Us and Ours – Part 4

Author: helmyshin1 (@helmyshin1)

Cast: Kim Jaejong and find by yourself.

Genre: Family, Friendship

Rating: General

Special Thanks to: Nadya for All suport,Tirzsa Eonnie, and Yuyu Eonnie for cover !

Part 1 | Part 2 | [Side Story] | Part 3

“Teringat sesuatu, Jaejong-hyung?”

“Kau pikir aku tidak bisa mengenali saudara kembarku sendiri?”

“Tidak. Tempatmu juga bukan di sini..”

“Aku percaya padamu, Jaejong Oppa. Selalu.”

Jadi, benarkah hidup Jaejong akan berjalan layaknya benang lurus?

Kurasa tidak.

Us and Ours – Part 4 | 2012 helmyshin1 storyline

Jaejong mengepalkan tangan kanannya. Otaknya berpikir keras. Digenggamnya knop pintu yang serasa mengalirkan listrik berjuta watt. Ia mematung.

Entah benar atau tidak keputusan yang akhirnya ia ambil. Yang ada di pikirannya saat ini adalah, kembali. Tak peduli diterima atau dibuang, ia tetap harus kembali.

Dan sepertinya argumen sang adik telah menguasai otaknya.

Klek,

Pria itu mendongakkan kepala, terkejut oleh pintu didepannya yang terbuka tiba-tiba, sebelum Jaejong mengetuk tentunya.

“Jae.. Jaejong Oppa?” nyaris tak percaya, gadis dihadapanya turut terkejut walau Jaejong belum menampakkan ekspresi apapun.

“Ada apa, honey?” sebuah suara mengalihkan pandangan mata Jaejong, membuat ekor matanya memincing ke tubuh besar di belakang Minyoung –si gadis-.

Deja vu menghampiri mereka bertiga. Nyaris bersamaan.

Berjuta kenangan selama kurang lebih 25 tahun terputar dengan sangat cepat bagai teaser film.

“Kk.. kau?” si tubuh besar tadi pun tak percaya. Ia kaget bukan main kala memastikan bahwa lelaki yang sekarang berdiri di depan pintu rumahnya adalah Kim Jaejong, adalah seorang belahan jiwanya, adalah satu yang dibanggakannya, adalah satu yang diharapkannya, adalah bagian dari hidupnya.

Puzzle itu mulai melengkapi dirinya sendiri.

Tangisan itu pecah. Si tubuh besar yang tak lain adalah ibu kandung dari Kim Jaejong segera berlari menghampirinya, sekonyong-konyong tak mau kehilangan pria itu lagi. Sang ibu memeluknya dengan sangat erat, meluapkan segala rasa rindu, khawatir, cemas, atau apalah yang selama ini ia kubur dalam-dalam.

Jaejong pun membalas pelukan itu. Turut meneteskan air mata. Akhirnya sang ibu dan anak dipertemukan kembali. Mereka berdua tengah tenggelam dalam pelampiasan rindu yang tak terucap.

“Siapa kau..” beberapa saat kemudia, sebuah suara berat mengagetkan 3 orang di sana –depan rumah itu-. Tak terkeculi bagi sang ibu yang baru saja menumpahkan kerinduannya.

“Appa..” seketika hawa beku menelesup diantara mereka semua, mencoba menguasai suasana.

“Kau.. kau..” pria paruh baya tersebut mengacung-acungkan jari telunjuknya, berusaha mengeluarkan sumpah serapah yang selama ini dipendamnya.

Sontak, Kim Jaejong berlari ke arah pria paruh baya itu, membungkuk, menempelkan kedua lututnya ke lantai, menatap sepasang kaki milik ayahnya. “Appa.. mianhae.. jeongmal.” Ucapnya dengan parau. Air matanya menetes gamblang.

“Kau.. kau bukan anakku. Pergi!” teriak si ayah, tapi Jaejong tak bergeming sedikit pun. Termasuk si ibu dan saudara kembar Jaejong, mereka berdua membiarkan pemuda itu menyelesaikan urusannya terlebih dahulu.

