Scandal Maker (Part 2)

Author: Tirzsa

Title: Scandal Maker

Main cast:

  • 2PM’s Junho
  • Kim So Eun

Length: Chapter

Genre: Romance

Rating: PG-15

Disclaimer: My plot for sure.

Poster goes to: Altrisesilver

Previous part: [Part 1]

-oOo-

Minho menarik tangan Krystal dengan kasar agar keluar dari ruang latihan. Gadis lemah itu berusaha memberontak dan melepaskan cengkeraman tangan Minho pada lengannya, tapi sayangnya, Minho jauh lebih kuat daripadanya.

“Lepaskan aku, Choi Minho!” teriak Krystal kesal sembari menghentakkan tangannya hingga akhirnya cengkeraman tangan Minho mengendur lalu lepas.

“Baiklah, katakan padaku sekarang, Krystal,” kata Minho dengan napas tersengal. Wajahnya basah dipenuhi oleh peluh dan kerut-merut karena amarah. “Ada hubungan apa kau dengan Junho?”

Gadis itu memandang pemuda dihadapannya dengan tak percaya. “Jangan bilang padaku bahwa kau juga percaya pada skandal sinting itu?”

Minho mengangguk. “Ne, aku percaya,” katanya dengan nada lantang. “Jadi, jelaskan padaku sekarang juga.”

“Oh, demi Tuhan, Minho! Sudah berapa kali aku mengatakan bahwa aku tak punya hubungan apapun dengan Junho oppa.”

“Buat aku percaya.”

Melihat sifat keras kepala Minho, Krystal menyerah. Ia mendesah dan memasang raut curiga. “Chakkaman. Mengapa aku harus menjelaskannya padamu? Kau bahkan tak punya hak apapun untuk mengetahui apapun tentang kehidupan pribadiku.”

“Ani. Aku berhak, karena aku mencintaimu.”

Krystal terperangah saat mendengar pengakuan Minho barusan. Setahunya, Minho memang sangat perhatian padanya, bahkan sejak ia masih trainee. Keduanya sangat dekat. Tapi Krystal mengartikan itu semua sebagai hubungan oppa dan dongsaeng. Tak lebih.

“Ini konyol!” ujar Krystal lalu hendak kembali ke ruang latihan bersama member f(x) yang lain. Tapi tangannya telah terlebih dahulu dicegat oleh Minho.

“Apakah sulit untukmu untuk menaruh perhatian padaku? Aku mengenalmu lebih dahulu daripada Junho bahkan saat kita masih trainee. Tapi, mengapa kau lebih memilihnya?” tanya Minho dengan nada putus asa.

Krystal menoleh ke belakang dan mengamati wajah Minho dalam diam. Perlahan, ia melepaskan tangannya dari cengkeraman Minho lalu menghela napas.

“Dengan Choi Minho,” kata Krystal. “Aku tak pernah bilang bahwa aku menyukai Junho oppa ataupun dirimu. Jika disuruh memilih pun, aku tidak akan memilih. Kalian berdua hanya oppa untukku. Tidak akan lebih dari itu. Tapi, jangan sampai kau merubah statusmu sendiri menjadi ‘musuh’ untukku karena sikap kekanak-kanakkanmu itu. Arasso?”

Setelah mengucapkan hal itu, Krystal kembali masuk ke ruang latihan meninggalkan Minho seorang diri di koridor kantor dengan perasaan yang tak tentu. Mata Minho bahkan tak berkedip sekalipun menatap gadis yang ia cintai itu sampai hilang dibalik pintu ruang latihan.

Setan apapun yang telah merasuk dan merubah sikapmu itu, pastilah ada hubungannya dengan Junho, Krystal. Jangan pikir kalian berdua bisa lepas dari pengawasanku. Dan tunggu saja sampai suatu saat nanti aku akan membuat perhitungan dengan Junho, batin Minho.

-oOo-

“2PM tak pantas disandingkan dengan f(x)!”

“Ya, Pantat Besar, jauhi Krystal atau aku akan mengempeskan pantatmu!”

“Junho dan Krystal bagaikan bumi dan langit. Mereka tidak cocok!”

Jinyoung menarik kerai ruang kerjanya lalu duduk di kursi kerjanya sambil mengurut pelipisnya. Pria itu terlihat lelah dan tak sanggup melihat pemandangan mengerikan yang ada diluar. Antis adalah salah satu hal yang membuatnya alergi. Jinyoung ingat, ia butuh rehabilitasi selama beberapa minggu dengan seorang psikiater saat menghadapi kasus Jaebum beberapa tahun silam. Dan sekarang, hal yang ingin dihindarinya kembali hadir.

