Never Let You Go (Part 4)

Author : Xan She

Main Cast :

  • JB aka Im Jaebum
  • Park Jiyeon ‘T-Ara’

Other Cast :

  • Jung Jinwoon ‘2AM’
  • Victoria Song ‘f(x)’
  • Ham Eunjung ‘T-Ara’

Genre : Romance, Life School

Length : Chapter

Rating : PG-15

Disclaimer : Terinspirasi dari FF pertamaku ‘Love is Really Blind’ (Tapi kali ini mau buat main cast prianya yang jutek). Semoga banyak yang suka.. :D

Poster from photobucket.com

Previous Part : Part 1 | Part 2 | Part 3

 

Jaebum’s POV

Aku sedikit memperlambat langkahku sekedar memastikan sosok gadis yang sepertinya tidak asing di mataku. Aku tidak yakin gadis itu adalah Jiyeon seperti dugaanku. Penampilannya sangat berbeda jauh seperti biasanya. Make-up yang menghiasi wajahnya terlalu tebal, bahkan pakaiannya pun terlalu berani untuk ukuran seusianya. Ia pasti juga belum memiliki kartu identitas. Bagaimana ia bisa masuk ke tempat seperti ini? Aku benar-benar belum yakin kalau gadis itu adalah Jiyeon.

Akhirnya kuputuskan untuk segera melanjutkan langkahku yang hampir saja terhenti untuk keluar dari tempat ini.

“Lepaskan aku. Kau ini siapa?”

Suara teriakan gadis yang masih terus melawan itu seketika menghentikan langkahku. Aku yakin aku mengenali pemilik suara itu. Akhirnya langkahku benar-banar terhenti. Aku berbalik mengarahkan pandanganku pada sosok pria yang mengganggu gadis itu.

Aku menepuk pelan bahu pria berbadan gempal di hadapanku. “Cepat lepaskan gadis itu.”

Pria itu menoleh ke arahku, begitu pula dengan gadis yang kuyakini adalah Jiyeon. Tanpa diperintah, pria itu mengendorkan pelukannya di tubuh gadis itu. Pria yang terlihat sudah cukup berumur itu menatapku penuh emosi. Sepertinya aku telah mengganggunya bersenang-senang.

“Siapa kau?” Bentaknya padaku.

“Kubilang lepaskan dia.” Nada bicaraku masih datar. Tapi aku yakin, pria di depanku itu mengerti aku tengah mengancamnya melalui tatapan mataku.

“Berani sekali kau mencampuri urusanku, bocah tengik!” Pria itu bangkit berdiri lalu mengarahkan kepalan tangannya ke wajahku. Sebelum tinjunya berhasil melukaiku, kutahan pergerakan tangannya dengan membungkus tinju itu dengan genggaman tangan kananku. Setelah itu kuhantam perutnya dengan tempurung lututku hingga ia terjatuh ke lantai club.

“Cepat lari.” Aku menarik tangan Jiyeon untuk segera berlari menuju pintu keluar. Tapi sepertinya sulit. Kerumunan pengunjung club malam ini terlalu padat untuk kami terobos. Jumlah orang-orang yang tengah mengelilingi kami terlalu banyak. Dan tentu ini sangat menyusahkan.

Tiga orang petugas berbadan besar yang sedari tadi mengikutiku dari belakang tidak tinggal diam, mereka segera menghampiriku untuk menahan langkahku. Mereka sangat tidak terima karena aku telah berbuat keributan di club ini.

“Kau larilah lebih dulu.” Aku melepaskan genggaman tanganku dari tangan Jiyeon setelah kurasakan sesuatu yang keras membentur bahuku sehingga membuatku tersungkur ke lantai.

Jiyeon tidak langsung menuruti perintahku, ia masih berdiri kaku menatapku dengan wajahnya yang tegang karena ketakutan.

“Cepat pergi!” Aku masih menyempatkan diri berteriak ke arah Jiyeon untuk memerintahkannya segera berlari saat salah satu dari petugas itu menarik paksa kerah jaketku untuk membuatku berdiri.

Ani.” Jiyeon masih berdiri di tempatnya ditemani kerumunan pengunjung yang semakin padat mengelilingiku.

Gadis bodoh! Umpatku dalam hati.

“Berani sekali kau membuat keributan disini.” Seseorang yang menarik kerah jaketku semakin mengencangkan tarikannya sehingga membuatku semakin sulit untuk bernafas. “Cepat habisi dia.” Orang itu akhirnya melepaskan cengkramannya lalu melemparku ke salah satu temannya yang berbadan sama besarnya.

Pria yang menangkapku segera mendaratkan tinjunya di pelipisku. Aku tidak bisa melawan karena pukulan itu sungguh sangat tiba-tiba. Aku sempat menghindar saat kulihat orang itu berniat menghantamkan tinjunya sekali lagi. Tapi aku tidak memiliki begitu banyak tenaga karena pergelangan tangan kiriku masih sangat sakit. Aku hanya berusaha menjauhkan wajahku dari tangannya.

“Hentikan!” Seseorang membantuku menghentikan kepalan tangan orang itu sebelum mendarat keras di wajahku.

Mataku membulat saat melihat Jiyeon berusaha menahan tangan seorang petugas yang baru saja akan menghadiahkanku sebuah pukulan keras.

Gadis ini benar-benar keras kepala. Ia masih saja belum pergi sesuai perintahku.

Pria itu kemudian mendorong Jiyeon dengan kasar hingga gadis itu terlempar keras ke lantai. Sepertinya ia tidak terima karena Jiyeon baru saja menggagalkan aksinya untuk menghabisiku.

Aku tidak terima dengan perlakuan kasar pria itu terhadap seorang wanita. Entah mengapa aku seperti mendapat kekuatan baru untuk melawan. Dengan memanfaatkan kelengahan pria di depanku, aku segera mendaratkan tinjuku tepat di wajahnya.

“Apa itu caramu memperlakukan seorang wanita?” Emosiku meluap. Tatapanku mengarah tajam pada sosok pria yang kini meringis memegangi ujung bibirnya yang mulai berdarah.

Satu orang lainnya mulai menahanku dari belakang dengan memelukku erat. Aku sempat tidak bisa berkutik. Tapi sepertinya ia belum sepenuhnya menahan pergerakanku. Aku masih bisa dengan leluasa menyikut dadanya dengan sangat keras sehingga membuatnya melepaskan
pelukannya dan mundur beberapa langkah.

Ketika orang yang kusikut tadi sedang berusaha menahan kesakitannya, dua orang yang lain segera menghantamkan pukulannya ke arahku dari berbagai arah, bahkan menggunakan benda-benda keras seperti tongkat yang tidak kumengerti mereka dapat dari mana.

Aku sudah tidak bisa melawan. Satu lawan tiga sepertinya memang sulit untuk menang. Aku bahkan sudah tidak berdaya menahan pukulan dan tendangan dari ketiga orang itu bertubi-tubi saat diriku tak mampu lagi untuk berdiri.

“Hentikan!!” Suara Jiyeon terdengar nyaring di dekatku. Tidak lama setelah itu, aku sudah tidak merasakan pukulan dan tendangan keras yang sempat kurasakan tanpa henti.

Salah satu dari orang yang melukaiku membantuku berdiri dengan menarik paksa kedua tanganku. Mereka menyeretku dengan paksa menuju pintu keluar. Aku sudah tidak dapat lagi berdiri tegap. Perut dan punggungku benar-benar sakit karena tandangan dan injakan mereka. Bahkan aku sudah tidak yakin wajahku baik-baik saja. Kurasakan hidungku berdarah, ujung bibirku perih dan pelipisku bengkak sehingga aku sulit untuk membuka kedua mataku. Tapi aku masih bisa melihat Jiyeon yang kini juga diseret paksa menuju pintu keluar. Kulihat wajahnya pucat dan matanya memerah.

