Hello Schoolgirl (Part 4)

Author: Tirzsa

Title: Hello Schoolgirl

Main cast: 2PM’s Nichkhun & Wonder Girls’s Sunmi

Genre: Romance, Comedy

Rating: PG-15

Length: Chapter

Disclaimer: Terinspirasi dari film Korea dengan judul yang sama & film Thailand “First Kiss.”

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3

***

Sunmi terkejut sendiri melihat refleksi dirinya di depan cermin wastafel. Matanya bengkak, wajahnya pucat, dan rambutnya kacau. Ia mencoba mengingat-ngingat lagi di tengah kepalanya yang masih terasa sedikit pusing dan sakit, dan akhirnya tersentak dengan kaget. Sunmi meringis di depan wastafel, menekan buku-buku jarinya di pinggir wastafel dengan keras.

Sunmi telah mengingat semuanya, kejadian kemarin. Bayangan Seungri dan Jiyeon berciuman di ruang seni sudah cukup mengacaukan moodnya pagi itu. Dan mendadak ia menjadi sangat malas untuk pergi ke sekolah. Pikirannya diganggu oleh bayangan-bayangan tentang bagaimana ia bertemu Seungri di sekolah nanti? Bagaimana jika ia bertemu dengan Jiyeon nanti? Bagaimana ia harus bereaksi saat berhadapan dengan kedua orang itu?

“Aish~” Sunmi mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. “Brengsek! Ini semua gara-gara Seungri, namja tolol itu! Suatu saat, aku akan membalasnya nanti!”

Nyonya Lee yang kebetulan sedang melintas di depan pintu kamar mandi, menoleh saat mendengar suara anaknya yang menyumpah-nyumpah dari dalam. Yeoja paruh baya itu masuk ke dalam dan mendapati Sunmi terus menggumam seorang diri di depan wastafel.

Nyonya Lee menepuk bagian belakang kepala Sunmi dengan keras, hingga Sunmi tersentak ke depan dan meringis. “Ya, mwohaneungoya?” pekik nyonya Lee. “Berhenti menggumam dan cepat mandi sebelum kau terlambat ke sekolah!”

Sunmi mengusap bagian belakang kepalanya dan mendelik kesal kearah oemmanya. “Ne, oemma.”

Nyonya Lee baru saja hendak keluar dari kamar mandi, namun langkahnya kembali terhenti. “Chakkaman,” ia menoleh pada Sunmi, lalu melanjutkan, “Tadi malam, saat oemma masih belum pulang dari bekerja, aku mendengar dari bibi bahwa kau pulang terlambat. Apa itu benar? Darimana saja kau?”

Mata Sunmi membulat dan ia menelan ludah dengan susah payah. “Hm, soal itu—“

“Dan bibi bilang kau bau alkohol dan diantar pulang oleh seorang namja,” gumam oemmanya dengan nada selidik. “Apakah kau mabuk-mabukkan bersama namja itu?”

Sunmi mencoba mengingat-ngingat lagi. Ia mendongakkan kepalanya ke atas dan menatap langit-langit kamar mandinya. Sunmi memang mengingat bahwa ia pulang dalam keadaan mabuk, tapi tidak ingat soal namja yang mengantarkannya pulang. Namja terakhir yang bersamanya kemarin adalah—oh, chakkaman! Sunmi tersentak dan menelan ludah.

Ahjussi?” gumamnya tak percaya.

Mworago?” tanya oemmanya. “Nugu?”

Sunmi cepat-cepat menggeleng dan tersenyum. “Ani, bukan siapa-siapa. Soal mabuk-mabukkan itu, aku sama sekali tidak mabuk. Hanya saja kemarin aku terlalu lelah dan tertidur. Oemma tahu, kan, bahwa sekolahku akan mengadakan pesta prom beberapa minggu lagi? Jadi aku harus tinggal di sekolah untuk waktu yang lebih lama karena harus mempersiapkan soal pesta prom itu.”

Sunmi mendesah lega melihat oemmanya mengangguk-angguk maklum. “Hm, baiklah,” kata nyonya Lee. “Jika itu memang karena pesta prom, oemma akan memakluminya.”

Setelah oemmanya keluar dari kamar mandi, Sunmi meraih pasta gigi dan sikat gigi, lalu mulai menggosok giginya. Ia menatap wajahnya di depan cermin dan berhenti menggosok gigi. Diamatinya wajahnya sendiri dengan raut bingung.

Ahjussi itu, yang benar-benar mengantarku pulang?”

***

Jam istirahat.

Sunmi duduk di bangkunya, mendongakkan kepalanya ke langit-langit kelas untuk mencegah air matanya berlinang. Ia masih belum bisa melupakan sakit hatinya pada Seungri. Seungri hari ini tidak datang ke sekolah, entah karena apa. Sunmi seharusnya bersyukur karena tidak perlu bertemu dengan namja itu setelah apa yang dilihatnya kemarin, namun Sunmi merasa semakin mengasihani dirinya karena masih harus merasa kuatir dengan keadaan Seungri.

Jo Kwon dan Sohee yang duduk di bangku belakang Sunmi saling bertukar pandang, merasa kuatir. Jo Kwon membungkuk kearah Sunmi dan berbisik, “Ya, Sunmi-ah, berhentilah bersikap aneh. Berhentilah memikirkan namja itu.”

Sunmi hanya diam dan mencoba tenang. Air mata masih menggantung di pelupuk matanya dan ia sudah berjanji untuk tidak berkedip atau air matanya akan jatuh. Jo Kwon dan Sohee mendesah. Kedua sahabat itu akhirnya duduk bersama Sunmi, lalu ikut mendongakkan kepala mereka ke langit-langit kelas.

