Listen The Music

Listen the Music

Author: HaeKyo

Cast:

– Sung Eun Kyo

– Lee Donghae

Other cast:

– Appa Eun Kyo

– yg lain cari ndiri yak, kkeke~~~

Rating: G

Genre: Family, Romance, Sad, Frienship #maybe

Length: Oneshot

Huwa . . .  saya kembali dengan FF saya yang entah keberapa ini, kkeke~~~ ini FF bisa di sebut FF abal, soalnya idenya muncul dengan tiba-tiba, he?. Bingung? Saya saja yang buat bingung, Plak. Wookeh kalo gitu cekidot Happy Reading ~~^^

FF ini pernah dipublish di blog pribadi saya –> SSFF

______________________________

Cahaya kekuningan kini telah muncul dari ufuk barat. Membangunkan setiap insan manusia yang terlelap dalam tidurnya. Satu persatu orang mulai sibuk dengan aktifitasnya, jalanan Seoul yang tadinya sepi kini telah dipadati oleh banyaknya kendaraan pribadi orang-orang.

Diantara banyaknya orang yang sedang sibuk, terdapat seorang yeoja dan namja yang sedang berlari tergesa-gesa berlawanan arah. Yeoja itu cantik, berambut panjang, dan tubuhnya juga ideal. Sedangkan namja itu, dia tampan #pastinya, rambutnya berwarna hitam, dan juga tinggi.

“Aish~ lihatlah aku telat!.” Ucap mereka bersamaan dalam berbeda tempat. Kelihatanya mereka sedang telat total. Sampai-sampai lari terbirit-birit seperti itu, kkeke~~~

“Ahjussi . . . tunggu.” Ucap mereka bersamaan #lagi untuk menghentikan bus dengan nafas tersenggal-senggal akibat adegan lari-larian tadi. Posisi mereka sekarang berhadapan namun agak berjauhan.

Yeoja itu menghentak-hentakan kakinya dengan kesal dan bergumam tidak jelas. Sedangkan namja itu hanya bisa pasrah dan akhirnya duduk di tempat duduk yang ada di halte sambil menunggu kedatangan bus selanjutnya.

Yeoja itu berjalan dengan gusar ke arah tempat duduk halte dan duduk di samping namja itu. Ia kembali bergumam tidak jelas sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Ya! Nona. Bisakah kau diam, dari tadi kau hanya bergumam tidak jelas dan mengacak-acak rambut panjangmu itu.” Ucap namja itu dengan terdapat nada kekesalan dalam ucapannya itu. Yeoja itu menolehkan wajahnya dan menatap namja itu dengan sinis.

“Wae? Apa aku dilarang bergumam dan mengacak-acak rambut panjangku seperti ini, huh.” Kata yeoja itu sambil mempraktekan gerakan mengacak-acak rambutnya. Namja itu sedikit menahan tawa saat melihat tingkah yeoja yang ada di hadapannya ini.

“Baiklah . . . Baiklah . . . itu terserah kau nona.”

“Berhenti memanggilku nona!”Pintanya

“Lalu, aku harus memanggilmu apa? Agashi? Perkenalkan dirimu dulu, baru akan kupanggil namamu”

“Ya! Berhenti bicara.” Yeoja itu berhenti berbicara, detik kemudian ia mengulurkan tanganya pada namja itu “Sung Eun Kyo. Siapa namamu?”

“Lee Donghae.” Namja bernama Lee Donghae itu membalas uluran tangan Eun Kyo. Setelah berkenalan mereka berbicara dan tertawa di halte tersebut. Hingga bus datang dan mereka masuk dalam satu busa juga.

______________________________

Sung Eun Kyo POV

Aku berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan tergesa-gesa. Kalian pasti bertanya, mengapa aku di rumah sakit? Sebenarnya aku tak mau menceritakan hal terburuk dalam hidupku ini. Ayahku adalah seorang pekerja keras, sangat ceria dan juga baik. Namun, setelah kejadian itu Ayahku berubah. Ya~ kejadian itu dimana Eommaku meninggal dengan tragis karena tertabrak oleh truk besar saat mau menyabrang. Seketika itu, ditempat itu, di waktu itu, Eommaku meninggal di depanku dan Appaku. Syok? Tentu saja, dia adalah wanita yang paling aku sayangi di dunia ini. Appaku berubah, namun hanya beberapa bulan. Setelah itu beliau sadar jika terus-terusan begini, bagaimana dengan Eun Kyo? Aku harus bangkit dan kembali seperti semula itulah yang membuat Appa sadar.

Dan setelah Appaku kembali seperti semula, kejadian tragis kedua muncul. Dimana Appaku tertabrak oleh bus ketika pulang kerja. Dan itu membuat beliau koma hampir satu bulan ini.

