Hello Schoolgirl (Part 2)

Author: Tirzsa

Title: Hello Schoolgirl

Main cast: 2PM’s Nichkhun & Wonder Girls’s Sunmi

Genre: Romance, Comedy

Rating: PG-15

Length: Chapter

Disclaimer: Terinspirasi dari film Korea dengan judul yang sama & film Thailand “First Kiss.”

Previous part: Part 1

***

“Ciuman pertamaku!” pekik Sunmi dengan raut meringis. Ia menuding Nichkhun dengan telunjuknya dan melanjutkan, “Kau! Kau sudah berani mencuri ciuman dariku!”

Nichkhun mengernyit dan menyahut dengan santai, “Lalu, apa masalahnya?”

Sunmi menatap namja di hadapannya itu dengan tatapan tidak percaya. Ia menggertakkan giginya keras-keras, lalu tiba-tiba bangkit berdiri. “Minggir!” bentaknya pada Nichkhun.

Nichkhun merengut, lalu menarik kakinya. Sunmi menyeruduk keluar dari tempat duduknya dan bahkan dengan sengaja menginjak kaki Nichkhun hingga membuat namja itu terlonjak dari duduknya karena harus menahan sakit.

“Aneh sekali!” gerutu Nichkhun sembari mengusap kakinya, ketika Sunmi berhasil melewatinya.

Sunmi menghampiri pintu masuk bus dan berteriak pada supir bus, “Ahjussi, tolong turunkan aku di sini sekarang!”

Supir bus itu melirik Sunmi sekilas, lalu balas menyahut, “Mian, Nona, tapi Anda tidak bisa turun di sini. Anda masih harus menunggu sampai bus tiba di halte berikutnya.”

Nichkhun tersenyum tipis melihat Sunmi yang mendengus karena harus bertahan untuk beberapa saat di situ sampai mereka tiba di halte berikutnya.

Ya, bocah tengik!” panggilnya pada Sunmi.

Sunmi menoleh dan menyahut dengan kasar, “Mworago? Bocah tengik?”

Nichkhun mengangguk santai. “Kau pikir, kau ini cantik, huh, sampai mengatakan padaku bahwa aku mencuri ciuman darimu?”

Sunmi mengepalkan tinjunya. “Ya, tutup mulutmu atau aku sendiri yang akan menutup mulutmu!”

Nichkhun tertawa. “Mwo? Kau ingin menutup mulutku? Dengan apa? Dengan bibirmu?”

Sunmi merasakan wajahnya memanas dan bersemu merah saat Nichkhun mengerucutkan bibirnya dengan lagak mengejek. Ia menghampiri Nichkhun dengan tiba-tiba dan melayangkan tasnya ke wajah namja itu. Nichkhun tersentak ke tempat duduknya dan menjerit-jerit kesakitan ketika Sunmi terus menghantamkan tasnya pada kepala Nichkhun.

Ya, hentikan! Ya!” Nichkhun terus meringis dan mengulurkan kedua lengannya sebagai pelindung kepala.

Setelah bus akhirnya berhenti di halte berikutnya, Sunmi segera turun dengan hati kesal. Ketika ia menoleh, Sunmi melihat Nichkhun mengolok-oloknya dari jendela bus sembari menjulurkan lidahnya pada yeoja itu. Sunmi mendengus, namun tidak bisa berbuat apa-apa ketika bus itu akhirnya menjauh dan ditelan keramaian lalu lintas jalanan.

***

Nichkhun mengeringkan rambutnya dengan handuk, lalu berdiri di depan wastafel. Ia mengusap dagunya yang terasa kasar karena janggut tipis yang tumbuh di sekitarnya, lalu meraih alat pencukur yang ada di dalam kotak wastafel di atas kepalanya.

Nichkhun menyapukan alat pencukur listrik itu di sekitar dagu, mulut dan di bawah hidung. Seusai itu, ia mengusap lagi dagunya untuk memastikan tidak ada janggut-janggut tipis yang terlewatkan, namun tangannya tiba-tiba berhenti tepat ketika telunjuknya tidak sengaja menyentuh sudut bibirnya.

Namja itu mengulum senyum saat mengingat-ngingat tentang insiden ciuman yang tak disengaja di bus itu dan tertawa kecil. “Dasar anak SMU zaman sekarang,” gerutunya.

