Good Sister, Bad Brother (Part 2 of 2)

By       : MissFishyJazz

Cast     :

–          Kwon Boa

–          Lee Si Young

–          Kwon Jiyong

–          Lee Donghae

–          Han Sae Jung

Genre  : Family, Friendship, Romance

Rating : PG-17

Length : Twoshoot

AN      : Gomawo Altha unnie, posternya~

Author pov

Donghae memasuki rumahnya dengan sungutan dan umpatan-umpatan. Sesekali Ia memegang luka dipipinya yang belum mengering.

“Dasar Hyukjae brengsek, berani sekali dia menghajarku hingga seperti ini.” Donghae baru saja memenangkan trial bikenya tapi justru dihajar oleh lawannya yang kalah karena Donghae sengaja menendakng motor lawannya itu, Hyukjae ketika mereka akan tiba di garis finish. Donghae dengan cepat melangkah menuju kamarnya. Baru saja tangannya berhasil membuka pintu kamarnya itu, ketika dia mendengar suara dua orang bercakap-cakap.

Waeyo? Apakah kau mencintainya?”

“Akuu..”

Donghae mengenal suara itu, Han Sae Jung. Kekasihnya, dan Jiyong. Kemarahannya bertambah drastis ketika mendengar dua suara itu. Dengan langkah besar dan cepat, Ia pergi ke arah mereka. Mata Sae Jung langsung terbelalak begitu melihat kehadiran Donghae dibalik punggung Jiyong. Sae Jung buru-buru mendorong Jiyong agar menjauh darinya. Jiyong yang merasakan kehadiran Donghae, justru mengeratkan pelukannya. Bahkan mendekatkan wajahnya ke arah Sae Jung, dan langsung melumat bibir gadis itu. Sae Jung sontak meronta, dan berusaha melepaskan pelukkan dan ciuman Jiyong. Ia melihat Donghae yang telah mengepalakan tangannya dan kemarahan telah membaut wajahnya memerah, mendidih.

“Brengsek, kau Kwon Jiyong!!” Teriak Donghae sebelum dia menarik kerah baju sekolah Jiyong dan menghantamkan kepalan tangannya tepat di pipi Jiyong. Membuat Jiyong langsung tersungkur ke belakang. Sae Jung yang melihat kepalan tangan Donghae langsung memeluk Donghae dari belakang.

“Tolong jangan. Ini kesalahanku. Tolong jangan.” Amarah Donghae seperti surut ketika menyadari gadisnya itu menangis di balik punggungnya dan tangan-tangan hangat itu memeluknya dari belakang. Donghae membalikkan tubuhnya dan langsung mengantarkan Sae Jung dalam pelukannya.

Sae Jung hanya bisa menangis tergugu di dalam pelukan hangat Donghae. Dia memutar kembali otaknya untuk mengingat pertanyaan yang diajukan Jiyong dan alasan kenapa dia tak bisa menjawab hal itu. Sementara Jiyong menatap mereka dengan tatapan nanar, dan mengasihani dirinya sendiri.

****

Si Young dan Boa kebingungan melihat adik mereka, dengan tampang babak belur.

“Ada apa dengan kalian?” Tanya Si Young to the point.

“Aku baru saja dihajar lawanku di trial bike, noona.” Jawab Donghae tanpa mampu menatap noonanya yang menatapnya dengan tatapan menyelidik.

“Aku dihajar oleh ikan busuk.” Jiyong menjawab pertanyaan itu dengan santai.

“KALIAN BERKELAHI?!” Pekik Si Young dan Boa bersamaan. Jujur saja, mereka tidak mengetahui efek dari dua orang musuh yang tidur se kamar akan separah ini.

Ne.” Jawab kedua pria yang sudah 3 tahun bermusuhan itu dengan santai. Sementara noona-noona mereka menatap mereka dengan gusar disertai hembusan nafas panjang. Kecewa dan putus asa.

****

Donghae tengah berlari dengan gusar menyusuri seluruh koridor di sekolahnya. Banyak orang yang Ia tabrak. Ia terus berlari kesana kemari.

“Dimana Sae Jung?”

“Tadi ada seorang pria yang memaksa Sae Jung ikut bersamanya, setelah bel pulang sekolah berbunyi.”

“MWO?!”

“Sae Jung sempat meronta, tapi orang-orang tak mempedulikannya karena pria itu terlihat menakutkan.”