Aku membuka pintu ruangan serba putih itu. Aroma menyengat dari obat-obatan membuat kepalaku sedikit pusing. Aku duduk di kursi yang ada di samping kasurnya.

“Appa. . . . hari ini aku sangat senang.” Aku menggenggam tangan Appaku “kau tau, tadi aku bertemu dengan namja yang . . . ehm . . . sedikit menyebalkan. Tapi . . . dia tampan, hhaha.” aku menatap Appaku lalu tersenyum kecut. Dalam hatiku, aku bergumam percuma aku berbicara, toh Appa tak bisa mendengarku . Tapi segera kuhapus ucapan gila itu.

“Appa . . . cepat sembuh, ne. Supaya kita bisa bermain lagi.” Airmataku mulai jatuh membasahi pipiku.  Aku segera menghapus air mataku dengan kasar. Kemudian ku lihat Arlojiku “Ah . . . sudah jam 10.” Kuambil tasku yg ada di sofa ruangan ini.

“Appa, Eun Kyo harus pergi! Nanti setelah pulang kuliah, aku akan kesini lagi!” kucium dahi Appaku sekilas dan pergi meninggalkannya.

______________________________

Sial . . . hari apa ini? Apa sekarang hari Kamis kan? Dan kenapa aku terus-terusan sial setiap hari itu datang. Tadi tertinggal bus dan sekarang, aku telat masuk kelas, Eun Kyo pabo. Aku berlari secepat-cepatnya menuju kelasku, jika tidak berlari aku akan habis di tangan Dosen itu. Ya~ dosen sejarah yg menyebalkan itu. Ah~sudahlah tak usah memikirkan Dosen killer itu ~~ ><.

Sesampainya di depan pintu, aku langsung membuka pintu itu dan masuk ke dalam. BINGO . . . seperti yg aku pikirkan, Dosen itu sudah berdiri di depan dan sekarang menatapku dengan tatapan killernya. Biar aku perjelas TATAPAN KILLER , refleks aku langsung menundukkan wajahku menatap lantai yang bagiku sangat tidak menarik.

“Ah . . . Nona Sung Eun Kyo, kau terlambat lagi? Sekarang apa alasanmu untuk hal ini?” Tanya dosen killer itu. Dan aku berpikir dosen itu PASTI akan menyuruhku untuk pergi keluar selama jam pelajarannya.

“Ehm . . . Maaf Seonsaengnim. Tapi kali ini aku benar-benar terlambat karena suatu alasan.” Ucapku

“Owh . . . benarkah? Kalau begitu katakan.”

“Ehm . . .tadi saya harus ke rumah sakit terlebih dahulu, dan ketika saya mau berangkat, saya tertinggal oleh bus.” Jelasku dengan nada lirih.

“Baiklah . . . sekarang kau boleh keluar.” Aku terkejut, mataku membulat, bingung dengan apa yg dosen itu ucapkan. Ya~ aku tau aku memang salah, sering terlambat saat dia sedang mengajar. Dan aku juga bingung, kenapa aku telat hanya saat mata pelajarannya. Aneh bukan? Selain itu, seharusnya dia menghargai aku yg telah mau bercerita tentang kejadian tadi. Ya~ walaupun hanya sedikit.

“Tapi, saem . .” belum aku selesai bicara dosen itu sudah menyuruhku keluar dengan ucapan kasar. Aku mendengus kesal lalu pergi keluar menuruti keinginannya.

“huwa . . . apa salahku? Aku tau ini hari Kamis, tapi bisakah sekali saja setiap ari kamis aku tidak sial?” celotehku sambl menghentak-hentakan kakiku di tanah taman belakang kampus. Ku letakkan dengan kasar tasku ke bagku dekat pohon, kemudian aku ikut duduk di sana.

“Dosen sialan . . . aku tau kau membenciku. Makanya aku selalu telat saat jam mata kuliahmu.” Rutukku. Aku menegadahkan kepalaku menatap langit yang bisa dibilang sangat indah hari ini. “Huft . . .” aku menghembuskan nafas berat. Berusaha untuk membuang rasa kesalku.

“Kau juga kuliah di sini?.” Aku kaget mendengar suara seseorang yang mungkin berbicara padaku. Kuhadapkan kepalaku pada orang itu, dan betapa terkejutnya aku melihat orang yang ada di depanku ini adalah Lee Donghae. Ya~ Lee Donghae, namja yang bertemu denganku di halte bus tadi pagi.

Senyumku tiba-tiba saja mengembang dengan sendirinya. Entah kenapa, aku juga bingung. Saat melihatnya aku merasa bebanku sedikit mengilang.

