Holding Back the Tears

Title : Holding Back The Tears

Author : Sicafiramin @Sicafira

Maincast : Park Jiyeon (T-ara), Kim Myungsoo L (INFINITE)

Support cast : Kang Sora, Jinwoon (2am)

Length : Oneshot

Genre : Family,Romance

Rating :  General

Ini ff sekian kali yang ink rombak terus ceritanya. ada lebih dari 5 cerita dengan judul yang sama tapi baru sekarang selesei nya -___- hadeh author dudul. oke, simak aja cerita nya. protesan atau saran ditunggu :p

 Happy reading~

Seorang gadis terduduk dalam diam dengan menekuk kepala sedangkan kedua tangan nya mengepal keras memegang beberapa lembar kertas berisikan materi-materi tentang jurusan kuliah yang ia tekuni di universitas. Jurusan kedokteran.

 

Tok tok…

“Jiyeon~ bangun nak. Ini sudah petang. Kau belum makan apapun dari tadi” ujar seorang wanita paruh baya.

“Iya eomma… sebentar lagi aku menyusul ke bawah” gadis itu turun dari kasur seraya  merapihkan pakaiannya lalu mematut dirinya di sebuah kaca berukuran besar. Cantik tapi berantakan.

“Cepat ya nak. Sepertinya, ada yang ingin appa bicarakan jadi sebaiknya kau bergegas jika tidak ingin Appa memarahimu.”

“Ne eomma…”

Jiyeon. Nama yang indah untuk seorang gadis. Jiyeon berartikan bahwa gadis itu adalah seorang gadis penyayang, ceria juga penambah kehangatan dan semangat bagi yang lainnya. Namun,  bertolak belakang bagi Jiyeon yang satu ini. Dia terlalu rapuh untuk menjadi penyemangat juga ia tak akan mampu menghangati dunia dengan seulas senyumnya.  Ia tentu tak menginginkan Jiyeon yang ini, namun takdirlah yang membuat nya begitu. Ia tahu, bahwa tidak ada seorang pun yang dapat merubah takdir Tuhan, juga percaya bahwa hanyalah usaha dan kemauan yg kuat kita dapat memperbaiki takdir kita tapi bagi Jiyeon, usaha sebesar apapun yang telah dia lakukan itu tak akan mampu memperbaiki takdirnya. Karena takdirnya telah diatur oleh orang tuanya.

Jiyeon POV

Di ruang makan…

“Aigo~ lama sekali kau Jiyeon-ah”

“Mianhae eomma…” jawab Jiyeon pelan.

“Ayo duduk. Hari ini Eomma memasakan udang kesukaan mu” tawar Eomma

“Gomawo eomma…” ucap ku mengakhiri pembicaraan di ruang makan. Keluarga kami tidak terbiasa berbicara saat makan. Namun, pengecualian untuk hari ini, tiba-tiba… Bagaimana dengan kuliah mu? Ada kendala?” tanya Appa, aku menoleh padanya, tidak biasanya Appa bersikap seperti ini.

“Aniyo..” kataku dingin.

“Bagus. Bulan depan akan dimulai berbagai praktek. Pastikan kamu harus mendapatkan nilai A. Jika kesulitan dalam materi nya nanti akan Appa beri buku panduan khusus.”

“Ne arraseo. Tak usah khawatir, appa.”

“Jiyeon-ah, Kami percaya padamu. Buatlah kami bangga padamu seperti apa yang telah kakak-kakak mu lakukan. Jagalah kehormatan keluarga ini dan buatlah orang lain berdecak kagum dengan prestasi keluargamu.” Ujar eomma. Aku lelah eomma

~ ~ ~

Author POV

       Semua kegiatan yang dilakukan Jiyeon tiap harinya bagaikan sebuah film yang diputar ulang. Berulang kali layaknya Dejavu. Bosan. Mungkin itu perasaan yang Jiyeon rasakan. Namun, seiring berjalannya waktu rasa bosan itu pudar.. menghilang.. menjauh. Karena ia bersahabat dengan kata bosan sepanjang hidupnya

“Chukkhae Jiyeon-sshi, kamu mendapatkan A+ lagi. Pertahankan prestasi mu ini juga pertahankan martabat keluarga mu yg berstatuskan keluarga bergenerasi dokter. Semoga kau tak lelah dengan ini” Kata dosen berperawakan tinggi dan perut membuncit dengan kumis dan jambang yang tebal. Menggelikan.

