Scandal Maker (Part 3)

Author: Tirzsa

Title: Scandal Maker

Main cast:

  • 2PM’s Junho
  • Kim So Eun

Length: Chapter

Genre: Romance

Rating: PG-15

Disclaimer: My plot for sure.

Poster goes to: Altrisesilver

Previous part: [Part 1] | [Part 2]

-oOo-

Jam kuliah berakhir. So Eun memeluk papernya erat-erat dan berjalan keluar ruang kelas. Beberapa teman kelasnya tak sengaja menabraknya dan membuat paper-paper itu jatuh dari pelukan So Eun. Gadis itu mengeluh kesal karena orang-orang tak bertanggung jawab itu hanya berlalu begitu saja tanpa meminta maaf dan membantunya memungut paper-paper miliknya.

“Oh, maafkan mereka So Eun.” Tiba-tiba Gain datang dan membungkuk, membantu So Eun memungut paper-paper itu. Sikap Gain yang tiba-tiba itu membuat bulu kuduk So Eun merinding. “Mereka sedang terburu-buru untuk pergi ke fanmeeting. Kau datang, kan?”

So Eun mengerutkan dahi. “Fanmeeting?”

“Oh? Junho tak memberitahumu bahwa 2PM akan mengadakan fanmeeting sore ini?”

Walaupun ini terdengar konyol karena semua telah menganggap bahwa So Eun adalah yeojachingu Junho, tapi So Eun memaksakan diri untuk tidak merasa jijik dengan status barunya sebagai yeojachingu Junho.

Saat itu So Eun hanya bisa menyeringai gugup kearah Gain lalu berujar dengan nada tenang, “Oh, mungkin Junho lupa mengatakan padaku. Kau tahu, kan, ia sangat sibuk akhir-akhir ini.”

Gain balas tersenyum dan mengangguk. “Ne, bisa kumaklumi. Kalau begitu, kau ingin berangkat bersamaku untuk ke fanmeeting itu?”

“Ah? Ne?” So Eun menyahut dengan suara tergagap.

“Kita berangkat bersama dan…” Gain tersenyum hangat dan berbisik, “Kau bisa mengenalkan Junho padaku.”

So Eun merasakan ketakutan itu menjalar ke tulang punggungnya. Ini sungguh diluar ekspektasinya. Dan kini ia tahu mengapa Gain memperlakukannya dengan sangat baik dan ramah. Gadis licik itu ingin memanfaatkan dirinya untuk mengenal Junho lebih dekat. Disisi lain, mungkin ini menjadi pertanda bahwa rencana So Eun telah dimulai.

-oOo-

“Sejak kapan kalian berhubungan?” tanya Gain begitu keduanya telah duduk dengan nyaman didalam mobil.

“Hm.. Soal itu..”

“Aku melihat fotomu saat naik ke panggung! Kau diberi bunga oleh Junho!” seru Gain bersemangat. “Apakah kalian memulai hubungan kalian dari situ? Atau bahkan sebelumnya?”

“Aku..” Belum sempat So Eun menjelaskan dan menyusun kebohongan, untungnya Gain sudah memotong pembicaraan lagi.

“Dan aku juga melihat fotomu saat berpelukan dengan Junho. Junho sangat perhatian dan hangat padamu,” kata Gain dengan nada iri.

So Eun mengulum senyum dengan paksa. Junho sangat perhatian dan hangat? Ini benar-benar sinting!

So Eun bisa bernapas lega dan tak perlu tergagap-gagap seperti orang tolol untuk menyusun cerita tentang Junho pada Gain, karena Gain telah mengambil alih semua pembicaraan. Gadis itu terus menggumam tentang Junho. Membicarakan mengapa ia mencintai Junho, sejak kapan ia jatuh cinta pada pemuda itu dan mimpi-mimpinya tentang Junho.

30 menit berlalu. Mobil Gain berhenti disalah satu toko pakaian yang ada dialun-alun kita. Toko pakaian “NEPA”, salah satu merek pakaian yang menggunakan 2PM sebagai ikon merek mereka. Didepan toko, telah tersusun antrian yang sangat panjang—didominan oleh perempuan.

“Lihatlah antrian itu!” Gain menunjuk antrian itu dari balik kaca mobil. “Apakah menurutmu 2PM sudah ada didalam? Kita pasti akan menunggu sangat lama jika antriannya sepanjang itu,” gerutunya.

So Eun hanya diam dan ikut memerhatikan toko itu tanpa merasa tertarik. Tapi sejurus kemudian Gain beralih menatapnya dan tersenyum kearahnya—senyuman yang mengerikan!—seolah memberi suatu kode rahasia pada So Eun. Sayangnya, So Eun sendiri tak mengerti dengan kode yang diberikan Gain melalui senyumannya yang mengerikan itu.