Setelah membersihkan diri, Nichkhun berjalan keluar dari kamar mandi dan mengerutkan alis saat mendengar ringtone ponsel seseorang. Ia tidak mengenali ringtone asing itu dan melirik ponselnya yang ada di atas meja. Ponsel Nichkhun tidak menunjukkan tanda apa-apa dan itu menandakan bahwa ringtone itu dari ponsel orang lain.

Nichkhun memutar badannya ke seluruh arah apartemennya dan menemukan sumber suara itu dari mantelnya yang ada di atas tempat tidur. Ia merogoh saku mantelnya dan menemukan sebuah ponsel berwarna merah muda dengan gantungan anak kucing berwarna putih yang lucu.

“Milik siapa ini?” gumamnya sembari memutar-mutar ponsel itu, seolah ia bisa mendapatkan clue tentang pemilik ponsel itu.

Nichkhun menatap layar ponsel itu, dan melihat nama seseorang tertulis di sana, sedang memanggil nomor itu. “Seungri?”

***

Sunmi merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan mendesah panjang. Ia menatap langit-langit kamarnya dan tiba-tiba membayangkan kembali insiden ciuman di bus itu. Sunmi meringis, lalu mengusap bibirnya berulang kali. Sunmi terus menggerutu sembari mengusap bibirnya dan menyumpah-nyumpah dalam hati.

Ahjussi itu benar-benar menyebalkan!” gerutunya. “Lihat, bagaimana ia mengacaukan ciuman pertamaku yang seharusnya menjadi milik Seungri!”

Sunmi tersentak. Ia segera terduduk di tepi ranjang dan mengingat sesuatu. “Chakkaman, mengapa Seungri tidak juga menghubungiku?” gumamnya pelan.

Sunmi meraih tasnya dan merogoh isinya. Ia sedang mencari-cari ponselnya, namun mulai panik saat tidak dapat menemukan ponselnya di mana-mana.

“Ya Tuhan, di mana ponselku?”

Chakkaman. Mata Sunmi membulat dan tiba-tiba berseru, “Ponselku!”

Sunmi segera melompat dari atas tempat tidurnya dan menghampiri telepon rumah yang ada di samping ranjang. Ia memutar nomor ponselnya dan mendengus kesal saat mendengar suara Nichkhun menyahut di seberang sana.

Ya, ahjussi, kembalikan ponselku!” bentak Sunmi.

Mworago?” Nichkhun tertawa kecil di ujung telepon. “Bagaimana aku bisa mengembalikannya padamu lewat telepon?”

Sunmi memutar bola matanya. “Kita bertemu besok!”

“Tidak bisa,” tukas Nichkhun cepat. “Besok aku harus bekerja sampai malam hari dan akan sangat sibuk.”

“Kalau begitu kita bertemu di halte bus. Bukankah kita pernah bertemu sebelumnya di halte bus yang sama saat pagi hari?”

“Oh yah? Aku tidak mengingatmu!”

“Itu karena kau sudah tua dan pikun!” bentak Sunmi frustasi.

Ya, mworago? Aku tidak jadi mengembalikan ponselmu kalau begitu, karena kau sudah berani mengatakan bahwa aku sudah tua dan pikun!” Nichkhun balas membentak di ujung telepon.

Sunmi mengerutkan alis. “Mwo? Ya, kau tidak bisa bersikap seperti itu!”

“Bisa! Dan jangan harap aku akan mengembalikan ponselmu sampai kau meminta maaf padaku!”

Klik.

Sunmi menatap gagang teleponnya dan kembali berteriak, “Ya, ahjussi! Ya!”

Nichkhun sudah memutuskan hubungan telepon keduanya. Saat Sunmi mencoba menghubungi nomornya lagi, ponselnya ternyata sudah tidak diaktifkan oleh Nichkhun. Sunmi membanting gagang ke atas telepon rumahnya dan menjerit marah.

Ahjussi sinting!”

***

Keesokan paginya, Sunmi berangkat lebih pagi dari rumah. Ia sudah duduk di halte bus dengan harap-harap cemas agar Nichkhun muncul di sana. Dan usahanya memang tidak sia-sia, karena setelah menunggu kurang lebih selama empat puluh lima menit, Sunmi bisa menangkap sosok Nichkhun yang sedang berjalan menuju halte bus.

