Scandal Maker (Part 4)

Author: Tirzsa

Title: Scandal Maker

Main cast:

  • 2PM’s Junho
  • Kim So Eun

Length: Chapter

Genre: Romance

Rating: PG-15

Disclaimer: My plot for sure.

Poster goes to: Altrisesilver

Previous part: [Part 1] | [Part 2] | [Part 3]

-oOo-

“Gomawo, oppa, sudah membantuku membawakan barang-barangku,” kata So Eun sambil tersenyum kearah Kimbum.

Pemuda itu mengangguk. Ia mengusap pelan rambut So Eun dan berkata, “Ne, cheonmaneyo. Aku akan pulang sekarang dan jaga dirimu baik-baik.”

So Eun mengantar Kimbum sampai ke depan pintu gedung apartemen dan menunggu sampai taksi yang ditumpangi Kimbum menghilang dibelokan pertama. Seusainya, ia segera kembali ke apartemen dan tak melihat satu pun dari mereka—Junho, Nichkhun, Chansung, Junsu, Taecyeon, dan Wooyoung—ada diruang TV. Gadis itu melihat pintu kamar mereka yang masing-masing tertutup rapat.

Mungkin mereka sedang beristirahat, batin So Eun.

So Eun berjalan menuju kamar dan baru menyadari bahwa kamar yang ditempatinya rupanya berseberangan dengan kamar milik Junho. Sangat mudah untuk mengenali kamar Junho, karena didepan pintunya begitu banyak foto-foto Polaroid milik Junho sendiri. Dan saat So Eun tengah sibuk mengamati satu per satu foto yang tertempel disana, tiba-tiba saja pintu itu bergerak dan Junho muncul dibaliknya. So Eun terlonjak dan mundur beberapa langkah untuk meredam keterkejutannya, begitu pula dengan Junho.

“Ya, mwohaneungoya? Kau pikir, hal yang bagus saat mengintipi kamar seorang pria?” gerutu Junho.

So Eun berjalan masuk ke kamarnya dan menjulurkan lidah kearah Junho. Ia kemudian membanting pintu dan membiarkan Junho kesal didepan pintunya.

-oOo-

Tepat pukul 10.00 pagi So Eun terbangun. Gadis itu merangkak menuju pintu dan menempelkan telinganya pada daun pintu. Suasana diluar terasa begitu tenang. Tak ada aktifitas apapun. Dan saat itu So Eun akhirnya memberanikan diri untuk keluar setelah memperbaiki penampilannya yang agak berantakan setelah bangun.

“Halo?”

Tak terdengar sahutan dari arah manapun. Dan sepertinya member 2PM sudah benar-benar pergi dan melaksanakan schedule kerja mereka yang padat. Untuk pertama kalinya, So Eun benar-benar menganggap apartemen itu miliknya sendiri. Apartemen milik 2PM jauh lebih besar dari miliknya. Ada tujuh kamar sederhana, satu dapur, tiga kamar mandi, dan satu ruang TV.

Gadis itu berjalan menghampiri kulkas dapur dan melihat sebuah note kecil yang tertempel pada pintu kulkas. Tulisan tangan seseorang—tapi entah siapa—berpesan pada So Eun bahwa masih ada pizza tadi malam, jika ia lapar, ia bisa memanaskannya menggunakan microwave.

Sementara menunggu pizza itu hangat, So Eun mulai melaksanakan aksinya. Ia mencoba membuka pintu kamar Junho, tapi nyatanya pintu itu terkunci. Begitu pula dengan pintu-pintu kamar member lainnya dan ini membuat So Eun harus mendesah kecewa.

Ternyata mereka sudah mempersiapkan antisipasi kehadiranku di dorm mereka, erang So Eun dalam hati. Tapi, aku tidak akan menyerah sampai disini.

So Eun melanjutkan investigasinya sampai ke ruang TV. Ia membongkar isi laci lemari TV dan menemukan beberapa komik Pororo milik Wooyoung, rubik milik Chansung, majalah fashion milik Junsu, kamus bahasa Korea milik Nichkhun, kamus bahasa Jepang milik Junho dan beberapa album SNSD milik Taecyeon. Untuk beberapa saat, So Eun memerhatikan album SNSD itu dan bertanya-tanya dalam hati, mengapa Taecyeon memiliki album mereka?

Ini bisa menjadi skandal dan pertanyaan bagi publik. Mereka mungkin akan mengira-ngira bahwa Taecyeon tengah taksir pada salah satu member SNSD, tapi tujuan utama So Eun bukanlah itu. Ia ingin menjatuhkan Junho. Titik fokusnya adalah Junho. Sementara member yang lain ada diurutan berikutnya, maka So Eun mengurungkan niatnya untuk mencatat kepemilikan album SNSD oleh Taecyeon.

