Hello Schoolgirl (Part 1)

Author: Tirzsa

Title: Hello Schoolgirl

Main cast: 2PM’s Nichkhun & Wonder Girls’s Sunmi

Genre: Romance, Comedy

Rating: PG-15

Length: Chapter

Disclaimer: Terinspirasi dari film Korea dengan judul yang sama & film Thailand “First Kiss.”

***

Umurnya 25 tahun. Sarapannya mulai dingin.

“Kau lihat tempat garam?” tanya Nichkhun pada Junsu.

Junsu, sambil mengunyah sosis, beranjak bangkit dari tempat duduknya, membungkuk ke meja lain, dan mengambil tempat garam dari sana.

“Ini,” katanya. “Selamat ulang tahun.”

Nichkhun mengguncang tempat garam itu keras-keras. “Apa susahnya menaruh tempat garam di semua meja?” gerutunya.

“Kau ini banyak protes sekali,” kata Junsu.

Nichkhun angkat bahu. Udara pagi sudah mulai panas dan lembap. Ini rutinitas mereka: sarapan, sekali seminggu, hari Jumat pagi, sebelum kantor dipenuhi nasabah. Nichkhun bekerja di sebuah bank swasta di Seoul. Ia berperan sebagai asisten manajer dan mengawasi kinerja setiap cabang kantor yang ada di Seoul.

“Apa pendapatmu tentang orang tampan ini?” tanya Junsu. Ada foto kandidat politik muda di halaman majalah yang sedang dibacanya. “Ia ingin mencalonkan diri menjadi presiden. Padahal umurnya masih muda.”

Nichkhun angkat bahu. “Ia sebaya dengan kita.”

“Memang,” kata Junsu. Ia menaikkan alis matanya. “Kupikir syaratnya harus lebih tua lagi kalau mau jadi presiden.”

“Umur kita ini sudah tua,” tukas Nichkhun.

Junsu menutup majalahnya. Suaranya merendah. “Sudah tua dan masih melajang.”

Nichkhun menggigit lidahnya. Setiap kali mendengar Junsu menyinggung dirinya yang masih melajang sampai detik ini, ia merinding, seakan-akan seekor tawon terbang melintas di kupingnya. Tidak pernah ada hari ia tidak merasa kuatir bahwa ia akan seperti itu selamanya.

Nichkhun tidak menjawab. Masalah itu sudah menjadi bagian dari hidupnya dan ia mulai merasa terbiasa.

Junsu menyendok sosisnya dengan garpu dan menyuapkannya ke mulut. “Aku bisa mengatur kencan buta untukmu.”

Nichkhun menghembuskan napas. “Tidak. Hari ini aku akan sibuk dengan pekerjaan dan tidak punya waktu untuk berkencan dengan seorang yeoja.”

Junsu menaikkan alisnya. “Kau bisa pergi setelah jam kantor berakhir.”

Nichkhun mengusap tengkuknya dan terlihat ragu.

“Ayolah. Ini hari ulang tahunmu,” kata Junsu. “Kau harus melakukan suatu perubahan dalam kehidupan asmaramu.”

Nichkhun menusuk-nusuk telur dengan garpunya, sudah terlalu dingin untuk dimakan.

“Baiklah,” katanya.

***

Jo Kwon memejamkan matanya dan mulai melakukan penerawangan. Sunmi dan Sohee duduk di sisinya, menunggu Jo Kwon mengatakan sesuatu. Kedua yeoja SMU itu percaya bahwa Jo Kwon adalah satu-satunya peramal di dunia ini yang pantas mereka percaya. Jo Kwon tak sekalipun pernah mengacaukan ramalannya terhadap kehidupan asmara Sunmi dan Sohee.

Beberapa bulan yang lalu, Jo Kwon meramalkan bahwa Sohee akan segera mendapatkan seorang namja untuk dirinya. Dan seminggu kemudian, Sohee menemukan surat cinta di lokernya. Surat cinta dari Heechul, ketua kelas di kelas 13 IPA 2. Dan setelah itu, mereka berdua pun resmi menjadi sepasang kekasih.