Sesampainya di pintu keluar, petugas yang sedari tadi menyeret paksa tubuhku kini melemparku menjauh dari tempat itu hingga lututku membentur keras aspal jalan, baru kemudian dadaku menghantam aspal lebih keras lagi. Aku masih belum bisa bangkit. Kurasakan badanku
benar-benar sakit karena perlakuan kasar mereka tadi.

Tidak lama kemudian kulihat Jiyeon juga mengalami hal yang sama denganku. Ia dilempar keluar dari club hingga membuatnya jatuh terduduk di sebelahku. Perlahan ia menghampiriku yang masih tidak berdaya.

“Sudah kupecat, berani sekali kau membuat keributan di tempatku.” Tuan Kang—orang yang memecatku—ikut keluar dari club. “Aku tidak akan membayar sisa gajimu. Lebih baik kalian pergi dari sini.” Ia tidak menunggu tanggapan dariku, karena memang aku tidak berminat untuk bicara. Ia lalu segera masuk kembali ke dalam club diikuti para petugas berbadan besar dan beberapa pengunjung yang penasaran dengan nasibku.

Jaebum’s POV end

Jiyeon’s POV

“Apa kau baik-baik saja?” Aku mendekati Jaebum yang masih tersungkur di aspal. Kulihat wajahnya penuh dengan lebam, bahkan pelipisnya berdarah karena sobek.

Ia menoleh ke arahku dengan tatapan tajamnya. “Apa pertanyaanmu masih perlu kujawab?” Ia kemudian berjuang keras untuk bangkit.

Aish~ dengan kondisinya seperti ini, ia masih saja tidak mengurangi kadar angkuhnya.

Aku tidak tega melihat kondisinya yang lemah seperti itu. Biar bagaimana pun ia jadi seperti ini karenaku. Aku segera membantunya untuk bangkit berdiri. Ia tidak menolak, sepertinya ia memang sedang membutuhkan pertolongan.

Aku mulai memapah tubuhnya dengan melingkarkan tangan kanannya di bahuku, lalu membantunya berjalan pelan menyusuri jalanan malam yang sunyi.

Gomawo.” Akhirnya aku mengucapkan kata itu setelah hatiku berdebat hebat dengan egoku.

Tidak ada tanggapan dari Jaebum. Ia hanya diam. Aku malah lebih sering mendengar desahan nafasnya yang terengah-engah karena mencoba menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

“Apa kau bekerja di club itu?” Aku meliriknya sekilas. Ia masih menunjukkan ekspresi meringis menahan luka-lukanya.

“Mulai hari ini sudah tidak lagi. Itu semua gara-gara kau.” Jawaban Jaebum barusan membuatku memelankan laju langkahku dan itu malah membuatku lebih merasakan berat tubuh pria itu di bahuku.

Wae? Kenapa karena aku?” Aku sedikit tidak terima dengan jawabannya.

“Apa kau tidak merasa bersalah sama sekali karena telah melukaiku?” Walaupun suara Jaebum terdengar dipaksakan, aku masih bisa merasakan tekanan di kalimatnya itu. “Gara-gara kau melukai tangan kiriku beberapa hari yang lalu, aku jadi tidak bisa melakukan pekerjaanku
dengan baik seperti biasa.”

Mho? Tapi aku tidak terlalu keras menggigit tanganmu itu.” Aku masih tidak percaya dengan alasan yang baru saja dilontarkan Jaebum. Mungkin saja ia hanya ingin membuatku merasa bersalah karena telah membuatnya kehilangan pekerjaan.

“Ya, yang merasakan itu aku. Waktu itu kau benar-benar menggigit tanganku dengan penuh emosi.” Nada suara Jaebum makin meninggi. Ia bahkan sempat melirikku tajam. “Bertemu denganmu benar-benar membuatku sial.”

Aku sangat emosi mendengar kata-kata Jaebum. Ia terlalu menyudutkanku karena semua hal yang menimpanya. Aku yakin tanpa bertemu denganku pun hidupnya akan selalu sial.

Akhirnya kulepaskan tangan kanannya yang sedari tadi melingkar di bahuku hingga tubuh pria itu merosot lalu terjatuh ke aspal jalan.

“AUUWW.” Jaebum meringis kesakitan karena pergelangan tangan kirinya yang sakit berusaha menopang tubuhnya yang tiba-tiba saja ambruk. “Ya, apa yang kau lakukan? Aku sedang sakit.” Ia akhirnya tersungkur ke aspal karena tangan kirinya gagal menahan tubuhnya yang sangat lemah.

“Bukankah kau bilang bertemu denganku hanya akan membuatmu sial? Lebih baik aku tidak usah membantumu pulang ke rumah.”

“Ya, kau ini benar-benar tidak tau berterima kasih. Aku jadi begini karena menolongmu. Sikapmu benar-benar membuatku menyesal melakukan itu.” Jaebum berusaha bangkit berdiri dengan susah payah, bahkan wajahnya memerah karena berjuang keras mengeluarkan tenaganya untuk membuatnya bangkit.

Aku juga tau Jaebum jadi begitu karena diriku. Tapi apa ia tidak bisa bersikap lebih manis sedikit? Bukan malah terus menyalahkanku seperti tadi.

Akhirnya aku menghampirinya dan kembali membantunya untuk bangkit. “Mianhaeyo, apa kau tidak apa-apa?”

Ia menatapku tajam setelah ia berhasil berdiri. “Apa jika aku berkata baik-baik saja kau akan percaya?”

Aish~ sikapnya yang seperti ini yang membuat darahku naik tiba-tiba. Kata-kata dan nada bicaranya benar-benar membuatku ingin sekali menambah luka di wajahnya.

Huuft~ aku harus lebih bersabar menahan emosiku menghadapi pria yang sangat menyebalkan seperti Jaebum.

—<><>—

“Kenapa kau bisa masuk ke tempat seperti itu?” Jaebum bersandar lemah di senderan sofa. Matanya masih ia pejamkan rapat saat aku tengah membersihkan lukanya dengan handuk hangat. Aku mengobati luka-luka di wajahnya setelah kami sampai di rumahnya.

Aku hanya diam, tak berniat untuk menjawab. Tidak mungkin aku mengatakan kalau aku sengaja pergi ke club itu untuk menyelidikinya kan?

“Apa kau sering bersenang-senang di tempat itu? Atau mungkin malah kau bekerja di club itu?” Ia perlahan membuka matanya dan melirik sekilas untuk melihat tanggapanku.

“Ya, kau jangan berpikiran yang macam-macam. Aku tidak pernah pergi ke tempat seperti itu selain hari ini.” Aku membalas tatapannya yang terlihat seperti merendahkanku.

“Lalu apa yang kau lakukan disana?” Jaebum kembali memejamkan matanya saat handuk yang baru saja kubasuh dengan air hangat mulai menyentuh luka di pelipisnya yang terbuka.

“Aku hanya sedang ingin mencari tahu sesuatu.”

“Mencari tau sesuatu? Apa yang ingin kau ketahui di tempat seperti itu?” Matanya tiba-tiba saja terbuka dan kembali menatapku.

Aku mulai menjauhkan basuhan handuk hangat di wajahnya saat sudah kupastikan wajahnya bersih dari noda darah yang sebelumnya mengotori wajahnya.

“Bukan urusanmu.” Kini aku sibuk menyiapkan obat untuk mengoleskannya di bagian wajahnya yang terluka.

“Kau pasti belum memiliki kartu identitas, lalu bagaimana caranya kau bisa masuk ke dalam?”

Aku tidak begitu terpengaruh mendengar nada suara Jaebum yang penasaran. Aku mulai mengoleskan obat oles di pelipisnya dengan teliti. “Aku hanya mengucapkan beberapa angka kepada petugas club itu, lalu aku diperbolehkan masuk. Mudah kan!”

