[FF Freelance] My Only Wish (Oneshot)

Title                       :  My Only Wish

Author                  :  sacchan

Main Casts          : Kang Minhyuk (CN Blue), Kang Jiyoung (KARA)

Support Casts    : The rest CN Blue members (as cameo)

Genre                   :  (A fail) Angst

Rating                   :  PG+13
Type                      :  Straight

Length                  :  ± 1807 words

Disclaimer           :  The story is mine. Wish Kang Minhyuk could be mine too. But sadly not, and never.

A/N                        :  an old fic of mine ^^ Disini si Jiyoung perannya jadi gadis biasa, bukan sebagai member KARA. Happy reading and don’t forget to leave a comment~ Thank you !

* * * *

Yang dapat aku ingat hanyalah saat kakiku tiba-tiba lemas, seakan tidak bisa menopang berat tubuhku. Kemudian sekelilingku menjadi gelap gulita. Sempat kudengar suara panik yang berasal dari orang-orang di sekitarku. Apakah aku pingsan di backstage sesaat setelah konser kami berakhir? Saat tersadar, aku sudah berbaring di sebuah ranjang rumah sakit. Kepalaku masih sedikit pusing. Kulihat jam di handphone-ku yang terletak di atas meja kecil di sebelah ranjangku. Pukul 2 pagi. Ku putuskan untuk kembali memejamkan mataku.

* * * *

Sinar matahari yang masuk dari jendela membangunkanku. Aku mengerjapkan mataku pelan. Masih mengantuk sebenarnya, tapi kupaksakan untuk bangun. Lalu tanpa sengaja aku menoleh ke sebelah kanan ranjangku dan…

“UWAAAAA!!”  teriakku kaget.

Gadis yang sedang duduk di ranjang sebelahku itu juga terlihat kaget. Mungkin lebih tepatnya, ia terkejut oleh teriakanku.

“Si… Siapa kamu? Kenapa kamu bisa ada disini? Sedang apa kamu disini ?” tanyaku bertubi-tubi.

“Aku Kang Jiyoung. Tentu saja aku bisa ada disini, karena ini kan kamar kelas 1, jadi setiap kamar berisi dua orang. Bukan kamar VIP yang hanya dihuni oleh satu orang. Lagipula, harusnya aku yang bertanya, kamu siapa? Ini kan kamarku,” jawab gadis itu.

Aku terdiam mendengar perkataan gadis itu, eh, siapa namanya tadi? Kang Jiyoung? Benarkah ini kamar kelas 1? Tidak mungkin. Biasanya kalau ada anggota kami sakit, pasti dirawat di kamar VIP, agar privasi kami tidak terganggu. Lalu kenapa aku bisa ada di kamar kelas 1? Mungkin kamar VIP-nya penuh?

“Oh, maaf kalau begitu, Jiyoungssi. Aku tidak tahu kalau ini adalah kamar kelas 1,” kataku. “Oh iya, aku belum memperkenalkan diri. Namaku…”

Belum sempat aku menyebutkan namaku, gadis itu telah memotong ucapanku. “Kang Minhyuk. Salah satu anggota grup band C.N. Blue. Posisimu sebagai drummer. Iya kan?”

“Eh? Kau mengenalku?” tanyaku kaget.

“Tentu saja. Siapa yang tidak mengenal kamu dan grup bandmu, C.N. Blue? Kalian kan terkenal sekarang,” jelasnya sambil tersenyum. “Ngomong-ngomong, kau sakit apa?”

“Entah, aku tidak ingat. Sepertinya aku pingsan di backstage sesaat setelah konser berakhir. Mungkin aku hanya kecapekan,” jawabku. “Kau sendiri, sakit apa?”

“Sudah seminggu aku dirawat disini. Sebenarnya aku merasa baik-baik saja. Tapi orangtuaku sangat mengkhawatirkan keadaanku. Padahal aku hanya demam biasa.”

Aku hanya mengangguk-angguk sambil bertanya-tanya dalam hati. Demam apa yang membutnya sampai dirawat di rumah sakit selama seminggu? Demam berdarah kah? Tapi tidak ada selang infus di tangannya. Dia juga kelihatan sehat. Sepertinya ia memang baik-baik saja.

“Sudah ah, aku mau ke atap,” katanya sambil beranjak turun dari tempat tidurnya.

“Eh? Ke atap mana?” tanyaku bingung.

