HyoSiChae : Triangle Disaster [One Shot]

Author : Iefabings

Cast : Choi Siwon (SJ), Shin Hyoki (oc), Song Eunchae (oc) *Eunchae ngamuk gara-gara namanya gak ditarok di deketnya Siwon*

Support Cast : KyuRin *maaph ya KyuRin untuk sementara jabatannya saya turunkan menjadi support cast dulu*, Super Junior

Genre : Romance, comedy

Rating : PG-13

P.S : Tadinya mau post lanjutannya KyuRin. Tapi Eunchae dari tadi narikin baju, pengen eksis juga di readfanfiction. Karena author sayang Eunchae *hug Eunchae* jadi author buatkan ff one shot yang gak kalah aneh dengan serial KyuRin Tale. Jadi Selamat Membaca…

^0^

Hyoki pov

‘Cepat sini ya, chagi. Aku rindu waffle buatanmu.’

“Ne, aku segera ke sana, oppa,” ucapku, lalu menutup telponnya.

Aku membungkus kotak bekal yang berisi waffle kesukaan namjachinguku, Siwon oppa. Dia baru pulang dari Cina untuk promo album baru Suju M. Tidak mudah memang, menjadi yeojachingu dari salah satu member Super Junior, lebih lebih Choi Siwon. Selain karena harus merahasiakannya, aku juga harus sabar dengan kesibukannya itu yang berarti waktu untuk bisa bersamanya berkurang.

Makanya aku senang saat dia menelpon dan memintaku ke dorm. Aku sudah sangat merindukannyaaaaaaaa.

^0^

Aku menekan bel dorm. Sesaat kemudian terdengar suara dari dalam.

“Nugu?” terdengar seperti suara Hyerin.

“Hyoki,” jawabku.

“Aigoo, kenapa tidak bilang dari tadi,” pintu terbuka dan Hyerin berdiri di hadapanku. “Kau lama sekali. Siwon oppa sudah menunggumu dari tadi.”

Hyerin menuntunku ke ruang TV *emangnya Hyoki nenek nenek? Atau kena stroke kah?* *digampar Hyoki* Dia tinggal di apartemen lantai 11 juga dan sekaligus menjabat sebgai Princess Evil. Ya, dia yeojachingunya Kyuhyun. Di ruang TV sudah ada Kyuhyun dengan PSPnya, Eunhyuk dengan wajah yadongnya, dan Siwon oppa dengan… Eunchae di pangkuannya?

“Oppa, lukisanku ini bagus kan?” Eunchae menunjukkan lukisannya dengan bangga.

“Ne, bagus sekali,” puji Siwon oppa.

“Kalau aku jadi istri oppa nanti, aku akan melukis wajah oppa setiap hari,” ucap Eunchae. Sebenarnya dongsaeng Hyerin yang satu ini bicara apa? Entah mengapa aku merasa sedikit cemburu.

“Ehm,” aku berdeham, mengumumkan kedatanganku. Ku sikut lengan Hyerin.

“Um, oppa, Hyoki sudah datang,” kata Hyerin. “Eunchae-ah, sana main dengan Sungmin atau Yesung oppa saja di dapur.”

“Chagi, bogosipeo…” Siwon oppa menurunkan Eunchae dari pangkuannya. Aku merasa sangat senang saat melihat wajah kecewa Eunchae.

“Nado,” ucapku. Siwon oppa memelukku. “Ini waffle yang ku janjikan.”

“Gomawo, chagi,” dia langsung membuka kotak bekal yang ku bawa.

“Kau tidak menawari kami?” celetuk Eunhyuk.

“Ini buatan yeojaku. Kalau kau ikut makan nanti kau bisa jatuh cinta padanya.”

Aku tersenyum mendengar ucapannya.

“Aku kan tidak mungkin menyukai Hyoki eonnia, jadi boleh kan kalau aku makan wafflenya?” Eunchae mulai bersuara lagi dan bagiku itu terdengar seperti memanas-manasiku. Kenapa Hyerin harus membawa dongsaengnya ke sini sih? Aku menoleh pada Hyerin yang kini sudah asyik main game dengan Kyuhyun. Dia tentu saja tidak akan melihatku.

“Tentu saja. Ayo makan dengan oppa,” sahut Siwon oppa. Apa dia tidak sadar kalau darahku mulai panas sekarang?

“Aku mau disuapi oppa,” kata Eunchae manja sambil melirikku evil. Dan Siwon oppa menurutinya.