“Sunmi-ah, sebaiknya kau jangan terlalu memikirkan Seungri lagi,” kata Jo Kwon dengan kepala menengadah. “Mianhaeyo jika ramalanku soal Seungri salah. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu kecewa.”

Gwaenchanha,” sahut Sunmi pelan. “Ini bukan soal ramalan itu.”

Jo Kwon meringis dan mengusap tengkuknya. “Ya, tapi, apa kau tidak lelah mendongakkan kepalamu terus seperti ini? Aku bahkan sudah merasakan pegal di belakang leherku.”

Sunmi menggeleng pelan dengan sangat hati-hati. “Ani, aku sengaja. Agar air mataku tidak jatuh.”

Jo Kwon dan Sohee menyerah. Mereka menurunkan kepala mereka dan meregangkan otot leher mereka sembari meringis. Tak berapa lama kemudian, mata Jo Kwon dan Sohee membulat saat melihat seorang namja berdiri di ambang pintu, yang rupanya telah mengawasi kegiatan mereka sejak tadi dengan alis berkerut.

“Sunmi-ah..” gumam Jo Kwon sembari mengguncang pundak Sunmi.

Wae?” sahut Sunmi kesal.

Namja itu—”

Sunmi tidak mendengar Jo Kwon melanjutkan ucapannya. Ia sendiri mendapati dirinya terkejut ketika melihat wajah Nichkhun tiba-tiba muncul di atas wajahnya dengan jarak yang cukup dekat. “Mwohaneungoya?” tanya Nichkhun.

Sunmi tersentak dan menurunkan wajahnya dengan cepat. Ia mendengus kearah Nichkhun yang tiba-tiba muncul di hadapannya—masih lengkap dengan pakaian seragamnya—tersenyum angkuh. “Kau mengagetkanku, ahju—

Nichkhun melotot kearah Sunmi dan mengangkat alisnya setinggi mungkin, senyumnya membeku di sudut bibir, memberi kode pada yeoja itu untuk tidak ceroboh. Sunmi dengan cepat mengerti kode itu dan memotong ucapannya dengan napas tertahan. Sohee dan Jo Kwon bergantian memandangi dua pasang manusia yang bersikap aneh di depan mereka.

“Apa yang kalian berdua lakukan?”

Sunmi dan Nichkhun segera menggeleng dengan senyum kecut. “Bukan apa-apa.”

***

Sunmi, Nichkhun, Sohee dan Jo Kwon duduk berempat di bangku kantin. Jo Kwon bertukar pandang kearah Sohee, lalu keduanya mengangguk-angguk dengan lagak mencurigakan. Kedua orang itu beralih mengamati Sunmi dan Nichkhun yang saling membuang muka.

“Sebenarnya apa hubungan kalian?” tanya Jo Kwon dengan selidik.

Sunmi menoleh, melirik Nichkhun yang masih memalingkan wajah dan menyergah, “Kami? Kami tidak punya hubungan apa-apa.”

Jeongmalyo?” tanya Sohee tak percaya. Yeoja itu memicingkan matanya dan melempar tatapan menusuk pada dua sosok manusia di hadapannya itu.

Sunmi baru saja kembali ingin angkat bicara saat tiba-tiba ponselnya bergetar di saku kemejanya. Yeoja itu menunduk dan merogoh ponselnya. Matanya membulat saat melihat nama Seungri tampil di layar ponselnya. Nichkhun yang penasaran, ikut menjulurkan kepala untuk melihat dan segera merebut ponsel itu dari Sunmi.

Ya, mwohaneungoya?” pekik Sunmi, terkejut dengan tindakan Nichkhun yang tiba-tiba.

Nichkhun menjauhkan ponsel Sunmi saat yeoja itu berusaha menggapainya. “Mengapa kau masih berhubungan dengan Seungri, huh?”

“Itu kan bukan urusanmu! Kembalikan ponselku!”

Nichkhun mendorong tangan Sunmi untuk menjauh. “Mworago? Bahkan setelah kau melihat Seungri berciuman dengan yeoja lain, kau masih bisa menyimpan perasaan untuknya? Apa kau sudah gila?”

Jo Kwon dan Sohee bergantian memandangi wajah Nichkhun dan Sunmi yang sama-sama merengut seperti benang kusut. Keduanya terus bergulat, memperebutkan ponsel berwarna merah muda milik Sunmi di atas udara. Situasi semakin rumit saat Sunmi dan Nichkhun saling menggumam satu sama lain, berteriak, menggetarkan meja kantin, dan membuat seisi kantin menoleh kearah mereka dengan pandangan risih. Jo Kwon mulai tidak tahan dan tiba-tiba berdiri melabrak meja.

“Cukup!” teriaknya.

Ketiga orang di meja itu—Sunmi, Nichkhun, bahkan Sohee—terkejut melihat reaksi marah Jo Kwon. Napas Jo Kwon memburu, menyorot sinis kearah Sunmi dan Nichkhun yang kini membelalak dengan gerakan membeku. Sohee melirik Sunmi dan Nichkhun, lalu kembali melirik Jo Kwon yang berdiri di sebelahnya.

Sohee menarik kaki lengan kemeja Jo Kwon dan bergumam, “Kwon-ah, apakah ini benar-benar kau? Aku tidak pernah melihatmu berteriak dengan suara sejantan itu.”