Mho?” Ia tiba-tiba saja bergarak menegakkan tubuhnya yang sedari tadi bersandar. Matanya semakin membulat menatapku dengan tatapan terkejut bukan main.

Aku menghentikan usahaku yang belum selesai mengoleskan obat pada lukanya. Gerakannya yang tiba-tiba menyulitkanku mengoleskan obat itu di bagian yang tepat.

“Kecilkan sedikit suaramu. Kau bisa membuat JaeSung terbangun.” Aku berbisik ke arah Jaebum sambil sesekali melirik pintu kamar untuk memastikan tidak ada tanda-tanda JaeSung akan keluar dari dalam.

Memangnya apa yang salah dengan ucapanku barusan? Kenapa Jaebum terlihat begitu terkejut.

Aku kembali melanjutkan tugasku untuk mengobati lukanya. Aku hanya ingin cepat-cepat pulang ke rumah untuk beristirahat. Hari sudah hampir pagi. Aku juga harus berangkat sekolah pagi nanti.

“Angka apa yang kau maksud tadi?” Tatapan Jaebum masih tidak berubah, namun suaranya agak melemah sedikit.

“Aku hanya mengatakan ‘satu kosong sembilan’ dan setelah petugas club itu mengangguk pelan, akhirnya aku diperbolehkan masuk. Memangnya apa yang salah?”

“Bodoh!” Bentakan kerasnya yang tiba-tiba sempat menghentikan tugasku mengoleskan obat di pelipisnya. Tapi beberapa detik kemudian aku mulai tersadar dari keterkejutanku. Dengan sengaja kutekan keras pelipisnya yang terluka dengan alat pengoles obat. Pria ini benar-benar tidak sopan. Berani sekali dia terang-terangan mengatakanku bodoh.

“AUUWW.” Jaebum semakin bergerak tidak beraturan menghindari gerakan tanganku yang semakin keras di pelipisnya. “Ya, kau mau membunuhku?” Ia akhirnya dapat menguasai dirinya setelah tanganku menjauh dari wajahnya. Namun sorotan mataku yang penuh dengan emosi pasti masih jelas terlihat. “Sebenarnya kau ini wanita atau bukan? Kerjamu kasar sekali.”

“Kenapa kau mengatakanku bodoh? Aku hanya mengikuti beberapa orang wanita dibawah umur yang mencoba masuk ke dalam club itu.” Aku masih emosi. Aku sama sekali tidak peduli dengan ekspresi wajah Jaebum yang terlihat sangat kesakitan dengan perlakuanku tadi.

“Apa kau tau arti dari angka-angka yang disebutkan wanita-wanita itu?” Jaebum menatapku tajam.

Aku jadi bingung dengan pertanyaannya barusan. “Apa maksudmu dengan arti angka-angka itu? Apa angka yang kusebut pada petugas club itu ada artinya?”

Jaebum terlihat menghela nafas berat. “Angka-angka itu adalah kode untuk wanita-wanita yang ingin menjual dirinya di club itu. Biasanya mereka menyebutkan angka-angka itu agar petugas memperbolehkannya masuk walau mereka terlihat masih dibawah umur.” Jaebum masih
menatapku lekat.

Aku masih terdiam mencerna semua kebodohanku. Aku benar-benar telah melakukan sebuah kebodohan fatal. Aku tidak tau bagaimana jadinya diriku bila Jaebum tidak menolongku pada saat yang tepat. Aku sangat takut saat seorang pria berkumis dan berbadan besar memaksa terus merangkul dan mendekatkan tubuhnya ke arahku.

“Sebenarnya apa yang kau lakukan di club itu sampai kau berusaha keras untuk masuk ke dalam? Bahkan kau berani berpenampilan seperti ini di tempat asing seperti itu.” Jaebum melirik penampilanku yang berbusana sedikit terbuka di bagian atas. Reflex kedua tanganku berusaha
menutupi bagian dadaku yang sedikit terbuka.

“Aku hanya mengkhawatirkan JaeSung yang sering kau tinggal sendiri di rumah setiap malam. Aku ingin tau sebenarnya apa yang kau lakukan di club itu.” Aku hanya menunduk tak berani menatap mata Jaebum yang berapi-api.

Kenapa sikapnya mendadak jadi seperti oemma?

“Maksudmu kau sedang menyelidiku?” Jaebum masih saja memaksakan suaranya keluar. Ia bahkan tidak peduli luka-luka di ujung bibirnya terasa perih saat ia membuka lebar mulutnya untuk bersuara.

Aku memberanikan diri untuk kembali menatapnya. “Sudah kubilang kan, aku hanya mengkhawatirkan JaeSung. Kenapa kau tega membiarkannya sendirian setiap malam?”

“Kau kira aku dan JaeSung akan tetap bisa bertahan hidup bila aku tidak berbuat sesuatu? Aku harus bekerja untuk menghidupi kami berdua.” Ia mulai mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tubuhnya lemas setelah mengatakan kalimat itu. Sepertinya ia baru saja mengatakan hal yang tidak ingin ia katakan. Ia kembali bersandar mengistirahatkan tubuhnya.

Aku menelan ludah susah payah. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar penjelasan Jaebum. Ingin sekali aku menanyakan kemana kedua orang tuanya. Mengapa mereka tega membiarkan anak-anaknya hidup tanpa perhatiannya? Tapi sepertinya aku harus menahan niatku itu. Aku tidak ada hak untuk mencampuri hidupnya.

Jeda cukup lama membuatku tidak nyaman. Akhirnya kulanjutkan tugasku untuk mengobati luka-lukanya. Jaebum masih tak bergerak, ia masih memejamkan kedua matanya rapat-rapat.

Setelah menempelkan plester di bagian wajahnya yang terluka, aku mulai membuka perban yang membungkus tangan kirinya. Aku sedikit terkejut melihat luka bekas gigitanku yang membuat tangan kirinya bengkak dan memerah. Sepertinya aku harus percaya dengan kata-kata Jaebum yang mengatakan gigitanku benar-benar membuatnya kesakitan.

Setelah selesai mengobati luka-lukanya, aku beranjak menyimpan peralatan P3K itu di tempat semula.

Aku sempat memperhatikan Jaebum yang masih bersandar lemah di sofa dengan kedua matanya terpejam saat aku telah kembali duduk di sampingnya. Aku tidak menyangka ternyata banyak yang tidak kuketahui tentang dirinya. Ia terlalu pintar menyembunyikan semuanya di balik sifat angkuhnya.

Sepertinya ia tertidur. Wajahnya terlihat sangat kelelahan. Akhirnya kubantu Jaebum melepaskan jaket kulit yang ia kenakan. Ia tidak akan nyaman bila beristirahat masih mengenakan jaket ini.

Sekali lagi kusempatkan diri memperhatikan sosok Jaebum sebelum aku beranjak pulang ke rumah. Aku yakin masih banyak yang ia pendam sendiri di dalam hatinya selain satu fakta yang baru kuketahui malam ini.

Haah~ entahlah, mungkin aku tidak akan pernah mengetahuinya. Jadi, setelah puas memperhatikannya, aku memutuskan untuk beranjak pergi. Tapi sebelum niatku itu terpenuhi, kurasakan sebuah tangan menahanku untuk berdiri. Aku sempat terlonjak kaget setelah kusadari Jaebum berusaha menahan kepergianku. Aku melihatnya masih memejamkan matanya saat aku menoleh ke arahnya.

Perlahan Jaebum membuka kedua matanya yang berat. Ia mengarahkan pandangannya ke arahku. “Kau harus ingat kau berhutang budi padaku hari ini.”

Aish~ aku tidak menyangka dengan kondisinya yang lemah seperti ini, masih bisa-bisanya ia memperhitungkan masalah hutang budi.

“Ya, kau menahanku hanya untuk mengatakan ini?” Aku berusaha keras melepaskan genggamannya, tapi entah mengapa genggamannya justru makin mengeras di tanganku. Sebenarnya ia mendapat kekuatan dari mana?

