Hello Schoolgirl (Part 3)

Author: Tirzsa

Title: Hello Schoolgirl

Main cast: 2PM’s Nichkhun & Wonder Girls’s Sunmi

Genre: Romance, Comedy

Rating: PG-15

Length: Chapter

Disclaimer: Terinspirasi dari film Korea dengan judul yang sama & film Thailand “First Kiss.”

Previous part: Part 1, Part 2

***

Lift berdenting dan pintunya membuka. Nichkhun berjalan keluar dari sana dan menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah sedang ingin menyeberangi jalanan. Koridor apartemennya begitu sepi, namun sayup-sayup ia bisa mendengar suara dua orang yang sedang berbincang—dan kedua suara itu terdengar tidak asing di telinganya. Suara itu berasal dari apartemennya. Nichkhun berjalan menghampiri apartemennya dan ketika ia berbelok, namja itu terkesiap saat melihat Nichan dan abojinya berdiri di depan pintu apartemen.

“Oh!” Nafas Nichkhun tersentak kaget mendapati kedatangan tak terduga itu. “Hyung, aboji, apa yang kalian lakukan di sini?”

Tuan Horvejkul tertawa bahagia melihat putra keduanya itu dan menyambut Nichkhun dengan sebuah pelukan hangat. Setelah ia melepas pelukannya pada Nichkhun, tuan Horvejkul memandangi Nichkhun dari ujung kaki sampai ujung rambut dan mendecak. “Lihat dirimu, Khun! Kau bahkan sekarang sudah lebih tinggi dariku!”

Nichkhun hanya tersenyum tipis. “Apa kalian sudah lama di sini? Kenapa tidak mengatakan padaku kalau kalian akan berkunjung ke Korea?”

“Kami takut merepotkanmu,” sahut Nichan. “Aboji begitu ingin bertemu denganmu dan merasa bersalah karena tidak dapat merayakan ulangtahunmu yang ke-25 beberapa hari yang lalu.”

Nichkhun mengangguk dan berpaling pada tuan Horvejkul. “Seharusnya kau tidak perlu merasa seperti itu, aboji. Aku baik-baik saja. Lagipula, aku bukan anak kecil lagi dan harus merayakan ulangtahun.”

Tuan Horvejkul menggeleng. Ia menepuk pundak Nichkhun dan berujar, “Ani, aku tidak ingin terus-terusan melewatkan hari ulangtahunmu begitu saja. Aku ingin melihat betapa besar anakku sekarang ini dan lihatlah,” tuan Horvejkul mundur beberapa langkah dan mengamati tubuh Nichkhun. “Kau bahkan sudah sebesar ini sejak kau menimba ilmu seorang diri di Korea. Aku sangat bangga padamu, Nak.”

Setelah berpelukan lagi dengan abojinya, Nichkhun membuka pintu apartemen dan mempersilahkan Nichan dan abojinya masuk ke dalam apartemen. Tuan Horvejkul berjalan di depan dan mengamati apartemen itu sambil menggelengkan kepala dan mendecak saat melihat betapa berantakannya apartemen itu. Beberapa bungkus camilan berserakan di lantai, tumpukan piring dan gelas di wastafel, dan tumpukan baju yang belum dicuci di samping mesin cuci.

“Ya Tuhan, Khun!” serunya sembari menoleh pada Nichkhun. “Apa kau tidak pernah membersihkan apartemenmu ini?”

Nichkhun menghampiri tuan Horvejkul dan terkekeh pelan. “Hm, aku tidak punya waktu untuk membersihkan apartemenku, aboji. Aku sangat sibuk dengan urusan di kantor, maka dari itu aku tidak punya waktu untuk membersihkan apartemenku.”

Nichan tertawa kecil dan menepuk pundak dongsaengnya dengan pelan. “Maka dari itu, cepatlah cari seorang yeoja dan menikahlah agar ada yang mengurus dirimu.”

Nichkhun mendengus, melempar tatapan sinis pada Nichan, dan menepis tangan hyungnya dari pundaknya. “Aish~ Kau tidak perlu ikut campur.”

Setelah berhasil menghindar dari topik tidak menyenangkan itu, Nichkhun membantu Nichan di dapur untuk membuka kotak makanan yang dibeli Nichan saat dalam perjalanan kemari, sementara aboji mereka duduk di meja makan, menanti makan malam dihidangkan. Nichkhun dan Nichan membawa menu makan malam mereka ke atas meja dan duduk berhadapan dengan aboji mereka.