“Ke atap rumah sakit ini. Aku suka sekali melihat pemandangan dari tempat yang tinggi. Mau ikut?” ajaknya saat sudah berada di depan pintu.

Aku berpikir sejenak. “Oke, aku ikut!”

* * * *

 “Waaah, sudah lama aku tidak kesini. Udaranya segar sekali~,” seru Jiyoung. Dia terlihat sangat senang.

“Bukankah kamu sudah tinggal seminggu disini? Kenapa tidak naik ke atap?” tanyaku heran.

“Dilarang oleh orangtuaku. Aku tidak boleh turun dari tempat tidur, kecuali ke kamar mandi. Bahkan aku tidak boleh keluar kamar. Haaahh~ Tidak tahukah mereka kalau aku bosan?” jelasnya. Kemudian ia menggembungkan kedua pipinya, cemberut.

“Kawaii~” kataku dalam hati. Eh? Apa yang aku katakan barusan?

“Hei, Minhyuk-ssi. Apa ada seseorang yang sedang kau sukai saat ini?” tanya Jiyoung tiba-tiba.

“Eh? Untuk saat ini sih tidak ada. Kenapa tiba-tiba kamu bertanya begitu?”

“Tidak apa sih, aku ingin tahu saja.” Jiyoung terdiam sejenak. “Kalau aku, saat ini ada seseorang yang aku sukai,”

“Begitukah?” tanyaku, tertarik oleh ceritanya.

Jiyong mengangguk. “Sudah lama aku menyukainya tapi ia tidak tahu. Atau bahkan, dia tidak akan pernah tahu.”

“Lho kenapa? Kamu menyerah? Kamu tidak mau mencoba mengutarakan perasaanmu padanya?” tanyaku ingin tahu.

“Tidak mungkin, dia tidak mengenalku. Lagipula aku tidak akan pernah sanggup untuk menggapainya. Dunia kami berbeda jauh,” jawab Jiyoung dengan nada putus asa.

“Kalau tidak dicoba, selamanya kamu tidak akan pernah tahu tentang perasaannya. Siapa tahu dia juga menyukaimu?” kataku berusaha menyemangati.

“Sudahlah, kau tidak usah menyemangatiku. Aku sudah menyerah. Bisa melihatnya saja aku sudah bahagia.” Jiyoung tersenyum tipis. “Eh maaf, aku jadi curhat kepadamu.”

“Tidak apa, aku senang mendengarnya,” balasku sambil tersenyum.

Tiba-tiba Jiyoung menyentuh lehernya dengan kedua tangannya, dan wajahnya memucat seketika.

“Gawat! Syalku? Syalku tidak ada! Bagaimana ini? Itu syal kesayanganku!” serunya panik.

“Eh? Syal? Bagaimana bisa? Seingatku sejak tadi kau memang tidak memakai syal. Mungkin ketinggalan di kamar? Coba kita cari kesana!” ajakku.

* * * *

Jiyoung berlari dengan cepat menuju ke kamar tempat kami dirawat. Aku mengikutinya dari belakang. Ia segera masuk ke dalam kamar dan menghampiri tempat tidurnya.

“Ketemu!” serunya senang sambil memamerkan syal berwarna biru muda kepadaku. “Ternyata jatuh di samping tempat tidurku, hehe.”

Aku menghembuskan napas lega. “Syukurlah.”

“Mungkin aku bisa menangis berhari-hari kalau syal ini benar-benar hilang,” kata Jiyoung sambil memeluk erat syal itu.

“Sebegitu pentingnya kah syal itu untukmu?”

“ Tentu saja! Syal ini aku rajut sendiri. Hebat kan?” katanya berbangga diri. “Sebenarnya aku membuat syal ini untuk diberikan kepada seseorang yang aku sukai. Orang yang aku ceritakan padamu tadi, Minhyuk-ssi. Aku ingin sekali melihat orang itu memakai syal ini suatu saat nanti. Tapi…”

Belum sempat Jiyoung menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba terdengar lagu yang sangat familiar di telingaku. Lagu grup bandku, C.N. Blue, yang berjudul ‘Don’t Say Goodbye’. Jiyoung merogoh saku celananya. Ternyata lagu itu berasal dari handphonenya.

“Oh maaf, aku harus segera pergi,” kata Jiyoung setelah melihat layar handphonenya.

“Eh? Pergi kemana?”