Kali ini, Sunmi berharap banyak dan bergantung pada ramalan Jo Kwon. Saat ini, Sunmi sedang mengharapkan cinta dari salah seorang namja yang sekelas dengannya, Seungri. Dan ia berharap Jo Kwon akan mengatakan sesuatu yang baik tentang kehidupan asmaranya dan memberi clue.

Sohee mengguncang bahu Jo Kwon. “Kwon-ah, kenapa lama sekali? Cepat katakan pada kami, apakah Sunmi akan segera menjadi kekasih Seungri?”

Jo Kwon mengerutkan alis. Entah karena merasa terganggu dengan guncangan Sohee atau ia melihat sesuatu dalam penerawangannya. “Aku melihat—”

“Apa kau melihat Seungri?” desak Sunmi. Ia meremas lengan Jo Kwon dan mengguncangnya. “Apa aku bisa bersamanya? Katakan sesuatu!”

Jo Kwon menggeram kesal dan membuka mata. Ia menepis tangan Sunmi dari lengannya. “Aish~ Kau mengacaukan penerawanganku! Padahal aku hampir bisa melihatnya tadi,” gerutu Jo Kwon.

Sunmi dan Sohee mendesah kecewa. “Oetteohke? Apa kau tidak melihat sesuatu? Sedikit pun?” tanya Sohee.

Jo Kwon mengusap dahinya. “Sebenarnya ada, tapi tidak terlalu jelas.”

Jeongmalyo?” jerit Sunmi girang. “Apa yang kau lihat?”

“Hm, menurut penerawanganku, ciuman pertamamu yang akan menentukan pasangan hidupmu ke depannya nanti,” jawab Jo Kwon dengan nada ragu.

Sunmi dan Sohee bertukar pandang dan mengerutkan alis dengan bingung. “Ciuman pertamaku? Aku bahkan belum pernah berciuman dengan seorang namja.”

“Apa mungkin itu menjadi sebuah pertanda bahwa kau akan segera mendapatkan ciuman dari namja yang kau sukai?” seru Sohee.

Jo Kwon angkat bahu. “Mungkin saja,” ujarnya, ikut membenarkan.

Sunmi mengulum senyum dan refleks mengulurkan jemari untuk menyentuh bibirnya. Di benaknya kini sudah melintas bayangan Seungri yang hendak menciumnya. Ia menjerit dengan suara tertahan dan wajahnya berubah bersemu merah.

***

Nichkhun menenteng tasnya di bahu secara bergantian. Bahunya mulai pegal dan ia mulai bosan dengan situasi yang ada. Seorang yeoja bernama Yuri, yang menjadi pasangan kencan butanya hari ini, masih terus bercerita dengan menggebu-gebu. Yuri bercerita tentang profesinya dan aktifitas kehidupannya sehari-hari. Tapi Nichkhun sama sekali tidak sedang berkonsentrasi pada Yuri. Ia terus menguap dan menggaruk tengkuknya yang terasa tidak gatal. Membosankan, batinnya.

Tadinya, ia pikir dengan mengikuti saran Junsu untuk melakukan kencan buta dengan seorang yeoja asing adalah hal yang menyenangkan. Namun, seharian itu, Nichkhun tidak bisa menikmati waktunya dengan baik. Yuri adalah yeoja yang tidak menarik, bahkan cenderung membosankan. Yeoja itu terus bersikap agresif dan aneh. Nichkhun masih ingat bagaimana Yuri menghabiskan tiga mangkuk jajangmyeon saat keduanya makan malam bersama beberapa saat yang lalu.

“Khun-ah,” panggil Yuri.

Nichkhun menoleh dan menelan ludah saat melihat Yuri tersenyum manis kearahnya. Perut Nichkhun bergejolak karena rasa mual. “N-ne, Yuri-ssi?”

“Aku sudah memikirkan tentang kesan pertamaku setelah berkencan denganmu seharian ini,” kata Yuri dengan suara rendah. “Dan aku rasa, kau adalah namja yang sangat cerdas dan sopan.”