Junho, Taecyeon, dan Minjae saling bertukar pandang. Mereka—terutama Junho—merasa tak enak hati sekaligus bersalah karena melihat Jinyoung yang mengalami depresi untuk kesekian kalinya. Setelah mengalami pergulatan batin yang cukup lama, Junho memberanikan diri untuk maju dan berbicara pada Jinyoung.

“Hyung, aku…”

“Diamlah. Diam.” Tanpa membuka matanya dan terus mengurut pelipisnya, Jinyoung mengangkat tangannya dan menyuruh Junho untuk kembali berdiri bersama dua orang pemuda lainnya dibelakangnya.

Masih dengan perasaan bersalah, Junho hanya bisa menurut lalu berdiri sejajar dengan Taecyeon dan Minjae. Pemuda itu menyikut Taecyeon—yang menjadi biang masalah ini—untuk meminta pertanggung jawaban.

“Katakan sesuatu pada Jinyoung hyung,” bisik Junho.

“Aku harus mengatakan apa?” Taecyeon balas berbisik.

“Idemu soal masalah ini. Jalan keluarnya. Ingat?”

Taecyeon menggeleng. “Mollayo.”

“Aish~” Junho menundukkan kepalanya dan ikut mengurut pelipisnya. Taecyeon memang tidak pernah bisa diharap dan juga diandalkan.

Brak!

Ketiganya terlonjak saat mendengar suara gebrakan meja yang cukup keras. Jinyoung melabrak meja dan dengan tenang mengamati ketiga wajah pemuda dihadapannya itu.

“Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyanya. Masih dengan lagak tenang. Seolah teriakan-teriakan kemarahan diluar gedung sana tidak terdengar sama sekali.

Ketiga pemuda itu saling bertukar pandang, saling menyikut satu sama lain untuk meminta solusi. Dan, brak! Jinyoung kembali melabrak meja dengan kasar sehingga membuat ketiga pemuda itu terlonjak lagi dan segera fokus.

“Kami tidak tahu, hyung,” kata Minjae yang akhirnya membuka mulut.

“Tidak tahu soal apa?”

“Ide untuk mengeluarkan Junho dari masalah ini.”

Jinyoung menarik napas dalam dan menghembuskannya lewat mulut. “Baiklah,” katanya setelah itu, “Jadi, bagaimana cara kita menyelesaikan masalah ini?”

“Aku pikir kita harus melakukan sesuatu untuk mengalihkan issue ini,” kata Taecyeon menimpali secara tiba-tiba.

CEO mereka itu mengernyitkan kening. “Maksudnya?”

“Seperti yang dilakukan Krystal,” sahut Taecyeon. “Aku mendengar kabar bahwa Krystal dan Minho sangat dekat. Mereka bahkan dirumorkan menjalin hubungan. Setelah rumor itu menyebar, Krystal tak lagi menjadi bual-bualan para antis, karena setahu para antis, tak mungkin Krystal berhubungan dengan Junho jika ia punya hubungan dengan Minho, kan?”

Minjae mengangguk seperti anak anjing. “Benar! Kita harus mengalihkan issue agar antis tidak berlarut-larut memusingkan hal ini.”

“Tapi,” sela Jinyoung, “Kalian ingin membuat issue seperti apa? Yang jelas, aku tidak menginginkan kalian membuat issue yang akan membuat kita terjerumus ke lubang lainnya.”

“Aku punya ide untuk hal itu,” seru Taecyeon. “Tapi aku butuh waktu untuk merencanakannya sedemikian rupa agar terkesan tidak dibuat-buat. Oetteoh?”

Minjae, Junho, dan Jinyoung saling bertukar pandang lalu akhirnya mengulum senyum. “Kami setuju!”

-oOo-

“Hyung, apa kau sudah mendapatkan info tentang seseorang bernama So Eun itu?” tanya Junho begitu mereka bertiga keluar dari ruangan Jinyoung.

“So Eun?”

“Ne, aku menyuruhmu untuk mencari info tentang gadis itu. Ia adalah salah satu antisku sekaligus admin salah satu situs antisku.”

“Hm, ne, aku sudah menyuruh seseorang untuk mencari tahunya tadi. Sebaiknya kau mengikutiku ke ruanganku, akan kutunjukkan padamu.”

Junho dan Taecyeon mengikuti langkah Minjae yang tergesa-gesa dari belakang. Sesampainya diruangan kerja Minjae, manajer mereka itu langsung bergerak menghampiri meja kerjanya dan membuka beberapa file dari komputer miliknya. Junho dan Taecyeon berdiri disisi meja kerja Minjae sambil menatap layar komputer Minjae dengan lamat-lamat.