Sunmi memutuskan untuk bersembunyi di balik papan iklan yang bersebelahan dengan halte bus karena menduga Nichkhun pasti akan melarikan diri jika melihatnya ada di sana. Nichkhun dengan santai berjalan menghampiri halte bus dengan bungkusan sandwich di tangannya. Sembari menunggu bus tiba, Nichkhun sesekali menggigit bekal sarapan paginya itu untuk mengganjal perut yang kelaparan.

Sunmi menyelinap di belakang punggung Nichkhun dan menarik kerah kemeja Nichkhun dengan tiba-tiba. “Kembalikan ponselku!” bentaknya.

Nichkhun terbatuk karena tercekik oleh potongan ayam dari sandwich yang ia makan dan juga kerah kemeja yang menekan jakunnya. Tapi Sunmi tidak merasa iba sama sekali, ia terus menarik kerah Nichkhun dengan kencang dan memaksa Nichkhun untuk mengatakan sesuatu.

“Di mana ponselku?” tanyanya.

Nichkhun terus terbatuk sambil menarik tangan Sunmi untuk melepas kerahnya, tapi Sunmi tak juga melepaskannya.

“Katakan, di mana ponselku atau aku akan mencekikmu sampai mati!” ancam Sunmi.

Nichkhun menarik napas dan menyahut dengan suara terputus-putus, “Ta-pi, le-pas-kan du-lu le-her-ku!”

Sunmi mendesah dan akhirnya melepaskan kerah kemeja Nichkhun. “Sekarang, mana ponselku?”

Nichkhun membungkuk dan meludahkan sandwichnya ke jalanan, lalu mendesah panjang. Ia rasa, hidupnya bisa saja berakhir tadi jika Sunmi tidak segera berhenti mencekiknya. Nichkhun menegakkan tubuhnya dan menatap Sunmi dengan kesal.

“Apa kau berniat membunuhku, huh?” tanyanya dengan nada kesal yang tertahan.

Sunmi angkat bahu. “Aku tidak peduli. Cepat, kembalikan saja ponselku.”

Nichkhun mendesah dan menggelengkan kepalanya dengan lelah. Ia menunduk untuk merogoh ponsel Sunmi yang ada di dalam saku mantelnya. Sunmi mulai bersikap tidak sabar melihat gerakan Nichkhun yang lambat. Ia tiba-tiba mengulurkan tangannya dan membantu Nichkhun untuk mengambil ponselnya sendiri dari dalam sana.

Ya, mwohaneungoya?” protes Nichkhun.

Tapi Sunmi tidak peduli. Ia terus merogoh dan menarik tangannya keluar dari sana dengan membawa dua ponsel di tangannya.

“Itu ponselku,” kata Nichkhun.

“Oh, jeongmalyo?” Sebuah ide tiba-tiba tercetus di kepala Sunmi. Ia mengantongi kedua ponsel itu sekaligus ke dalam tasnya dan melanjutkan, “Ponselmu aku pinjam sebentar.”

Mwo? Ya, kembalikan ponselku!” pekik Nichkhun.

“Oh, busnya datang!” Sunmi berseru sambil menunjuk kearah belakang Nichkhun.

Nichkhun mendongak dan menoleh. Ia berdecak dan tidak melihat busnya. Namun ketika Nichkhun kembali menoleh, Sunmi sudah berlari menghindarinya.

Ya!” Nichkhun berteriak, memanggil Sunmi.

Tapi Sunmi terus berlari dan tiba-tiba mencegat sebuah taksi. Ia membuka jendela kaca taksi dan melambai kearah Nichkhun. “Ahjussi, annyeong!”

Nichkhun meringis dan menggigit bibirnya. “Aish~ Bocak tengik itu!”

***

Sunmi mengawasi kepergian taksi yang ia tumpangi tadi dengan hati dongkol. Sebagian uang jajannya terpaksa ia gunakan untuk membayar tarif taksi yang begitu mahal. Sunmi sudah membuat keputusan besar dengan naik taksi ke sekolah. Jika ia harus menunggu bus bersama Nichkhun, kesempatannya untuk membalas dendam dengan juga mengambil ponsel Nichkhun pasti gagal. Dan melarikan diri dengan taksi adalah satu-satunya jawaban yang tepat.