“Aku minta maaf. Sungguh. Aku bersumpah bahwa aku tidak pernah melakukan kejahatan itu. Percayalah, appa..” Jaejong seolah merintih, memohon sebuha permintaan maaf yang sangat berarti untuk hidupnya.

“Arrgh..aah..” entah mengapa, sang ayah meremas dadanya, merasakan perih di jantungnya. Seolah mau mati ia. “Kkau.. kkau bukan.. kau bukan.. anakku..” suara si ayah semakin serak dan tersendat. Ia roboh.

“APPA !”

Refleks, manusia lain yang ada di ruangan itu terkejut untuk yang kedua kalinya, sang pemimpin rumah tangga tumbang di hadapa mereka.

“Appa.. kau kenapa? Appa??” Jaejong menggoyang-goyangkan tubuh ayahnya, ia takut, sangat takut jikalau terjadi apa-apa dengan ayahnya.

“Minyoung-ah, cepat telefon ambulance !”

***

Sebuah pemakaman besar-besaran berlangsung di bawah senja yang memudar. Tak perlu terkejut akan penyebab kematian tersebut dan banyaknya orang yang melayat.

Terkena serangan jantung karena terlampau shock. Itulah yang ditulis di dalam surat kematian sang ayah. Menjadi orang terpandang dan ternama membuat banyak orang berduka cita terhadap kematiannya. Ya. Dia adalah ‘orang besar’. Orang besar karena prestasi baiknya, tak seperti Kim Jaejong yang telah mencemari nama baik keluarga.

Suasana haru tengah menguasai bumi.

Tak terkecuali untuk Kim Jaejong. Pemuda itu membenarkan letak kacamata hitamnya, seolah tak ingin siapa pun mengetahui tentang air matanya. Bukannya malu atau pun takut di cap sebagai lelaki yang tidak kuat. Tapi, entahlah.. itulah dia.

Rasa bersalah semakin menggerayapi Kim Jaejong, ia merasa bahwa dia lah penyebab kematian ayahnya sendiri, dia lah yang mengacaukan keadaan, dialah yang merusak ketenganan hidup keluarga yang ditinggalkannya, dialah penyebab semuanya.

Tidak. Bukan kau, Kim Jajeong. Kau tidak salah. Ini hanya masalah waktu, hanya masalah keadaan, hanya masalah takdir.

Mudah sekali untuk berkata seperti itu, eoh?

Dan sekarang, hanya tinggal sang ibu dan sepasang saudara kembar. Kebahagiaan dan kepercayaan. Semoga itu semua kembali berpihak kepadanya.

Ketika sebuah dekapan menghangatkan tubuh Kim Jaejong, dekapan hangat dari sang ibu dan saudara kembarnya, maka saat itu juga hidupnya bahagia, maka saat itu juga segala masalah yang mengganjal hidupnya terlepas, dan akhirnya semua itu berpihak kepadanya.

“Umma.. mengapa appa pergi ketika aku kembali?” suara serak dikeluarkan oleh Jaejong. Pemuda itu nampak menahan sebuah rasa di dalam dadanya.

“Mungkin itulah yang terbaik. Percayalah.” Balas sang ibu, masih memberi kehangatan dan kekuatan bagi Jaejong.

“Kalian percaya padaku?” tanya Jaejong kembali.

Sebuah langkah kaki terdengar semakin keras, mendekat ke arah mereka. “Kenapa tidak?” jawab Minyoung, si pemilik langkah itu.

“Kau adalah milik kami.. bagian dari kami.” Ujar si ibu lagi. “Sekarang dan selamanya.” Sambung Minyoung, gadis itu turut mendekap Jaejong dan sang ibu.

Jawaban dua wanita yang paling dicintai Jaejong benar-benar membuatnya tenang, benar-benar membuatnya melupakan segala keluh kesah yang mengganggu pikiran, menjadi sebuah kebahagiaan yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan materi.

Kalian pun pasti tau bahwa ada sebuah hikmah di balik setiap masalah.

Semoga saja jalan itu benar, semoga saja itulah yang terbaik untuk semuanya.

.

.

Us and Ours – END

6 thoughts on “Us and Ours – Part 4

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s