“Ne, aku kuliah disini. Kau juga?” dia hanya mengangguk menjawab pertanyaanku.

“Bolehkah aku duduk di sini?” Ah~ ya aku lupa.

“Ne, silahkan saja.” dia berjalan mendekat lalu duduk di sampingku.

“kenapa kau ada di sini?” tanyanya. Seketika saja rasa kesal terhadap dosen itu muncul lagi.

“Huft . . .”aku menarik nafas dalam sebelum mulai bercerita “Aku dihukum.” Ku lihat raut mukanya langsung berubah jadi aneh.

“Dihukum?”

“Hemmm . . .” aku mengangguk lalu melanjutkan cerita “aku tadi terlambat. Entah mengapa setiap hari kamis aku pasti terlambat, dan itu selalu saat mata kuliah dosen menyebalkan itu.” Lanjutku

“Dosen menyebalkan?”

“Ya~ dosen menyebalkan itu. Dosen killer yang sama sekali tak mau memaafkan kesalahaan seseoramg. Padahal aku sudah menjelaskan alasan kenapa aku terlambat. Tapi beliau tetap saja menyuruhku untuk keluar, menyebalkan.” Setelah menyelesaikan ceritaku, aku melihat Donghae malah tertawa. Apa yang lucu, coba?

“Wae? Kenapa kau tertawa?”

“Ani . . . aku yakin yang kau maksud itu Park Seonsaengnim. Iya kan?” dahiku berkerut. Bagaimana dia bisa tahu?

“Bagaimana kau bisa tau?”

“Aku juga sering terlambat sepertimu, makanya aku sudah hafal dengan semua ciri-ciri dosen itu.” Dia melanjutkan tawanya, menyebalkan.

“Tunggu, kau berada di jurusan apa?” Tanyaku penuh selidik, aku bingung apa dia berada di jurusan sejarah sepertiku? Tapi aku tak pernah bertemu dengannya.

“Jurusan ekonomi, wae?” Dahiku mengerut

“Ekonomi? Apa dosen itu juga mengajar di jurusan ekonomi?”

“Ne, wae?” Aku terdiam sejenak

“Ah . . . jadi beliau memiliki dua profesi?”

“Memang.” Jawabnya singkat. Kami terdiam, tak ada yang memulai pembicaraan. Kami terlalu larut dalam fikiran masing-masing. Sampai Donghae menyumpalkan headset ke telinga kananku dan itu membuatku terlonjak kaget.

“Musik.” Ucapnya enteng

“Kau suka mendengarkan musik?” tanyaku basa-basi

“Tentu saja, musik itu membawakan ketenangan.”

“Ya . . . aku setuju denganmu. Kita sama kawan, aku juga suka mendengarkan musik. Bagiku mendengarkan musik itu bisa menghilangkan beban yang ada dalam diri kita.”

“Hem . .” dia memanggut-manggut “benar sekali.”

______________________________

Donghae POV

“Mau ku antar pulang?” Ucapku dengan tiba-tiba ketika Eun Kyo baru keluar dari dalam kelasnya. Ia terlonjak kaget, dan itu membuat aku menahan tawa.

“Wae? Kau terlihat menahan tawa tuan Lee.” Ujarnya

“Anio.” Elakku masih tetap menahan tawa. Ia memincingkan alisnya “Kajja, ku antar pulang.”

“Tunggu dulu, bukannya kau naik bus?” Tanyanya dengan raut wajah kebingungan

“Memang.” Jawabku

“Jadi kau mau mengantarku pulang menggunakan bus, tuan Lee?”

“Benar sekali.” Dia tertawa. Dan sekarang aku yang memasang tampang bodoh.

“Kau lucu tuan Lee. Kajja, bus terakhir akan segera tiba.”

______________________________

Di dalam bus kami berdua tak banyak berbicara. Sebenarnya aku ingin menanyakan hal itu padanya. Ya~ kenapa dia ke rumah sakit? Apa dia sakit? Tapi dari raut wajahnya, ia terlihat sehat-sehat saja.

“Eun Kyo-ah.” Panggilku dan dia langsung menoleh padaku “Boleh aku bertanya?” Lanjutku

“Ya . . . Tentu saja.”

“Kenapa kau tadi ke rumah sakit?” Aku melihat ia menggigit bibir bawahnya. Apa benar dugaanku, jika dia sedang sakit.

“Ah, itu. Aku sedang menjenguk Appaku.” Ucapnya

“Appa?” Tanyaku bingung

“Ya~ hampir satu bulan ini Appaku dirawat di sana akibat kecelakaan.” Jelasnya dan itu benar-benar membuatku merasa bersalah akibat pertanyaan bodohku. Ingin rasanya kupukuli kepalaku ini.

“Ehm . . . Mianhae.”