Ting! Microwave itu berbunyi, menandakan pizza telah hangat. So Eun berlari kecil kearah dapur dan segera mematikan microwave. Ia meletakkan beberapa potongan pizza ke atas piring dan duduk dimeja makan sambil berpikir. Setelah beberapa belas menit mencari sesuatu yang ia cari, So Eun mulai merasa putus asa ketika tidak menemukan apa-apa selain barang-barang konyol milik member 2PM. Terutama Wooyoung.

Oh ya, berapa umurnya? Mengapa ada ‘bayi’ sebesar dirinya masih membaca Pororo? Kekanak-kanakan sekali!

-oOo-

“Baiklah,” Minjae menepuk tangannya sekali dan berdiri tepat didepan keenam pemuda asuhannya. “Hari ini kalian akan melaksanakan sebuah interview singkat dengan crew ‘Lotte Duty Free’. Jadi, aku harap kalian bisa memberikan jawaban yang tepat. Mengerti?”

Keenamnya mengangguk singkat lalu naik keatas panggung. Mereka duduk berjejer disebuah sofa berwarna merah, sementara seorang MC pria duduk disisi sofa mereka. Mereka berbasa-basi sebentar untuk membangkitkan chemistry sampai salah seorang asisten sutradara mulai menghitung untuk memulai broadcasting.

“3, 2, 1! Mulai!”

MC pria itu mulai berseru semangat kearah kamera dan memperkenalkan 2PM secara singkat. Dan sesi pertanyaan pun dimulai.

“Akhir-akhir ini 2PM sedang getir karena banyak diterpa kabar kurang sedap. Terutama dari pihak Junho yang digosipkan mempunyai hubungan dengan Krystal ‘f(x)’. Bagaimana tanggapanmu, Junho?”

Junho berdeham dan mengusap dahinya yang bahkan tidak berkeringat sama sekali. Ruangan itu terlalu dingin dan sejuk untuk berkeringat. “Aku pikir itu hanya candaan kecil yang dikeluarkan Taecyeon hyung saat ia hadir disalah satu variety show. Memang benar aku mengagumi Krystal, tapi memang hanya sebatas itu.”

MC pria itu mengangguk dan tersenyum hangat. “Baiklah, lalu bagaimana dengan foto kau berpelukan dengan seorang gadis yang kini menyebar di internet? Apakah dia yeojachingumu atau temanmu?”

“Sejujurnya saja ia hanya temanku. Saat itu ia sedang tidak enak badan, maka dari itu aku membantunya untuk memapah tubuhnya,” kata Junho sambil memaksakan senyum.

“Oh, lalu, apakah selama ini adakah seseorang yang sedang kau taksir? Member girlband mungkin? Aktris? Atau warga biasa?”

Junho mulai merasa tidak nyaman ketika MC itu mulai menanyakan hal-hal yang bersifat privasi. Ia melirik Minjae yang berdiri didepan panggung dengan tatapan meminta tolong, tapi Minjae hanya memberinya kode untuk meneruskannya saja.

“Ingat, berikan jawaban yang tepat!” bisik Minjae dengan gerakan bibir.

Junho menghela napas panjang. Ia mencoba tersenyum dan menggeleng. “Tidak ada. Sama sekali.”

MC itu mengangguk dan menunduk dengan raut kecewa. “Tapi, aku mendengar beberapa rumor bahwa dulu sebelum debut dan menjadi trainee, kau mempunyai seorang yeojachingu. Apakah itu benar?”

Junho terlihat gugup. Kali ini, keringat dingin benar-benar mengucur dari dahinya dan turun sampai ke leher membuat kerah kemejanya basah. Perutnya terasa mual dan bulu kuduknya berdiri. Melihat ada yang salah dengan Junho saat itu, MC pria itu memberi kode kepada sutradara dan cameraman untuk memotong scene itu dengan segera.

“NG!” teriak sutradara itu dan membuat Minjae serta member 2PM lainnya merasa bingung.

“Mian,” Junho tiba-tiba berdiri sambil membuka kancing kemejanya paling atas. “Aku permisi sebentar,” katanya lalu berlalu pergi.

-oOo-

Junho bersyukur ia bisa tepat waktu tiba ditoilet pria ketika tubuhnya terasa lesu dan oleng. Kepalanya terasa sangat pusing dan sakit. Pemuda itu menekan buku-buku jarinya pada wastafel dan mengerutkan dahi, seolah itu bisa mengurangi sakit kepalanya yang datang secara tiba-tiba.

“Junho, gwaenchanha?” Minjae yang rupanya menyusulnya dari belakang menjulurkan kepalanya dari balik pintu toilet dan mengintip.

Junho hanya menggeram sambil menepuk-nepuk dahinya dengan telapak tangannya.

Minjae mendorong pintu toilet dan segera masuk ke dalam menghampiri Junho. “Junho-ah, gwaenchanha? Apa kau ingin kubawa ke rumah sakit?”