“Selamat makan!” Semua berseru gembira dan mulai menikmati makanan mereka masing-masing. Tadinya, Nichkhun merasa lega dan berpikir bahwa ia sudah benar-benar bebas sampai akhirnya tuan Horvejkul lagi-lagi mengangkat topik mengenai pernikahan itu di atas meja makan.

“Apa kau sudah mempunyai yeojachingu, Khun?” tanya tuan Horvejkul tanpa mendongak dari piringnya.

Nichkhun mendelik kearah Nichan dan hyungnya itu hanya angkat bahu. Ia berpaling pada abojinya dan menyahut dengan lirih, “Belum, aboji.”

“Oh!” Tuan Horvejkul kali ini mendongak dan menelan makanannya dengan susah payah. Ia menatap anaknya dan berseru, “Jeongmalyo? Kau sama sekali belum punya yeojachingu?”

Nichan tertawa kecil. “Tentu saja belum, aboji. Aboji ingat tentang seorang yeoja yang ditaksirnya saat masih SMU dulu? Khun masih berharap pada yeoja itu sampai sekarang.”

Nichkhun membelalak dan menyikut lengan Nichan. “Ya!” bentaknya dengan nada memperingatkan.

Nichan menoleh dan menyahut dengan nada tak terima, “Wae? Apa yang salah dengan itu? Aku tidak berbohong dan kau memang benar masih menaruh perasaan pada yeoja itu, kan? Chakkaman, biar kuingat-ingat lagi nama yeoja itu—”

Ya! Neo!” Nichkhun hendak membekap mulut Nichan, namun Nichan terus berusaha menghindar.

“Ah, aku ingat sekarang!” seru Nichan. “Namanya Victoria!”

BRAK!

Keheningan menyerbu meja makan itu. Nichan dan tuan Horvejkul mendongak menatap Nichkhun yang berdiri dari kursinya dengan raut berang. Nichkhun bergantian menatap raut Nichan dan abojinya yang kebingungan, lalu berdeham.

Mianhae, aku sedang tidak terlalu lapar. Kalian lanjutkan saja makannya. Aku ingin beristirahat.”

Nichan mengawasi kepergian dongsaengnya dari meja makan dengan perasaan penuh rasa bersalah. “Apa aku sudah keterlaluan?”

***

Nichan disambut pemandangan damai ketika ia baru saja bangun dari tidurnya lelap, dan mencium aroma sarapan pagi yang khas. Ia menggeram keras, meregangkan tubuhnya dan tersenyum melihat abojinya duduk di meja makan dengan secangkir kopi dan sepiring roti panggang. Matanya beralih menatap Nichkhun yang sedang memunggunginya di pantry, sedang sibuk mengaduk kopi untuk dua orang.

Nichan beranjak menghampiri dongsaengnya dan berdeham ketika sampai di samping Nichkhun. “Mianhae,” ucapnya dengan nada sesal, mengganti sapaan ‘selamat pagi’ yang familiar. “Aku pikir aku sudah keterlaluan.”

Nichan tahu dongsaengnya juga merasa hal tidak mengenakkan yang sama. Nichkhun mendongak, melirik Nichan sekilas, dan melanjutkan mengaduk kopinya. Ia mengangkat sendok kecil itu dan mengecapnya. “Aku tahu,” Nichkhun balas menggumam. “Tapi, aku mohon padamu untuk tidak lagi menyinggung soal yeoja—termasuk yeoja itu—di depan aboji. Aku sedang tidak ingin membahas soal pernikahan. Sangat tidak nyaman.”

Nichan tertawa kecil. “Ne, aku tahu. Aku janji tidak akan mengatakan apa-apa lagi.”

Ketegangan itupun berakhir dengan berkumpulnya ketiga orang namja itu di meja makan. Mereka menikmati sarapan masing-masing dan tertawa satu sama lain, seolah tidak pernah terjadi apa-apa semalam. Dan Nichkhun sangat menikmati waktu-waktu itu, sampai akhirnya tuan Horvejkul kembali menyinggung hal yang lagi-lagi berusaha ia hindari.

“Oh yah, umurmu sudah 25 tahun sekarang,” ucap tuan Horvejkul tanpa mendongak dari roti panggangnya. “Apa kau tidak ada rencana untuk segera menikah?”