“Kau harus berjanji padaku kau akan membalasnya suatu saat nanti.” Ia masih menatapku tanpa ekspresi.

“Kau ini. Apa kau tidak pernah menolong orang dengan sukarela tanpa imbalan?”

“Cepat katakan saja kau akan membalasnya suatu saat nanti.” Tatapannya memaksaku untuk menuruti perintahnya.

“Aish~ Ara, ara. Kau tenang saja, aku bukan tipe orang yang tidak suka berbalas budi. Kau puas sekarang?”

Setelah aku berkata seperti itu, Jaebum mulai melepaskan genggaman tangannya dan membiarkanku pergi. “Baguslah kalau begitu.”

Aku bangkit berdiri sambil menahan emosi. Sepertinya rasa simpatiku terhadap sosok Jaebum memang tidak akan pernah bertahan lama. Sikapnya selalu berhasil membuatku kesal.

—<><>—

“Bisa kita bicara sebentar?”

Aku menghentikan langkahku ketika mendapati Victoria oenni telah berada tepat di hadapanku. Eunjung yang berada di sebelahku pun ikut berhenti.

Aku menoleh sekilas ke arah Enjung yang sepertinya juga heran dengan permintaan Victoria oenni yang ingin bicara berdua denganku.

“Aku ke kelas lebih dulu.” Eunjung menepuk bahuku pelan lalu berlalu meninggalkanku berdua dengan Victoria oenni.

“Ada perlu apa Oenni mencariku?”

Orang yang kutanya tidak langsung menjawab, ia malah memberikanku kode untuk segera bergerak mengikutinya.

“Aku hanya ingin tau kemana Jaebum? Kenapa aku tidak melihatnya selama seminggu ini?” Victoria oenni mulai bersuara ketika kami telah sampai di taman yang agak jauh dari kerumunan siswa siswi lain.

Aku bingung mengapa Victoria oenni bertanya tentang Jaebum kepadaku? Apa ia tau rumahku berdekatan dengan rumah Jaebum? Tapi ia tau dari mana?

“Kenapa tiba-tiba Victoria oenni menanyakan Jaebum padaku?” Aku masih bingung dengan sikapnya.

“Apa aku salah bertanya padamu? Bukankah kau dan Jaebum adalah…” Victoria oenni tidak menyelesaikan kalimatnya. Ekspresinya seperti menaruh curiga padaku. Apa ia salah menyangka saat Jaebum tiba-tiba saja menarik tanganku saat ia memanggil pria itu?

“Ah, mungkin kau salah paham. Aku dan Jaebum sama sekali tidak mempunyai hubungan apa-apa. Aku juga tidak tau kemana perginya orang itu selama seminggu ini.” Aku memang sedang berbohong mengatakan aku tidak tau alasan Jaebum tidak masuk sekolah berhari-hari. Aku hanya tidak ingin ada yang tau kalau Jaebum terluka karena berkelahi di club malam. Sekolah akan langsung mengeluarkannya bila berita itu menyebar dengan cepat.

Jeongmalyo? Kalian tidak mempunyai hubungan apa-apa?” Victoria oenni menunjukkan ekspresi terkejut yang menurutku sangat berlebihan.

Aku mengangguk cepat. Kalau kali ini aku sedang tidak berbohong. Aku memang tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Jaebum.

Sebenarnya ada hubungan apa antara Jaebum dan Victoria oenni?

—<><>—

“Ini materi dan catatan semua pelajaran hari ini.” Aku mengeluarkan buku catatanku dari dalam tas sekolahku lalu meletakkannya di meja ruang tamu di rumah Jaebum setelah duduk tepat dihadapannya.

Pria yang sedang kuajak bicara masih tak bergeming. Ia masih sibuk mengutak atik ponselnya. Entah apa yang sedang ia lihat. “Bagaimana keadaan di sekolah? Apa ada berita heboh selama aku tidak masuk sekolah?”

“Berita apa yang kau harapkan? Kau pikir dengan menghilangnya dirimu di sekolah selama seminggu akan ada yang mencarimu? Cih!” Tingkah orang ini sangat menyebalkan.

Jaebum mulai menghentikan kesibukannya lalu melirik ke arahku. “Apa maksudmu tidak ada yang mencariku?”

“Kau berharap siapa yang akan mencarimu?” Aku masih menatap Jaebum sinis. Pria ini benar-benar terlalu percaya diri.

Ekspresi Jaebum tiba-tiba saja terlihat aneh. Aku bisa melihat raut wajahnya yang kecewa mendengar kata-kataku.

Ada apa dengannya?

Tiba-tiba aku teringat Victoria oenni yang menayakan Jaebum siang tadi. “Oh aku baru ingat. Siang tadi ada yang menanyakanmu padaku.”

“Siapa?” Jaebum segera menyahut. Matanya membulat menatapku penasaran.

“Victoria oenni tiba-tiba saja menanyakanmu padaku. Aku rasa dia salah sangka saat kau menarik tanganku menjauh darinya waktu itu. Jadinya dia mengira aku tau alasan mengapa kau tidak juga masuk sekolah”

“Lalu kau bilang apa?” Jaebum masih tak merubah ekspresinya.

“Ya… Tentu aku bilang tidak tau apa-apa tentangmu. Tidak mungkin aku berkata yang sebenarnya padanya, bukan?”

Kini kulihat ekspresi tegang di wajah Jaebum. Matanya berputar seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Hm.. Apa kalian sudah saling kenal sebelumnya?” Akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari mulutku. Ekspresi wajah Jaebum benar-benar membuatku penasaran.

Ia belum menjawab. Sepertinya ia memang tidak berminat untuk menjawab. Mungkin aku sudah terlalu lancang untuk mengetahui masalah pribadinya. Baiklah, tidak mau menjawab juga tidak apa-apa. Aku juga tidak begitu tertarik.

“Sepertinya kau sudah mulai membaik. Lukamu juga sudah tidak begitu terlihat. Kau besok sudah bisa mulai masuk sekolah kan? Jadi tugasku sudah selesai.”

Tatapan Jaebum kembali dingin menatapku.

Aku sangat tersiksa selama seminggu ini. Setiap hari aku harus mencatat semua materi pelajaran untuknya, membuat surat ijin untuknya tidak masuk sekolah serta mengantar jemput JaeSung pulang dan pergi ke sekolah. Aku lebih merasa seperti pembantunya dari pada sekedar membalas budi.

“Apa maksudmu dengan tugasmu sudah selesai?” Ia menatapku tanpa kedip.

“Maksudku, aku telah selesai membalas hutang budi yang kau tagih padaku.”

“Memangnya apa yang kau lakukan? Maksudmu dengan memberikanku catatan materi dan mengantar jemput JaeSung setiap hari kau pikir hutangmu padaku sudah lunas?”

Aku sedikit terbelalak mendengar kata-katanya. Secepat mungkin aku berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan Jaebum.

“Apa maksudmu?” Aku masih tidak mengerti.

“Aku tidak pernah menyuruhmu untuk melakukan itu semua.” Nada bicara Jaebum santai. Ia mulai mengalihkan pandangannya dan kembali sibuk dengan ponselnya.

“Ya, apa maksudmu? Aku sudah bersusah payah melakukan semua tugasmu dengan baik selama seminggu ini. Sekarang kau bilang aku masih berhutang budi padamu? Sebenarnya apa yang kau inginkan?” Aku bangkit berdiri dari sofa di hadapan Jaebum. Sikap orang ini benar-benar selalu membuat darahku naik secara tiba-tiba.

Tatapan mata Jaebum mengikuti pergerakkanku bangkit berdiri. “Aku akan menganggap hutangmu lunas bila kau telah melaksanakan permintaanku dengan baik.”

“Sebenarnya apa yang kau mau?” Aku semakin melototinya. Aku tidak terima ia tidak menghitung pengorbananku selama seminggu ini.

