The Wedding Blind (Part 14) -END-

Part 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 (Full Vers) | 7 (Skip Vers) | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13

Title : The Wedding Blind (Part 14)-END-

Author :

  • Shineelover14
  • Kim Hyera

Main Cast :

  • Choi Siwon
  • Im Yoona a.k.a Cho Yoona

Support Cast :

  • Choi Sooyoung
  • Cho Kyuhyun

Genre : Romance, Family

Rating : PG-15

***

Author P.O.V

Sooyoung masih sibuk dengan urusan dapurnya. Pagi-pagi sekali ia sudah mulai memasak berbagai hidangan. Hari ini orang tuanya datang berkunjung.

Dihelanya nafas ringan kemudian tersenyum mengingat Si Tuan Egois— Kyuhyun tidak menghancurkan harinya. Ia bersenandung kecil sembari menata masakannya di dalam piring.

“Sooyoung-ah!!”

Sooyoung terkejut. Segera ia berlari menuju pintu depan untuk menyambut kedua orang tuanya. Tuan Choi dan Ny. Choi tersenyum lebar melihat putri bungsunya tampak baik-baik saja.

Eomma, Appa, bogoshipoyo,” manja Sooyoung memeluk kedua orang tuanya.

Sooyoung mengajak orang tuanya masuk. Setelah itu ia kembali berkutat dengan urusan dapurnya yang belum rampung. Kedua orang tuanya  sibuk memperhatikan rumah baru yang ditempati anaknya, tapi kemudian keduanya menyernyit heran.

“Sooyoung-ah, hanya kita bertiga di rumah ini?” tanya Ny. Choi menghampiri Sooyoung di dapur.

Ne. Waeyo eomma?”

“Kekasihmu di mana?” timpal Tuan Choi.

Sooyoung mendelik kaget, “Kekasih? “ Sooyoung teringat akan sosok Siwon. Pikirannya menerawang, pantaskah seorang pria yang sudah berstatus menikah ia akui menjadi kekasihnya? “Aku tidak memiliki kekasih, Appa,” jawabnya lemah.

Aigoo!!”Ny. Choi memukul pelan kepala putrinya. “Percuma saja kau tinggal di Seoul bertahun-tahun, tetapi kekasih pun kau tak punya!” seru Ny. Choi.

Eomma,” rengek Sooyoung.

Wae? Kau ingin menjadi perawan tua?” rutuk Ny. Choi lagi.

“Aish! Bukan seperti itu, tapi aku…”

Jagiyaaaaaaaaaa!”

Nuguya?” Ny. Choi dan Tuan Choi segera berlari keluar dari dapur.

Sooyoung menepuk jidatnya, tanda kesal. “Mengapa pengganggu itu harus datang disaat yang tidak tepat?!”

*

Kyuhyun tersenyum lebar dengan buket bunga di tangannya. Senyumnya itu ia berikan kepada orang tua Sooyoung yang memandangnya terkejut. Kedua orang tua Sooyoung masih berdiri mematung di depan pintu.

Annyeonghaseo, Cho Kyuhyun imnida. Calon suami Sooyoung dan calon menantu Anda,” ucap Kyuhyun memperkenalkan dirinya dengan membungkuk hormat.

Jeongmalyo? Oh, sesange!! Ayo masuk,” ucap Tuan Choi kemudian merangkul hangat Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan, ia memberikan sebuket bunga yang berada di tangannya kepada Ny. Choi.

“Untukku??” tanya Ny. Choi heran.

Ne, Eommonim. Bunga ini aku pesan khusus untuk Anda. Aku sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari,” jawab Kyuhyun dengan wajah yang berseri-seri.

Aigoo, kau ini anak yang baik, sopan, tampan. Sooyoung sangat beruntung mendapatkanmu,” puji Ny. Choi semakin membuat senyum Kyuhyun lebar. “Sooyoung-ah, mengapa kau menyembunyikan hubungan kalian? Kau ingin membuat kejutan untuk kami?” lanjut Ny. Choi kepada anak perempuannya.

Aniya! Dia…”

Jagi, kau masak apa? Aku membawa makanan untuk kita santap bersama.” Kyuhyun memutus kalimat protes Sooyoung. Cepat-cepat di rangkulnya pundak Sooyoung agar gadis itu bungkam.

“Ya! Lepas tanganmu dari pundakku! Apa yang kau lakukan di rumahku?! Cepat lepaskan!!!” bisik Sooyoung geram.

“Hei, aku ini calon suamimu. Kau tak lihat orangtuamu sangat menyukaiku?” Kyuhyun balas berbisik dengan nada penuh kemenangan.

Abeonim, Eommonim, ayo kita sarapan bersama. Aku membawa samgyetang, kimchi dan juga kimbap,” ucap Kyuhyun kemudian membuka kantong plastik berisi makanan yang ia beli sebelum berangkat ke rumah Sooyoung.

Sooyoung melongo melihat keakraban orangtuanya bersama Kyuhyun. Pria itu sibuk berceloteh ria tentang pekerjaannya. Sooyoung tidak mau bergabung bersama mereka, ia sengaja menyibukkan diri di dalam dapur.

“Sooyoung-ah, ayo sarapan bersama. Kau ini tidak sopan sekali kepada calon suamimu,” ucap Tuan Choi dengan nada memaksa.

Mau tak mau Sooyoung menarik kursi dan duduk di samping Kyuhyun. Ia menginjak kaki Kyuhyun dengan kuat sebelum menyumpit nasi. Kyuhyun meringis sakit namun tanpa suara.

“Sejak kapan kalian pacaran?” tanya Tuan Choi.