“Ke suatu tempat. Ini panggilan telepon supaya aku cepat-cepat kesana,” jelasnya. “Minhyuk-ssi, aku titip syalku sebentar ya? Nanti akan aku ambil lagi kalau aku sempat.”

“Lho, tadi kamu bilang syal ini sangat penting untukmu? Kenapa dititipkan padaku?” tanyaku bingung.

“Karena syal ini tidak mungkin aku bawa kesana. Lagipula aku percaya padamu. Tolong jaga syalku ya. Jangan sampai hilang,” pesannya.

Aku hanya mengangguk sambil menerima syal berwarna biru muda itu. Hangat.

“Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu,” pamitnya.

Setelah Jiyoung menghilang dari balik pintu kamar, aku berjalan menuju tempat tidur dan meletakkan syal milik Jiyoung di samping bantal. Tidak lama kemudian, aku pun tertidur.

* * * *

Sepertinya tidak sampai 5 menit aku memejamkan mata, tiba-tiba aku merasa pipiku ditepuk-tepuk oleh seseorang. Tubuhku digoncang-goncangkan, dan kakiku dipukul-pukul dengan kencang.

“Hei Minhyuk, bangun! Minhyukah, kau tidak apa-apa? Hei, cepat bangun!”

Aku membuka kedua mataku dan tampaklah tiga wajah yang sangat aku kenal di hadapanku. Yonghwa hyung, Jonghyun hyung, dan Jungshin. Mereka bertiga tampak sangat khawatir.

“Minhyukah? Kau baik-baik saja?” tanya Yonghwa hyung.

Aku mengangguk pelan.

“Syukurlah. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Habis kamu tiba-tiba mengigau,” kata Jungshin.

“Siapa itu Jiyoung? Kang Jiyoung? Kamu memanggil-manggil nama itu terus dalam tidurmu, jadi kami memutuskan untuk membangunkanmu. Kami kira kau kenapa,” tanya Jonghyun hyung.

Aku tersenyum. “Dia adalah gadis yang ada di ranjang sebelahku. Kalian tidak bertemu dengannya? Oh, atau mungkin dia belum kembali? Nanti akan ku kenalkan kalian kepadanya.”

“Eh? Ranjang itu maksudmu?” tanya Jungshin sambil menunjuk tempat tidur Jiyoung.

“Iya. Memangnya kenapa?” tanyaku heran.

“Jangan bercanda, Minhyuk-ah. Dari kemarin kau sendirian kok di ruangan ini. Makanya manager mengizinkanmu dirawat di kamar kelas 1 ini, karena kamar ini kosong. Kamar VIP sudah penuh semalam, jadi terpaksa kau dirawat di kamar ini,” jelas Yonghwa hyung sambil menatapku aneh.

“Eh? Tapi…” Sebenarnya aku ingin membantah, tapi perasaan aneh segera menjalari tubuhku. Kulemparkan pandanganku ke arah kanan, tepatnya ke samping bantal. Ternyata syal berwarna biru muda itu masih ada disana. Langsung saja aku turun dari tempat tidur, lalu membuka pintu kamar dan berlari ke meja resepsionis.

“Suster!” panggilku.

“Ya? Ada apa, Minhyuk-ssi? Anda sudah sehat? Jangan berlari-lari di lorong seperti itu.” Seorang suster menegurku secara halus.

“Aku ingin bertanya tentang seorang pasien yang dirawat di kamar yang sama denganku. Kamar nomor 286. Namanya Kang Jiyoung.” Entah kenapa, aku bertanya dengan nada panik.

“Kamar 286? Kang Jiyoung-ssi?” tanya sang suster memastikan. “Apakah Kang Jiyoung yang kau maksud ini adalah gadis yang berambut coklat panjang sepunggung dan berponi? Suka memakai syal berwarna biru muda dan sering pergi ke atap rumah sakit?” lanjutnya.

“Ah, benar, itu dia! Apa suster tahu sekarang dia ada dimana? Dia tadi bilang padaku ingin pergi ke suatu tempat. Tapi sampai saat ini dia belum kembali juga. Aku sedikit khawatir. Jadi… “

“Maaf, Minhyuk-ssi. Gadis itu… sudah meninggal kemarin pagi, karena sakit leukemia,” jawab sang suster.