“Aku terlalu terbiasa dengan kata lelah” ucap Jiyeon dalam hati. Tentunya ia tak ingin sang dosen mendengar keluhan murid yang selama ini menjadi kebanggannya.

“Baiklah…berikan hasil praktek ini pada Ayah mu. Beliau pasti bangga. Kau boleh pulang sekarang.” titah sang dosen.

“Ne.. kamsahamnida. Saya pamit.”

“Oh iya, saya memberikan nilai A+ karena kau menggambar bagan-bagan praktek tadi dengan sempurna. Ku anjurkan kau menjadi pelukis jika kau tak lulus menjadi dokter. Bagaimana Jiyeon, kau mau?” canda si dosen. Candaan yang sama sekali tak bermutu bagi Jiyeon.

“Itu mustahil” ucap Jiyeon dingin. Ia hendak melangkahkan kaki namun sang dosen-menyebalkan itu membuka mulutnya kembali.

“Haha baiklah. Saya hanya bercanda saja. Kau beruntung mempunyai bakat dan kemampuan yang lebih dibanding yang lain, Jiyeon-ah. Banyaklah bersyukur.. “

haruskah aku bersyukur karena takdir dan bakat ku itu berkesinambungan?

~ ~ ~

Malam Harinya

 

                  Hari ini, Jiyeon bersantai-santai didalam kamarnya. Tugas menumpuk sudah ia kerjakan di kampus saat salah satu dosen nya berhalangan hadir. Hanya ditemani secangkir cokelat panas dan secarik kertas yang tentunya dengan sebuah pensil hitam tajam ia melukis sebuah denah halaman rumah..

“Aku pasti sudah gila. Mengapa aku menggambarkan halaman rumah? Masih terlalu jauh bukan untuk mempunyai rumah pribadi dan berkeluarga?      Umurku saja belum genap 20 tahun. Huh.” Jiyeon meniup poni nya dan termenung. Kelas akselerasi mempercepat studi nya menjadi lebih cepat 3 tahun di usia rata-rata teman kampusnya. Dan ia baru menyadari akan satu hal yang seumur hidupnya tak pernah ia rasakan, cinta.

“Ah.. sudahlah jangan berharap terlalu tinggi kau Jiyeon~ kau pasti bernasib sama dengan Sora eonni atau Jinwoon oppa. Dijodohkan dengan anak teman Appa yang berprofesi sebagai dokter. Setelah itu berencana membuat Rumah Sakit keluarga. Huh konyol sekali mereka. Mengapa tak sekalian pembantu dirumah juga dijadikan dokter! Menyebalkan” kesal Jiyeon. Entahlah sampai kapan keluhan-keluhan Jiyeon akan berakhir. Tiba-tiba pintu kamar Jiyeon terbuka oleh sang Appa.

”Jiyeon-ah. Apa kau sedang sibuk?”  appa mendekat menuju tepi kasur Jiyeon

“Aniyo. Waeyo appa?”

“Begini…Kemarin teman Appa yang bekerja di Australia baru saja pulang. Dan Appa berencana akan menjamu mereka. Kau bantu Eomma mu. Sepertinya Jinwoon berhalangan untuk kemari. Sayangnya eonni mu juga masih berada di Indonesia untuk kegiatan membantu para korban bencana alam”

“Sora eonni memang berhati malaikat..lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Kau mau ikut berpartisipasi? Yah setidaknya kau mewakili kakak-kakakmu yang tidak bisa hadir”

“Baiklah. Aku tidak keberatan” ucap Jiyeon dengan tersenyum kaku.

“Kau memang anak baik, Jiyeon-ah. Oh iya pastikan kau sedikit berdandan. Oke?”

“Berdandan?”

~ ~ ~

       Malam penjamuan pun tiba. Hari itu Jiyeon mengenakan dress berwarna favoritnya, pink ditambah balutan cardigan hitam dan sedikit hiasan pita pada bagian lengan. Lalu dengan merapihkan rambut panjangnya yang lurus menjadi lebih ikal ia menyatukan beberapa rambut yang berada diujung kanan dan kiri menjadi satu dibagian belakang dengan jepitan mutiara. Sempurna.

“Woah…cantiknya anak Eomma~ mengapa kau tak berdandan begini setiap hari?” tanya Eomma sesaat setelah Jiyeon menghampiri ke ruang makan.

“Itu hanya akan menghabiskan waktu saja, eomma…” ucap Jiyeon seraya tertawa

“Ya sudah. Kita tunggu di luar saja bagaimana? Sepertinya mereka akan tiba beberapa menit lagi.” Saran Appa. Lalu mereka beranjak menuju bagian depan rumah besar itu.