Nichkhun tertawa kikuk. “Ah~ Ne, gomawo.”

“Kau benar-benar tipe idealku,” lanjut Yuri.

Nichkhun terbatuk dengan tiba-tiba. Yuri menatapnya kuatir dan mengusap punggung namja itu dengan pelan. “Oh, gwaenchanha? Ada apa?”

Nichkhun menarik napas panjang dan menghembuskannya kuat-kuat. Ia mengusap dadanya dan menggeleng. “Aniyo. Gwaenchanha.”

Yuri ikut mendesah. “Aku pikir kau hampir mati kehabisan napas.”

Nichkhun meringis. Tentu ia tidak mau menolak Yuri secara langsung, takut melukai perasaan yeoja itu. Aku harus melakukan sesuatu! Harus! Sebuah ide melintasi di benak Nichkhun. Ia melirik Yuri yang masih tersipu-sipu malu di sampingnya dan merogoh ponselnya dari dalam saku celana.

Mianhae, Yuri-ssi,” kata Nichkhun. “Aku permisi sebentar untuk menerima telepon. Tidak apa-apa, kan?”

Ne, geureumyo. Silahkan saja.”

Setelah mendapat anggukan setuju dari Yuri, Nichkhun melangkah untuk menjauh, tapi tidak cukup jauh untuk membuat yeoja itu tetap mendengar suaranya. Kemudian, Nichkhun berpura-pura menempelkan ponselnya ke telinga dan menjalankan aksinya.

“Oh, Junsu-ah!” serunya. “Wae? Mengapa meneleponku?” Nichkhun melirik Yuri yang memperhatikannya di belakang dan melanjutkan, “Ah~ Ne, sekarang aku masih bersama Yuri dan mungkin sebentar lagi sampai di rumah. Oh yah, aku boleh meminjam video pornomu?”

Nichkhun menahan suaranya dan melirik kearah Yuri lagi. Yeoja itu tampak membeku di tempatnya dan wajahnya bersemburat merah. Berhasil! Nichkhun tersenyum puas dan kembali melanjutkan, “Ne, aku ingin menontonnya malam ini. Aku belum sempat melakukan ‘itu’ lagi selama seminggu belakangan ini, maka dari itu aku ingin meminjamnya.”

Wajah Yuri kini berubah pucat. Ia memandangi wajah Nichkhun dengan mulut membuka. Tak berselang lama kemudian, ia melihat Nichkhun telah mengakhiri obrolannya di telepon dan menghampirinya.

“Yuri-ssi, apakah aku membuatmu menunggu lama?” tanya Nichkhun dengan senyum manisnya.

Yuri menggeleng lemah.

“Oh yah, tadi aku tidak mendengarmu berbicara. Apakah kau mengatakan bahwa aku adalah tipe idealmu?” lanjut Nichkhun.

Yuri mengangguk, lalu menggeleng dengan segera. “Ani, aku tidak mengatakan sesuatu tentang tipe idealku tadi. Kupikir kau hanya sedang salah dengar.”

Nichkhun menahan tawa dalam hati saat melihat raut Yuri yang pucat. Tapi dengan begitu, ia tahu Yuri pasti akan tidak menyukainya lagi. Dan benar saja, Yuri memutuskan untuk tidak pulang bersamanya dengan menaiki bus, namun memilih untuk naik taksi dengan alasan bahwa ia harus segera pulang. Nichkhun mengiyakan permintaan Yuri dan mengawasi kepergian taksi Yuri dengan seringai di sudut bibirnya.

***

Sunmi berlari-lari kecil menuju halte bus dengan map di pelukannya. Karena terus membayangkan adegan ciumannya dengan Seungri sepanjang malam, Sunmi jadi kesulitan untuk tidur dan akhirnya terlambat bangun pagi. Tapi, kekacauan pagi itu tidak merusak paginya yang indah, karena tiba-tiba ponselnya bergetar dan ada telepon yang masuk dari Seungri.