“Tak sengaja saat aku sedang melihat-lihat data penonton yang datang saat dikonser kalian yang terakhir, aku menemukan data seorang gadis dengan nama Kim So Eun,” jelas Minjae sambil terus berkonsentrasi pada layar komputernya. “Dan kau pernah mengatakan bahwa fotomu yang diedit itu adalah foto yang diambil saat konser itu, kan?” tanya Minjae sambil beralih menatap Junho.

“Ne. Tapi, apa kau yakin bahwa ia adalah orangnya, hyung?”

“Mollayo. Ada banyak orang bernama Kim So Eun di Korea. Tapi hanya gadis bernama So Eun ini yang datang ke konser kalian.”

“Tapi, siapa tahu saja foto asli yang diambil tersebut bukan dari hasil jepretannya, siapa tahu saja itu milik fans dan ia mengeditnya sedemikian rupa?” sahut Taecyeon.

“Aku tidak yakin, hyung,” tukas Junho. “Foto itu diupload beberapa jam setelah konser berakhir. Fans butuh waktu untuk mengupload foto tersebut ke internet dan gadis itu juga butuh waktu untuk mengedit foto itu sedemikian rupa. Jadi rasanya terlalu wajar jika ia bisa mendownload gambar itu sekaligus mengeditnya sebagus itu dalam waktu yang sangat singkat.”

“Baiklah, hentikan perdebatan kalian dan lihat ini,” potong Minjae. Ia menunjuk layar komputernya yang kini menampilkan wajah seorang gadis. “Aku sempat mengambil gambar saat konser berlangsung dan menurut para security dan panitia, gadis inilah yang bernama So Eun.”

Junho memicingkan mata dan mencondongkan badannya ke depan agar dapat melihat jelas foto yang diambil Minjae. Foto itu diambil dari angle samping dan tampak wajah beberapa fans yang tengah berteriak-teriak seru sementara hanya satu orang saja dari foto itu yang menunjukkan wajah datar tak bersemangat. Seorang gadis yang tengah memegang kameranya dan entah itu merekam atau mengambil gambar kearah panggung.

“Dia adalah gadis yang kupanggil keatas panggung, kan?” seru Junho.

Taecyeon ikut memerhatikan foto tersebut dan mengangguk antusias. “Ne, dia fansmu!”

“Tapi,” kata Junho dengan nada kurang yakin, “Apa mungkin gadis sepolos dirinya bertingkah jahat seperti itu? Ia adalah fansku dan rela datang ke konser kita hanya untuk mengambil gambar dan mengeditnya seperti itu? Apakah itu terdengar aneh?”

Minjae menarik napas dan mengusap wajahnya. “Ingat, Lee Junho, seperti yang sudah dikatakan Jinyoung hyung, antis itu lebih berbahaya dan kejam dari binatang buas.”

“Dan dia akan melakukan apa saja untuk membuat namamu rusak,” timpal Taecyeon.

Sementara Minjae dan Taecyeon mengangguk-anggukkan kepalanya, saling menyetujui perkataan masing-masing, Junho tengah larut dalam pikirannya. Matanya menerawang bebas kearah jendela kantor. Ia mengintip lewat kerai-kerai jendela dan mengamati seluruh antis yang masih bertahan dilantai bawah dan terus mencacinya.

“Hyung, kalau begitu, katakan padaku, dimana alamat gadis bernama Kim So Eun itu,” ujarnya dengan dingin.

-oOo-

“Di Hongdae nomor 2E,” kata So Eun diujung telepon. “Benar, dua pizza dengan pinggiran berisi keju.”

Setelah memesan dua porsi pizza, So Eun meletakkan gagang telepon dan kembali duduk dihadapan layar komputer. Saat itu ia tengah sibuk mengedit-edit foto Junho lainnya dan membuat wajah malang pemuda menjadi buruk rupa dengan sentuhan tangan dingin So Eun pada mousenya.

Ting, Tong!

So Eun menoleh kearah pintu apartemennya yang berbunyi. “Oh, pizzanya sudah datang? Cepat sekali,” gumamnya pelan sembari bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu.

Sebelum membuka pintu, So Eun mengintip dari lubang pintu dan terlonjak saat melihat Junho, Taecyeon dan bersama seorang pria lainnya berdiri didepan pintu apartemennya. So Eun menyandarkan bahunya ke pintu dan bergumam seorang diri. Mengapa mereka bisa ada diapartemenku? Untuk apa Junho datang kemari?

Ting, Tong!

