My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip Nine

Main Cast(s) :

  • Lee Jinki (SHINee Onew)
  • Shin Jibyung
  • Shin Jikyung

Support Cast(s) :

  • Kim Junsu (2PM Junsu)
  • Other SHINee members
  • Etc.

Genre  : Marriage Life, Family, Life, a bit romance

Length : Continue

Rating : Teen

Disclaimer : Only own the plot & Shin Jibyung.

A/N : Apa aku update kelamaan lagi? -____-a Kenapa udah tanggal 14 Mei lagi, coba? Kenapa UKK udah makin deket dan bahkan mepet2 dan bikin aku gak ada waktu lanjutin FF ini? .__. *PLAKK! Alesan!* Tapi… seriously, makin ke sini, satu hari itu kayak nggak 24 jam lagi, deh. Cepeeeet banget. Setuju, gak? .__. <–iniapamaksudnya-__-

Yasudahlah, sok, dibaca aja. WARNING-nya : ALUR LAMBAAAAAAAT DAN GALAAAAAU TO THE MAX, SAMPE AKU YANG BIKIN IKUT-IKUTAN GALAU! *halah* Tapi semoga yg baca lebih galau .__. *HIYAAT!!* dan mudah2an pada kaget sama surprise di bawah, ya.. Hihi~ :mrgreen:

>>> Previous <<<

“Oppa..” panggil Jikyung pelan, yang Junsu jawab dengan gumaman. Jikyung meletakkan sebelah tangannya di bahu Junsu sebagai pegangannya untuk berjinjit, kemudian tanpa diduga gadis itu mengecup bibir Junsu yang sontak mematung terkejut.

“Benar-benar terimakasih untuk hari ini.” tutur gadis itu setelah melepaskan ciumannya.

“.. jadi, kenapa tidak kita lakukan malam ini? Sepertinya aku menginginkanmu sekarang.”

“Yeobo~ kita akan segera punya cucu~ :3 Aigoo~ senangnya~!”

“Aku sendiri tidak mengerti  sebenarnya eomma ingin aku bagaimana. Semua hal yang kulakukan—dan cukup baik di mataku—seolah tidak pernah bisa membuatnya puas.”

“Kau dimana? Kenapa belum sampai?” tanya Jibyung agak mendesak, “Waktu makan malamnya sebentar lagi.”

“Jibyung-ah, bagaimana kalau kita makan malam di rumah ibumu saja?”

“Kalian… akan keluar?”

“Iya.” jawab Junsu cepat, “Kami mau makan malam di luar.”

>>><<<

CLIP 9

Jibyung menghempaskan tubuhnya di atas sofa dengan perasaan kesal. Sebenarnya apa sih yang diinginkan Onew? Tadi dia menyuruh Jibyung untuk datang ke apartemen, tapi tiba-tiba saja berubah pikiran dengan kembali menyuruhnya ke rumah Minhyun. Dan sekarang, saat Jibyung baru saja tiba di sini, Minhyun bilang Onew baru saja pergi, padahal makan malamnya belum siap. Benar-benar membuat Jibyung bingung sekaligus membuatnya berpikir ada apa dengan suaminya itu.

“Jibyung-ah, kita makan duluan saja.” Minhyun memanggilnya dari ruang makan. Jibyung yang sedang berusaha menghubungi Onew hanya menyahut dengan gumaman.

TREK!

Jibyung menarik nafas. Setelah beberapa saat hanya mendengar nada sambung yang monoton, akhirnya panggilannya diangkat juga.

“Ne, Byung~” suara Onew terdengar tidak terlalu fokus.

“Kau dimana? Kenapa malah pergi?” tanya Jibyung dengan nada ketus karena kesal.

“Ng.. maaf, aku ada urusan. Mendadak sekali.”

“Lalu—”

PIP!

Jibyung membelalak kaget dan menatap layar handphone’nya dengan tidak percaya. Benarkah Onew baru saja memutuskan sambungan secara sepihak, tanpa lebih dulu mendengarkan perkataannya?

YA!! Aku bahkan belum selesai berbicara, Lee Jinki!” sungut Jibyung setengah memekik, “Aissh!” yeoja dengan rambut diikat seperti ekor kuda itu menghentak bangkit dan menendang sofa di dekat kakinya hingga sofa berwarna krem tersebut bergeser beberapa senti dari tempatnya semula.

Merasa belum puas, Jibyung menghembuskan nafas dengan kasar, berjalan mondar-mandir di sana, sekedar untuk meredakan kekesalannya. Tangannya menggenggam handphone dengan erat. Sesekali dia menghentak-hentakkan kakinya di lantai dengan bernafsu(?).

“Menyebalkan! Kalau memang ada urusan, apa dia memikirkanku yang sudah rela ke sini di tengah cuaca dingin?” gerutu Jibyung pelan, namun penuh dengan penekanan, “Kali ini aku bisa memaafkanmu. Tapi lain kali, jika kau melakukan ini lagi… grr!”

Setelah sedikit tenang, Jibyung kembali ‘mendarat bebas’ di sofa, sehingga menimbulkan suara ‘brug’ pelan, “Aigoo~ aku sudah seperti ajumma-ajumma yang frustasi karena suaminya selingkuh saja.” katanya setengah heran. Namun beberapa detik kemudian Jibyung jadi tertegun dengan perkataannya sendiri.

[“Sebaiknya kau memberinya perhatian lebih.”

“Memangnya kenapa?”

“Ah.. ani, aku hanya… hanya takut terjadi sesuatu. Mm.. sebenarnya kami tidak boleh mengatakan ini padamu. Tapi, melihatnya yang seperti itu, aku takut terjadi sesuatu dengan pernikahan kalian.

“Ada apa dengannya, Jjong?”

“Hyung… Begini, lakukan apa saja agar dia tidak berpaling darimu. Itu saja yang bisa kukatakan.”

“Huh? Aku.. tidak mengerti.”

“Aku tidak bisa mengatakannya dengan lebih detail. Maaf, Jibyung-ah.”

“Oh, keurae, gwaenchana. Gomawo, Jjong.]

Perbincangannya dengan Jonghyun—di telepon—beberapa bulan lalu, saat SHINee berada di Jepang *A/N : baca Clip 5* terlintas dengan jelas di benak Jibyung, membuatnya menegakkan sikap duduknya.