“Ani, gwaenchanha, hyung,” Junho mencoba tersenyum dan berdiri dengan tegak. Namun seberapa keras pun usahanya untuk melawan rasa sakit yang menggerogoti ubun-ubunnya, Junho akhirnya harus tertatih-tatih lagi untuk berdiri.

“Tidak, tidak,” kata Minjae dengan tegas. “Kau sedang tidak baik-baik saja, Junho. Biar kubantu untuk memapah tubuhmu. Kau harus ke rumah sakit sekarang.”

Junho pasrah saja ketika Minjae menarik lengannya dan menyampirkannya ke bahu Minjae. Tapi saat Minjae hendak berbalik melangkah ke belakang dan keluar dari toilet, tiba-tiba saja Junho jatuh tak sadarkan diri. Minjae sempat merasa kaget dan kewalahan saat tubuh Junho yang rubuh dan ikut menarik badannya.

“Ya! Lee Junho, sadarlah! Ya! Lee Junho!” Minjae menepuk-nepuk pipi Junho yang pucat dan sedingin es. Tapi ketika tidak mendapat respon apapun, Minjae berlari keluar toilet dan memanggil beberapa kru untuk meminta bantuan.

-oOo-

Seusai mencatat beberapa hal penting untuk papernya, So Eun membereskan buku-bukunya dan mengapitnya dibawah lengan lalu berjalan keluar perpustakaan. Saat hendak keluar dari perpustakaan dan kembali ke kelas, So Eun melihat Gain dan bersama beberapa orang dayang-dayangnya berdiri diambang pintu dengan roman wajah kesal. Ini pertama kalinya So Eun melihat Gain dengan wajah yang tak jauh berbeda dengan perangai ibu tiri sejak Gain mengiranya tengah menjalin hubungan dengan Junho.

“Annyeong!” So Eun tersenyum, berusaha membaur walaupun merasa aneh dengan tingkah aneh Gain hari ini.

“Kau membohongiku, kan?” Gain tersenyum sinis kearah So Eun sambil melipat kedua lengannya diatas dada dan dayang-dayang dibelakangnya mengikuti gaya putri mereka dengan persis.

“Bohong soal apa?” tanya So Eun, sungguh tak tahu arah pembicaraan Gain.

“Soal hubunganmu dengan Junho.”

So Eun mengerjap-ngerjapkan matanya dengan bingung dan panik. So Eun merasakan ada sesuatu yang mengganjal dipangkal tenggorokannya dan itu sangat menyiksa. “Apa maksudmu? Aku tidak berbohong.”

“Oh ya?” Gain tertawa histeris, diikuti oleh dayang-dayangnya—dan sungguh itu terlihat sangat idiot. “Beberapa fans yang datang ke lokasi shooting 2PM hari ini mengatakan bahwa Junho tidak mengatakan bahwa kau adalah yeojachingunya. Dia bilang kalian berdua hanya teman dan tidak lebih dari itu.”

So Eun tertawa gugup. Saking gugupnya, ia bahkan menjatuhkan beberapa buku perpustakaan yang dipinjamnya lalu memungutnya lagi dan akhirnya jatuh lagi. Dan ketika untuk terakhir kalinya—semoga saja begitu—So Eun memungut bukunya, ia menyempatkan untuk mencuri pandang kearah Gain dan melihat ekspresi gadis itu. Masih dingin. Sama sekali tak bersahabat.

“Sepertinya kau sudah salah paham, Gain,” kata So Eun sambil memperbaiki posisi badannya. “Kau tahu, kan, kehidupan pribadi bersifat sangat rahasia bagi para idola? Tentu saja Junho memerhatikan hal itu. Ia merahasiakan hubungan kami untuk menghindari amukan para fans.”

Gain menyipitkan matanya dan melepaskan lipatan tangannya dari atas dada. “Jeongmal? Kau sedang tidak berusaha membodohiku, kan?”

“Tentu saja tidak,” So Eun mengibaskan tangannya didepan wajah Gain dengan kikuk. “Aku tidak mungkin berbohong padamu.”

Wajah Gain berubah drastis. Ia tersenyum—nyaris sebuah seringai—dan menepuk bahu So Eun. “Baiklah, aku memercayaimu.”

Setelah berbasa-basi sebentar dan Gain beserta dayang-dayangnya berlalu, So Eun mengutuk dirinya. Demi Tuhan, akan kubunuh Junho! Gadis itu merogoh ponselnya dari dalam tasnya dan menghubungi nomor ponsel Junho. Begitu mendengar suara seseorang menyahut diseberang, So Eun langsung menyambar seseorang disana dengan kata-kata kasar.

“Ya, babo, mengapa kau mengatakan pada media bahwa..”

“Mianhae memotong ucapanmu,” seseorang diseberang sana menyahut dengan sopan. “Tapi, jika kau bermaksud berbicara dengan Junho, ia sedang terbaring sakit sekarang dan tidak bisa menerima nelepon.”

