Flipped (Part 5 – End)

Author: Tirzsa

Title: Flipped

Main cast:

  • 2PM’s Wooyoung
  • SNSD’s Taeyeon

Support cast:

  • Super Junior’s Leeteuk
  • SNSD’s Tiffany

Rating: PG-13

Genre: Romance

Length: Chapter

Disclaimer: Terinspirasi dari drama & film.

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4

-oOo-

Tiffany membekap mulutnya dengan kedua tangan dan berusaha menahan tawa. Ia melirik Taeyeon yang duduk di tepi ranjang dengan wajah bengkak. Tiffany baru saja membaca isi kotak pesan yang ada dalam ponsel Taeyeon dan terkejut saat melihat ribuan pesan singkat Wooyoung yang masing disimpan rapi. Pantas saja ia tidak pernah meminjamkan ponselnya padaku, ternyata ia malu kalau aku sampai mengetahui bahwa ia menyimpan semua pesan singkat yang dikirimkan Wooyoung padanya, pikir Tiffany sambil terkikik geli.

Ya, mengapa kau terkikik-kikik seperti itu?” tanya Taeyeon merasa risih. “Apakah ada yang lucu?”

Tiffany tak mampu menahan tawa dan akhirnya terbahak keras. “Ne, kau ingin tahu apa yang lucu? Kau sendiri! Dirimu! Lucu sekali. Aku bahkan sampai tidak menyadari bahwa sebenarnya kau juga menyukai Wooyoung. Anehnya, jika kau menyukainya, mengapa kau harus menolaknya terus-menerus?”

Taeyeon menunduk dalam. “Mollayo.

Tiffany menatap sahabatnya itu bingung. Tidak mengerti dengan jawaban Taeyeon, tapi seperti itulah yang sebenarnya. Taeyeon tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya. Ia tidak menyadari setiap kali ia sedang mengecek seluruh pesan singkat yang masuk ke inbox ponselnya, menghapus pesan singkat dari orang lain, kecuali milik Wooyoung. Pada setiap malam, diam-diam, ia membaca ulang isi pesan singkat itu—yang berisi tentang perhatian-perhatian manis yang diberikan namja itu padanya—lalu mencibir setengah mati.

Pada intinya, ia sebenarnya menaruh minat pada namja itu, tapi tidak memercayai perasaannya sendiri. Maka dari itu, ia selalu mencari-cari alasan agar ia membenci Wooyoung. Kesalahan apa pun yang dibuat Wooyoung akan menjadi perkara besar untuknya. Tapi, kembali lagi ke perasaan anehnya yang tadi, bahwa ia tidak bisa benar-benar membenci namja itu.

“Kau baik-baik saja?” tanya Tiffany sambil mengguncang lengan Taeyeon.

Taeyeon sedikit tersentak dan tersenyum. “Aku baik-baik saja.”

Tiffany mendesah lega. “Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau ingin meminta maaf pada Wooyoung?”

“Sepertinya begitu. Tapi aku bingung, bagaimana harus melakukannya? Ia tidak pernah lagi datang ke rumahku dan kami jadi jarang bertemu karena ia terus menghindariku saat di kampus.”

“Kalau begitu kau yang harus mendekatinya.”

“Apa maksudmu?”

“Malam ini, datanglah ke rumahnya. Temui ia di jendelanya. Seperti yang biasa ia lakukan padamu.”

-oOo-

Malam itu, Taeyeon sudah memutuskan akan melakukan sesuatu untuk menemui Wooyoung, sesuai saran Tiffany. Maka malam itu juga, seusai menghabiskan waktu makan malam bersama keluarganya, Taeyeon menyelinap keluar dari rumah dan mendatangi rumah Wooyoung. Ini kali pertamanya ia mendatangi rumah seorang namja dan ini membuatnya gugup.