So Eun menggigit bibir bawahnya dan kembali mengintip, memastikan dirinya bahwa ia sedang tidak salah lihat. Tapi begitu kembali melihat wajah datar Junho didepan pintunya, dirinya semakin gelisah. Ini sangat mustahil untuk bertemu dengan seorang idol didepan pintu rumahmu yang notabene adalah seseorang yang biasa.

Ting, Tong! Ting, Tong!

Bunyi bel itu semakin mengganggu pendengaran So Eun dan membuat hatinya semakin gelisah dan cemas. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Terlebih lagi, Junho dan yang lainnya tampak mulai tak sabar dan tak ingin lebih lama menunggu.

Ting, Tong! Ting, Tong! Ting, Tong!

“Ya, apa ada orang dirumah?” teriak Junho sambil menggedor pintu dengan agak kasar.

So Eun menarik napas dalam dan memberanikan diri untuk menyahut. “Nuguya?”

“Apa benar ini rumah Kim So Eun?” Kali ini suara Taecyeon yang terdengar.

Bagaimana mereka bisa mengetahui namaku? So Eun semakin panik.

“Ani. Ini bukan rumah Kim So Eun.”

Junho mengernyit, mulai merasa curiga. “Ya, bisakah membiarkan kami masuk ke dalam? Rasanya sangat aneh jika kita harus berbicara dengan pintu menghalangi.”

“Mianhae, tapi aku tidak bisa,” sahut So Eun dari dalam. “Oemmaku akan membunuhku jika aku keluar dari apartemen.”

Junho semakin menaruh curiga. Ia membungkuk dan mengintip lewat lubang kunci. So Eun terlonjak dan berteriak histeris saat matanya bertemu dengan mata Junho. Bahkan gadis itu nyaris terjungkal ke belakang saking terkejutnya.

“Ya, neo! Kau adalah Kim So Eun, kan? Cepat keluar! Aku perlu bicara denganmu!” teriak Junho kesal.

So Eun kembali merapat ke pintu depan dan menyahut dengan suara gugup. “Aku bukan Kim So Eun. Aku adalah alat perekam pesan. Silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi ‘bip’.”

Taecyeon tertawa geli saat mendengar sahutan aneh itu dari dalam. “Ya, itu bukan alat perekam pesan.”

“Ya, ppali naga atau aku akan mendobrak pintu apartemenmu ini!” ancam Junho.

Untuk beberapa saat Junho, Taecyeon dan Minjae tak mendengar sahutan apapun dari dalam. Nyaris hening. Tapi sejurus kemudian, ketiganya mendengar suara kunci pintu yang dibuka lalu knop pintu memutar secara perlahan. Pintu itu terbuka pelan dan seseorang mengintip dari sana.

“Apa yang kalian inginkan?” tanyanya.

Junho yang telah dikuasai emosi dan rasa tak sabar langsung mendorong pintu sampai sosok gadis yang bersembunyi dibaliknya terlihat dengan jelas. Tak salah lagi gadis itu adalah gadis yang pernah ia ajak naik ke panggung. Gadis yang ia kira adalah fansnya.

“Ikut aku sekarang juga!” kata Junho sambil menarik lengan gadis itu dengan kasar.

So Eun berusa memberontak dan menarik-narik lengannya. “Ya, mwohaneungoya? Lepaskan aku!”

“Ppali! Ikut aku! Aku tidak punya waktu untuk mendengar rengekanmu itu.”

Gadis itu memberontak lebih kuat dan bahkan mencakar tangan Junho. Pemuda itu meringis dan sontak melepaskan cengkeraman tangannya pada lengan gadis itu.

“Apa yang kau inginkan? Darimana kau tahu tempat tinggalku? Dan kau mau membawaku kemana?” tanya So Eun sambil mengusap lengannya.

“Jika kau masih banyak bertanya dan terus membuang waktu, aku bisa saja membawamu ke kantor polisi sekarang. Jadi, ikut aku sekarang dan tutup mulutmu!”

So Eun terpaksa hanya bisa menurut saat Junho menyebutkan kantor polisi. Gadis itu mengikuti langkah kaki Junho yang terburu-buru menuju mobil yang diparkir tepat didepan gedung apartemennya.

-oOo-

JYP Entertainment.

So Eun sering sekali melihat gedung ini di TV, tapi tak pernah melihatnya dalam jarak sedekat ini. Ia mendongak dan menatap spanduk-spanduk besar yang menempel pada sisi dinding gedung. Ada foto-foto artis-artis JYPE, seperti Wonder Girls, 2PM, 2AM, JOO, San E, Miss A, dan beberapa artis lainnya.

“Percepat sedikit langkahmu!” bentak Junho kesal sambil terus menarik lengan So Eun dengan kasar.