Jo Kwon mendelik kesal kearah Sohee, membuat sahabatnya itu menelan ludah karena telah salah bicara, lalu menunduk. Jo Kwon beralih menatap Sunmi dan Nichkhun dan berkata, “Sebenarnya apa hubungan kalian? Dan kau!” Jo Kwon menuding Nichkhun. “Kau ini sebenarnya siapa? Mengapa kau tiba-tiba ada di sekolah kami? Aku baru kali ini melihatmu. Dan kau, Sunmi!” Jo Kwon beralih menuding Sunmi. “Kau bilang kau tidak mengenal namja ini, tapi mengapa kalian terlihat sudah saling mengenal satu sama lain? Bahkan ia mengetahui soal Seungri. Katakan padaku yang sejujurnya!”

Nichkhun melirik Sunmi sekilas dan tiba-tiba berdiri. Ia tersenyum ramah pada Jo Kwon dan berkata, “Aku permisi sebentar,” lalu pergi.

Sunmi melihat kepergian Nichkhun yang masih membawa ponselnya dengan mata membulat, lalu ikut berdiri dan pamit pada Jo Kwon. “Aku juga,” katanya, lalu mengikuti Nichkhun dengan gerakan cepat.

Jo Kwon mengerutkan alis dengan kesal sambil bertolak pinggang, mengawasi kepergian dua orang itu. Ia menunduk pada Sohee dan mendesis kesal, “Lihat, bagaimana mereka berpura-pura untuk menghindari pertanyaanku barusan!”

Sohee hanya tersenyum kecut dan angkat bahu, dan itu membuat Jo Kwon semakin merasa terintimidasi. Bahkan di saat seperti itupun, Sohee sama sekali tidak bisa membantu.

***

Sunmi berlari kecil mengejar Nichkhun. Dilihatnya Nichkhun berhenti berjalan tepat di depan pintu masuk kantin. Sunmi ikut berhenti mengejar dan mendekati namja itu dengan kesal.

“Kembalikan ponselku sekarang!” perintahnya sambil menengadahkan tangannya di depan Nichkhun.

Nichkhun menatap ponsel Sunmi dan melihat nama Seungri masih berkedip-kedip. Ia mengulurkan tangan, hendak menyerahkan ponsel itu pada Sunmi, namun tiba-tiba mengangkat ponsel itu ke udara dan menunjukkan layar ponsel itu pada Sunmi. “Lihat,” katanya. Sunmi menurut, Nichkhun menarik kembali tangannya dan menempelkan ponsel itu ke telinganya dengan lagak mengejek.

Ya, neo—

Nichkhun mengulurkan sebelah tangannya untuk menahan kepala Sunmi agar yeoja itu tidak dapat mendekat kearahnya. Sementara itu, tangan satunya sedang sibuk mengangkat telepon Seungri.

Yeobboseo?” sahutnya dengan santai.

Oh! Nuguya? Di mana Sunmi?” tanya Seungri, terkejut tidak mendapati Sunmi yang seharusnya mengangkat teleponnya.

“Sunmi?” Nichkhun melirik Sunmi yang terus mencoba merebut ponselnya, namun tertahan oleh tangan Nichkhun yang terus mendorong kepalanya. “Dia sedang sibuk sekarang ini,” lanjut Nichkhun. “Kau sendiri, mengapa masih berani meneleponnya, huh?”

Mworago? Tentu saja aku masih meneleponnya. Aku namjachingu Sunmi. Chakkaman, kau ini sebenarnya siapa, huh? Mengapa ponsel yeojachinguku ada padamu?

Nichkhun bergidik geli. “Ya, apa kau bilang barusan? Ponsel ‘yeojachingu’-mu?” pekik Nichkhun. “Dengar baik-baik, Sunmi bukan yeojachingumu lagi dan sekarang ia sudah membencimu. Mengerti? Berhenti menghubunginya dan jangan pernah tunjukkan wajahmu di hadapannya lagi!”

Nichkhun menutup flip ponsel Sunmi dan melepas tangannya dari kepala Sunmi. Sunmi meringis kesal setelah mendengar seluruh ucapan Nichkhun barusan dan merebut ponsel itu dari tangan Nichkhun. “Ya, mwohaneungoya?!”

Mwo? Aku hanya sedang membantumu untuk putus darinya,” sahut Nichkhun santai.

“Tapi kenapa kau harus ikut campur? Itu kan urusanku dengan Seungri, bukan urusanmu!”

Ya, seharusnya kau berterimakasih padaku karena aku sudah membantumu!”

Sunmi mendorong tubuh Nichkhun dengan kesal. Ia mendengus dan membentak, “Apa sebenarnya maumu? Mengapa kau mengusik kehidupanku? Aku bahkan baru mengenalmu, mengapa kau ikut campur sampai sejauh ini dalam kehidupan seseorang yang baru kau kenal?!”

Nichkhun merasakan tamparan keras pada perasaannya. Dan entah kenapa juga, ia tiba-tiba merasa harus sedih dengan perkataan Sunmi barusan. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya pada Sunmi dan menggumam, “Ne, aku berterimakasih pada ucapanmu barusan dan perkataanmu sudah cukup menyadarkanku bahwa seharusnya sejak dulu aku tidak harus berbuat banyak untukmu saat melihat namja brengsek itu jalan bersama dengan yeoja yang berciuman dengannya di ruang seni.”

Keheningan yang pekat membuat jarak di antara keduanya terasa begitu dekat, hingga Sunmi bisa mendengar degup jantung dirinya dan Nichkhun yang berdetak. Ia menelan ludah dengan suara keras dan menatap Nichkhun dengan perasaan aneh.

Mworago?”