Karena melihat raut So Eun yang kunjung tak mengerti dengan kode yang diberikannya, Gain akhirnya berbicara dengan suara lantang, “Teleponlah Junho dan katakan bahwa kau ingin bertemu dengannya.”

“Hm, entahlah, kupikir Junho sedang tidak bisa mengangkat telepon saat ini,” ujar So Eun berbohong. “Lagipula, kita harus mengantri bersama mereka jika ingin bertemu dengannya.”

“Ya Tuhan!” Gain menggeleng-gelengkan kepalanya dengan perasaan frustasi. “Kita mungkin harus ikut mengantri bersama mereka tapi kau adalah yeojachingu Junho, ingat? Kau adalah orang spesial jadi kau punya hak spesial juga untuk bertemu dengan Junho secara spesial, bukan?”

So Eun menelan ludah. Rasa takut dan cemas itu kembali muncul. Otaknya berputar 10 kali untuk memikirkan jawaban yang tepat. Ia bahkan tidak mengetahui nomor telepon Junho, bagaimana bisa ia menghubungi pemuda itu?

“Apa yang kau lakukan? Cepat lakukan sesuatu!”

Gain mulai mendesak dan So Eun semakin panik. Dengan terpaksa, So Eun membuka pintu mobil dengan tangan gemetar. Sebelum menutup pintu, gadis itu tersenyum hangat kearah Gain. “Tunggu sebentar disini. Aku akan menemui Junho sekarang.”

-oOo-

So Eun masuk melalui pintu belakang toko dan melihat sebuah tenda berwarna merah cukup besar disana. Suasana dibelakang toko juga tak jauh berbeda dengan didepan toko. Sangat ramai. Bedanya, orang-orang yang berlalu-lalang dibelakang toko bukan untuk bertemu dengan 2PM. Justru merekalah yang mengatur fanmeeting itu.

“Dimana dia?”

So Eun mengamati satu per satu wajah dari orang-orang tersebut dengan bermaksud untuk mencari-cari sosok Junho diantara mereka. Tapi Junho ataupun member 2PM yang lain bahkan tak menampakkan batang hidung mereka dan ini semakin membuat So Eun gelisah.

“Ya, mwohaneungoya?”

So Eun terlonjak ketika mendengar suara berat seorang pria dari balik punggungnya. Dan ketika ia menoleh, ia merasa tak asing dengan wajah pria yang ada dihadapannya itu. Bukankah ia pria yang datang bersama Junho dan Taecyeon saat itu? Aku lupa dengan namanya. Sesuatu yang dimulai dengan huruf ‘M’.

“Apa kau tidak mendengarku?!” Minjae berteriak keras untuk menyadarkan So Eun dari lamunannya.

“Oh, mianhae. Kau adalah manajer 2PM, kan?”

“Ne, mau apa kau kemari? Bukannya kau adalah antis? Mengapa kau datang ke fanmeeting 2PM?” sindir Minjae dengan sorot sinis.

So Eun ikut tertawa sinis. “Ya, aku datang kemari bukan untuk mengantri bersama gadis-gadis centil itu dan meminta tanda tangan 2PM. Aku datang kemari untuk bertemu Junho. Aku ingin membuat perhitungan dengannya.”

“Perhitungan macam apa? Bukankah Junho sudah mengatakan padamu bahwa ia tidak ingin diganggu lagi olehmu?”

“Katakan saja padaku, dimana Junho?”

Minjae tersenyum penuh kemenangan. “Mianhae, tapi Junho tidak punya waktu untuk bertemu dengan gadis jahat sepertimu.”

“Oh ya?” So Eun membalas dengan nada sarkatis. “Bagaimana jika aku menunjukkan foto ini padanya? Apakah ia masih tidak ingin bertemu denganku?”

Ketika So Eun menarik ponselnya dari saku dan menunjukkan salah satu gambar dari galeri ponselnya pada Minjae, mata pria itu membulat. Seolah ia baru saja melihat sesuatu yang begitu haram untuk dilihat. Foto Junho memeluk So Eun.

“Bagaimana bisa—?”

“Bukan aku yang mengambil. Tapi seseorang. Mungkin wartawan atau siapapun itu, aku tidak peduli. Yang jelas, aku ingin bertemu Junho sekarang. Atau aku akan mengaku didepan semua gadis-gadis itu bahwa aku adalah yeojachingu Junho.”

Untuk beberapa saat, Minjae terdiam dan menatap So Eun bingung. Dan begitu melihat kerut-merut wajah Minjae yang menyiratkan kebingungan, So Eun kembali menjelaskan maksudnya dengan suara tenang dan jernih.

“Intinya, aku ingin bertemu Junho sekarang dan membicarakan soal foto ini.”

“Foto apa?”