“Seungri meneleponku!” jerit Sunmi tertahan. Ia melompat-lompat kegirangan dan saking girangnya, ia tidak memperhatikan seorang namja yang berdiri di depan halte bus. Alhasil, kepalanya terantuk pada lengan kokoh namja itu hingga ia mundur beberapa langkah sambil memegangi dahinya.

Sunmi mendongak untuk melihat wajah namja itu dan membungkuk sekilas untuk meminta maaf. “Mianhae, aku benar-benar tidak sengaja.”

Namja itu tidak menghiraukannya dan hanya melempar pandangan sinis. Tidak ada waktu untuk mengurusi namja sinis ini, pikir Sunmi. Ia kembali berfokus pada teleponnya dan berdeham untuk memperbaiki pita suaranya. Lalu, Sunmi menempelkan teleponnya ke telinga.

Yeobboseo?” sahut Sunmi dengan suara semanis mungkin.

“Sunmi-ssi, kau ada di mana sekarang?” Terdengar suara Seungri di ujung telepon.

Sunmi merasakan jantungnya akan meledak saat itu juga ketika mendengar desahan napas Seungri di ujung telepon. “Hm, aku—”

“Aku sedang berada di halte bus sekarang.”

Sunmi berpaling kearah namja yang berdiri di sampingnya dan sedikit terkejut saat mendengar suaranya yang besar. Rupanya namja itu juga sedang menelepon seseorang.

“Kau ada di halte bus sekarang?”

Sunmi kembali terfokus saat mendengar suara Seungri. “Ah~ Ne, Seungri­-ssi. Wae?”

“Kapan kau akan tiba di sekolah? Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu,” kata Seungri.

“Aku akan sampai di sana sebentar lagi, babo. Bersabarlah sedikit!”

Sunmi menoleh lagi kearah namja di sebelahnya itu dan mendelik kesal. Namja itu sedikit mengganggunya.

“Hm, aku akan tiba di sekolah sebentar lagi, Seungri-ssi. Aku masih harus menunggu bus datang terlebih dahulu,” sahut Sunmi. “Sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku?”

“Aku tidak akan mengatakannya lewat telepon, jadi sebaiknya kita bertemu langsung,” jawab Seungri.

“Tidak usah bersikap misterius seperti itu, babo!” Lagi-lagi namja di sebelahnya itu berseru, membuat Sunmi terkejut. “Katakan saja langsung lewat ponsel!”

“Hm, baiklah, Seungri-ssi. Sampai jumpa di sekolah nanti.”

Sunmi bergerak memasukkan ponselnya ke dalam saku kemejanya dan mendelik kearah namja di sebelahnya itu. Namja itu terlihat kesal dengan seseorang yang sedang berada di ujung telepon.

“Tentang Yuri?” Namja itu memekik. “Sudahlah. Aku sedang tidak ingin membicarakannya. Jangan merusak moodku pagi ini, Junsu,” lanjut namja itu dengan nada memohon.

Tak berapa lama kemudian, namja itu tiba-tiba meringis dan mematikan ponselnya dengan kesal. Sunmi memerhatikan raut merah namja itu dengan rasa takut.

Bus yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba di halte. Semua orang berbondong-bondong masuk ke dalam, saling berlomba untuk mendapatkan bangku kosong. Saat Sunmi hendak naik dan menerobos masuk ke dalam, tiba-tiba lengan namja tadi terulur ke depan dan menghalangi upayanya.

“Dahulukan yang lebih tua dulu, Nona,” kata namja itu dengan senyum dibuat-buat.

Sunmi mengepalkan tinjunya dengan kesal ketika namja itu berhasil naik duluan ke dalam bus dan mendapatkan bangku kosong. Sementara ia harus naik belakangan dan terpaksa berdiri di dalam bus karena semua bangku telah penuh.

***

Nichkhun sudah bisa menebak reaksi Junsu begitu ia tiba di kantor setelah ia mengakhiri telepon mereka saat di halte bus tadi. Junsu duduk di atas meja kerja Nichkhun dengan raut menyeramkan yang dibuat-buat. Bukannya malah terlihat menyeramkan di mata Nichkhun, melainkan terlihat sangat menggelikan.