“Kau tahu, aku bahkan harus mengeluarkan uang banyak untuk membayar taksi dan kembali ke terminal bus untuk mengetahui apakah kau masih menunggui Seungri hari itu,” lanjut Nichkhun dengan suara bergetar. “Dan aku berniat untuk memberitahunya padamu agar kau berhenti mencintai namja seperti dirinya, tapi ternyata usaha baikku sia-sia.”

Telinga Sunmi memanas mendengar pengakuan manis itu. Tapi, hatinya hancur seketika saat Nichkhun mengakhiri percakapan mereka dengan sorot dingin dan sebuah tabrakan kecil pada bahunya ketika namja itu berjalan meninggalkannya. Sunmi membalikkan badan dan melihat punggung Nichkhun yang menjauh. Ia ingin sekali berteriak, memanggil Nichkhun, tapi lidahnya terasa kelu. Dan akhirnya, ia hanya bisa menggumam pelan, “Ahjussi..” dan mengawasi kepergian Nichkhun dengan rasa sesal menumpuk di dadanya.

***

Jemarinya dengan cepat menekan tombol-tombol pada keyboard komputer, lalu ia terdiam sebentar, menatap layar komputernya, memerhatikan hasil kerjanya, namun tiba-tiba meringis dengan kesal. Tidak ada yang salah dengan hasil ketikannya. Rapi, seperti biasa. Tapi pikiran Nichkhun teralih setiap kali mengingat tentang ucapannya pada Sunmi beberapa hari yang lalu.

Nichkhun menempelkan keningnya pada layar kaca komputer dan meringis, “Aish~ Mengapa aku bisa sampai sebegitu bodoh mengucapkan hal itu padanya? Dia pasti akan berpikir bahwa aku aneh.”

Gwaenchanha?”

Nichkhun menarik kepalanya dan mendongak. Dilihatnya Junsu berdiri di sudut meja kerjanya dengan tatapan mengiba. “Hm, ne, gwaenchanha,” sahut Nichkhun, canggung. Ia memperbaiki posisi duduknya dan melanjutkan sambil menuding berkas-berkas yang ada di pelukan Junsu, “Ige mwoya?”

Junsu menunduk menatap berkas-berkas itu. “Oh, ige?”

Nichkhun mengangguk. Junsu mengangkat kepalanya dan menyeringai. “Jackpot!” serunya. “Hari ini Park sajangnim memerintahkan padaku untuk memberimu berkas-berkas ini untuk dikerjakan sebagai hukuman karena beberapa hari kemarin kau sering terlambat masuk bekerja.”

Junsu meletakkan berkas-berkas itu ke atas meja Nichkhun, tepat di atas berkas-berkas yang bahkan belum sempat Nichkhun selesaikan hingga membuat tumpukan yang cukup tinggi. Nichkhun mengamati tumpukan itu dengan mulut menganga. “Ini semua? Harus kukerjakan?”

Junsu mengangguk mantap, menepuk berkas-berkas itu dan berseru, “Yup! Dan Park sajangnim juga mengatakan bahwa kau harus menyelesaikannya malam ini juga, membuat salinan berkas-berkas ini dan mengumpulkannya di ruang kerjanya esok pagi.”

Nichkhun mendesah, memejamkan mata dan menekan keningnya kuat-kuat. Junsu terbahak melihat penderitaan sahabatnya itu dan menepuk pundaknya. “Selamat bekerja!”

***

Nichkhun menguap. Ia mendongak, menatap jam dinding yang ada di ruang kerja. Hampir pukul 12 malam. Ia sudah mengerjakan seluruh berkasnya dan kini tinggal membuat salinannya dengan mesin fotokopi, lalu membaginya menjadi beberapa bagian dan meletakkannya di meja Park sajangnim. Sesudah itu, ia bisa menikmati ranjangnya yang nyaman dan hangat di rumah.

Nichkhun mendesah, mengangkat berkas-berkas itu bersamanya dan menghampiri ruang mesin fotokopi. Sembari menunggu mesin fotokopi melaksanakan tugasnya, Nichkhun meregangkan tubuhnya yang pegal karena harus terus duduk dan mengerjakan berkas itu selama berjam-jam di depan komputer. Suasana kantor juga sudah sangat sepi dan gelap. Hanya beberapa lampu saja yang menyala. Nichkhun mengamati keadaan sekelilingnya dan mendadak bulu-bulu halus di kedua lengannya berdiri. Menakutkan juga, pikirnya.

Mesin fotokopi itu berhenti berbunyi dan suasana semakin mencekam. Nichkhun mempercepat gerakannya, membawa seluruh berkas-berkas itu dengan sebuah pelukan besar dan berbalik untuk segera keluar dari ruang mesin fotokopi. Baru saja ia hendak mendorong pintu kaca ruangan itu, mata Nichkhun membulat saat melihat sosok seorang yeoja yang berdiri di tengah kegelapan, berdiri di luar pintu dengan rambut yang menutupi seluruh wajahnya. Sosok menyeramkan itu mengingatkannya pada film horor Jepang yang pernah ditontonnya dan telah sukses membuat tidurnya gelisah selama sebulan.

Tangan Nichkhun bergetar hebat saat melihat sosok itu mendekat. Ia begitu ingin berlari dan kabur, namun keadaannya mendesak untuk tetap diam di tempat. Walaupun ia lari, ia akan lari kemana, sementara sosok hantu itu sudah ada di luar ruang fotokopi, mengepungnya. Keringat dingin membasahi sepanjang garis dahi Nichkhun. Kertas-kertas yang ada di pelukannya jatuh ke atas lantai akibat getar ketakutan pada kedua lengannya.