Saat itu, Jibyung menghubungkan ucapan Jonghyun tersebut dengan perkataan lain namja bermarga Kim itu lebih dulu lagi, tentang anggapan bahwa Onew terlihat tidak terlalu bahagia dengan pernikahan mereka. Selain itu, Jibyung juga menghubungkannya dengan permintaan Onew dulu, tentang membuat Onew lebih mencintainya.

Dari hal-hal itu, Jibyung bisa membuat satu kesimpulan kecil, yaitu Onew tengah menyukai orang lain—yang tidak diketahui Jibyung siapa orang itu—yang membuat Onew tampak tidak terlalu senang dengan pernikahan mereka dan meminta Jibyung untuk membuatnya lebih mencintainya. Dan Jibyung belum berhasil memenuhi permintaan Onew tersebut, sehingga Jonghyun memberi saran padanya agar memberi perhatian lebih pada suaminya itu, karena di mata Jonghyun—yang sepertinya tahu yang sebenarnya—Onew masih belum menikmati kehidupan pernikahannya dengan Jibyung.

Kesimpulannya inilah yang membuat Jibyung sejak saat itu selalu merasa gelisah sekaligus bersemangat—bahkan mati-matian—belajar memasak dan mengerjakan pekerjaan ibu rumah tangga lainnya yang sebelumnya tidak terlalu disukainya.

Dan saat ini, mengingat tingkah Onew yang pada awalnya memintanya datang ke apartemen, tapi kemudian berubah pikiran dengan menyuruhnya kemari, dan saat Jibyung telah sampai di sini, namja itu malah pergi, Jibyung jadi terpikir tentang ‘urusan’ apa yang membuat Onew membatalkan acara makan malam mereka. Apakah ‘urusan’ itu memang urusan pekerjaannya atau…

Tanpa menghiraukan panggilan Minhyun yang entah keberapa kalinya, Jibyung mengoperasikan lagi handphone yang masih di genggamannya untuk menghubungi Jonghyun untuk sekedar memastikan. Kali ini perasaan kesalnya sudah terkubur habis oleh perasaan gelisahnya.

TREK!

“Halo?” panggilannya terangkat setelah hanya terdengar suara nada sambung yang monoton sebanyak tiga kali.

Jibyung refleks memekik pelan, “Jjong!”

“Ya?”

“Aku hanya mau menanyakan sesuatu.”

“Mwonde?”

“Apa kalian ada kegiatan malam ini?”

“Iya, kami sedang menunggu Onew hyung. Memangnya kenapa?”

Jibyung bernafas lega mendengar jawaban Jonghyun itu, “Ah, tidak. Aku hanya bertanya.” katanya, terdengar tidak segelisah sebelumnya, “Sudah, ya.”

PIP!

Jibyung kembali menghembuskan nafas sambil mengusap dadanya dengan lega, “Syukurlah.” gumamnya.

“Shin Jibyung, kau mau makan tidak, sih?!” kembali seruan Minhyun terdengar dari ruang makan, dan baru kali ini Jibyung mengindahkannya.

“Iya, Eomma Sayang!”

>>><<<

Onew menggeser buku menu yang tadi digunakannya untuk menutupi wajahnya, sehingga kini dia bisa melihat Jikyung dan Junsu yang duduk di meja yang berjarak beberapa meja di depan tempatnya duduk. Saat ini mereka sedang berada di sebuah restoran yang tidak terlalu ramai pengunjung. Mungkin itulah alasan kenapa Junsu memilih tempat ini. Onew juga merasa beruntung karena hal itu.

“Ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang pelayan perempuan yang berdiri di samping meja Onew. Senyum manis menghiasi wajahnya, sehingga membuatnya terlihat sangat ramah. Namun Onew terlihat tidak menyadari bahwa dirinya yang ditanya. Laki-laki itu tetap terfokus pada objek-objek yang sejak tadi jadi pusat perhatiannya.

Gogaeknim,apa anda ingin memesan sesuatu?” tanya pelayan itu sekali lagi, namun lagi-lagi Onew tidak menggubrisnya.

Jogiyo, gogaeknim..

“Ah..” Onew tampak sedikit tersentak, seolah baru sadar dia sedang berada di mana. Dia menoleh sedikit ke arah pelayan tersebut, dengan asal memilih makanan yang dilihatnya di buku menu yang masih di tangannya dan menyebutkannya pada sang pelayan.

Setelah pelayan itu pergi untuk menyiapkan pesanannya, Onew kembali mengamati dua sejoli yang tampak sedang bercengkrama sambil memakan makan malam mereka.

Tatapan Onew terfokus pada punggung Jikyung yang memang duduk dengan posisi membelakanginya. Dia termenung dengan perasaan yang berubah-ubah. Sejenak Onew akan merasa ingin memilikinya, sangat ingin bersama Jikyung hingga banyak pikiran nekat yang melintas di benaknya. Dia merasa tak nyaman melihat Jikyung bersama Junsu. Tapi sesaat kemudian Onew akan merasa sangat bimbang, karena bagaimanapun, dia juga mencintai Jibyung yang kini sudah menjadi istrinya, dan dia sebenarnya sama sekali tidak boleh merasakan hal ini.

Di sisi lain, Junsu yang sejak tadi sudah tahu Onew berada di tempat yang sama dengan mereka menatap namja itu dari sudut matanya. Junsu juga tahu apa yang sedang dirasakan Onew saat ini. Dan hal itu cukup mempengaruhinya, karena entah kenapa Junsu punya firasat kurang baik.

>>><<<

“Entah perasaanku saja atau memang oppa lebih pendiam sejak beberapa saat yang lalu?” ujar Jikyung pada Junsu yang berjalan di sampingnya. Memang, biasanya Junsu akan menceritakan apapun—bahkan pembicaraan yang tidak penting—setiap mereka berjalan-jalan berdua saja seperti saat ini.

“Hmm… kau pengamat yang baik.” namja itu tertawa kecil dan merangkul bahu Jikyung dengan hangat.

“Ada yang kau pikirkan, Oppa?” tanya Jikyung.

“Tidak, hanya saja perasaanku agak tidak enak sejak tadi.”

Wae?

