[FF Competition] A Better Life

Tittle : A Better Life

Length : ONESHOOT

Genre : Romance

Rate : PG 15

Author : Chondahwoon

WordPress : http://cloudsparkling.wordpress.com/

Cast :

Shim Hyunjoo (OC)

Lee Sungmin (Super Junior)

Lee Donghae (Super Junior)

Choi Siwon (Super Junior)

And other cast you will find in this FanFict

Disclaimer : I don’t own Super Junior character’s here, they belong to GOD and themselves,  FanFict ini mutlak murni dari hasil pemikiran saya, jika ada kesamaan setting, alur atau nama tokoh dalam FanFict ini maka itu semua adalah faktor ketidak sengajaan belaka.

  

 

Mungkin ini pilihan yang menyakiti mu, tapi aku yakin ini adalah yang terbaik untuk mu..

Untuk kau dan aku,

Meski suatu hari nanti kita bertemu dengan perasaan yang tak sama seperti ini,

Tapi yakinlah apa yang kita dapatkan di masa depan nanti itu adalah yang terbaik..

Kali in saja, kita jalani semua yang terbaik untuk kita

Biarlah rasa ini terendap indah dan menjadi kenangan yang tak mudah dilupakan…

Ditengah kesunyian kota Seoul tepatnya saat pukul 1 dinihari, seorang gadis berlari kencang sambil sesekali menoleh kebelakang, tangannya kanannya menenteng sepasang high heels, kakinya telanjang, rambutnya berantakan dan di beberapa bagian bajunya terlihat kacau bahkan ada jahitan yang terlepas disana. Nafasnya yang tersengal tak sedikitpun diindahkannya, ia terus berlari dan berlari. Dibelakangnya seorang pria dengan postur tinggi dan tegap mengejarnya. “Shim Hyunjoo! Berhenti kau!” Teriak pria itu dari kejauhan, sebenarnya pria itu juga sudah terlalu lelah untuk mengejar gadis bernama Shim Hyunjoo itu tapi perasaan kesal, dongkol dan marahnya itu membuat kakinya seolah enggan berhenti berlari mengejar gadis itu.

Langkah kaki Hyunjoo melemah, larinya tak bisa sekencang tadi, gadis itu pun seolah kehabisan nafasnya, sesaat ia mencoba bertahan dan tetap gegabah dan terus berlari dengan kecepatan yang sama seperti sebelum kondisinya melemah. Nihil. Usaha itu sia-sia. Kini konsentrasinya hilang dan keseimbangan tubuhnya roboh. Daya tarik bumi membuatnya jatuh tersungkur di tepian jalan sepi. Ia meringis sakit karena lututnya yang lecet dan pergelangan kakinya yang terkilir. Sebisa mungkin ia bangkit dari posisinya, “Shim Hyunjoo… Aku mohon jangan lemah untuk saat ini!” Geram Hyunjoo pada dirinya sendiri yang tak kunjung bisa bangkit.

Saat Hyunjoo sudah berhasil mengangkat sedikit tubuhnya, tangan tegas itu kembali menjambak rambutnya kuat-kuat hingga kepalanya terdongak menghadap ke lampu jalanan dengan sinar oranye yang menyilaukan. Nafas Hyunjoo tercekat ketika lagi-lagi pria itu menjambaknya lebih kuat dari sebelumnya, dalam hati Hyunjoo menyumpahi si pria yang menurut sebagian besar orang lebih dari biadap itu. “Lepaskan aku!!” desis Hyunjoo dengan amarah yang diredamnya.

Pria itu mendekatkan bibirnya pada telinga Hyunjoo “Apa? Melepaskan mu? Lunasi dulu hutan keluarga mu baru aku akan melepaskan mu..” ujarnya setengah berbisik. Hyunjoo menutup rapat-rapat matanya agar sinar lampu jalanan tak  menyeruak masuk ke mata lalu merusak sistem pengelihatannya dan sekaligus juga menghindari matanya ternodai oleh sosok mahluk ciptaan Tuhan yang menurutnya sama sekali tak pantas jika di sebut manusia saat itu. Ia muak melihat wajah itu. Sangat muak.

“Aku akan membayarnya segera! Tapi tidak untuk sekarang!” Tukas Hyunjoo tanpa membuka matanya sedikitpun. Pria berambut hitam itu semakin menyembulkan kepalanya di antara leher dan pundak Hyunjoo, sementara satu lengannya mulai melingkar dengan leluasa di pinggang gadis itu. “Choi Siwon, lepaskan aku… Dan setelah ini, biarkan aku mencari uang untuk membayar semua hutang ku pada mu!” Lanjut Hyunjoo dengan suara bergetar.

“Apa? Uang? Sudah berapa kali ku katakan pada mu bodoh, aku tak perlu uang… Lagi pula mau cari dimana kau uang sebanyak itu untuk membayar hutang orang tua mu pada ku, hah? Aku hanya butuh tubuh mu, itu saja.” Pria bernama Choi Siwon itu semakin mempererat dekapannya di tubuh Hyunjoo, sejurus kemudian, bibirnya mencium pipi Hyunjoo.

Hyunjoo yang kembali merasa dilecehkan pun akhirnya mengambil suatu tindakan. Ia menghujamkan high heels yang sedari tadi setia di tentengannya ke perut pria jangkung itu dengan kekuatan penuh. Sukses. Choi Siwon melepaskan dekapannya lalu meringis menahan sakit luar biasa akibat hantaman keras dari high heels milik Hyunjoo sementara itu, Hyunjoo mampu bangkit dan kembali berlari meninggalkan Siwon yang masih mengerang sakit. “Kau tidak akan ku lepaskan begitu saja wanita jalang!! Berhentilah berlagak sok suci dihadapan ku!” Siwon meneriaki Hyunjoo yang terus berlari meninggalkannya. Sambil sesekali meringis sakit, akhirnya Siwon dapat kembali mengejar Hyunjoo.

Hyunjoo melirik  sekilas kebelakang dan mendapati sosok Siwon dengan wajah mengerikan mengejarnya. Hyunjoo tak mau menyerah, kali ini ia mengerahkan semua energinya untuk berlari dan mencari tempat persembunyian yang aman. Mata Hyunjoo sontak melebar ketika ia menemukan segerombolan pria tengah duduk-duduk di kap mobil yang terparkir di lorong jalanan, lorong yang penuh dengan coretan iseng dan grafiti, Hyunjoo menarik nafas lega semangatnya pun kembali terpompa, ia mendekat dan semakin mendekat pada gerombolan pria itu meski dirasanya Siwon juga semakin mendekat padanya, ia tak peduli, ia merasa lebih aman sekarang.

“Ya! Jalang! Kau…” Siwon tiba-tiba sudah ada di belakangnya dan menarik paksa pundak Hyunjoo hingga tubuh gadis itu berbalik. “Berhenti menghindari ku jalang!!” Bentak Siwon. Dalam hati Hyunjoo menertawai kebodohan Siwon, ‘Sudah tau beberapa meter dari sini ada segerombolan manusia, kenapa dia masih berani membentak ku dengan suaranya yang besar seperti itu. Bagaimanapun juga aku ini wanita dan sudah pasti wanita akan di bela’ Batin Hyunjoo.

Ditempat lain, seorang pria yang berada di tengah-tengah gerombolan itu turun dari kap mobil yang sedari tadi di dudukinya. Bersama teman-temannya, ia memperhatikan pertengkaran mulut yang terjadi antara pria dan wanita yang tak begitu jauh dari jangkauan mereka. Pria berkaos hitam itu memperhatikan sosok si gadis yang  tengah berkelahi itu dengan amat detail. Ia menangkap bahwa penampilan gadis itu  sungguh memprihatinkan dengan blus putih yang tak terkancing sempurna juga di bagian bahu blus itu terkoyak. “Ini tidak bisa di biarkan!” Suara geram yang berasal dari seorang pemuda berwajah tampan yang tak lain adalah temannya itu berhasil mengalihkan perhatiannya.

“Kyu, mau apa kau?!” Tanya pria itu pada temannya.

Hyung! Lihat gadis itu.. Dia itu korban pemerkosaan hyung!!” Pemuda berwajah tampan itu berusaha meyakinkan orang yang disebutnya ‘hyung’ itu. “Kajja!” Pemuda itu menggedikan dagunya kesamping memberi komando pada teman-temannya untuk membantu si gadis. Yang lain menurut, namun pria berkaos hitam itu masih menjadi patung “Sungmin hyung! Kajja!” Dengan sedikit ragu, Sungmin-pria berkaos hitam itu- mensejajarkan langkahnya menuju tempat perkelahian Hyunjoo dan Siwon yang sudah pasti baginya saat itu hanyalah orang asing.

“Siapa kalian?!” Tanya Siwon setengah gemetar. Takut? Sudah pasti, mengingat satu lawan lima orang bukanlah hal yang mudah, tapi lagi-lagi Siwon tetap berlagak sok hebat dan angkuh.

“Apa yang kau lakukan dengan wanita ini hah!?” Tanya pemuda tampan yang menjadi komandan untuk aksi pertolongan gadis ber-blus putih itu. Hyunjoo yang menyaksikan pemandangan itu sebisa mungkin menyembunyikan senyuman puasnya.

“Bukan urusan kalian! Hyunjoo kajja!!” Siwon meraih tangan Hyunjoo lalu menarik gadis itu pergi. Belum ada lima langkah tubuh Siwon dibalik paksa oleh pemuda tampan tadi.

BUG!