Sosok hantu itu kini tidak lebih dari tiga langkah dari hadapannya. Entah apa juga yang membuat dirinya tetap memberanikan diri untuk tetap diam, namun seluruh tubuhnya sudah bersiaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kini Nichkhun berdiri saling berhadapan dengan sosok berambut panjang itu dengan hanya dibatasi pintu kaca ruang fotokopi. Nichkhun meringis saat melihat sosok itu perlahan-lahan mulai mengangkat wajahnya, dan wajah di balik rambut panjang itu berubah menjadi ekspresi konyol. Sunmi menjulingkan kedua matanya dan menjulurkan ujung lidahnya pada Nichkhun.

Nichkhun terkesiap dan menggertakkan giginya kuat-kuat. “Neo!”

Sunmi terbahak dan menarik pintu kaca itu, lalu menghampiri Nichkhun. “Oh, ahjussi, apakah kau begitu takut? Lihatlah,” Sunmi menunjuk keringat dingin yang membasahi poni Nichkhun dan berdecak, “Kau sampai menggigil seperti itu.”

Nichkhun mendengus. Ia mengusap dahinya dan merasa tenang untuk beberapa saat. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya dengan ketus. “Dan bagaimana juga kau bisa ada di sini, huh?”

Sunmi mengambil setengah tumpukan kertas yang ada di pelukan Nichkhun dan memungut beberapa kertas yang jatuh ke lantai tadi, lalu tersenyum. “Tadi aku menungguimu pulang kantor, tapi kulihat kau tidak keluar-keluar juga, jadi kuputuskan untuk masuk ke dalam sini atas izin satpam kantor.”

Nichkhun mengangguk-angguk, namun tiba-tiba berseru, “Chakkaman, tapi darimana kau tahu aku bekerja di sini?”

Sunmi menuding papan pengenal pegawai yang tersemat di saku kiri kemeja Nichkhun yang mencantumkan nama pegawai, posisi, serta logo perusahaan. “Dari situ.”

Nichkhun menunduk untuk menatap papan pengenalnya dan mendesah. Ia kembali mendongak dan menatap Sunmi. Keduanya bertatapan cukup lama dan Nichkhun mulai merasa kegugupan itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia mulai tidak tahan dan memalingkan wajah, lalu berjalan menghampiri meja kerjanya. Sunmi mengikutinya dari belakang dan juga membantu namja itu meletakkan berkas-berkas itu di atas meja Nichkhun.

Nichkhun menarik kursinya dan mulai sibuk memisahkan berkas-berkas itu. Sunmi mengamati Nichkhun dalam diam dan mulai merasa gelisah. Ia ikut menarik kursi dan duduk di sebelah Nichkhun. Nichkhun menoleh pada yeoja itu dan baru menyadari bahwa Sunmi sedang mengenakan setelan kerja karyawan wanita.

“Oh, mengapa kau berpakaian aneh seperti itu?” tanya Nichkhun sambil menuding pakaian Sunmi.

Sunmi mengamati dirinya dan berkata, “Wae? Apanya yang aneh? Saat kau datang ke sekolahku, kau mengenakan seragam sekolah. Dan sekarang, aku datang ke kantormu, jadi aku juga harus mengenakan pakaian kantor.”

Nichkhun memutar bola matanya dan menggeleng-geleng. “Terserah kau saja.”

Sunmi mulai merasa tidak nyaman dengan keheningan itu. Ia mengamati wajah Nichkhun yang datar-datar saja dan menggumam, “Ahjussi.”

“Hm?” sahut Nichkhun, tanpa menoleh dan masih berkonsentrasi pada pekerjaannya.

“Aku ingin minta maaf soal perkataanku padamu beberapa hari yang lalu,” kata Sunmi dengan nada sesal. “Kau benar, seharusnya aku tidak perlu lagi berhubungan dengan Seungri. Dia itu benar-benar brengsek dan seharusnya aku tidak perlu lagi mengasihaninya.”

Nichkhun hanya mengangguk samar. Terlihat jelas, ia berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri di tengah kegirangan hatinya yang membingungkan.

“Dan sebagai bentuk permintaan maafku, aku akan menemanimu untuk bekerja lembur hari ini dan akan melakukan apapun yang kau suruh,” lanjut Sunmi dengan nada bersungguh-sungguh.

Nichkhun menaikkan sebelah alisnya dan menoleh pada Sunmi. “Oh, jeongmalyo?”

Sunmi mengangguk mantap.

Nichkhun menarik sudut bibirnya dan menunjukkan sebuah senyuman sinis. “Kalau begitu, yang perlu kau lakukan sekarang adalah membuatkanku segelas kopi dan semangkuk mie instan karena aku sedang sangat lapar sekarang dan belum sempat makan malam. Kau bisa memasaknya di dapur OB. Seusai itu, kau harus membantuku untuk memisahkan berkas-berkas ini, membersihkan sampah-sampah yang ada di bawah mejaku, meletakkan berkas-berkas ini di ruang kerja direkturku, dan mematikan semua lampu kantor.”

Sunmi mengernyit kebingungan, sekaligus kesal. “Ya, ahjussi, aku datang kemari untuk membantumu, bukan untuk disuruh-suruh seperti itu. Dan demi Tuhan, aku bahkan harus membersihkan sampah-sampahmu sendiri?”

“Janji tetaplah janji,” tukas Nichkhun dengan seringainya yang menyebalkan.

Sunmi mendengus dan pada akhirnya, tetap melakukannya juga.