“Tidak tahu.” Junsu menoleh ke belakang, sekedar untuk memastikan apakah Onew mengikuti mereka lagi atau tidak. Matanya menyapu setiap tempat dengan agak hati-hati.

“Ada apa?” Jikyung ikut menoleh, mengikuti pandangan Junsu.

“Tidak ada.” gumam Junsu yang tidak menemukan Onew dimanapun.

Jikyung mengernyit heran, “Apanya yang tidak ada?”

“Maksudku, tidak ada apa-apa.” ralat Junsu sambil tersenyum lega. Jikyung masih tampak tidak mengerti, tapi dia memilih diam.

“Kau mau kopi?” tanya Junsu sambil menaikkan scarf-nya hingga menutupi sebagian wajah. Dia bisa ‘bersantai’ sekarang.

Jikyung mengangguk mengiyakan tawaran Junsu, “Call.” katanya pelan.

“Kau tunggu di sini. Biar aku yang belikan kopinya.”

Jikyung mengangguk dan mendudukkan diri di atas sebuah kursi di taman yang mereka lewati sementara menunggu Junsu.

Beberapa meter dari sana, seseorang mengamati Jikyung dari dalam mobilnya. Ya, Onew mengikuti mereka dengan mobilnya, karena itu Junsu tidak menyadari keberadaannya tadi.

Onew mengetuk-ngetuk steer dengan jarinya dan menggigit bibir sambil menimbang-nimbang sesuatu. Matanya memperhatikan jam tangan dan sedikit berdecak mendengar dering handphonenya yang display-nya menunjukkan, ‘Manager Hyung’s Calling..’

“Aissh~” namja itu mencengkram steer, kemudian dengan cepat membuka pintu mobil dan keluar, menghampiri Jikyung dengan langkah-langkah lebar.

“Jikyung-ah..” panggilnya saat sudah dekat dengan gadis itu.

Jikyung menoleh padanya dan terdiam sebentar, mengamati lebih detail wajah Onew, takut penglihatannya salah, kemudian mengulas sebuah senyum setelah yakin namja di hadapannya adalah Onew, “Oh, kau. Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Jikyung.

Onew menatap Jikyung beberapa saat, membuat gadis itu merasa heran sekaligus was-was. Onew menggertakkan rahang beberapa detik sebelum meraih tangan Jikyung dan menarik gadis itu ke tempat yang tidak terlalu terbuka, “Ikut aku!”

Onew kembali menatap Jikyung lekat, membuat Jikyung merasa semakin gusar dan berusaha tidak membalas tatapan Onew dengan memalingkan wajah ke arah lain.

“Jangan membohongi perasaanmu sendiri, Jikyung-ah..” Onew memulai serangannya.

Jikyung tersentak kaget mendengar ucapan lirih Onew. Dengan cepat dia menoleh ke arah laki-laki itu, “Apa maksudmu?”

“Aku bisa melihatnya dari matamu. Kau masih mengharapkanku, kan?”

“A-apa? Kau..” Jikyung menghembuskan nafas dengan agak ‘tak tenang, kemudian melanjutkan, “..jangan mulai lagi, Onew, kumohon!”

Onew mendengus kecil dan memutuskan untuk tidak menghiraukan perkataan Jikyung. Dia benar-benar akan lebih nekat kali ini.

Onew meletakkan kedua tangannya di bahu gadis di hadapannya, “Benar, kan? Kau masih mencintaiku, kan? Jawab saja!” katanya masih dengan suara pelan.

Jikyung terdiam, tidak berani menjawab disaat tatapan dari mata sipit itu kini menghujamnya dengan tajam, seolah ingin mengintimidasinya. Dan entah karena apa, sejumlah air mata menggenang dengan mudah di pelupuk matanya. Jika harus menjawab jujur, Jikyung akan menjawab ‘ya’, karena memang seperti itulah perasaannya. Tapi Jikyung tidak mungkin mengatakan itu langsung. Dia tidak berani. Dia tidak ingin menambah masalah lagi.

Dengan perlahan namun tegas, Jikyung menurunkan tangan Onew dari bahunya, dan tanpa mengatakan apapun dia bermaksud beranjak dari hadapan Onew. Namun namja itu menariknya lagi, membuat posisi mereka berhadapan lagi, “Aku tanya sekali lagi, kau masih mengharapkanku, kan?” desak Onew.

“Kumohon jangan mulai lagi, Onew!” pekik Jikyung tertahan, berusaha melepaskan cengkeraman tangan Onew di lengannya.

“Tidak. Kali ini aku tidak akan berhenti.”

M-mwo?

“Aku merasa kecewa saat mengetahui kau sudah bersama Junsu hyung. Aku merasa kesal melihat kalian berkencan. Aku marah melihatnya menggandeng tanganmu. Dan aku benci melihat kalian tertawa bersama.” tutur Onew cepat.

Jikyung tergugu, tak tahu apa yang harus dikatakannya. Namja di depannya ini benar-benar membuatnya bingung.

“Aku ingin berada di posisinya.” cetus Onew tegas.

DEG!

Kaki Jikyung bergetar, efek dari keterkejutannya atas ucapan terakhir Onew. Jadi maksud laki-laki ini, dia ingin menjadi kekasihnya?

Setetes air mata jatuh menuruni pipi Jikyung, walaupun disaat yang sama dia tersenyum sinis, “Tidak mungkin. Kau sudah menikah. Lagipula, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak saling merasakan hal ini lagi?”

“Saat itu aku tidak bilang setuju dengan kesepakatan yang kau buat.”

Lagi-lagi Jikyung terdiam. Benar. Saat itu Onew hanya tersenyum, tapi tidak menganggukkan kepala ataupun berkata ‘iya’.

“Aku.. aku tidak bisa membohongi perasaanku.” Onew berujar lagi, tangannya bergerak menghapus air mata Jikyung, “Dan kupikir… kenapa kita tidak menyatukannya saja?” Dia benar-benar nekat kali ini.

Jikyung dibuat terkejut untuk kesekian kalinya sejak berhadapan dengan Onew beberapa saat yang lalu, “Kau gila?!” pekiknya sambil terisak dan menepis tangan Onew dari wajahnya.

“Benar! Aku gila! Aku memang gila karena hal ini!” balas Onew lebih keras, “Aku gila karena melihatmu bersama orang lain! Kau benar, aku memang sudah gila!”