Sunmi berlari kecil memasuki gerbang sekolahnya dan tersenyum tipis saat melihat punggung Seungri. Ia menghampiri Seungri dan menggelayut manja di lengan namja itu. Seungri tampak terkejut, namun mendesah lega ketika mengetahui orang yang memegang lengannya adalah Sunmi.

Sunmi tertawa. “Apa aku mengagetkanmu?”

Seungri hanya melirik Sunmi sekilas dan membuang muka. Ia bahkan sengaja menepis tangan Sunmi dengan sopan. Sunmi menyadari tingkah aneh Seungri dan menelan ludah.

“Ada apa denganmu? Kenapa kau bersikap aneh seperti ini? Apakah aku melakukan kesalahan?” tanya Sunmi dengan hati-hati.

Seungri terlihat mendesah, lalu tiba-tiba berhenti berjalan. Ia membalikkan badan menghadap Sunmi dan menatap Sunmi dengan tajam. “Kau seharusnya mengatakan padaku bahwa kau sudah memiliki namjachingu!”

Sunmi menarik napas untuk menenangkan diri dari keterkejutannya mendengar ucapan Seungri, lalu berkata, “Mworago? Namjachingu? Ne, aku sudah mempunyai namjachingu dan kaulah orangnya!”

Geotjimal!” Suara Seungri meninggi. Napasnya mulai memburu. “Semalam aku meneleponmu dan seorang namja bernama Nichkhun mengangkat telepon itu. Ketika aku bertanya, dia bilang bahwa dia adalah namjachingumu.”

Sunmi ternganga. “Nichkhun? Aku bahkan tidak mengenal orang it—” Sunmi terdiam, lalu menepuk dahinya. “Ya Tuhan, Seungri, kau hanya sedang salah paham. Nichkhun itu bukan namjachinguku. Dia hanya ahjussi sinting yang sudah mengambil ponselku. Kau harus percaya padaku!”

“Beri aku satu alasan mengapa ponselmu ada padanya jika kau sendiri bahkan tidak mengenalnya!”

Sunmi mengangguk-anggukkan kepala. “Arasseo. Aku bisa menjelaskannya padamu. Kemarin, aku naik bus dan duduk bersamanya. Lalu, tidak sengaja kami berciuman dan—”

“Kalian berciuman?” potong Seungri segera.

Sunmi menyumpah-nyumpah dalam hati karena kepolosannya dalam berbicara. “Ani, maksudku, kami memang berciuman tapi itu hanya kecelakaan dan ia sendiri yang mencuri ciuman dariku, maka dari itu aku marah dan memukulinya dengan tasku dan tidak sengaja ponselku jatuh dari dalam tas dan ada padanya.”

Seungri terlihat melunak karena setelah mendengar penjelasan Sunmi, kerutan di alisnya perlahan mulai menghilang. Sunmi meraih tangan Seungri dan menggenggamnya erat.

“Kau percaya padaku, kan?”

Seungri mendesah. Ia melepaskan tangannya dari genggaman Sunmi. “Entahlah,” katanya dengan suara rendah. “Mianhae, aku piket hari ini, jadi harus segera masuk ke kelas.”

Sunmi menarik uluran tangannya dan mendesah panjang saat Seungri meninggalkannya seorang diri di gerbang sekolah. Matanya tidak bisa lepas dari punggung Seungri, sejauh mungkin, bahkan ketika Seungri menghilang di telan keramaian sekolah, Sunmi masih bisa merasakan aura kekecewaan Seungri pada dirinya. Dan semua itu disebabkan karena Nichkhun.

***

Sohee mengamati wajah Sunmi yang sedang memangku dagu sembari mengamati pemandangan di luar jendela gedung sekolah. Sejak pagi tadi, Sohee tahu bahwa Sunmi sedang tidak menaruh perhatian pada guru mereka selama pelajaran berlangsung. Sunmi cenderung lebih banyak diam hari ini dan bahkan tidak berbicara pada Sohee sama sekali.

Jo Kwon mendelik kearah Sohee dari belakang dan memberi isyarat agar Sohee menegur Sunmi. Namun, baru saja Sohee ingin menyentuh pundak Sunmi, tiba-tiba saja kelas dibuat gaduh dengan kedatangan kepala sekolah ke dalam kelas. Sosok menyeramkan kepala sekolah kini berdiri di depan mereka semua. Sunmi yang bahkan awalnya tadi tertarik untuk menoleh ke depan, memperbaiki posisi duduknya dan menatap kepala sekolah mereka.