Taeyeon mengamati rumah sederhana di depannya sambil merapatkan cardigan yang dipakainya. Yeoja itu sibuk memandangi dua jendela kamar yang dimiliki oleh rumah Wooyoung. Yang jelas, satu jendela kamar adalah milik Wooyoung, sementara yang lain adalah milik orangtua Wooyoung. Namun, yang menjadi masalah adalah, Taeyeon tidak mengetahui yang mana milik Wooyoung. Ia khawatir, bila ia mendatangi jendela kamar yang salah.

Yeoja itu baru bisa bernapas lega setelah melihat siluet namja yang ia cari melintas sekilas pada jendela kamar yang di sebelah kiri. “Itu dia!”

Taeyeon berjalan dengan langkah pelan untuk meredam bunyi sepatunya pada rumput yang ada di halaman rumah Wooyoung. Yeoja itu mendongak dan melihat jendela kamar Wooyoung yang beberapa meter di atas kepalanya. Ia membungkuk untuk mengambil batu kerikil dan melemparkannya pada kusen jendela.

Ya, Wooyoung-ah!” bisiknya. Tapi tidak ada tanda-tanda Wooyoung akan muncul dari balik jendela kamar.

Taeyeon tidak patah arang. Ia mengambil batu kerikil lainnya dan melemparkannya lagi tepat mengenai kusen jendela. “Ya, Jang Wooyoung!” suara bisikan Taeyeon terdengar putus asa, ketika ia lagi-lagi tidak mendapat respon apa pun.

Apa ia tuli? Mengapa ia tidak bisa mendengar suara berisik yang berasal dari lemparan batuku? Taeyeon terus mengeluh dalam hati. Ia memandangi jendela itu dengan berkacak pinggang, memikirkan cara lain untuk menyadarkan Wooyoung. Diraihnya batu yang sebesar genggaman orang dewasa dari balik koleksi tanaman keluar Jang. Ini mungkin bisa merebut perhatiannya, pikirnya.

Taeyeon menimbang-nimbang berat batu itu dengan telapak tangannya dan bersiaga dalam posisinya. Ia melempar batu itu ke atas dengan sekuat tenaga lalu.. prang! Jendela kaca kamar itu pecah. Taeyeon terlonjak. Suasana di dalam rumah Wooyoung terdengar gaduh.

Ya! Siapa yang melakukan itu?!”

Taeyeon mendengar suara berat milik tuan Jang dari dalam kamar tersebut. Ia sepertinya telah salah menduga bahwa itu adalah kamar milik Wooyoung. Persis ketika tuan Jang membuka jendela kamarnya yang pecah, Taeyeon bersandar pada dinding rumah, menyembunyikan diri dari area pandangan tuan Jang. Yeoja itu menggigit jari dan merasakan degup jantungnya berpacu sangat cepat ketika mendengar suara tuan Jang yang menyeramkan.

Ya! Oediya? Jangan bersembunyi! Jangan menjadi pengecut! Keluar sekarang juga!” teriak tuan Jang.

Aboji, ada apa ini?” Tiba-tiba Taeyeon mendengar suara Wooyoung.

“Ada yang memecahkan kaca jendela! Menggunakan batu!”

Wooyoung mengernyit. Ia ikut menjulurkan kepalanya keluar dari jendela dan tidak menemukan siapa pun di luar sana. Tapi, beberapa saat kemudian, ketika tuan Jang mundur dan hendak keluar rumah lewat pintu, Wooyoung melihat siluet seorang yeoja menyelinap keluar dari area rumahnya.

“Taeyeon?”

-oOo-

Tiffany melambai kearah Taeyeon ketika melihat yeoja itu berjalan masuk ke kelas dengan air wajah keruh. Yeoja itu menduga pasti ada sesuatu yang terjadi pada sahabatnya itu sehingga Taeyeon tidak membalas lambaian tangannya.

Waeyo? Mengapa wajahmu kusut seperti itu?” Tiffany menarik lengan Taeyeon untuk duduk bersamanya.