“Onew-ya…” Jikyung terisak semakin keras, “Jangan seperti ini, kumohon—”

Onew membingkai wajah Jikyung dengan tangannya dan mencium bibir yeoja itu dengan cepat. Jikyung yang sejak tadi sudah putus asa karena lagi-lagi harus terjebak dalam situasi serumit ini, tidak berusaha menolaknya. Dia hanya mengikuti kemana arus membawanya tanpa berusaha melawan, karena dia rasa tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Batinnya sudah mulai lelah setelah menerima banyak tekanan.

Bibir Onew menyapu pelan permukaan bibir Jikyung, memberikan sedikit kehangatan di tengah udara malam musim dingin. Kedua tangan Jikyung menggantung bebas di sisi tubuhnya, sementara pikirannya kosong setelah menemui kebuntuan.

SREEK!

Kedua mata itu melebar dengan sempurna saat tanpa sengaja dia melihat peristiwa yang cukup membuat dadanya seolah dihantam sesuatu yang sangat keras. Dua gelas kopi yang berada di masing-masing tangannya terjatuh begitu saja ke atas tanah, menimbulkan cipratan-cipratan kecil yang mengenai sepatunya. Sementara itu, tatapannya tidak lepas dari apa yang membuatnya seterkejut itu.

Beberapa saat kemudian Onew menarik diri menjauhi Jikyung dengan perasaan kacau. Sebagian hatinya berkata ‘apa yang sudah kulakukan?’ sementara setengah yang lain berkata ‘mungkin ini jalan yang benar’. Entahlah, dia sendiri tidak mengerti.

Oppa..” Jikyung membelalak dengan tatapan tertuju pada sesuatu di belakang Onew. Onew mengikuti arah pandangan Jibyung, mendapati seorang laki-laki, yang tak lain Junsu, berjalan dengan cepat menjauhi mereka, dan Onew semakin merasa frustasi melihat Jikyung berlari mengejar member 2PM itu.

Laki-laki bermarga Lee itu mengusap wajahnya dengan telapak tangan sambil mendudukkan diri di sebuah kursi yang ada di sana, berusaha meredam kekalutannya.

*

Oppa!” Jikyung berlari kecil, berusaha mensejajari langkah panjang Junsu yang berjalan dengan cepat di depannya, “Oppa, tunggu! Oppa!” serunya untuk yang ke sekian kali, namun Junsu seolah menulikan telinganya dan terus berjalan, malah semakin cepat.

Oppa, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Oppa!!

Dengan susah payah dan tanpa menghiraukan ruang bernafasnya yang terasa menyempit, akhirnya Jikyung bisa menghadang Junsu dari depan, “Oppa, kumohon..” katanya dengan terengah, tangannya mencengkram bagian depan mantel Junsu, dan tatapannya tertuju pada tangannya itu. Jikyung bisa mendengar hembusan nafas Junsu yang kasar dan cepat. Uap putih dari namja itu mengepul di udara dan mengenai kepala Jikyung. Karena itu Jikyung belum berani menatap Junsu untuk melihat sinar kemarahan dari mata namja itu.

Junsu menatap kosong ke arah puncak kepala Jikyung, berusaha menelan salivanya di tengah nafasnya yang tersengal. Meski Junsu tahu kenyataannya, dia tetap tidak bisa untuk tidak merasa kesal. Dia merasa kecewa ternyata hingga saat ini—saat hubungan mereka sudah berjalan sekian lama—Jikyung masih berharap pada Onew. Tapi meskipun begitu, Junsu tidak bisa menyalahkan Jikyung.

“Aku bisa jelaskan semuanya dari awal.” Tatapan mereka bertemu saat Jikyung mendongak, “Aku memang salah karena menyembunyikan semuanya darimu. Mianhae, Oppa.

Segera Junsu memalingkan wajah saat dengan jelas melihat air mata meluncur dengan cepat di pipi gadis itu. Ini pertama kalinya Junsu melihat Jikyung menangis. Dan sungguh, itu membuatnya merasa bersalah dan ikut merasa sakit.

Hening sejenak. Selain suara kendaraan yang sudah agak jarang, tidak banyak orang yang berada di sekitar mereka. Tidak ada yang memperhatikan mereka saat itu.

“Aku memang… menyukainya sejak dulu. Tapi karena Jibyung, aku—” Jikyung baru saja memulai, namun kembali terhenti karena Junsu segera mendekapnya dengan erat.

“Tidak usah diteruskan.” bisik namja itu, “Aku sudah tahu semuanya. Dan aku tahu itu terlalu menyakitkan untukmu.” ..untukku juga, karena dengan menceritakan hal itu, secara tak langsung kau mengatakan sama sekali tidak memiliki perasaan yang sama denganku.

Oppa…” sesaat yang lalu Jikyung merasa terkejut karena Junsu berkata sudah mengetahui semuanya. Tapi sedetik kemudian yeoja itu merasa terenyuh mendengar kalimat terakhir Junsu. Junsu sangat mengerti dirinya, dan karena itu Jikyung merasa dirinya keterlaluan selama ini, “maaf..”

Tangisnya kembali pecah. Junsu merasakan cengkraman tangan Jikyung yang semakin erat di mantelnya. Junsu mengangkat sebelah tangannya dan mengusap pelan kepala Jikyung yang bersandar di pundaknya.

“Kau tidak salah.” Junsu memejamkan mata, dan karena itu setetes air mata lolos dan meleleh di wajahnya, sementara Jikyung pun terisak semakin keras.

>>><<<

“Tetap tidak diangkat, Hyung.” Jonghyun menatap layar handphone’nya dengan alis berkerut, memberitahu manager yang berkonsentrasi menyetir di sampingnya. Ini sudah ke berapa kalinya Jonghyun mencoba menghubungi Onew, namun sang leader tidak juga menjawab, padahal mereka sudah terlambat untuk menghadiri sebuah event malam ini.

“Aissh~ bocah ini!” dengus manager dengan ekspresi kekesalan sekaligus kecemasan yang juga tergambar di wajah member lain, “Teruslah coba kau hubungi lagi.” sambungnya pada Jonghyun yang sebenarnya sudah lebih dulu melakukan apa yang dipintanya.