“Eomma, memangnya siapa teman Appa itu sampai harus berdandan formal seperti ini?”

“Hmm mungkin kamu sudah tidak ingat lagi. Mereka cukup dekat dengan keluarga kita namun keluarga mereka memutuskan berpindah ke Australia waktu kamu umur 5 tahun.. namanya Kim Seunghwan” tutur eomma seraya membenarkan letak  berlian yang terpasang pada jari manisnya.

“Oh arraseo..”

“Kau benar-benar lupa?” tanya eomma yang langsung dibalas anggukan oleh Jiyeon “Tapi, mungkin kamu tidak akan melupakan anak mereka”

“Ha? Siapa?”

TIN…..TIN….

“Nah itu dia mereka. Yeobo.. Jiyeon… tamu nya sudah datang.”

     Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di di halaman beranda rumah Jiyeon, keluar lah sang tamu yang ditunggu-tunggu. Karena penasaran, Jiyeon mendekat pada mobil itu. Ia penasaran dengan orang yang tadi sempat dibicarakan Eomma nya. Yang pertama keluar dari mobil adalah wanita berpakaian resmi berwarna merah mencolok lalu laki-laki paruh baya dengan setelan jas berwarna hitam mengkilap dan… laki-laki yang sepertinya seumur dengan Jinwoon oppa-hanya berpaut 3 tahun dari Jiyeon-keluar dari mobil. Gaya berpakaiannya dan menyapa Appa dan Eomma membuat Jiyeon membeku ditempat. Ia terpesona dengan laki-laki itu.

 

Jiyeon POV

“Selamat datang. Bagaimana rasanya beradaptasi kembali dengan udara dingin Korea?” tanya Appa dengan rindu ia memeluk Kim ahjusshi.

“Hahaha…terima kasih kawan lama. Udara memang dingin tapi ini sangat baik karena dapat berkumpul lagi dengan kalian ditambah gadis cantik ini. Ini Jiyeon kan?

“Ah.. iya Ahjusshi. Annyeong Hasseo. Selamat datang kembali di Korea.” Ucapku membungkuk. Aish, aku tak menyadari, bahwa dari tadi aku hanya memperhatikan namja yang dihadapanku ini sampai-sampai aku lupa memberi salam pada Kim Ahjusshi.

“Aigo~ uri Jiyeon. Sudah lama tak bertemu ya.. tak terasa sudah sebesar ini.” Kali ini nyonya Kim yang berbicara. ia melihatku dari ujung rambut hingga ujung kepala lalu memelukku.

“Ah iya Myungsoo juga ternyata sudah sebesar dan sesukses ini ya…” tak ingin kalah dengan nyonya Kim, eomma juga angkat bicara tentang anak mereka. Ya..namja yang kuperhatikan dari tadi.

Waa kamsahamnida Ahjumma..Ahjumma juga tetap awet muda ya.” Candaan ringan dari Myungsoo membuatku sedikit tersenyum. Rupanya namja ini bernama Myungsoo. Kim Myungsoo.

“Ah begitukah?” tanya eomma dengan tersipu. Ya~ itu menggelikan eomma! Dia hanya ingin menghiburmu saja. Kata-katanya hanya candaan belaka. haha

“Baik..baik kita mengobrol didalam saja, Bagaimana?” tawar Appa.

Di Ruang Makan

“Bagaimana, masakan Korea memang yang terbaik kan, Myungsoo-ya?” tanya Appa.

“Ne Ahjusshi. Ini karena masakan Ahjumma sangat enak!” ucapnya sambil mengacungi jempol pada eomma.

“Ah kamu Myungsoo-ya.. dari tadi memuji Ahjumma saja padahal kan disini ada Jiyeon. Kalian belum saling sapa ya? Padahal dulu kalian akraaab sekali~” aigo..nada eomma yang dibuat-buat membuatku malu. Hentikan itu eomma~ jebal~.

“Tapi aku sudah tidak ingat lagi eomma..” ucapku datar membuat Myungsoo menatap mataku

“ Wajar saja. Kau kan masih sangat kecil. Dulu Myungsoo kesepian karena tak mempunyai hyung, nunna atau dongsaeng. Saat kamu lahir, Myungsoo jadi sering main ke rumah ini hanya untuk melihat dan mencubit. Bbahkan sampai mencium-cium pipi mu. Jiyeon-ah kau pasti tak percaya. Hahahaha” semua orang tertawa kecuali aku dan Myungsoo. Ya..kami adalah korban tawaan dari mereka. aku menundukan kepalaku. Membayangkan nya saja aku malu setengah mati begini.