“Siapa di antara kalian yang bernama Lee Sunmi?” tanya kepala sekolah sembari menatap satu per satu wajah gugup murid-muridnya.

Seluruh murid di dalam kelas beralih menatap Sunmi. Sunmi balik menatap semua tatapan tajam teman-temannya dan menelan ludah dengan suara keras. Ia mengulurkan tangan ke atas dan menyahut, “Sunmi imnida, seosaengnim.”

Kepala sekolah itu menganggukkan kepala. “Ikut denganku ke ruang kepala sekolah sekarang.”

“Ah~ Ne, seosaengnim.”

Sunmi mendelik kearah Sohee dan Jo Kwon, tapi keduanya hanya mengangkat bahu. Justru keduanya yang ingin bertanya apa yang sudah Sunmi lakukan sampai ia harus bertemu dengan kepala sekolah secara pribadi di ruangannya. Pasti ada suatu hal yang terjadi. Entah itu buruk atau baik, tapi Sunmi tidak merasa melakukan sesuatu yang berprestasi, ataupun melakukan sesuatu yang buruk.

Dan pertanyaan yang mendesak di dalam kepalanya itu terjawab sudah saat ia mengikuti kepala sekolah masuk ke dalam ruangannya dan mendapati Nichkhun duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan tersebut. Nichkhun tersenyum sinis kearahnya.

Sunmi terbelalak. “Bagaimana kau bisa sampai di sini?”

Kepala sekolah mendelik kearah Sunmi dan membentak dengan suara tegas, “Ya, Lee Sunmi, begitukah caramu berbicara pada orang yang lebih tua? Sangat tidak sopan!”

Sunmi menoleh kearah kepala sekolah dan membungkuk. “Mianhae, seosaengnim.”

Kepala sekolah itu kembali berpaling pada Nichkhun dan duduk bersama namja itu. “Mianhae, tuan Nichkhun, apakah benar bahwa yeoja ini yang sudah mengambil ponselmu?”

Nichkhun tersenyum manis dan mengangguk. “Ne, dialah yang sudah mengambil ponselku.”

Kepala sekolah menoleh kearah Sunmi yang masih berdiri dengan kepala tertunduk dan bertanya, “Sunmi, apa benar kau sudah mengambil ponselnya?”

Sunmi mengangkat kepalanya, melempar sorot tajam kearah Nichkhun dan terpaksa mengangguk. “Ne, seosaengnim. Aku yang mengambil ponselnya.”

Kepala sekolah menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sesal. “Kalau begitu, cepat kembalikan ponselnya.”

Ne, seosaengnim.”

Sunmi merogoh saku kemejanya dan memberikan ponsel itu pada Nichkhun. Nichkhun tersenyum mengejek dan meraih ponsel miliknya. “Gamsahabnida.”

“Baiklah, kau, Sunmi, sekarang ikut aku ke lapangan,” kata kepala sekolah sembari bangkit berdiri.

Ne? Untuk apa, seosaengnim? Aku masih ada kelas,” sahut Sunmi.

“Aku tahu, tapi kau masih harus dihukum karena keberanianmu yang sudah mencuri ponsel orang lain.”

“Tapi, aku tidak mencuri, seosaengnim!” tukas Sunmi, membela diri. “Itu semua dia duluan yang memulainya!” lanjutnya sambil menuding Nichkhun.

Kepala sekolah itu merengut. “Ya, sudah berapa kali aku menegurmu untuk berbicara dengan sopan pada orang yang lebih tua?”

Sunmi kembali tertunduk dan akhirnya menyerah pada sikap tegas kepala sekolah. Kepala sekolah menyeretnya ke tengah lapangan sekolah dan memaksa Sunmi untuk berdiri di sana dengan kedua tangan di telinga serta sebelah kakinya diangkat setinggi lutut.

Seosaengnim, sampai kapan aku harus dihukum seperti ini?” rengek Sunmi.

“Sampai kau merasa jera!” tukas kepala sekolah dengan pelototannya yang tajam dan mengerikan.

Sunmi mendesah kecewa. Ia melempar sorot tajam pada Nichkhun yang berdiri di belakang punggung kepala sekolah dengan kesal. Nichkhun terus terkikik geli dengan sirat mengejek sejak tadi.