Tinjuan itu melesat mulus di pipi kanan Siwon hingga darah keluar dari sudut bibirnya. “Mau kau apakan lagi dirinya!?” Seru pemuda itu penuh emosi sementara Siwon hanya menanggapinya dengan seringaian. Tangan Siwon terjulur kedalam jas hitam yang ia kenakan, kemudian merogoh sesuatu.

Pistol.

“Pelurunya masih penuh, dan cukup untuk menghabisi kalian semua juga gadis ini.” Ucap Siwon dengan enteng seraya menodongkan pistol di kening si pemuda.

“KYUHYUN-AH!!” Sungmin berteriak dari jauh lalu mengambil langkah untuk menyelamatkan teman karibnya itu namun dadanya di dorong oleh lengan seorang temannya yang berperawakan tinggi dan rambut sedikit gondrong “Tenanglah, Kyuhyun tidak apa-apa. Jangan gegabah.”

“Choi Siwon! Sudah ku katakan hentikan kegilaan mu!” Hyunjoo berusaha membuat tangan Siwon berhenti untuk menodongkan pistol ke dahi pria yang baru saja di kenalnya itu. Siwon mendorong paksa tubuh Hyunjoo hingga Hyunjoo terjermbab ke tanah.

“Kau menyakitinya lagi!” Teriak Kyuhyun lantang.

“Masih berani melawan kau bocah!?”

“Siapa yang takut dengan mu, kalau aku mati pun kau juga akan mati!”

“Percaya diri sekali kau! Sungguh memuakan!”

Sungmin tak tinggal diam, dia berjalan menuju tempat dimana Kyuhyun dan Siwon bersitegang tanpa mempedulikan bisikan-bisikan temannya yang menyuruhnya mundur. “Dasar kalian semua bodoh, masa tidak ada satupun yang berani  pada pria gila ini?” Sungmin berdecak pelan dengan rasa kesal yang memuncak di ubun-ubunnya.

Siwon yang masih beradu pandang dengan Kyuhyun tak menyadari kehadiran Sungmin di sampingnya. Siwon baru menyadari kehadiran Sungmin ketika pria itu mencengkram kuat pundaknya lalu mendorong tubuh Siwon hingga telentang di aspal. Sungmin mengangkangi tubuh Siwon dan memukuli pria itu sekuat tenaga, Sungmin lupa bahwa pistol Siwon masih ada di genggaman pria itu. Selanjutnya mereka bergulat dan bergantian saling memukul, hingga akhirnya Kyuhyun menengahi dan menjadi ganti Sungmin untuk daratan-daratan pukulan nyeri dari tangan Siwon.

“Kau lihat teman-teman mu disana bagai pecundang! Mereka sama sekali tak mau membantu kalian, menelpon polisi pun mereka tak sudi!” Tangan Siwon terjulur kembali, tapi tidak di dahi Kyuhyun melainkan di dadanya.

DORR!

***

Hyunjoo kini berada di sebuah rumah kecil yang pas-pas-an jika di tinggali oleh satu orang saja. Ia duduk manis dengan kedua lututnya yang bertemu satu sama lain di sebuah sofa kecil yang terlihat usang. Mata Hyunjoo begitu betah melihat pemandangan yang ada di depannya meski sesekali tubuhnya bergidik seolah merasakan rasa sakit yang ada di lengan kanan Sungmin. Sungmin pun tampak sesekali meringis ketika Kyuhyun menyapu luka bekas congkelan peluru yang telah di buatnya-manual, tanpa sedikitpun sentuhan tangan medis. “Hyung, tahan sedikit lagi ya dari tadi kau bergerak terus sih,” ujar Kyuhyun.

“Ah, ne.. Cepat obati, lalu kau perban!” Sahut Sungmin dengan gigi merapat. “Aisss… Ya Tuhan, ini sakit sekali!!” Sungmin meraih salah satu bantal tidurnya lalu mengigitnya sekedar menyalurkan rasa nyeri yang didera lengan kanannya saat itu.

Hyunjoo yang memandang prihatin ikut bergidik, ia kini mulai tak betah melihat pemandangan itu di depannya. “Aisss.. Biar ku panggilkan dokter saja ya!” Tawar Hyunjoo sambil merogoh ponsel yang ada di saku celana skiny jeans panjang yang di kenakannya.

“Tidak! Tidak usah! Kau tidak perlu khawatir!” Seru Sungmin dengan reaksi berlebihan dari raut wajahnya.

“Kenapa?” Tanya Hyunjoo polos.

“Sungmin hyung memang tidak suka dokter dan rumah sakit,” Kali ini yang menjawab Kyuhyun.

“Ah..” Desah Hyunjoo. “Aku mengerti”

Aegesshi, lebih baik kau jangan pulang dulu, kau bermalam saja disini” Ucap Sungmin. “Pria itu sekarang pasti masih mencari mu, lagi pula tidak baik gadis pulang dini hari seperti ini,” lanjutnya.

“Hm? Kau serius? Kau memperbolehkan ku tinggal disini?” Hyunjoo bangkit dari sandarannya pada punggung sofa.

“Ya, aku menjamin disini kau akan aman, dan kau tak perlu takut pada ku karna aku tidak sebrengsek yang kau bayangkan.”

Hyunjoo mengangguk seraya tersenyum simpul. “Ne, khamsahamnida… Sungmin-ssi

***

Kicauan burung terdengar amat merdu di telinga Hyunjoo, terbangun pagi tepat pada pukul tujuh sama sekali tak membuat dirinya merasakan kantuk sedikitpun. Tidur selama empat jam dimalam hari sudah cukup membuatnya merasa lebih baik malah sekarang Hyunjoo terlihat begitu semangat beraktifitas di depan kompor gas yang tentu saja milik pria bernama Lee Sungmin, pria yang menyelamatkannya semalam dari kebrutalan Choi Siwon. Choi Siwon, pria bringas itu adalah mantan kekasih Hyunjoo yang masih sangat dicintainya. Kejadian malam itu benar-benar sukses membuat Hyunjoo menjadi sedikit hilang feeling. Ya, sedikit. Jauh di dalam lubuk hatinya masih terukir nama Siwon disana. Entahlah, perspektif pandangan Hyunjoo mungkin berbeda dengan yang lain. Memang, disatu bagian dirinya ia menjadikan sosok Siwon adalah sosok yang menakutkan tapi dilain sisinya ia sungguh mencintai pria itu.

“Tidak usah memberikan ucapan terimakasih dengan membuatkan ku sarapan Aegesshi,” Suara lembut itu mengalihkan perhatiannya dari panci yang bertengger di atas kompor dengan asap mengepul di udara. Hyunjoo menoleh dan mendapati Sungmin membuka kulkas kecil yang berkarat lalu mengambil sebotol air mineral dingin dari sana. Pria baby face itu membuka tutup botolnya lalu menegak air mineral itu hingga habis separuh.

“Apa aku terlalu lancang untuk memakai dapur mu Sung-min-ssi?” Tanya Hyunjoo sedikit ragu.

Anniyo.. Bukan begitu, aku jadi merasa sedikit tak enak karna sikap mu pagi ini, aku juga merasa bahwa aku adalah orang yang pamrih..” Sungmin melemparkan pandangannya pada Hyunjoo sambil tersenyum tipis.

“Aah.. Tidak apa, aku juga lapar… Hm, sepertinya sup ku sudah selesai, duduklah disana dengan manis dan aku akan menyajikan sup ini sebentar lagi” Ujar Hyunjoo sebelum ia mengambil dua buah mangkuk kaca dengan ukuran sedang dari rak piring yang berada di sudut meja dapur. Sungmin yang mendengar ocehan Hyunjoo tadi hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menuruti perintah Hyunjoo agar duduk manis di balik meja makan. “Seharusnya yang mempersilahkan duduk kan aku, bukan kau Aegesshi..” ucap Sungmin pelan dan sama sekali tak terdengar oleh telinga Hyunjoo.

Setelah selesai di tuangkannya sup itu kedalam mangkuk, Hyunjoo langsung meletakan mangkuk itu tepat di hadapan Sungmin. “Cobalah, menurutku rasanya tidak terlalu buruk..” kata Hyunjoo.

Sungmin menyiduk sesendok kuah sup buatan Hyunjoo lalu menyeruputnya ’Sama’ batin Sungmin ketika kuah sup itu menyusuri tiap inchi permukaan lidahnya, “Sebelumnya kau pernah memasak?” Tanya Sungmin. Hyunjoo menggeleng mantap untuk menjawab pertanyaan Sungmin.

“Enak.. bahkan tak terlihat kalau ini adalah buatan seorang gadis yang tak bisa memasak. Ini persis sama dengan rasa sup yang biasa ibu ku buat ketika dia masih hidup,” Sontak Hyunjoo langsung menatap Sungmin lekat-lekat. “Ibu ku dulu sering sekali membuatkan sup ini untuk ku ketika aku sakit,” lanjut Sungmin sambil mengaduk-aduk sup dengan sendok yang ada di genggamannya, matanya juga tampak menerawang kedalam kuah sup yang tergenang di dalam mangkuk.

Mi-mian.. Mianhamnida, aku tak bermaksud mengingatkan mu pada beliau..” ucap Hyunjoo sedikit kikuk.

Gwenchana, bukankah aku sendiri yang tadi memulainya? Hm, dan setidaknya aku tidak semenyedihkan dirimu yang dikejar-kejar oleh pria brengsek saat pukul satu dinihari,” Singgung Sungmin. Hyunjoo hanya mencibir Sungmin dengan sedikit memiringkan bibirnya dan mamandang kesal pada pria itu.