* * * *

Kang Minhyuk berdiri di hadapan sebuah makam. Di lehernya terlilit syal berwarna biru muda. Tangan kanannya menggenggam sebuket bunga yang cantik. Perlahan ia letakkan buket bunga itu dia atas batu nisan, yang terukir nama Kang Jiyoung di atasnya. Kemudian ia merogoh saku jasnya yang sebelah kiri, mengeluarkan sebuah amplop berawarna pink yang diberikan oleh suster di rumah sakit itu kepadanya. Dibukanya amplop pink itu dengan hati-hati, agar tidak merusak kertas surat di dalamnya. Minhyuk pun mulai membaca surat yang ada di tangannya itu.

Dear Minhyuk oppa…

Annyeong, Mnhyuk oppa ! Perkenalkan, namaku Kang Jiyoung, usiaku 17 tahun. Aku adalah fans beratmu lho, hehe ^^

 Saat kau membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Sejak 2 tahun yang lalu, aku divonis sakit leukemia oleh dokter. Karena itu, aku hanya bisa menghabiskan hari-hariku di rumah dan di rumah sakit. Orangtuaku melarangku untuk pergi ke sekolah karena khawatir akan kesehatanku. Tapi sejak C.N. Blue debut awal tahun lalu, aku merasa bersemangat lagi untuk hidup. Aku ingin sekali pergi menonton konsermu secara langsung. Tapi aku tahu hal itu tdak mungkin. Aku pernah membuat permohonan, semoga aku bisa bertemu dan berbincang-bincang denganmu, meskipun sebentaaaar saja. Tapi sepertinya permohonanku itu tidak akan pernah terkabul. L

Karena itu aku menulis surat ini dan menitipkannya kepada suster, dengan harapan suatu saat nanti aku bisa berbicara denganmu walaupun hanya melalui surat. Sebenarnya aku hanya inigin kau tahu bahwa ada seorang gadis yang menyukaimu, yang selalu memperhatikanmu meskipun hanya melalui layar kaca, dan akan selalu mendukung dan menyemangatimu. >___<

Oh iya, aku juga telah selesai merajut syal untukmu, hasil rajutanku sendiri loh. Oppa suka warna biru muda kan? Semoga kau suka, dan jangan lupa dipakai ya kalau kau sudah menerimanya nanti 😀

Sepertinya suratku cukup sampai disini saja. Sebab aku tidak tahu lagi apa yang harus aku tulis, hehe. Terima kasih ya sudah meluangkan waktumu untuk membaca surat ini. Padahal aku yakin kau pasti sangat sibuk. Jaga dirimu ya, jangan sampai jatuh sakit. Aku akan selalu mendukungmu. Saranghaeyo~

With Love,

Kang Jiyoung J

Minhyuk tersenyum membaca surat itu. Ditatapnya batu nisan di depannya dengan lembut. “Kau sudah pernah bertemu dan berbincang-bincang denganku secara langsung, bukan? Berarti permohonanmu sudah terkabul, Jiyoung-ah. Terima kasih telah menyukaiku. Terima kasih atas dukunganmu selama ini. Semoga kau bahagia disana. Aku harap, kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti,” ucapnya setengah berbisik.

 

– T H E  E N D –

 

 

May 5th, 2011 – 20:50 WIB

current location : In my own space.

current mood : Menanti pengumuman kelulusan~

current song : 쇼 하지마 by X-5

13 thoughts on “[FF Freelance] My Only Wish (Oneshot)

  1. Sad ending lagi.
    Ya ampun, mengharukan bgt !!
    Jiyoung kok mati sih ? Kasian bener.

  2. mengharukan :’)
    isi suratnya bener-bener kayak asli, sampe kebawa perasaan bacanya.
    hm, untuk sedikit saran aja nih, kalo bisa kata-kata seperti “kamu” atau “lho” dihilangkan, soalnya kata-kata itu terdengar nggak baku atau nggak formal, jd kurang nyaman bacanya hehe 😀
    tapi selain dari itu, suka banget sama ceritanya.
    mengharukan & sedih.
    buat FF Minhyuk & Jiyoung lagi dong! 😀

  3. Uwahh, mengharukan
    Ternyata namja yg diceritain Jiyoung itu Minhyuk sendiri.
    Huwaa
    Bikin FF MinYoung lagi dong !

  4. Sad…Kenapa Jiyoung dibuat mati…TT buat Jiyoung-Minhyuk lg dunk tp happy ending. suka bgt ma ni couple..><

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s