***

Nichkhun menyeruput kuah mie instannya sampai tetes akhir dan melenguh panjang. Mie instan sederhana itu terasa begitu lezat di mulutnya, seolah ia baru saja menghabiskan seporsi makanan mahal di restoran sehingga menyisakan satu tetes kuahnya saja bisa berarti rugi. Ia mengusap perutnya yang kenyang dan meletakkan mangkuk kosong itu ke atas meja, lalu menoleh pada Sunmi yang duduk di sebelahnya. Sunmi tampak tertidur di kursinya dengan posisi kepala tertunduk dalam.

Nichkhun mendesah dan menggeleng-gelengkan kepala, namun tetap tersenyum tipis. “Dia pasti sangat lelah.”

Nichkhun mengangkat berkas-berkas yang sudah ia salin ke pelukannya dan meletakkannya di meja kerja Park sajangnim dalam dua tumpukan yang rapi dan tinggi. Seusai itu, ia kembali ke meja kerjanya, membenahi barang-barangnya dan mematikan lampu-lampu di kantor. Ia mengamati Sunmi dan berpikir, haruskah ia membangunkan Sunmi atau tidak? Namun, melihat Sunmi terlihat sangat lelap dalam posisi tidur tidak nyaman seperti itu membuat Nichkhun tidak tega. Ia terpaksa mengangkat tubuh Sunmi ke dalam pelukannya.

Kepala Sunmi terkulai lemah ke atas bahu Nichkhun, sementara lengan kanannya melingkar di leher Nichkhun saat Nichkhun membawa Sunmi ke dalam lift dan hendak keluar dari kantor. Nichkhun mengawasi bergeraknya angka-angka yang ada di atas kepalanya, lalu bergantian memandangi wajah damai Sunmi yang sedang tertidur. Pintu lift berdenting, pintunya membuka, dan menampilkan pemandangan yang kosong di lantai bawah kantor.

Saat Nichkhun hendak keluar dari dari pintu lift, Sunmi menggeliat di pelukan Nichkhun, lalu mengerjap-ngerjapkan matanya. Saat matanya terbuka, ia melihat bayangan buram wajah Nichkhun yang menunduk menatapnya dengan sendu. Perlahan-lahan bayangan itu terlihat semakin jelas ketika matanya juga perlahan-lahan mulai menyesuaikan efek cahaya yang ada di atas kepala Nichkhun. Cahaya lampu itu merambat ke bagian belakang kepala Nichkhun dan membuat Nichkhun tampak bercahaya seperti seorang malaikat.

“Oh, kau sudah sadar?” tanya Nichkhun.

Sunmi dengan tidak sadar mulai terpesona dengan sosok malaikat yang wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya itu. Dan ia akhirnya berhasil menggumamkan sesuatu setelah merasa lidahnya terasa membeku akibat pancaran pesona itu.

Ahjussi, kau tampan sekali.”

Wajah Nichkhun merengut, seperti air keruh. Tangannya bergetar, bukan karena terharu mendengar sanjungan Sunmi. “Sunmi-ah, kau—”

“Aku cantik?” tanya Sunmi dengan raut berseri-seri.

Nichkhun menggeleng dan berseru, “Bukan, tapi sangat berat!”

BRUK!

Nichkhun menjatuhkan Sunmi dari pelukannya dan yeoja itu terguling-guling di atas lantai marmer yang dingin dengan meringis.

***

Gwaenchanha?” tanya Nichkhun dengan perasaan penuh bersalah.

Sunmi yang sedari tadi mengusap lututnya melempar sorot sinis pada sosok di sebelahnya dan berteriak marah, “Kau bahkan masih bisa bertanya apakah aku baik-baik saja setelah kau membuat lututku biru?”

Nichkhun tersentak ke belakang dan mendesah. “Aku kan sudah minta maaf padamu.”

Sunmi tidak lagi menyahut, terus berjalan sambil mengusap lututnya. Tak berapa lama kemudian, mereka akhirnya sampai di depan pagar rumah Sunmi. Keduanya menjulurkan kepala untuk melihat-lihat suasana di dalam, dan terkejut saat melihat bayangan nyonya Lee berdiri di ruang tamu dengan potongan rotan yang panjang di tangannya. Nyonya Lee terlihat marah dan kesal, menepuk-nepuk rotan itu pada telapak tangannya sendiri untuk efek mendramatisir.

Omo! Oemma pasti sedang mencariku!” gumam Sunmi kuatir.

Nichkhun menunduk untuk menatap Sunmi dan merasa aneh. Mengapa ia tidak juga menyadari bahwa ia sedang bersama seorang remaja SMU di tengah malam dan merasa tidak kuatir?

“Apa kau tidak bilang pada oemmamu bahwa kau sedang keluar dan akan pulang telat?” tanya Nichkhun.

Sunmi menoleh untuk menatap Nichkhun dan menyeringai bodoh. “Aku kabur.”

Mwo?” Nichkhun memekik keras, mengacaukan keheningan malam itu.

Sunmi segera membekap mulut namja itu dan menyeretnya untuk bersembunyi di balik dinding pagar yang tinggi saat melihat oemmanya menoleh ke luar karena mendengar suara Nichkhun.

“Jangan berisik!” bisik Sunmi, kesal.

Nichkhun mengangguk, lalu Sunmi melepas bekapannya. “Aku rasa, aku tidak bisa pulang ke rumah sekarang,” lanjut Sunmi dengan nada sesal. “Oemma pasti akan membunuhku jika dia tahu aku pulang tengah malam.”