“Kami sudah bersama setahun terakhir ini, Abeonim. Kami bertemu saat aku kembali ke Korea,” jawab Kyuhyun dengan nada ceria. Sooyoung memandangnya tajam. Keseluruhan kalimat Kyuhyun memang benar, mereka bertemu saat Kyuhyun pulang dari Amerika. Tapi tentang kata ‘pacaran’, Kyuhyun pembohong besar!!

“Lalu bagaimana dengan rencana kedepannya?” tanya Ny. Choi dengan semangat.

“Kami akan segera menikah.” Kalimat singkat Kyuhyun yang penuh dengan makna. Sooyoung tertunduk lemas, tak mampu menjawab.

***

Yoona menenteng banyak tas kertas di kedua tangannya. Hari ini ia pergi berbelanja kebutuhan bayi seorang diri di sebuah departement store. Ia kembali masuk ke dalam  toko pakaian bayi dan memilih beberapa helai dress lucu berwarna merah muda.

Ia mengelilingi toko itu dan melihat-lihat ke rak sepatu. Matanya berbinar cerah melihat sepasang sepatu cantik berwarna biru. Ia memasukkan sepatu itu ke dalam kereta belanjaannya.

Yoona memutar badan ingin pergi ke kasir, namun langkahnya terhenti begitu melihat sepasang suami istri berdiri tak jauh darinya. Mereka sedang memilih baju bayi dengan wajah bahagia. Yoona iri, sangat iri. Sekalipun Siwon belum pernah menemaninya belanja kebutuhan anak mereka.

Ia mengusap perut buncitnya dengan gerakan pelan. Mencoba menahan rasa sedih yang mulai menyergapnya. Pasangan suami istri itu kini telah beranjak dari pandangannya. Yoona menunduk, memandang perutnya nanar.

Appa sedang sibuk. Mungkin besok kita bisa jalan-jalan lagi, baby. Kau jangan sedih ya,” ucap Yoona mencoba menghibur dirinya dengan berbicara kepada calon anaknya.

“Ayo kita pulang. Eomma sudah lelah.” Yoona melanjutkan langkahnya menuju kasir dan membayar belanjaannya.

Ia mencoba menarik sebuah senyum untuk menguatkan  hatinya. Hubungannya bersama Siwon semakin renggang. Itu membuatnya semakin tertekan.

Denyutan kuat kembali menyerang kepalanya. Yoona memijat kepalanya dan meringis pelan. Untung saja Tuan Han telah menjemputnya, kalau tidak ia bisa pingsan di dalam dapartement store. Rasa sakit itu masih menyerangnya. Yoona memejamkan mata, semoga saja sakitnya cepat hilang.

***

Siwon menegak gelas wine-nya. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak minuman beralkohol itu yang memasuki kerongkongannya. Di pijatnya pelipisnya dengan gerakan pelan sembari memejamkan mata.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Ibunya dengan nada dingin.

“Tentu saja aku ingin mengunjungi rumah orangtuaku,” jawab Siwon lemah.

“Kau ingin lari dari kenyataan? Seharusnya kau berada di rumah, menemani Yoona. Dia sangat membutuhkanmu, Siwon-ah,” ucap Nyonya Choi sembari menyilangkan tangannya di depan dada.

Siwon memandang Ibunya heran. Ia tak mengerti semua kalimat Ibunya. “Apa maksud Eomma?” tanya Siwon.

“Kau sudah dewasa. Pikirkanlah semua ucapan Eomma,” ucap Nyonya Choi berlalu meninggalkan Siwon sendiri di pantry dapur.

Siwon masih terdiam di tempat. Ia masih memijat pelan pelipisnya dan memejamkan mata. Wajahnya tampak sangat lelah, hari ini ia izin tidak bekerja. Bukannya istirahat di rumah, ia lebih memilih ke rumah orangtuanya dan mulai mabuk setelah menenggak sebotol wine.

Masalahnya terlalu banyak. Terutama tentang dirinya dan juga Yoona. Siwon akui, Yoona semakin egois akhir-akhir ini. Siwon tahu, sebentar lagi anaknya akan lahir. Siwon ingin selalu mendampingi Yoona setiap saat sampai proses persalinan, namun ketika mereka bersama yang terjadi hanyalah pertengkaran tiada ujung.

Siwon menyerah. Kini ia lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Mungkin benar kata Ibunya, ia sedang lari dari kenyataan. Yoona membutuhkan sosoknya, tapi Siwon tak mau menambah panjang pertengkarannya bersama Yoona. Ia tak mau Yoona semakin tertekan di saat hamil tua.

“Apa aku pulang saja sekarang?” gumamnya pelan dan mengangkat kepala. Hatinya sedikit luluh untuk menemani Yoona siang ini. Ya, meredam sedikit emosi dan berusaha bersikap manis sepertinya tidak salah. Semoga saja ia tak kembali beradu mulut dengan istrinya.

***

Kyuhyun berjalan lambat untuk keluar dari rumah Sooyoung. Gadis tinggi semampai itu mengantarnya ke depan pintu rumah dengan terpaksa karena perintah orangtuanya. Kyuhyun menatap Sooyoung yang memandang lurus ke depan.

Sooyoung membuka pintu keluar untuk Kyuhyun. Ia berdiri menyandar di pinggir pintu dengan menyilangkan tangan di dada. Kyuhyun masih belum beranjak pergi.

“Hati-hati di jalan. Hari semakin larut,” pesan Sooyoung dengan nada dingin.

Kyuhyun maju selangkah kemudian membalikkan badannya tepat di hadapan Sooyoung. Ia tatap mata indah gadis itu dengan perasaan cintanya yang sangat dalam. Sooyoung salah tingkah dengan tatapan Kyuhyun, baru pertama kali ia melihat Kyuhyun menatapnya penuh arti.