“Sabar sedikit!” keluh So Eun sambil terus tertatih-tatih menyesuaikan langkahnya dengan Junho.

Junho sedikit menghela napas ketika melihat gedung JYPE kini telah sepi oleh para antis. Hanya ada beberapa OB dari kantor JYPE yang membersihkan sisa-sisa sampah yang ditinggalkan oleh para antis didepan gedung kantor.

“Untuk apa kau membawaku kemari? Kukira kau ingin membawaku ke kantor polisi?” tanya So Eun dengan nada naïf.

Junho menoleh pada gadis itu dan balik berkata dengan nada tajam, “Ne, aku membawamu kemari untuk menyediakan beberapa bukti atas perilaku jahatmu. Setelah itu, akan kupastikan kau akan langsung ke penjara setelah ini.”

“Memangnya perilaku jahat apa yang sudah kulakukan padamu, huh?!” teriak So Eun berpura-pura tidak tahu.

Junho tersenyum tipis. “Ikuti aku saja dan akan kutunjukkan padamu hasil kejahatanmu.”

-oOo-

So Eun menelan ludah saat ia duduk ditengah ruang kerja Jinyoung dan Junho, Taecyeon, Minjae, dan juga Jinyoung mengelilinginya dengan sorot mata selidik. Jinyoung mencondongkan tubuhnya kearah gadis itu dan mengusap dagunya dengan pelan.

“Jadi, dia adalah salah seorang antismu, Junho?”

“Ne, hyung,” jawab Junho. “Ia mengedit fotoku hingga membuatku tampak buruk didepan publik.”

“Oh, jeongmal?” Jinyoung masih terus menatap So Eun dengan lamat sementara So Eun berusaha untuk terus menghindari kontak mata dengan pria itu.

Minjae maju ke depan dan mengeluarkan iPadnya kemudian menunjukkan sesuatu pada Jinyoung. “Hyung, coba lihatlah ini. Ini foto rekayasa yang dibuat oleh gadis ini.”

Jinyoung mengamati foto Junho yang diambil dari salah satu situs antis tersebut dan terbelalak. “Wah! Ini benar-benar terlihat seperti asli. Apa benar kau yang membuatnya?” tanyanya sambil menuding So Eun.

So Eun hanya diam dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Melihat tingkah picik gadis itu, Junho semakin merasa kesal lalu meneriakinya dengan kasar, “Ya, mengaku saja!”

“Memang benar aku pelakunya. Kalian puas?!” teriak So Eun dengan nada putus asa. Ia tak punya harapan lagi untuk bisa lepas dari tuduhan itu.

Junho tersenyum puas. Sementara Jinyoung menghela napas lalu bertanya, “Baiklah, menurut kalian, apa yang harus kita lakukan pada gadis ini?”

“Melaporkannya polisi atas dasar pencemaran nama baik!” sahut Junho tegas.

“Tapi apakah itu tidak terlalu terburu-buru? Foto itu bahkan belum menjadi skandal di internet!” kata Taecyeon.

“Ani, jangan menunggu sampai percikan menjadi api. Aku hanya ingin bisa terbebas dari orang-orang semacam gadis ini dan aku tak mau menunggu sampai gadis ini akan melakukan sesuatu yang lebih.”

So Eun kembali menelan ludah dan merasakan tubuhnya menggigil ketakutan saat melihat sikap Junho yang dingin. Tapi melihat gelagat sombong pemuda itu menyurutkan rasa takut So Eun dan membuat rasa bencinya kepada pemuda itu semakin memuncak.

“Laporkan saja ke polisi! Aku tidak takut!” teriaknya.

“Baiklah. Kalau begitu kita ke kantor polisi sekarang juga.”

Junho kembali menyeret So Eun dengan kasar keluar dari ruangan Jinyoung dan bergegas keluar gedung menuju kantor polisi diikuti oleh Taecyeon dari belakang. Tapi begitu keluar dari lift dan hanya beberapa langkah dari pintu depan, langkah mereka terhenti ketika melihat sebuah van putih berhenti didepan gedung. Yang ia yakini, van itu bukan milik salah satu artis JYPE. Dan sesaat kemudian, Junho terkejut saat melihat Minho keluar dari van putih itu dan masuk ke dalam kantor.

“Oh, kebetulan sekali aku mencarimu,” kata Minho begitu keduanya bertemu dan berpapasan.

“Kau sepertinya masuk ke gedung yang salah, Minho,” kata Junho dingin.