“Mengapa kau mengingatkan ku pada kejadian semalam? Menyebalkan!” Sungmin yang mendengar nada kesal dari mulut Hyunjoo tergelak.

“Hei, pria itu siapa sih sebenarnya?” Tanya Sungmin.

“Mantan kekasih ku,” jawab Hyunjoo sekenanya.

“Itu saja? Ah, tidak menarik!” Sungmin kembali menyiduk supnya lalu menyeruputnya lagi.

“Dia mantan kekasih yang masih ku cintai hingga sekarang. Bodoh bukan? Apalagi jika mengingat hubungan kami dulu di dasari oleh perjodohan karna bisnis. Benar-benar aneh bisa terjebak cinta dalam suatu hubungan yang semula tak ku inginkan” Hyunjoo menggelengkan kepalanya lemah dan tersenyum dingin pada kepulan asap dari sup yang ada di depannya sementara Sungmin ternganga mendengar apa yang telah di ucapkan Hyunjoo tadi.

“Dia hampir memperkosa mu dan… Kau tetap mencintainya?” Kali ini Sungmin yang menggelengkan kepalanya tak habis pikir. “Kau gila Aegesshi, kalau kau masih mencintainya mengapa tak kau serahkan saja tubuh mu untuk di perkosanya?”

“Tch, entahlah… Aku merasa tidak rela keperawanan ku direnggut olehnya, sekarang aku jadi tak yakin kalau yang ku rasa ini… Cinta?” Hyunjoo kembali tersenyum getir.

“Mungkin itu hanya perasaan ingin memiliki saja?” Terka Sungmin.

“Mungkinlah…”

“Tapi aku mengerti dengan apa yang kau rasakan saat ini,”

“Ya, baguslah kalau ada yang bisa mengerti, oya.. temanmu yang bernama Kyuhyun itu pemberani sekali ya…” komentar Hyunjoo sambil tersenyum.

“Dia memang begitu, dia itu broken home ibu dan adiknya meninggal karna ayahnya yang membunuhnya, maka dari itu sampai sekarang dia jadi benci sekali pada pria yang berani menggunakan kekerasan pada wanita,” Papar Sungmin panjang lebar, Hyunjoo menanggapinya hanya dengan anggukan paham.

***

“Sungmin-ssi, kau teman yang menyenangkan lain kali bolehkan aku kesini lagi??” Teriak Hyunjoo dari dalam mobil.

“Silahkan saja, tapi ingat kau harus menghubungi ku kalau mau kesini Aegesshi!” Sahut Sungmin.

“Baiklah, sampai jumpa lagi!” Hyunjoo melambaikan tangannya dari jendela sedan hitam yang sudah mulai berjalan Sungmin pun turut membalas lambaian tangan Hyunjoo yang menurutnya terkesan sangat kekanakan untuknya. Sungmin mengerti sekarang mengapa Hyunjoo masih begitu sulit melepaskan pria sebrengsek Siwon, Hyunjoo adalah gadis polos yang terperdaya oleh hal klise yang disebut ‘cinta pertama’, hatinya masih begitu polos dan bening jika dia mencintai seseorang pasti ia akan benar-benar tulus dan memberikan seluruh hatinya pada orang itu.

“Itu kah orang yang menolong mu terbebas dari Siwon?” Tanya seorang pria berjas coklat tua yang duduk di balik stir mobil pada Hyunjoo.

Ne, dia yang menolong ku oppa waeyo?” Hyunjoo balas bertanya.

“Yaa, dari tampangnya dia terlihat lebih baik dari Siwon,” komentar pria itu sembari melirik sekilas pada Hyunjoo. “Kau akan tinggal di rumah ku kan sementara ini?”

Hyunjoo mengangguk, “Mana mungkin aku punya nyali untuk tinggal dirumah ku sendiri oppa, lebih baik aku tinggal di rumah keluarga Lee, yang aman tentram dan jauh dari pandangan pria busuk itu.”

“Hahaha”

“Yak! Lee Donghae, apa yang lucu!?”

“Menggelikan. ‘Pria Busuk’ kau yakin itu titel yang pas untuk Siwon tercinta mu itu? Kau tau… Sampai saat ini aku masih mengingat  saat kau meraung-raung di depan ku karna Siwon bersikap sangat angkuh, kau mengeluh bahwa kau sudah terlalu mencintainya dan tak bisa lagi melepaskannya.” Lee Donghae, pria itu terbahak.

Oppa!! Berhenti menertawai ku!”

***

Ini sudah dua minggu berlalu, dan sampai saat ini dia tidak tau lagi dimana keberadaan Siwon yang sempat dihajar habis-habisan oleh tiga orang teman-teman Sungmin malam itu. Sebenarnya, ia cukup penasaran apa yang tengah dilakukan pria itu hingga sampai hari ini dia tak juga menampakan batang hidungnya. Tapi terkadang Hyunjoo juga bersyukur karna hidupnya kembali tentram tanpa teror dari mantan kekasihnya itu.

Sore itu Hyunjoo keluar dari rumah kediaman keluarga Lee, keluarga sahabat orang tuanya. Keluarga kecil yang sederhana, yang begitu baik padanya karna telah menganggapnya sebagai anak mereka sendiri sepeninggalan kedua orang tua Hyunjoo yang meninggal dunia karna keduanya mengidap lemah jantung, parahnya lagi kedua orang tuanya itu meninggalkan hutang puluhan juta won yang harus di bayar pada pemuda kaya raya bernama Choi Siwon itu.

Jempol patut di acungkan untuk keluarga Lee, pasalnya keluarga yang memiliki dua orang putra yang hidup dalam kesederhanaan itu sekarang telah menjadi orang-orang yang berhasil di bidangnya, Lee Donghae putra sulung itu kini telah menjadi pengacara yang cukup di perhitungkan kematangannya, Hyunjoo kadang suka geli hati ketika mengingat bagaimana perangai Donghae ketika ia kecil, Donghae kecil adalah preman sekolah yang tak henti-hentinya membuat onar dan sekarang ia telah berubah 180 derajat, dia jadi terlihat sangat berwibawa dan begitu mempesona. Berkebalikan dengan Donghae, Donghwa adiknya yang dulu sangat pendiam kini berubah sangat attraktif sebagai seorang pemilik café kecil yang terletak di Myeongdong. Café-nya pun terbilang sukses dan cukup terkenal di Myeongdong. Donghwa seminggu sekali pulang untuk menjenguk keluarganya di Seoul, bayangkanlah pria berusia 22 tahun-sebaya dengan Hyunjoo- itu sekarang sudah memiliki rumah dan mobil sendiri. Hyunjoo saja sampai iri padanya.

Langkah Hyunjoo terhenti di sebuah halte bus, disana ia duduk manis sambil mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri, hari itu ia ingin kembali ‘menyapa’ Sungmin di rumahnya, entahlah.. mungkin karna bagi Hyunjoo Sungmin adalah tipe lelaki yang cukup menarik. Tak lama sebuah bus bewarna putih datang dan ia pun bergerak masuk kedalamnya. Setelah duduk di bangku penumpang, Hyunjoo merogoh ponsel yang ada di dalam sakunya, ia mencari nama Sungmin di dalam phonebook lalu membuat panggilan. Tidak ada jawaban hingga Hyunjoo mencoba sebanyak tiga kali pun hasilnya tetap sama. Hyunjoo mendengus kesal, tidak mungkin juga ia menghentikan perjalanannya. Ia terlanjur menaiki bus yang akan berhenti di daerah dimana Sungmin tinggal. Lama kelamaan, bus akhirnya berhenti. Hyunjoo pun melangkahkan kakinya kembali menyusuri jalanan demi jalanan menuju dimana kediaman Sungmin. Tanpa terasa sekarang tubuhnya telah berdiri tegak di balik pagar kayu yang pendek perlahan Hyunjoo membukanya lalu masuk kedalam pekarangan rumah itu ketika sampai di depan pintu rumah, Hyunjoo sedikit tercengang mendapati daun pintu rumah Sungmin terbuka. Pikiran jahil Hyunjoo tiba-tiba saja muncul dan membuatnya tergerak untuk membuka pintu itu semakin lebar agar tubuhnya bisa mudah masuk.

“Sungmin-ssi? Kau sedang dirumah? Sungmin-ssi??” Hyunjoo menyusuri ruang demi ruang yang di laluinya. “Ups! Ya Tuhan!!” Seru Hyunjoo histeris ketika menemukan tubuh Sungmin meringkuk dengan tangan bersedekap di dada seolah menahan dingin, kepalanya juga tertangkup di atas sofa. Tubuh pria itu menggigil dan bergetar dahsyat.

Hyunjoo segera berlutut di depan tubuh Sungmin, “Sungmin-ssi.. G-gwenchana? Kau pucat!”

Aegesshi.. Kau..” Sungmin mengangkat sedikit kepalanya untuk menatap wajah Hyunjoo dengan pandangannya yang kabur.

“Sungmin-ssi biar ku panggilkan dokter, ne?”Wajah Hyunjoo kini makin terlihat panik ketika melihat mata Sungmin kini sangat merah seperti orang yang tidak tidur selama berhari-hari.

“JANGAN!” Cegah Sungmin ketika melihat Hyunjoo menggenggam ponselnya.

Waeyo? Kau sakit, tubuh mu… dingin!” Suara Hyunjoo melembut, tangannya menyentuh lengan Sungmin yang memang suhunya sangat rendah.