Waeyo?” tanya Sooyoung ketus.

Kyuhyun menunduk, kemudian menggenggam tangan kanan Sooyoung dengan lembut. Ia kembali menatap mata Sooyoung lebih dalam lagi. “Soo, maafkan aku jika selalu membuatmu kesal,” ucap Kyuhyun memulai percakapan. Kali ini ia tak memanggil Sooyoung dengan bahasa formal.

Waeyo? Kau salah makan ya? Mengapa mendadak kau menjadi selembut ini?” cerocos Sooyoung.

“Dengarkan aku Soo, aku sangat mencintaimu. Saranghae,” ungkap Kyuhyun berhasil membuat Sooyoung bungkam.

“Tentang ucapanku tadi kepada orangtuamu, aku bersungguh-sungguh. Aku ingin kau yang menemani hidupku kelak, Soo. Aku tahu, untuk sekarang kau masih belum bisa membuka hati untuk menerimaku. Tapi aku mohon, belajarlah melupakan perasaanmu itu. Jangan berharap lebih dari Siwon Hyung, dia mempunyai kehidupan sendiri bersama Yoona,” ucap Kyuhyun membuat Sooyoung tertegun.

“Aku tak peduli seberapa lama kau menolak dan mengacuhkan diriku beserta perasaan cintaku ini. Tapi perlu kau ingat Soo, aku akan menunggumu sampai kapanpun. Aku sangat mencintaimu,” lanjut Kyuhyun kemudian mengecup punggung tangan Sooyoung lembut.

Saranghae, Choi Sooyoung,” bisik Kyuhyun kemudian menarik Sooyoung masuk ke dalam pelukannya. Kyuhyun benar-benar tak tahan jika harus menyimpan perasaannya lebih lama lagi. Pelukan itu semakin erat dan Kyuhyun membenamkan kepalanya di rambut harum Sooyoung.

“Kyuhyun-ssi…” lirih Sooyoung masih di pelukan Kyuhyun.

Kyuhyun melonggarkan pelukannya. Ia tersenyum manis dan mengusap puncak kepala Sooyoung dengan sayang. Sooyoung masih tak mampu berkata-kata. Jantungnya berdegup kencang. Ini pertama kalinya seorang pria memeluknya dan menyatakan cinta.

“Aku pulang. Sampaikan salamku kepada orangtuamu. Selamat beristirahat,” pamit Kyuhyun kemudian berbalik meninggalkan Sooyoung yang masih membeku di tempat. Matanya mengikuti Kyuhyun yang masuk ke dalam mobilnya kemudian melesat pergi.

Sooyoung memegang puncak kepalanya. Masih terasa hangat tangan Kyuhyun di sana. Sooyoung tersenyum tipis sebelum menutup pintu rumahnya. Sampai kapanpun perasaan cintanya kepada Siwon tetaplah besar. Ia tak tahu sampai kapan harus mempunyai perasaan itu. Intinya hatinya hanya ia buka untuk Siwon bukan Kyuhyun.

***

Aigoo, kalian sudah datang. Ayo masuk.”

Sambutan hangat yang di ucapkan oleh Nyonya Choi ketika Siwon dan Yoona memenuhi undangan makan malam keluarga. Yoona berjalan dengan di rangkul Siwon di sampingnya. Wanita itu tersenyum manis ketika melihat kakek dan juga Ayah mertuanya telah duduk rapi di meja makan.

“Maaf kami terlambat,” sesal Siwon kemudian menarik kursi untuk istrinya.

Gwenchana, kami juga belum mulai makan. Tapi sekarang ayo kita santap makanannya, sudah lama sekali kita tidak berkumpul seperti ini,” ucap Tuan Choi.

“Kakek, mana Kyuhyun? Dia tidak ikut?” tanya Yoona yang rindu akan sepupunya.

“Kyuhyun menolak sewaktu aku ajak. Ia sibuk dengan pekerjaannya di rumah,” jawab Tuan Cho dengan senyuman hangat.

Yoona tak berkata lagi setelah mendengar jawaban kakeknya. Ia mulai mengambil sendok nasi, namun tangannya di cegah oleh Siwon. “Kau mau apa? Biar aku yang ambil,” tawar Siwon.

“Aniya, aku bisa sendiri,” tolak Yoona dengan halus. Siwon mengalah, ia membiarkan Yoona mengambil makanannya sendiri.

Siwon memandang Yoona yang tampak tidak baik-baik saja terhadapnya. Istrinya itu berbicara seperlunya dan lebih banyak diam. Siwon bingung, apa dia melakukan kesalahan lagi? Beberapa hari sebelumnya, Siwon mulai merubah sikapnya. Ia berusaha memperlakukan Yoona selembut mungkin agar tak membuatnya semakin tertekan saat persalinan nanti.

“Sebentar lagi cucu kami akan lahir. Kalian tahu, seberapa khawatirnya Ibumu terhadap Yoona. Ia tak pernah tidur dengan tenang dan selalu menggumam pelan tentang keadaan kehamian Yoona. Ah, ternyata sangat menyenangkan sekaligus menegangkan menanti kelahirannya,” ucap Tuan Choi dengan tawa renyahnya.

“Aku baik-baik saja Eomma, Appa. Kalian tidak perlu khawatir,” ucap Yoona lembut kemudian mengulaskan sebuah senyum.

Tuan Choi mengangguk paham sedangkan Nyonya Choi memandang Yoona khawatir. Ia tahu, menantunya itu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ia tahu baik Yoona maupun Siwon belum menyelesaikan masalah mereka. Itu terbaca dari raut wajah keduanya yang sama-sama murung.