Nichkhun mendesah dan menggeram kasar. Tenggorokannya terasa gatal. “Hm, belum, aboji. Aku masih belum siap menikah dan belum menemukan yeoja yang tepat untuk menjadi istriku nanti. Lagipula, umurku baru 25 tahun, jadi apa masalahnya dengan pernikahan? Waktuku masih panjang.”

Tuan Horvejkul menggeleng-gelengkan kepalanya dan mendecak. “Ani, ani, kau tidak bisa berpikir seperti itu,” tukas namja paruh baya itu. “Kau tahu, jika kau menunggu terlalu lama hingga umurmu lebih tua lagi, kau akan kesulitan.”

Nichkhun mengernyit. Ia mengangkat cangkir kopinya dan menghirup aromanya. “Kesulitan untuk apa?” tanyanya, lalu mendorong cangkirnya ke ujung bibir dan menyesap kopinya.

“Kau tahu, pada umur-umur tertentu dan jika seseorang semakin berumur, kejantanannya akan sulit bangkit,” jelas tuan Horvejkul santai.

“UHUK!”

Nichkhun tiba-tiba tersentak, terbatuk, dan memuntahkan kopi yang di dalam mulutnya ke kemeja kerjanya. Nichan ikut tersentak dari duduknya, begitu pula tuan Horvejkul. Nichan mengusap punggung Nichkhun dan sementara tuan Horvejkul menuangkan air putih ke gelas lain untuk Nichkhun.

Nichkhun mengusap dadanya, lalu meneguk air putih itu hingga kandas. Wajahnya memerah karena menahan napas. Setelah batuknya reda dan napasnya kembali normal, Nichkhun mendongak menatap abojinya. Ucapan abojinya barusan terlalu mengejutkan dirinya. Tapi tuan Horvejkul tidak juga menyadari sorot mata Nichkhun yang mengiba dan hanya bertanya, “Gwaenchanha?”

***

Sunmi mengawasi layar ponselnya dengan hati risau dan gelisah, lalu mendongak untuk melihat ke kanan dan kiri. Tapi akhirnya ia harus menelan kekecewaan berulang-ulang kali ketika tidak melihat sosok Seungri di mana pun. Tadinya, Sunmi sudah berjanji dengan Seungri untuk pulang sekolah bersama, tapi ketika Sunmi mendatangi Seungri di kelasnya, Seungri mengatakan bahwa ia masih ada urusan dan menyuruh Sunmi untuk menungguinya saja di halte bus. Dan di sinilah Sunmi sekarang, halte bus, dengan perasaan kacau.

“Kenapa Seungri belum datang juga?” gumamnya sembari melirik arlojinya.

Sudah hampir sejam ia menunggu. Menelepon Seungri tidak juga menjadi jawaban yang tepat, karena ponsel Seungri sedang tidak aktif. Tapi Sunmi terus memberi sugesti positif pada dirinya sendiri dengan menduga bahwa mungkin saja ponsel Seungri sedang kehabisan baterai. Atau urusan Seungri belum juga selesai.

Sunmi mendesah. Sekeras apapun usahanya untuk memenuhi pikirannya dengan dugaan-dugaan positif itu, ia tetap tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya juga. Ia mulai putus asa.

“Menunggu seseorang?”

Sunmi mendongak dan menoleh. Ia meringis saat melihat Nichkhun sudah berdiri di sampingnya dengan kedua lengan terlipat di atas dada. Nichkhun tersenyum angkuh kearahnya.

“Bukan urusanmu,” tukas Sunmi.

Nichkhun mendongak kearah layar ponsel Sunmi dan melihat pesan singkat yang coba dikirimkan Sunmi pada Seungri, namun tidak juga dikirim karena Sunmi saat itu sedang dilanda keraguan. “Kau menunggu namjachingumu? Seungri?” lanjut Nichkhun dengan seringainya.

Sunmi mendelik kesal kearah Nichkhun dan membentak namja itu dengan suara lantang. “Kubilang ini bukan urusanmu!”

Nichkhun memalingkan wajah dan angkat bahu. “Terserah kau saja.”

Terdengar angin lembut berdesau di antara pepohonan. Sunmi dan Nichkhun terdiam dan hanya dengus napas mereka yang terdengar, karena saat itu, suasana halte bus yang sepi calon penumpang serta kekhidmatan dan kesunyian di situ membuat jiwa mereka tertekan. Sunmi menunggu dengan sabar dan itu terasa lama sekali. Refleksi sosok namja bertubuh tinggi di sampingnya itu sangat menekan. Ia melirik kearah Nichkhun dan memutuskan untuk berbicara.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya dengan suara canggung.