Dia benar-benar tidak peka. Aku semakin gerah saja melihat mereka. Coba bayangkan, hampir tiga minggu tidak bertemu dengan Siwon oppa dan saat aku punya kesempatan untuk menemuinya aku harus merasa gerah karena dimadu dengan anak usia 7 tahun? Kalau Eunchae bukan dongsaeng Hyerin sudah ku seret dia dan ku lempar keluar jendela. *ditabok eomma dan appanya Eunchae* Aku kembali menoleh pada Hyerin, berharap dia menolongku dengan membawa Eunchae pulang. Tapi dia dan Kyu sudah menghilang. Kemana mereka?

“Mereka ke apartemen Hyerin. Katanya mau nonton DVD yang baru dibeli Hyerin. Sabar ya,” kata Eunhyuk, tampak memahami perasaanku.

Aku hanya bisa menghela nafas. Hyerin kembali ke apartemennya tanpa mengajak Eunchae? Ku rasa aku harus mencoret ka ‘teman yang baik’ darinya.

“Aku mau lagi, oppa,” rengek Eunchae.

“Baiklah, ini untuk Eunchae,” Siwon hendak menyuapkan sepotong waffle lagi ke mulut Eunchae. Sebelum Eunchae memakannya, aku langsung merebut waffle itu dari tangannya dan menyuapkannya ke mulutku sendiri.

“Waffle buatanku enak ya?”

^0^

Author pov

“Aku masih mau main dengan Siwon opaaaaaaa,” Eunchae menangis saat Hyerin menyeretnya.

Hyoki langsung menelpon Hyerin dan memaksanya untuk membawa dongsaengnya pulang setelah perang waffle tadi.

“Siwon oppa sedang sibuk. Ayo, kau juga harus tidur siang,” paksa Hyerin.

“Aku tidak mau, eonnieeeeee,” tangis Eunchae semakin keras.

“Ottkhe Kyu?” Hyerin menoleh pada Kyuhyun.

“Ayo, Eunchae. Nanti Kyuppa belikan es krim,” rayu Kyuhyun sambil mengelus rambutnya.

“Tidak mau.”

Hyerin dan Kyuhyun tampak lelah merayu Eunchae untuk pulang.

“Ingat Hyerin, aku tidak akan membantu tugas kesenianmu kalau Eunchae masih di sini. Dan kau, Kyu. PSP mu masih ku tahan,” bisik Hyoki dengan mistis dan membuat KyuRin merinding.

Tanpa banyak bicara, Kyuhyun menggendong Eunchae pakasa dan Hyerin membawa sepatunya.

“Aku tidak mau pulaaaaaaaaaang!” teriakan Eunchae menggetarkan kaca jendela seluruh penjuru lantai 11.

^0^

Hyoki pov

Hahaha, aku menang. Penyihir kecil itu sudah pergi. Siwon oppa tertawa geli melihatku.

“Kenapa menertawakanku?”

“Sebenarnya kau kenapa? Dia kan hanya ingin main dengan kita,” ucapnya.

“Dia hanya ingin main denganmu.”

“Lalu apa yang salah dengan main denganku?”

“Aish, oppa benar-benar tidak peka. Dia menyukai oppa dan tatapannya itu seolah menantangku bahwa dia akan merebut oppa dariku.”

Tawanya semakin keras, “ Kau ini seperti anak kecil saja. Berhenti berhalusinasi yang aneh-aneh.”

“Oppa terlalu sibuk dengannya dan mengacuhkanku.”

“Aigoo, Eunchae kan masih kecil dan dia juga dongsaeng sahabatmu sendiri. Jadi wajar kan kalau aku menganggapnya dongsaeng juga. Apa yang membuatmu cemburu?”

“Oppa tidak pernah mengerti,” dengusku.

“Jangan bertingkah seperti anak kecil.”

“Ya sudah, aku pulang!” ku ambil tasku dan beranjak meninggalkannya. Tapi dia menahanku.

“Yakin tidak merindukanku?” godanya. Wajahku memerah.

Aish, kelihatannya Kyuhyun mulai mempengaruhinya. Lihat, dia tersenyum evil sekarang dan membuatku semakin tidak bisa meninggalkannya.