Jinjja! Nihil.” ucap namja yang sering di panggil Jjong itu, menjauhkan handphone’nya dari telinga setelah hanya mendengar nada sambung yang monoton selama beberapa kali sejak tadi.

Eotteokhae, Hyung?” Key yang duduk di bangku barisan tengah bersuara.

“Kalau dia tidak datang dalam 30 menit ke depan, kita terpaksa hadir tanpanya.”

>>><<<

Udara dingin yang semakin menusuk tidak membuatnya beranjak sedikitpun dari tempatnya mematung saat ini. Onew terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, sehingga tidak menyadari—atau memang tidak peduli—bibirnya sudah tampak berwarna biru dan tubuhnya nyaris terasa beku karena kedinginan.

Kedua tangannya bertumpu pada bangku yang saat dini didudukinya sementara kepalanya menunduk, memelototi ujung lututnya yang tertekuk. Terlalu banyak hal yang menjejali pikirannya, dan hal-hal itu semua berkali-kali masuk bergantian di benaknya, hingga dia pun tidak tahu apa yang sesungguhnya dipikirkannya saat ini.

Onew hampir kehilangan arah. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya dengan segala kekacauan ini.

>>><<<

(In Junsu’s car)

Beberapa saat berlalu, akhirnya Jikyung tampak sudah tenang. Gadis itu hanya menatap kosong ke luar kaca mobil, sama halnya dengan yang dilakukan Junsu. Mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri selama beberapa saat.

Helaan nafas berat terdengar dari Junsu, sedikit memecahkan sunyi yang ada. Namja itu menegakkan posisi duduknya dan menatap Jikyung, “Sudah lebih baik?” tanyanya dengan senyum simpul yang tampak ragu.

Jikyung hanya membalas senyum itu tanpa mengatakan apapun, karena sesungguhnya Jikyung masih merasakan kekacauan pada perasaannya. Dan karena melihat ekspresi itulah, salah satu dari beberapa asumsi yang sudah muncul dibenak Junsu menguat, membuat sinar matanya tampak sedih selama sesaat.

Oppa, sejak kapan kau tahu?” tanya Jikyung dengan suara parau yang masih bergetar.

“Sebelum hubungan kita berstatus seperti sekarang ini.” Junsu menjawab dengan pandangan sedikit menerawang.

“Kenapa kau tidak pernah membahas hal itu denganku selama ini?”

“Sudah kubilang, itu pasti menyakitkan untukmu. Aku tidak ingin membahasnya.”

Jikyung membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu, namun kembali mengatupkan bibirnya karena tatapan yang Junsu layangkan tepat pada matanya kini terlihat berbeda. Menampakkan ketegasan sekaligus kesedihan di saat yang sama. Jikyung tidak berani membalas tatapan itu, karena itu dia menunduk.

Sejenak, tidak ada yang bicara. Junsu mengamati ekspresi Jikyung, memastikan apakah ini waktu yang tepat baginya mengatakan hal—sebuah keputusan—yang sudah sejak tadi terancang di pikirannya.

Laki-laki itu menghela nafas, “Jikyung-ah, kupikir sepertinya..” mulainya yang memberi jeda pada kalimatnya, sekaligus memberikan kesiapan penuh pada dirinya sendiri sekali lagi. Beberapa detik kemudian dia melanjutkan, “.. kita tidak bisa meneruskan hubungan ini.”

Jikyung mengangkat wajahnya dan menatap Junsu dengan raut wajah terkejut, “Wae, Oppa?” tanyanya serak.

Junsu tersenyum miris dan menatap lurus ke depan, “Ya, tidak bisa diteruskan.” katanya lagi sambil kembali menghembuskan nafas berat.

“T-tapi kenapa?” Jikyung masih tidak mengerti. Dia menatap bingung pada Junsu, meminta penjelasan kenapa namja ini berkata seperti itu secara tiba-tiba.

“Walaupun saat-saat bersamamu.. membuatku senang, tapi bagaimanapun kau terlihat tidak nyaman. Aku tidak bisa memaksakan kehendak.”

Oppa.. kau berkata seperti ini karena aku sudah tahu bahwa kau mengetahui semuanya?” tanya Jikyung yang entah kenapa mulai curiga. Namun yang dicurigai justru kembali mengulas senyum, bahkan terkekeh kecil.

“Kau melupakan peristiwa yang terjadi beberapa saat yang lalu, saat aku pergi untuk membeli kopi?” tanya Junsu dengan melembutkan suaranya, berusaha untuk tidak membuat Jikyung tersinggung. Namun tetap saja, Jikyung tidak bisa menyembunyikan ketakjubannya atas ucapan Junsu. Dia tahu peristiwa mana yang dimaksud.

“Kau masih mengharapkannya, dan aku tidak ingin menjadi penghalang.”

Oppa, ini—”

“Dengar, Jikyung. Jangan terus membohongi dirimu sendiri. Itu akan terus membuatmu sakit.” Junsu meraih tangan kanan Jikyung dan menggenggamnya dengan tangan kirinya, “Aku tahu kau tidak sepenuhnya ingin bersamaku. Seperti yang kau katakan saat itu, kau hanya menganggapku sebagai kakakmu, dan aku bisa melihat hal itu di matamu selama ini. Kau terpaksa, bahkan hingga detik ini.”

Jikyung menggigit bibir bawahnya dengan keras, menahan tangis, “Maafkan aku, Oppa.” lirihnya. Jikyung seolah bisa merasakan setiap sayatan kecil—yang mungkin juga dirasakan Junsu—di setiap kata yang diucapkan namja itu sendiri.

Junsu mengeratkan genggaman tangannya pada Jikyung, “Aku rela melepasmu jika memang harus.” katanya pelan.

“Kau tidak harus, Oppa.

“Aku harus, jika ingin melihatmu bahagia.”

“Kau pikir aku akan merasa bahagia jika bersamanya?” Jikyung berusaha meyakinkan Junsu.

Laki-laki itu menatapnya dengan lekat dan lama, lalu tersenyum simpul, “Sinar matamu tidak sesuai dengan apa yang baru saja kau ucapkan.”

Skak mat. Jikyung tidak bisa lagi menyuarakan kalimat apapun dari bibirnya.