“Hhaha . . . Gwenchana.” Lihatlah, walaupun ia tertawa seperti itu tapi raut wajahnya masih sangat sedih.

______________________________

Eun Kyo POV

Ah . . . bus sudah berhenti.

“Donghae-ssi, aku duluan, ne.” Ucapku berpamitan padanya

“Chamkanman.” Aku menoleh sambil memasang raut wajah bingung “Boleh aku ikut?”

“Oh . . . Baiklah.”

“Hhehe . . . Gomawo.” Aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.

______________________________

“Appa . . . aku kembali.” Ucapku sesampainya di ruangan Appaku. “Kau bisa duduk di sana, Donghae-ssi.” Aku menunjuk ke sebuah sofa cokelat di sudut ruangan.

“Ah, ne.” Katanya

“Kau mau makan? Di sini masih ada makanan, jika kau mau.” Tawarku

“Hemm . . . boleh.”

“Baiklah, tunggu sebentar.”

“Nah . . . mian Cuma ramen.” Ujarku sambil meletakkan 2 mangkuk ramen di meja.

“Gwenchana, lagian ini kan rumah sakit. Tidak mungkin akan tersedia semua jenis makanan yang aku inginkan di sini, benarkan.”

“Hah . . . kau benar, aku bahkan hampir lupa kalau aku sedang di rumah sakit.”

______________________________

“Terimakasih sudah mengantarku menggunakan Taxi, Donghae-ssi.” Kataku dengan sedikit mengejek.

“Ya~ kau ini mengejekku ya?”

“Ani . . . sudah cepat pergi. Bisa-bisa Ahjussi itu akan membunuhmu, kkeke~~”

“Baiklah, aku pergi. Mungkin besok kita akan bertemu lagi di Halte. Aku pergi.”

Aku melambaikan tanganku ke arah Donghae yang mulai pergi meninggalkanku.

“Brrr . .. . udaranya dingin sekali. Lebih baik aku segera masuk.”

______________________________

“Ah .. . kenapa sudah pagi lagi!!! Aku masih mengantuk!!!!” Kulangkahkan kakiku dengan kesal menuju kamar mandi. Setelah itu aku segera berpakaian dan pergi ke kampus tanpa sarapan. Namun sebelum benar-benar ke kampus, pastinya aku akan ke rumah sakit terlebih dahulu.

______________________________

“Ya!!! Donghae-ssi.” Panggilku pada seorang namja yang sedang duduk di bangku taman belakang kampus sambil memakai headphone di telingannya.

Ia menoleh padaku dan melepaskan headphonenya yang sedari tadi menempel di telinganya. “Ah . . . Eun Kyo-ah. Ada apa? Apa kau rindu padaku?” Aish . . . geer sekali namja satu ini.

“Ani . . . kau itu terlalu percaya diri Donghae-ssi.” Kami berdua tertawa akibat ucapan kami tadi.

“Oh, ya!!!! Ada apa?” ucapannya. Astaga!!! Bahkan aku hampir lupa dengan tujuanku mencarinya.

“Hemm . . . begini. Nanti kau mau menemaniku ke suatu tempat?”

“Ehm . . . Baiklah. Tapi kemana?” Tanyanya

“Sudahlah!! Yang penting nanti saat pulang kau tunggu aku di gerbang depan. Oke!! Aku pergi, sebentar lagi aku ada jam kuliah. Dan kau tau siapa dosennya?” Donghae menggeleng “Park Seonsaengnim. Guru Killer itu. Sudah ya, aku pergi. Bye~”

______________________________

Donghae POV

“Sudah jam 4 (sore) tapi kenapa Eun Kyo tak keluar-keluar.” Aku berkali-kali melihat ke arah gerbang dan arlojiku. Kalian tau? Aku sudah menunggunya hampir 1 jam, tapi yeoja itu tak kunjung keluar. Apa dia dihukum lagi?  Ah . . . itu tak mungkin, bukankah dia sudah pergi dengan tergesa-gesa setelah berbicara denganku.

“Ah .. . Donghae-ssi, mianhae telah membuatmu menunggu lama.” Ucap Eun Kyo sambil membungkukkan tubuhnya.

“Ne, gwenchana. Bagaimana, apa kita jadi ketempat yang ingin kau datangi?” Tanyaku padanya.

“Tentu saja, kajja.” Dia hampir saja berjalan pergi jika aku tak menarik tangannya. Apa dia ingin naik bus? Aish . . . yeoja ini, apa dia tak lihat aku membawa motor sekarang?

“Wae?” Tanyanya dengan muka innocent.

“Kau mau kemana?”

“Halte.” Jawabnya singkat.

“Kita naik motorku saja, ini akan lebih cepat.”