^0^

Selagi Suju ada di sini, aku sering sering main ke dormnya. Kapan lagi aku bisa menghabiskan waktu dengan Siwon oppa dan dimana lagi aku bisa kencan kalau bukan di sana. Kami tidak mungkin ke bioskop atau taman hiburan karena aku tidak mau kencan dengan namja yang berkaca mata hitam dan memakai masker seperti buronan yang menyamar. Dan hari ini aku sangaaaat lega karena karena saat tiba di dorm, si penyihir kecil itu tidak ada. Akhirnya bisa bersama Siwon oppa tanpa gangguan.

“Kau sudah nonton drama baruku?” tanyanya.

“Belum, aku mau nonton dengan oppa.”

“Bagaimana kalau nonton sekarang?” tawarnya.

“Mau, mau,” jawabku antusias.

Uwaaaa, kau tahu, ini lebih baik dari nonton film romantis di bioskop. Siwon oppa memutar dramanya, lalu duduk di sebelahku. Perlahan dia menggenggam tanganku hangat dan aku merebahkan kepalaku di bahunya.

“Lihat, aku keren kan?”

“Ne, oppa neomu neomu motjyo.”

Aku tidak peduli pada dramanya, aku hanya merasa begitu bahagia bisa bersamanya. Keadaannya begitu tenang sampai….

“Sungmin oppa, ayo temani aku main boneka Barbie!” terdengar suara sok imut yang sudah ku kenal dari pintu dorm.

“Eunchae-ah, baru pulang sekolah ya?” sahut Sungmin oppa.

Eunchae memang sudah biasa ke dorm kalau eonnie-eonnienya sedang tidak ada atau sibuk. Harin eonnie dan Eunhye mungkin memang sibuk. Tapi Hyerin? Aku sebagai sahabatnya sejak TK tahu betul dia tidak pernah punya kesibukan. Cih, dia pasti sibuk dengan partner evilnya itu. Tapi tadi Eunchae memanggil Sungmin oppa, bukan Siwon. Mudah-mudahan dia tidak menyadari keberadaan kami.

“Ne, aku bawa koleksiku, tapi tidak semuanya berwarna pink,” bisa ku dengar suaranya semakin dekat. Aku merasa terancam.

“Gwenchana, tapi oppa tidak bisa menemani Eunchae main,” kata Sungmin yang tampakna membawa Eunchae ke ruang TV. Sial.

“Kenapa tidak bisa?”

“Oppa ada jadwal. Mianhae.”

“Lalu aku main dengan siapa?”

“Ada Yesung, Leeteuk dan Siwon oppa.”

Jderrrr! Kenapa Sungmin memberitahukannya pada Eunchae? Aku langsung bangkit.

“Tidak bisa. Siwon oppa sedang nonton dengan eonnie. Jadi Eunchae main dengan Teukie atau Yeppa saja ya.”

“Mwo? Hyoki eonnie ada di sini juga?”

“Hai, Eunchae,” sapa Siwon.

“Uwaaaa, ada Siwon oppa. Kalau begitu aku mau main dengan Siwon oppa saja,” Eunchae, dengan centilnya menggandeng tangan Siwon.

“Eonnie kan sudah bilang, kami sedang nonton,” aku berusaha berbicara selembut mungkin walau sebenarnya aku sudah gerah.

“Tidak apa-apa akan oppa temani main. Kita bisa nonton lain waktu kan chagi?”

Jujur aku ingin sekali membungkus Eunchae dengan paper bag lalu menguncinya di gudang bawah tanah. Tapi ku rasa ide itu terlalu sulit dilakukan. Jadi alternatifnya kalau tidak bisa menjauhkan Siwon oppa darinya, aku tidak boleh membiarkan mereka main berdua.

“Kalau begitu aku ikut main,” ucapku.

Eunchae tampak kecewa, tapi kemudian membuka ransel spongebobnya dan mengeluarkan isinya satu per satu. Kami pun mulai melakukan kegiatan bermain boneka kami. Aku mengambil salah satu boneka dan mendandaninya dengan baju yang ku desain. Begitu juga dengan Eunchae. Siwon oppa hanya mengamati kami. Aish, aku merasa menyusut menjadi anak SD lagi.

“Oppa, lihat boneka yang ku dandani. Lebih bagus dari karyanya Hoki eonnie kan?” Eunchae memamerkan hasil karyanya dan entah itu hanya perasaanku saja atau bagaimana, tapi dia menatapku licik seolah mengajakku perang.