“Jangan aku mohon jangan,” Sungmin meremas tangan Hyunjoo yang masih berada di lengannya. “Jangan panggil dokter atau tim medis atau siapa pun, hanya kau yang boleh merawat ku, aku mohon..” Ujar Sungmin sedikit mengiba.

“Baiklah, sekarang ku antar kau ke kamar, ne? Kajja bangun!” Hyunjoo menarik pelan kedua tangan Sungmin membantunya untuk berdiri.

Aegesshi…” Lirih Sungmin ketika ia sudah berdiri tangannya menggenggam erat tangan Hyunjoo seolah tak mau bepisah darinya.

“Hm? Ah, Sungmin-ssi… kau..” Hyunjoo salah tingkah dengan sikap tak biasa Sungmin apalagi pria itu tengah menatapnya dalam sekarang. Sungmin menarik tubuh Hyunjoo semakin mendekat padanya “Sungmin-ssi…” lirih Hyunjoo yang mulai merasa tak enak dengan suasana yang di ciptakan Sungmin.

“Kau ingat saat kau berusaha menyelamatkan Kyuhyun namun aku mendahului mu?” Tanya Sungmin pelan,

“Eum..Ne, aku ingat…” jawab Hyunjoo singkat.

“Kau tau itu kenapa?”

Hyunjoo menggeleng.

“Karna kau istimewa…” Satu tangan Sungmin terjulur membelai sebelah pipi Hyunjoo dengan punggung tangannya.

“Sungmin-ssi, kau istirahat dulu, kajja ku antar kau ke ka—“ Hyunjoo tak sempat meneruskan kata-katanya karena lengan kekar itu lebih dulu merengkuh tubuhnya dengan erat.

“Rasa sup buatan mu hari itu masih terasa di lidahku, dan … itu membuat ku jadi teringat ibu,”

***

Minggu demi minggu berlalu, kedekatan antara Sungmin dan Hyunjoo pun semakin terlihat jelas. Meski Sungmin tak pernah membawa Hyunjoo berkencan keluar rumah, namun Sungmin akan selalu memberikan kejutan-kejutan kecil untuk Hyunjoo yang rutin datang ke rumahnya. Mereka memang tak pernah mengutarakan perasaan mereka secara verbal, akan tetapi skinship yang mereka lakukan sudah cukup untuk menggambarkan perasaan satu sama lain. Mengalir seperti air, mungkin itu lebih cocok menjadi motto perjalanan hubungan mereka.

“Hyunjoo-ah, aku keluar sebentar ya, aku mau cari jjangmyeon untuk maka malam kita, jangan pulang sebelum aku mengerti, arra?” Sungmin merangkul pinggang Hyunjoo erat lalu mencubit dagu gadis itu gemas.

“Hati-hati di jalan dan jangan pulang terlalu lama kalau masih ingin aku disini sampai malam, hm?” Hyunjoo mengecup singkat pipi Sungmin sebelum pria itu melepaskan rangkulannya dari pinggang Hyunjoo.

“Aku akan pulang cepat,” Sungmin mengangguk lalu membalas kecupan Hyunjoo di kening gadis itu. Kemudian, ia membalik tubuhnya dan pergi meninggalkan Hyunjoo sendirian di rumah mungilnya.

Hyunjoo kembali bersandar pada sofa dan menonton tayangan kartun di televisi 14 inch yang ada di ruang tengah sekaligus ruang tamu kediaman Sungmin. Hyunjoo begitu menikmati ketenangan yang tersaji di rumah kecil itu, baginya rumah Sungmin memiliki aura berbeda dari rumah-rumah lainnya.

Tiba-tiba saja tenggorokan Hyunjoo kering saat itu, ia beranjak dari duduknya dan tanpa sengaja menjatuhkan bantal persegi yang dari tadi di peluknya ke lantai. Awalnya Hyunjoo tak peduli, namun rautnya berubah ketika beberapa bungkus kecil berisi serbuk putih seperti kristal itu berceceran keluar dari sarung bantalnya.

Hyunjoo segera berlutut tepat di depan benda itu lalu memungutinya satu-satu. Rasa haus di tenggorokannya sekarang telah beralih pada rasa sesak dan kecewa di hatinya. Ia menggenggam kuat benda itu sementara matanya mulai memanas, dan Hyunjoo secara refleks menggigit bibir bawahnya sendiri. Hyunjoo mengurungkan niatnya untuk membuang benda haram itu, akan lebih baik Sungmin juga harus melihatnya.

…..

Setelah menunggu dalam gundah selama satu jam Hyunjoo akhirnya jengah, dia mengubah posisinya dari duduk di balik meja makan yang ada di dapur, menjadi berdiri di depan pintu dengan tangan bersedekap. Tak lama, pintu utama itu terbuka dan dilihatnya Sungmin dengan wajah terkejut  datang dengan menenteng satu kantong plastik hitam.

“Hyunjoo-ah, wae? Kau sudah ingin pulang?” Tanya Sungmin, namun Hyunjoo tak lantas menjawab begitu saja gadis berambut ikal itu menatap datar wajah Sungmin yang sekarang sudah tepat berada di depannya. “Sungmin-ah, apa ini?” Hyunjoo balik bertanya, ia mengangkat tangannya yang sudah menjepit bungkusan kecil berisi kristal-kristal putih itu.

Sungmin tertegun dan menatap benda itu lekat-lekat, wajahnya kini berubah pucat pasi “Hyunjoo-ah, ini tak seperti yang kau pikir… Itu… itu.. Kau percaya pada ku kan? Aku sudah berjanji pada mu untuk meninggalkan benda haram itu, demi dirimu… Dan itu.. Aah, itu bukan milik ku Hyunjoo-ah. Sungguh!” Sungmin tergagap sekarang.

“Kau yakin? Jadi ini milik siapa?” Hyunjoo masih menatap wajah kikuk Sungmin dengan dingin, sedang Sungmin tampak menggaruk-garuk tengkuknya yang sama sekali tak terasa gatal.

“Hyunjoo-ah,” Sungmin semakin mendekat pada Hyunjoo lalu meraih satu tangan Hyunjoo yang bebas untuk menggenggamnya, “Percaya pada ku, aku.. Itu bukan milik ku, Ngg, itu milik Kyuhyun, kau tau kan dia juga sama seperti diriku yang dulu,” Sungmin mencari celah kepercayaan Hyunjoo lewat tatapan dingin gadis itu.

Hyunjoo menghela nafasnya berat, ia menyerah “Baiklah, aku percaya pada mu…”

***

Hyunjoo mengaduk-aduk jjangmyeon yang tadi beli Sungmin sebagai menu makan malam mereka, dan tentu saja hal itu menarik perhatian Sungmin “Chagi, jjangmyeon-nya tidak enak ya? Kenapa kau dari tadi hanya mengaduk-aduknya saja?”

Hyunjoo berhenti mengaduk-aduk jjangmyeon dan melipat kedua tangannya di atas meja, “Anniyo, ini enak sekali tapi mungkin aku saja yang tak berselera,”

“Kau masih tidak mempercayai ku? Kau marah pada ku?” Tanya Sungmin.

Hyunjoo menggeleng lemah, “Entahlah, aku juga bingung dengan diriku. Apa mungkin ini ada kaitannya dengan hubungan kita?” Hyunjoo berbalik bertanya pada dirinya sendiri dengan senyuman kaku tersungging di bibirnya.

Sungmin melepaskan tangannya dari sumpit lalu menjulurkannya tepat dimana tangan Hyunjoo terlipat. “Kau masih mencintai Siwon?” Sungmin semakin meremas tangan Hyunjoo.

Hyunjoo menggedikan bahunya dan membuang pandangannya ke sembarang arah, “Tidak, aku rasa kau memang tak mengerti Sungmin-ah, sepertinya sudah larut aku takut oppa mencari ku nanti,” Hyunjoo menyingkirkan tangan Sungmin dengan pelan lalu beranjak dari duduknya. Kesal.

Chagi…” Entah sejak kapan Hyunjoo muak ketika Sungmin memanggilnya dengan sapaan seperti itu.

“Aku pulang dulu,” Ujar Hyunjoo acuh tak acuh, belum sempat Hyunjoo melangkah Sungmin sudah menahannya.

“Duduklah, kita bicarakan baik-baik apa yang sudah membuat mu seperti ini,”

“Tidak perlu,” Hyunjoo menghempaskan tangannya hingga cengkraman tangan Sungmin di lengannya terlepas. Hyunjoo melenggang dengan tergesa menuju pintu  utama.

“Hyunjoo-ah!” Sungmin yang entah sejak kapan berada di belakangnya menarik paksa bahu gadis itu. “Kau masih tidak mempercayai ku?”

“Bukan, bukan itu Lee Sungmin!” Pertahanan Hyunjoo bobol dan sekarang ia hampir menceritakan setengah dari duduk perkara yang menurutnya memang pantas untuk di perdebatkan.

“Lalu??”

“Sekarang aku bertanya pada mu, selama sebulan ini kita bersama sudah berapa kali aku bersikap pada mu seperti ini?”

Sungmin tersentak mendengar pertanyaan Hyunjoo, ia bingung menjawab pertanyaan aneh Hyunjoo itu karna memang sudah sangat sering sekali ia menemukan Hyunjoo bersikap seperti itu padanya.

“Kau bahkan tak mengingatnya lagi bukan? Dan yang perlu kau tau sebanyak itulah aku menunggu mu!”

“Menunggu? Maksud mu? Chagi, jelaskan..”