So Eun tak sadar tengah mencengkeram teleponnya terlalu erat. Gadis itu menempelkan ponselnya ke telinga serapat mungkin hingga membuat telinganya terasa panas. “J-junho.. sakit?”

-oOo-

“Junho hanya butuh sedikit istirahat. Aku rasa ia terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini, jadi kusarankan bebaskan dia dari schedule padatnya selama beberapa hari dan semuanya akan berjalan seperti semula,” jelas dokter itu sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.

Minjae, member 2PM lainnya, dan juga So Eun memandangi wajah pucat Junho yang kini terbaring lemah di atas ranjang. Pemuda itu masih belum sadarkan diri setelah jatuh pingsan di lokasi shooting sejam yang lalu. So Eun yang saat itu juga masih mempunyai satu jam mata kuliah terpaksa membolos karena begitu khawatir dengan keadaan Junho, walaupun ia berusaha menampiknya dengan mengatakan bahwa ia sedang tidak mood dikampus kepada member 2PM lainnya.

“Aku tidak mengerti,” kata So Eun setelah dokter itu pulang. “Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa ia bisa pingsan? Apa yang sedang kalian lakukan?”

“Tadi kami sedang melakukan interview singkat tapi—“

“Sudahlah, Wooyoung,” Nichkhun menegur Wooyoung saat dongsaengnya itu berusaha menjelaskan. “Aku rasa kita tidak perlu membahasnya lagi. Junho pasti tidak akan menyukainya.”

“Waeyo? Mengapa ia harus tidak menyukainya? Sebenarnya kalian sedang membicarakan apa?” desak So Eun.

Nichkhun tiba-tiba maju ke depan dan menghadang pandangan So Eun. “Dengarkan aku,” katanya dengan nada dingin dan misterius. “Kami sudah cukup baik untuk membiarkanmu tinggal bersama kami disini, tapi kami tidak akan membiarkanmu mengganggu privasi kami. Itu sudah lebih dari cukup. Bersyukurlah karena kami tidak benar-benar melaporkanmu ke polisi perihal ancamanmu pada Junho. Apa kau sadar semua tekananmu pada Junho dan kami membuat Junho merasa bersalah dan banyak pikiran? Seharusnya kau tahu itu.”

Setelah menyelesaikan ucapannya, Nichkhun keluar dari kamar Junho diikuti dengan member 2PM lainnya. Sementara So Eun masih berdiri mematung disana dengan raut datar. Kata-kata Nichkhun barusan telah berhasil memporakporandakkan perasaan dan tekadnya. Ia mengepalkan tangan sekuat mungkin dan berusaha untuk tidak menangis.

-oOo-

“Aku benar-benar benci dengan mereka,” kata So Eun sambil merobek-robek foto-foto member 2PM dan membuangnya ke lantai kamar.

“Apa kau baik-baik saja disana? Kau bisa pulang jika kau mau, aku akan menjemputmu besok,” sahut Kimbum di seberang telepon dengan nada khawatir. Mendengar So Eun yang meneleponnya secara tiba-tiba malam itu membuat pemuda itu menduga ada sesuatu yang tidak beres. Dan So Eun terdengar sangat kesal diujung telepon sana.

“Ani, ani, gwaenchanha, oppa,” sergah So Eun. “Aku hanya sedang tidak mood hari ini.”

“Apa kau yakin?”

“Ne, aku masih harus mencari-cari dan pintar-pintar memanfaatkan keadaan disini.”

Kimbum tersenyum tipis. “Baiklah, aku harap kau bisa menjaga dirimu.”

Setelah mengucapkan salam perpisahan, So Eun menutup flip ponselnya dan meraih laptopnya. Sudah hampir seminggu lebih ia tak mengupdate berita di situs anti 2PM yang dibuatnya. Dan begitu melihat ada satu forum terbaru yang dibuat oleh salah seorang member situs tersebut, roman wajah gadis itu terlihat ceria dan bersemangat. Tanpa ragu, So Eun segera bergabung dengan para member yang sedang chatting malam itu.

KSE89: Annyeong! Apa yang sedang kalian bicarakan disini? Apakah ada sesuatu yang menggemparkan?

2PMHaters: So Eun unnie! ^^ Bagaimana kabarmu, unnie? Mengapa unnie tidak pernah lagi bergabung bersama kami?

2PM_SUCKS: Ne, benar! Apakah unnie sangat sibuk?

KSE89: Oh, mianhae, aku sedang melakukan suatu proyek yang besar bulan ini dan aku yakin kalian para antis 2PM akan sangat puas! *smirk* kekeke~

2PM_SUCKS: Oh, jeongmal? Kalau begitu kami akan sangat menantinya ^^ kekeke~

2PMHaters: Kami juga sedang merencanakan proyek bulan ini. Kami akan mendatangi kantor JYPE dan melemparkan tepung dan telur pada member 2PM 😀 Mereka akan merasakannya kalian ini!