“Wah, bagus sekali! Eunchae memang hebaat,” puji Siwon. Eunchae tertawa penuh kemenangan dan menatapku penuh kemenangan. Hooo, jadi dia benar-benar menantangku? Baiklah, lihat siapa yang menang nanti. Akan ku tunjukkan dimana posisinya seharusnya.

“Oppa, kalau main seperti ini jadi seperti piknik keluarga ya. Ada seorang eomma, appa, dan anak kecil. Kita seperti keluarga yang bahagi saja ya. Hahaha…” kataku manja.

“Benar, kalau kita punya anak selucu Eunchae pasti akan sangat menyenangkan,” jawaban Siwon oppa semakin melancarkan seranganku. Aku tahu betul sekarang Eunchae sedang mendengus kesal. Aku yakin dia akan mengatur strategi bagu untuk membalasku, jadi aku harus siap.

“Menurut oppa, cantikan Hyoki eonnie apa aku?” aish, pertanyaan apa itu?

“Hei, anak kecil, kau ini tahu apa soal kecantikan? Tidak perlu dijawab, oppa. Pertanyaan macam begitu kita semua juga sudah tahu jawabannya,” kataku.

“Eonnie jangan ikut campur, aku kan tanya pada Siwon oppa,” dia menatapku licik. Aku tidak percaya anak usia 7 tahun berani mengatakan hal seperti itu padaku. Aku jadi ragu sebenarnya berapa usia Eunchae. Mungkinkah dia orang dewasa yang terjebak di tubuh anak kecil?

“Oppa…” aku menatap Siwon oppa, berharap dia menyebut namaku. Siwon oppa melihat ke arahku dan Eunchae bergantian.

“Hmmmm,” gumamnya, semakin membuatku penasaran. Dia tersenyum lalu menjawab, “Tentu saja cantikan Eunchae.”

Apa aku tidak salah dengar? Aku serasa disambar petir lalu ditendang ke pusaran air lalu ditelan cumi-cumi raksasa. Sekarang Eunchae tertawa riang, seolah menunjukkan bahwa dia pemenangnya. Dan Siwon oppa? Dia juga ikut tertawa dengannya. Apa dia tidak peduli padaa perasaanku? Apa baginya aku memang tidak cantik? Aku benar-benar kecewa padanya.

“Jadi,” ucapku. “Itu sudah pilihan oppa.”

Pandangan Siwon beralih padaku.

“Kau kenapa?”

“Kita putus,” ku sambar tasku yang tergeletak di sofa lalu keluar dari dorm.

“Mwo? Apa maksudmu chagi? Kau mau kemana?” dia mengejarku.

Aku mempercepat langkahku menuju lift. Untung pintu lift cepat tertutup jadi aku bisa menghindari kejarannya. Dalam lift aku menangis. Walau aku masih mencintainya, aku benar-benar tidak kuat terus disakiti begini.Lebih baik ku akhiri saja. Walau Eunchae itu anak kecil, tapi dengan jawaban Siwon oppa tadi aku jadi sadar bahwa aku tidak berarti apa-apa baginya. Dia lebih suka bermain dengan Eunchae dari pada menghabiskan waktu denganku. Mungkin memang ini yang terbaik.

^0^

From : My Lovely Guy

Chagi, jangan siksa aku seperti ini. Sebenarnya kau kenapa? Aku tidak mau kau putuskan begitu saja. Kita harus bicara

Sudah dua hari aku mengurung diri di kamar. Walau Siwon oppa menelponku berkali-kali, tak pernah ku angkat. Pesan darinya tak pernah ku balas. Bahkan saat dia ke rumahku, aku minta eomma mengusirnya.

From : ChocoRin

Hyoki-ah, kau sudah jadi vampire ya sekarang? Kenapa mengurung dirimu begitu? Kasihan Siwon oppa… Kasihan padaku juga…

Aku juga menghindari Hyerin. Dia ke rumahku kemarin tapi aku tahu itu pasti karena Siwon oppa yang memintanya. Maaf Hyerin, bukannya aku ingin menghindarimu. Tapi aku benar-benar ingin sendiri saat ini. Semua karena…. Eunchae? Huft, bahkan aku sendiri merasa aku sudah gila. Kenapa bisa aku cemburu pada anak kecil? Tapi kejadian itu sudah benar-benar membawaku pada titik kesabaran penghabisan.

