Valentine’s Day Cupcake

Title : Valentine’s Day Cupcake

Hyejin adalah seorang gadis yang sangat anti dengan valentine day’s dan cupcake hari dimana gadis-gadis seusianya sangat senang menyambut hari kasih sayang itu. Namun apakah Lee Sungmin mampu membuat Hyejin luluh dalam pelukannya dengan nuansa valentine day’s dan cupcake??

Author  : tabimin’s wife

Main Cast :

Super Junior Sungmin as Lee Sungmin

Kim Hyejin as Kim Hyejin

Genre

Romance,family,ending

Valentine’s Day Cupcake

 “Hyejin-ah..”

“Apa?”

“Kau benar-benar tidak mau ikut?”

“Oppa saja yang pergi. Aku malas…”

“Wae?”

“Aishh oppa ini banyak tanya.. sudah sana…!”

“Ya..!”

Hyejin menutup pintunya rapat-rapat sebelum kakaknya yang satu itu lebih banyak melontarkan pertanyaan-pertanyaan.

“Ryeowook-ah….”

“Ah hyung? Sudah lama?”

“Lumayan..ngomong-ngomong mana adikmu?”

“Ah dia? Dia tidak mau ikut, biasalah.. dia kan paling malas ikut acara seperti ini.”

“Oh begitu..”

“Sudahlah hyung, sebaiknya lupakan saja dia.. dia itu levelnya tinggi dalam memilih pria.”

“Hmm.. iya juga..”

“Lagipula dia itu bukan tipe gadis lembut.” Sela Kyuhyun yang sejak tadi hanya mendengar percakapan dua pria di depannya itu.

“Hush.. jangan bicara sembarangan.”

“Memang iya kan Wookie?”

“Iya sih.. aku sebagai kakaknya juga menyadari kalau dia itu jarang bersikap lembut. -_-“

“Ya sudahlah.. kenapa kita jadi membicarakannya? Lebih baik sekarang kita masuk.”

Flashback

“Siapa gadis itu?” tanya Sungmin.

“Oh dia.. dia teman sekelasku di kelas vokal namanya Hyejin, Kim Hyejin.” Jawab Minyoung.

“Ya Lee Minyoung.. apa kau tidak akrab dengannya?”

“Oppa.. untuk apa aku akrab dengan gadis seperti itu? Dia itu sifatnya jelek, dia tidak mau di dekati sembarang orang, she is crazy..”

“Jangan bicara sembarangan.”

“Ya sudah kalau tidak percaya.” Minyoung meninggalkan kakaknya yang berdiri menatap Hyejin di ujung koridor kampus.

Sungmin memberanikan diri mendekati Hyejin yang nampak sedang kesusahan, “Annyeong..” sapanya.

Hyejin menoleh kaget, “Siapa kau?” tanyanya.

“Lee Sungmin imnida.”

“Oh jadi kau kakak Lee Minyoung?’

“Kau mengenal Minyoung?”

Hyejin hanya mengedikan bahunya dan kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda tadi. “Apa kau butuh bantuan?” tanya Sungmin.

“Tidak.”

“Tapi sepertinya tanganmu..”

“Aku bisa sendiri.” Jawab Hyejin.

Sungmin tersenyum, “tanganmu terluka supaya kuman tidak masuk luka nya harus di tutup dulu, begini..” Sungmin mengambil saputangan nya dan mengikatkan saputangan di luka Hyejin.

“Nanti sesampainya di rumah bersihkan lukamu.” Ujar Sungmin lagi.

“Sudah cukup.” Hyejin menarik tangannya dan mengambil tumpukan buku yang harus ia kembalikan ke perpustakaan lalu bergegas pergi meninggalkan Sungmin.

“Hyung!” Ryeowook berlari menghampiri Sungmin yang masih sibuk berlatih gitar.

“Belum pulang?” tanya Sungmin.

“Baru mau pulang, tadinya aku mau menunggu Hyejin tapi sepertinya dia ada kelas lagi.” Jawab Ryeowook.

“Hyejin?”

“Ah aku belum bilang ya? Hyejin, Kim Hyejin adikku.. dia baru pindah dari LA.”

“LA? Aku tidak pernah mendengar kau punya adik?”

“Iya selama ini adikku tinggal di LA bersama kakek dan nenekku, dan setelah kematian kakek orang tuaku menyuruh dia untuk pulang ke Seoul dan menyekolahkannya di universitas yang sama denganku.”

“Tadi aku baru saja bertemu dengannya, tapi kalian sama sekali tidak mirip.”

“Hehehe.. pasti kesan pertama kali bertemu dia sangat jelek ya hyung? Beberapa adik kelas kita juga bilang padaku kalau aku dan dia seperti minyak dan air, kepribadian kami yang berbeda tapi sebetulnya dia itu baik.”

“Minyoung juga bilang begitu, dia bilang Hyejin itu gadis yang sombong dan aneh.”

“Hh.. ini semua gara-gara kematian kakek, dulu dia adik yang sangat menyenangkan, dia ceria, dia ramah, tapi semenjak kakek meninggal dan orang tuaku menyuruh dia untuk pulang dia menjadi seperti itu.”