“Tunggu saja waktunya tiba.”

Aish~ pria ini…

Jiyeon’s POV end

—<><>—

Author’s POV

Jaebum berbaring di atas tempat tidurnya dengan gelisah. Beberapa kali ia membenarkan posisi tidurnya yang ia rasa belum nyaman. Hari yang semakin larut tidak juga membuatnya lelah. Akhirnya ia memilih posisi terlentang dengan pergelangan tangan kanan ia biarkan menimpa keningnya yang berkerut. Matanya masih terbuka lebar menatap langit-langit kamarnya.

Ucapan Jiyeon siang tadi terus menyita pikirannya hingga membuatnya kesulitan beristirahat. Ia sudah tidak tau harus merasa senang ataukah biasa saja mendengar Jiyeon mengatakan Victoria sempat mencarinya yang tidak masuk sekolah beberapa hari. Jaebum makin sulit membedakan antara rasa cinta dan benci.

Bodoh! Kalau saja bukan gadis itu yang tiba-tiba ada di hadapanku saat aku berusaha menghindar dari Victoria, pasti nasibku akan lebih baik.

Jaebum mulai memejamkan matanya. Ia berusaha mengistirahatkan tubuh dan juga pikirannya yang sudah bekerja terlalu keras.

—<><>—

Jiyeon berlari terburu-buru memasuki bus yang baru saja berhenti tepat di tempat pemberhentian bus. Suasana padatnya penumpang membuat Jiyeon terpaksa harus berdiri selama perjalanan menuju sekolahnya pagi ini.

Jiyeon memang sudah terbiasa dengan kondisi penuh sesak di dalam bus setiap pagi semenjak sepeda miliknya rusak. Tapi gerakan seseorang yang terus saja mendesak pergerakannya dari samping sempat membuatnya tidak nyaman.

Dengan terpaksa Jiyeon menoleh ke arah seseorang yang telah mengganggunya itu. Ia melihat Jaebum berdiri tepat di sebelahnya. Tangan kanan pria itu meraih penyanggah di atas kepalanya. Jiyeon sempat terkejut mengetahui orang yang sedari tadi membuatnya tidak
nyaman adalah Jaebum.

Kenapa orang ini harus memilih posisi berdiri tepat di sebelahku? Banyak tempat lain yang lebih leluasa.

Jiyeon mengarahkan tatapan kesal ke arah Jaebum. Tapi pemuda yang ditatapnya tidak memberikan reaksi apapun. Ia malah semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Jiyeon. Posisi yang terlihat kini Jaebum seperti memeluk Jiyeon. Jiyeon semakin tidak mengerti dengan maksud Jaebum sebenarnya. Penumpang lain mulai memandang mereka sambil berbisik-bisik mengira mereka adalah sepasang kekasih.

Jiyeon baru saja membuka mulutnya untuk meneriaki sikap Jaebum. Tapi…

“Apakah tangan ajussi tidak pernah diajarkan untuk bersopan santun?” Jaebum berkata dengan nada datar kepada seorang pria berumur yang berada tepat di belakangnya. Walaupun Jaebum menghadap ke arah Jiyeon, tapi tatapannya tidak pernah lengah memperhatikan setiap gerakan pria berwajah mesum itu.

Jaebum berkali-kali melihat pria itu mencoba memainkan tangannya ke tubuh Jiyeon dan beberapa siswi berseragam di sekitarnya. Sepertinya pria itu berusaha memanfaatkan situasi penuh sesak di dalam bus.

“M-memangnya apa yang kulakukan?” Suara pria itu sedikit gugup menjawab pertanyaan Jaebum. Tingkahnya mendadak aneh.

“Aaarrggkk!! Dasar pria mesum!!” Teriakan seorang wanita berseragam serupa dengan Jiyeon di belakang pria itu menjadi pusat perhatian para penumpang lain. Wanita itu terus saja memukuli pria itu tanpa ampun.

“Aku sempat curiga ada sesuatu yang merabaku. Ternyata kau sengaja menyentuhku.” Wanita itu masih emosi. Pukulannya terlihat keras dan bertubi-tubi. Ia bahkan tidak menganggap pria yang dipukulinya itu lebih tua darinya dan harus lebih dihormati. Sikap mesum pria itu sendiri yang telah merendahkan harga dirinya sebagai orang yang patut dihormati.

“Ya, kau salah paham. Aku bukan orang seperti itu.” Pria itu masih membela diri. Tapi ia hanya bisa menunduk menyembunyikan wajahnya dari pelampiasan emosi seorang pelajar di hadapannya.

Sepertinya hari ini adalah hari yang malang untuk pria tua itu. Sebagian penumpang yang berada dekat dengan mereka malah membantu pelajar itu untuk menghabisinya.

Jiyeon hanya terpaku menyaksikan adegan tragis di depan matanya. Ia mulai mencerna semua yang terjadi dan menyimpulkan semua sikap Jaebum tadi.

Apakah Jaebum tadi berusaha melindungiku dari pria mesum ini?

Saat Jiyeon berniat menoleh ke arah Jaebum, ternyata pria itu sudah tidak ada di dalam bus. Bus baru saja berhenti tepat di sekolahnya. Sebelum bus kembali melaju, dengan segera Jiyeon menyusul Jaebum yang telah lebih dulu turun dari bus.

Jiyeon masih terus berlari menyusul kepergian Jaebum memasuki gerbang sekolah. Ia hilang kendali saat pria itu menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Akhirnya Jiyeon harus merelakan wajahnya membentur punggung Jaebum lumayan keras.

“Aish~ kenapa kau berhenti tiba-tiba?” Jiyeon memegangi keningnya yang terasa sakit.

Jaebum masih belum menoleh, matanya lurus menatap sesosok wanita yang tengah berdiri di sudut lain sambil terus menatap ke arahnya. Tubuhnya mendadak kaku. Ia melihat seorang wanita yang sangat ia kenal bersama seorang pria yang ia tau sekarang berstatus sebagai namjachingu wanita itu.

Jaebum secepat kilat berusaha memutar otaknya. Ia akhirnya berbalik menoleh ke arah Jiyeon yang masih berdiri tegak di belakangnya.

“Apa keningmu sakit?” Jaebum mendadak bersikap manis pada Jiyeon. Tangannya menyentuh kening Jiyeon dengan lembut. Senyumnya perlahan mengembang membuat Jiyeon menatap tak percaya dengan sikap Jaebum yang aneh. “Apa kau lelah? Biar kubawakan tasmu.” Jaebum meraih tas ransel yang dibawa Jiyeon. Jiyeon tidak melawan. Ia masih terlalu terkejut melihat sikap Jaebum yang sangat berbeda dari sebelumnya. “Mari kita ke kelas bersama.” Kini Jaebum menuntun tangan Jiyeon memasuki bagian sekolah yang lebih dalam. Kali ini tarikan tangan Jaebum berbeda dari biasanya. Sama sekali tidak terasa kasar dan memaksa, tapi justru lembut dan menuntun.

Jiyeon masih mengikuti langkah Jaebum yang mengarahkan langkahnya. Pemuda itu membantu membawakan tas miliknya.

Ada apa dengannya hari ini? Kenapa sikapnya mendadak jadi semanis ini? Apa ia belum sepenuhnya sembuh?

Jaebum masih menuntun Jiyeon. Sementara ekor matanya memperhatikan setiap ekspresi dan gerakan dari wanita yang terus memperhatikannya dari kejauhan.

Orang-orang disekitar mereka mulai mengarahkan tatapan heran dan penuh tanya. Jiyeon sudah tau akan jadi seperti ini. Semua orang tau kalau ia sama sekali tidak menyukai Jaebum. Tapi melihat pemandangan pagi ini, tentu semua orang akan menudingnya sebagai seorang pembohong.