Percakapan sekilasnya dengan Jang In, sahabat kekasihnya itu membuat jantungnya seakan terus dipompa. Dia kebingungan, kemana kekasihnya itu pergi. Dia bisa melihat Jiyong yang berada di salah satu bangku di lorong terakhir yang ada di sekolahnya tengah bercengkrama dengan beberapa temannya. Donghae langsung berlari ke arah Jiyong.

“Kemana Sae Jung?!” Pekiknya langsung. Jiyong memberi tanda pada teman-temannya untuk pergi.

“Apa maksudmu ikan busuk?! Kau yang namjachingunya, kenapa kau tanya padaku keberadaannya??” Jiyong berkata dengan sengit dan merapikan kerah bajunya yang sempat ditarik oleh Donghae.

“Sahabatnya bilang, Sae Jung dipaksa untuk mengikuti seorang pria setelah Ia pulang sekolah, aku yakin orang itu pasti suruhanmu!” Bentak Donghae sebelum mendapatkan hantaman dari Jiyong.

“Jaga bicaramu! Aku tak tahu apa-apa! Kau yang harusnya bertanggung jawab! Kemana Sae Jung sekarang?” Jiyong mulai ikut gusar sekalipun api kemarahan masih meletup-letup didalam dirinya.

“Bodoh! Jika aku tahu, aku takkan bertanya padamu, brengsek!” Donghae masih bisa mengumpat diantara usahanya menegakkan tubuhnya.

Drrtt.. Drrtt..

Ponsel Donghae dan Jiyong berbunyi bersamaan. Mereka mengambil ponsel mereka dengan kasar dan melihat sebuah pesan yang masuk. Pesan yang sama di dua ponsel berbeda.

 

“Han Sae Jung ada ditanganku. Gudang barat bekas pabrik tekstil, Daegu. Keselamatannya bergantung pada seberapa cepat kalian datang.”

SHIT!” Umpat mereka berdua bersamaan. Jiyong dan Donghae segera berlari menuju mobilnya masing-masing dan memacu mobil itu secepat mungkin ke tempat yang disebutkan dalam pesan itu.

****

Jiyong dan Donghae datang disaat yang bersamaan. Gudang tua itu terasa begitu menakutkan dan menyeramkan dari luar. Mereka berdua sama-sama mengkhawatirkan Sae Jung yang penakut akan hal-hal semacam ini.

PRANGG..

Suara itu mengagetkan Jiyong dan Donghae bersamaan. Mereka beradu pandang sekilas, dan langsung mendobrak masuk pintu yang tertutup rapat dihadapan mereka. Pemandangan tak sedap menyambut mereka. Sae Jung duduk di sebuah kursi di tengah ruangan besar itu dengan kedua tangan terikat kebelakang, sapu tangan yang menjadi penyumpal mulutnya, dan wajahnya yang berantakan. Air matanya berurai.

“Sae Jung-aa..” Donghae langsung berlari menuju kekasihnya itu. Sae Jung justru memberontak, dan tepat 2 langkah sebelum Donghae mampu memegang Sae Jung,

“Donghae, awas!!” Teriak Jiyong. Donghae langsung membalikkan badannya, dan tepat saat itu lah sebuah bongkahan kayu mengahantam dahinya. Donghae terhuyung ke belakang dan dengan mulusnya menghantam lantai.  Jiyong yang melihat hal itu entah kenapa, langsung berlari dan mengahjar seorang pria berambut cepak yang menghantamkan bongkahan itu pada Donghae.

Donghae yang menyaksikan hal itu segera berdiri, dan bisa menangkap siluet beberapa orang di balik pintu datang menuju ke arahnya dan Jiyong. Donghae berjalan ke arah mereka, dan langsung orang pertama dari orang-orang itu berusaha melayangkan tinjunya pada Donghae. Donghae langsung meraih tangan yang hendak meninjunya itu dan memutarnya ke belakang punggung orang itu, Donghae menendang punggung orang itu dengan cukup keras hingga menghantam lantai.