“Apa dia sangat menyayangi kakeknya?” tanya Sungmin.

“Dulu saat kakek masih ada Hyejin selalu mengunjungi kakek ke restoran milik keluarga kami, kakek pemilik sekaligus head cheff di restoran itu sering mengajarkan Hyejin memasak.”

“Lalu?”

“Tanggal 13 Februari kakek jatuh sakit, sebenarnya kakek sudah lama mengidap penyakit itu.. dan hal itu membuat Hyejin terpukul karena semua keluarga tidak ada yang memberitahu Hyejin tentang keadaan kakek, dan di tanggal 14 Februari kakek menghembuskan nafas terakhirnya tepat saat Hyejin berhasil menyelesaikan sekolahnya dengan nilai yang sempurna, nilai yang di harapkan oleh kakek selama ini.”

“Jadi…”

“Di hari kematian kakek aku menyerahkan hadiah valentine dari kakek kepada Hyejin, sebelumnya kakek sudah membuat cupcake khusus untuk Hyejin dan rencananya di hari valentine kakek ingin merayakan bersama kami namun..”

“Aku mengerti…” ujar Sungmin.

“Semenjak saat itu Hyejin sangat membenci hari valentine dan barang-barang yang berbau valentine.”

“Sudah jangan menangis.” Sungmin menepuk bahu Ryeowook.

“Aku hanya kasihan pada Hyejin.. dia menutup sifatnya dan memilih menyendiri.”

“Sudahlah..”

“Hhh.. baiklah kalau begitu aku pulang duluan.” Ujar Ryeowook.

“Iya pulanglah duluan, aku sebentar lagi.”

“Baiklah.. aku pulang duluan hyung. Annyeong..” Ryeowook mengambil tas nya dan bergegas keluar ruangan.

Krrrk… Sungmin meletakan gitarnya dan memberesi buku-buku musiknya, Sungmin bersiap untuk pulang namun langkahnya tertahan saat ia melihat Hyejin sedang berdiri mematung di taman belakang.

“Sedang apa dia disana?” batin Sungmin.

Entah dorongan dari mana Sungmin berjalan menuruni tangga menuju taman belakang menyusul Hyejin.

“Hye..” Belum sampai Sungmin memanggil Hyejin, mulutnya terkatup melihat Hyejin tersenyum lembut ke arah anak anjing yang sedang bersembunyi di dalam kotak besar.

“Annyeong..” Hyejin membuka suaranya menyapa anak anjing yang sedikit ketakutan itu.

“Siapa tuanmu? Kenapa kau ada disini?” tanya Hyejin lagi, kini langkahnya sudah mendekati kotak besar itu dan mulai membelai lembut anak anjing itu.

Sungmin yang melihat hal itu berkali-kali mengusap kedua matanya, ia tak percaya gadis yang beberapa jam lalu ia temui berwajah sangat ketus sekarang wajahnya memancarkan raut wajah seperti seorang ibu, lembut, tenang, dan teduh.

“Baiklah.. jika kau tidak mau memberitahu siapa tuanmu maka mulai saat ini kau menjadi temanku, bagaimana?” Hyejin mengulurkan tangannya ke arah anak anjing itu, namun anak anjing itu hanya menatap bingung Hyejin tak mengerti apa yang sedang Hyejin bicarakan.

“Ahh aku tidak suka menunggu, mulai detik ini kita berteman.” Hyejin menarik tangan anak anjing dan mengaitkannya ke tangannya sendiri sambil tertawa.

Sungmin yang memperhatikannya tertawa-tawa sendiri, ia merasa Hyejin termasuk gadis aneh yang pernah ia temui. Ia bisa selembut itu di depan seekor hewan, namun di depan manusia ia hanya menampakan wajah ketusnya.

“Hyaku…!”

“Eh?” Sungmin terkejut mendengar nama itu.

“Hyaku.. artinya hidup selama ratusan tahun, iya.. itu namamu, kau suka?” dan untuk yang kesekian kalinya Sungmin membulatkan matanya mendengar nama panggilan anak anjing itu yang ternyata sama persis dengan nama kucing peliharaannya.

Flashback end

Next day

“Hyung.. persiapan acara sudah 85%?” lapor Ryeowook membuyarkan lamunan Sungmin.

“Ne???”

“Memikirkan apa sampai seperti itu?” tanya Eunhyuk.

“A-anniyo..”

“Dana sudah terkumpul, persiapan kita sudah 85% hanya tinggal cek ulang saja.” Ujar Ryeowook.

“Iya.. baiklah.. kita bagi 2 tim ya.” Komando Sungmin.

“Hyung.. untuk pengisi acara bagaimana?” tanya Donghae.

“Bukankah sudah di atur? Siapa penanggung jawabnya?” tanya Sungmin.

“Ah mianhae hyung… aku dan Zhoumi hyung yang bertanggung jawab, tapi kita ada sedikit masalah.” Sahut Henry.

“Masalah apa?”

“Grup yang akan menjadi pembuka di acara kita nanti kekurangan personil.”