“Apa? ‘Cha-gi’? Kapan kau pernah mengatakan kau mencintai ku?” Tanya Hyunjoo dengan nada meninggi, rasa geram itu kini membuncah di hatinya.

Sungmin mengurut dahinya dan tertawa lirih, “Hyunjoo-ah, jadi ini yang kau permasalahkan? Ya Tuhan…” Sungmin mengusap wajahnya. “Seharusnya kau mengerti chagi, bukankah hubungan kita sudah sangat jelas? Apa aku harus mengajak mu berkencan di café lalu menyatakan cinta ku dengan sebuket bunga baru kau bisa menyatakan bahwa status kita adalah sepasang kekasih? Chagi, dengarkan aku… Aku tidak bisa seperti itu, kau tau keadaan ku bagaimana dan—“

“Aku bukan menginginkan yang seperti itu Sungmin-ah”  Sela Hyunjoo sedikit gusar. “Sekarang kapan kau pernah mengatakan kau mencintai ku?”

Sungmin mengacak-acak rambut tebalnya seraya mendengus kesal, “Jadi hal seperti itu yang selama ini kau tutupi dari ku? Baiklah..” Sungmin meraih kedua pundak Hyunjoo dan menatap bola mata kecoklatan milik Hyunjoo dalam-dalam. “Saranghaeyo!” Sejurus kemudian Sungmin mendaratkan kecupan mesranya tepat di bibir Hyunjoo.

***

Saat masih pagi sekali Hyunjoo kembali lagi ke rumah Sungmin, lengannya melingkar seolah memeluk kantung kertas besar berisi roti prancis dan beberapa bahan makanan lain. Hari ini, untuk pertama kalinya Hyunjoo merasa langkah kakinya begitu ringan ketika menuju rumah Sungmin wajahnya pun terlihat lebih berseri sekarang.

Namun, senyuman itu pudar ketika dilihatnya seorang gadis berseragam SMU menggedor pintu rumah Sungmin sambil mengoceh tak jelas. Karena penasaran Hyunjoo mempercepat gerak tangannya untuk membuka pagar lalu berlari kecil ke arah pintu.

Oppa !Jebal, keluarlah. Aku tau kau masih mencintai ku! Aku tau kau masih mencintai ku, kau hanya menjadikan gadis itu pelarian mu saja kan? Oppa, keluarlah! Kita bicarakan ini..”

DEG!

Jantung Hyunjoo berhenti memompa darahnya, ‘pelarian’?

“Pulanglah Cho Soobin! Kita tidak akan mungkin bisa kembali, mereka sudah tau betapa hancurnya hidup ku!! Aku juga tak mau lagi mendengar hinaan dari mulut keluarga mu! Pergilah!!” Hyunjoo semakin mematung di tempatnya ketika suara lantang milik Sungmin itu terdengar olehnya. Mata Hyunjoo menatap kosong pada punggung gadis yang disebut Sungmin sebagai Cho Soobin.

Oppa,  kita masih bisa bersama! Aku mencintai mu oppa! Kau mencintai ku kan?” Suara gadis SMU itu mulai terdengar tak jelas, gadis itu  sudah menangis.

“Pergi!” Bentak Sungmin.

“Tidak oppa, aku tidak akan pergi sebelum kau mengatakan kau mencintai ku!!” Hyunjoo menahan nafasnya saat itu, ia menunggu suara Sungmin dari dalam.

“Ya! Aku mencintai mu! Aku mencintai mu lebih dari apapun! Jeongmal saranghaeyo Cho Soobin!! Aku sangat mencintai mu!!” Teriak Sungmin frustasi.

Jangankan untuk menggerakan tubuhnya, untuk mengedipkan matanya saja Hyunjoo sudah tak sanggup lagi rasanya, padahal baru semalam Sungmin mengatakan bahwa ia mencintainya dan sekarang ia malah mengatakan hal yang sama pada gadis lain dengan emosi yang berbeda dari saat kata cinta itu terucap untuknya. Gadis bernama Cho Soobin itu berjalan mundur sambil menutup mulutnya dengan tangan, sedetik kemudian ia membalikan tubuhnya dan berlari tanpa mempedulikan keberadaan Hyunjoo yang mematung.

Hyunjoo tanpa sadar menjatuhkan kantung belanjaannya, sejurus kemudian ia melangkahkan dengan tegas kakinya kedalam rumah Sungmin, matanya mencari-cari keberadaan Sungmin yang ternyata sedang meringkuk di sudut ruang tengah, tubuh pria itu bergetar. Hyunjoo hanya dapat mengawasi Sungmin dari kejauhan tanpa mengeluarkan sedikitpun suara. Sungmin yang merasakan kehadiran seseorang akhirnya mendongak dan menemukan sosok Hyunjoo beberapa meter dari tempatnya berada, Sungmin memandang Hyunjoo sayu dengan matanya yang merah. “Hyun..Hyunjoo-ah..” Sungmin tersenyum tipis lalu menegakkan tubuhnya dan berjalan pelan mendekat pada Hyunjoo yang masih tak bergeming, raut wajahnya pun masih datar lengkap dengan sorot mata yang dingin hingga Sungmin tepat berada di depannya.

PLAK!

Tamparan keras itu mendarat mulus di pipi kanan Sungmin hingga membuat darah menetes dari sudut bibirnya. “Kau memakainya lagi?” Hyunjoo menyeringai pada Sungmin yang masih belum menangkat wajahnya, wajah yang sama saat hari dimana Sungmin mengaku sebagai konsumen setia berbagai macam narkotika dan mengaku bahwa dia sedang tidak ada uang untuk membeli obat-obatan hina itu.  “Pembohong! Siapa gadis SMU tadi!?” Hyunjoo berteriak di depan wajah Sungmin dengan lantang.

Sungmin diam.

“Aku mempercayai mu, bahkan aku sudah mencintai mu dan melupakan Siwon karna dirimu, kau bilang kau mencintai ku, kau bilang kau sudah meninggalkan barang haram itu, kau bilang barang itu milik Kyuhyun, kau—“

“DIAM!!” Sungmin menyela omelan panjang lebar Hyunjoo dengan suara yang lebih lantang dari suara  yang Hyunjoo keluarkan.

“Kau… Lee Sungmin! Sadarlah! Aku hanya ingin kau hidup normal tanpa ketergantungan obat terlarang itu”

“Berhenti mengatur kehidupan ku nona Shim!”

Bibir Hyunjoo bergetar, cairan hangat itu menetes pelan membasahi pipinya. “Kau bahkan berbohong tentang perasaan mu pada ku, sungguh aku merasa ini tidak lebih baik dari jeratan Siwon pada ku,” Hyunjoo tertunduk dalam tangannya menyeka tetesan air mata yang berada di ujung agunya.

“Baiklah, aku juga tak akan mengganggu hidup mu karna kita memang berbeda, aku seorang mahasiswa ilmu politik dan kau berandalan jalan yang hidup dengan obat-obatan terlarang, aku tak pantas untuk mu dan kau tak pantas untuk ku. Aku sarankan kembalilah pada Cho Soobin dan yakinkanlah keluarganya agar mampu menerima dirimu yang seperti ini”

Sungmin tersentak kemudian menatap tajam pada Hyunjoo yang seakan tak peduli dengan intimidasi yang dibuatnya.

“Sampai jumpa, aku tak akan mengurusi mu lagi kita berakhir,” Hyunjoo membetulkan posisi tasnya lalu mengambil langkah untuk pergi.

“Shim Hyunjoo!” Tangan Sungmin mencengkram lengan Hyunjoo kuat membuat gadis itu menghentikan langkahnya. “Saranghaeyo

Hyunjoo tersenyum sinis tanpa sedikitpun menoleh pada Sungmin,  ‘kokain, morfin, daun marijuana, heroin dan semua obat-obatan haram itu sudah membuat mu gila Lee Sungmin,’ Hyunjoo membatin. Hyunjoo sudah kehilangan seluruh kesabarannya, sudah dua kali selama sebulan bersama Sungmin, Hyunjoo menangkap basah pria itu tengah menyayat lengannya dengan silet, kemudian menyuntikan cairan aneh yang membuat pria itu memejamkan matanya lalu tersenyum-senyum sendiri layaknya orang gila, lalu ia juga pernah melihat Sungmin menelan pil-pil kecl dengan jumlah yang tidak sedikit dan tak wajar.

“Shim Hyunjoo,SARANGHAEYO!!” Pekik Sungmin setengah sadar, “Hanya kau yang bisa menerima ku yang seperti ini, hanya kau yang bisa membuat ku terlihat menyeramkan seperti ini… Sekarang aku jujur pada mu, setelah dua kali kau memperingati ku untuk menjauhi benda haram itu, aku  tetap keras kepala dan terus memakainya jika kau tak ada, tapi sejak pengakuan cinta ku semalam, aku… aku benar-benar ingin berubah, aku ingin berubah demi diri ku, dan membahagiakan mu, aku mencintai mu. Itu sebabnya sekarang aku terlihat seperti ini, aku menahan rasa ingin ku terhadap benda itu. Kau mengerti kan?” Hyunjoo tetap mendengarkan dengan seksama penuturan panjang lebar dari Sungmin tanpa ada niatan untuk menoleh ataupun sekedar melirik.

“Sudahlah, Sungmin-ah… jalani saja hidup kita masing-masing, dan aku harap kau bisa lebih baik tanpa ada aku, dan satu lagi… Kau tak pernah tau bagaimana rasanya menjadi pelarian,” Hyunjoo menghempaskan tangan Sungmin yang merekat di lengannya lalu pergi.