“Apa yang sebenarnya kau katakan pada Yuri, Brengsek?” tanya Junsu dengan nada dingin.

Nichkhun angkat bahu. Ia meletakkan tasnya ke kursi dan duduk di sana, lalu menyalakan komputer dengan lagak innocent. “Aku tidak mengatakan apa-apa.”

“Aku tahu kau sedang berbohong!” tukas Junsu. Ia turun dari meja dan mencondongkan tubuhnya ke wajah Nichkhun. “Kau mengatakan sesuatu padanya, bukan?”

“Aish~” Nichkhun mendorong wajah Junsu dengan telapak tangannya dan menggerutu, “Aku tidak mengatakan apa-apa padanya.”

“Lalu, mengapa ia meneleponku semalam tadi?” tanya Junsu. “Ia bilang, ia ragu jika ingin melanjutkan hubungan kalian berdua. Bahkan ia mengatakan bahwa ia tidak menyangka bahwa aku adalah hiperseks.” Junsu mengernyit. “Aku tidak mengerti, mengapa ia menyebutku hiperseks.”

Nichkhun tertawa di balik meja kerjanya. “Bukankah kau memang hiperseks?”

Junsu meraih pulpen dari saku kemejanya dan melemparnya kearah Nichkhun. Namun Nichkhun dengan sigap menundukkan kepala dan berhasil menghindar.

“Brengsek kau, Khun!”

***

Jam istirahat, Sunmi duduk berhadapan di sebuah meja kosong bersama Seungri. Ini adalah momen yang paling mendebarkan untuknya, ketika Seungri tiba-tiba menyeretnya masuk ke kantin hanya berdua. Bahkan ketika Jo Kwon dan Sohee menawarkan diri pada Seungri untuk ikut bergabung bersama mereka, Seungri dengan sopan menolak Jo Kwon dan Sohee untuk ikut bergabung. Seungri menjelaskan alasannya dengan sangat tenang dan mengungkapkan bahwa obrolan itu akan bersifat sangat pribadi antara dirinya dan Sunmi, jadi tak boleh ada orang lain yang ikut mendengar.

Sunmi mengusap gelasnya minumnya dengan kuatir dan sesekali mencuri pandang kearah Seungri. Seungri belum juga mengatakan sesuatu. Ia terlihat sedang berpikir, mencoba mencari kata-kata yang tepat, yang justru membuat Sunmi makin merasa gugup di jeda yang sangat panjang itu.

“Seungri-ssi, sebenarnya—”

“Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya padamu,” sela Seungri tiba-tiba.

Sunmi mendongak dan menatap wajah Seungri yang berubah pucat. “Mengatakan apa?”

Seungri terlihat menelan ludah. Sunmi bisa melihatnya dari pergerakan jakun Seungri yang terus naik turun berulang-ulang kali. “Hm, soal..”

Ne? Soal apa?” desak Sunmi, mulai merasa tak sabaran.

Seungri tiba-tiba mendongak dan meraih tangan Sunmi. Sunmi sedikit terkejut dengan keagresifan Seungri yang tidak biasa itu, namun juga menyukainya. Kulit telapak tangan Seungrit terasa berkeringat dan dingin.

“Soal perasaanku padamu,” kata Seungri.

Sunmi ikut menelan ludah. “Memangnya, bagaimana perasaanmu padaku?” tanyanya dengan sangat hati-hati. Ia mencoba meredam suara kebahagiaannya di ujung lidah agar Seungri tak menaruh curiga.

“Aku.. Aku..”

Mata Sunmi membulat seiring satu per satu kata yang terus meluncur keluar dari mulut Seungri dan itu membuatnya merasa gemas. “Ne, kau..”

“Aku..”

Sunmi menahan napas.

“Aku menyukaimu.”

Seungri mendesah. Sunmi masih menahan napas. Wajahnya berubah merah.

“Sunmi-ssi, gwaenchanha?” tanya Seungri, merasa kuatir dengan wajah Sunmi yang tiba-tiba berubah merah.