Minjae dan So Eun dengan serentak menoleh begitu mendengar suara seorang pemuda dari belakang mereka. Junho berdiri disana dengan raut bingung dan juga terkejut—mungkin karena harus bertemu lagi dengan antisnya, So Eun.

“Neo!” Tenggorokan Junho tercekat. “Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya sambil menuding So Eun.

“Aku ingin bicara denganmu,” jawab So Eun dingin. Ia mengangkat ponselnya dan menunjukkan foto tersebut didepan wajah Junho. “Tentang foto ini.”

Tak jauh berbeda dengan ekspresi Minjae sebelumnya, Junho juga terkejut saat melihat foto tersebut. Ia hendak merampas ponsel So Eun dengan marah tapi So Eun dengan sigap menghindarkan ponselnya dari jangkauan tangan pemuda itu.

“Ya, darimana kau mendapatkan foto itu?!” teriak Junho frustasi.

“Kita harus bicara terlebih dahulu. Tapi tidak disini.”

Wajah Junho terlihat memerah karena amarah. “Serahkan foto itu sekarang atau aku akan melaporkanmu pada polisi.”

“Lakukan saja jika kau mau,” kata So Eun sambil tersenyum sinis. “Aku tidak akan takut pada ancamanmu. Aku juga akan mengaku didepan publik bahwa aku adalah yeojachingu Junho. Dan mereka akan percaya saat aku menunjukkan gambar ini pada mereka. Jika kau bersikeras ingin melaporkanku pada polisi, lihat saja, bagaimana reaksi para fansmu melihatmu melaporkan ‘yeojachingu’-mu ke polisi.”

Junho melirik Minjae yang ikut terdiam bersamanya. So Eun benar-benar diluar dugaannya. Gadis itu kejam, penuh ambisi, dan tak punya perasaan.

“Baiklah,” kata Junho setelah emosinya mereda. “Apa yang kau inginkan?”

-oOo-

3 jam berlalu. Antrian panjang di depan toko pakaian itu semakin berkurang dan hingga kini hanya tersisa beberapa orang saja—bisa dihitung dengan jari. Gain berdiri dengan tidak sabar disebelah pohon dekat toko itu dengan gelisah. Udara dingin musim dingin semakin membuatnya tidak betah menunggu lebih lama. Dan walaupun ia menunggu didalam mobil dan tidak perlu merasakan dinginnya udara, hatinya tetap akan gelisah menanti So Eun muncul dari balik gedung toko itu.

“Mengapa dia lama sekali?” gerutunya kesal.

Gain menghentak-hentakkan kakinya keatas trotoar dengan kesal. Matanya tak tenang untuk menanti antrian panjang itu berakhir. Dari balik jendela transparan toko itu, Gain bisa melihat member 2PM duduk berjejer disebuah meja panjang dan menyalami fans. Ia begitu ingin masuk ke dalam dan bertemu mereka, tapi So Eun mencegatnya dan mengatakan bahwa Gain bisa bertemu dengan mereka secara spesial tanpa harus mengikuti prosedur yang ada.

“Gain! Gain!”

Gain menoleh ke belakang ketika mendengar seseorang berbisik memanggil-manggil namanya. So Eun berdiri dari balik gedung, menjulurkan setengah badannya dan melambaikan tangan kearah Gain. Gadis itu berlari kearah So Eun dengan perasaan bersemangat dan bahagia.

“Kau sudah bertemu Junho?” tanya Gain.

So Eun mengangguk. “Mereka akan mengakhiri acara fanmeeting sekitar 20 menit lagi. Aku harap kau masih betah menunggu.”

Gain mengangguk antusias dan menggosok-gosok hidungnya yang merah karena kedinginan. “Gwaenchanha. Aku akan tetap menunggu mereka.”

So Eun mengamati wajah Gain yang berseri-seri dan menggumam pada hatinya, “Dasar fans tolol. Mau saja mengorbankan dirinya menunggu dibawah langit musim dingin hanya untuk bertemu 6 pria yang sama tololnya dengan dirinya. Cih!”

20 menit berlalu dan Gain semakin tak sabar. Kaki jaketnya kusut karena ia terus mencengkeram dan menarik-nariknya sebagai pelampiasan perasaannya yang bergejolak. Dan perasaan Gain serasa ingin meledak ketika ia melihat satu per satu member 2PM keluar dari pintu belakang gedung. So Eun melompat dari kursinya ketika ia melihat Junho keluar dari sana dan meraih lengan pemuda itu lalu menariknya kearah Gain.

“Gain,” kata So Eun dengan wajah merona palsunya. “Perkenalkan, ini Lee Junho, namjachinguku.”

Junho tersenyum getir kearah Gain dan membungkuk sekilas. “Annyeonghaseo! Junho imnida. Bangapseumnida.”

