoumi saat sampai di tempat Kibum tanpa berbasa-basi. “Aku tidak ingin bertengkar lagi denganmu,” jawab Kibum cepat tanpa merubah raut wajahnya yang datar seperti biasanya.

“Maksudmu?” tanya Zhoumi tak mengerti. Kibum melihat hanok Taerin dari tempatnya lalu memandang Zhoumi lagi. “Hentikan perebutan kita mulai saat ini dan mulailah untuk menjaga Taerin.”

“Aku tidak ingin kejadian masa lalu terulang kembali,” lanjut Kibum yang tidak mendapatkan respon dari Zhoumi sedikitpun. Ia masih memandangi Kibum penuh keraguan dan Kibum memandangi Zhoumi penuh dengan harapan agar permintaannya dikabulkan.

“Baiklah, ini demi kebaikannya,” ucap Zhoumi akhirnya membuat Kibum menyunggingkan senyumnya. Angin semilir menghembuskan keegoisan keduanya sore itu.

-ooOOoo-

Taerin menatap sebal kedua pria dihadapannya yang sedang bercanda dan saling melempar teka-teki aneh, ia merasa terasingi oleh keduanya walau disisi lain ia merasa senang melihat keakraban diantara mereka.

“Kalian tahu, aku seperti sedang melihat sepasang kekasih sedang bercanda,” ucap Taerin ditengah candaan mereka sambil memajukan bibirnya kedepan. Kibum dan Zhoumi menghentikan tawanya kemudian saling bertatapan lalu tertawa lagi membuat Taerin membuka mulutnya tak percaya.

Aigoo, uri Taerin sedang cemburu Kibum-a,” ledek Zhoumi sambil mencubit gemas pipi Taerin sedangkan Kibum hanya tertawa melihat ekspresi Taerin yang sedang digoda Zhoumi. “Dasar menyebalkan,” umpat Taerin masih sambil memajukan bibirnya yang mau tak mau tawa keduanya semakin keras bergema di hanoknya.

Tanpa mereka sadari Taerin ikut tersenyum menatap keduanya, walau aneh tapi Taerin lagi-lagi seperti merasa pernah berada diposisi yang sama seperti ini.

“Kibum, Zhoumi, besok aku ingin pergi ke pasar malam. Kalian temani aku ya?” pinta Taerin pada keduanya.  “Baiklah,” jawab Zhoumi cepat namun Kibum hanya menjawab dengan gelengan kepala membuat Taerin memandangnya dengan tatapan memelas.

“Ayolah,” bujuk Taerin yang akhirnya membuat Kibum menyerah dan menyanggupi permintaan gadis itu. “Akhirnya!!”

-ooOOoo-

Angin malam berhembus semilir menyibakkan pelan rambut Taerin. Gadis itu lalu mendekap tubuhnya dengan jaket yang ia gunakan sambil sesekali melirik kedua namja yang berjalan beriringan bersamanya tanpa menghiraukan rasa dingin yang menusuk kulit.

“Huaahh!! Apa kalian tidak kedinginan?” tanya Taerin dengan nada keheranan. Keduanya tidak menjawab dan hanya saling berpandangan lalu menggeleng. “Aku kedinginan,” kata Taerin tanpa ditanya lalu kembali merapatkan jaketnya.

Tiba-tiba sebuah rangkulan mendarat manis di pundaknya. Taerin menoleh lalu tersenyum kepada Zhoumi sebagai ungkapan terimakasihnya.

Langkah mereka hampir beberapa meter lagi dari pasar malam namun hingar-bingar di tempat itu sudah terdengar jelas membuat Taerin bersemangat dan melupakan rasa dinginnya. Ia kemudian berlari masuk kedalam pasar malam meninggalkan Kibum dan Zhoumi yang memandangnya gemas.

“Kalian berdua kemari!” Taerin melambaikan tangannya memanggil kedua pria itu mendekat kepadanya yang sedang berdiri di depan sebuah tenda besar. Zhoumi berjalan terlebih dahulu meninggalkan Kibum dibelakang. “Temani aku masuk kedalam sini ya,” rengek Taerin kepada Zhoumi dan Kibum.

Mereka berdua menatap papan di depan tenda itu lalu menggeleng kuat. “Kalau kau mau diramal, masuk saja sendiri. Kami akan menunggu di luar saja,” tolak Zhoumi cepat membuat Taerin mau tidak mau membujuk Kibum.

Respon Kibum sama, walau tanpa kata-kata Taerin tahu kalau pria itu juga tidak mau menemanimanya masuk. Akhirnya dengan langkah gontai gadis itu memasuki tenda dengan interior khas peramal yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Dilihatnya seorang wanita yang sedang duduk memandangi batu kristak bercahaya di hadapannya. “Takdirmu bukan dibumi,” ucap peramal itu saat Taerin baru saja duduk di bangku. Ia terlonjak kaget mendengar ucapan si peramal itu.

Dengan cepat peramal tersebut menatap Taerin dengan pandangan yang tidak biasa. “Kau juga ditakdirkan memiliki dua pria walau kau mencintai keduanya. Hatimu hanya bertumpu pada satu orang pria sedangkan,” si peramal menggantungkan kalimatnya membuat Taerin menahan nafasnya sekejap.

“Yang satu lagi. Dia akan pergi dengan cara yang tak kau duga sebelumnya,” lanjut peramal itu lalu menatap bola kristalnya lagi. Menghiraukan Taerin yang sibuk mencerna semua ucapan wanita itu.

Zhoumi menatap Kibum di hadapannya yang terlihat tenang-tenang saja sedangkan dirinya tengah mengontrol dirinya selama mendengar ramalan Taerin tadi. Batinnya berteriak ingin bertanya pada Kibum soal ramalan Taerin tadi, ia yakin pria itu mengetahui semuanya.

Taerin menyibakkan pintu tenda dengan lesu dan menghampiri kedua pria yang setia menunggunya. Pikirannya masih dipenuhi perkataan peramal tadi. “Ingin pulang sekarang?” suara Kibum membuyarkan lamunan Taerin. Zhoumi menatap Kibum langsung dengan tatapan sinis.

“Zhoumi kita pulang ya?” Taerin menatap Zhoumi lalu menggenggam tangan besar pria itu membuat jantungnya berdetak kencang.

Hening. Hanya semilir angin yang mengantar mereka kembali ke hanok Taerin. Semuanya terdiam, tak ada niat untuk membuka pembicaraan satu sama lain.

Taerin masih menggenggam tangan Zhoumi saat ia meraih tangan Kibum dan menggenggamnya erat. Kibum dan Taerin saling tersenyum namun Zhoumi hanya menatap pemandangan itu dengan sinis. Api cemburunya meletup di hatinya.

13 thoughts on “Triangle Love Part 2

  1. uwoooh~~ daebak thor.. 😀
    oh iya aku mau tanya.. *nanya mulu Na!!* -_-
    hanok th apa ya? hehe..
    aku tnggu next partnya yah.. jangan lama2.. ^^

  2. ini pertanyaan super polos.. OC tu singkatan dari apa ya??
    hehe tapi daebak authornya.. benar” cerita yang fantasy plus romantis
    aku gemes deh ngrasain cemburunya zhoumi kekeke~
    siapakah yg akan taerin pilihh?? 😀 ke dua duanya adl bias ku.. :*

Leave a Reply to Aida Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s