“Ah . . . kau membawa motor? Hhehe~~ mianhae aku tak tau. Baiklah kalau begitu, kajja.” Dan lihatlah sekarang dia yang memerintahkanku untuk menaiki motorku sendiri. Dasar yeoja aneh.

______________________________

Kini kami sedang dalam perjalanan menuju makam Eomma Eun Kyo. Ya~ dia mengatakannya tadi. Sebenarnya saat dia mengatakan tempat tujuan itu aku sangat kaget. Aku kira Eommanya masih hidup, tapi itu salah.

“Kita telah sampai.” Ucapku sesampainya di pemakaman. Tempat ini sangat indah, itu karena pemakaman ini berada di wilayah perbukitan.

“Dimana makam Eommamu?”

“Ada di atas.”

Kami berdua berjalan menaiki beberapa tangga menuju ke atas. Sedikit jauh sih, tapi tak apa ini demi Eun Kyo. Mwo? Aku tadi bilang apa? Demi Eun Kyo? Ah ~ sudahlah mungkin ini karena aku terlalu lelah. Tidak . . . aku baru ingat tadi saat dalam perjalanan pun jantungku berdetak tak seperti biasanya. Apa aku mulai menyukai yeoja ini? Oh Tuhan . . . jika aku benar-benar menyukainya, aku berharap dia juga mempunyai perasaan padaku.

“Eomma . . . aku datang lagi. Bagaiman kabar Eomma? Apa Eomma bahagia di sana? Aku harap begitu. Eomma . . . Keadaan Appa kini tidak segera membaik. Eomma tau? Aku benar-benar takut jika Appa juga akan meninggalkanku sendiri di dunia ini.”

Omo . . . dia menangis? Aish ~ eottokhae? Apa yang harus aku lakukan? Apa dia membawaku kesini hanya untuk melihatnya menangis? Aku jadi merasa bersalah sendiri.

Aku berjalan mendekat. Kemudian menepuk pundaknya pelan, berharap dia akan berhenti menangis. Dan benar saja!!!! dia berhenti menangis ~~ ^^

“Kajja!!! Kita duduk disana.” Ujarnya setelah mersa lebih tenang.

Sekarang kami sedang duduk di salah satu bangku yang ada di dekat makan Eomma Eun Kyo.

“Boleh aku bertanya?” Aku berusaha membuka percakapan.

“Ne, silahkan.” Ucapnya lirih.

“Apa penyebab Eommamu meninggal?” Dia tak menjawab. Aish~ apa ucapanku salah?

1 detik ~~~ 3 detik ~~~ 10 detik ~~~

Dia menarik nafasnya kemudian menghembuskannya.

“Eommaku meninggal karena ­kecelakaan. Saat itu, aku masih berumur 5 tahun. Eomma tertabrak oleh truk besar saat mau menyebrang. Kau tau? Beliau meninggal di depan mataku.” Ceritanya “Kau membawa headset?”

“Ne.” Aku mengeluarkan headset dan MP3 dari saku jasku

“Sambil bercerita kita mendengarkan musik, ne.” Dia memakaikan satu headset ketelinganya dan telingaku. Dan aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya.

“Baiklah aku ingin menceritakan satu rahasiaku padamu, tapi ingat jangan ka sebarkan ke siapa-siapa ya.” Aku hanya mengangguk.

“Jika Appaku meninggal, aku ingin meninggal disini. Menerjunkan diriku di tebing itu.” Aku terperanjak kaget saat ia mengatakan hal itu. Ayolah, di pasti bercanda kan?

“Kau benar-benar akan melakukan itu?” Tanyaku dengan nada cemas.

“Ya, tentu saja.” Jawabnya sambil mengangguk

“Eun Kyo-ah, kau tak boleh melakukan hal itu.”

“Wae? Percuma saja bukan jika aku hidup tanpa keluarga.” Katanya dengan nada lemah.

“Kita pulang.” Aku menarik tangannya dengan brutal dan dia hanya diam.

______________________________

“Masuklah ke dalam dan istirahat, ne.” Pintaku pada Eun Kyo sesampainya di depan rumahnya.

“Gomawo.”

Bagaimana dia bisa berubah secepat itu. Tadi siang dia terlihat sangat ceria dan sekarang terlihat sangat rapuh.

______________________________

“Aku pulang.” Teriakku saat masuk ke dalam rumahku.

“Donghae, anakku yang paling tampan kau sudah sayang.” Ucap Eomma sembari merentangkan tangannya untuk memelukku. Aish~ Eomma aku bukan anak kecil lagi.

“Eomma, aku bukan anak kecil. Selain itu bukankah kita bertemu setiap hari.”