Gain menganga dan tampak menahan napas saat dapat melihat Junho dalam jarak yang sangat dekat. Ia langsung meraih tangan Junho hingga So Eun terpaksa harus melepaskan genggamannya dari tangan pemuda itu. Gain menyalami Junho dengan gerakan cepat dan penuh semangat.

“Oh, bangapseumnida. Gain imnida. Aku adalah fansmu.”

“Ah, ne. Aku banyak mendengarmu dari So Eun,” kata Junho sambil melirik gadis yang ada disampingnya.

“Oh, jeongmalyo?” Gain menatap So Eun dengan raut terharu. “Omo, aku tidak tahu So Eun akan menceritakan banyak hal tentangku. Kami memang bersahabat sangat dekat.”

So Eun nyaris muntah dan menonjok wajah Gain saat gadis licik itu tersenyum ramah kearahnya dan bahkan menarik tubuh So Eun dan mendekapnya dengan sengaja. Junho hanya tertawa pelan melihat tingkah aneh Gain. Sementara pertemuan spesial itu berlanjut, Gain sibuk mengobrol dengan member 2PM lainnya, So Eun segera menarik Junho keluar dari bualan Gain tentang hubungan persahabatan mereka.

“Aku sudah mengikuti maumu, bukan?” kata Junho dengan nada kesal. “Sekarang, apa lagi yang kau inginkan?”

So Eun mengusap dagunya dan melirik pemandangan didepannya—Gain dan member 2PM yang sedang bercengkerama layaknya beberapa teman lama yang baru saja bertemu—dan entah mengapa merasa senang dan puas dengan permainan ini. Diluar dugaannya—walaupun rencananya berjalan keluar dari koridor yang seharusnya—tapi So Eun merasa bahagia bisa mempermainkan Junho layaknya boneka.

“Kita masih harus membicarakan beberapa hal lainnya,” kata So Eun.

Junho mendesah. “Baiklah, kita akan membicarakannya. Tapi jangan disini.”

“Setuju!”

-oOo-

McDonald. Udara bau minyak goreng. Dan So Eun sangat menyukai wangi itu. Gadis itu berlari kecil menuju bar kasir sambil menarik seorang pemuda yang menggunakan topi dan kacamata hitam yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Seorang penjaga kasir itu tersenyum ramah kearah So Eun.

“Anda ingin memesan apa?”

So Eun menoleh kearah pemuda asing disebelahnya—Junho dan bertanya dengan suara nyaring, “Kau ingin makan apa?”

“Terserah kau saja,” kata Junho sambil menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya. Suasana resto fastfood yang cukup ramai itu akan gempar jika mengetahui keberadaan dirinya disana.

“Baiklah. Aku ingin tiga porsi burger. Ekstra keju dan daging. Lalu tiga porsi kentang, acar, dan dua Cola,” kata So Eun pada penjaga kasir.

Junho memelototi So Eun dari balik kacamata hitamnya dan mendesis, “Ya, apa kau sudah gila mau memesan makanan sebanyak itu? Kau bahkan memesan tiga porsi burger, kentang dan acar, apa perutmu terbuat dari karet?”

So Eun menjulurkan lidahnya kearah pemuda itu. “Terserah padaku.”

“Semuanya 13.000 won,” kata petugas kasir.

Junho menatap So Eun dengan kesal dan mengeluarkan dompet dari saku belakangnya. Setelah membayar makanan itu, So Eun segera berlari kearah kamar mandi dan meninggalkan Junho seorang diri.

“Ya, eodiya?” teriak Junho.

“Kamar kecil. Tolong bawakan makanan itu ke meja. Terserah ke meja yang mana saja,” balas So Eun berteriak lalu akhirnya menghilang dari balik pintu kamar kecil.

Junho mendengus dan mengangkat nampan yang hampir kehilangan spasi karena penuh oleh sesak makanan dengan terhuyung-huyung. Ia berjalan dengan hati-hati menuju meja kosong yang ada disudut, dekat jendela, tersembunyi dibalik permainan luncuran dan laut bola warna-warni. Seusai meletakkan nampan itu keatas meja, Junho duduk diam menunggu So Eun keluar dari kamar kecil tanpa melirik makanannya sama sekali.

5 menit kemudian, Junho bisa melihat gadis itu keluar dari sana sambil mengeringkan tangannya dengan tissue toilet. Gadis itu menghampiri Junho dan menatap makanan pesanannya dengan sorot rakus. Ia memisahkan makanan pesanannya dari milik Junho dan langsung melahapnya tanpa menunggu aba-aba lagi.

Junho mengamati gadis itu dengan sorot jijik. “Ya, kau ini perempuan tapi cara makanmu seperti binatang! Sama sekali tak beradab!”