KSE89: Oh, jeongmal? Ini pasti akan menjadi saat yang paling menyenangkan! >:D Kapan kalian akan melakukannya?

2PM_SUCKS: Tanggal 27 April. Unnie akan ikut, kan? 😀

KSE89: 27 April? Oh, mianhae, kalau begitu aku tak bisa ikut berpartisipasi 😦

2PMHaters: Oh? Waeyo unnie? 😦

KSE89: Aku telah punya rencana tersendiri tanggal 27 April nanti. Tidak apa-apa, kan, jika aku tidak bergabung bersama kalian?

2PM_SUCKS: Ne, gwaenchanha, unnie ^^

Setelah mengobrol beberapa menit kemudian, So Eun mengakhiri obrolan malam itu. Ia meletakkan kembali laptop miliknya ke atas meja dan berbaring dengan nyaman diatas tempat tidur sambil berbantalkan lengannya sendiri.

“Tak terasa tahun-tahun itu berlalu begitu cepat,” gumam So Eun pada dirinya sendiri. “Dan tinggal beberapa hari lagi ulangtahunmu yang jatuh pada 27 April. Apa kau tahu aku begitu merindukanmu?”

Sebelum air matanya benar-benar jatuh karena merasakan rindu yang menyakitkan, So Eun menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya melalui mulut dengan sangat pelan. Ia berusaha menenangkan diri dan berbalik lalu tidur.

-oOo-

“Kami akan pergi melanjutkan schedule-schedule kerja yang sempat tertunda,” kata Minjae pada So Eun. “Dan hari ini, aku membuat keputusan untuk memberikan istirahat untuk Junho. Dia ada dikamar sekarang dan sedang tidur. Aku harap kau tidak mengganggunya. Mengerti?”

So Eun mengangguk lemah sembari memasang raut tak peduli. “Ne, ara.”

Melihat raut So Eun yang tak menunjukkan kesungguhan malah menyulut kemarahan Nichkhun. “Ya, jangan berani berbuat yang aneh-aneh lagi pada Junho atau aku yang akan melaporkanmu ke polisi!”

“Sudahlah, Nichkhun.” Minjae menarik lengan Nichkhun untuk menjauh. “Dia tidak akan melakukan sesuatu pada Junho. Sebaiknya kita pergi saja sekarang sebelum terlambat di lokasi.”

Minjae, Nichkhun, Junsu, Taecyeon, Wooyoung, dan Chansung keluar dari apartemen dan akhirnya pergi dari apartemen. Sementara itu, So Eun merasa bingung harus menghabiskan waktu libur kuliahnya dengan melakukan apa. Ia sedang tak bisa fokus. Dan ide terakhirnya hanyalah menonton TV.

Gadis itu menyalakan TV dan memutar channel musik. Lagu “Prettiest Girl” milik Pharrell berkumandang cukup keras dan menggetarkan jendela serta dinding-dinding apartemen. Untuk beberapa saat, So Eun merasa semangatnya terisi kembali dan merencanakan untuk membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Ia berjalan menuju dapur dan membuka kulkas. Dikulkas ada sebungkus spaghetti, keju, susu, mentega, daun bawang, dan kerang. Ia mengeluarkan beberapa bahan tersebut dan meletakkannya diatas pantry.

Saat tengah merebus spaghetti, gadis itu mengernyit bingung saat mendengar suara Pharrell tak lagi bernyanyi dari ruang TV secara tiba-tiba. Ia berlari kecil menuju ruang TV dan melihat Junho tengah berjalan terhuyung-huyung kearah kamarnya. Rupanya pemuda itulah yang telah mematikan TV dengan sengaja.

“Ya, mengapa kau mematikan TV?” teriak So Eun kesal.

Junho menoleh ke belakang dan mata So Eun membelalak saat melihat wajah Junho yang sepucat dinding putih. Ada lingkaran hitam besar dibawah matanya yang kini terlihat sangat bengkak. Selain itu matanya terlihat merah dan meredup.

“Sangat berisik,” kata Junho dengan suara parau sembari kembali berjalan memasuki kamarnya.

So Eun nyaris tak bisa berkata apa-apa saat itu. Ia hanya diam ditempat sampai sosok Junho menghilang dibalik suara bantingan pintu yang cukup keras. Apa yang sebenarnya sudah terjadi padanya? Apakah memang aku sudah keterlaluan padanya?

-oOo-

27 April.

So Eun dan Kimbum berjalan memasuki daerah pemakaman. Kimbum membawa sebuket bunga dipelukannya dan mengikuti langkah So Eun ketika gadis itu berhenti tepat didepan sebuah batu nisan. Suasana pemakaman pagi itu sangat sepi dan kelabu. Tak ada siapa-siapa disana kecuali So Eun dan Kimbum.