*

Selesai makan malam, Yoona meminta Siwon untuk cepat pulang karena kepalanya yang tiba-tiba sangat sakit. Tuan Choi, Nyonya Choi dan Tuan Cho sangat khawatir, mereka menyarankan agar Yoona di bawa ke dokter.

“Aku baik-baik saja. Ini sudah biasa, sepertinya aku terlalu lelah,” jawab Yoona dengan senyuman kaku.

Siwon mengendarai mobilnya sedikit cepat. Ia tak tega melihat Yoona yang terus memijit dahinya dan meringis pelan. “Apa sesakit itu? Kita ke dokter saja, ya?”

“Aku tidak apa-apa, Yeobo.  Kita langsung pulang saja,” jawab Yoona lemah.

Siwon menuruti keinginan Yoona. Ia semakin melajukan mobilnya agar cepat sampai di rumah. Selama di perjaanan, ia tak fokus dengan jalan. Ia lebih sering melihat ke wajah istrinya yang semakin pucat dan berkeringat dingin. Setibanya di depan pintu masuk, dengan cekatan Siwon menuntun Yoona untuk berjalan.

Ia membaringkan Yoona dengan perlahan dan menyelimutinya. Di belainya rambut lembut Yoona dan mengecup keningnya hangat. Tanpa menunggu lama, mata Yoona terpejam dan ia tertidur lelap. Rasa sakit serta kantuk membuat dirinya lemah.

Siwon masih berdiri di tempatnya, memandangi Yoona yang terlelap damai. Ia duduk di sisi kanan tempat tidur kemudian mengelus perut Yoona dengan perlahan. Mengecupnya dan menempelkan telinganya di perut buncit itu.

Annyeong baby, kau sudah tidur, ya?” Siwon berbicara kepada calon bayinya.

“Maaf Appa baru menyapamu sekarang. Kau marah dengan Appa? Ya, sepertinya Appa tahu jawabannya,” sesal Siwon.

Appa sangat menyayangimu dan juga Eomma. Maaf Appa selalu membuat kalian sedih. Maafkan Appa juga, tak pernah membuat Eomma mu bahagia. Sebenarnya Appa tak ingin seperti itu, Appa sangat mencintai Eomma mu dan juga kau.”

Appa berjanji mulai sekarang akan membahagiakan Eomma mu dan juga kau. Lahirlah dengan selamat, sayang. Jadiah seperti Eomma mu, dia adalah wanita yang sangat baik dan semua orang menyayangimu.” Siwon tersenyum setelah menyelesaikan kalimatnya.

“Ini sudah malam, maaf mengganggu tidurmu sayang. Selamat tidur.” Sekali lagi Siwon mengecup perut Yoona.

Author P.O.V end

***

Yoona P.O.V

Aku menghirup udara segar pagi hari, namun tak mampu menyegarkan tubuhku yang masih sangat lemah. Ku buka perlahan mata berat ini dan membiasakannya dengan sang surya. Ku amati sekeliling kamar dan ku dapati Siwon yang telah menghilang dari sebelahku.

Selalu seperti ini. Hampir setiap pagi aku selalu menemukan Siwon yang lebih awal berangkat bekerja. Apa yang sebenarnya terjadi? Dia menghindariku?

Aku tahu selama ini sifatku yang egois selalu membuatnya risau. Karena aku ingin ia selalu ada di sampingku. Memberikan limpahan kasih sayang untukku dan juga calon anaknya.

“Selamat pagi, princess. Tidurmu nyenyak?”

Aku memandang ke arah pintu kamar tempat Siwon berdiri dengan nampan di tangannya. Ia telah rapi dengan pakaian kerja sembari tersenyum hangat kearah ku dan segera berjalan mendekat.

“Bagaimana perasaanmu? Apakah sudah lebih membaik?” tanya Siwon dengan nada khawatir. Aku tak menjawab  dan hanya menatapnya datar.

“Aku membuatkan bubur untukmu. Makanlah, kau harus mengisi perut mu Yeobo,” ucap Siwon lembut.

Aku beralih menatap nampan yang berisi makanan itu. Di sana tertata semangkuk bubur gingseng dan segelas susu strawberry khusus untuk ibu hamil tak lupa setangkai bunga mawar putih ia letakkan di samping mangkuk bubur.

Ku raih sendok dan memasukkan bubur itu kedalam mulut. Rasanya sangat enak. Siwon menatap ku dengan senyumnya yang sumringah sama seperti pertama kali kami menikah.

“Makan yang banyak, Yeobo. Jangan lupa habiskan. Aku harus segera pergi ke kantor, rapat direksi akan segera dimulai.” Siwon beranjak dari tempat duduknya dan mengecup kening ku lembut.

Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh lalu menghilang dari balik pintu. Rasanya seperti mimpi. Ku cium setangkai mawar itu kemudian kembali menyantap makanan buatan suami ku.

*

Ku perhatikan satu per satu pakaian bayi yang ku beli beberapa hari yang lalu kemudian ku tata di atas tempat tidur dan menjajarkannya. Sepatu bayi berwarna merah muda pun sangat menarik perhatian ku untuk dikeluarkan dari tempatnya.

Rasa bahagia dan tak sabar bercampur menjadi satu. Aku ingin segera melihat bayi ku mengenakan pakaian serta sepatu ini. Ku usap perlahan perut ku yang sudah berumur 9 bulan. Waktu persalinan sudah semakin dekat.

Kembali aku berjalan ke arah lemari kecil yang berada disudut ruangan. Ku tata pakaian itu di dalamnya.

“Senangnya, tak lama lagi aku akan segera menjadi ibu.”