“Sunmi, ingat, jangan turunkan tangan dan kakimu sampai batas waktu yang sudah kutentukan,” ujar kepala sekolah. “Arra?”

Sunmi mengangguk samar. “Ne, seosaengnim.”

***

Sunmi melemparkan bokongnya ke bangku kosong di halte bus dan meringis panjang. Ia meluruskan kakinya ke aspal dan mendesah panjang. Kakinya terasa pegal dan keram di semua bagian akibat berdiri terlalu lama di bawah sinar matahari yang panas dan mendapat bonus hukuman dengan harus membersihkan kelas sebelum pulang sekolah.

Oetteoh? Apakah rasanya enak?”

Sunmi mendengus saat mendengar suara itu. Nichkhun telah berdiri di samping tiang penyangga halte bus dengan seringai di wajahnya. Tapi Sunmi tetap memilih diam dan tidak menghiraukan perkataan Nichkhun. Jangan sampai terpancing, Sunmi-ah. Jangan. Dia hanya ahjussi sinting yang ingin mencari masalah denganmu, jadi bersikaplah dewasa. Sunmi terus memberi sugesti pada dirinya sendiri, ketika Nichkhun tiba-tiba menghampirinya dan berdiri di depan sepasang kaki milik Sunmi yang terentang ke depan.

Ya, mwohaneungoya?” tanya Sunmi panik saat melihat Nichkhun melayangkan kakinya di dekat kaki Sunmi.

Nichkhun tersenyum misterius pada Sunmi dan mengayun-ayunkan kakinya di dekat kaki Sunmi, membuat Sunmi semakin histeris.

Ya, jangan berani menendang kakiku atau aku akan membunuhmu!” jerit Sunmi. “Kakiku sedang keram! Jebal!”

“Oh yah? Memohonlah padaku,” kata Nichkhun dengan nada mengejek.

Sunmi merengek. “Ahjussi, jebal. Jebal.

Tapi Nichkhun tidak mengindahkan rengekan Sunmi dan menendang kaki Sunmi dengan keras, hingga kedua kaki itu terpental agak jauh. Sunmi meringis panjang dan merasakan sengatan hebat dari kakinya yang sangat menyakitkan. Sunmi tertunduk dan menarik ujung roknya kuat-kuat untuk dapat menahan sakit.

Seringai di wajah Nichkhun kini berubah menjadi raut panik. Ia menundukkan kepala untuk dapat melihat wajah Sunmi dan bertanya dengan nada kuatir, “Ya, gwaenchanha? Apakah rasanya begitu sakit?”

Sunmi mengangkat wajahnya dan berteriak, “Tentu saja sakit, babo!”

Nichkhun mendesah. Ia tiba-tiba duduk berjongkok dan meraih kaki kiri Sunmi. “Kalau begitu, biar aku memijatnya sebentar agar rasa sakitnya cepat hilang.”

“Tidak perlu. Tidak perlu.” Sunmi terus menghindarkan kaki kirinya dari Nichkhun. “Tidak perlu. Kaki kiriku tidak terlalu sakit.”

Ani, gwaenchanha. Biar kubantu.” Nichkhun tetap memaksa.

Ani. Ani.” Sunmi menarik kaki kirinya dan menyembunyikannya di bawah kolong bangku halte bus, lalu mengangkat kaki kanannya ke atas pangkuan Nichkhun. Sunmi tersenyum manis dan melanjutkan, “Kaki kiriku tidak terasa sakit, tapi kaki kananku yang terasa sangat sakit.”

Nichkhun menatap Sunmi kesal dan menggelengkan kepala. Ia menepis kaki Sunmi dengan kasar dari atas pangkuannya dan bangkit berdiri. “Sepertinya aku tidak jadi memijatmu,” katanya dengan santai. Ia menoleh kearah jalanan dan menunjuk kearah bus yang sedang menuju ke halte. “Karena busnya telah datang dan aku harus segera pulang.”

Bus akhirnya tiba di halte. Sunmi termangu saat melihat seluruh penumpang naik ke atas bus, termasuk Nichkhun. Ia mencoba bangkit berdiri, tapi kakinya masih terasa sakit dan pegal, seolah sedang ditindih oleh batu besar. Sunmi mencoba lebih kuat, tapi tidak juga bisa menahan rasa sakit yang menjalar di sepanjang kakinya.