Junsu menatap ke depan, memperhatikan sebuah mobil Porsche hitam di depan mobilnya, “Kembalilah! Sepertinya Onew masih di tempat tadi.” Junsu mengendurkan pegangannya di tangan Jikyung kali ini, namun belum melepasnya.

“Kenapa harus seperti ini, Oppa? Bukankah ini sama saja kau menyakiti dirimu sendiri?”

Lagi-lagi sebuah senyuman terpatri di wajah Junsu, “Aku baik-baik saja.” katanya setengah berbisik, membuat Jikyung memeluk namja itu dengan erat.

“Terimakasih untuk waktu yang sudah kau lalui bersama denganku selama setengah musim ini. Aku tidak akan melupakannya.”

“Aku juga, Oppa.

>>><<<

Yeoja itu tertawa hambar menanggapi lelucon di sebuah acara televisi yang sedang disaksikannya saat ini. Lelucon itu memang lucu, sangat lucu. Hanya saja perasaannya yang tak menentu membuat tawanya tidak terdengar lepas, walaupun awalnya ingin.

Jibyung melirik jam yang menggantung di dinding, dahinya berkerut tak mengerti dengan perasaan gelisahnya, “Padahal ini belum terlalu larut. Tapi kenapa aku sudah mencemaskan Jikyung?”

Jibyung melirik Minhyun yang tertidur dengan kepala yang berbaring di pangkuannya. Jari telunjuk Jibyung bergerak menelusuri garis wajah Minhyun yang tampak menua. Paling tidak dia mendapat sedikit ketenangan dengan melakukan ini.

Eomma, tidur di kamar saja.” bisik Jibyung sambil mengguncang pelan bahu Minhyun.

Wanita hampir separuh baya itu mengerjap kaget dan membuka mata, butuh waktu beberapa detik hingga dia merubah posisinya menjadi duduk dan mengatakan sesuatu, “Kau akan menginap di sini?”

“Huh?” Jibyung mengernyit, kemudian tertawa, “Bukannya eomma yang memintaku menginap? Eomma mengigau?” katanya geli, “Sudahlah, lanjutkan saja tidurmu di kamar, eomma!”

Dengan raut wajah masih blank dan setengah mengantuk, Minhyun menatap Jibyung selama beberapa saat, lalu bertanya, “Kau tidak akan tidur?”

“Aku belum mengantuk. Eomma tidur duluan saja.”

“Ah, baiklah.” gumam Minhyun yang kemudian beranjak menuju kamarnya dengan sempoyongan.

“Selamat tidur, Eomma.” ucap Jibyung setengah berseru, dan Minhyun—mungkin karena mengantuk—tidak menoleh apalagi membalasnya.

Jibyung tersenyum simpul dan kembali menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil memeluk bantalnya, memperhatikan lagi televisi, kemudian menghela nafas panjang berkali-kali.

“Kenapa perasaanku tidak enak begini?”

>>><<<

Ujung sepasang sepatu kets yang menginterupsi pandangannya pada tanah membuat Onew mendongak perlahan, mendapati Jikyung berdiri di hadapannya. Dengan senyum tipis yang segera terukir di bibirnya yang sudah memucat, Onew berdiri dan mendekat selangkah ke hadapan gadis di depannya.

“Bodoh, kau bisa mati kedinginan.” gumam Jikyung melihat kondisi Onew yang tampak tidak terlalu baik.

Sementara lelaki itu malah mempertahankan senyum, dan dengan suara yang begitu pelan dan tenang menyahut, “Aku tahu kau akan kembali ke sini.” sambil mengulurkan kedua tangannya dan memeluk Jikyung dengan erat.

Onew menyandarkan kepalanya di bahu Jikyung dan memejamkan mata, baru menyadari tubuhnya terasa sangat lemas, bahkan untuk sekedar memikirkan apa yang sudah dilakukannya. Satu-satunya yang ingin dilakukannya saat ini hanya beristirahat. Lengannya semakin erat memeluk Jikyung, mencari kehangatan.

“Kau menggigil.” komentar Jikyung, lebih pada dirinya sendiri, kemudian melingkarkan kedua lengannya di sekeliling punggung Onew, “Maaf, Onew.”

Tidak ada jawaban. Jikyung malah merasa tubuh Onew lambat-lambat melemah dan membuatnya harus menopangnya dengan lebih kuat, “Onew-ya..” panggil Jikyung sambil mengguncang pelan tubuh Onew, siapa tahu itu hanya perasaannya saja.

“Onew-ya? Gwaenchana? Ya!” pekik Jikyung karena Onew semakin menggigil dan terdengar meringis beberapa kali sambil bergumam tak jelas. Jikyung dibuat panik karenanya. Gadis itu mengamati keadaa sekelilingnya yang sudah sepi, “Omo, eotteokhae?

“Onew-ya, kau bisa berjalan? Sedikit. Sedikit saja, hanya sampai mobilmu di dekat sana.” tunjuk Jikyung ke arah mobil Onew, meskipun dia tahu Onew tidak melihat petunjuknya. Lalu dengan sigap yeoja itu membalikkan badan Onew, melingkarkan satu lengan Onew di lehernya, dan memapahnya dengan susah payah.

Langkah Jikyung sempat berhenti sesaat begitu mengingat sesuatu. Kemudian dengan hati-hati Jikyung merogoh saku mantel Onew, mencari kunci mobilnya.

*

Di setiap sudut mobil, Jikyung mencari-cari benda yang kira-kira bisa menghangatkan tubuh Onew yang didudukkannya di kursi penumpang di belakang. Dia menemukan sepasang sarung tangan dan sebuah selimut tipis, dan itu sepertinya tidak cukup. Jikyung melepaskan scarf yang dipakainya dan melingkarkannya di sekitar leher Onew yang sebenarnya juga sudah mengenakan scarf.

Eotteokkhae?” Jikyung menatap jalanan di depannya, kemudian beralih pada steer mobil. Dengan yakin tapi juga harap-harap cemas ditambah panik karena keadaan yang mendesak, Jikyung memasukkan anak kunci mobil ke lubangnya. Jikyung pernah belajar menyetir sebelumnya, dan sudah cukup mahir. Dan lagi, mengingat jalan menuju dorm SHINee yang tidak terlalu menyulitkan, Jikyung pikir dia bisa menyetir ke sana.