“Ya! Kau ini. Kau kan anak Eomma satu-satunya. Jika tak bertemu beberapa jam Eomma akan kangen.” Kata Eomma sambil memelukku

“Makanya Eomma buat saja lagi. Aku mau ke atas.” Aku melepas pelukannya dan berlari kecil menuju kamarku.

Di kamar. Aku hanya tiduran dan tak segera mandi. Aku masih memikirkan Eun Kyo, hanya satu yang ku bingungkan dari kelakuannya. Kenapa dia menceritakan hal itu? Ya~ jika Appanya meninggal, dia akan bunuh diri di tebing itu. Apa dia benar-benar akan melakukannya? Ini gila.

______________________________

Pagi ini aku berencana untuk menjemput Eun Kyo ke rumahnya. Hitung-hitung untuk menenangkannya.

Ku bunyikan klakson motorku berkali-kali, tapi dia tak kunjung keluar. Oke, sekarang aku mulai khawatir jika terjadi sesuatu padanya. Kuputuskan untuk masuk ke dalam rumahnya tanpa minta izin  terlebih dahulu.

“Eun Kyo-ah, kau di mana? Apa kau baik-baik saja?” Sekali lagi tak ada respon. Aku mulai berjalan mencari kamar yang ada di dalam rumah ini. Satu persatu kubuka pintu kamar yang ku temukan dengan kasar. Tinggal satu kamar yang belum aku buka, yaitu kamar di lantai dua. Aku berharap dia berada di sana dalam keadaan sehat-sehat saja ~~ xD. Aku segera membuka pintu dengan kasar dan meneriakkan namanya. Dan . . . kalian tau? Apa yang aku lihat? Aku melihat Eun Kyo sedang melepas bajunya.

Eun Kyo POV

“Huwa . . . habis mandi rasanya segar sekali.” Ucapku sambil memilih baju yang akan aku pakai. Setelah menemukan baju yang ku anggap pas. Aku langsung mengambilnya dan melepas bajuku. Tapi saat aku melepasnya tiba-tiba saja pintu kamarku terbuka dan ada seseorang yang berteriak memanggil namaku. Dan kalian tau? Orang itu namja!!! NAMJA? Omo . . . dan namja itu adalah . . . DONGHAE??? Refleks aku langsung berteriak dan menutupi tubuhku dengan baju yang baru saja aku lepas. Sedangkan Donghae, dia langsung menutup pintuku dengan kasar. Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Lagian, kenapa dia dengan percaya diri masuk kedalam rumah orang tanpa meminta izin terlebih dahulu?. Aku segera memakai bajuku dan berdandan sebentar lalu keluar dari kamar untuk menemuinya.

Saat aku keluar dari rumah, aku dan Donghae langsung salah tingkah sendiri. Aish~ namja pabo.

“Ehm . . . Donghae-ssi, apa yang kau lakukan tadi?” Tanyaku meminta penjelasan.

“Ah ani, bukan itu maksudku. Aku hanya khawatir tadi kau tak segera keluar saat aku membunyikan klakson motorku berkali-kali, makanya aku masuk ke dalam rumahmu tanpa izin dan malah hal itu yang terjadi.” Jelasnya panjang lebar.

“Baiklah, kajja kita berangkat. Tujuanmu kesini untuk menjemputku kan?”

“Ya . . . Kau benar. Naiklah.” Pintanya. Aku segera naik setelah memakai helm.

______________________________

“Kau sudah lebih baik sekarang?” Tanya Donghae di sela-sela alunan musik yang kami dengarkan.

“Yah . . . aku sudah lebih baik sekarang. Mau menemaniku lagi?”

“Kemana? Aku tak mau jika menemanimu ke makam.” Kami berdua tertawa.

“Ani . . . hanya menemaniku ke rumah sakit menjenguk Appaku. Bagaimana?”

“Baiklah, chagi.” Aku tertegun, apa maksudnya memanggilu chagi?

“Chagi? Ya! Kita tak berpacaran.”

“Hhaha . . . kau ini lucu sekali, aku hanya bercanda.” Kami kembali mendengarkan musik dalam kesunyian.

______________________________

2 Month Later

“Hhuhu . . . Donghae-ssi, tak terasa kita sudah berteman selama 2 bulan. Kau tau? Aku sangat senang!!!! Kajja, kita rayakan bersama.” Ajakku dengan sedikit memaksa. Dan kalian tau? Orang yang aku ajak bicara hanya diam, terlalu serius dengan aktifitasnya. “Ya! Donghae-ssi, kau dengar apa yang ku ucapkan?” Donghae mengangkat wajahnya dan menghadap padaku.

“Ya . . . ya . . . ya. Aku dengar semua ucapanmu, Eun Kyo-ah.” Katanya dengan malas.