So Eun menghela napas dan bersimpuh didepan batu nisan itu. Ia menjulurkan tangannya dan mengusap puncak batu nisan itu sambil terisak. Air matanya jatuh satu per satu dari pelupuk matanya. Kimbum ikut bersimpuh dan meletakkan bunga itu didepan batu nisan itu. Pemuda itu mendekap tubuh So Eun dan mengusap lengan So Eun, berharap itu bisa memberikan kekuatan untuk gadis itu.

“Sooyeon-ah,” So Eun berusaha bersuara dengan tersendat-sendat. “Apakah kau baik-baik saja disana? Apa kau merasa bahagia disana? Apa kau tahu aku sangat merindukanmu?”

So Eun membekap mulutnya dan memejamkan mata. Bahunya terguncang hebat. Ia tak mampu menahan kepedihan melihat sahabat terbaiknya, Sooyeon, yang kini wujudnya hanya berupa batu nisan yang dingin dan membeku. Kimbum terus mengusap bahu So Eun, walau ia sendiri mulai merasa hanyut dalam tangisan So Eun dan kini pelupuk matanya pun telah dipenuhi oleh genangan air mata.

Setelah berhasil menenangkan diri dan berhenti terisak, So Eun mengulum senyum getir dan menatap batu nisan itu dengan perasaan hancur.

“Saengil chukka hamnida, Sooyeon. Aku selalu merindukanmu.”

-oOo-

“Junho, tersenyumlah!” teriak sang fotografer.

Hari ini, setelah merasa cukup sehat, Junho kembali menjalankan schedulenya bersama 2PM. Dan kali ini mereka sedang melaksanakan pengambilan foto untuk produk ‘Coway’. Namun anehnya, selama sesi pengambilan foto berlangsung, Junho tak juga tersenyum. Pemuda itu hanya memasang raut datar dan terlihat kaku.

“Junho-ah, apakah kau baik-baik saja?” tanya Junsu sambil menatap Junho dengan raut khawatir.

Junho berusaha tersenyum. “Ne, gwaenchanha, hyung.”

“Jeongmal? Tapi kau terlihat tidak sehat hari ini,” sahut Taecyeon. “Sebaiknya kau duduklah dan istirahatlah untuk beberapa menit.”

“Ani, jeongmal gwaenchanha, hyung. Aku tak ingin menunda-nunda lagi schedule hari ini.”

Setelah berdebat singkat, sesi pengambilan foto tetap dilanjutkan. Walaupun sang fotografer beberapa kali terlihat tidak puas dan sering mengeluh akan ekspresi Junho yang kaku, tapi schedule hari itu harus tetap berjalan. Terpaksa, mereka hanya mengambil gambar itu seadanya tanpa ingin memaksa lagi.

Schedule hari itupun berakhir dan langit mulai gelap. Sebelum pulang ke dorm, 2PM masih harus kembali ke kantor JYPE untuk mendiskusikan beberapa hal terkait pembuatan album comeback mereka yang akan dirilis pada semester kedua tahun ini. Member 2PM lainnya dan juga Minjae telah memberikan toleransi untuk Junho dengan mengakhiri schedule hari ini lebih cepat dan langsung pulang untuk beristirahat. Tapi pemuda itu bersikeras untuk tetap ikut.

Sesampainya di gedung JYPE, member 2PM dan juga Minjae terkejut saat melihat kerumunan orang—antis—berkumpul didepan gedung. Sama seperti pemandangan yang hampir setiap hari mereka lihat, para antis membawa kertas-kertas bertuliskan caci-maki dan hinaan untuk semua member. Dan ternyata, hari ini jauh lebih ‘spesial’. Para antis bahkan membawa beberapa rak telur mentah dan beberapa plastik tepung.

“Ottokhe, hyung?” tanya Chansung dengan nada khawatir.

Minjae mengira bukanlah sebuah keputusan yang tepat jika member 2PM harus keluar dari mobil sekarang juga. Maka dari itu, ia mengambil ponsel dan menghubungi Jinyoung untuk meminta bantuan.

“Jinyoung hyung!” pekik Minjae panik. “Sedang ada amukan antis diluar gedung. Ini benar-benar diluar prediksi dan sangat tiba-tiba. Apa yang harus kami lakukan sekarang?”

“Aku akan mengirim beberapa security untuk melindungi kalian. Mau tidak mau, kalian harus tetap keluar dari mobil dan segera masuk,” jawab Jinyoung.

“Ah, ne, hyung.”

Minjae melihat beberapa security keluar dari gedung JYPE yang menjadi tanda untuk segera keluar dari mobil.

“Cepat keluar sekarang!” kata Minjae pada member 2PM.

“Mwo? Sekarang? Hyung, apa kau sudah gila? Ada ratusan orang disana yang ingin membunuh kita diluar sana!” pekik Wooyoung.