Setelah menyuap mulutnya dengan potongan kentang, So Eun mendongak dan menatap pemuda dihadapannya dengan kesal. “Ya, apa urusannya denganmu? Memangnya kau ingin melakukan apa? Makan dengan anggun dihadapanmu? Meminta ijin padamu untuk makan duluan? Bermimpilah!”

Junho menghela napas. Ia menjulurkan tangannya tanpa melihat dan meraih potongan kentang. Tapi So Eun segera menepis tangan Junho dengan kasar dan berteriak dengan marah, “Ya, kau makan saja acar itu, aku memesankan itu untukmu!”

Pemuda itu terperangah. “Mwo? Kau memesan tiga porsi burger dan kentang hanya untuk dirimu sendiri, sementara aku hanya memakan acar ini?”

So Eun mengangguk sambil terus mengunyah. “Oh ya, dan dua porsi acar itu milikku. Kau boleh mengambil satu porsi acar dan Cola.”

Pemuda itu menghela napas dan mengusap wajahnya. Gadis ini benar-benar sinting!

-oOo-

Junho mengamati piring-piring kosong dan kotor yang ada diatas meja dengan raut takjub. Ia masih belum percaya gadis dihadapannya itu yang sudah menghabiskan burger, kentang, acar dan Cola itu sekaligus. Dan So Eun dengan tenang menarik selembar tissue dari kotaknya dan menyeka mulutnya yang berminyak dan penuh oleh remah kentang.

“Baiklah,” kata Junho dengan nada tinggi. “Sekarang, katakan padaku, apa lagi yang kau inginkan dariku?”

So Eun meremas-remas tissue tersebut dan membuangnya ke tempat sampah. Ia kembali fokus dan berdeham. “Baiklah. Permintaanku sangat sederhana. Tapi kemungkinan besar, kau akan menolak permintaanku.”

Junho mengangkat alis dan menyandarkan bahunya ke sandaran kursi. “Kalau begitu kau tak perlu bertanya karena kau sudah mengetahui jawabannya.”

“Ani. Ani,” sergah So Eun santai. “Tapi bisa dipastikan foto tersebut akan memaksamu untuk mengikuti permintaanku, bukan?”

Junho menghela napas berat. “Baiklah, katakan padaku, apa yang kau inginkan?”

“Aku..” So Eun menggantung perkataannya untuk beberapa detik lalu menyelesaikannya dengan sebuah seringai penuh kemenangan. “Ingin tinggal bersama kalian di dorm.”

“Mwo? Di dorm? Bersama kami? Apa kau sudah sinting?!” Junho bangkit berdiri dan memperbaiki topinya. “Ani. Kau tidak bisa tinggal bersama kami. Kau adalah perempuan dan tak boleh tinggal bersama enam orang pemuda.”

“Waeyo?” So Eun mengangkat alisnya. “Kau khawatir denganku? Kau khawatir jika dari kelima temanmu itu atau bahkan kau, akan melakukan sesuatu padaku saat di dorm kalian?”

Junho tertawa miris. “Bermimpilah. Kami berenam tak berselera melihat gadis kurus sepertimu. Aku hanya tak ingin kau tinggal bersama kami, bahkan walaupun kau adalah seorang pria. Dorm kami adalah privasi kami. Tak boleh ada yang masuk kesana tanpa seijin kami.”

“Kalau begitu, kalian harus segera mendiskusikan hal ini untuk menyambut penghuni dorm baru kalian.”

Junho mengepalkan kedua tangannya dengan emosi. Ia mulai tak tahan dengan tingkah So Eun yang menyebalkan. “Tak cukupkah aku berpura-pura sebagai namjachingumu? Tak cukupkah aku mengikuti keinginanmu untuk membayar semua junkfood ini? Uangku berkurang hanya untuk membiayai makan siang seorang antisku!”

So Eun baru saja akan membela diri saat ponsel Junho berdering. Dan begitu Junho melihat layar ponselnya, ia menelan ludah melihat nama Park Jinyoung berkedip-kedip disana. Jika Jinyoung menghubunginya secara langsung tanpa perantara Minjae, sudah dapat dipastikan ada masalah yang terjadi di kantor saat itu.

“Yeobboseo?” Junho menyahut dengan suara pelan dan gugup.

“Lee Junho!” teriak Jinyoung kesal. “Dimana kau sekarang?”

“Aku berada disalah satu restoran fastfood dialun-alun kota, hyung. Waeyo?”

“Sedang apa kau disana? Dan bersama siapa? Mengapa kau tidak kembali ke kantor bersama Minjae dan yang lain?”

“Aku sudah mengatakan pada Minjae hyung bahwa aku..”

“Tidak ada alasan!” potong Jinyoung. “Minjae menunjukkan sebuah foto padaku. Fotomu berpelukan dengan seorang gadis dikantor. Kau tahu apa artinya itu, Junho? Kita harus bicara sekarang juga!”