“Lalu bagaimana? Kau mau kan ikut merayakannya?” Tanyaku.

“Hemmm.” Jawabnya bergumam.

“Aish~ kau ini menyebalkan!!! Aku pergi, dan kau jangan mengangguku lagi, arra!!!” Aku melangkah dengan kesal meninggalkan Donghae menuju taman. Hanya tempat itu yang ingin ku tuju. Dan kalian tau? Aku berharap dia akan mencegahku, tapi itu hanyalah harapan belaka.

______________________________

“Aish~ namja menyebalkan ~~ ><.” Gerutuku sambil melempar satu persatu batu kecil ke kolam yang ada di depanku.

“Kau marah?” Ucap seseorang yang ku yakini adalah Donghae. Aku tak membalasnya dan lebih memilih untuk mengacuhkannya.

“Ya! Sung Eun Kyo, kau benar-benar marah? Itu hanya hal sepele bukan?”

“DIAM.” Bentakku. Aku merasa di berjalan mendekat, dan ternyata benar. Dan sekarang ini kami hanya diam seribu kata.

“Kau marah? Kalau begitu aku minta maaf.” Ujar Donghae membuka pembicaraan.

“Ya . . . aku marah. Tapi itu hanya sebentar kawan. Jadi sekarang kia mau merayakan di mana?”

“Di sini saja.” Jawabnya enteng. Dan seperti biasa kami tertawa lagi.

______________________________

Yoboseo . . . . Mwo? Ada apa dengan Appaku? . . . Baiklah aku akan segera ke sana

“Omona . . . Apa yang terjadi pada Appa. Tuhan, aku mohon jangan kau ambil Appaku dariku.” Aku berjalan tergesa-gesa melewati koridor rumah sakit. Setelah mendapatkan telepon tadi aku segera ke rumah sakit.

“Suster, ada apa denga Appaku? Beliau tidak papakan?” Tanyaku pada salah satu suster yang baru saja keluar dari kamar Appaku.

“Appa anda sekarang ini sedang kritis. Kami masih berusaha untuk menyelamatkan Appa anda. Lebih baik anda berdoa dan menunggu dengan tenang saya permisi dulu.” Suster itu pergi meninggalkanku yang masih syok dengan penjelasannya.

Oh Tuhan . . . aku mohon jangan kau ambil Appaku dulu. Aku mohon

Lututku terasa sangat lemas dan air mataku mulai jatuh membasahi pipiku. Aku masuk ke dalam kamar Appaku. Dan di sinilah aku menangis sejadi-jadinya.

______________________________

Berjam-jam aku menunggu sambil termenung di kamar rawat Appaku ini. Memeluk lutut dengan mata yang basah karena air mata yang sedari tadi tak mau berhenti. Hati yang benar-benar gusar karena takut jika Appa benar-benar akan meninggalkanku.

“Appa . . .” Aku kembali menenggelamkan wajahku ke dalam ke dua tanganku.

Tiba-tiba saja pintu ruangan ini terbuka dan muncul seorang euisa dari balik pintu dengan raut wajah tidak senang.

Ya Tuhan . . . jangan sampai hal yang paling aku takutkan akn benar-benar terjadi

Aku segera berdiri dan menghampiri euisa itu.

“Euisa, bagaimana dengan Appaku? Beliau tidak papakan? Beliau sehat-sehat saja kan?” Aku memegang bahu Euisa tersebut sambil menggoyang-goyangkannya berharap Euisa itu segera menjawab pertanyaanku itu.

“Maafkan saya Nona. Kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi sayangnya nyawa Appa anda tidak bisa tertolong lagi.”

Bagaikan tersambar ribuan petir, tertusuk ribuan jarum #halah lebeh. Lututku seketika saja tersa sangat lemas. BRUK.. Aku terjatuh di lantai dan menagis sejadi-jadinya.

“Dimana Appaku sekarang?”

“Beliau masih berada di ruangan UGD * Bener kagak? Author kagak tau tentang dunia kedokteran xD *.” Aku segera berlari menuju ruangan suram itu

Sesampainya di depan pintu, aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Kulangkahkan kakiku dengan gontai ke arah tubuh Appaku yang kini telah tertutup oleh kain.

“Appa . . .  kenapa Appa meninggalkanku sendiri di dunia ini. Bagaimana denganku sekarang? Apa aku harus ikut mati?” Seketika saja aku teringat dengan ucapanku dulu yaitu Jika Appa meninggal, aku akan bunuh diri di tebing dekat makam Eomma. Dan akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke makam Eommaku.

______________________________

Donghae POV

“Aish~ dimana yeoja itu? Di telpon tidak di angkat, di rumah juga tidak ada. Apa dia di rumah sakit?” Aku segera melajukan motorku dengan kecepatan tinggi, aku takut jika terjadi apa-apa dengan yeoja itu.