Jiyong yang telah selesai dengan urusannya, mengikuti langkah Donghae, dengan menyerang sekawanan orang yang jumlahnya terus bertambah. Jiyong mengeluarkan jurus taekwondonya, sementara, Donghae mengeluarkan jurus judonya. Keduanya menangani orang-orang itu dengan kekuatan yang mereka miliki saat itu. Jiyong sering kewalahan karena orang-orang itu bukannya menggunakan kekuatan kaki, tapi menggunakan tubuh besarnya untuk mengepung dan menyerang Jiyong, disaat seperti itu Donghae yang akan menangani orang-orang itu. Dengan kekuatannya Donghae menubruk kemudian membanting orang-orang itu bersama dirinya, khas gerakan judo. Sementara Donghae lebih sering diserang pada bagian kaki, yang membuatnya kesulitan, mengingat judo lebih mengandalkan kekuatan tubuh bagian atas, Jiyong yang akan menggantikan Donghae saat itu. Kelincahan dan kekuatan kaki Jiyong yang akan bertemu secara langsung dengan wajah, kaki, perut, ataupun dada orang-orang tersebut.

Puluhan orang telah mereka kalahkan, 3 jam full mereka gunakan untuk bisa menghajar orang-orang itu. Peluh, darah,  dan memar telah mengotori tubuh Donghae dan Jiyong. Hingga akhirnya Donghae melangkah menuju Sae Jung, membuka ikatan tangan dan mulutnya dengan perlahan.

“Diam di tempat!” Bentak sebuah suara. Donghae langsung mengalihkan pandangannya dari Sae Jung. Dia bisa melihat Jiyong tersungkur ke lantai, dan seseorang menindih tubuh Jiyong dengan kakinya. Orang berjas hitam yang tak pernah sama sekali dilihat Donghae itu mengarahkan pistolnya ke arah Jiyong. Mata Donghae langsung terbelalak, apalagi ketika melihat jari-jari pria berjas hitam itu mulai bermain di sekitar pelatuk pistol.

“Serahkan gadis itu padaku, dan akan kulepaskan temanmu ini.” Katanya dengan suara bass yang cukup membuat seisi gudang itu menggemakan suaranya.

Donghae entah kenapa dilanda kebingungan. Dia seperti tak mampu memilih, menyerahkan Sae Jung dan kabur bersama Jiyong atau tetap mempertahankan Sae Jung dan membiarkan nyawa Jiyong jadi taruhannya. Donghae merutuki dirinya sendiri. Seharusnya keputusan semacam itu mudah untuk Ia ambil, tapi mengingat bantuan Jiyong semenjak tadi membuatnya harus berpikir berkali-kali.

“Cepat!” Bentak orang yang berada tak lebih dari radius 20 meter dihadapan Donghae itu. Sebuah ide gila tiba-tiba melintas di otak Donghae. Donghae meraih kursi Sae Jung. Dengan kekuatan yang tersisa, dia mengangkat kursi itu bersama dengan Sae Jung didepannya. Sae Jung menangis melihatnya, bayangan bahwa dia akan diserahkan Donghae ke orang itu telah melintas di otaknya.

Donghae memperkirakan jaraknya. Setelah merasa cukup pas, dan orang itu tengah lengah karena tertawa licik. Tangan kiri Donghae beralih memegang pinggang Sae Jung, membuat Sae Jung keheranan. Dengan secepat mungkin, Donghae mengayunkan Sae Jung dan kursinya ke kiri dan kemudian hanya menghempaskan kursi itu kedepan. Kursi yang berputar cepat diudara itu segera menghantam pria berjas yang tawanya memudar itu.

Brakkk..

Bunyi yang menggema di seluruh gudang itu merupakan kolaborasi sempurna antara hantaman kursi dengan tubuh  seseorang dan tubuh seseorang dengan lantai. Sae Jung terengah-engah dengan air mata mengering dalam pelukan Donghae. Sementara Jiyong menatap Donghae heran. “Kenapa dia menyelamatkanku?” Pertanyaan itu terus mengitari otak Jiyong.

“Jangan anggap aku berbuat baik padamu, aku hanya tidak ingin dituduh melakukan pembunuhan padamu.” Jawab Donghae ketus seakan mampu membaca pikiran Jiyong. Jiyong segera bangkit, dan betapa kagetnya dia ketika Donghae mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri. Jiyong meraih tangan itu dan segera melepaskannya ketika Ia berhasil berdiri. Donghae dan Jiyong sama-sama bingung pada sikap mereka saat itu.

Plokk.. plokk.. plokk..

Suara tepuk tangan menggema ke seisi ruagan, diiringi derap-derap langkah high heels. Sae Jung yang berada dalam dekapan Donghae tersenyum sekilas, membuat dua orang yang masih bingung pada sikapnya itu melihatnya dengan bingung.