“Ani. Ini semua bukan seperti yang kalian lihat.” Jiyeon berkali-kali berusaha menjelaskan pada setiap orang yang menatapnya aneh. “Aku dan Jaebum tidak punya hubungan apa-apa.”

Habislah aku. Aku tidak tau bagaimana nasibku selanjutnya di tangan para siswi pengagum Jaebum.

Jaebum menghentikan langkahnya tepat di belokan terakhir menuju kelasnya. Ia melepaskan genggaman tangannya di tangan Jiyeon lalu menoleh.

“Kukembalikan tasmu.” Raut wajah Jaebum kembali berubah menjadi sedingin es. Ia mengulurkan tas ransel kepada pemiliknya.

Jiyeon masih tak merespon. Ia masih terlalu terkejut dengan sikap Jaebum yang sangat aneh pagi ini.

“Kau tidak mendengar perkataanku?” Jaebum mulai bosan menunggu Jiyeon menyambut tas di genggamannya. Akhirnya ia menjatuhkan tas itu tepat di hadapan Jiyeon lalu berlalu lebih dulu menuju kelas.

“Ya! Im Jaebum!” Jiyeon mulai sadar akan keterkejutannya. Dengan kesal ia meraih tas ranselnya yang baru saja mendarat keras di lantai karena lemparan Jaebum. Jiyeon makin kesal pada sosok Jaebum yang selalu mempermainkannya.

Kurasa orang itu memiliki kepribadian ganda.

Jaebum tidak peduli dengan teriakan keras Jiyeon di belakangnya. Ia terus berjalan menuju kelasnya di ujung koridor.

“KYA!! Itu dia Im Jaebum.” Sekelompok siswi dengan sigap segera menghampiri Jaebum yang tengah berjalan seorang diri setelah membaca sebuah pengumuman di papan pengumuman sekolah.

Jaebum hanya diam tanpa ekspresi begitu semakin banyak siswi yang mulai mengepungnya. Ia sangat tidak nyaman dengan kebiasaan seluruh siswi di sekolah ini yang sepertinya tidak punya kesibukan lain selain mengganggunya.

Oppa, apa kau ikut acara Birthday Party sekolah yang akan diadakan minggu depan?” Seorang siswi yang sepertinya adik kelasnya mulai memeluk lengan Jaebum tanpa ijin dan bergelayutan manja.

Jaebum sempat geli saat wanita yang tidak ia kenal itu memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’. Ia masih tidak mengerti acara apa yang dimaksud wanita itu.

“Aku sangat ingin Oppa menjadi pasanganku di acara itu.” Wanita lainnya mulai menarik-narik ujung lengan jas seragamnya hingga membuat Jaebum merasa risih.

“Pergi denganku saja, Oppa.”

Ani. Denganku saja.”

“Aku mau jadi pasangan Oppa.”

“Lebih baik denganku saja.”

Desakkan para siswi yang mengelilinginya hampir membuat kepala Jaebum pecah. Ia sangat tidak mengerti maksud perkataan dari siswi-siswi itu.

Akhirnya ia memaksa menerobos pertahanan padat di hadapannya untuk segera melihat berita apa yang terpajang di papan pengumuman sekolah.

Birthday Party of Kirin High School, ejanya dalam hati. Dengan seksama Jaebum membaca setiap keterangan pada kertas selembaran yang ditempel disana.

Diadakan rutin setiap tahun dalam menyambut hari ulang tahun sekolah. Acara puncak adalah penobatan The Best Couple of Kirin High School of the Year.

Sekolah macam apa ini sebenarnya? Jaebum masih tidak mengerti mengapa sekolah harus mengadakan acara yang menurutnya sangat tidak penting dalam sebuah perayaan ulang tahun sekolah.

Hati Jaebum tiba-tiba saja memanas membaca pasangan yang menyandang gelar The Best Couple of Kirin High School dua tahun berturut turut adalah Victoria dan Jinwoon.

Oppa akan ikut acara ini kan? Pergi denganku saja.”

“Denganku saja.”

Desakkan para siswi membuat Jaebum tidak nyaman.

“Aku tidak akan ikut.” Tanpa berkata lebih banyak lagi, Jaebum mulai berjalan menjauh dari kerumunan siswi itu.

Walaupun dipaksa juga aku tidak akan mau menghadiri acara konyol seperti itu.

—<><>—

“Ya! Lihat-lihat kalau ingin menyeberang jalan. Apa kau tidak melihat lampu masih hijau?” Seorang pengemudi mobil menjulurkan kepalanya dari jendela mobil setelah menghentikan laju kendaraannya tepat di belakang seorang nenek yang terjatuh di aspal jalan. Nenek itu masih terkejut dengan laju mobil yang tadi hampir menabraknya.

“Apa kau tidak bisa mengemudi? Kau seharusnya tau aku berniat untuk menyebrang jalan.” Nenek itu tidak terima disalahkan. Ia masih belum bangkit. Usianya yang renta sedikit menghambat pergerakannya untuk bangkit berdiri.

“Ya! Kau yang salah karena menyebrang sembarangan. Cepat pergi dari sana. Kau menghalangi jalanku.” Pemuda yang berada di dalam mobil itu mulai membunyikan klakson berkali-kali agar nenek di depannya segera pergi sehingga menimbulkan suara yang sangat berisik.

Jiyeon yang kebetulan lewat di tempat itu segera menghampiri nenek itu untuk membantunya berdiri.

“Apa Nenek tidak apa-apa?” Jiyeon mulai memapah tubuh nenek yang lemah.

Ne, gwaenchanha.”

“Apa ini sikapmu pada orang yang lebih tua? Seharusnya kau turun dari mobilmu dan membantunya berdiri.” Jiyeon segera menghampiri pengemudi mobil itu yang terlihat sangat tidak peduli.

“Ya, bilang pada nenek tua itu agar lebih hati-hati menyebrang jalan bila ia masih mau hidup lebih lama.” Pengendara yang terlihat masih sangat muda itu segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi setelah mengatakan hal itu.

“Ya, anak kurang ajar! Berani sekali kau berkata seperti itu. Apa kau tidak pernah diajarkan oleh orang tuamu untuk bersikap lebih sopan?” Nenek yang berada di sebelah Jiyeon meneriaki kepergian mobil yang baru saja melaju dengan sangat cepat. “Anak muda jaman sekarang sangat tidak sopan. Sebenarnya apa yang orang tuanya ajarkan kepadanya?”

“Sudahlah, Nek. Yang penting Nenek tidak apa-apa kan?” Jiyeon kembali menuntun nenek itu yang hampir hilang kendali karena terlalu emosi.

Ne. Gomawoyo gadis manis. Ternyata masih ada anak baik sepertimu di kota ini.”

Jiyeon tersenyum ramah. “Nenek mau pergi kemana? Biar kubantu menyebrang jalan.”

“Aku sedang mencari cucu-cucuku yang kabur dari rumah. Aku sengaja datang ke Seoul dari pulau Jeiju untuk mencari mereka. Mereka hanya memeberikan alamat ini padaku.” Nenek itu menunjukkan sebuah alamat yang ia tulis di selembar kertas kepada Jiyeon. “Ia hanya mengatakan jangan beritahu oemma dan appanya ia tinggal di Seoul. Aku sangat merindukan mereka dan memutuskan menyusul mereka ke Seoul. Bisa kau bantu aku mencari alamat ini?”

Jiyeon memperhatikan sebuah alamat di selembar kertas yang ia pegang.

Sepertinya alamat ini tidak asing.

—<><>—

“Apa kau yakin disini tempat cucu-cucuku tinggal?”

Jiyeon masih berdiri kaku di depan rumah Jaebum. Ia bahkan berkali-kali berusaha tidak ingin mempercayai semua ini.

“Apa kau yakin, Jaebum dan JaeSung tinggal disini?” Nenek yang bersama Jiyeon bertanya sekali lagi pada Jiyeon yang belum juga bersuara.