Apa aku keterlaluan? Kurasa tidak, oppa pantas menerima itu. Tapi aku sudah merindukannya. Sangat sangat rindu. Aish, aku sudah minta putus padanya jadi aku tidak boleh memikirkannya lagi. Tapi… bagaimana ini aku memang sangat merindukan oppa…

“Hyoki-ah, makan malam,” ku dengar suara eomma dari luar kamarku.

Walau aku mengurung diri, aku tetap butuh makan kan? Aku beranjak dari tempat tidurku dan memakai sandal.

“Ne, eomma,” aku turun ke dapur.

Sepi. Yang ku dengar barusan benar suara eomma. Tapi kenapa di dapur tidak ada siapa-siapa? Meja makan juga kosong. Aku berjalan ke ruang TV. Sunyi. Aku tidak mungkin salah dengar, tadi itu benar-benar suara eomma memanggilku untuk makan malam. Mungkin eomma di halaman belakang. Kami memang sesekali makan malam di halaman belakang saat cuaca cerah. Gelap. Tidak biasanya lampunya mati. Yang terpenting sekarang eomma dan appa dimana?

“Eomma, appa, kalian dimana?” ku panggil mereka. Tidak ada jawaban. “Eomma, appa, jangan menakut-nakutiku. Yang penakut itu kan Hyerin, bukan aku,” ku coba sekali lagi. Terus terang aku mulai takut sekarang. Tapi tetap taka da suara sedikit pun.

Tiba-tiba terdengar suara langkah. Kenapa aku jadi merinding begini ya? Kata Hyerin kalau kita merinding berarti ada hantu di dekat kita. Eomma, appa, bagaimana ini? Aku takuuuuut. Ku pejamkan mataku.

“Tuan atau Nyonya Hantu, ku mohon jangan ganggu aku. Aku yeoja yang baik. Aku masih sayang eomma dan appa dan aku yakin mereka juga sangat menyayangiku. Pergilah, pergilah…” ucapku pada hantu yang tak bisa ku lihat itu. Langkah kakinya semakin mendekat. Mwo? Kaki? Seingatku Hyerin pernah bilang kalau hantu itu tidak menyentuh tanah. Kalau ada suara langkah kaki berarti… “Oppa!” seruku saat membuka mataku kembali.

Sekarang seorang namja tinggi, tampan, yang sangat ku rindukan sedang berdiri di hadapanku dengan seikat bunga di tangannya. Hampir saja aku menghambur ke pelukannya, tapi aku langsung ingat bahwa aku sedang marah padanya.

“Sedang apa di sini? Mana eomma dan appa?” tanyaku ketus.

“Chagi, kau masih marah padaku?” tanya Siwon.

“Ku bilang dimana eomma dan appa?” kuulangi pertanyaanku.

“Dengarkan penjelasanku dulu. Aku minta maaf…”

“Aku ingin eomma dan appa,” potongku.

“Aku tidak bermaksud mengatakan itu…”

“Aku ingin tahu dimana eomma dan appa…”

“Sebenarnya bagiku kau…”

“Aku ingin eomma dan appa…”

“Adalah…”

“Aku hanya ingin eomma dan appa sekarang juga!” teriakku. Siwon oppa tampak sangat terkejut dengan teriakanku.

“Chagi, kau berteriak? Apa Hyerin yang mengajarimu?” dia mendekat.

“Kau masih belum mengerti juga?”

“Arasseo… Eomma dan appamu pergi ke Busan tadi sore. Mereka sudah menggedor kamarmu berkali-kali, tapi tidak kau jawab.”

“Tapi jelas-jelas tadi aku mendengar suara eomma memanggilku untuk malam.”

“Itu suara tape recorder.”

Andwe, jadi dari tadi aku sendirian? Dan eomma dan appa pergi tanpa pamit? Ok, tepatnya aku yang tidak tahu karena tadi aku tidur. Tapi tetap saja ini bencana karena… AKU LAPAR.

“Kryuuuuuuuk….”

Siwon oppa menatapku. Aish, apa suara tadi dari perutku? Memalukan…

“Kau lapar?” tanyanya. Ini benar-benar memalukan.

“Sudah, kau pulang sana. Aku mau ti…”

“Kryuuuuuk…” lagi lagi perutku ini.

“Jadi kau teriak karena lapar? Kenapa tidak bilang kau belum makan? Kajja,” tanpa izin padaku dia langsung menarik tanganku.

^0^

Siwon oppa membawaku ke restoran tempat aku dan Hyerin biasa nongkrong. *apa kata bakunya nongkrong?* Sebenarnya ini agak memalukan. Aku makan banyak. Mungkin sekarang aku sudah menyaingi porsi makan Hyerin.