Dengan bangga ku amati hasil pekerjaan iseng ku. Ternyata hanya dalam waktu 3 minggu aku dapat menyiapkan semuanya dengan baik. Corak merah muda dengan paduan biru soft menambah kesan cantik kamar ini.

Di sofa, ku rebahkan tubuh ku untuk beristirahat. Rasanya semakin hari perut ini semakin terasa berat. Ku sandarkan tubuh ku pada tangan sofa dan mulai memejamkan mata sejenak. Tiba-tiba perut ku seperti dicengkram kuat. Rasa sakit itu datang bertubi-tubi. Seperti sesuatu yang keras menghantam perut ku.

Aku meringis merasakan sakit yang teramat sangat. Berkali-kali ku teriaki nama Hong Ajummah agar ia segera datang menolong ku.

“Nyonya apa yang terjadi!!!”

“Astaga, kita harus segera kerumah sakit!”

Rasanya penglihatan ku berputar dan berubah samar. Hanya teriakan Hong Ajummah yang terdengar di telinga ku. Tubuh ku terasa ringan. Keringat dingin mengalir dari pelipis ku. Aku masih dalam keadaan sadar, namun mata ini terlampau berat untuk dibuka. Perut ku berkontraksi hebat, ku harap semuanya akan baik-baik saja.

Yoona P.O.V end

***

Sooyoung P.O.V

Seperti biasa, secepat kilat aku menyelesaikan berkas terakhir sebelum pulang bekerja. Aku menenteng tas tanganku dan berjalan menuju ruangan Siwon. Ku buka pintu itu perlahan dan mulai melangkah masuk.

Ku dapati Siwon yang tengah berdiri menghadap ke jendela ruangannya. Ia memasukkan tangannya di saku celana. Entah apa yang sedang di amatinya di luar sana. Aku berdehem agar ia menyadari keberadaanku.

Oppa, apa yang sedang kau lakukan? Tampaknya hari ini kau begitu murung,” ucapku masih di tengah-tengah ruangan.

Ia tak menjawab dan aku masih sabar menunggu. Ku lihat ia menghela nafas berat dan menundukkan kepalanya. “Hatiku resah. Rasanya Yoona semakin menjauh dariku.”

Aku tersenyum samar mendengar jawabannya. Bukankah ini suatu yang bagus untukku? Aku berjalan mendekat ke arahnya. “Aku tak tahu harus berbuat apa lagi,” lanjutnya.

Ku tarik nafas dalam untuk mengumpulkan keberanian. Ku angkat tanganku melewati kedua lengannya dan melingkari tubuhnya. Ku sandarkan kepalaku di punggungnya.

“Kau tak perlu berbuat apapun lagi. Ada aku di sini yang mencintaimu, Oppa.”

“Apa maksud mu berbicara seperti itu, Sooyoung-ssi?!” Siwon menghempas tangan ku dan berbalik. Ia menatap ku marah. Aku membeku ditempat, rasanya menyesal mengakui perasaan ini padanya. Dapat ku baca raut kebencian dimatanya.

“Ternyata apa yang dikatakan Yoona selama ini benar!”

Lidah ku terasa kelu. Sepatah kata pun tak dapat ku ungkapkan sebagai pembelaan. Belum sempat ia mencaci ku lagi, ponselnya berdering dan ia segera menjawabnya.

Aku tak tahu siapa yang menelponya, namun seketika wajahnya berubah panik dan segera berlari keluar. Ku lihat di ujung pintu sosok Kyuhyun menatap ku kecewa. Apa ia mendengar semua percakapan kami?

“Kyuhyun-ssi…” panggilku lemah.

Matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergetar. Linangan air matanya turun begitu saja, seketika membuat dadaku ikut terasa sesak. Rasanya sangat aneh. Ucapan yang keluar dari bibirku tak sejalan dengan hati yang kini ku rasa. Ungkapan cinta yang ku lontarkan pada Siwon seperti tak bermakna.

Kyuhyun berjalan mundur masih dengan memburu mataku tajam. Ia pergi meninggalkan ku tanpa sepatah kata pun. Perlahan buliran bening keluar dari sudut mata ku. Aku menangis menyesali semuanya.

Sooyoung P.O.V end

***

Author P.O.V

Siwon berlari kencang di koridor rumah sakit. Beberapa kali ia menabrak orang yang sedang berjalan melintasi lorong yang sama. Saat ini yang ada dipikirannya hanyalah Yoona. Wajahnya sangat panik di lihatnya kamar operasi masih tertutup rapat. Ia mondar-mandir tidak tenang di depan pintu ruangan itu.

Beberapa saat yang lalu, ia mendapat telepon dari Han Ahjusi bahwa Yoona akan segera melahirkan. Seketika ia berubah manjadi panik. Kelahiran anak pertamanya adalah saat yang paling ia tunggu-tunggu.

“Mengapa lama sekali?” batinnya tak sabar. Matanya tak lepas dari arah pintu. Hong Ajummah dan Han Ahjusi berdiri tak jauh dari Siwon dengan meremas tangannya gusar.

Ajummah, apa terjadi sesuatu saat Yoona mengalami kontraksi?” tanya Siwon ingin tahu.

Hong Ajummah tampak cemas,”Ya, Tuan. Air ketubannya bercampur dengan darah yang sangat banyak. Saya tidak tahu mengapa bisa terjadi seperti itu,” jawab Hong Ajummah.

Siwon meremas rambutnya kasar. Rasa takut dan pikiran buruk mulai mendatanginya. Ia menyesal mengapa dirinya tidak berada di samping Yoona saat istrinya itu mengalami kesakitan yang luar biasa.

Lima jam kemudian pintu ruang operasi terbuka. Siwon bangkit dari duduknya, dengan tergesa ia menghampiri dokter yang baru saja melepas masker di wajahnya.