“Nyalakan mesin..” gumam Jikyung sambil memutar anak kunci sehingga terdengar suara deru mesin mobil, “.. lalu gerakkan stik persnel—”

[“Selanjutnya, gerakkan persneling ke gigi 1 sambil menginjak habis kopling.” ujar Junsu dengan tenang. Jikyung menatap stik persneling yang dimaksud dan kemudian menelan ludah, menggerakkannya dengan sangat perlahan.

“Gerakkan saja, tidak apa-apa.”

“Gigi satu?” tanya Jikyung yang menggerakkan stik persneling ke angka 1.

“Nah, begitu. Pintar~”

“Diam, Oppa! Aku takut.” gadis itu menghela nafas dalam sambil memegang kemudi dengan sangat serius, membuat Junsu terkekeh melihatnya.

“Apa lagi setelah ini?” tanya Jikyung.

“Setelah ini, jalankan.” jawab Junsu santai sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menyandarkan kepala ke sandaran kursi, sementara Jikyung menatapnya dengan pandangan horror.

“Bantu aku, Oppa~”

Lagi-lagi Junsu tergelak melihat ekspresi gadis itu yang menurutnya sangat menggelikan, “Lepaskan injakanmu pada kopling pelan-pelan, sambil menginjak pedal gas sedikit-sedikit.”

Beberapa detik berlalu, namun tidak ada apapun yang terjadi. Junsu menoleh Jikyung yang masih mematung dengan posisinya tadi, pandangan horror lurus ke depan, kedua tangan berada di steer, tampak kaku.

Junsu baru saja akan menegurnya sebelum Jikyung buka mulut lebih dulu, “Eotteokhae~? Kakiku kenapa sulit digerakkan~?”

“Aissh~” Junsu terbahak dan menarik kulit pipi Jikyung dengan gemas.

“Susah sekali~”]

Jikyung tergugu selama sesaat. Baru beberapa jam yang lalu mereka menyatakan diri berpisah, tapi kenapa Jikyung sudah bisa merasakan kehilangan?

“Hmm..” gumaman itu membuat Jikyung segera tersadar. Dia menoleh pada Onew yang tertidur di jok belakang dan melanjutkan kegiatannya hingga mobil itu berhasil melaju dengan lancar membelah jalanan yang sepi di daerah sana.

Jikyung tidak menyesal pernah (mencoba) membuka pintu hatinya untuk menerima Junsu.

>>><<<

Dorm gelap dan tidak ada siapapun saat Jikyung dan Onew sampai. Padahal tadinya Jikyung membawa Onew ke sini karena dia pikir akan ada yang membantu merawat Onew. Tapi jika yang lain tidak ada, itu artinya Jikyung harus melakukannya sendiri.

Jikyung membaringkan Onew di atas tempat tidurnya, kemudian melepas topi dan sepatu namja itu serta menyelimutinya dengan beberapa selimut. Onew memperhatikan dengan mata yang setengah terbuka, antara sadar dan tidak, saat Jikyung tampak berusaha dan terburu-buru menghubungi seseorang dengan handphone’nya.

TREK!

“Kibum-ah—”

“Tidak ada jawaban. Panggilan dialihkan ke kotak suara. Tinggalkan pesan…”

Jikyung menghela nafas, menahan kesal. Dia melempar handphone’nya begitu saja ke atas tempat tidur, lalu membenahi selimut Onew, memeriksa suhu tubuh lelaki itu sebentar.

“Panas sekali.” gumam Jikyung kelewat cemas, “Eotteokhae?

Dengan cepat gadis itu beranjak ke dapur dan mengambil air hangat untuk mengompres, agak lama karena dia tidak tahu dimana benda-benda yang dibutuhkannya diletakkan. Setelah itu dia kembali ke kamar dan mulai merawat Onew yang tampak tertidur.

Jikyung meletakkan handuk kecil yang sudah dibasahi air hangat di dahi Onew, lalu sedikit memundurkan tubuhnya. Dia menatap Onew dengan perasaan menyesal. Apakah karena dirinya, namja ini tetap diam di tempat itu dan membiarkan tubuhnya kedinginan hingga demam begini?

“Dingin..”

Jikyung segera tersadar dari lamunannya setelah mendengar gumaman Onew. Dia mengambil handuk di dahi Onew, dan membasahinya lagi dengan air hangat di baskom kecil dekat kakinya, lalu meletakkannya kembali di dahi Onew.

“Dingin..” lelaki itu mengeluarkan sebelah tangannya dari dalam selimut dan meraih tangan Jikyung, menggenggamnya dan meletakkannya di atas diafragmanya, membuat Jikyung tertegun selama beberapa detik. Tapi kemudian dia sadar ini bukan waktunya menjadi orang yang ‘perasa’. Karena itu dia mengabaikan kecanggungan dalam dirinya dan mengusap-usap tubuh Onew, berharap dengan usahanya ini Onew merasa lebih hangat.

>>><<<

Saat malam sudah semakin larut, Junsu melangkahkan kakinya dengan gontai ke dalam dorm. Kepalanya menunduk, sementara wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dia menutup pintu dorm perlahan, nyaris tanpa tenaga.

Junsu terdiam dan membiarkan tangannya masih menggantung di gagang pintu sementara pikirannya melayang entah ke mana.

“Oh, hyung! Kau sudah pulang?” Junho muncul di depan Junsu dengan sebelah tangan memegang gelas yang berisi air putih. Dia menatap Junsu dengan tatapan polos, tidak menyadari suasana hati Junsu saat ini.

Namja yang sering dipanggil Jun itu mendongak dan menatap Junho selama beberapa saat, sebelum akhirnya berjalan menghampiri Junho.

Hyung, kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Junho yang bermaksud bercanda, masih tidak menyadari kegusaran Junsu. Dengan santainya dia meminum air dari gelas yang sedang dipegangnya.

“Junho-ya..” panggil Junsu pelan. Junho hanya menanggapi dengan mengangkat kedua alisnya, dengan gelas yang masih menempel di bibirnya. Dan dia hampir tersedak saat Junsu dengan tiba-tiba memeluknya erat.

H-hyung, waeirae?” tanya pemilik eyesmile itu, sepenuhnya heran dengan tingkah Junsu.