“Lalu, apa yang akan kau lakukan?”

Sunmi memandangi aspal yang dingin dan kotor itu dengan tatapan memelas. Nichkhun menunduk untuk melihat raut wajah yeoja itu. Tapi, tak berapa lama kemudian, Sunmi mengangkat wajahnya dengan tiba-tiba dan menatap Nichkhun dengan sorot memelas. Nichkhun mendesah panjang, memejamkan mata, dan menekan keningnya kuat-kuat. Seharusnya ia sudah tahu bahwa keadaannya akan selalu menjadi tidak normal setiap kali ia sedang bersama Sunmi.

***

Nichkhun dan Sunmi berdiri di depan pintu apartemen Nichkhun. Keduanya saling bertukar pandang dengan gugup. Nichkhun mengeluarkan kunci apartemennya dari saku celananya dan merasa sedang bermain di film horor, adegan di mana para pemain utama terjebak oleh situasi yang memaksanya untuk membuka salah satu pintu misterius di hadapannya. Pintu misterius itu bisa berisi apa saja. Hantu, pembunuh, atau bahkan aboji dan hyungmu sendiri. Yang terakhir memang tidak menakutkan, tapi keadaan akan berubah jika kau membuka pintu itu sambil membawa seorang yeoja yang masih di bawah umur masuk ke dalam rumah yang dihuni oleh namja di pertengahan umur 20-an.

Aboji dan hyungku mungkin saja sudah tidur,” bisik Nichkhun pada Sunmi. “Tapi kita tetap harus masuk ke dalam dengan sangat hati-hati. Jangan sampai mereka menyadari keberadaanmu sampai esok pagi. Arra?”

Sunmi mengangguk paham dan Nichkhun mulai memutar kunci pada tempatnya. Nichkhun membuka pintu dengan sangat hati-hati dan melihat suasana rumahnya dalam keadaan tenang. Tidak ada suara sama sekali. Kesempatan yang sangat tepat untuk segera menyelinap masuk dan menyembunyikan Sunmi di dalam kamarnya—berhubung kamar tamu sedang digunakan oleh aboji dan hyungnya.

Nichkhun menarik tangan Sunmi bersamanya dan berjinjit-jinjit melewati ruang tengah.

“Khun?”

Nichkhun berhenti, Sunmi menabrak punggung namja itu karena tiba-tiba berhenti berjinjit. Keduanya menoleh dengan raut kuatir kearah ruang TV dan melihat Nichan serta tuan Horvejkul duduk di lantai dengan tas-tas travel mereka.

“Oh, hyung? Aboji? Kalian belum tidur?” tanya Nichkhun dengan mimik kaku. Ia menarik tubuh Sunmi untuk bersembunyi di belakang punggungnya.

Nichan hanya mengangguk samar, lalu mendelik kearah sosok di belakang punggung Nichkhun. “Siapa itu?”

Nichkhun berpura-pura mengamati sekelilingnya dan angkat bahu. “Siapa yang kau maksud? Aku tidak melihat siapa-siapa.”

“Khun~” Tuan Horvejkul memanggil anaknya dengan nada memperingatkan.

Nichkhun menghela napas, menyerah. Ia menarik Sunmi dari belakang punggungnya dan mendorong tubuh yeoja itu ke depan. Sunmi menganga, merasa bingung harus bereaksi seperti apa saat melihat tuan Horvejkul dan Nichan memandanginya dari bawah ke atas dengan lagak selidik.

“Apakah kau yeojachingu Nichkhun?” tanya tuan Horvejkul dengan hati-hati.

Sunmi menoleh pada Nichkhun, meminta pertolongan. Nichkhun mengantisipasi permintaan itu dengan melingkarkan lengannya pada bahu Sunmi dan tertawa renyah. “Ne, aboji. Dia adalah yeojachinguku.”

Sunmi mengernyit dan menatap Nichkhun dengan bingung. “Oh, jeongmalyo?”

Nichkhun mengangkat alisnya pada Sunmi, memberi kode. Tapi Sunmi kesulitan untuk mengartikannya. Tuan Horvejkul tiba-tiba berdiri dan memeluk Sunmi dengan erat. Namja paruh baya itu tertawa nyaring, membuat Nichkhun bergidik ngeri, melihat reaksi abojinya yang tidak biasa. Ia ikut tertawa dan merasa senang. Bukankah dengan begitu abojinya tidak perlu lagi terus-terusan mendesaknya untuk segera mencari istri? Sunmi bisa menjadi peralihan sementara.

Sunmi melirik Nichkhun, sekali lagi mendelik meminta pertolongan, tapi Nichkhun hanya diam dan tersenyum. Tuan Horvejkul melepas pelukannya pada Sunmi dan mengamati yeoja itu sekali lagi. “Aigoo~ Akhirnya, anak laki-lakiku akan segera mempunyai seorang istri.”

Sunmi merasa ia semakin terjerumus dalam keadaan yang membingungkan itu. Nichkhun sama sekali tidak membantu. Nichkhun hanya terus tersenyum kepada abojinya, sementara Sunmi harus beradaptasi dengan situasi itu. Tuan Horvejkul menarik dirinya duduk bersama di ruang tengah dan berniat mengobrol lebih panjang.

“Ceritakan padaku tentang dirimu, Nak,” kata tuan Horvejkul dengan senyum lebar. “Siapa namamu? Berapa umurmu? Di mana kau bekerja? Semuanya.”

“Namaku Sunmi, umurku—”

“Umurnya 23!” tukas Nichkhun. “Dan ia satu kantor denganku, aboji,” sambungnya sambil tertawa renyah.