“Aish.. eomma. Sudah jangan dibahas lagi. Aku..aku malu” protes Myungsoo yang membuatku menatap matanya bergantian. Wajahnya memerah.

“Hahaha kejadian itu sudah lama sekali ya. Hanya sampai umur Jiyeon 5 tahun, kita terpaksa pindah ke Australia karena urusan pekerjaan. Waktu itu Myungsoo lah yang paling sedih karena berpisah dengan mu, Jiyeon-ah” tutur Kim Ahjusshi. Aku menoleh pada eomma,

“Mengapa Eomma tak pernah bercerita apapun padaku?” Ya. Eomma tak pernah bercerita tentang keluarga Kim ini. Tak sedikit pun.

“Benarkah? Hmm…mungkin karena terhalang dengan hal-hal yang lebih penting sayang..”

Jawab  eomma. Tentu saja. Karena yang paling penting bagi Eomma itu hanya pendidikanku agar menjadi dokter. Simpel nya sih seperti itu.

“Kalau begitu, lebih baik kalian saling mengakrabkan diri lagi. Bagaimana kalau di halaman belakang? Sepertinya bagus. Kalian tidak keberatan kan?” tawar Appa. Belum sempat aku menimbang tawaran appa namun Myungsoo menjawab,

“Tentu saja. Kami permisi ke belakang dulu.” Kata Myungsoo berdiri dari duduknya dan memberi kode padaku untuk segera mengikutinya. Aku hanya menurut.

 

“Apa kau satu pemikiran denganku, bahwa ini adalah acara semacam perjodohan?” tanya nya cepat. Astaga bahkan kami belum 5 langkah dari meja makan. Aku tak langsung menjawabnya. Aku justru langsung menuju halaman belakang. Lalu kami duduk disebuah kursi kayu panjang disudut halaman.

“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Wajahnya berubah menjadi dingin dan datar. Bertolak belakang dengan wajah yang kulihat di meja makan barusan. Apa dia marah?

“Aku..aku tak tahu.”

“Aku tak suka dengan perjodohan. Kau?” ucapnya dingin namun menusuk.

“Aku..aku masih kuliah jadi..tak.. tak ada sepintas pun aku berpikiran akan menikah“ oh god. Hanya merangkai kata-kata seperti itu saja membuat otakku lambat bekerja. Ini gara-gara Myungsoo menatap mataku dengan pandangan elang.

“Hmm..jadi kamu masih kuliah? Rencana mau jadi dokter apa?” ucapnya melunak. kenapa ia tahu aku masuk jurusan kedokteran? Apa selain bermata elang ia juga peramal?

“Menjadi dokter apapun sama aja kan? Sama-sama berhadapan sama pasien” ucapku ketus.

“Ani. Mereka berbeda tipe.”

“Mwo? Apa maksudmu?” tanyaku heran.

“Ya…didunia ini ada 2 tipe bagi seorang dokter. Pertama, ada dokter yang hanya melaksanakan kewajiban nya saja. Misalnya dengan mendengarkan keluhan pasien dan memberi beberapa resep kemudian mendapat gaji pada setiap bulannya. Lalu yang kedua, ada dokter yang mempertaruhkan seluruh tenaganya demi menyelamatkan nyawa pasien dengan seribu cara. Beda kan?” celotehnya panjang lebar. Aku mencoba mencerna kata per kata yang ia keluarkan.

“Bagaimana jika ada dokter yang tidak begitu menyukai pekerjaannya sebagai dokter tapi ia harus menjadi dokter? Lalu dia masuk tipe mana?” hening sebentar. Myungsoo terlihat berpikir lalu tertawa kecil.

“Sebenarnya dokter itu hanya belum sadar dan ikhlas saja. Jadi tidak termasuk tipe manapun” jawabnya. Tapi aku tak puas dengan jawabannya.

“Lalu bagaimana agar ia sadar atau ikhlas?” Myungsoo kembali tertawa kecil lalu menatap mataku dalam yang membuatku sedikit terkejut.

“Kuncinya itu, tanyakan pada diri sendiri. Tak ada seorang pun yang mampu mengerti atau menjawab pertanyaan yang memang hanya ditujukan pada diri sendiri” ujarnya. Entah kenapa aku jadi kesal. Aku kesal karena menurutku itu bukan sebuah jawaban!