“Mwo? Maksudnya?”

“Itu.. adikmu.. Minyoung, Sohyun, Suzy, dan Seohyun.. mereka kan grup yang akan menjadi pembuka, tapi aku baru dapat laporan kalau Suzy tidak bisa ikut, padahal lagu itu harus 4 orang yang menyanyikannya.”

“Kalau begitu part Suzy bisa kita bagi ke salah satu personil yang lain kan?” usul Kyuhyun.

“Kita tidak mau..!” Sohyun, Minyoung, dan Seohyun menjawab serempak.

“Kapan mereka masuk? == “ bisik Eunhyuk.

“Bagian kami sudah banyak, lagipula tidak ada waktu lagi untuk menghafal liriknya.” Gerutu Minyoung.

“Lalu bagaimana??” tanya Ryeowook.

“Kalau begitu akan aku cari pengganti Suzy.” Ujar Sungmin.

“Tapi siapa?? Mereka berempat itu mahasiswi paling berkualitas untuk masalah vokal.” Sela Henry.

“Aku akan mengajak dia.” Jawab Sungmin mantap.

“Siapa?”

“Tidak!”

“Ayolah.. ini demi kampus kita..”

“Aku bilang tidak ya tidak..!!!”

“Hyejin-ah….”

“YA Kim Ryeowook…! aku sudah bilang kan aku tidak mau berurusan dengan semua kegiatan kampus..” seru Hyejin.

Sungmin, Eunhyuk, Henry, Kyuhyun, Donghae dan Zhoumi yang menunggu di luar sampai menutup telinga mereka karena suara Hyejin yang keras menolak dengan tegas tawaran menyanyi di acara kampus.

“Dia.. galak juga.” Komentar Eunhyuk.

“Sudah ku bilang jangan masuk kandang harimau.” Sambung Kyuhyun.

“Tapi menurut Jinyoung songsaenim memang kualitas suara Hyejin tidak di ragukan lagi.” Bela Zhoumi.

Sungmin membuka pintu ruangan dan ikut membujuk Hyejin untuk mau bekerja sama dengan tim nya.

“Hyejin… aku mohon tolong kami..”

“Aku tidak mau!” Hyejin berbalik keluar ruangan meninggalkan Sungmin dan Ryeowook.

Braaak!!

“HUWAAA!!!” Eunhyuk, Henry, Kyuhyun, dan Zhoumi berteriak kaget saat melihat Hyejin membuka pintu dan menatap sengit ke arah mereka.

“Grup aneh.” Cibir Hyejin lantas pergi begitu saja.

“Hhhh.. hyung.. sudahlah percuma membujuk dia.” Seru Kyuhyun.

“Huum.. Ryeowook hyung yang kakaknya saja tidak mampu membujuk dia, apalagi kita.” Sambung Henry.

“Hhh.. sepertinya aku harus meminta bantuan darinya.” Desis Ryeowook.

***

“Hyung-ah.. aku mohon pulang sebentar.. hanya kalian yang bisa mengendalikannya..”

“……..”

“Mwo?? Ya! Aku bosan mendengar alasan itu..! kau mau aku mati muda menghadapi Hyejin??”

“…….”

“Ayolah.. ini demi nama baikku…”

“……”

“Jinjjayo? Arraseo besok akan ku jemput di bandara.” Ryeowook menutup sambungan teleponnya dan tersenyum senang, ia berharap besok masalah akan selesai dengan mudah. Seperti yang ia katakan tadi, ia bukanlah kakak yang bisa mengendalikan sifat keras Hyejin, hanya dua kakaknya yang bisa mengendalikan sifat keras Hyejin namun sayangnya kedua kakaknya tengah berada di luar negri.

Incheon airport

Dua pria berkaca mata dan memakai pakaian kasual itu menerobos kerumunan orang yang sedang meneriakan nama keduanya.

“Aishh! Inilah alasan kenapa aku malas pulang.” Celetuk pria jangkung berpakaian pink.

“Hh.. ya kalau bukan karena gadis itu aku juga malas.” Sahut pria satunya lagi.

“KIM HEECHUL!!! KIM JONGWOON!!!”

Pria yang di panggil Kim Heechul itu membuka kacamatanya dan menebar senyum ala Nicolas Cage, dan pria yang di panggil Kim Jongwoon itu merengut, “Kenapa memanggilku Kim Jongwoon? Harusnya Yesung!” sungutnya.

“Hyung!! Disini!!!”

“Itu Ryeowook…”

Dua pria itu berlari menuju mobil putih yang berada di luar, “Bagaimana bisa orang-orang tahu kami akan pulang?” tanya Heechul.

“Entahlah.. aku hanya update di twitter saja kenapa bisa seperti itu ya?” sahut Ryeowook tanpa rasa bersalah. -_-

“Dasar pabo..! twitter kan jejaring sosial, terang saja fans ku tahu kalau aku kembali ke Seoul. Stupid..” cetus Heechul.

“Bagaimana Hyejin?” tanya Jongwoon.

“Ahh hyung.. bantulah aku..” rengek Ryeowook.