Taeyeon tertunduk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. “Aku telah membuat kekacauan,” gumamnya.

Mwo?”

“Aku telah membuat kekacauan!” pekik Taeyeon kesal. Ia mengangkat wajahnya dan meringis kearah Tiffany. “Aku datang ke rumah Wooyoung semalam dan tidak sengaja memecahkan jendela kamar orangtuanya!”

Tiffany terkesiap. “Mworago? Bagaimana bisa?”

Taeyeon menggeleng, merasa frustasi. Ia baru saja ingin menjelaskan seluruh kronologi kejadiannya, namun suaranya tertahan begitu melihat Wooyoung masuk ke dalam kelas. Tatapan keduanya sempat bertemu beberapa detik, tapi Taeyeon langsung menghindar dan berpura-pura menoleh kearah lain.

Wooyoung tersenyum tipis saat itu. Ia mencari tempat duduk kosong tepat dua baris di belakang Taeyeon dan mengamati raut panik yeoja itu dalam diam.

“Wooyoung-ah,” Taeyeon dan Tiffany mendengar suara Junho mendekat kearah namja itu. “Kudengar, tadi malam rumahmu sedang dalam keadaan kacau. Apa yang terjadi?”

“Ada seseorang yang melempar batu ke jendela kamar orangtuaku,” sahut Wooyoung dengan suara nyaring, membuat teman-teman seisi kelas menoleh kearahnya.

Taeyeon merasakan dirinya menciut dibalik pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari teman-temannya. Ia merasa disudutkan tanpa sebab.

Jeongmalyo? Siapa yang melakukannya? Mengapa ia melakukan itu?”

Wooyoung berdeham. Ia melirik kearah Taeyeon dan menyahut dengan volume suara yang sama, “Mollayo. Sepertinya orang itu sangat membenciku. Mungkin tadinya ia berniat untuk melempar batu ke jendela kamarku, namun sayangnya ia melempar ke jendela yang salah.”

Taeyeon semakin tidak merasa nyaman. Ia menggenggam tangan Tiffany dengan erat dan menatap sahabatnya itu dengan tatapan meminta tolong. Tapi Tiffany mengangkat bahu dan juga tidak tahu harus melakukan apa. Satu-satunya cara untuk menghindari dari situasi tidak mengenakkan itu adalah dengan keluar dari kelas. Maka pada detik itu juga, Taeyeon segera menarik tangan Tiffany bersamanya dan menyeretnya ikut keluar kelas.

Wooyoung memerhatikan Taeyeon dan Tiffany yang keluar kelas dengan senyum tersungging pada kedua sudut bibirnya.

-oOo-

“Aku tidak mau lagi berurusan dengannya,” teriak Taeyeon putus asa.

Tiffany mengusap punggung Taeyeon dan berkata, “Tapi kau tidak bisa melakukan itu. Jangan merasa putus asa. Lagipula kau hanya memecahkan jendela kamar dan itu tidak sengaja. Apa yang salah dengan itu? Jika kau sudah berbaikan dengannya, kau bisa mengakuinya nanti dan juga meminta maaf.”

“Tapi aku merasa malu, Fany-ah! Kau sedang tidak berada di posisiku, maka dari itu kau tidak mengetahuinya!” Taeyeon memekik pelan.

Tiffany menggelengkan kepala. “Aku mengerti perasaanmu dan aku berusaha untuk membantumu memperbaiki situasi ini.”

Taeyeon tak lagi menyahut. Ia terus tertunduk dan membiarkan rambutnya yang jatuh menutupi seluruh wajahnya. Ia merasa sangat malu dan usahanya tidak berguna dan sia-sia. Sementara itu, Tiffany terus mengusap punggung sahabatnya itu dan memerhatikan keadaan sekitar kampus yang mulai sepi. Hujan tiba-tiba turun dan membasahi gedung dan lapangan, memaksa beberapa mahasiswa untuk tetap bertahan di kampus.