“Kita tidak punya cara lain selain menerobos kerumunan itu. Lagipula ada beberapa security disana, kita dipastikan akan keluar dengan selamat. Keluarlah sekarang!”

Dengan pasrah, para member 2PM mulai menyelinap keluar dari mobil sementara para kerumunan itu terus melayangkan berbagai hinaan pada mereka. Security mulai bertindak dan membagi tugas. Sementara yang lain mendorong tubuh para antis untuk menjauh, dan yang lainnya melindungi member 2PM.

“Ya, kalian brengsek! Pengecut!”

“2PM harus mati!”

Segala bentuk dan macam hinaan saling bersahut-sahutan dari arah para antis. Member 2PM masih dengan tenang berusaha menyisip dan dilindungi oleh security untuk menembus kerumunan orang itu. Amukan antis semakin tersulut ketika melihat Junho yang terakhir keluar dari mobil. Mereka mengambil beberapa telur dan plastik tepung dan melemparkannya pada Junho.

Telur-telur itu menghantam wajah Junho. Cangkang telur yang keras dan tajam bahkan sempat membuat lecet-lecet kecil sepanjang garis mata Junho dan juga pipi kanan pemuda itu. Sementara tepung yang dilempar juga mengenai tubuh dan rambut Junho, membuat pemuda itu tampak kotor, panik dan kesakitan.

Security itu nyaris mati tingkah ketika melihat amukan antis yang semakin menggila. Mereka mulai kewalahan menghandle amukan massa dan juga melindungi member 2PM. Member 2PM yang lain segera berlari menyelamatkan diri dan masuk ke dalam gedung, sementara Junho masih terus diam ditempat dan mendapatkan lemparan-lemparan itu secara terus-menerus.

“Apa yang sedang dilakukan Junho? Apa dia sudah gila membiarkan dirinya seperti itu?” teriak Nichkhun panik begitu ia dan member 2PM lainnya telah berhasil masuk ke dalam kantor.

Junho tak bisa melarikan diri dari keadaan. Para antis semakin menggila dan saling mendorong. Pemuda itu nyaris tak bisa bernapas dan merasa mual saat mencium bau amis yang dikeluarkan dari telur-telur lengket yang ada disekitar wajahnya. Ia mulai merasa tertekan dan pusing karena kehabisan napas. Dan sejurus kemudian, Junho pun jatuh tak sadarkan diri.

-oOo-

Junho merasakan kesulitan yang teramat sangat ketika ia mencoba membuka mata. Pandangannya terasa sangat kabur seolah ia baru saja berputar-putar. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menghilangkan efek fantasi itu dan setelah merasa agak baikan, pemuda itu mencoba menerka-nerka, apa yang terjadi dan sedang dimana ia sekarang.

Tak ada bau amis telur. Tak ada antis. Tak ada kebisingan. Tak ada baju kotor. Dan aku sekarang sedang menggunakan pakaian rumah sakit.

Pemuda itu berpaling kearah kaca dan melihat lecet-lecet kecil di wajah bagian kanannya kini telah diobati. Beberapa plester obat menempel disana, namun tak mampu menutupi semua bekas-bekas lecet itu secara keseluruhan. Tapi setidaknya, ia merasa jauh lebih baik sekarang.

Junho mengalihkan pandangannya ke segala penjuru kamar yang didiaminya dan tak menemukan siapapun disana. Tapi ada sebuah catatan yang ditulis oleh tulisan tangan—yang sudah Junho ketahui milik Junsu—terletak di atas meja.

“Kami sedang keluar untuk membeli makan. Jangan merasa panik saat kau mendapati dirimu sendiri didalam kamar.”

Junho menghela napas dan kini beralih memandang jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.47 malam. Pemuda itu terlonjak seolah lupa akan sesuatu. Ia segera turun dari ranjang dan menarik tiang infus bersamanya lalu keluar dari ruang kamar rawat. Junho mencegat salah seorang suster yang kebetulan lewat didepan kamar rawatnya. Dan suster itu tampak terkejut saat melihat seorang Junho mengajaknya bicara.

“Oh, kau Junho, kan? Lee Junho? 2PM?” tanya suster itu tergagap.

“Ne, aku Junho. Bisakah aku meminta sesuatu padamu?”

Suster itu menyeringai malu. “Apapun untukmu.”

Junho tersenyum. “Boleh aku meminta sebuah camilan tengah malam? Kue? Muffin? Dan juga sebatang lilin ulangtahun.”

Suster itu terlihat agak bingung mendengar permintaan tengah malam Junho yang agak aneh. Tapi karena terlanjur menyatakan persetujuannya, suster itu meminta Junho untuk menunggu sebentar dan berlalu ke dapur. Beberapa menit kemudian, suster itu kembali membawa nampan dengan dua kue Muffin dan dua batang lilin ulangtahun seukuran batang lidi berwarna merah muda dan hijau.