“Wae?” tanya Heechul dan Jongwoon.

“Apa anak itu membuat ulah lagi? Hh… eomma tidak mendengarkan kata-kataku sih, harusnya dia ikut aku saja di San Fransisco, dia bisa jadi model terkenal seperti aku.” Ujar Heechul.

“Anak itu tidak pantas jadi model, dia pantasnya jadi penyanyi seperti aku..” sela Jongwoon tak mau kalah.

“Kenapa kalian meributkan hal tidak penting?”

“Iya baiklah.. lalu apa masalahmu hah?” tanya Heechul.

“Tanggal 14 Februari kampusku akan mengadakan acara, dan grup penyanyi untuk pembuka acara kekurangan orang. Aku dan teman-temanku mengusulkan Hyejin yang jadi penggantinya karena memang kualitas suara Hyejin tidak di ragukan walaupun dia tergolong anak baru tapi hyung-deul tahu kan 14 Februari adalah hari yang paling di benci Hyejin?” jelas Ryeowook panjang lebar.

“Hanya karena itu kau memanggilku untuk pulang???” Heechul mendelik ke arah Ryeowook.

“Habis aku tidak tahu lagi harus minta bantuan siapa..” sungut Ryeowook.

“Eomma.. ada acara?” tanya Hyejin.

“Pakai celemek ini!” perintah sang ibu.

Dengan ekspresi bingung Hyejin menerima celemek berwarna pink itu, namun detik selanjutnya ia merengut. “Eomma… aku tidak mau masak.” Ujarnya.

“Anak perempuan itu harus mau masak sayang.. kalau enggak nanti kasihan suaminya.” Ujar sang ibu.

“Eomma…”

“Kedua kakakmu dalam perjalanan pulang ke rumah, Ryeowook sedang menjemput mereka.”

“Jinjja???”

“Makanya masakan makanan spesial untuk mereka, arrachi?”

“Ne..” Hyejin menyahut dengan mantap, ia bergegas mengambil pisau dapur dan memotong sayur-sayuran dan mengolah daging, ketrampilannya dalam memasak juga tidak perlu di ragukan.

Dalam sekejap meja makan sudah penuh dengan aneka masakan, ada kimchi, sup kentang, daging asap, daging bakar wijen kesukaan Hyejin dan Heechul, dan macam-macam buah. Hyejin, dan kedua orang tuanya pun sudah duduk manis menunggu Ryeowook, Jongwoon, dan Heechul.

“Kami pulang!!” pintu rumah terbuka dan munculah tiga sosok pria yang di tunggu.

“Heechul-ah.. Jongwoon-ah..” sang ibu mendekap kedua putranya, waktu beberapa tahun membuat sang ibu memendam rindu pada anaknya.

“Huh.. eomma.. Heechul hyung dan Jongwoon hyung pulang langsung di peluk, aku di biarkan.” Sungut Ryeowook.

Sang ibu tertawa, “Eomma dan Hyejin sudah memasakan makanan kesukaan kalian semua.” Serunya.

“Daging bakar wijen?” seru Heechul.

“Semuanya ada..” jawab sang ibu.

Akhirnya mereka berkumpul bersama sambil makan malam, banyak cerita yang terlontar dari empat anak keluarga Kim itu.

“Bagaimana kuliahmu?” tanya Heechul pada Hyejin setelah selesai makan malam.

“Biasa saja..” jawab Hyejin.

“Bagaimana keadaan oppa?” tanya Hyejin pada Jongwoon dan Heechul.

“Yahh beginilah, selalu sibuk dengan pekerjaan.” Jawab Jongwoon.

“Kau tidak menyesal kan kembali ke Seoul?” tanya Heechul.

“Hyung..” Ryeowook menyikut lengan Heechul.

“Molla.. kenapa eomma dan appa tidak membiarkanku tinggal di LA..”

Sejenak suasana menjadi hening, tidak ada suara yang terdengar. “Ah hyung.. bagaimana sakit matamu?” Ryeowook berusaha mencairkan suasana dengan membicarakan masalah lain.

“Oh ini? Sudah baik-baik saja kok.” Jawab Jongwoon.

“Huh? Ya.. apa kalian tahu betapa bodohnya dia?” cibir Heechul.

“Kenapa oppa?” tanya Hyejin.

“Dia salah masuk departemen rumah sakit.”

“Hyung.. jangan bahas itu lagi.. -_-“

“Mwo?” Ryeowook dan Hyejin saling pandang.

“Dia masuk ke unit ibu dan anak bagian kandungan, tanpa bicara apa-apa dia langsung ambil nomor antrian dan duduk di antara ibu-ibu hamil.”

(¬_¬) hyung…hentikan..”

Hyejin tertawa keras mendengar cerita konyol itu, sekonyol-konyolnya orang lain kakaknya yang satu itu melebihi dosis sepertinya. Lol

“Hyejin-ah.. aku dengar ada pentas seni di kampus?” tanya Jongwoon.

“He? Mungkin iya.” Hyejin melirik Ryeowook, Ryeowook hanya menampakan cengiran khas nya.