Wajah Junho berubah pucat. Dan So Eun berusaha mengartikan raut wajah Junho. Apakah terjadi sesuatu? Mengapa wajahnya terlihat pucat seperti itu?

Setelah menutup telepon, raut Junho yang tadinya pucat berubah drastis menjadi dingin dan tajam. Ia menatap So Eun dengan tajam dan meraih lengan gadis itu. “Kita akan ke kantor JYP sekarang dan kau harus ikut denganku!”

-oOo-

“Ini benar-benar konyol!” teriak Jinyoung putus asa. Suaranya bergema diruang kantornya sendiri dan membuat bulu kuduk Junho dan So Eun berdiri. Untuk beberapa alasan, So Eun yang baru dua kali mengunjungi kantor pribadi Jinyoung mulai merasa familiar dengan ruangan itu dan merasa aman serta nyaman.

“Aku tak bermaksud untuk memeluknya, hyung. Hanya saja keadaan yang memaksaku,” sela Junho. Mereka sedang membahas tentang keberadaan foto Junho memeluk So Eun yang kini menyebar di internet. Sejauh ini, belum ada respon yang berarti dari para fans ataupun antis, tapi Jinyoung sangat waspada dan menjaga diri dari hal-hal yang tidak diinginkan.

“Baiklah. Terserah kau saja,” kata Jinyoung sambil menghela napas. “ Apapun alasanmu, aku tidak peduli. Ini semua sudah terjadi. Kau memeluknya. Kalian difoto dan foto tersebut menyebar di internet. Katakan padaku, seperti apa reaksi fans sekarang?”

“Mungkin beberapa fansku tidak akan senang dengan hal itu,” komentar Junho.

“Ne, dan menurutmu, apa yang harus kita lakukan pada gadis ini jika hal itu benar-benar terjadi?” tanya Jinyoung sambil menuding So Eun yang tertunduk.

Junho menarik napas panjang dan berpaling pada So Eun. Keduanya saling bertatapan. “Sebaiknya kita..”

“Chakkaman!” potong Jinyoung. Ia merogoh ponselnya dari saku dan berjalan ke sudut ruangan tepat didepan jendela.

Junho dan So Eun kembali bertukar pandang dan fokus pada Jinyoung. Mereka memasang telinga dan mencoba mendengar percakapan Jinyoung ditelepon dengan seseorang diseberang sana.

“Yeobboseo?” sahut Jinyoung pelan.

“Jinyoung, sepertinya aku harus berterimakasih padamu. Kau sangat jenius!” seru Soo Man diseberang telepon.

“Ne, aku memang jenius,” Jinyoung terkekeh pelan lalu bertanya, “Memangnya apa yang telah kulakukan?”

“Soal Junho dan foto itu. Sejak foto itu beredar, tak ada lagi yang memercayai rumor itu. Tak ada lagi antis f(x) yang datang ke kantor kami. Itu sangat melegakan. Ide kalian sangat cemerlang.” Soo Man tergelak diujung telepon, membuat Jinyoung menghela napas lega.

“Oh, jeongmalyo? Syukurlah kalau begitu.” Jinyoung tersenyum. Ia menoleh ke belakang dan mengerlingkan sebelah matanya kearah Junho.

Junho mendelik tak mengerti saat Jinyoung melakukan itu. Sementara raut So Eun mengerut jijik. Ia mendekat kearah Junho dan berbisik pelan, “Apakah dia homo?”

Setelah berbasa-basi sebentar, Jinyoung kembali menutup telepon dan menemui dua anak muda itu. Wajahnya yang tadinya penuh oleh kerut-merut karena amarah berubah menjadi cerah dan penuh oleh kehangatan. Junho dan So Eun berusaha untuk mencerna dan mengartikan raut wajah Jinyoung yang berubah drastis. Tapi akan berakhir dengan kerutan dikening.

“Baiklah,” Jinyoung menepuk tangan sekali dan tersenyum kearah keduanya. “Junho, aku pikir, kita bertindak salah jika kita harus mengancam gadis ini atau melaporkannya ke polisi. Aku pikir, kita harus memperlakukannya dengan baik sebagai tanda terimakasih.”

Junho mengerutkan kening. “Mwo?”

-oOo-

“Aku tidak menyangka bahwa kau mau tinggal bersama enam pemuda itu,” kata Kimbum sambil mengangkat kardus-kardus berisi barang-barang So Eun ke bagasi taksi. “Aku semakin meragukan bahwa kau adalah antis mereka.”