Tiffany melihat Wooyoung berdiri di teras gedung sebelah sambil mendongak kearah langit. Namja itu terlihat kesal karena harus menunggu hujan reda. Sebuah ide cemerlang muncul di benak Tiffany. Yeoja itu langsung mengguncang-guncang lengan Taeyeon untuk menarik perhatiannya.

“Taeyeon-ah, lihat! Taeyeon-ah!”

Taeyeon mengangkat wajahnya dengan malas dan menyahut, “Mwoya?”

“Lihat!” Tiffany menunjuk kearah Wooyoung. “Ia tidak membawa payung dan ini kesempatanmu.”

“Kesempatan untuk apa?”

“Kesempatan untuk berbaikan dengan Wooyoung!” Tiffany meraih payung dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Taeyeon. “Pulanglah bersamanya menggunakan payung ini.”

Mwo? Tapi..”

“Tidak ada kata ‘tapi’ lagi!” Tiffany mendorong tubuh Taeyeon untuk segera bangkit berdiri dan menghampiri Wooyoung. “Datangi ia dan tawarkan untuk pulang bersama!”

Walau Taeyeon terlihat ragu dan ingin menolak, tapi Tiffany terus mendorong tubuhnya. Dan dengan terpaksa, ia mengembangkan payung tersebut dan berjalan menembus hujan menuju gedung seberang, dimana Wooyoung berada.

Ia bisa merasakan jantungnya berdegup kencang ketika jarak antara dirinya dan Wooyoung semakin mendekat. Tinggal beberapa meter lagi.. Tinggal beberapa meter lagi. Taeyeon melihat seorang yeoja dengan payung bermotif bunga berjalan menuju gedung tersebut, namun dari arah yang berbeda darinya. Dan ketika sedang berjalan, sepatu yeoja itu sepertinya tersangkut pada kolam lumpur.

Taeyeon melihat Wooyoung yang berlari kecil, menembus hujan, menghampiri yeoja itu dan membantu yeoja itu mengeluarkan sepatunya yang ditelan kolam lumpur. Setelah itu, Taeyeon melihat yeoja itu mengucapkan sesuatu dan tersenyum pada Wooyoung. Walau udara sedang sangat dingin dan menggigit, Taeyeon bisa merasakan rasa cemburu yang panas naik ke atas kepalanya.

Dan rasa panas itu mulai menyesakkan dadanya ketika yeoja itu melingkarkan lengannya pada tangan Wooyoung dan keduanya pulang bersama. Taeyeon merasa kesal dan menghentakkan kakinya ke tanah dengan penuh rasa amarah. Ia membalikkan badan dan kembali berjalan menuju Tiffany.

“Mengapa kau kembali? Mana Wooyoung?” tanya Tiffany.

“Mati!”

-oOo-

Hanya tersisa dua minggu lagi sebelum pementasan drama. Taeyeon merasa panik dan juga putus asa. Sepertinya pentas dramanya akan gagal dan hari-harinya akan mulai kacau saat itu juga. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana teman-teman seorganisasinya akan menuntutnya karena ketidakberhasilannya dalam membuat pentas drama. Pentas drama adalah usulnya dan tentu saja ia yang akan bertanggung jawab atas itu.

Sementara yang lain sedang beristirahat setelah latihan akting selama beberapa jam, Taeyeon memutuskan untuk beranjak seorang diri menuju kantin. Saat keluar dari pintu ruang aula, yeoja itu terkejut ketika kepalanya terantuk dada bidang seorang namja. Ia mendongak dan melihat Wooyoung memandanginya dengan bingung. Taeyeon menelan ludah dengan gugup dan menarik kepalanya, namun ia segera meringis ketika menyadari rambutnya tersangkut pada kancing kemeja Wooyoung.