Dua sosok muncul dari salah satu sisi gudang. Dua orang gadis berambut panjang yang tampak tersenyum lembut ke arah tiga orang yang menatap mereka.

“Boa-ya, sepertinya pertunjukkan tiga jam tadi lebih menyentuh daripada Titanic, Breaking Dawn, Letter to Juliet, atau apapun itu.” Celetuk salah satu dari dua gadis itu, Lee Si Young.

“Kurasa begitu, Si Young-aa. Dan yang lebih menarik lagi adalah, dua pemeran utama prianya tidak tahu bahwa mereka berada diantara pemeran wanita yang pandai berakting, dan berhadapan dengan dua sutradaranya sekarang.” Balas Kwon Boa, pada sahabat karibnya itu.

“Maksud noona?!” Tanya Donghae dan Jiyong bersamaan.

“Jadi sebenarnya, aku dan Boa, ehmm.. Sae Jung juga sebenarnya, kami merencanakan sebuah cara untuk mengakurkan kalian. Dan ternyata rencana yang lahir dari pemikiran kami itu berhasil!” Si Young berkata dengan ringan dan riang. Sementara Donghae menatap Sae Jung dengan tatapan meminta penjelasan.

“Hae-ya, aku kan hanya ingin berniat baik padamu.” Donghae langsung menarik kekasihnya itu dalam pelukannya.

“Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku. Betapa tegangnya aku saat melihatmu seperti itu. Tolong jangan ulangi tingkahmu. Aku takut kehilananmu, Sae Jung-aa.” Donghae mengecup puncak kepala Sae Jung sekilas, dan Sae Jung membalasnya dengan membalas pelukan Donghae.

Boa dan Si Young menghampiri Jiyong yang berada tak jauh dari pasangan yang sedang menikmati dunianya. Boa menepuk pundak adiknya itu sekilas.

“Sudahlah, kajja kita pulang.” Ajak Boa.

“Aku sudah menduganya sejak awal, lama kelamaan, hati Sae Jung tidak akan ada lagi untukku, temannya semenjak kecil. Tapi untuk pria itu.” Kata Jiyong dengan lirih. Dia berkata seolah bisa melepaskan kepergian cintanya itu, padahal hatinya berkata lain.

“Kuatkan hatimu Jiyong-aa, mungkin diluar sana, suatu saat nanti, ada seorang gadis yang jauh lebih baik dari kekasih adikku itu yang akan menjadi pendampingmu.” Si Young ikut menghibur pria yang sudah Ia anggap adik kandungnya itu.

Si Young, Boa, dan Jiyong langsung berjalan meninggalkan gudang tua itu. Jiyong tersenyum pahit sesaat sebelum meninggalkan gudang itu, karena sempat menoleh dan melihat Donghae yang berciuman mesra dengan Sae Jung. Hatinya yang sudah terluka, seperti ditaburi garam saat itu.

****

Jiyong menatap seorang gadis yang masuk ke dalam gereja dengan gaun panjang putihnya. Dua orang gadis cilik seumuran tampak mengangkat ujung gaun gadis itu. Yang di sebelah kiri, Park Si Young, anak pertama kakaknya Kwon Boa dengan seorang pengusaha muda yang telah menjalin cinta dengan kakaknya itu sejak mereka tingkat satu perguruan tinggi, Park Yoochun. Sementara yang di sebelah kanan Kim Boa. Lee Si Young menikah dengan seorang pemilik management artis terkenal, Kim Hyun Joong, dan memiliki sepasang anak kembar laki-laki & perempuan. Kim Jiyong dan Kim Boa. Jiyong tersenyum setiap mengingat aksi gila dua noonanya itu yang ingin melahirkan di hari yang sama, dan memberi nama anak mereka menggunakan nama sahabatnya.

Dirinya dan Donghae? Mereka bahkan mirip saudara kembar setelah peristiwa 8 tahun yang lalu itu. Sering pergi bersama, tampak akrab, saling peduli, bahkan hingga mereka dikira gay. Mengingat Donghae membuatnya mengalihkan tatapannya pada pria yang berdiri di ujung altar. Pria dengan white tuxedo, yang sedang menanti calon istrinya, Han Sae Jung, yang menggenggam erat tangan Tuan Han dengan erat. Beberapa saat kemudian, Donghae meraih tangan Sae Jung, dan tepat 30 menit setelahnya, Donghae dan Sae Jung resmi menjadi sepasang suami istri.