“Kau.. ikut?” tanya Jongwoon lagi.

“Untuk apa?? Aku tidak mau ikut, sampai kapanpun tidak!” sahut Hyejin.

“Hyejin-ah jangan begitu… bantu aku..” ujar Ryeowook.

“Kau tidak mau membantu kakakmu? Kasihan dia.” Sambung Heechul.

“Untuk apa? Untuk merayakan hari yang paling aku benci? Begitu?”

“Sudahlah.. jangan ingat kejadian itu terus, itu sudah takdir.”

“Sudahlah aku tidak mau!” Hyejin berlari ke kamarnya meninggalkan ketiga kakaknya yang hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan Hyejin.

“Mungkin memang hanya kakek yang bisa meluluhkan hati Hyejin.” Celetuk Jongwoon.

Jam sudah menunjukan tengah malam namun Hyejin masih duduk di balkon kamarnya sambil menikmati alunan instrumen Kenny G, tak ayal matanya basah dan butir air mata akhirnya keluar dai pelupuk matanya.

“Aku merindukan kakek.” Batinnya.

“Hyejin-ah… di hari valentine nanti kakek akan buatkan cupcake kesukaanmu.. harus kau makan ya..”

“Kakek…” Hyejin makin keras menangis saat mengingat ucapan kakeknya beberapa hari sebelum kematian sang kakek.

“Hyejin..” Jongwoon menatap adik bungsunya yang sedang menangis.

“Oppa?” Hyejin mendongkan kepalanya.

“Kenapa menangis lagi?” tanya Jongwoon.

“Aku benci hari valentine.” Ujar Hyejin.

“Sekuat apapun kau membencinya, hari itu tidak akan pernah bisa hilang. Dan sejauh apapun kau menghindar, hari itu juga tidak bisa kau hindari karena dimanapun kau berada tidak ada yang bisa menyangkal kalau hari itu adalah hari kasih sayang, entah bersama kekasih, teman, atau orang tua.”

“Tapi…”

“Yang sudah berlalu biarkan saja berlalu, kita boleh mengenangny tapi tidak untuk di tangisi setiap hari dan tidak untuk di sesali, dan yang pasti jangan jadikan hal itu sebagai alasan untuk kau membenci suatu hal.” Ujar Jongwoon bijak.

“Aku salah membenci hari valentine?”

“Aku tidak bisa menyalahkan siapapun, tapi kau sudah dewasa.. kau bisa berpikir apakah itu salah atau benar, yang pasti kakek pun tidak akan suka jika melihatmu seperti itu. Bukankah kakek mengajarimu hal itu untuk bisa berbagi dengan semua orang?”

“Iya.. dan kakek pun mewariskan keahliannya agar supaya kau bisa membuat semua orang bahagia, bukan ikut bersedih seperti dirimu.” Sambung Heechul yang berdiri di belakang Jongwoon dan Hyejin.

“Lalu aku harus bagaimana?” tanya Hyejin.

“Bukankah kau ini pintar? Aku harap saat sarapan pagi besok aku bisa mendengar jawabanmu.” Sahut Heechul santai.

“Kalau begitu sampai bertemu besok di meja makan.” Jongwoon tersenyum simpul dan mengecup kening adiknya.

“Selamat tidur anak kecil…” Heechul mencubit kedua pipi Hyejin.

“Aku bukan anak kecil.” Sungut Hyejin, kedua kakaknya terkekeh pelan seraya berjalan keluar kamar dan membiarkan Hyejin sendiri.

(Sungmin home)

“Cupcake?” desis Sungmin.

Sungmin mengetikan keyword ‘cupcake’ di search engine naver, tak berapa lama deretan tulisan berhubungan dengan cupcake muncul. Ia mengarahkan cursornya ke tulisan ‘resep cupcake’ yang berada paling atas di hasil pencarian.

Bahan dan cara membuat cupcake yang muncul saat Sungmin meng-klik link artikel tersebut, gambar cupcake yang terpampang membuat Sungmin betah untuk menelusurinya.

“Iya hyung.. sebenarnya dia itu suka cupcake.. tapi cupcake yang harus persis rasanya seperti buatan kakek.”

Ucapan Ryeowook masih jelas terekam di otaknya, entah ini akan menjadi senjata Sungmin untuk meluluhkan hati Hyejin atau untuk menyogok Hyejin agar mau bergabung di grup vokal tim nya.

Satu tangannya membuka aplikasi pesan singkat di ponselnya dan mengirim satu pesan kepada Ryeowook.

To : Ryeowook

Besok jangan lupa bawakan catatannya…

Beberapa menit kemudian,

From : Ryeowook

Oke hyung.. tenang saja… ^^

“Oppa!”

“Aishh! Ya! Apa tidak bisa ketuk pintu?”

“Sudah, tapi tidak di jawab. Aku pikir oppa tidur.. tapi ternyata tidak.”

“Ada apa?” tanya Sungmin.

“Aku hanya ingin menanyakan masalah Hyejin yang akan menggantikan Suzy, memang dia mau?” tanya Minyoung.