“Pertanyaan untuk diriku sendiri sudah terlalu banyak! Mengapa aku dilahirkan didunia dengan keadaan seperti ini? Mengapa aku tak bisa seperti anak yang lainnya? Mengapa aku tak bisa menjadi diri sendiri?” ucapku dengan nada tinggi. Emosi ku keluar dan tak bisa kuhindari. Namun tiba-tiba Myungsoo menggenggam tanganku,  Dengar, Jiyeon-ah. Jiyeon yang bertahun-tahun aku tunggu bukanlah Jiyeon yang seperti ini. Mengapa kamu menyerah begitu saja setelah kau melewati beribu rintangan?” aku tak mengerti maksud dari perkataannya itu.

“Kau dapat berkata seperti begitu karena kau bukan aku!” elakku. Genggaman tangan Myungsoo semakin erat pada tanganku.

“Kau salah! Aku tak ada bedanya dengan mu. Dulu, appa bilang, hanya ada satu cara agar aku dapat bertemu dengan mu lagi, yaitu menjadi seorang dokter yang sukses. Aku bekerja keras untuk itu.” Aku terdiam. Menatap matanya dan aku tidak menemukan kebohongan disana.

“Kau menunggu ku? Mengapa kau tidak mengatakan ini dari dulu?”

“Aku sering mengirim kan e-mail pada Eomma mu atau kedua kakak mu agar kau menghubungiku di Australia. Aku tak menyangka mereka mengekang mu seperti ini.” Aku melihat Myungsoo yang menunjukan wajah frustasinya, kau…orang yang seperti apa Myungsoo-ah? Benar-benar tak bisa kutebak. “Maafkan aku yang datang terlambat. Di Australia sangat sulit menjadi seorang dokter muda” ujarnya dengan nada yang parau.

“Mengapa kau ingin bertemu denganku kembali? Bukankah itu hal yang melelahkan, bekerja keras agar menjadi dokter dan kembali pulang ke Korea hanya untuk bertemu denganku?” kataku dengan pikiran ini-itu. Aku bingung.

“Tak ada alasan untuk itu. Percayalah… menjadi seorang dokter bukanlah pilihan yang buruk.”

“Tapi, aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku ingin hidup dengan warna-warna cat air lalu berbagi perasaan yang ada dihati melalui gambaran kasat mata, dan menikmati penghargaan orang lain yang membeli hasil karya ku.” Ya..dari dulu aku ingin menjadi seorang pelukis.

“Kau masih dapat merasakan hal itu saat menjadi dokter” kali ini nada Myungsoo tak lagi parau seperti tadi. Nada nya begitu lembut.”

“Itu mustahil”

“Awalnya, aku juga sependapat dengan mu. Aku lebih suka dengan duniaku. Menyanyi. Menyampaikan perasaan bahagia, sedih, dan marah dengan sebuah lagu. Namun, menjadi dokter justru membuka mataku akan menyampai perasaan yang sebenarnya. Saat melihat mereka kesakitan dan menangis, yang mereka butuhkan adalah bantuan dari tangan dokter. Ketika melihat mereka tersenyum saat pulih kembali lalu mengucapkan terima kasih itu adalah sebuah penghargaan yang berarti bagi seorang dokter. ketika mendengar seorang pasien yang divonis tak akan sembuh atau umurnya tak akan lama lagi, saat itu pula tugas seorang dokter yang harus menyemangati pasien. Jika mereka sudah merasa tak terbebani lagi dengan vonisan-nya, sang pasien yang akan berkata “Semua nya berkat bantuanmu, Dokter”. Aku mendengarkan nya dengan seksama kemudian tersentuh dengan kata-kata dari Myungsoo. Aku menitikan air mata. Selain bermata elang dan peramal, menurutku ia juga seorang penyair.

“Kau membuatku meneteskan air mata yang hanya keluar saat aku terpuruk“ Myungsoo tersenyum lalu menyeka air mataku.

“Menurutmu, apakah si dokter yang kau tanyakan tadi itu sudah sadar dan akan ikhlas  untuk menjalankan semuanya?” tanya Myungsoo meledek.