So Eun mendengus. Ia menarik tas travel terakhirnya—dan dengan bantuan Kimbum—mengangkatnya ke bagasi taksi. Gadis itu menghela napas dan tersenyum kearah Kimbum. “Tenang saja, oppa. Aku mengajukan permintaan untuk tinggal bersama mereka selama beberapa bulan ke depan, bukan sebagai seorang fans. Tapi sebagai antis. Ingat, aku punya misi untuk menghancurkan nama mereka. Aku yakin, saat tiba di dorm, aku semakin leluasa untuk mencari-cari hal-hal yang bisa dijadikan untuk merusak nama mereka.”

“Tapi, bagaimana jika mereka mendapatimu melakukan hal itu? Bagaimana jika mereka melakukan sesuatu padamu? Dan..”

So Eun meletakkan telunjuknya didepan bibir Kimbum untuk menghentikan pemuda itu mengoceh. “Aku tahu kau begitu mengkhawatirkanku, oppa,” katanya lembut, “Tapi, aku mohon, percayalah padaku. Aku akan menjaga dirimu. Kalaupun mereka melakukan sesuatu padaku, mereka harus berpikir jutaan kali kali.”

Kimbum meraih tangan So Eun dan menggenggamnya erat. Selama ini, ia sudah menganggap So Eun sebagai dongsaengnya sendiri. Ia sangat menyayangi So Eun dan sangat ingin melindunginya. Membiarkan So Eun tinggal seapartemen dengan enam orang pemuda mungkin sangat sinting, tapi Kimbum yakin, So Eun bisa menjaga diri dan gadis itu punya maksud tertentu yang ia sendiri tak bisa kelak.

“Aku melakukan ini demi kita, oppa,” kata So Eun. “Dan juga demi dia.”

Kimbum menghela napas dan mengangguk. “Ne, aku tahu dan aku percaya padamu. Tapi ijinkan aku untuk mengantarmu kesana. Kau tidak bisa mengangkat barang-barangmu sendiri dan aku yakin ke enam pemuda angkuh itu tidak akan mau membawakan barangmu.”

So Eun tertawa geli. “Ne, aku pikir juga begitu.”

-oOo-

“Ia akan datang sore ini. Pastikan kamar itu bersih. Dan aku mohon kepada kalian berenam untuk tidak berbuat yang macam-macam terhadapnya. Mengerti?”

Keenam pemuda itu—Junho, Wooyoung, Taecyeon, Nichkhun, Junsu, dan Chansung—mengangguk pasrah. Roman wajah mereka datar, tak bersemangat. Kamar kosong yang pernah digunakan Jaebum kini telah dikosongkan dan akan menjadi kamar milik So Eun. Dan mereka harus mulai membiasakan diri dengan keadaan baru itu.

Melihat Jinyoung dan Minjae yang sibuk memberi komando kepada beberapa OB dari kantor JYPE untuk membersihkan kamar Jaebum membuat Nichkhun frustasi. Pemuda itu bangkit berdiri dan menghampiri Jinyoung dan Minjae dikamar tersebut.

“Hyung, apakah ini tidak keterlaluan? Mengapa kalian membiarkan seorang gadis tinggal diapartemen kami?” keluh Nichkhun.

“Tenanglah, Nichkhun,” Jinyoung menepuk bahu pemuda itu lalu berjalan menuju ruang TV, menemui lima pemuda lainnya, sementara Nichkhun menyusul dari belakang. “So Eun hanya akan tinggal disini untuk beberapa lama. Aku harap kalian akan cukup sabar untuk berhadapan dengannya. Ini kulakukan untuk menjaga nama baik 2PM dan terutama Junho. So Eun punya peran penting dalam skandal itu. Untuk saat ini, kita harus berterimakasih padanya karena skandal Junho bersama Krystal telah menguap dan tak menjadi bahasan lagi. Tapi disisi lain, kita harus menjaga perasaan So Eun, jangan sampai ia tersinggung dan mengatakan ke media bahwa foto itu hanya rekayasa untuk mengalihkan issue yang ada.”

“Tapi,” sela Wooyoung. “Mengapa permintaannya harus seaneh ini? Bukankah dia adalah seorang antis? Mengapa ia mau tinggal bersama orang yang ia benci? Bukankah itu terdengar aneh?”

Junho tersenyum sinis. “Dia memang sangat licik,” gumamnya. “Dia ingin memanfaatkan ini untuk mengetahui privasi buruk kita dan menyebarkannya ke media. Bukankah itu lebih buruk?”

“Oke, hentikan semua perdebatan ini,” kata Jinyoung menyudahi. “Pastikan saja bahwa tidak ada hal buruk yang kalian lakukan selama So Eun tinggal disini. Dan bersihkan kamar kalian masing-masing, jangan sampai dia menemukan sesuatu yang menjijikkan disana. Mengerti?”

Keenam pemuda itu mengangguk dengan ragu. Beberapa saat kemudian, terdengar sebuah langkah kaki dari arah luar koridor apartemen. Begitu mereka menoleh, So Eun muncul disana membawa sebuah kardus kecil dipelukannya.