So Eun mengamati raut wajah kedua pemuda dihadapannya itu dalam diam. Ia tak pernah tahu bahwa beginilah situasinya ketika dua idol bertemu. Rasanya seperti sedang berada disuatu tempat yang asing dan juga tak mengenakkan. Tingkah mereka yang dingin, mengisyaratkan bahwa keduanya sedang bersitegang.

Minho menyadari kehadiran So Eun disana dan bertanya, “Siapa gadis ini? Trainee baru JYPE?”

“Bukan urusanmu,” sahut Junho ketus. “Katakan saja padaku, mau apa kau menemuiku?”

“Ini soal skandalmu dan Krystal.”

“Aku tidak ingin membicarakan hal itu lagi. Kau tahu bahwa itu semua hanya bualan Taecyeon hyung.”

“Kalau begitu, buktikan padaku bahwa itu memang tidak benar.”

Junho menelan ludah. Ia melirik Taecyeon yang berdiri dibelakangnya dengan tatapan meminta tolong. Dan Junho akhirnya bisa mendesah lega ketika tiba-tiba Taecyeon maju beberapa langkah dan mendorong tubuh So Eun ke pelukan Junho. Mereka—Junho dan So Eun—sama-sama terkejut saat melihat Taecyeon melakukan hal itu.

“Ya, Junho, bukankah yeojachingumu ini sedang tidak enak badan? Kau seharusnya memeluknya seperti itu dan segera membawanya pulang,” kata Taecyeon dengan nada yang dibuat-buat.

Masih dengan perasaan bingung dan heran, Junho menatap hyungnya itu dengan kesal. Tapi Taecyeon hanya mengerjapkan sebelah matanya kearah Junho sambil mengatakan sesuatu dengan gerak bibir.

“Beraktinglah seolah kau dan So Eun adalah pasangan kekasih agar Minho tak menaruh curiga!”

Setelah menerima sinyal yang diberikan Taecyeon, Junho mengangguk kecil memaklumi. Ia mempererat pelukannya pada gadis itu membuat So Eun nyaris tak bisa bernapas. Pemuda itu beralih menatap Minho dan memasang wajah memelas.

“Oh, mianhaeyo, Minho, tapi yeojachinguku sedang tidak enak badan sekarang jadi aku harus segera mengantarnya pulang. Permisi.”

Masih sambil memeluk So Eun dengan erat, ia mulai berjalan disusul dengan Taecyeon meninggalkan Minho dengan raut bingung. Sementara So Eun menatap wajah Junho dengan bingung.

“Ya, mwohaneungoya?” bisiknya sambil mendorong tubuh Junho agar melepas pelukannya.

“Diamlah. Aku akan segera melepasmu ketika kita sampai diluar,” kata Junho.

-oOo-

Junho melirik So Eun yang masih dengan tenang duduk didalam mobil. Sejenak, Junho merasa aneh dengan sikap tenang gadis itu saat Junho terus mengancamnya akan membawanya dan melaporkannya ke polisi.

“Hyung,” panggil Junho, “Sebaiknya, apa yang kita lakukan pada gadis itu? Sejujurnya saja, aku merasa tak cukup tega untuk membawanya ke kantor polisi. Ia adalah seorang gadis dan masih terlalu muda untuk berada di penjara.”

Taecyeon ikut mengamati So Eun dari luar mobil sembari mengisi tangki mobil mereka dengan bensin. “Ne, aku pikir juga begitu. Sebaiknya kau tunda saja dulu niatmu untuk menjebloskannya ke penjara. Beri saja ia peringatan untuk tidak melakukannya lagi.”

“Tapi bagaimana jika ia masih melakukannya?”

Taecyeon mengangkat bahu. “Kalau begitu, satu-satunya jalan untuk menghindarkanmu dari masalah adalah menjebloskannya penjara. Tanpa rasa kasihan.”

Junho menghela napas. Ia menatap So Eun lagi dan menggumam kepada dirinya sendiri, “Mengapa kau bisa begitu membenciku?”

-oOo-

“Kita sudah sampai. Turunlah.”

So Eun menurunkan kaca mobil dan melihat keluar. “Ini rumahku. Bukannya kau bilang ingin mengantarku ke kantor polisi?” tanya So Eun dengan nada tenang, walau dalam hatinya bersyukur Junho tak benar-benar membawanya ke kantor polisi.

Junho turun dari mobil dan membukakan pintu untuk So Eun. Ia menarik gadis itu untuk keluar dari mobilnya dengan segera lalu berkata, “Anggap saja kau masih beruntung sekarang, jadi aku tidak akan membawamu ke kantor polisi.”

“Oh, kukira kau tidak punya cukup nyali untuk melaporkanku ke polisi,” kata So Eun dengan nada mengejek.