“Hyunjoo-ah!!! Aku tak mencintainya, aku hanya mencintai mu!!”

***

“Gadis itu baru saja keluar dari rumah pemuda itu bos, aku rasa mereka baru saja bertengkar hebat, ya.. baiklah nanti aku akan menelpon lagi,” Pria Berjaket dan berkacamata hitam itu menutup flip ponselnya, dengan sedikit mengendap ia mengekori langkah gontai Hyunjoo yang baru saja keluar dari pekarangan rumah Sungmin, Hyunjoo yang tenggelam dalam rasa patah hatinya pun tak menyadari bahwa ada seseorang yang menguntitnya.

Suatu jackpot untuk si pria berjaket dan berkacamata hitam itu bila Hyunjoo jatuh pada genggamannya, terlebih jika pemuda bernama Kyuhyun dan Sungmin bisa di habisinya. Namun angan itu hangus ketika pria bertubuh besar itu menabrak seseorang, hal itu membuat dirinya kehilangan jejak Hyunjoo yang entah pergi kemana. Decak kesal itu terdengar dari bibirnya tapi sesaat kemudian otaknya memberikan ide cemerlang.

***

Sungmin keluar dari kediamannya dengan sweater tebal bewarna abu-abu, matanya masih merah dan wajahnya masih sangat pucat. Ia nekat keluar dengan kondisi tubuhnya yang menggigil hebat. Dilangkahkan kakinya menuju sebuah gudang kecil yang tak lain adalah markas kecil dimana dia dan teman-temannya sering berkumpul menikmati hisap demi hisap sebatang rokok yang di dalamnya terisi dedaunan marijuana kering , menikmati euforia luar biasa ketika selesai menyuntikan morfin dibawah kulit mereka, menghirup opium hingga menimbulkan rushing sensation yang membuat mereka menjadi brutal dan anarki, menghisap heroin hingga mereka merasakan flying to the sky.

“Nah, Heechul hyung… benarkan kata ku Sungmin hyung pasti datang,” Kyuhyun menyengol lengan pria gondrong bernama Heechul itu dengan sikunya. “Hyung, mana kristal ajaib itu… Cepat, aku sudah tidak sabar memakainya,” Kyuhyun to the point.

Sungmin lalu menghampiri dimana Kyuhyun dan Heechul duduk, setelah dekat Sungmin langsung menebar begitu saja bungkusan-bungkusan kecil berisi kristal putih yang awamnya di sebut ‘kokain’.

“Wah, banyak sekali! Kau tidak memakainya?” Heechul mendongak menatap Sungmin yang masih berdiri sementara Sungmin hanya menjawab pertanyaan Heechul dengan gelengan pelan, senyumpun merekah di wajah Heechul. “Haha, kita pesta besar pagi ini. Yuhuuu..”

Hyung, aku ambil lebih ya..” Kyuhyun meminta ijin pada Heechul dan Sungmin.

“Aiss, setan kecil… Mau kau apakan barang bagus ini hah??” Decak Heechul.

“Kemarin ada teman ku yang mau membeli dengan harga yang… menggairahkan hyung!” Kyuhyun menatap Heechul dengan mata berbinar sambil mengacungkan kedua jempolnya tepat di depan wajah Heechul.

“Yak! Kau serius?” Kyuhyun mengangguk, sementara Heechul dan Kyuhyun tampak begitu antusias, Sungmin malah terlihat muram. “Hei, Sungmin-ah! Kau sungguh tidak tertarik dengan milik mu ini? Dasar babo, untuk apa mengikuti nasehat gadis mu yang cerewet itu, tinggal berpura-pura bodoh dan suci di depannya, lalu di belakangnya kau… bersenang-senang! Dengan menikmati barang bagus ini wajah tampan mu itu takkan terlihat seperti mayat hidup sekarang.” Heechul mengakhiri ucapannya dengan gelak tawa yang tentu saja menjengkelkan bagi Sungmin, apalagi Kyuhyun juga ikut tertawa bersama orang yang telah dianggapnya sebagai ’hyung’-nya itu.

Sungmin mencoba meredam emosinya, “Kyu, barang itu mau diantar kemana?” Tanya Sungmin.

“He? Anu.. Dia dari jepang, jadi nanti satu jam lagi akan tiba di Incheon, sebaiknya kau bawa saja ponsel dan mobil ku,”

“Tidak usah, aku pakai motor ku saja. Berikan saja ponsel mu pada ku agar lebih mudah berkomunikasi dengan orang itu.”

***

Sungmin mengendarai sepeda motornya dengan cepatan menggila hingga dalam waktu 15 menit saja ia sudah tiba di Incheon dengan menantang rasa nyeri dan menggigil di sekujur tubuhnya. Aksi gila ini dilakukan semata karna pikirannya begitu kalut, wanita yang dicintainya dan diharapkannya menjadi pembimbing ‘kesembuhan’ dirinya pergi meninggalkannya karna seoarang gadis di masalalu yang masi menyisakan rasa cinta untuknya tiba-tiba hadir dan membuat semuanya jadi kacau, belum lagi kebohongannya masalah benda-benda haram itu yang terbongkar.

Baru saja Sungmin melepaskan helm-nya, getaran ponsel disaku jaket yang dikenakannya memaksanya untuk mengangkat sebuah panggilan dari orang yang akan bertransaksi kokain dengannya. Orang itu mengatakan bahwa ia sudah sampai di Incheon lima menit yang lalu dan orang itu juga menyebutkan nama sebuah tempat yang dirasanya aman untuk melakukan transaksi-dengan bahasa korea yang tak begitu jelas tentunya-. Tanpa banyak basa-basi Sungmin kembali memacu sepeda motornya menuju tempat yang di sebut orang jepang itu.

Setelah sampai di tempat yang dijanjikan, Sungmin mendapati seorang pria bermata sipit dengan kulit mulus, ia tampak masih muda dan tampangnya terlihat seperti orang kaya. Pertama-tama mereka saling berkenalan dan berhubung Sungmin sedikit mahir berbahasa jepang  mereka berbincang sebentar barulah memulai transaksi. Pria jepang itu menyodorkan seamplop  tebal pada Sungmin dengan satu tangannya, sementara tangan yang satunya menengadah meminta Sungmin meletakan kokain itu di atas tangannya. Dengan gerak santai Sungmin meletakan lima bungkus kokain itu di tangan si pria bermata sipit.

***

“Hyunjoo-ah tenanglah..” Di tempat lain Hyunjoo kini menangis sesengukan di atas bahu Donghae hingga jas hitam itu basah. Donghae mengelus-elus sahabat kecilnya itu untuk menyalurkan kekuatan padanya. Donghae paham betul dengan sikap dan sifat Hyunjoo, bagaimana tidak mereka –Donghae, Donghwa dan Hyunjoo— sejak masih berusia 6 tahun selalu bermain bersama. Walaupun Donghwa dan Hyunjoo sebaya, tapi Hyunjoo lebih dekat dengan Donghae sehingga mereka saling memahami satu sama lain.

Oppa…aku baru saja membuka hati ku untuk namja lain, dan dia semalam baru saja mengatakan kalau dia mencintai ku tapi kenapa sekarang jadi seperti ini? Dia masih mencintai mantannya oppa.. Selain itu, dia juga masih menggunakan benda haram itu,” Ucap Hyunjoo di selingi isakan.

“Jangan menyimpulkan secara sepihak, Hyunjoo-ah..” Donghae kian merapatkan tubuhnya pada Hyunjoo lalu menjulurkan tangannya untuk mengusap lelehan air mata Hyunjoo di pipi gadis itu. “Kau jelek sekali kalau menangis, ayo tersenyumlah! Mungkin kalian belum berjodoh, atau mungkin dia perlu merubah diri agar jadi lebih baik lalu datang lagi di depan mu, bagaimana itu jauh lebih baik kan?”

Oppa, aku tak mau dia tersiksa… Dia sudah terlalu lama memakai benda jahanam itu, aku kan sudah pernah cerita pada oppa kalau dia sudah mencoba segala jenis bentuk obat-obatan itu, kau sendiri tau kan apa dampak bagi kesehatannya? Aku melakukan ini karna aku menyayanginya oppa sungguh,”

Ne, aku mengerti Hyunjoo-ah… Tapi terkadang kau terlalu egois dan mementingkan kehendak mu saja, kau tau Tuhan punya rencana lain dibalik ini… Jika nanti ada kesempatan bertemu dengan namja itu kau harus meminta maaf padanya ne?”

“Untuk apa?”

“Untuk apa? Ais, Hyunjoo-ya.…secara tak langsung kau telah mengucilkannya,” Donghae menggeser tubuhnya dan membuat Hyunjoo bangkit dari sandarannya. Donghae meraih kedua pundak Hyunjoo memaksa gadis itu untuk berhadapan dengannya. “Dengarkan aku, seorang pecandu narkoba tidak boleh di kucilkan, arra? Kalau  perlu sekarang aku akan mengantar mu kerumahnya dan kau meminta maaf padanya, eottokhae?”

Hyunjoo menggeleng dan menundukan kepalanya menghindari tatapan dalam dari mata Donghae.

Waeyo?”

“Aku tidak mau oppa,

“Bukan saatnya menahan ego-mu Hyunjoo-ah

“Tapi—“

“Aiss, kajja! Atau kau tak ku akui lagi sebagai sahabat dan dongsaeng-ku.”