Selama dalam perjalanan, nenek itu tidak henti-hentinya menceritakan cucu-cucunya yang bernama Jaebum dan JaeSung. Alasan mengapa Jaebum memilih pergi dari rumahnya di pulau Jeiju dan meninggalkan kedua orang tuanya yang sangat mencemaskannya.

Ne, benar disini tempatnya.” Jiyeon akhirnya mengangguk pelan. “Aku harus segera pulang. Aku permisi dulu.” Sebelum Jaebum muncul dari balik pintu, Jiyeon memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu. Ia hanya tidak mau bertemu dengan pria yang selalu membuat moodnya semakin buruk.

“Ya, chakkaman. Apa kau tidak mau berkenalan dulu dengan cucuku? Dia itu pemuda yang sangat tampan.”

Ani. Kurasa tidak perlu. Mungkin lain kali saja.” Jiyeon segera melanjutkan langkahnya untuk semakin menjauh.

“Ya, Nona. Aku juga belum tau siapa namamu.”

“Nenek?” Suara berat seorang pria dari teras rumah membuat nenek dan juga Jiyeon yang berada di depan rumah itu menoleh.

“Jaebum? Ternyata benar kau tinggal disini.” Senyuman nenek itu mendadak mengembang. Jelas terlihat kerinduan yang dalam setelah melihat cucunya itu.

Jaebum berjalan mendekat untuk membukakan pintu pagar.

“Apa yang Nenek lakukan di Seoul?” Jaebum masih menunjukkan ekspresi terkejut setelah mendekat ke arah neneknya. “Mengapa Nenek bisa bersama dengan gadis itu?”

“Apa kalian sudah saling kenal?”

—<><>—

Jiyeon duduk sendiri di teras rumahnya malam ini. Ia masih belum percaya dengan semua cerita nenek Jaebum siang tadi. Nenek itu tidak henti-hentinya membanggakan cucunya selama dalam perjalanan.

“Apa Jaebum benar-benar orang yang baik? Cih, sepertinya aku belum bisa mempercayai cerita itu.” Jiyeon berbicara pada dirinya sendiri. Matanya memandang langit malam yang gelap tanpa bintang.

Masih ada sesuatu yang membuatnya penasaran dengan cerita nenek Jaebum siang tadi.

“Jaebum itu sebenarnya adalah anak yang baik. Ia tidak pernah menyusahkan kedua orang tuanya. Tapi sikapnya yang bersikeras untuk pergi ke Seoul benar-benar diluar perkiraanku. Aku tau alasannya pergi dari rumah karena ia ingin sekali bertemu dengan orang yang ia sukai saat ia masih duduk di bangku menengah pertama. Wanita itu memutuskan melanjutkan sekolahnya di Seoul. Aku tidak menyangka Jaebum masih terus mengingatnya hingga akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah. Padahal kejadian itu telah bertahun-tahun berlalu.”

Jiyeon kembali mengingat-ingat cerita nenek Jaebum siang tadi.

“Wanita yang Jaebum suka? Apa wanita yang dimaksud itu adalah Victoria oenni?”

—<><>—

Siang ini Jiyeon sedang tidak berselera untuk mengisi perutnya yang kosong. Bagaimana bisa ia memakan makanan dengan lahap kalau pemandangan yang ada di depannya saat ini benar-benar membuatnya iri. Ia sedang menatap lurus pada pasangan yang terlihat sangat mesra duduk berdua di bangku taman. Siapa lagi yang bisa membuat Jiyeon iri kalau bukan Victoria yang terlihat sedang berduaan dengan pria yang ia sukai—Jinwoon.

“Apa kau menyukai pria itu?”

Jiyeon hampir loncat saking kagetnya mendapati Jaebum yang baru saja bersuara tepat di belakangnya. Pria itu bersandar di tembok tepat di sebelahnya sambil memangku kedua tangannya di dada.

“Ya, apa yang kau lakukan disini?” Jiyeon berusaha meredam keterkejutannya semampunya.

“Harusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang kau lakukan disini? Kau tau kan mengintip orang itu adalah sikap yang tidak baik.” Jaebum menatap Jiyeon tanpa kedip.

“Bukan urusanmu.”

“Apa kau menyukai Jinwoon?” Jaebum kembali mengajukan pertanyaan yang sama.

Jiyeon mulai merasa risih dengan sikap pria yang mengganggunya itu.

“Tidak perlu kau jawab pun aku sudah tau jawabannya. Orang bodoh pun bisa langsung tau hanya dengan melihat caramu menatap pria itu.”

“Aish~ sebenarnya apa maumu?” Jiyeon menatap Jaebum kesal. “Kalau aku suka dengan Jinwoon oppa, memangnya apa urusanmu?”

“Apa kau akan tetap pergi ke acara Birthday Party sekolah nanti walau kau sendiri tau pria yang kau sukai tidak akan bersamamu di acara itu?”

Jiyeon mulai menatap Jinwoon kembali. Ia sebenarnya sudah tau tidak akan mungkin bila Jinwoon bersamanya dalam acara yang disebut Jaebum tadi. Bahkan ia sudah menyadarinya pada acara serupa pada tahun sebelumnya. Jiyeon hanya bisa menatap pria yang disukainya itu bersanding dengan wanita lain. Tapi bodohnya, ia tetap saja menghadiri acara tersebut.

“Aku akan ikut senang bila orang yang kusuka merasa bahagia dengan orang lain.” Jiyeon berkata tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari sosok Jinwoon.

“Konyol!! Benar-benar menggelikan.” Jaebum memaksa untuk tertawa. “Kau bilang kau akan senang bila pria yang kau sukai bersama wanita lain? Bukankah itu sangat lucu?” Jaebum melanjutkan tawanya yang terdengar aneh.

“Ya! Ada apa denganmu? Lalu bagaimana denganmu? Kau menyukai Victoria oenni bukan?”

Tawa Jaebum mulai mereda, ia menatap Jiyeon dengan mimik terkejut di wajahnya.

“Tidak perlu kau jawab pun aku sudah tau jawabannya.” Jiyeon meniru kata-kata Jaebum tadi. “Apa kau akan tetap pergi ke acara itu untuk melihat wanita yang kau suka bersanding dengan pria lain?”

Jaebum mengalihkan pandangannya dari mata Jiyeon. Ia mulai menatap Victoria yang masih di taman bersama dengan Jinwoon.

“Aku tidak akan pergi ke acara konyol seperti itu.” Tanpa perlu lebih lama menatap pemandangan yang menyakitkan itu, Jaebum segera beranjak meninggalkan Jiyeon yang masih berdiri tegap di tempatnya sambil menatap kepergiannya tanpa suara.

—<><>—

“Apa kau akan pergi ke acara Birthday Party sekolah nanti?” Victoria sengaja menghampiri Jaebum yang berjalan sendiri menuju gerbang sekolah seusai jam pelajaran.

Jaebum menghentikan langkahnya sesaat. Ia sangat terkejut melihat Victoria tiba-tiba saja berada di sampingnya. Setelah berusaha menguasai dirinya sewajar mungkin, ia kembali melanjutkan langkahnya.

“Kuharap kau akan datang ke acara itu.” Victoria berjalan mengikuti kepergian Jaebum.

“Tenang saja, aku pasti akan datang ke acara itu. Mianhaeyo, seseorang telah menungguku di depan sana. Aku pulang lebih dulu.” Jaebum segera mempercepat langkahnya.

Victoria menghentikan langkahnya saat ia tidak mempu lagi untuk menyeimbangkan langkahnya dengan langkah Jaebum yang semakin cepat. Ia menatap kepergian pria itu dengan tatapan dingin.

“Kau tidak akan bisa membohongiku, Im Jaebum.”

—<><>—

Jaebum berjalan mengendap-endap memasuki lokasi acara Birthday Party sekolah diadakan. Kalau saja bukan karena ia berkata pada Victoria akan menghadiri acara konyol ini, tentu ia tidak akan mau menginjakkan kaki di taman sekolah untuk mengikuti acara yang menurutnya sangat tidak penting seperti ini.