“Menunggu bus,” sahut Nichkhun singkat. Bahkan tidak menoleh. Nichkhun tetap menatap ke depan, mendongak dengan angkuh.

Sunmi mendesah. “Tentu saja menunggu bus. Maksudku, kau ingin ke mana?”

Nichkhun kali ini menoleh dan Sunmi perlu mendongak untuk menatap namja itu. Kedua mata mereka saling bertemu. Sunmi mulai merasa gugup saat Nichkhun hanya diam, tidak mengatakan apa-apa, dan hanya menatapnya dengan serius. Ia mengerutkan alis dan memalingkan wajahnya dengan segera sebelum Nichkhun menyadari kegugupannya itu.

Mwohaneungoya?” tanya Sunmi, tertunduk, berusaha menghindari sorot mata itu.

Tiba-tiba Nichkhun tertawa kecil. Sunmi kembali mendongak dan menatap Nichkhun yang masih tergelak. “Apa yang kau tertawakan?”

Nichkhun mengusap ujung hidungnya dan tersenyum. “Ani. Bukan apa-apa.”

Sunmi mengernyit bingung. Ia melihat Nichkhun memerhatikan arlojinya, lalu sebuah bus berhenti di halte. Sunmi mengawasi kepergian namja itu dengan perasaan bingung. Tapi pikirannya tidak berlama-lama terjebak di sana, karena ia kembali dirundung rasa kecewa dan sudah memastikan bahwa rencananya untuk pulang bersama Seungri telah gagal.

***

Nichkhun menyeruput es jeruknya dan merengut saat cairan kecut itu mendesak tenggorokannya. Tapi beberapa detik setelah efeknya hilang, ia kembali memasang wajah terbaiknya. Tersenyum semanis mungkin pada Yuri yang duduk berhadapan dengannya di sebuah restoran. Yuri balas tersenyum, dan Nichkhun mulai bisa menoleransi sikap Yuri dengan lapang dada.

Tidak ada pilihan lain untuknya selain menerima tawaran Yuri untuk kembali memperbaiki hubungan mereka. Junsu nyaris menghabisinya saat Junsu tahu bahwa Nichkhun sudah mengatakan hal-hal aneh pada Yuri. Dan Junsu mencoba memperbaiki keadaan dengan mengatakan bahwa Nichkhun hanya sedang mencoba mencari candaan saat itu dengan mengatakan bahwa dirinya dan Junsu adalah maniak seks pada Yuri. Tentu saja Yuri percaya dan akhirnya kembali menaruh minat pada Nichkhun.

“Aku sangat senang bisa menghabiskan waktu makan siang ini bersamamu, Nichkhun-ssi,” ucap Yuri tersipu malu.

Nichkhun memaksakan senyum dan menyahut, “Ne, aku juga.”

Yuri meletakkan sikunya di atas meja dan memangku dagu. Ia menatap wajah Nichkhun dan mengulum senyum. “Setelah pulang kerja nanti, bagaimana kalau kita pergi nonton bersama? Aku tahu salah satu film terbagus minggu ini.”

Nichkhun mengusap tengkuknya dengan ragu dan berkata, “Hm, mollayo, Yuri-ssi, aku rasa aku akan pulang lebih awal karena aboji dan hyungku datang dari Thailand dan aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan mereka.”

Mata Yuri membulat. “Oh, abojimu ada di Korea? Kalau begitu, bisakah aku datang berkunjung ke rumahmu malam nanti?”

Nichkhun menelan ludah. “Mwo? T-tapi, untuk apa?”

“Bertemu dengan abojimu, tentunya!” seru Yuri. “Bukankah ini bisa jadi waktu yang sangat tepat untuk membicarakan hubungan kita lebih jauh dengan keluargamu?”

Wajah Nichkhun memucat. Tadinya ia pikir ia sudah berhasil menghindari satu lubang neraka, namun ternyata ia malah terjerumus ke dalam lubang neraka lainnya. Nichkhun hanya terkekeh pelan pada Yuri. Ia mengulurkan tangan untuk meraih gelas minumnya dan menoleh kearah lain untuk menyesap cairan kecut itu.