“Molla.. aku akan membujuknya lagi.” Jawab Sungmin.

“Ah percuma.. sudahlah pakai saja orang lain.”

“Hanya dia yang bisa membantu kita Minyoung-ah..”

“Hanya dia? Oppa,, masih ada Taeyeon onnie, Jessica onnie, Luna.. aa~ apakah oppa bersikeras menjadikan Hyejin masuk di grup kami karena oppa menyukainya?”

“M-Mwo?? A-anniya…” sangkal Sungmin.

“Hmm.. oppa… aku ini adikmu, aku tahu sifatmu. Semenjak di tinggal gadis itu, kau sama sekali tidak menampakan raut wajah seperti ini, tapi setelah ada Hyejin sepertinya oppa sedikit berubah.”

“Kau ini berlebihan.” Sungmin menoyor kepala Minyoung.

“Oppa..”

“Sudah sana tidur.”

“Eh? Apa itu? Oppa mau bikin cupcake? Sejak kapan?”

“Aishh anak ini mau tahu saja urusan orang.! Sudah sana!” usir Sungmin.

“Hahaha… oppa ku ini sedang jatuh cinta? Ya ampun.. sampai seperti itukah rasanya jatuh cinta? Oppa sudah tidak waras ya..?” ledek Minyoung.

“YA!!” Sungmin melemar bantalnya ke arah Minyoung yang meledeknya di pintu.

“Hhh…” Sungmin mematikan komputernya dan merebahkan tubuhnya di kasur, sambil melipat kedua tangannya ia mulai berpikir tentang ucapan Minyoung barusan.

“Iya.. seperti inikah rasanya? Hh.. aku memang sudah tidak waras, aku sudah gila.. aku gila karena gadis aneh itu.” Batin Sungmin.

Next Day

“Hyejin!! Ireona!!” teriak nyonya Kim dari meja makan.

“Ne eomma!” sahut Hyejin dari atas.

Derap langkah Hyejin terdengar saat menuruni anak tangga dan berjalan menuju meja makan yang terletak di dekat ruang keluarga.

“Pagi.” Sapa Hyejin seraya menenggak segelas air mineral.

“Biasakan minum susu Hyejin-ah..” tegur sang ayah.

“Appa.. aku kan dari dulu tidak suka susu.” Sahut Hyejin.

“Makanya di biasakan.” Ucap Heechul sambil berjalan ke meja makan menyusul anggota keluarganya yang sudah duduk rapi di ruang makan.

“Sudah ayo kita sarapan.. “ ajak nyonya Kim.

“Hari ini ada kuliah?” tanya Jongwoon pada Hyejin.

“Emm.. iya.”

Ryeowook melirik Heechul meminta jawaban semalam, sementara Heechul hanya mengangkat bahunya.

“Hyejin-ah.. eung.. tawaran itu…”

Hyejin menatap sengit ke arah Ryeowook, “Apa?” tanyanya ketus.

“Hhh.. anniyo.. Emm.. Eomma, appa, Hyung-deul aku harus pergi ke kampus sekarang.” Ryeowook mengambil tasnya dan mengambil kunci mobil yang ia letakan di sebelahnya.

“Mulai kapan aku bisa berlatih?” tanya Hyejin sambil mengunyah roti selai kacang.

“Ne??” Ryeowook menoleh kaget.

“Mulai kapan aku bisa berlatih?” ulang Hyejin.

Heechul, Jongwoon, dan kedua orang tuanya tersenyum mendengar keputusan Hyejin. “Sekarang juga bisa, kebetulan aku akan bertemu Sungmin hyung dan yang lainnya sekarang. Kau ikut aku saja ya.”

“Ya.. ya..” Hyejin menuruti ucapan Ryeowook.

“Anak pintar.” Jongwoon mengacak-acak rambut Hyejin.

Sepanjang perjalanan Ryeowook mengucapkan kalimat ‘terima kasih’ pada Hyejin, “Aku bosan mendengarnya.” Celetuk Hyejin.

“Hyejin-ah.. kenapa kau membenciku?” tanya Ryeowook.

“Hm?”

“Kenapa selama ini kau bersikap kasar padaku? Padahal aku ini juga kakakmu, aku iri pada Heechul hyung dan Jongwoon hyung yang begitu dekat denganmu. Apa kau lupa dulu kita juga sering bermain bersama, bahkan aku sering melindungimu dari kemarahan eomma.”

“Aku tidak membencimu, mana ada adik yang membenci kakaknya sendiri.” Jawab Hyejin.

“Lalu kenapa selama ini kau tidak pernah mau mendengar ucapanku? Selama ini kenapa kau tidak bisa bersikap lembut?”

“Aku marah saat kau menyerahkan cupcake itu padaku, aku marah saat kau juga membujukku untuk pulang ke Seoul, aku marah kenapa kau tidak membelaku untuk tetap tinggal di LA.”

“Mwo?”

“Aku kesal padamu… aku kesal.”

“Astaga..” Ryeowook menghentikan laju mobilnya dan menatap adik semata wayangnya.