“Auch! Lepaskan!” ringis Taeyeon, tiba-tiba merasa kesal.

“Tunggu sebentar. Biar kubantu!” Wooyoung mencoba menarik rambut Taeyeon dengan pelan agar terlepas dari kancing kemejanya.

“Cepat sedikit!” tukas Taeyeon sambil terus menarik-narik kepalanya.

Wooyoung berdecak kesal. Ia menarik pinggang Taeyeon sehingga tubuh keduanya sangat rapat. “Bagaimana aku bisa melakukannya dengan cepat jika kau terus bergerak!”

Taeyeon menghela napas. Ia akhirnya berhenti bergerak dan membiarkan Wooyoung melepaskan rambutnya yang tersangkut.

“Auch!” Yeoja itu meringis hebat setelah Wooyoung berhasil mencabut rambutnya dari kancing kemejanya.

“Ini rambutmu.”

Taeyeon mengambil rambutnya yang tercabut dan meringis. “Ya Tuhan, banyak sekali.”

Wooyoung mengamati wajah Taeyeon dalam diam. Diam-diam, ia merasa begitu bahagia dan merasakan kerinduan yang mendalam karena dapat menikmati wajah Taeyeon dalam jarak sedekat ini. Ia tidak bisa membayangkan lagi bagaimana ia harus menjalani hari-harinya yang telah berlalu tanpa melihat wajah yeoja itu lagi.

Untuk pertama kalinya, Taeyeon merasa sangat gugup ketika ia dilihati seperti itu oleh Wooyoung. Yeoja itu segera membuang muka dan berusaha menepis perasaan malunya. Ia berjalan melewati Wooyoung, namun namja itu meraih tangannya.

“Taeyeon-ah,” panggilnya. Suara Wooyoung nyaris terdengar seperti sebuah bisikan.

Taeyeon menoleh. “Hm?”

“Apa kau masih marah padaku?”

Taeyeon terdiam. Bukankah seharusnya aku yang menanyakan itu, babo?

Wooyoung menatap Taeyeon lamat-lamat. “Aku tidak tahan lagi dengan situasi ini. Aku tidak tahan lagi dengan kondisi ini. Aku merasa kesepian. Aku tidak suka dengan situasi canggung yang membatasi kita.”

Aku juga, batin Taeyeon.

“Jadi..” Wooyoung berdeham. “Bagaimana kalau kita..”

“Menjalin hubungan?”

Mwo?”

Taeyeon menggigit bibirnya dan menggeleng dengan cepat. “Ani. Ani. Maksudku.. kau tadi.. ingin mengatakan apa?”

Wooyoung tertawa kecil. “Aku ingin berbaikan denganmu. Boleh, kan?”

Taeyeon terdiam untuk beberapa detik dan memandang sepasang mata sendu milik Wooyoung. Yeoja itu mengangguk dan mengulum senyum. “Ne, tentu saja.”

Keduanya bertukar senyum dan pandang. Dan keduanya sama-sama menikmatinya. Taeyeon tiba-tiba tersadar dan melepaskan genggaman Wooyoung pada tangannya dan pamit untuk ke kantin.

“Taeyeon-ah!” panggil Wooyoung pada yeoja itu sebelum ia menghilang ke dalam kerumunan orang di kantin. “Apakah aku boleh mengunjungimu lagi seperti biasa?”

Taeyeon mengangguk dan tersenyum. “Aku akan menunggumu.”

-oOo-

Taeyeon tak sungguh-sungguh sedang berkonsentrasi mengerjakan dramanya. Yang ia lakukan sejak tadi hanyalah menoleh kearah jendela dan menunggui Wooyoung datang. Kenapa ia lama sekali? Yeoja itu berdecak kesal dan akhirnya berkonsentrasi kembali pada dramanya, persis ketika terdengar suara ketukan pada kusen jendelanya.