Persis ketika ia menoleh, ia menangkap dua sosok remaja berseragam SMU Kirin yang sedang memunggunginya beberapa meter jauhnya. Kedua pasang remaja itu sedang duduk bersama di satu meja kosong di dalam restoran yang sama. Nichkhun meletakkan gelas minumnya ke atas meja dan memicingkan matanya. Ia merasa mengenali seorang remaja namja itu.

“Seungri?” gumamnya, sembari mencoba mengingat-ngingat lagi wajah yang sama dari foto yang ia lihat di ponsel Sunmi. Nichkhun kini yakin bahwa ia tidak sedang salah lihat. Itu benar-benar Seungri dan namja itu sedang bersama seorang yeoja yang tidak Nichkhun kenal.

Nichkhun terus menatap kedua pasang remaja SMU itu seiring dugaan-dugaan itu terus mendesak rongga kepalanya. Nichkhun melihat tangan Seungri bertaut mesra dengan tangan yeoja itu. Bukankah ia adalah namjachingu Sunmi? Mengapa ia bisa ada di sini bersama yeoja lain sementara—oh, chakkaman! Nichkhun terlonjak dari duduknya.

Yuri ikut terkejut saat melihat Nichkhun. “Oh, Nichkhun-ssi, waeyo?”

“Yuri-ssi, mianhaeyo, tapi,” Nichkhun tiba-tiba berdiri dari duduknya dan mengenakan kembali mantelnya. “Aku harus segera pergi sekarang.”

Yuri melirik arlojinya dan mendongak. “Tapi, ke mana? Jam istirahat makan siang kan belum selesai? Mengapa kau harus terburu-buru?”

Ani, ini bukan soal jam makan siang atau apapun. Aku masih harus pergi ke suatu tempat,” tukas Nichkhun. Ia meninggalkan beberapa lembar uang won di atas meja dan pamit pada Yuri, tanpa meminta persetujuan yeoja itu lagi.

Nichkhun berlari ke luar restoran dan mencegat sebuah taksi. Sesuai dengan permintaannya, taksi itu membawanya ke halte bus tadi. Dan setelah membayar tarif taksi, Nichkhun melompat ke luar dari sana dan mencari-cari sosok Sunmi di sana. Walau tidak menemukan Sunmi di mana pun, Nichkhun tetap merasa lega.

“Setidaknya ia tidak cukup bodoh untuk terus menunggui namja gila itu,” gumam Nichkhun di antara engahan napasnya.

***

“Kau menungguinya tapi ia tidak datang?” pekik Jo Kwon dengan raut terkejut yang berlebihan.

Sunmi mendelik dan mendorong wajah Jo Kwon untuk menjauh darinya, lalu mengangguk lemah. “Ne, ia juga tidak memberiku kabar semalam. Aku mencoba menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif.”

Jo Kwon melipat kedua lengannya di atas dada dan mendecak. “Aish~ Namja itu. Berani-beraninya ia melakukan itu padamu.”

“Tapi, mungkin saja ia sedang ada masalah,” timpal Sohee, mencoba berpikir positif. “Ia tidak jadi datang karena terjadi suatu masalah yang menimpa dirinya.”

Sunmi mengangguk lemah. “Ne, mungkin saja begitu.”

“Tapi setidaknya ia harus memberi kabar padamu jika ia memang tidak jadi datang,” tukas Jo Kwon, masih kesal. “Bukannya diam saja dan membuatmu menunggu sepanjang hari.”

Untuk yang satu itu, Sohee terpaksa juga ikut mengangguk menyetujui. Sohee mengusap punggung Sunmi dan berkata, “Sudahlah. Tidak usah merasa terlalu kecewa. Lagipula, kau bisa bertemu dan menanyakan padanya nanti saat jam istirahat.”

Sunmi mengangguk dan tersenyum kearah dua sahabatnya itu. Ketiga remaja itu lalu melanjutkan obrolan mereka dengan topik yang lebih menarik, sembari berjalan memasuki gerbang sekolah. Saat mendengar Jo Kwon yang bercerita tentang kucing betina peliharaannya yang melahirkan enam anak kucing sekaligus, pandangan Sunmi teralih pada sosok seseorang yang mereka lewati di gerbang sekolah. Ia merasa melihat ada seorang namja sedang berdiri di depan dan bersandar pada tiang penyangga gerbang.