“Anda suami pasien Cho Yoona?”

“Ya, saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya? Dia baik-baik saja ‘kan?” tanya Siwon panik.

Dokter itu tampak resah memandang Siwon. “Selamat, bayi anda seorang perempuan. Tapi, ada sedikit masalah dengan istri Anda. Saat persalinan, ia mengalami pendarahan. Dan sampai saat ini ia belum sadarkan diri. Kita tunggu beberapa jam lagi, jika pasien belum menunjukkan stimulasi respon maka kami akan melakukan rontgen tubuh bagian dalam,” jelas dokter itu panjang lebar sebelum beranjak pergi meninggalkan Siwon dengan segudang kegundahannya.

Siwon memandang tubuh kaku Yoona yang terbujur lemah dari balik kaca. Ia ingin sekali masuk ke dalam kamar operasi itu dan memeluk Yoona dengan erat. Mengatakan bahwa Yoona adalah wanita yang sangat kuat. Mampu melahirkan buah cinta mereka dengan perjuangan yang berat.

“Aku merindukanmu, Yeobo. Aku merindukan tatapanmu, senyuman manismu, semua yang ada pada dirimu. Lekaslah sadar, sayang. Kau tak ingin melihat buah hati kita?” ucap Siwon masih di depan kaca ruangan penuh alat kedokteran itu.

Seorang suster menghampiri Siwon, “Tuan, ini bayi perempuan Anda,” ucapnya kemudian menyerahkan bayi itu ke dalam gendongan Siwon.

Siwon memandang wajah putrinya bahagia. Ia kembali mendekat ke arah jendela kaca untuk melihat Yoona. “Yeobo, ini bayi kita. Anak yang selama ini kita tunggu-tunggu. Cepatlah bangun, tidak ‘kah kau ingin menggendongnya juga?” Siwon menangis di depan kaca tersebut, melihat wajah Yoona yang damai terpejam.

“Siwon-ah!!”

Nyonya Choi berjalan tergesa-gesa di ikuti suaminya. Mereka menghampiri Siwon yang menggendong putrinya. “Bagaimana keadaan Yoona? Dia baik-baik saja?” tanya Nyonya Choi panik.

“Dia tidak sadarkan diri, Eomma. Kita tunggu beberapa jam lagi sampai dokter memberikan konfirmasi tentang kesadarannya,” jawab Siwon sedih kemudian beralih kepada putri kecilnya. “Ini anak kami, cucu pertama Eomma dan Appa,” ucap Siwon berusaha tersenyum senang dan memberikan putrinya ke gendongan neneknya.

Omona, dia sangat cantik. Cucuku yang cantik,” ucap Tuan Choi dan Nyonya Choi bersamaan, mereka mencium pipi bayi mungil itu dengan sayang.

“Aku sudah punya nama untuk bayi kalian. Nama yang telah di siapkan Yoona,” ucap Nyonya Choi membuat Siwon terkejut.

“Benarkah?” tanyanya tak percaya.

“Yoona ingin anak kalian di beri nama Jangmi. Choi Jangmi.”

“Nama yang bagus, yang artinya bunga mawar,” sambung Tuan Choi.

“Ya, nama yang bagus,” lirih Siwon kembali menatap Yoona. Sungguh, sekalipun tak pernah terlintas di kepalanya untuk menyiapkan sebuah nama sebagus itu untuk anaknya. Tapi Yoona telah mempersiapkan semuanya tanpa ia ketahui. Suami macam apa aku ini? sesal Siwon.

*

Seorang dokter berlari tergesa-gesa di ikuti banyak suster di belakangnya. Mereka masuk ke dalam ruangan isolasi tempat Yoona terbaring kaku. Tiba-tiba seorang suster menyuruh mereka untuk keluar dari ruangan tersebut.

Siwon memandang aneh ke arah suster tersebut. Dengan terpaksa Siwon beserta kedua orangtuanya keluar dari ruangan itu. Perasaan kalut mulai menyergapnya, ketika matanya menangkap seorang suster memasang selang oksigen ke hidung Yoona.

“Apa yang terjadi? Yoona-ku pasti baik-baik saja,” batin Siwon tak tenang.

Siwon gelisah di depan pintu ruang operasi. Kedua orang tuanya menanti cemas keadaan menantu mereka.

“Pasti ada yang tidak beres,” ucap Siwon gusar.

Satu jam setelahnya, dokter membuka pintu ruang operasi membawa sebuah amplop berwarna coklat di tangannya. “Apa yang terjadi?” tanya Siwon tak sabar.

“Bisa Anda ikut ke ruangan saya? Ada yang harus saya bicarakan empat mata bersama Anda,” ucap dokter itu kemudian memimpin jalan.

Berualang kali Siwon berdo’a semoga keadaan Yoona baik-baik saja dan semua prasangka buruknya tidak terjadi. Siwon memasuki ruangan serba putih dan di lengkapi alat-alat kedokteran.

Siwon menarik kursi dan duduk berhadapan dengan dokter tersebut. Dokter itu mengeluarkan isi amplop coklat yang tadi di bawanya. Ia mengeluarkan hasil foto rontgen dan meletakannya pada X-Ray Viewer.

“Kami menemukan adanya infeksi pada otak istri Anda. Sepertinya istri Anda pernah mengalami benturan yang keras pada kepalanya dan memasuki fase persistent vegetative, masa di mana sebuah kondisi pasien tidak sadar, akan tetapi napas dan tekanan darahnya normal, dapat mencerna, dan mengeluarkan makanan. Dan keadaan vegetatif ini, bisa bertahan hingga bertahun-tahun bahkan dekade.”