Yeoja itu melompat dari atas ranjang dan menghampiri jendela kamarnya. Ia membuka daun jendelanya dan melihat tak ada siapa pun di bawah sana. “Dimana Wooyoung?”

“Tada~” Tiba-tiba saja namja itu muncul dan berdiri di hadapan Taeyeon seperti seorang badut. Taeyeon terlonjak dan nyaris terjungkal ke belakang saking kagetnya.

Ya, kau mengagetkanku, babo!” pekik yeoja itu kesal.

Wooyoung terkekeh. “Mianhae. Mianhae. Aku boleh masuk ke dalam, kan?”

Tanpa menunggu persetujuan Taeyeon, namja itu memanjat pada kusen jendela dan bersiap masuk ke dalam kamar.

Mwohaneungoya? Mengapa kau harus masuk lewat jendela? Kau bisa masuk lewat pintu depan jika kau mau,” kata Taeyeon.

Wooyoung menggeleng. “Ani. Ani. Lewat jendela lebih efisien.”

Namja itu mengangkat satu kakinya dan bertumpu pada kusen jendela untuk melompat masuk. Namun, karena diluar sedang hujan dan menyebabkan sepatunya yang basah dan licin, membuat lompatan Wooyoung tidak sempurna. Namja itu melompat kearah Taeyeon dan mendorong tubuh yeoja itu untuk jatuh bersamanya.

Wajah keduanya berubah menjadi merah ketika jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa senti. Terlebih lagi, posisi badan dengan Wooyoung menindih tubuh Taeyeon membuat situasi canggung itu semakin membuat keduanya merasa risih. Wooyoung segera bangun dan membantu Taeyeon untuk bangkit bersamanya.

Mianhae. Aku benar-benar tidak sengaja,” kata Wooyoung sambil menepuk-nepuk bajunya yang tidak benar-benar kotor.

Taeyeon tersipu malu. “Ne, gwaenchanha.”

“Apa yang sedang kau kerjakan?” tanya Wooyoung sambil menuding laptop Taeyeon yang menyala di atas meja belajar.

“Pentas drama. Kau ingat, kan, Leeteuk oppa tidak bisa memerankan Romeo karena..” Taeyeon melihat Wooyoung dengan perasaan bersalah. “Mianhae, aku tidak bermaksud mengatakan sesuatu yang buruk. Aku tahu kalau kau berusaha menyelamatkan Leeteuk oppa dari jatuhnya lampu panggung.”

Wooyoung tersenyum hangat. “Gwaenchanha. Lagipula, sepertinya aku memang salah karena mendorongnya terlalu keras.”

Keduanya terdiam dan merasa tidak enak satu sama lain. Wooyoung berdeham keras untuk menetralisir udara yang berputar-putar di atas mereka dan melanjutkan, “Kalian masih kesulitan untuk mencari pengganti pemeran Romeo, kan?”

Ne, begitulah,” sahut Taeyeon lirih.

“Aku bisa menggantikan Leeteuk hyung untuk peran Romeo,” seru Wooyoung semangat.

Taeyeon memandangi Wooyoung dengan ragu. “Tapi, bagaimana caranya? Pentas drama tinggal seminggu lagi dank au belum latihan untuk menghapalkan naskah.”

“Aku sudah menghapalnya,” tukas Wooyoung. “Selama kita tidak saling bicara, diam-diam aku sudah latihan untuk peran Romeo karena aku tahu kau juga diam-diam berharap bahwa aku bisa menggantikan Leeteuk hyung untuk peran Romeo.”

“Cih, percaya diri sekali,” desis Taeyeon.

“Aku terlalu percaya diri?” Wooyoung terbahak. “Lalu, bagaimana denganmu? Aku tahu, kau diam-diam begitu ingin berbaikan denganku, bukan? Maka dari itu kau datang ke rumahku dan memecahkan jendela kamar orangtuaku?”

Taeyeon menelan ludah. “Bagaimana kau bisa tahu?”