Ketika Jo Kwon dan Sohee mulai terhanyut oleh dunia keduanya masing-masing, diam-diam Sunmi memisahkan diri dengan berjalan mundur beberapa langkah dan tersentak saat melihat Nichkhun tersenyum angkuh padanya. Sunmi menganga melihat penampilan Nichkhun yang dibalut dengan seragam SMU Kirin.

“Mengapa melihatiku seperti itu?” tanya Nichkhun pada Sunmi, masih dengan tersenyum angkuh. “Apakah aku terlihat begitu tampan dengan seragam SMU ini?”

Sohee yang menyadari ketidakberadaan Sunmi di antara dirinya dan Jo Kwon, menoleh ke belakang dan mendapati Sunmi sedang berhadapan dengan seorang namja asing. “Sunmi-ah!” panggilnya.

Sunmi bergidik kearah Nichkhun, lalu berpaling pada Sohee dan menyahut pada sahabatnya, “Ne?”

“Apa yang kau lakukan di situ? Kajja! Kita masih harus segera masuk ke dalam kelas!”

Sunmi mengangguk dengan ragu, lalu berlari menghampiri Jo Kwon dan Sohee. Sesekali, ia menoleh ke belakang untuk melihat kearah Nichkhun. Nichkhun tersenyum tipis kearahnya dan mengikuti ketiga remaja itu dari belakang. Saat menyadari itu, Sunmi kembali menoleh ke depan dan meringis. Mengapa ahjussi itu bisa ada di sini?

***

“Siapa namja tadi?” tanya Sohee pada Sunmi saat keduanya sedang menyusuri koridor sekolah dengan perlengkapan pesta prom di pelukan masing-masing.

Namja siapa yang sedang kau bicarakan ini?” Sunmi balik bertanya dengan tenang, berpura-pura tidak mengingat.

“Jangan bohong padaku!” gerutu Sohee. “Aku yakin kau tahu siapa yang sedang kita bicarakan. Namja yang berdiri di depan gerbang sekolah tadi. Siapa namja itu? Ia bukan siswa sekolah kita, kan? Tapi, apa ia benar siswa SMU? Mengapa wajahnya terlalu tua untuk ukuran anak SMU?”

Sunmi menggelengkan kepala. “Aku sama sekali tidak mengenalnya. Mungkin saja ia itu siswa pindahan atau siswa dari pertukaran pelajar, maka dari itu wajahnya terlihat asing.”

Sohee mendelik tidak percaya “Tapi, apa kau yakin kau tidak mengenalnya? Kulihat tadi namja itu sempat mengatakan sesuatu padamu.”

Sunmi meringis kesal. “Aish~ Sudahlah. Yang jelas, aku sudah mengatakan padamu bahwa aku tidak mengenal namja itu. Titik.”

Sohee angkat bahu dan menyerah untuk mengetahui lebih tentang namja yang sedang mereka bicarakan—Nichkhun. Sohee dan Sunmi berpisah di ujung koridor. Sementara Sohee terus naik ke tangga untuk menuju ke kelas, Sunmi berbelok ke kanan untuk menuju ruang seni. Ia masih harus mengatur dekorasi untuk pesta prom nanti di sana.

***

Nichkhun duduk di pinggir jendela dan menarik kerainya untuk menatap ke luar jendela. Tepat di bawah sana, ia melihat sebuah pohon besar yang biasa dijadikan tempat berkumpul saat jam istirahat oleh para siswi perempuan. Mereka akan tertawa, saling bertukar gosip, dan membanggakan cat kuku baru mereka terhadap satu sama lain. Nichkhun mengulum senyum, membayangkan masa lalunya, bagaimana ia selalu menghabiskan waktu istirahat dengan mengamati gadis pujaannya lewat kerai jendela itu.

Senyum yang terukir di bibirnya perlahan berubah menjadi simpul menyedihkan. Nichkhun mulai mengiba pada dirinya sendiri. Ia merasa menjadi seorang pengecut setiap kali membayangkan hal itu. Hanya bisa memuja, tanpa bisa mengungkapkan. Sangat memalukan, pikirnya.

Nichkhun menarik tangannya dengan segera, menutup kerai, dan menoleh ke belakang saat mendengar pintu ruang seni itu berderit. Ia mendesah panjang melihat Sunmi berdiri di sana dengan raut terkejut.

“Oh, ahjussi?”

Nichkhun turun dari duduknya dan menyisipkan kedua tangan ke dalam saku celananya. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya sambil menuding hiasan-hiasan yang ada di dalam pelukan Sunmi.