Sunmi mengernyit kearah Nichkhun, tapi namja itu tidak peduli—atau tidak sadar?—dan itu membuat Sunmi kesal. Namun tuan Horvejkul tampak memercayainya dengan mudah.

“Jadi,” lanjut tuan Horvejkul dengan bersemangat. “Sudah berapa lama kalian menjalani hubungan?”

Sunmi melirik Nichkhun dan menggumam, “Mollayo, aku bahkan—argh!” Sunmi terlonjak dari kursinya ketika Nichkhun menginjak kaki kanannya.

“Oh, ada apa?” tanya tuan Horvejkul dengan panik.

“Tidak ada apa-apa, aboji,” sahut Nichkhun, berusaha mengalihkan perhatian abojinya. “Oh yah, kami sudah menjalin hubungan selama 3 bulan,” lanjutnya, masih dengan seringai gugup di wajahnya.

Sunmi mengusap punggung kakinya dan mendelik kesal kearah Nichkhun. Tuan Horvejkul dan Nichan memandangi keduanya dengan aneh. Dan Nichkhun mulai merasa tidak nyaman dan aman di keadaan seperti itu.

Nichkhun berdeham dan berkata, “Hm, aboji, hyung, hari ini Sunmi akan menginap di apartemen kita sampai esok pagi, karena.. hm, karena..”

“Karena kunci rumahku hilang!” sambung Sunmi.

“Ah, matta!” seru Nichkhun girang. “Kunci rumahnya hilang, jadi ia menginap untuk semalam di sini sementara menunggu sampai esok pagi untuk mencari lagi kunci rumahnya yang hilang itu.”

Tuan Horvejkul dan Nichan mengamati dua wajah itu secara bergantian. Merasa ada yang tidak beres. Tapi Nichkhun dengan cepat memotong situasi tidak menyenangkan itu dengan menggamit lengan Sunmi untuk segera berdiri mengikutinya.

“Sunmi dan aku akan istirahat di kamar, dan oh! Tenang saja,” kata Nichkhun sambil mengangkat telapak tangannya setinggi dada. “Kami tidak akan melakukan apapun. Aku akan tidur di sofa, sementara dia akan tidur di ranjangku.”

Tuan Horvejkul mengangguk. Nichkhun meraih lengan Sunmi dan menyeret yeoja itu masuk ke dalam kamarnya. Nichan mengamati wajah abojinya, dan tuan Horvejkul balik menatap Nichan. Keduanya sama-sama angkat bahu dan kembali melanjutkan kegiatan packing mereka.

***

Nichkhun keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur, mendapati Sunmi telah berganti pakaian dengan pakaian miliknya. Kaos putih dan celana pendek yang dipakainya terlihat melorot di mana-mana, membuat Sunmi terlihat seperti rangka layang-layang yang siap terbang. Tapi Sunmi terus tersenyum pada dirinya di depan cermin, bangga akan sesuatu yang di mata Nichkhun justru tidak terlihat menarik sama sekali.

Melihat Nichkhun berdiri di belakangnya, Sunmi membalikkan badan. “Aku terlihat seperti rapperrapper berkulit hitam yang tinggal di Amerika itu, bukan? Yo! Yo!” katanya sambil tertawa bangga, menampilkan kaus dan celana longgar itu pada tubuh kurusnya.

Nichkhun memutar bola matanya dan menggeleng-gelengkan kepala. Ia melempar handuknya ke gantungan yang ada di samping pintu masuk, lalu mengambil satu bantal kepala dan selimut dari dalam lemari.

“Ini untukmu,” katanya sambil menyerahkan bantal dan selimut itu pada Sunmi. “Kau tidur di sofa merah yang ada di sudut sana.”

Sunmi menoleh ke belakang untuk melihat sofa merah itu dan mengerutkan alis. “Mwo? Kenapa aku tidur di sofa? Kau bilang tadi pada abojimu bahwa kau yang akan tidur di sofa dan aku di ranjang!”

Ya, ini kamarku, bukan kamarmu. Kau seharusnya bersyukur sudah kuperbolehkan menginap!”

Sunmi mengangkat sudut bibirnya dan mendengus kesal. “Arasseo.”

Ia merampas bantal dan selimut itu dari Nichkhun dan keduanya mulai mengambil posisi masing-masing. Sunmi merebahkan diri di atas sofa, dan meringkuk di dalam selimut. Lampu di atas kepalanya padam dan kamar itu tampak temaram dengan lampu meja yang menyala di samping ranjang.

Ketika Nichkhun mulai terlelap di ranjang, dengan wajahnya yang diterpa oleh sinar lampu meja, Sunmi masih terjaga. Ia punya kesulitan untuk tidur di tempat yang masih asing baginya. Dan selama ia terjaga, ia terus mengamati kamar itu dengan tatapan bak seorang peneliti. Dan pandangan terakhirnya jatuh pada Nichkhun. Namja itu tertidur dengan damai. Napasnya terdengar berat dan sangat teratur.

Mendadak, pemandangan itu menjadi sangat menarik di mata Sunmi. Ia bahkan dengan khusus membalik badannya agar dapat dengan lebih nyaman menatap wajah Nichkhun. Tanpa ia sadari, sudut bibirnya menyimpulkan senyuman tipis.

To be continued…

45 thoughts on “Hello Schoolgirl (Part 4)

  1. lawak banget pas gendong2an, itu cuman sandiwara doang tapi masa ceweknya yang tidur disofa tega banget khun-_-

Leave a Reply to acelcrosbytsz Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s