“Aku sangat menyayangimu makanya aku membujukmu juga untuk pulang, dan masalah cupcake itu aku dan kakek yang membuatnya beberapa hari sebelum kematian kakek. Kakek memintaku untuk menyerahkan cupcake itu saat kau pulang membawa nilai kelulusan yang memuaskan, itu impian kakek.. kakek ingin melihatmu tumbuh menjadi seorang penyanyi di negeri sendiri, dan kakek ingin kau memulainya dari awal.”

“Tapi setidaknya jangan paksa aku untuk pulang ke Seoul..”

“Lalu kau ingin hidup sendiri?”

“Setidaknya masih ada kenangan bersama kakek.” Jawab Hyejin.

“Anak bodoh.. lalu apa gunanya aku? Aku juga ingin melindungi adikku sendiri..”

Hyejin terdiam, tenggorokannya seakan sedang menelan batu besar yang membuatnya tak bisa bicara, lidahnya pun kelu.

“Aku akan membantumu mulai dari awal lagi Hyejin.. percayalah..” Ryeowook memeluk Hyejin lembut.

“Selamat bergabung Hyejin…” sambut Sungmin cs, orang yang di sambut hanya menaikan satu alisnya dan mengangkat sudut bibirnya.

Ryeowook menyikut lengan Hyejin mengingatkan agar lebih sopan pada senior-seniornya. “Annyeong haseyo sunbae-nim…” sapa Hyejin dengan terpaksa.

“Annyeong..” balas mereka.

“Hyejin.. Henry dan Zhoumi akan mengantarmu ke ruang latihan, disana sudah ada Minyoung dan yang lainnya. Aku harap kita bisa bekerja sama.” Ujar Sungmin.

“Ne..”

***

Dua hari sudah berlalu, dalam waktu singkat Hyejin bisa menghafal lirik lagu dan menyesuaikan suaranya dengan  anggota yang lain walau sifatnya masih sedikit tertutup.

“Hhhh..” Hyejin menghela nafasnya lagi.

“Hei..” Sungmin menghampiri Hyejin yang sedang duduk.

“Apa?” tanya Hyejin ketus.

“Selamat ya.. aku dengar kau sudah menguasai lagunya, kau hebat.” Puji Sungmin.

“Gomawo.” Sahut Hyejin.

“Oh iya.. acaranya besok loh, kau sudah siap?” tanya Sungmin.

“Sudah.”

Sungmin tersenyum, Hyejin yang matanya tak sengaja menangkap senyuman Sungmin langsung terkejut dan wajahnya memerah.

“Aku mau minta tolong padamu, boleh?”

“Apa lagi?” tanya Hyejin dengan wajah yang sengaja ia palingkan dari Sungmin agar tak terlihat kalau wajahnya saat ini sedang memerah seperti tomat.

“Aku ingin merayakan hari valentine denganmu, aku juga punya kejutan untukmu.. itu kalau kau tidak keberatan, tapi aku harap kau bersedia.”

“A-aku.. aku…”

“Setelah acara besok selesai aku menunggumu di ruang musik. Aku tunggu…” setelah mengucapkan itu Sungmin langsung berlari pergi.

“Astaga… omo.. aigo… wajahku makin memerah…” desis Hyejin.

14 Feb 2012

Suara tepuk tangan menyeruak saat para pengisi acara naik ke atas panggung, festival musik special valentine akhirnya berakhir meriah, para panitia, dan pengunjung saling tertawa senang merayakan hari kasih sayang bersama, kedua orang tua Hyejin dan ketiga kakaknya pun turut tersenyum senang melihat Hyejin saat ini berdiri mengisi sebuah acara di hari yang ia benci.

Di tengah keriuhan sorak sorai penonton Hyejin turun dari panggung, ia merasa sesak melihat kumpulan orang sebanyak itu, jika ia bisa memilih ia lebih memilih untuk tinggal di kamarnya seharian menonton film sendiri. Hyejin merogoh saku blazer nya, ia baru ingat undangan Sungmin kemarin namun ia masih ragu apakah ia harus pergi ke ruang musik atau harus melangkah pulang.

Tap… Langkah Hyejin terhenti lagi, jarak beberapa meter lagi kakinya sudah menapak pintu depan ruang musik, “Aishh aku ini kenapa??” batin Hyejin, ia membalikan badannya lagi untuk pulang namun hindungnya mencium bau sesuatu yang pernah ia cium sebelumnya, aroma itu berasal dari dalam ruang musik, semakin Hyejin mendekati ruangan itu baunya semakin jelas.

Kriiiet…

“Selamat datang…”

Hyejin melongo melihat ruang musik yang di sulap menjadi private room yang sangat indah, seperti di film-film romantis. Meja bundar dan terdapat sebotol wine, dua gelas cantik, dan beberapa makanan serta hiasan-hiasan valentine. Mendadak Hyejin merasakan mual di perutnya, ia mual jika melihat pernak-pernik valentine namun seorang pria memakai tuxedo itu menahan langkah Hyejin dan menyuruhnya duduk.

“Apa-apaan ini?” tanya Hyejin.

“Happy valentine day..”