Sunmi mendongak kearah Nichkhun yang sedang mengantri untuk masuk ke dalam bus dan merengek, “Ahjussi, jebal. Tolong bantu aku. Aku tidak bisa berdiri karena kakiku sakit.”

Nichkhun melirik Sunmi sekilas, tapi berpura-pura tidak mendengarkan yeoja itu.

Ahjussi, jebal!” Sunmi kembali merengek.

Nichkhun mendesah. Sebesar apapun rasa kesalnya pada Sunmi, ia tetap tidak merasa tega untuk membiarkan yeoja itu sendirian di halte bus. Nichkhun memutuskan untuk membalikkan badan dan menghampiri Sunmi. Ia membungkuk dan berkata pada Sunmi, “Naiklah ke punggungku.”

Sunmi tersenyum dan menempelkan tasnya terlebih dahulu ke punggung Nichkhun, lalu melompat ke atas punggung Nichkhun. “Untuk antisipasi,” kata Sunmi.

Nichkhun bangkit berdiri dan tertawa miris. “Cih. Aku bahkan tidak bernapsu melihat payudara kecilmu itu.”

Wajah Sunmi memerah. Ia menjitak kepala Nichkhun keras-keras dan berkata, “Ya, apa kau pikir aku tahan dengan harus menempel seperti ini padamu dan mencium bau keringatmu?”

Nichkhun mendengus. “Kalau begitu, akan kuturunkan kau di sini,” ancamnya.

Sunmi memeluk erat leher Nichkhun dan tersenyum kikuk. “Andwae. Andwae. Mianhae, mianhae. Aku hanya sedang bercanda.”

Nichkhun tersenyum penuh kemenangan, lalu naik ke dalam bus. Ia membantu Sunmi untuk duduk di salah satu bangku kosong dan duduk bersama yeoja itu di sana. Untuk beberapa saat, keduanya sama sekali tidak mengatakan sesuatu. Sunmi mencoba mencuri-curi kesempatan untuk menoleh pada Nichkhun dan hendak mengatakan sesuatu, tapi persis pada saat itu juga, Nichkhun menoleh dan entah kenapa membuatnya merasa kikuk.

“Mengapa kau melihatiku seperti itu?” tanya Nichkhun yang merasa risih.

Sunmi menarik napas dan menoleh. “Aku sebenarnya ingin bertanya, darimana kau tahu bahwa aku bersekolah di Kirin?”

Nichkhun menunduk kearah dada Sunmi dan membuat yeoja itu ikut tertunduk menatap dadanya. Sunmi merengut dan menyilangkan kedua tangannya di atas dada. “Ya, kau bilang tadi dadaku kecil, tapi mengapa melihatinya?”

Nichkhun tertawa sinis. “Mworago? Ya, aku melihat logo sekolah yang ada di saku jas yang ada di depan dadamu itu, babo!”

Sunmi menatap logo sekolah yang ada pada saku jas seragam sekolahnya dan wajahnya kembali bersemu merah. “Oh, aku kira..”

Keduanya kembali terdiam. Sunmi berpaling pada pemandangan di luar jendela bus dan mencoba mengingat-ngingat lagi situasi seperti ini. Dan ia baru menyadari, bahwa tepat di bangku ini juga ia bertukar ciuman dengan Nichkhun. Sunmi bergidik ngeri tiap kali mengingat kejadian itu dan menggelengkan kepala untuk menepis bayangan itu dari kepalanya.

Sunmi tersentak saat merasakan getaran ponsel dari dalam tasnya. Ia merogoh ponselnya dan sebuah senyum bahagia merekah di sudut bibirnya saat tahu bahwa Seungri yang sedang menghubunginya.

Sunmi menempelkan ponselnya pada telinga dan menyahut dengan suara semanis mungkin. “Ne, jagi?”

Nichkhun melirik Sunmi yang sedang sibuk berbicara dengan Seungri di ujung telepon. Ia mendengus kesal melihat Sunmi terus menggeliat-geliat dengan lagak centil.

“Dasar anak SMU,” gerutunya.

To be continued…

54 thoughts on “Hello Schoolgirl (Part 2)

Leave a Reply to kuniluni Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s