“Aku melihatmu menyelinap kabur dari rumahku sebelum abojiku keluar dari pintu,” kata Wooyoung sambil tersenyum penuh kemenangan.

Taeyeon menepuk jidatnya dan mengutuki dirinya sendiri. “Jeongmal mianhae. Tadinya kupikir lemparanku tidak akan meleset.”

Wooyoung terbahak lagi. “Ne, gwaenchanha. Jadi, bagaimana dengan peran Romeo itu? Kau memercayaiku untuk berperan sebagai Romeo, kan?”

Taeyeon mengangguk. “Ne, aku memercayakannya padamu.”

-oOo-

Hari Thanksgiving. Matahari bersinar hangat pagi itu, menembus gedung aula. Sebuah banner besar bertuliskan ‘Romeo & Juliette’ terpampang cukup jelas di depan pintu masuk gedung aula. Orang-orang mulai berbondong masuk ke gedung aula, memilih bangku penonton yang mereka sukai. Taeyeon mengamati pemandangan itu dari balik tirai panggung. Ia merasakan sensasi yang sama setiap kali melihat para penonton yang menanti-nanti drama dimulai. Degup kencang jantungnya dan seulas senyum puas.

“Apa kalian telah siap?” Taeyeon berseru kearah pemeran-pemeran yang sedang berdiskusi.

Ne, kami siap!”

Tirai panggung dibuka dan suara riuh tepuk tangan penonton menyambut para pemeran satu per satu. Taeyeon mengawasi jalannya drama dari balik tirai. Tangannya menggenggam naskah, mencoba mencocokkan setiap adegan dan mengoreksi kalau-kalau ada kesalahan. Dan sejauh ini, semua adegan berjalan dengan sempurna, sampai tersisa beberapa adegan terakhir.

Taeyeon membuka lembar-lembar naskah terakhir dan menelan ludah saat membaca adegan terakhir. “Romeo dan Juliette mengungkapkan perasaan mereka masing-masing dan mereka.. berciuman..”

Yeoja itu mengangkat wajahnya dan melihat Wooyoung dan Tiffany sedang beradu akting di atas panggung. Keduanya tampak serasi. Cantik dan tampan. Rasa cemburu itu naik ke atas dada Taeyeon, terasa menyesakkan. Apakah benar, ia akan merelakan namja yang ia cintai berciuman dengan yeoja yang merupakan sahabatnya sendiri? Walau keduanya berpasangan sebagai Romeo dan Juliette, tapi hati Taeyeon tidak bisa menepis penglihatannya bahwa ia kesulitan melihat keduanya selain dari sosok Wooyoung dan Tiffany itu sendiri. Ia tak bisa menghindari rasa cemburu yang terselip di dalam hatinya.

“Wooyoung dan Tiffany akan berciuman,” gumamnya pelan.

Narator yang berdiri di sudut panggung mulai memasuki adegan-adegan terakhir. Tiffany yang mendapatkan adegan terakhir, mundur ke backstage untuk menarik napas. Wajah yeoja itu kemerahan karena kesulitan untuk mengatasi rasa takutnya saat berada di panggung dan ditonton ratusan orang penonton.

“Taeyeon-ah, bagaimana aktingku?” tanya Tiffany dengan wajah berseri. Ia mengipas-ngipas dirinya dengan telapak tangan. “Apakah memuaskan?”

Taeyeon tersenyum tipis. “Ne, sangat memuaskan.”

Tiffany mengernyit, merasakan keanehan sikap Taeyeon. “Kau baik-baik saja?”

Ne, aku baik-baik saja.”

Tiffany menolak pengakuan Taeyeon yang tidak beralasan. Yeoja itu mengintip naskah yang sedang Taeyeon baca dan mengangguk-angguk saat melihat adegan terakhirnya dengan Wooyoung. Kiss scene.

“Aku sepertinya tidak bisa melanjutkan drama ini,” kata Tiffany sembari melepas sarung tangan kostumnya.