Sunmi tersenyum kecut. “Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu? Apa yang kau lakukan di sekolahku?”

Nichkhun menunduk dan menarik jas bagian kirinya, lalu menunjuk sebuah papan nama dengan lambang sekolah Kirin disertai nama panjangnya sendiri yang tercetak jelas di sana. Ia melirik Sunmi dan berujar, “Apakah salah jika seorang alumni datang ke sekolahnya yang dulu?”

Sunmi menganga tidak percaya. “Ya, tapi kau tidak perlu berdandan seaneh itu untuk datang kemari.”

Wae?” Nichkhun mengamati dirinya dari bawah ke atas dan angkat bahu. “Ada yang salah dengan dandananku?”

Geureum. Lihat!” Sunmi menuding seragam yang dipakai Nichkhun, lalu menatap namja itu. “Wajahmu itu terlihat jauh lebih usang daripada bekas seragammu sendiri, ahjussi.”

Mwo?” Nichkhun memekik kesal, tidak menerima dengan perkataan Sunmi. “Ya, tarik perkataanmu kembali atau—”

Nichkhun tidak meneruskan ucapannya ketika melihat Seungri dan seorang yeoja yang sama dilihatnya tempo hari melintas di depan jendela luar ruang seni. Nichkhun menarik tangan Sunmi bersamanya dan menyeret yeoja itu dengan paksa untuk bersembunyi ke dalam backstage saat melihat Seungri dan yeoja asing itu sedang berjalan menuju ruang seni.

Ya, ahjussi, mwohaneungoya?” pekik Sunmi, merasa aneh dengan sikap Nichkhun.

Nichkhun mendelik kearah Sunmi dan mengisyaratkan yeoja itu untuk diam. Walau merasa bingung, Sunmi tetap mengikuti perintah Nichkhun. Keduanya bersembunyi di balik pintu backstage dan mengintip ke luar melalui cela kecil pintu backstage yang tidak tertutup rapat.

Sunmi terkesiap saat melihat pemandangan di hadapannya itu. Seungri tengah bersama seorang yeoja yang ia kenali sebagai ketua mading di sekolahnya—Jiyeon. Keduanya duduk di bangku kosong penonton sambil berpegangan mesra dan asyik membicarakan sesuatu. Sunmi menelan ludah dengan susah payah. Rasa cemburu yang panas dan merah itu menjalar ke seluruh kulitnya dan naik ke mata dan berubah menjadi linangan air mata.

“Apa yang akan mereka lakukan?” bisik Sunmi, lebih kepada dirinya sendiri.

Nichkhun menatap wajah Sunmi dan merasa tidak nyaman dengan situasi itu. Tadinya, ia berniat datang ke sekolah Sunmi untuk memberitahu mengenai apa yang dilihatnya tempo hari, saat sedang bersama Yuri di restoran, tapi sepertinya usahanya sudah terjawab dengan bukti yang lebih nyata.

Nichkhun menunduk dan melihat air mata Sunmi jatuh ke atas lantai. Sunmi menunduk dan Nichkhun mulai menyadari ada yang salah. Ia beralih menatap sepasang dua remaja yang ada di bangku penonton dan terkejut melihat Seungri dan Jiyeon kini bertukar cium dengan sangat mesra. Sementara itu, sosok di sebelahnya semakin hancur.

Sunmi mulai terisak dan bahunya berguncang hebat. Isakan tangisnya terdengar putus-putus dan meledak-ledak dalam satu hitungan tertentu. Takut jika Seungri dan Jiyeon bisa mendengarnya, Nichkhun mencoba menenangkan Sunmi dengan mengusap punggung Sunmi. Tapi tangis Sunmi semakin menjadi. Alih-alih terus melanjutkan mengusap punggungnya, Nichkhun beralih menggunakan metode lain. Ia menarik tubuh Sunmi ke dalam pelukannya dan Sunmi tidak menolak saat itu.

Yeoja itu menenggelamkan wajahnya di dada Nichkhun dan terisak-isak sepuasnya, tanpa harus takut terdengar oleh Seungri dan Jiyeon. Suara isaknya yang teredam oleh dada Nichkhun terdengar sangat memilukan, membuat Nichkhun semakin tidak tahan. Namja itu terus mengusap punggung Sunmi dan membisik, “It’s okay if you want to cry.”