***

Sungmin merapatkan sweaternya ketika angin musim gugur menyeruak masuk kedalam serat kain yang membalut tubuhnya ketika ia pulang ke rumahnya. Kepalanya terasa begitu pening seperti mau meledak.

“Tuan Lee Sungmin?” Suara tegas itu membuat Sungmin menoleh, matanya terbelalak ketika beberapa orang polisi sudah turun dari mobilnya dan salah satu diantaranya telah berada tepat satu meter di belakangnya. “Kami dari pihak kepolisian, kau ditangkap karna tuduhan telah memakai narkotika dan menjadi pengedar.”

***

Agak jauh di belakang mobil polisi terparkir, ada sebuah sedan putih yang  didalamnya terdapat seorang pria bertubuh besar dan seorang pria tampan berkacamata hitam dengan tongkat berdiri di sebelah kanannya-Choi Siwon. “Kau pikir kau hebat? Pengedar narkoba saja sok mau jadi pahlawan, karna komando dari mulut mu aku jadi di pecundangi oleh gembel-gembel tengik itu dan sekarang aku jadi cacat seperti ini” cibir Siwon seraya menatap sinis pemandangan yang ada di depannya seolah-olah Sungmin berada disana.

“Kau yakin Tuan hanya ingin melakukan ini saja?” Pria bertubuh besar yang duduk di balik stir itu menoleh pada orang yang di sebut ‘Tuan’ yang duduk di bangku penumpang belakang.

“Ya, tentu saja.. Hyunjoo pasti sudah mulai mencintainya dan ini juga pasti akan menyakitinya sekaligus membuatnya hancur. Dengan begitu, aku bisa lebih mudah memperdayanya… Aku sudah paham betul sifat seorang, Shim Hyunjoo”

***

Mobil Donghae kini semakin dekat dengan kediaman Sungmin, namun bukannya senang Donghae justru jadi sangat was-was “Mobil polisi?” ucap Donghae pelan, Hyunjoo yang sedari tadi seperti enggan melihat jalanan luar melalui jendela atau kaca besar yang ada di depannya secara spontan mengangkat kepala menjuruskan arah pandangannya pada satu titik yang sama dengan mata Donghae.

Oppa, apa yang terjadi?” Hyunjoo mulai cemas.

Anniyo, Hyunjoo-ah kau jangan panik dan tenanglah..” Donghae memberhentikan mobilnya tepat di depan mobil polisi berada. Ia dan Hyunjoo keluar dengan tergesa menuju pekarangan rumah Sungmin. Disana, mereka melihat tangan Sungmin sudah di borgol dan di kepung oleh dua orang polisi, sementara polisi yang lain berjaga mengamankan di depan pagar rumah Sungmin, mereka pun melarang Donghae dan Hyunjoo masuk kedalam pekarangan rumah Sungmin.

“Sungmin-ah!” Seru Hyunjoo panik. Sungmin, wajah pucat itu sempat-sempatnya mengukir senyuman manis di bibirnya saat bertemu pandang dengan Hyunjoo. Hati Hyunjoo mencelos, lagi-lagi air mata itu menetes seiring kepergian Sungmin dengan dua orang polisi sebagai ‘pengawal’nya.

***

Donghae menghela nafasnya panjang, ia duduk di lantai kamarnya sambil melonggarkan dasi yang tergantung di lehernya disampingnya Hyunjoo menatap penuh harap pada Donghae. Ini bulan ketiga setelah di tangkapnya Sungmin, dan dalam tiga bulan ini Hyunjoo sering sakit-sakitan karna terlalu banyak memikirkan Sungmin dan ditambah lagi teror dari Siwon yang seakan tak jera-jera, beruntung Hyunjoo memiliki sahabat seperti Donghae yang tanggap dan melaporkan pria gila itu ke pihak berwajib, sehingga dua hari yang lalu sengketa perdata itu bisa berakhir walau di wajah Siwon tersirat perasaan tak ikhlas dan tak puas saat sidang berakhir.

“Sidang sudah memutuskan kalau dia memang bersalah, bukan hanya dia.. Bocah yang bernama Cho Kyuhyun itu juga ikut terseret dengan tuduhan yang sama, begitupun pria yang bernama Kim Heechul,”

Hyunjoo menyandar pasrah pada dinding kamar Donghae, “Jadi maksud oppa aku…”

“Kau harus menunggunya beberapa tahun  lagi Hyunjoo-ah” Donghae tersenyum kecil lalu menepuk-nepuk punggung Hyunjoo untuk menyemangati gadis yang saat ini kondisi tubuhnya kurang bersahabat. Donghae mengangkat dagu Hyunjoo hingga mata mereka saling bertatapan “Jangan terlalu sedih begitu, lihat dirimu.. Kau kurus sekarang, mata mu juga cekung dan sekarang seperti mata panda, aku mengerti perasaan mu Hyunjoo-ah… Tapi, aku mohon  peduli lah pada dirimu juga, kau juga harus bahagia.. Hm?”

Oppa…” Hyunjoo menghambur kepelukan Donghae dan disambut elusan lembut di rambut ikalnya. Diam-diam Donghae mengecup pelan puncak kepala Hyunjoo.

Saranghae Shim Hyunjoo..’

***

3 years later

 

“Kau tidak menjemput Sungmin di penjara? Kan hari ini dia pulang,” Ujar Donghae sebelum menyesap kopi hitam yang tersaji di meja makan.

Oppa mau menemani ku?” Tanya Hyunjoo.

Aigo, sebentar lagi sepertinya aku akan melihat pemandangan mengharukan… Bisa-bisa kau membatalkan kepergian kita ke London nanti,”

“Berhenti menggoda ku oppa..” kesal Hyunjoo.

“Yak, terserah mu saja.. Cepat bersiap, aku akan menunggu mu di mobil,” Donghae bangun dari duduknya sambil menyengir lalu berjalan keluar, Hyunjoo pun menuruti perintah Donghae untuk bersiap.

***

Sungmin duduk di bangku panjang yang ada di sebuah taman yang tak terlalu jauh dari lokasi penjara menghirup udara segar yang ada di alam terbuka membuat perasaannya lebih tenang. Ia merasa beruntung dari teman-temannya yang lain. Ia berhasil mendapatkan potongan hukuman karna telah bersikap baik, meski tak di pungkiri efek dan rasa ketergantungan benda haram itu masih tertanam di tubuhnya, bahkan sehari sebelum ia keluar dari penjara, Sungmin sempat-sempatnya mencuri sebatang rokok marijuana dari teman sesama tahanan yang masih tetap membandel.

Suara ketukan sepatu itu membuyarkan lamunannya, ia menoleh ke asal suara dan mendapati sosok wanita cantik dengan rambut tersanggul rapi dikepala hingga tengkuk dan leher jenjangnya tampak sempurna, polesan make up tipis diwajahnya membuat dirinya kian mempesona di tambah lagi terusan yang menonjolkan  lekuk tubuhnya hingga lutut dan blazer broken white yang melapisinya. Disamping gadis itu berdiri seorang pria tampan dengan senyuman lembutnya, ia mengenakan blazer warna biru muda pucat dengan dalaman kemeja putih yang senada dengan celana skinny-nya.

Shim Hyunjoo dan Lee Donghae, dua orang yang tampak serasi menghampirinya dengan senyum bahagia. Dua orang yang paling setia menjenguknya ketika ia menjadi narapidana.

“Sungmin-ah…” Gadis itu berlari kecil meninggalkan Donghae tetap di belakangnya, ia menghambur ke arah Sungmin lalu duduk disamping pria itu kemudian memeluknya erat, air mata bahagia berlinang di pelupuk matanya.

“Hyunjoo-ah, kau sudah sembuh kan? Aku dengar dari Donghae hyung kau sakit..” Sungmin mengelus pelan punggung Hyunjoo.

Hyunjoo mengangguk di dalam dada Sungmin, “Baguslah, kalau begitu bagaimana rencana kepergian mu ke London?” Hyunjoo melepaskan pelukannya dan menatap Sungmin kesal.

“Kenapa baru beremu sudah membicarakan itu? Aku kan masih ingin bersama mu, disisa hari-hari ku di Seoul.”

Sungmin tergelak, “Ya, ya… Bagaimana kalau kita bertiga makan siang disuatu tempat?” Tawar Sungmin sambil menatap Donghae yang masih berdiri dan Hyunjoo yang ada di sampingnya bergantian.

Suasana café siang itu terasa begitu lengang, sepi pun juga menjalari suasana makan siang antara Sungmin, Hyunjoo dan Donghae kala itu. Mereka makan dalam diam. Entah mengapa suasana awkward itu begitu betah mengitari mereka. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing, Hyunjoo memikirkan kelangsungan hubungannya dengan Sungmin yang pastinya akan tambah rumit jika ia pergi melanjutkan S2-nya ke London bersama Donghae yang kebetulan ada beberapa urusan disana. Lain halnya dengan Sungmin yang  kini tengah berpikir keras bagaimana caranya mengatakan hal yang sebenarnya bahwa ia belum 100 persen terlepas dari jerat narkoba pada Hyunjoo. Berbeda pula dengan Donghae yang sibuk memikirkan bagaimana cara untuk mengatakan perasaan cintanya pada Hyunjoo yang telah di pendamnya selama bertahun-tahun. Memang mustahil jika kedua anak manusia berlainan jenis kelamin yang telah bersahabat sejak belasan tahun tidak memilik perasaan lebih terhadap satu sama lain, minimal perasaan sepihak yang dirasakan salah satu diantaranya, Donghae telah menyukai Hyunjoo sejak mereka duduk di bangku kelas 6 SD namun hingga saat ini Donghae masih belum memiliki keberanian ekstra untuk menyatakan perasaannya. Donghae terus meredamnya sendiri, meredam rasa senang dan sedih di saat yang bersamaan, pria yang terkenal dewasa di mata Hyunjoo itu pun tak pernah sedikitpun gegabah untuk menghakimi siapa saja yang menyakiti Hyunjoo, dia memiliki cara tersendiri yang bijak untuk menyalurkan kasih sayangnya pada Hyunjoo.