Sunmi menghela napas. Ia menyeringai bahagia. “Aku mau!”

Seungri mengenyit. “Mau?”

“Mau menjadi yeojachingumu!” seru Sunmi.

Seungri mengulum senyum. “Jinjjayo?”

Sunmi mengangguk dan balas menggenggam tangan Seungri. Keduanya bertukar pandang cukup lama dan tersenyum satu sama lain. Satu lagi cerita bahagia dari hasil ramalan Jo Kwon. Sunmi akhirnya menemukan namja yang akan memiliki ciuman pertamanya. Seungri.

***

Sepanjang perjalanannya menuju ke rumah, Sunmi terus berpangku tangan sambil mengamati pemandangan di luar jendela bus. Harinya tidak pernah lebih bahagia dan semenyenangkan hari ini. Setelah penantiannya selama setahun untuk menunggu Seungri, akhirnya namja itu mengutarakan perasaannya pada Sunmi. Penantiannya tidak sia-sia. Mungkin benar kata orang-orang, segala sesuatunya sudah ditetapkan pada waktunya sendiri, hanya saja perlu waktu untuk menunggu sampai waktu itu tiba. Satu-satunya kuncinya adalah bersikap sabar.

Sunmi memejamkan mata dan mulai membayangkan Seungri. Wajahnya yang tampan, senyumnya yang indah, dan bibirnya yang manis. Sunmi tersipu malu. Ia tetap saja adalah seorang yeoja SMU, di mana hormon-hormonnya bergejolak dan mendesaknya untuk merasa penasaran dengan yang namanya berciuman.

Wajah Sunmi semakin memerah. Ia mulai membayangkan dirinya dan Seungri sedang berada di jalan setapak. Mereka naik sepeda bersama, berlari-larian, saling mengejar satu sama lain, dan akhirnya jatuh ke atas rumput hijau yang selembut kapas dengan berpelukan. Berbagi kehangatan. Seungri mengusap pipi Sunmi dengan punggung tangannya, lalu membisikkan kata cinta yang selalu dirindukan Sunmi di telinga kirinya.

Baru saja membayangkan sejauh itu sudah membuat jantung Sunmi berdetak. Ia mengulum senyum dan terus melanjutkan fantasinya yang indah. Seusai mengucapkan tiga kata cinta itu, Seungri mendekatkan wajahnya pada Sunmi, lalu..

Sunmi tersentak dan fantasinya yang indah itu buyar seketika saat merasakan beban kepala seseorang menindih pundaknya. Ia membuka mata dan mendapati seorang namja sedang tertidur dengan pulas di atas bahunya.

Chakkaman! Bukankah namja ini, namja yang tadi pagi ada di halte bus?” gumamnya pelan.

Sunmi berdecak kesal. Akibatnya, ia tidak bisa lagi melanjutkan bayangan ciuman pertamanya dengan Seungri karena harus menahan beban kepala namja itu. Sunmi menggerak-gerakkan pundaknya untuk membuat kepala namja itu menyingkir dari atas bahunya, namun usahanya selalu sia-sia.

“Ada kecelakaan!”

Sunmi menoleh saat mendengar salah seorang penumpang bus menjerit sambil menunjuk kearah luar bus. Sunmi ikut mengintip melalui kaca jendela dan melihat dua orang penumpang motor tersungkur di tanah karena menabrak trotoar. Pasti orang itu sedang mabuk, gerutunya dalam hati. Ia kembali menoleh kearah namja itu persis ketika namja itu ikut terbangun dan mencondongkan tubuhnya ke jendela, berniat ingin melihat kecelakaan itu juga.

Celakanya, Sunmi tidak dapat menghindar dengan tiba-tiba ketika bibir namja itu menyentuh bibirnya. Namja itu ikut terkejut dan menjauhkan diri dengan segera. Keduanya saling mengusap bibir mereka masing-masing dan bertukar pandang.

“Ciuman pertamaku!”

To be continued…

***

Don’t be silent reader, leave your comment, & I’ll post the next part very soon (:

59 thoughts on “Hello Schoolgirl (Part 1)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s