Jiyong tersenyum bahagia melihatnya. Ia jadi mengingat aksi konyol sahabatnya itu ketika melamar Sae Jung. Donghae yang sudah merayu habis-habisan Tuan Han untuk merestuinya itu akhirnya mendapatkan restu setelah 2 bulan menuruti semua persyaratan Tuan Han termasuk mengalahkan Tuan Han yang mantan juara catur internasional itu bermain catur. Tak hanya disitu, untuk melamar Sae Jung secara langsung, dia bahkan membuat semua layar-layar yang umumnya menampilkan iklan-iklan di pusat kota Seoul, menjadi menampilkan film dokumentasi perjalanan cintanya dengan Sae Jung. Membuat Sae Jung yang bekerja di salah satu gedung itu terkejut dan malu, menangis haru dan akhirnya menerima tawaran bodoh Donghae “Apakah kau mau aku mematikan seluruh video itu?” yang secara tak langsung mengungkapkan niatnya “Maukah kau menikah denganku?” Mereka bahkan berciuman dihadapan Jiyong—yang ditugaskan untuk menghimpun masyarakat melihat hal itu—dan masyarakat luas.

“Mereka tampak bahagia kan, oppa?” Suara seorang gadis disamping Jiyong membuyarkan fokus pandangannya.

Ne, apa kau ingin kita cepat menyusul mereka?” Jiyong melihat gadis disampingnya itu membelalakkan matanya.

Oppa, bahkan aku baru saja lulus. Aku masih ingin menjadi dokter kandugnan yang baik.” Gadis itu mencubit kecil lengan Jiyong. Sementara Jiyong hanya tertawa. Ia masih ingat betul bagaimana gadis disampingnya, Ahn Na Eun, membantunya bangkit dari cinta masa lalunya pada Sae Jung. Tapi bodohnya dirinya dan Na Eun tak menghadiri cinta yang menghinggapi mereka, hingga akhirnya 4 tahun lalu, ketika Na Eun akan berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studinya, Jiyong merasa dirinya menolak dan merasakan kesakitan yang dalam ketika Na Eun akan meninggalkannya. Dan dengan cara paling bodoh—menurut Donghae—dia menggunakan fasilitas information speaker di bandara untuk menyatakan cintanya pada Na Eun. Sekalipun Na Eun tetap harus ke Belanda, setidaknya Jiyong bahagia karena Na Eun menerima pernyataan cintanya itu.

So, Jiyong-aa, kau harus segera menyusul kami!” Donghae menepuk bahu sahabatnya itu ringan.

“Na Eun bilang dia masih ingin menjadi dokter kandungan yang baik, iya kan, chagi?” Jiyong melirik ke arah gadis disampingnya yang tersenyum ringan.

Ne. Aku hanya akan menikah dengan Jiyong oppa jika unnie dan oppa sudah memiliki anak dan aku menjadi dokternya.” Jawab Na Eun santai.

“Wah, sepertinya kau harus melapuk dulu Jiyong-aa.” Celetuk Si Young dan Boa yang tiba-tiba muncul diantara mereka.

“Memangnya kenapa, noona?” Jiyong menatap kedua noonanya itu dengan tatapan bingung.

“Karena aku dan Hae berencana menunda memiliki anak hingga Hae selesai wajib militer.” Jiyong langsung teringat bahwa sahabatnya itu belum menjalani wajib militer, berbeda dengan dirinya yang telah mejalani peraturan yang ditujukan untuk semua pria Korea, ditahun kedua kepergian Na Eun ke Belanda. Na Eun langsung terkik bersamaan dengan Si Young, Boa, dan pasangan pengantin baru, sementara Jiyong menatap mereka sebal.

“Yak! Lee Donghae! Hamili dulu istrimu baru kau boleh pergi. Aku tidak mau melapuk karena menunggumu, ikan busuk!” Pekik Jiyong yang justru mendapatkan tawaan dari orang-orang disekitarnya.

– THE END –

9 thoughts on “Good Sister, Bad Brother (Part 2 of 2)

  1. Yeah..happy ending….
    Nice ff chingu…keren..
    Aku kira si Sae Jung nya bakalan sama si Jiyong, eh ternyata…

    Bagus bagus~

  2. Udah terpikir sih kalau adegan penculikan saejung itu rencana duo boa siyoung. Dan ternyata bener. Meskipun endingnya nggak sesuai harapan yaitu saejung sama jiyoung sama-sama tapi seneng karena berakhir bahagia

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s