“Sebenarnya, untuk memasuki fase persistent vegetative ini di lakukan pemeriksaan selama 4 minggu. Namun, dari hasil rontgen ini telah menunjukkan bahwa istri Anda positif berada pada fase tersebut. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk penyembuhan istri Anda. Kami harap Anda bersabar dan banyak berdo’a untuk kesembuhannya,” ucap Dokter itu panjang lebar.

Siwon tertunduk dalam. Hantaman kuat terasa di dadanya. Ia meremas tangannya kuat dan mati-matian menahan air mata. Namun usahanya gagal, ia menangis tak percaya dengan semua yang di dengarnya tadi. Ribuan kata penyesalan kini menyergapnya. Mengurungnya pada jurang kesedihan yang panjang.

***

Sooyoung melangkah ragu memasuki pekarangan rumah Siwon. Di benaknya masih terbayang wajah Siwon yang marah padanya dan juga wajah kecewa Kyuhyun. Sepanjang jalan ia sibuk menata kalimat terbaik yang akan ia ucapkan untuk Siwon dan juga Yoona.

Baru saja ia akan menekan bel, pintu itu telah terbuka dan keluarlah Hong Ajummah dengan membawa sebuah tas travel sedang di tangannya. “Permisi, apakah Tuan Choi ada di rumah?” tanya Sooyoung ramah.

“Oh, Tuan sedang berada di rumah sakit. Nyonya Choi sedang melahirkan,” jawab wanita paruh baya itu membuat Sooyoung terkejut.

“Melahirkan?” gumamnya. “Bisa beri saya alamat rumah sakitnya?”

*

Kyuhyun menatap nanar bayi mungil yang ada di balik jendela kaca transparan ruang anak. Jangmi tengah tertidur lelap setelah di beri susu formula oleh suster.

Kyuhyun masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya dari Siwon beberapa saat yang lalu. Tentang Yoona yang koma dan juga penyakitnya. Semuanya terjadi secara tiba-tiba.

Ia menghapus air matanya sendiri. Rasa sedih tak mampu ia tahan, apalagi setelah melihat wajah Jangmi yang tak berdosa.

“Kyuhyun-ssi…” panggil Sooyoung dengan memegang pundak Kyuhyun.

Pria itu tak menggubris kehadiran Sooyoung. Ia masih menatap Jangmi lekat. “Untuk apa kau datang ke sini? Tidak puas ‘kah kau bersenang-senang di atas penderitaan orang lain? Kau senang sekarang Yoona telah koma? Tak ada lagi yang menjadi penghalang untukmu mendapatkan Siwon.” Kyuhyun berkata dengan nada dingin.

Sooyoung bingung mendengar ucapan Kyuhyun yang tiba-tiba menghujatnya. Yoona koma? Apa maksudnya?

“Berhentilah untuk merusak hidup seseorang. Tak kasihan ‘kah kau dengan bayi tak berdosa itu? Ia akan tumbuh tanpa kasih sayang Ibunya,” ujar Kyuhyun membuat Sooyoung menatap box bayi Jangmi.

Kyuhyun tertunduk, ia kembali menangis. Sooyoung memandang Kyuhyun miris. Ia dapat merasakan atmosfer kesedihan Kyuhyun. Gadis ramping itu menggeser posisinya agar semakin dekat ke arah Kyuhyun. Di lingkarkan kedua tangannya pada pinggang Kyuhyun, memeluk pria itu dan ikut menangis. Sooyoung menyesal, sangat menyesal. Lama mereka menangis bersama, meluapkan emosi masing-masing.

“Kyuhyun-ssi, aku minta maaf atas semua kesalahanku padamu. Aku berjanji akan menebus semua kesalahanku padamu, Siwon, Yoona dan anaknya. Aku akan membantu menjaga bayi mereka sampai Yoona bangun dari komanya,” janji Sooyoung dengan isak tangisnya.

“Tak hanya kau yang berubah seperti itu, aku pun akan membantu menjaga Jangmi untuk Yoona,” ucap Kyuhyun dengan nada yang lebih lembut dari sebelumnya.

***

2 month later…

Akhir pekan di bulan April…

Siwon menggendong Jangmi sembari berceloteh ria. Ia membawa putri kecinya berkeliling taman belakang rumahnya. Wangi bunga mawar menambah kesan hangat antara Ayah dan anak itu.

“Jangmi-ah, kau tak rindu sama Eomma? Oh, kau merindukannya? Appa juga merindukannya. Nanti siang kita jenguk Eomma di rumah sakit, ne?” celoteh Siwon membuat Jangmi menggeliat senang dalam gendongannya. Anaknya itu menggumam lucu dan tersenyum manis.

Siwon menghirup udara segar di sekitarnya. Ia edarkan pandangannya ke arah rumahnya, karena ia sudah lama tak berkeliling taman. Matanya menangkap sesuatu yang membuatnya penasaran. Dari bawah sini, ia dapat meihat ke arah jendela yang berada di lantai dua rumahnya. Kamar tamu yang seingatnya tidak memiliki kelambu di dekat jendela dan juga warna cat kamar itu yang berubah.

Siwon menggendong Jangmi masuk ke dalam rumah dan menuju kamar tamu tersebut. Di bukanya pintu kamar itu dengan perlahan dan matanya menatap kagum ruangan itu.

Kamar tamu yang berubah menjadi terang dengan warna merah muda dan juga biru. Sebuah box bayi dengan kelambu biru di atasnya. Lemari pakaian kecil di sudut ruangan dan banyak boneka yang tertata rapi di atas sofa.

Yeobo, kau ‘kah yang menyiapkan semua ini? Bahkan kau tak pernah menanyakan pendapatku sekalipun? Sesibuk itu ‘kah aku?” ucap Siwon masih melihat sekeliling kamar.