“Annyeonghaseo!” sapanya ramah. Gadis itu membungkuk dan tersenyum kearah Jinyoung.

“Oh, annyeonghaseo! Selamat datang di dorm 2PM. Kami sudah membersihkan kamar kosong disana. Hanya ini barangmu?” Jinyoung menunjuk kardus kecil yang ada dipelukan So Eun.

Gadis itu menggeleng. “Ani, masih ada beberapa kardus besar diluar. Aku membawa seorang teman, dia ingin membantuku untuk membawakan barang-barangku.”

“Oh? Jinjjayo? Mengapa temanmu harus melakukan hal serepot itu? Aku punya enam pemuda berbadan besar disini, kau bisa meminta tolong pada mereka untuk membawakan barang-barangmu,” kata Jinyoung sambil tertawa dan melirik enam pemuda dibelakangnya.

Keenam pemuda dibelakangnya hanya mendengus kesal dan membuang muka. Melihat keenamnya tak juga bergerak dan bangkit berdiri, Jinyoung memelototi mereka satu per satu dan memberi kode dengan gerakan bibir. Cepat bantu So Eun mengangkat barang-barangnya!

“Tapi, hyung..” rengek Wooyoung.

“Ya, ppali!” teriak Jinyoung kesal.

Keenam pemuda itu menghela napas berat lalu akhirnya bangkit berdiri dan menghilang dari balik pintu depan apartemen. So Eun tersenyum puas melihat wajah-wajah lusuh pemuda itu lalu kembali melanjutkan obrolannya dengan Jinyoung.

***

“Ini benar-benar konyol!” keluh Nichkhun. “Dia tinggal bersama kita dan sekarang kita diperlakukan layaknya pengawal dan pembantu. Terimakasih, Junho.” Nichkhun melirik kearah Junho dengan kesal.

“Ya, hyung, ini bukan salahku!” sergah Junho. Dia menunjuk Taecyeon yang berjalan paling lambat dibelakang, “Ini ulah Taecyeon hyung. Dia yang mencetuskan ide itu untukku.”

“Ya, hentikan kalian berdua!” kata Junsu dengan nada frustasi. “Tidak ada gunanya untuk berdebat. Lakukan saja apa yang diperintahkan.”

Nichkhun yang masih kesal hanya bisa mendengus. Ia membuang muka dan melipat kedua lengannya diatas dada.

Sesampainya didepan pintu utama gedung, keenamnya melihat seorang pemuda mengeluarkan kardus-kardus besar dari bagasi taksi. Mereka mengamati sekeliling mereka dan tak melihat apapun selain taksi yang parkir didepan sana lalu meyakini bahwa pemuda itu adalah teman So Eun.

Wooyoung berjalan duluan menghampiri pemuda itu. “Butuh bantuan?”

Pemuda itu—Kimbum—menengadah dan sedikit terkejut saat melihat keenam pemuda itu mengelilinginya. “Oh, ne, ini barang-barang milik So Eun. Aku berniatnya membawanya keatas.”

“Tidak usah,” kata Junho. Pemuda itu tiba-tiba maju dan meraih kardus yang ada dipelukan Kimbum. “Biar kami yang membawanya. Kau bisa pulang sekarang.”

Saat Junho hendak mengambil kardus itu dari pelukan Kimbum, pemuda itu menjauhkan kardus itu dari Junho. Junho menatap heran kearah Kimbum, sementara pemuda itu balas menatap dengan tatapan dingin.

“Kau bisa membawa barang-barang yang lain,” kata Kimbum sambil melirik kardus-kardus besar lainnya yang ada diatas jalan. “Kecuali yang satu ini. Didalam kardus ini ada barang-barang yang sangat berharga dan aku tidak akan memercayakannya lagi padamu.”

Junho mengernyit bingung. Tapi Kimbum hanya mengatakan hal itu padanya tanpa bermaksud menjelaskan apa maksud ucapannya. Kimbum menerobos keenam pemuda yang ada dihadapannya dan berjalan duluan masuk ke dalam apartemen. Sementara Junho masih tak melepaskan pandangannya dari Kimbum sampai Kimbum menghilang dari balik pintu gedung.

“Apa maksud perkataannya tadi?” tanya Junsu. “Apakah kalian sudah pernah bertemu atau saling mengenal sebelumnya?”

Junho menjilati bibirnya dan mengangkat bahu. “Entahlah. Aku tidak begitu ingat.”

To be continued..

89 thoughts on “Scandal Maker (Part 3)

  1. Waduuh ada apa nich ma kimbum n junho??..jangan” ada dendam masa lalu nich..
    Penasaran banget,langsung baca part selanjut nya hhehe

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s