“Kau mau menyaingi Hyerin sekarang?” benar kan, Siwon oppa saja berpikiran begitu. Tapi aku benar-benar lapar. Aku baru ingat kalau seharian ini aku hanya tidur di kamar dan lupa makan.

“Kenyang,” ku elus perutku yang agak kembung sekarang.

“Jadi, kau memaafkanku?” tanya Siwon oppa.

“Jadi makanan ini untuk menyogokku? Biar ku bayar sendiri kalau begitu.”

“Ani, maksudku yaaaa sebenarnya tadi aku ke rumahmu memang untuk minta maaf. Dan melihat selera makanmu tadi ku pikir kau sudah mau menerimaku,” katanya takut-takut.

Tampaknya dia memang serius. Dan sebenarnya aku juga sangat merindukannya.

“Aku hanya ingin oppa lebih memperhatikanku,” ucapku.

“Aku hanya memperhatikanmu. Lagi pula Eunchae itu kan anak kecil. Ku pikir kau juga suka bermain bersamanya. Dan aku sangat senang saat kau bilang kita bertiga seperti keluarga yang bahagia. Karena itu adalah impianku. Memiliki keluarga yang bahagia denganmu,” kata Siwon oppa sambil menggenggam tanganku.

Aigoo, wajahku pasti sewarna tomat sekarang. Benarkah oppa berpikir seperti itu?

“Jadi, apa sekarang kita baikan?” dia tersenyum padaku. Aku mengangguk mantap. Rasa sayangku padanya seolah diisi ulang. “Gomawo, chagi.”

Hore, aku tidak jadi putus dengan oppa. Aku tidak perlu mengurung diri lagi dan tidak perlu cemburu pada Eunchae.

“Oppa, sedang apa di sini?” sebuah suara membuat Siwon oppa melepas tanganku. Ternyata Hyerin.

“Hyerin-ah, kau juga di sini?” tanyaku.

“Aigoo, lihat putri tidur sekarang bangun lagi. Kau ini sebenarnya kenapa? Kalau marah pada Siwon oppa jangan bawa-bawa aku juga,” Hyerin menjitakku.

“Appo,” keluhku.

“Kami sudah baikan sekarang. Gomawo atas bantuannya,” kata Siwon.

“Bantuan apa?” tanyaku tak mengerti.

“Aku yang merekam suara eommamu sebelum dia berangkat ke Busan. Lain kali jangan merepotkanku lagi,” ucapnya.

“Kau sedang apa di sini Rin-ah?” tanya Siwon oppa.

“Aku mau makan jajangmyeon. Harin eonnie tidak sempat masak tadi,” jawabnya.

“Kau sendirian?”

“Tentu saja tidak.”

“Lalu bersama siapa?”

“Itu mereka datang,” Hyerin menunjuk pintu restoring yang sekarang terbuka.

Aku menoleh. Kyuhyun muncul dan tahukah kau siapa yang berjalan di sampingnya?

“Wah, ada Siwon oppa! Kyuppa makan berdua dengan eonnie ya, aku mau makan dengan Siwon oppa,” Eunchae, dengan wajah ceria yang selalu membuatku kesal berlari kecil ke meja kami. Aku merasa tidak enak badan.

“Eunchae, mau oppa suapi?” dan penyakit Siwon oppa kumat.

“Not again,” aku hanya bisa menelungkupkan wajahku di meja.

END

^0^

P.P.S : Eunchae ngamuk gara-gara semuanya Hyoki pov. *Eunchae : aku juga ingin ada povnya* Ih, ni anak banyak maunya deh! Udah syukur gue buatin ff. Diem gak? *Eunchae diem seribu bahasa, shock berat authornya jadi galak, melebihi kegalakan Hyerin* Mian kalo feelnya gak ada sama sekali karena saya buat ff ini di bawah tekanan dari dua pihak yaitu Hyoki dan Eunchae. Sama-sama maksa saya biar endingnya Siwon sama salah satu dari mereka. Jadi pada akhirnya, endingnya seperti itu. Walau ini ff one shot, saya masih membutuhkan komen dari readers sekalian. Sampai jumpa di ff berikutnya… *lambai-lambai bareng Siwon oppa* *Hyoki bareng Eunchae kompak nabokin author*

22 thoughts on “HyoSiChae : Triangle Disaster [One Shot]

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s