***

Sunmi membalik botol soju yang telah kosong itu dan meneropong wajah di depannya, lalu tersenyum bodoh melihat wajah Nichkhun yang berubah menjadi tidak jelas. “Ahjussi, lihatlah, wajahmu terlihat seperti orang idiot!” serunya dengan girang.

Nichkhun mendengus, merebut botol soju itu dari Sunmi dan menarik tangan yeoja itu. “Kajja! Kita pulang sekarang!”

Sunmi menepis tangan Nichkhun dan berseru marah, “Shireo!”

Ya, lihatlah dirimu! Kau sudah mabuk!”

Sunmi menunduk, mengamati dirinya dengan mata merah dan setengah redup, lalu mendongak lagi. “Aku baik-baik saja.”

Nichkhun menggeleng dan mendesah. “Ani. Kau sedang tidak baik-baik saja. Kajja! Kuantar kau pulang ke rumahmu.”

“Tapi dengan satu syarat!” tukas Sunmi.

Mwo?”

Sunmi menunjuk-nunjuk punggung Nichkhun. “Gendong aku di punggungmu.”

Nichkhun mengerutkan alis. “Mwo? Ya, kau punya dua kaki, jadi pergunakan kedua kakimu untuk berjalan. Kajja!”

Shireo!” Lagi-lagi, Sunmi menepis uluran tangan Nichkhun. “Aku tidak mau pulang kalau begitu.”

Nichkhun menekan pelipisnya dan mendesah panjang. “Arasseo, arasseo.” Namja itu akhirnya membungkuk dan berkata, “Naiklah ke punggungku.”

Sunmi menyeringai seperti anak kecil yang kegirangan dan melompat ke atas punggung Nichkhun. Nichkhun akhirnya berusaha menguatkan pergelangan kakinya karena harus menahan beban tubuh Sunmi. Sementara itu, Sunmi merapatkan kepalanya pada kepala Nichkhun dan terus menggumam tentang Seungri.

Ya, berhenti berbicara dan tunjukkan ke mana jalan rumahmu!” desis Nichkhun.

“Oh! Ahjussi, lihat! Ada singa!” Sunmi berseru sambil menunjuk seekor kucing berbulu cokelat melintas di hadapan mereka.

“Aish~ Itu kucing, babo! Jangan banyak mengkhayal dan tunjukkan jalan rumahmu!”

Sunmi mengamati perempatan jalan yang ada di hadapannya dengan mata memicing. Walau dalam keadaan mabuk, yeoja itu masih bisa mengerti perkataan Nichkhun. Ia menunjuk kearah kanan, dan Nichkhun mengikutinya.

“Rumahku ada di sana. Lurus saja ke depan sampai kau menemukan rumah bercat hijau muda,” kata Sunmi dengan suara menggumam.

Nichkhun mengangguk dan melanjutkan perjalanan mereka. Sementara ia terus berjalan, Sunmi mulai merasakan kantuk menyerang kedua kelopak matanya. Yeoja itu mulai jatuh tertidur dengan posisi kepala masih sama—bersandar pada sisi kepala Nichkhun.

Nichkhun melirik wajah Sunmi yang sedang tertidur dan mengulum senyum. “Kepalanya sangat ringan. Pasti otaknya sangat kecil.”

Ahjussi..”

Nichkhun menoleh pelan saat mendengar Sunmi memanggilnya. Mata yeoja itu masih terpejam rapat. Tapi Nichkhun bisa melihat garis mata Sunmi yang basah, lalu tepat di ujung garis matanya, air mata itu mengalir seperti butiran salju yang meleleh.

“Apakah aku tidak begitu pantas untuk Seungri? Kenapa dia harus melakukan hal itu padaku, ahjussi? Padahal aku begitu mencintainya,” lanjut Sunmi, masih dengan mata terpejam dan air mata terus mengalir dari matanya.

Nichkhun mendesah, tidak tahu harus berkata apa. Maka Nichkhun memilih diam dan terus berjalan, sampai air mata Sunmi akhirnya mengering dan yeoja itu benar-benar berhenti menggumam. Untuk beberapa saat, Nichkhun dirundung perasaan tidak nyaman. Ia merasa iba pada yeoja itu, tapi justru merasa seperti pecundang karena tidak bisa melakukan apa-apa selain hanya diam dan membiarkan Sunmi memeluk pundaknya dengan erat dan bersandar pada kepalanya.

To be continued…

Advertisements

47 thoughts on “Hello Schoolgirl (Part 3)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s