“Jangmi, kau suka? Ini Eomma yang siapkan untukmu.” Jangmi menggeliat senang. Matanya tampak berbinar menatap ornamen-ornamen lucu di kamar barunya tersebut.

*

Siwon membawa Jangmi dalam gendongan bayi. Sudah dua bulan Yoona terbaring lemah di rumah sakit. Setiap hari Siwon selalu datang menjenguk, tak lupa juga membawa sebuket bunga mawar berbagai warna kesukaan Yoona.

Annyeong Yeobo, aku datang bersama bidadari kecil kita. Lihatlah, ia semakin sehat dan cantik sepertimu,” sapa Siwon kemudian meletakkan buket mawarnya ke dalam vas.

“Jangmi lihatlah, Eomma mu tetap cantik ‘kan? Meskipun dalam keadaan koma, Eomma mu tak pernah berubah,” ujar Siwon berusaha menghibur putrinya.

Siwon mengeluarkan Jangmi dari gendongannya dan meletakkan bayi itu di sebelah ibunya. Lama Siwon menatap keduanya bergantian. Siwon telah bahagia memiliki Jangmi, namun kebahagiaan itu belum sempurna tanpa kehadiran Yoona.

Siwon meraih tangan Yoona yang terasa dingin. Ia genggam tangan itu dengan erat dan menempelkannya di pipi. “Yeobo, bangunlah. Aku sangat merindukanmu begitu pula dengan Jangmi. Ternyata merawat bayi seorang diri tidaklah mudah. Aku membutuhkanmu untuk membesarkan anak kita bersama.”

Dihirupnya kulit tangan istrinya. Wangi khas tubuh Yoona masih dapat ia rasakan. “Bagunlah Yeobo, tidak ‘kah kau ingin melihat wajah Jangmi yang menggemaskan?” Siwon beralih menatap Jangmi yang sedang menggumam senang. Matanya memanas dan mulai menangis. Beberapa bulan terakhir, Siwon selalu bersedih jika mengingat kondisi Yoona yang belum juga menunjukkan perkembangan.

“Sejujurnya kau lah yang menguatkan aku untuk menjalani hidup. Mungkin jika tanpa kau, aku sudah putus asa membesarkan Jangmi seorang diri. Aku mohon, bangunlah Yeobo.” Siwon kembali mencium tangan Yoona dengan sangat lama meluapkan emosi serta kesedihannya.

“Aku merindukan suaramu, senyumanmu, tawamu. Semuanya! Aku sangat merindukan semua yang ada pada dirimu. Hidupku terasa hampa tanpamu. Aku tak tahu berapa lama lagi kau akan bangun, tersenyum kepada ku dan mengucapkan kata cinta. Aku benar-benar ingin itu terjadi,” ucapan Siwon semakin terdengar putus asa. Banyak harapan yang ia gantungkan bersama Yoona. Apalagi pelengkap dari kebahagiaan itu telah mereka dapatkan.

Siwon mengelus pipi Yoona lembut. Pipinya tampak mengecil dari beberapa bulan sebelumnya dan itu semakin membuat Siwon merasa sedih dan terpukul.

Saranghae, Yeobo. Saranghae. Saranghae, Cho Yoona.”

 

Masa-masa itu masih terus membayangi ku …

Kini rasanya hidup ku tiada artinya lagi tanpanya …

Ini ‘kah cobaan? Atau takdir?

Aku tak tahu …

Mungkin Dia punya reencana lain …

Mungkin sekarang aku hanya bisa bersedih …

Tapi suatu saat aku akan bahagia …

Karena Dia maha mengetahui …

Ku harap ia tak melihat ku yang bersedih saat ini …

Berikan ia senyuman termanis disetiap tatapan ku …

Ku yakin senyuman itu tak pernah hilang dari pandangan ku …

-END-

Annyeonghaseo 😀

Kami kembaliiii!!! Ini udah dua bulan yah ff ini baru lanjut?? #author amnesia PLAKK!! Hahaha…

Gak ada kata-kata lagi selain Maaf karena kalian harus lumutan dulu nunggu nih ff di lanjut. Dan juga Makasih karena kalian masih setia nungguin ff ini yang selalu pending tanggal publishnya.

Thanks To: Buat Semua readers yang setia nungguin ff ini . Kami gak bisa nulisin nama kalian satu-satu karena bakal keriting jari-jari nekan tombol keyword..hehehehe J

FF ini hampir setahun masa penyelesaiannya. Buseeet!! Lama amat dah!! Hahahaaha. Ini bukan keinginan kami sebagai pengarang, namun berbagai kendala dari kegiatan masing-masing yang selalu menyita waktu.

Makasih buat masukan-masukan dari semua GOOD READERS di ff ini. Saran dan kritikan dari kalian yang membuat The Wedding Blind semakin lebih bagus.

Kami gak nyangka kalo pembaca ff ini lebih dari 200 orang!! Gak pernah nyangka punya karya yang baca buanyaaaaakk bangeeeet!! Apa karena di ancam yah jadi banyak yang koment?? Hahahaha… 😀 Sejujurnya koment kalian tuh bikin kita semangat buat ngelanjutin ff ini. kalo bukan kalian, The Wedding Blind gak akan rampung sampai part terakhir .Makasih semuanyaaaaaaaa…

248 thoughts on “The Wedding Blind (Part 14) -END-

  1. Nyesek bgt dh baca nya…
    Knpa yoona hrus koma,, kasian bgt dy 😭 blom bsa ngliat jangmi,,, giliran ky gini siwon bru nyeselll,,
    Kezelll bgt sma sooyoung…..

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s