Mwo? Waeyo?” tanya Taeyeon yang terperanjat. “Kau tidak bisa berhenti begitu saja di tengah jalan. Masih ada adegan terakhir!”

Tiffany menggeleng dan tersenyum penuh arti. Ia memberikan sepasang sarung tangan berenda itu pada Taeyeon dan berkata, “Adegan ciuman itu? Hm, chakkaman! Bukankah kau pernah mengatakan bahwa kau ingin membuat drama Romeo & Juliette ini berbeda? Happy ending?”

Taeyeon mengangguk dengan bingung.

“Kalau begitu, buatlah cerita ini menjadi happy ending,” kata Tiffany sambil mengerlingkan matanya.

-oOo-

Wooyoung merasakan kegelisahan yang tidak berkesudahan ketika adegan terakhir tiba, mengingat ia harus melakukan adegan ciuman dengan Tiffany. Ia merasa khawatir tanpa sebab. Matanya melirik kearah backstage dan mendapati Taeyeon tidak lagi berada di sana. Entah kemana.

Namja itu kini masih berdiri di tengah panggung dan menanti Tiffany muncul dari balik tirai panggung. Ketika tirai panggung terbuka, Wooyoung terkesiap dengan perasaan penuh takjub ketika melihat Taeyeon berdiri di sana dengan gaun berenda yang seharusnya dikenakan oleh Tiffany. Tak hanya Wooyoung, seluruh penonton merasa aneh dengan pemeran pengganti Juliette yang secara tidak terduga ini.

Taeyeon menarik gaunnya dan berjalan menghampiri Wooyoung dengan langkah anggun. Wooyoung tak sekalipun berkedip saat melihat yeoja itu menghampirinya.

“Kau cantik sekali,” bisik Wooyoung ketika Taeyeon kini berdiri di hadapannya.

Taeyeon tersenyum. “Itu bukan bagian dari naskah.”

Wooyoung ikut tersenyum. Ia meraih tangan Taeyeon dan mengecupnya. “Saranghaeyo, Julietteku.”

Nado saranghae, Romeoku.”

Wooyoung merasakan degup jantungnya bekerja di atas normal saat wajah Taeyeon mendekat. Yeoja itu menjinjit dan mengecup bibir Wooyoung. Wooyoung bisa merasakan jiwanya bersuka cita, kebahagiaan yang melompat-lompat riang di dalam dadanya. Keduanya membuka mata dan saling menatap satu sama lain, ketika ciuman itu selesai.

Taeyeon melingkarkan lengannya pada leher Wooyoung dan memeluk namja itu sangat erat. “Ucapan cintaku tadi diluar naskah,” bisiknya di telinga Wooyoung.

“Aku tahu,” Wooyoung balas berbisik. “Dan aku juga mendapatkan ciuman selamat malam yang selama ini selalu kuimpikan.”

Taeyeon tertawa pelan. “Itu bukan ciuman selamat malam. Tapi hadiah Thanksgivingku untukmu.”

Walau seluruh penonton dibuat bingung dengan pergantian pemeran, mereka tetap berdiri dan memberikan standing applause untuk drama Taeyeon. Riuh tepuk tangan itu terdengar begitu menyenangkan di telinga Taeyeon. Ia merasa puas. Segalanya memang happy ending. Bukan hanya untuk drama Romeo & Juliette yang ia rombak. Tapi juga pada drama percintaannya sendiri. Happy ending.

THE END

55 thoughts on “Flipped (Part 5 – End)

  1. Bener2 happy ending…. Drama taeyeon sukses dan wooyoung sukse mendapatkan cinta taeng,, sempat was2 jika tadinya wooyoung akan mencium tiff, eh ternyata ceritanya dirombak… Bukan hanya penonton yg bingung tp reader jga bingung…. Tp tetep 2 jempol buat couple ini

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s