“Ini kue Muffin sisa makanan penutup siang tadi. Tidak apa-apa, kan?”

“Ne, gwaenchanha,” kata Junho sambil meraih nampan itu. “Jeongmal gomawo.”

Junho kembali masuk ke kamar dan meletakkan nampan itu ke atas meja. Setelah menemukan sebatang korek api dari dalam laci meja, ia menusukkan batang lilin ulangtahun ke atas kue Muffin dan menyalakannya dengan batang korek api itu. Pemuda itu tersenyum puas saat melihat kue Muffin itu dan mendesah.

Ia menautkan jemarinya satu sama lain, memejamkan mata, dan berdoa. Setelah beberapa menit terhanyut dalam doanya, Junho membuka mata dan meniup lilin itu.

“Selamat ulangtahun, Kim Sooyeon,” bisiknya lirih.

-oOo-

So Eun tak menemukan siapapun didalam apartemen ketika ia pulang dari rumah Kimbum dan pemakaman. Apartemen terasa sangat sepi dan lengang. Lampu-lampu belum dinyalakan dan tak ada tanda-tanda bahwa member 2PM akan segera pulang.

Gadis itu memutuskan untuk segera masuk ke kamar dan beristirahat. Setelah berganti pakaian, So Eun yang masih belum bisa terlelap, sibuk bernostalgia. So Eun meraih sebuah kardus cukup besar yang ia simpan dibawah tempat tidur. Kardus itu belum ia buka sejak ia pindah ke apartemen 2PM. Tapi karena hari ini hari ‘spesial’, maka ia memutuskan untuk membukanya.

Kardus itu berisi beberapa novel klasik Inggris, foto-foto, aksesoris, dan sebuah kotak berwarna merah muda yang lebih kecil. So Eun meraih kotak merah muda itu dan menemukan beberapa barang kecil, seperti pulpen, cincin, kalung, dan yang paling menarik perhatiannya adalah kartu telepon yang tak pernah digunakan lagi.

Entah mendapat perintah darimana, So Eun mengambil ponselnya dan mengganti kartu telepon miliknya dengan kartu telepon itu. Ia memeriksa beberapa panggilan dan pesan singkat yang masuk ke dalam nomor itu dan menemukan beberapa pesan singkat masuk dari sebuah nama kontak ‘It Nuneo’ dan juga beberapa pesan dari operator yang memberitahu bahwa ada beberapa voice mail yang masuk.

Yang membuat So Eun lebih terkejut, pesan singkat dan pemberitahuan voice mail yang masuk selalu pada tanggal yang sama. 27 April, namun dengan tahun yang berbeda. Pesan singkat dan voice mail yang masuk terhitung mulai pada tahun 2008 dan bahkan masih ada yang masuk pada tahun 2012 dan semuanya dari pengirim yang sama. ‘It Nuneo’. Dan yang lebih mencengangkan lagi, voice mail yang terakhir masuk baru saja terjadi beberapa puluh menit yang lalu.

Hal ini menggelitik keingintahuan So Eun dibalik nama kontak ‘It Nuneo’ tersebut, maka ia memberanikan diri untuk mendengar salah satu voice mail yang masuk. Dimulai dari voice mail yang baru saja masuk. So Eun merapatkan ponsel ke telinganya dan memasang pendengaran sebaik mungkin. Lalu selanjutnya, ia bisa mendengar suara seorang pemuda berdeham diujung telepon.

“Sooyeon, ini aku, Junho…”

To be continued…

98 thoughts on “Scandal Maker (Part 4)

  1. keren ceritanya lanjut author hehe junso couple akhirnya ada juga ff junso couple lanjut author ceritanya 🙂

  2. jujur ya thor,
    aku baca ni part lebih dari sekali lo,
    hiks hiks hiks kasian banget Junho ya,,,
    di buat happy ending ya,,,
    ntar sia-sia dong ketimpuk telur plus tepungnya,,
    go go go fighting !!!

  3. omo_j9n2???!
    Eunnieq bls dendam ada hub’x d9n sooyeon :-X
    Aduw…ga kebayang klw jd junppa?pasti tertekan b9t
    Daebak eon 😀
    Lanjuuttt

  4. Kereeen banget part ini,kasihan banget junho smpe down banget.yg lebih bikin sedih nya ternyata dya ga lupa sama sooyeon..pokooknya aku baca ff ini feel nya dapet banget..penasaran sama masa lalu junho,sooyeon ma so eun..

  5. Sudah mulai paham dikit2 maksud ff ini…maklum perlu berfikir keras menyelesaikan bacanya…hahaaa

  6. sumpah itu antis wah mau dibejek bejek sama gue hah !!!
    nuneo oppa dibikin kayak gitu !!!
    *gakterima..
    tp kasian nuneo masih blm move on kayaknya dari sooyeon itu yg sahabatnya eo eun..

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s