“Aku muak dengan hari valentine.” Ujar Hyejin.

“Aku mencintaimu.”

“Mwo?” Hyejin mengernyitkan alisnya mendengar pangakuan mendadak itu.

“Saranghae.”

“Ya! Lee Sungmin…”

“Aku serius.. di hari ini aku ingin menciptakan moment special untukmu.” Ujar Sungmin.

“Ini tidak lucu.”

“Memang tidak lucu, dan satu kejutan lagi untukmu.” Sungmin membuka penutup makanan yang ada di depannya.

Hyejin terkejut saat melihat 25 potong cupcake dan terdapat 5 cupcake yang bertuliskan L-O— V-E.

“Aku harap kau menyukainya.”

“Dari mana kau tahu kalau…”

“Hehehe.. tentu saja dari kakakmu Ryeowook.”

“Tapi hanya cupcake buatan kakek yang aku suka.”

“Cicipi dulu. Aku belajar ini dari resep kakekmu, dan berkat bantuan Ryeowook juga.”

“Baiklah.. jika cupcake ini tidak sama persis rasanya maka aku tidak bisa mengurangi kadar kebencianku terhadap hari valentine.” Ucap Hyejin.

“Kalau ini berhasil maka kau harus mempertimbangkan hubungan kita dan buanglah rasa bencimu itu, deal?”

“Oke..”

Hyejin melahap satu cupcake di hadapannya, “Othe?” tanya Sungmin.

“Eung.. apa-apaan? Ini rasanya jauh sekali dari bikinan kakek.” Sahut Hyejin.

“Kotjimal..” ledek Sungmin.

“M-mwo??”

“Kebiasaanmu kalau sedang berbohong itu kelihatan sekali, coba lihat aku dan katakan sekali lagi kalau cupcake itu tidak enak.” Tantang Sungmin.

“Da-dari mana kau tahu?”

“Dari Ryeowook.”

“Ck.. kenapa dia tahu semua tentangku?”

“Dia kakak yang baik, jika kau membencinya hanya karena kejadian masa lalu itu tak adil untuknya karena dia juga sama dengan kedua kakakmu yang lain, dia juga ingin menjagamu.”

Hyejin terdiam sesaat, memang benar apa yang Sungmin katakan tidak ada alasan untuk Hyejin mmebenci Ryeowook apalagi ia baru menyadari kalau Ryeowook memang sangat memperhatikannya, dan menyayanginya.

“Sudah jangan menangis..” Sungmin mengelus rambut Hyejin.

“Kau dan Ryeowook sama-sama cengeng.” Ujar Sungmin.

“Aku merasa bersalah pada Wookie oppa.”

“Mmm.. ngomong-ngomong apa anti valday sudah tidak berlaku lagi?”

“Eh?”

Sungming menggaruk-garuk kepalanya, “Itu.. lalu bagaimana dengan.. eung…”

“Iya iya.. aku tahu maksudmu, Mmm.. baiklah aku pertimbangkan tawaranmu.” Ujar Hyejin.

“Jinjja??”

“Iya..”

“Yeeaahh!” Sungmin bersorak.

Di balik ruangan itu Ryeowook, Jongwoon, dan Heechul ikut tersenyum melihat penyakit anti valday adiknya sembuh.

“Lega…” Jongwoon menghela nafasnya.

“Aku terharu..” ujar Ryeowook.

“Syukurlah Hyejin mendapat pria seperti Sungmin.” Tambah Heechul.

“Hyung bagaimana kalau kita rayakan?”

“Minta Hyejin saja kalau begitu.. dia juga baru dapat pacar..” Heechul menyeringai.

“Kajja!! Hahahahaha…!!”

FIN…

 

12 thoughts on “Valentine’s Day Cupcake

  1. Hahahaha ,, konyol dehh semua yg marga kim sodaraan ,, kurang kim youngwoon ajahhh :p . Tapi ngomong2 biar sungmin’nya rada gentle ttp ajah ada sisi feminim’nya ya 🙂

  2. kalo kata chin ya…sungmin disini kayak bukan main cast…malah jadi penghias kebahagian aja di valday…
    jd malah kakaknya yg berperan penting disini..bisa ngebuat Hyejin berubah pikiran…

    hummm..lebih afdol kalo sungmin yang bisa bikin pikirannya berubah…itu menurut sy lohh..

    maaf kalo sok ngasih tahu atau gimana..heee >,<V

    • jinjja? hmm.. gitu, gpp chingu aq nerima kritikan kok. toh kritik dan saran bwt membangun karya yg lbh baik lg kn? hehe.. jd jng sungkan2 bwt ksih kritik n saran ^^

  3. asli, asik bgt kyaknya ni keluarga. hahaha..
    ceritanya bagus, ringan tapi menyentuh.
    pengen deh punya oppa” kyak gitu. haha..

  4. Wew..
    Heechul-Yesung-Ryeowook jadi sodara ya ?
    Haha, Kim Siblings! (kurang KangIn tuh)
    Tapi, ini keren loh.
    Ada romance nya, konyol nya, seru nya. Pokoknya daebak !

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s