Di rumah sakit. Aku langsung berlari menuju kamar Appa Eun Kyo dirawat, tetapi sayangnya ruangan itu kosong. Aku bertanya pada salah satu susuter yang baru saja lewat. Dan begitu terkejutnya aku ketika tau bahwa Appa Eun Kyo telah mennggal beberapa menit yang lalu. Kekhawatiranku kini memuncak, aku ingat ucapan Eun Kyo saat di makan Eommanya.

Dengan segera aku berlari menuju parkiran untuk mengambil motor dan mencarinya ke makam Eommanya. Aku berharap dia tak akan melakukan hal bodoh itu.

______________________________

Author POV

Suara deru motor terdengar keras di pemakaman yang terlihat sepi. Motor itu kini sudah berhenti dan orang yang mengendarainya terlihat berlari dengan tergesa-gesa menuju pemakaman bagian atas. Orang itu adalah Donghae. Dia berhenti di depan makam Eomma Eun Kyo dengan terengah-engah. Sekarang sorot matanya tertuju pada tebing dekat makam tersebut. Dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat hal yang sama sekali tak ingin dia lihat. Dia segera berlari ke tebing itu.

“Eun Kyo-ah, HENTIKAN.” Teriaknya. Namun sayangnya orang yang diperintah sama sekali tak menghiraukan ucapannya. Donghae lebih mendekat kepada Eun Kyo saat ia melihat salah satu kaki Eun Kyo melangkah maju menuju jurang. Disambarnya dengan kasar tangan Eun Kyo yang hampir saja akan masuk ke jurang yang dalam itu. Kini Donghae melihat yeoja yang selama ini terlihat baik-baik saja yang berubah secara drastis seperti seorang mayat hidup.

“APA KAU GILA, HAH.” Bentaknya pada Eun Kyo “APA KAU BENAR-BENAR INGIN MELAKUKAN HAL GILA ITU? Appamu sama sekali tak menginginkan kau melakukan hal itu.”

“Aku tau Donghae-ssi, tapi percuma aku hidup. Aku sudah tak mempunyai orang yang menyayangiku dan menjadi tumpuanku lagi . . .” Ucap Eun Kyo, terisak. “Aku sendiri . . . aku send . .” Kata-kata Eun Kyo terputus ketika Donghae mengunci bibirnya dengan ciuman yang sangat lembut. Air mata Eun Kyo sama sekali tak bisa berhenti, walaupun Donghae sudah menciumnya.

Donghae melepaskan ciumannya dan berkata “Aku akan melindungimu dan menyangimu, Eun Kyo-ah. Aku akan menggantikan Orang tuamu. Jadi, aku mohon jangan lakukan hal gila itu lagi, ne!!” Donghae mengucapkan kata-kata tersebut dengan sangat tulus. Eun Kyo hanya bisa mengangguk pelan. Dihapusnya air mata Eun Kyo dengan pelan dan memeluknya erat.

______________________________

Hari ini adalah hari pemakaman Appa Eun Kyo. Banyak saudara dan teman-teman Appa Eun Kyo yang berdatangan ke rumahnya. Termasuk Donghae dan keluarganya. Saat itu, Eun Kyo sama sekali tak mengetahui bahwa orang tua Donghae juga ada di sana.

Eun Kyo kini sedang berdo’a. Setelah berdo’a dia mengatakan sesuatu pada abu Appanya #apaanya? Author kagak tau namanya – -“ lalu menaruh sebuah MP3 berwarna biru di sana.

______________________________

“Appa, Eun Kyo berjanji tak akan membuat sedih di sana. Eun Kyo akan tetap tersenyum, hingga Eun Kyo menyusul Appa nanti.” Janjinya ketika di pemakaman. Dia berdiri kemudian memberikan penghormatan terakhirnya, tersenyum, dan pergi.

______________________________

Semua hal di dunia ini memang tidak ada yang abadi. Seperti halya manusia. Mereka semua juga tidak ada yang abadi. So, selama kita masih hidup, lakukanlah hal-hal yang baik ^^

END

Hhaha . . . FF gaje kan?? Pasti #plak

Baiklah Comment Please ^^

17 thoughts on “Listen The Music

  1. Author ff nya bgus? Hehe^^,,,btw author the one I love lanjutannya kpn bru ada aku pensran u.u,,,tolong cpt buatin author gomawo ^0^

  2. nice ff. romantis dan lucu kk ^^.. Eun Kyo kenapa naruh mp3 di abu appa nya –a maksudnya gimana ya thor? o.o.. sebenarnya yang suka dengerin musik tuh siapa?? 🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s