Junho yang mendengar perkataan So Eun, mencengkeram lengan gadis itu dan menatapnya dengan sorot tajam dan penuh dendam. “Dengar, aku bisa saja melaporkanmu ke polisi saat ini, tapi aku memilih tidak melakukannya karena aku masih berbaik hati padamu, bukan karena takut. Jika seseorang berbuat jahat padaku, aku bisa melakukan sesuatu yang lebih jahat padanya. Jadi jangan mengganggapku pengecut, tapi anggaplah betapa beruntungnya dirimu tidak merasakan kemurkaan diriku.”

So Eun tertegun. Ia bisa merasakan lengannya yang mulai terasa sakit akibat dari cengkeraman tangan Junho. Tapi setelah Junho menyelesaikan ucapannya, cengkeraman itu mulai mengendur dan akhirnya Junho melepaskan cengkeramannya dari lengan kurus So Eun.

Sebelum Junho benar-benar pergi dari situ, ia masih sempat memperingatkan So Eun untuk menghentikan kejahatannya itu. Dan entah mengapa, So Eun hanya bisa mengangguk patuh. Tapi tidak dalam hatinya. Kebenciannya semakin tersulut bagaikan api yang dilemparkan oleh bahan bakar minyak.

-oOo-

Apakah ini perasaanku saja atau memang melihatiku dengan aneh?

So Eun mengamati wajah-wajah yang baru dilewatinya saat berpapasan di koridor dengan tatapan menyelidik. Sejak ia masuk ke kampusnya beberapa menit yang lalu, ia memang sudah merasakan atmosfir yang berbeda. Dan hal itu diperkuat dengan insiden kecil saat ia menabrak Gain, gadis yang paling terkenal dikampus—selain dari kecantikannya, ia juga terkenal sering menindas orang-orang lemah seperti So Eun—pagi tadi. Dan begitu ia menabrak Gain dan tak sengaja menjatuhkan buku-buku Gain, gadis itu tak meneriaki So Eun seperti yang pernah dilakukan Gain pada anak-anak lain.

“Tidak usah membantuku, So Eun,” kata Gain dengan suara pelan dan tersenyum. “Biar aku sendiri yang membereskannya.”

So Eun nyaris tak bisa menahan diri untuk tidak memasang raut tercengang didepan Gain. Sungguh sebuah keajaiban!

Dan begitu gadis itu masuk ke ruang kelas, teman-temannya—terutama para gadis—langsung mengerumuninya seperti para pasukan semut yang berebut gula.

“Kim So Eun, sejak kapan kau punya hubungan dengan Junho oppa?”

“Aku tak tahu kau sedekat itu dengan Junho oppa. Bagaimana bisa?”

“Apakah JYPE sudah mengijinkan artisnya untuk mempublikasikan hubungan mereka kedepan publil?”

“Kim So Eun, kau sangat beruntung! Aku iri padamu!”

Pertanyaan sejenis itu terus terlontar dari mulut-mulut teman-temannya. Tapi So Eun tak sempat menjawab dan berusaha melarikan diri dari orang-orang yang terus mengejar penjelasannya. Ia sendiri bahkan kebingungan, mengapa teman-temannya sampai menganggap bahwa ia punya hubungan dengan Junho? Melihat wajah Junho saja sudah membuat So Eun muak.

“Ya, bocah!”

So Eun terkejut saat mendengar suara seseorang dari belakang punggungnya saat berhasil melarikan diri k atap gedung kampus. Dan begitu menoleh ke belakang, seorang pemuda dengan senyum manisnya tersenyum hangat kearahnya.

“Oh, oppa!” seru So Eun riang.

“Mengapa kau bisa disini?” tanya Kimbum, sahabat sekaligus senior So Eun dikampus. Tak ada yang bisa mengalahkan ketampanannya. Gain menjadikan Kimbum sebagai pangerannya bahkan diam-diam sering menyimpan foto Kimbum dibukunya. Itu salah satu alasan mengapa Gain begitu membenci So Eun karena ia dekat dengan Kimbum.

“Aku dikejar-kejar oleh orang-orang diluar sana. Mereka sudah sinting.” So Eun melesakkan bokongnya dibangku yang ada disana sambil mengipas diri.

“Oh, soal Junho? Mereka meminta penjelasanmu tentang itu, kan?”

So Eun mengernyit. Ia tak menduga bahwa Kimbum juga tahu soal itu—sesuatu yang ia sendiri bahkan tidak ia tahu.

“Aku pikir kau membenci Junho,” lanjut Kimbum dengan raut menerawang.

“Memang,” sahut So Eun bingung.

“Lalu, mengapa kau berpacaran dengannya?”