Ia terpaksa berpenampilan rapi malam ini untuk meyakinkan Victoria akan ucapannya yang lalu.

BUUKK!!

“Auw!!” Seorang wanita yang baru saja bertabrakkan dengan Jaebum terdengar sedikit meringis kesakitan. “Aish~ Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau bilang kau tidak akan datang ke acara konyol seperti ini?”

Jaebum sempat terkejut karena mengetahui bahwa orang yang ditabraknya tadi adalah Jiyeon. Ia baru saja membuka mulutnya berniat untuk mengatakan sesuatu, tapi Jiyeon telah lebih dulu bersuara.

“Cukup! Aku tidak ada waktu mendengar alasanmu. Masih banyak hal yang lebih penting yang harus kulakukan.” Tanpa menunggu kata-kata yang akan dilontarkan Jaebum, Jiyeon segera melangkahkan kakinya menjauh dari sosok pria itu untuk segera menghampiri Eunjung yang telah lama menunggunya di sudut lain.

“Baiklah semuanya, mohon perhatiannya sebentar.” Seorang pembawa acara nampak sibuk menarik perhatian para pengunjung yang memadati party malam ini dengan suaranya yang lantang. “Sekarang mari kita sambut bersama-sama The Best Couple of Kirin High School dua tahun berturut-turut… Jinwoon dan Victoria.”

Tidak lama kemudian pasangan yang disebut segera bergerak menghampiri sang pembawa acara di tengah-tengah keramaian orang-orang. Semua orang menatap pasangan itu dengan tatapan kagum. Jinwoon terlihat sangat tampan dan Victoria juga terlihat sangat cantik dengan dress mini hitam yang ia kenakan.

“Apakah tahun ini gelar itu akan kembali mereka raih? Ataukah ada pasangan lain yang akan menggantikan posisi mereka? Kita lihat saja nanti. Ok all, let’s enjoy the party!” Suara pembawa acara memandu alunan musik yang mulai terdengar beriringan.

Victoria sempat menyadari keberadaan Jaebum diantara kerumunan orang. Tapi kemudian sosok itu menghilang di balik lautan orang-orang itu. Akhirnya dengan segera Victoria berlari ke arah menghilangnya Jaebum dari pandangannya.

Jinwoon sempat heran dengan kepergian Victoria yang tiba-tiba, tapi akhirnya ia membiarkan wanita itu menghilang entah kemana.

Victoria memutar bola matanya untuk mencari sosok Jaebum yang sempat tertangkap matanya. Setelah beberapa saat mengejar sosok itu, akhirnya ia dapat menemukan Jaebum yang berjalan agak jauh dari kerumunan orang lainnya.

“Jaebum, ternyata kau datang juga ke acara ini.” Victoria perlahan mendekati Jaebum yang baru saja menghentikan langkahnya saat mendengar suaranya.

Tanpa perlu menoleh, Jaebum tau pasti itu adalah suara Victoria. “Aku kan sudah bilang akan datang.”

“Kau datang dengan siapa?”

“Tentu saja dengan Jiyeon. Mianhaeyo, aku tidak bisa berlama-lama disini.” Jaebum masih belum mau menoleh, ia malah melanjutkan langkahnya semakin menjauh.

“Jaebum-ah, chakkaman.” Victoria akhirnya meraih tangan Jaebum dan memaksa pria itu untuk menoleh ke arahnya. “Berhentilah berbohong. Aku tau kau hanya membohongiku. Aku tau kau dan Jiyeon tidak ada hubungan apapun. Jiyeon yang mengatakannya sendiri padaku.” Victoria memaksa Jaebum menatap matanya, namun pria itu hanya memalingkan pandangannya ke arah lain.

“Dan kau percaya? Jiyeon berkata seperti itu karena ia tidak mau banyak orang yang tau tentang hubungan kami.” Akhirnya Jaebum memaksa matanya untuk menatap sepasang mata yang sangat ia rindukan.

“Aku tidak percaya.” Victoria menggeleng pelan. Matanya masih berusaha menangkap kebohongan dari pancaran mata Jaebum.

“Sudahlah. Aku harus segera pergi. Jiyeon pasti sedang menungguku.” Jaebum memaksa melepaskan tangan Victoria yang masih menggenggam erat tangannya. Ia lalu berjalan kembali bergabung dengan keramaian orang-orang di tengah pesta.

“Jaebum-ah, aku belum selesai bicara. Kau tidak usah berbohong lagi padaku.” Victoria terus saja mengikuti kepergian Jaebum dari belakang.

Jaebum melangkah semakin cepat mendekati Jiyeon yang tengah asyik berdiri menikmati orange juice sambil bercanda dengan Eunjung dan beberapa temannya yang lain.

Jiyeon terpaksa menghentikan keasyikannya karena tangan Jaebum tiba-tiba saja mencengkram kedua tangannya sehingga memaksanya untuk menatap pria itu.

“Bukankah kau ingin membayar hutangmu padaku?” Jaebum berbisik saat jaraknya dengan Jiyeon sudah sangat dekat. Tangan kanannya menyentuh pipi Jiyeon dengan lembut.

Mho?” Jiyeon masih sangat terkejut dengan sikap Jaebum yang membingungkannya.

Eunjung dan juga pengunjung yang lain mulai memperhatikan keduanya dengan tatapan tak kalah terkejutnya, begitu pula dengan Victoria yang berada tepat di belakang Jaebum.

“Beraktinglah menjadi kekasihku.” Jaebum kembali berbisik dan semakin mendekatkan wajahnya ke arah Jiyeon.

Mho?” Bisikan Jaebum barusan makin membuat Jiyeon tidak mengerti. Belum juga Jiyeon mencerna dengan baik semua maksud Jaebum. Pria itu malah mencium bibir Jiyeon tanpa ijin hingga semua orang yang menyaksikannya berteriak histeris. Bahkan kilatan blits kamera pun terlihat bertubi-tubi, club pencari berita sekolah sedang melaksanakan tugasnya mengumpulkan berita menarik.

To be continued…

Note: Mian kalo bikin bosen karena kepanjangan. Maaf juga kalo nunggu part ini kelamaan publishnya, soalnya emang lagi sibuk banget akhir-akhir ini. Biar next part bisa lebih cepat publish, tolong bantu comment donk biar authornya semangat lanjutin nulis di sela-sela kesibukan. *hehe* :D

Buat SIDER,, hiks T,T (tega banget!!)

Buat ending udah pasti akan aku protect. Jadi tolong tunjukin kalo kalian emang serius ikutin FF ini dengan ninggalin jejak di tiap part!! Gomawo… :D

About these ads

122 responses to “Never Let You Go (Part 4)

  1. Keren thor jadi makin penasaraaan! Keren kereeen! XD

  2. oaaa… kerenn c’ritanya..

  3. huwaaa makin seruu
    makin pnsaran am klnjutannya

  4. Huahh kerenn ceritanyaaa bener dahh sumpah sukaa bangettttt…
    Ahh unnie xan shee , neo jeongmall daebakkkkk

  5. WOAHHHHH Im Jae Bum…..
    main cium aja tuh cowok…

    kereeeen…. :d

  6. im jae bum…. sebenarnya seperti apa sih dia??? selalu bikin kejutan….
    buat author, aku saluuut, kamu udah bikin aku tenggelam dlm cerita ini… kereeeeeeennnn….

  7. jaebum itu knp misterius bgt????
    tp keren

  8. Makin seru ceritanyaaa><

  9. Oh no, Ji Yeonie.
    Daebakkie……

  10. Kayak makin seru deh ff ni..
    Cast jaebum bikin aku penasaran..
    Ia suka sama vic,?
    Cepatan deh suka sama jiyeon

  11. Whh ceretanyaa kerennn>_<

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s