“Ehm, Hyunjoo-ah…” Sungmin membuka suara dan membuat Hyunjoo juga Donghae menatap wajah pucat dan kurus itu sekarang. “Kapan kalian ke… London?” Tanya Sungmin,

Hyunjoo dan Donghae berbalas pandang, “Mungkin minggu depan, wae? Jangan membuat ku bersedih Sungmin-ah, kita masih tetap bisa menjalin Long Distance Relationship kan nantinya,” ujar Hyunjoo sambil menyentuh punggung tangan Sungmin yang ada di atas meja. Entah mengapa skinship itu sekarang jadi terlihat menyebalkan di mata Donghae.

Sungmin menghela nafasnya panjang, “Mianhae, mungkin ini bukan ide yang bagus tapi aku yakin ini adalah terbaik untuk kita..” Sungmin melemparkan pandangannya kearah jendela besar café yang menghadap langsung ke jalan raya sebelum melanjutkan kata-katanya “Lebih baik kita akhiri dulu saja sampai disini,”

Hyunjoo refleks menjatuhkan sendoknya hingga jatuh ke lantai, “Hyunjoo-ah, kau wanita yang baik dan kau sudah terlalu menderita karna aku, kau sudah terlalu lama menunggu ku… aku yakin itu menyiksa mu, Hyunjoo-ah, kau terlalu baik untuk ku… Maka dari itu, ijinkanlah dulu aku untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik dan lebih pantas untuk mu, sejujurnya aku belum sepenuhnya bisa meninggalkan masalalu itu dan aku tau ini menyakiti mu lagi. Maaf, maka dari itu kita sementara ini berpisah saja.”

Hyunjoo menyeka airmata yang keluar di sudut matanya, dalam hati ia membenarkan apa yang dikatakan Sungmin namun entah mengapa pembenaran itu justru menyesakkan dadanya. “Kau dan Donghae akan pergi ke London kan? Aku hanya memiliki satu permintaan untuk mu, fokuslah pada pendidikan mu dan berjanjilah pada ku saat kau kembali ke Seoul kau sudah menjadi politikus handal, aku juga akan berjanji saat kau kembali kesini aku sudah menjadi orang yang lebih baik, orang yang lebih berguna dari sebelumnya. Hyunjoo-ah kau mengerti kan? Aku juga sangat mencintai mu…” Sungmin gantian menggenggam tangan Hyunjoo kuat-kuat.

“Lalu.. Apa rencana mu setelah ini?” Hyunjoo memberanikan diri bertanya dengan suaranya yang parau tanpa sedikitpun melirik pada Sungmin.

Sungmin menghela nafasnya lagi, dan sekarang lebih berat. “Aku minta kalian berdua besok mengantar ku ke panti rehabilitasi, dan membiarkan aku hidup disana sampai aku sembuh”

***

1 weeks later…

“Hyunjoo tadi menangis sendirian dikamar, dia tidak mau keluar padahal aku sudah membujuknya untuk menjenguk mu untuk terakhir kali hari ini, dia bilang dia tidak sanggup melihat wajah mu, dia bilang dia takut tidak jadi pergi ke London dan membatalkan S2-nya karna melihat wajah mu,” Ujar Donghae, Sungmin yang mendengarnya tertawa pelan. “Aku rasa kau benar-benar telah membuka hatinya kembali, membuat mata hatinya terbuka dan tau mana orang yang pantas untuk mendapatkan cintanya” lanjut Donghae.

“Pantas? Aku rasa aku tidak pantas untuknya, dan aku merasa kau yang lebih pantas untuknya,”

Donghae ikut tertawa, “Kau  sudah rela melepasnya pergi?” Tanyanya mengalihkan topik.

“Harus, aku harus rela demi kebahagiaannya, dan kau juga harus menjaga dirinya disana,” Kata Sungmin lalu menepuk bahu Donghae beberapa kali.

Donghae mengangguk dan tersenyum pada Sungmin, “Semoga kau berhasil disini,” ucap Donghae.

“Ya, aku akan berusaha menjadi orang yang lebih baik dari ini, dan… satu lagi jangan biarkan Hyunjoo ku jatuh kepelukan namja lain, karna satu-satunya orang yang paling ku relakan untuk bersama Hyunjoo hanyalah kau.. Lee Donghae.”

***

Donghae berlutut di tepi ranjang yang sedang di tiduri Hyunjoo, wajah tenang itu benar-benar terlihat seperti malaikat, ada gurat lelah juga tersirat di wajah lelap itu karna perjalanan yang cukup panjang antara Seoul-London . Donghae melepas headset yang tersangkut di lubang telinga Hyunjoo, headset yang terhubung dengan sebuah tape rocorder pemberian Sungmin sebagai kenang-kenangan untuk Hyunjoo sebelum mereka pergi ke London.

Donghae mengambil alih tape recorder itu dari genggaman lemah Hyunjoo,  Donghae mengecup bibir Hyunjoo lama lalu kembali berkutat dengan tape recorder yang diambilnya dari Hyunjoo. Ia memasang headset ketelinganya dan menekan tombol play. Beberapa detik kemudian terdengar dentingan suara gitar dan sebuah lantunan lagu yang dinyanyikan beramai-ramai seperti paduan suara. ‘Mungkinkah ini permintaan Sungmin pada teman-teman satu panti untuk menyanyikan lagu ini?’ Pikir Donghae

I’ll be waiting for you

Here inside my heart

I’m the one who wants to love you more

You will see I can give you

Everything you need

Let me be the one to love you more

Apa kalian akan bersatu lagi nantinya? Atau sebaliknya? Semoga kau benar-benar merelakan Hyunjoo untuk ku Lee Sungmin, karna cepat atau lambat aku pasti akan mengatakan yang sejujurnya pada Hyunjoo. Entah mengapa sekarang aku jadi ingin rajin mendoakan mu agar mendapatkan pendamping hidup yang lebih baik lagi dari Hyunjoo… Bukan mendoakan kalian kembali bersatu dan kembali menyakiti hatiku..

***END***

Advertisements

34 thoughts on “[FF Competition] A Better Life

  1. Mian author T_T saya sudah baca sampai habis tapi maaaff saya baru bisa koment sekarang *tangan mohon2*
    Debak author :D.. karakter oppadeul SJ yang tidak biasa. Sungmin pecandu narkoba dan Siwon yang .. yang.. semena mena?
    tapi jujur saya kurang puas dengan endingnya. Saya udah ngefly jauh ngebayangin Hyun Joo dan Sungmin yang akan bersatu dengan cobaan yang berat itu. mm tapi sayang ternyata tidak begitu.. tidak apa apa
    secara keseluruhan, tetap bagus kok dan layak masuk ke babak selanjutnya amiinnn 🙂

  2. DAEBAK~ Author kyuhyun sama heechul udah keluar dari penjara belom? *eh kok nanya ini sih -_-a #plakk*

    Cara author nulis dialognya udah bener, diatas rata-rata, rapih banget!! *angkat jempol bareng heechul*
    Ceritanya juga runtut.
    Sayangnya, menurut aku per paragrafnya kepanjangan chingu. Jadinya agak membutuhkan banyak energy ketahanan mata untuk bacanya.
    Overall, author udah do the best, and i like it 😉

    Semangat ya author!!
    Semoga Sukses!! \^_^/

  3. #nangisguling2 TT^TT
    Sungmin oppa… #hugsungmin

    daebak!!! aku ampe nangis ga karuan 😉
    #tebarbunga

    per paragraf kalo bisa dibagi aja biar ga kepanjangan satu paragrafnya 🙂

    Fighting !

  4. mian chingu..

    FF kamu inti ceritanya kurang dapet chingu dan aku sedikit bingung dengan endingnya, si Hyunjoo kenapa bisa endingnya sama si Donghae? Bukannya Donghae suruh dia untuk menunggu Sungmin?

    trus ada beberapa part yang menurutku kacau dan masih banyak typo..
    but at least, it still Okay.. 🙂

    Mian ya kalau aku banyak comment

  5. aku suka ide ceritanya, tapi perparagrafnya itu agak kepanjangan, dan kalau dalam satu paragraf itu ada lebih dari satu dialog, dua dialog atau lebih akan lebih baik jangan digabung, jadi terkesan ‘numpuk’ di paragraf itu,,hehe

    oh, menjelang ending itu ada kalimat yang gak sesuai *untuk aku pribadi*, kalau memang mau digantung endingnya lebih baik jangan ada perkataan yang isinya sungmin dan donghae saling ‘melempar’ izin untuk boleh bersama dengan hyunjoo..

    err mian kalo kepanjangan dan sok tau..
    hanya memberi saran, semoga gak tersinggung yaa..hehe

  6. keren…
    karakter yang jarang aku dapat dari ff lain…
    sequel dong thor…
    masih gantung endingnya…
    trus gimana nasib kyu oppa ama heechul oppa?! bikinin side story tentang kyu oppa dong…
    hehehe…
    keep writing thor 🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s