“Menurutku, dia akan rajin mengumpulkan nilai A+ lalu tidak akan berprasangka pada orang tua nya yang memang menginginkan yang terbaik.” Myungsoo kembali tersenyum manis lalu mengacak kecil rambutku. ”Dan dia juga akan berterima kasih kepada seseorang yang telah bekerja keras beberapa tahun ini” kataku tersenyum lebar padanya. Tanpa diduga ia memelukku. Ini pertama kalinya aku dipeluk seorang laki-laki selain Appa dan Oppa. Aku melepaskan pelukannya secara tiba-tiba lalu menatap Myungsoo yang menatapku heran.

“Appa bilang, aku hanya akan boleh menikah dengan seorang dokter. Bukan dengan seorang pencuri hati.” Ucapku dengan wajah serius.

“O ow. Sepertinya aku bermasalah. Karena aku masuk dua kategori tadi” ucapnya cemas. Aku tertawa lepas. Bahkan hanya dalam waktu beberapa menit saja, namja ini dapat mengubah duniaku. Jadi ini rasanya jatuh cinta? Rasanya bahagiaaa sekali. Selain jatuh cinta sekarang aku tahu, mengapa oppa juga eonni tak pernah mengeluh. Aku juga ingin seperti oppa yang membanggakan appa dalam banyak hal. Aku juga ingin seperti eonni yang selalu memberi dan berbaik hati tanpa pamrih. Ya, memang benar, menjadi dokter tak akan seburuk yang aku kira. Pada akhirnya, orang tua memang menginginkan yang terbaik bagi anaknya.

~ ~ ~

Author POV

                 Akhirnya, setelah Jiyeon mengakhiri masa kuliahnya dengan nilai yang nyaris sempurna, mereka melangsungkan pernikahan. Myungsoo dan Jiyeon tidak mungkin menolak acara perjodohan mereka. Kini Jiyeon menjadi seorang dokter spesialis anak bersama sang suami, Myungsoo mendirikan sebuah rumah sakit yang berdekatan dengan  panti asuhan. Disana, mereka akan senantiasa membantu orang-orang yang sakit dan memerlukan pertolongan sambil mengajarkan menyanyi dan melukis pada anak-anak panti asuhan. Sesuai dengan keinginan Jiyeon.

Lalu mereka pun hidup bahagia~

The End

30 thoughts on “Holding Back the Tears

  1. Myungyeon Wow! XD
    Boleh dong ya menyampaikan kritik & saran dulu~
    First, saranku setiap pindah sudut pandang (POV) tolong di tandai, jadi biar readernya ga kaget gitu. Kedua, pas paragraf keenam, yang jelas ada kalimat ‘…menghangati dunia dst’, menurutku pribadi, akan lebih baik ‘menghangati’ dirubah dengan ‘menghangatkan’, kan? O.Ov
    Terus, aku pernah denger dari senior -lupa-, katanya diusahakan tanda titik itu hanya 1 atau 3. Ada typo nyempil, tpi gapapalah 🙂
    Terakhir… Alurnya cepet banget. Express bo’ /kickedU.U
    Tapi, nilai PLUS dari cerita ini menurutku adalah temanya~ ga fokus ama romance doang, tapi juga moral, ya? Be yourself gitu 🙂
    Seneng ama line myungsoo yg ini~ “Kuncinya itu, tanyakan pada diri sendiri. Tak ada seorang pun yang mampu mengerti atau menjawab pertanyaan yang memang hanya ditujukan pada diri sendiri.”
    Dan jujur aja karakter Jiyeon sama kaya aku, semua terserah ortu. Tinggal mengikuti tanpa sadar apa yg dikerjakan itu setengah hati & membuat diri sendiri jadi bosan. #okeinicurcol-_-
    So, keep writing, ya? *dance e-shock* /kicked

  2. ffx keren…….
    L sweet bgt de……
    tpi kok endingx standar ya?jdi kyak dongeng….
    ga apa2 sih…temax bagus….

  3. wah ffnya keren. mengandung pesan moral dan lumayan sweet ohoho. oh ya aku bingung, katanya Myungsoo tidak suka perjodohan eh kok akhirnya nikah juga -__-
    tapi gpp, itu akhir yang bahagia buat Jiyeon 😀 ga sia2 menderita. Orang tua memang mengingkan yang terbaik.
    ceritanya kaya kebetulan, aku juga lagi bingung soal msk kelas akselerasi.. ya meski akhirnya aku ikut reguler juga wkwkw 😀 #curcol+nimbrung

  4. Huahh Daebakk..
    Bahasanya menyentuh banget ^^

    Emang ortu selalu menginginkan yang terbaik buat anaknya,
    4 thumbs for Author (•̅⌣•̅)♉

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s