“Aku sudah melepasnya. Aku sudah membiarkannya pergi. Ini keputusanku, Junho-ya.

Junho terheran-heran dan berpikir keras selama beberapa saat, memikirkan kira-kira apa yang membuat hyung-nya itu berkata demikian. Belum sempat dia menemukan sebabnya, Junho merasakan ada yang membasahi pundaknya, dan itu membuatnya terkejut bukan main.

Hyung, kau menangis?”

(2PM – Without You)

>>><<<

To Be Continue

29 thoughts on “My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip Nine

  1. Padahal udh baca clip ini dari semalem,, tp baru sempet comment-nya sekarang… Mian yah, Thor.. ^^v

    Ikutan patah hati karena kisahnya Junsu&Jikyung,, Huwaaaa… kenapa mereka dipisahin, Thor, kenapa, kenapa? *lebay*

    Onew makin nyebelin deh, gk inget istri yg super baik kayak Jikyung kah? Kurang apa lagi coba istrinya? Gk ngerti deh sama jalan pikiran Onew, kalo udah gini ceritanya, pasti banyak yg terluka…. *sewot*

    Clip ini bikin gregetan… Paling nyesek waktu Junsu bilang mau putus, aku kira Jikyung bakal diajak nikah *ngarep*

    Next clip jgn bikin aku galau lg yah, Thor… T_T

    • iya gak papa kok, eonn.. yg penting kan ngasih komen.. 😀 hehe~

      kenapa mereka dipisahin? karena aku pengen .__. *ditabok bolakbalik*

      wah, pasti ngenes ya, Sansi eonn udah ngira gitu, yg kejadian malah yg jelek.. :mrgreen:v <–beneranngajakribut-_-

      gak jamin next clip gak bikin galau ya, eonn~ xD
      makasih~ :*

      • Jiaaahhh baru ngeh kalo aku salah ngetik… Nama istrinya Onew kan Jibyung yah,, bukan Jikyung…

        Huahhha… Mian yah, Thor… -_-v

        Mana nih clip berikutnya,, *dateng2 minta maaf sambil nagih* 😀

  2. Ya ampun jibyung kasian bgt…
    Lagian onew g pny perasaan bgt si,udh tw udh pny istri msh aja ngejar cwe lain, sadar woiii!!! Inget istri drmh!?

  3. iiiiiihh,, kok jikyung ama onew jahat amat sih,,
    kasihan jibyung nya,,,,
    huh,, jdi kesel sendiri..
    d tunggu bwt next clip selanjutnya yh thor,,. 🙂

  4. *gigit bantal* Mira eonnniiiii!! Sumpah demi apapun perasaanku di mainin pas clip ini!!!

    Kenapa kesannya Jinki plin-plan banget sih?? Kenapaaaa?*sinetron mode on*
    Aku gak ngerti deh sama jalan pikir tuh orang, pilih sapa sih sebenernya? Jibyung atau Jikyung?
    Eonni, ini sih bukan cinta dua hati, tapi udah satu hati kayaknya. Soalnya jinki lebih cinta sama Jikyung 😦

    Ya ampun pas akhir-akhir, aku bener-bener nangis *sampe icha eonni panik*…kesian itu Junsu…huwaaaaa eonnniiiii!!! Aku gak tahan nih kalo ngeliat jibyung di selingkuhin juga..paraaahhhh!!!!

    Jadi ntar gimana??? Jikyung mau lagi sama Jinki????? Junsu gak muncul lagi? Jibyung gimana???*ditimpuk mira eonni!! Reader banyak tanya!!*

    Lanjut yah eonni,,, aku sukaaaa bangeeetttt sama cerita eonni 😀
    FIGHTING!! jangan bikin part galau lagi yah 😀

    Oh iya, Sukses untuk UKK nya yah eonni 😀

    Segini aja komentarku, serem nih ngeliat komenku yg paling panjaaaang..heheh ^^

    • dimainin? tapi bukan berarti aku playboy, PHP atau semacamnya itu, kan? .__. <–apasih-_-

      dari awal dubu emang udah plin-plan, sih .__. *cekek*

      masa iya nangis beneran? .__.a
      tapi aku juga sedih sih, pas ngetik yg bagian Junsu T_T *ettdah*

      ntar gimana, ya? :p ditunggu lagi, deh.. hehe~ :mrgreen:

      huwaa~ makasih udah suka, Devinda~ ^o^/ FIGHTING!! amin, amiin~ makasih lagi~ *hug*

      hehe~ ntar lebih panjang lagi ya, komennya 😀 *plakk!*

  5. mangkel ma jinki……
    benci jg ma jikyung…
    wooiiiiiiiiiiiii inget jinki tu suami adekmu…
    jinkiiiiiiiiiiiiiii inget jikyung tu sodara istrimu….
    gak rela klo jinki ma jikyung……………..
    junsu n jibyung fighting…..

  6. Hi miraaaaa~ msh inget aku? mahda ini tp komennya kali ini pake twtter soalnya wpku ngadat-_- *curcol*
    oke back to the story, astaga ini onew oppa sm jikyung bikin emosi beneran deh. knapa coba mlh ada ciuman sgala antara onew-jikyung disini? kasian amat jibyung T^T

    aaah mira endingnya onew-jikyung jgn bareng laaah, kan kasian junsu oppa sm jibyungnya 😦

    ok next part ditungguin ya 🙂

    • waa~ mahdaa~ kkk~ aku inget, lah.. hehe~ 😀

      huhu~ tapi katanya yg bikin emosi itu authornya u.u *lah*

      endingnya… hmmm… kenapa onew-jikyung gak boleh bareng? xD *plakk*

      yaap~ makasih ya, Mahda.. :* *cium2*

  7. waaa, ga nyangka nemu lanjutannya disini..hehehe
    btw komen part sebelumnya digabung sini aja ya ^^v
    eommanya si twins bener2 ga sabar nimang cucu kaenya dan rencananya berhasil tu bikin mreka melakukan mmg yg hrs dilakukan pastri tapiiiii~ kenapa onewnya koq msh berharap ama jikyung dan sebaliknya?
    kasian junsu smpe rela ngelepas gitu, kasian jibyung yg diselingkuhin, kasian jg onew ama jikyung yg super galau krn rasa cintanya..intinya mah miris banget kisah mereka..huaaa T-T

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s