“Mwo?” So Eun memekik dengan suara keras dan tajam membuat Kimbum harus menjauhkan diri beberapa senti untuk menghindarkan telinganya dari risiko-risiko yang tidak diinginkan. “Sejak kapan aku berhubungan dengan pemuda sinting itu?” lanjut So Eun, masih dengan raut takjub dan bingung.

“Kau tidak menyadarinya? Lalu apa maksud foto kau dan Junho berpelukan yang menyebar di internet?”

So Eun menggeleng tak mengerti. Kimbum pun mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pada So Eun foto tersebut. Gadis itu menganga saat melihat diriny dan Junho berpelukan. Atau lebih tepatnya lagi terpaksa berpelukan. Itu kejadian dikantor JYPE kemarin saat mereka bertemu dengan Minho dan itu murni rekayasa—walaupun memang kenyataannya mereka sedang berpelukan.

“Pasti ada seseorang yang mengambil fotoku dengan sengaja!” pekik So Eun kesal.

“Waeyo? Kau tidak ingin kemesraanmu dan Junho diganggu?”

So Eun mengerutkan dahi dan menatap Kimbum kesal. Ia merasa heran dengan sikap dingin Kimbum yang tiba-tiba ini.

“Ini foto direkayasa. Aku tidak sedang berpelukan dengannya saat itu. Saat itu kami terpaksa.”

“Terpaksa? Waeyo? Apa yang terjadi?” Kali ini suara Kimbum terdengar menghangat.

“Junho terlibat masalah dengan seseorang dan aku pikir ia berusaha untuk memanfaatkanku untuk keluar dari masalahnya. Licik sekali, bukan?”

Kimbum mengangguk. Sikapnya kembali bersahabat setelah mendengar penjelasan So Eun. “Licik sekali. Lalu bagaimana? Apa yang ia lakukan setelah itu?”

“Tidak ada. Hanya itu saja. Dan aku harap, aku tidak bertemu lagi dengannya dan berurusan dengannya. Ia jauh lebih menyebalkan saat diluar panggung. Peringainya sangat dingin dan entahlah, apakah aku harus mengatakan padanya bahwa ia adalah seorang bermuka dua? Ia bisa sangat hangat dipanggung tapi sangat dingin diluar panggung,” jelas So Eun.

“Oh, jeongmalyo? Aku tidak menyangka sikapnya seperti itu,” komentar Kimbum. “Seandainya saja seluruh fansnya tahu bagaimana sikap Junho, aku yakin ia akan kehilangan banyak fans.”

So Eun mengangguk setuju. Ne, seandainya saja fansnya tahu bahwa ia adalah pribadi yang dingin dan tak berperasaan maka—

Light bulb!

Ide itu tercetus begitu saja dalam pikiran So Eun. Gadis itu tersenyum seorang diri dan mulai menyusun rencana baru untuk menjatuhkan Junho. Kimbum mengamati wajah sahabatnya itu dengan bertanya-tanya.

“Ya, mengapa kau tersenyum seperti itu? Apa yang kau pikirkan?”

“Aku ingin merencanakan sesuatu, oppa dan kau harus membantuku!”

“Merencanakan apa?”

“Aku pikir aku harus melanjutkan skandal ini. Aku akan mengaku didepan seluruh publik bahwa Junho memang adalah namjachinguku, setelah itu aku akan membeberkan seluruh keburukan sifat Junho pada publik.”

“Tapi, apakah kau yakin itu akan berhasil?”

“Geureumyo! Mereka tentu saja akan memercayaiku karena mereka tahu bahwa aku pernah mengenal Junho dengan dekat. Bagaimana? Ideku cemerlang, kan?”

Kimbum menggigiti bibirnya dengan ragu lalu akhirnya mengangguk. “Ne, mungkin itu akan berhasil.”

To be continued…

101 thoughts on “Scandal Maker (Part 2)

  1. Jahat banget si so eun, kasian junho ;__;
    Kim bum gak nyangka dpt peran antagonis juga ._.
    Lanjut next chap~

  2. pengen tau alasan’x???
    Udah ga tega leat junpa disakiti….
    Apalagi ma eunniq sndr…
    Kekeke 🙂
    Hmm..lanjuut
    Daebak eonnie

  3. Dugh si so eun benci banget sih sama junho,awas lho ati” nanti jadi cinta banget ma junho ^^
    Btw siapa yg nyebarin photo mrk pelukan,minho atw ada yg lain,atw pihak jyp ny spy skandal junho n krystal hilang???..yaah mending langsung baca part selanjutnya ajah deh..

Leave a Reply to dehanna Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s